
****
"Kamu yang tahu tentang hidupku, Arlan. Seharusnya, seharusnya kamu tidak setega itu terhadap ibuku. Kamu tahu hidupku, Arlan. Seharusnya cukup aku saja yang kamu permalukan." Nia berucap sembari meneteskan air mata. Aku terdiam bingung, ada apa sebenarnya tentang dirinya?
"Saya tahu, tapi anda sudah berbuat tidak benar. Seharusnya ketika saya memberikan kepercayaan terhadap anda, anda tidak harus mengkhianatinya. Tapi ... itu sudah berlalu, jadi mohon pergi dari sini," jawab Mas Arlan.
"Aku minta maaf tentang hal itu. Tapi, alasanku tetap sama, Arlan. Kamu tidak cukup mampu dalam memenuhi kebutuhanku sampai aku mengkhianatimu."
"Ah ... sudahlah, pergi kamu, Nia. Aku sudah muak, tidak perlu aku menjelaskan lagi. Pergilah!"
"Lihat saja, aku tidak akan menyerah dalam mendapatkan putriku! Ingat itu!"
Nia mengusap air matanya dengan kasar. Lalu menatap kami untuk terakhir kalinya, ia berbalik badan dan mengambil langkah untuk pergi. Kepergiannya itu sedikit menimbulkan pertanyaan dalam hatiku. Tentang Nia, bagaimana latar belakang Nia sebelum menikah dengan Mas Arlan. Tadi ada sedikit raut wajah yang mengatakan bahwa ia melakukan semuanya lantaran terpaksa. Hanya saja, apa itu akting semata? Namun, Nia masih berusaha melindungi ibunya.
Aku terduduk kembali pada salah satu kursi di ruang tamu ini. Kuambil napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya kembali. Setidaknya, aku bisa merasa lega setelah mereka pergi keluar dari rumah ini. Walau, masih tetap ada beberapa kegusaran dalam hatiku mengenai ancaman dari keluarga itu dihari berikutnya. Aku sedang hamil dan harus mengalami semua ini. Suatu kebanggaan bagiku pada saat aku bisa mengendalikan emosiku meski dalam keadaan seperti ini. Sepertinya anak didalam kandunganku sangat mendukung diriku.
Tak lama kemudian, Mas Arlan yang masih berdiri diam kini sudah mengikuti diriku yang tengah duduk. Ia membelai halus perutku, bahkan mengecupnya. "Maafkan Papa, Sayang. Karna Papa masih menyulitkan kamu dan Mama," ujarnya.
"Mas? Masih sempet berangkat kerja kok. Mungkin telat beberapa menit doang." Aku membelai halus rambut Mas Arlan pada saat ia membungkuk berbicara dengan calon anak kami.
"Nanti dulu, Dek. Mas udah kirim pesan kalau mau berangkat telat sama Rose. Mas butuh waktu tenang sebentar lagi. Mas juga masih was-was kalau mereka balik lagi selepas Mas berangkat."
"Hmm ... ya udah, Mas. Tapi ... siapa Rose?"
"Sekretaris Mas, Dek."
"Oh, yang itu. Cantik ya?"
"Cantikan Nona Fanni."
"Masa'? Fanni gendut, Rose kurus."
"Fanni sexy dan berisi."
"Uh ...."
Rose, mengapa mendengar namanya saja, aku bisa merasa cemburu? Atau hanya bawaan bayi saja? Aku bisa percaya diri ketika dihadapan Nia dan keluarganya. Hal itu terjadi lantaran aku ingin melawan mereka. Namun, bukan berarti aku sudah sangat percaya diri. Ada kalanya aku merasa khawatir seperti ini. Banyak wanita cantik di luaran sana dan tentu saja aku memikirkan hati Mas Arlan. Kekanak-kanakan sekali, bukan? Namun itulah perasaanku, tanpa mau memperkeruh lagi, aku berusaha berpikiran positif saja.
Dan selepas itu, Mas Arlan kembali mengangkat kepalanya dari letak perutku. Ia menatapku dengan senyum-senyum yang tidak jelas. Entah apa maksudnya, aku hanya memilih diam.
"Kamu kenapa sih, Dek?"
Aku menggeleng seketika. "Aku nggak apa-apa kok, Mas. Emang kenapa? Ada yang salah?"
__ADS_1
"Halah, kamu khawatir ya kalau Mas tergoda cewek lain?"
"Enggak kok. Lagian aku udah percaya sama kamu, Mas. Ka-kalau cemburu emang sedikit ada."
Mas Arlan kembali tersenyum. Ia bahkan mengecup pipiku dengan lembut dan terkekeh lagi setelahnya. Oh, apakah wajahku terlihat sangat lucu sekarang? Lelaki ini benar-benar tidak ada empatinya untuk perasaanku.
"Mas sayang sama kamu, Dek. Asal kamu tahu ya, reputasi Mas di kantor itu sangat buruk."
Aku mengernyitkan dahi lantaran heran. "Emang ulah apa yang kamu perbuat, Mas? Sampai seburuj itukah?"
"Galak, tegas, disiplin itu wajib. Dan ... katanya sih, Mas ini kalau udah marah nggak pandang bulu. Mau cowok kek, mau cewek kek, semprot semua."
"Jahat ih, segitunya ya kamu. Berarti yang diomongin Dokter Wisnu beneran dong?"
"Ya, tanpa sadar aja, Dek. Kalau udah kerja ya kayak gitu, nggak mau becanda lagi."
"Hmm ... ya udah. Teruslah kayak gitu."
"Lho? Nggak marahin Mas, Dek? Biasanya istri itu bilang bla bla bla. Nasehat gitu."
Aku hanya tersenyum sembari menggeleng lagi. Kemudian aku menaruh kepalaku ke dalam pelukan Mas Arlan. Ya, tentu saja aku tidak keberatan jika Mas Arlan bersikap seperti itu. Sudah pernah aku katakan beberapa hari yang lalu, bahwa aku merasa senang jika senyum ramahnya hanya untukku.
Oh, aku melupakan Nia dalam sejenak waktu karena nama Rose yang muncul dari bibir Mas Arlan. Benar juga, aku sempat merasa penasaran atas masa lalunya. Aku menilik waktu dari jam dinding yang ada di ruangan ini. Dan ternyata masih sempat, aku rasa Mas Arlan akan berangkat pukul sembilan.
"Mas, soal Nia?"
Aku mengangguk. "Iya, aku ingin tahu lebih banyak soal dia."
Mas Arlan terdiam sejenak.Tampaknya ia tengah berpikir. Tak lama kemudian menjawabku lagi, "nggak bisa ya kalau kamu nggak mikirin tentang Nia lagi?"
"Enggak, aku juga perlu tahu dong. Aku istri kamu dan ibu Selli. Seenggaknya aku bisa tahu dan ikut mencari jalan keluar."
"Kamu masih nggak percaya sama Mas, Dek? Mas bisa atasi semua."
Kenapa Mas Arlan berusaha keras untuk tidak mengatakannya? Segera kubangunkan kepalaku dari pelukannya. Kesal, itulah perasaan yang tergambar dari diriku. Aku ingin tahu, hanya itu. Apa salah jika aku sedikit mendengarnya?
"Apa salahnya sih kalau kamu cerita sedikit? Lagian sama istrinya sendiri kok."
"Tapi, itu udah nggak penting, Dek. Fokus kita hanya melawan, maksudnya Mas yang melawan dan cari jalan keluar supaya mereka nggak datang lagi."
"Melawan? Nggak datang lagi? Dari dulu kamu juga ngomong kayak gitu, Mas! Jangan ikut campur, jangan mikirin ini itu bla bla bla. Tapi? Tadi apa? Mana buktinya kamu bisa atasi?! Ngeselin!"
"Sabar dong, Dek. Semua butuh waktu dan proses. Jangan gegabah, Sayang. Percaya sedikit aja sama Mas."
__ADS_1
"Menurut kamu aku nggak percaya sama kamu gitu? Justru kamu yang nggak ada percayanya sama aku, Mas! Segitunya ngumpetin masa lalu mantan istri. Kenapa sih? Atau jangan-jang-"
"Dek! Jangan berpikiran negatif dong. Mas cuma khawatir sama kamu dan anak kita aja. Udah, kok malah melantur sih?"
"Uh! Ngeselin!"
Aku berdiri dari dudukku. Kuabaikan suamiku dan mengambil langkah untuk naik ke lantai dua. Bahkan, aku sudah melupakan sarapan pagiku yang belum selesai. Entah, rasanya kesal saja. Selalu seperti itu, dan belum juga ada jalan keluarnya! Aku menapaki anak tangga satu persatu. Kubiarkan Mas Arlan yang masih duduk di tempatnya.
Sesampainya di atas, aku berbelok ke arah kamar Selli. Ya, selepas Nia dan keluarganya pulang, aku belum sempat menengok kondisi Selli. Aku menarik napas dalam-dalam supaya lebih tenang dan tidak ada sisa rasa kesalku kepada Mas Arlan yang bisa kuberikan kepada Selli.
"Selli?" Aku memanggil nama putri kecilku itu dari balik pintu.
"Bentar, Mbak Fanni. Bibi keluar dulu," Jawab Bi Onah yang ternyata masih berada didalam.
Tak lama kemudian, Bi Onah membuka pintu dan pamit kembali ke dapur. Aku hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar Selli. Tampak ia tengah merebahkan diri dan bermain bersama bonekanya. Aku datang menghampirinya. Ketika sampai, aku duduk di tepian ranjang yang paling dekat dengannya.
Lagi-lagi, rasa hati menjadi melankolis. Bagaimana tidak, aku harus berada dihadapan gadis kecil yang begitu kuat semenjak balita. Putriku yang malang, bahkan sampai usia sekarang ia masih diperebutkan bagai barang. Tak terasa air mataku kembali menetes di pipiku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Selli. Anak cantik yang sudah disia-siakan sejak lahir, bahkan sempat terancam digugurkan. Hal itu membuat air mataku semakin banyak dan pecah menjadi tangisan. Hidupku selalu dilimpahi kasih sayang sejak kecil, aku jauh lebih beruntung daripada putri kecilku.
"Mama Fanni kok nangis sih?" tanyanya keheranan.
Aku mengusap air mataku dengan segera. Kutarik napas dalam-dalam lagi dan mengembuskannya kembali. Kurengkuh tubuh Selli sampai ia terbangun dan berada di pangkuanku. "Mama terharu bahagia, Sayang. Selli udah tumbuh sebesar ini, Mama nggka nyangka bisa sama Selli. Mama berharap Selli akan bersama Mama seterusnya," jawabku.
"Iya, Ma. Selli enggak akan tinggalin Mama Fanni kok."
"Janji kelingking yuk?" Aku memberikan jari kelingkingku kepada gadis kecilku. Ia membalasnya dan menautkan kelingking kecilnya pada kelingking milikku. Bahkan, ia tersenyum dan mengusap sisa air mataku dengan satu telapak tangannya. "Mama Fanni sayang sama Selli. Sayang banget!"
"Terus Mama Nia, gimana, Ma? Tadi itu Nenek siapa? Selli enggak tahu."
Deg! Jantungku seperti dihujam belati. Lagi dan lagi. Ya, meski aku tahu jika Selli akan bertanya tentang hal itu. Lalu, apa yang harus aku katakan?
"Mama?"
Grek! Pintu kamar Selli tiba-tiba dibuka oleh seseorang. Mas Arlan adalah pelakunya. Uh, padahal aku masih malas menatap wajahnya. Ia bahkan menghampiri keberadaan kami.
"Selli, nanti Mama jelasin ya? Sekarang Dede' bayi minta istirahat dulu. Muah. Bye, Sayang." Aku menurunkan tubuh Selli dari pangkuanku dan berdiri dari dudukki. Aku mengambil langkah untuk keluar dari sini sembari menunduk.
Tentu saja, aku berpas-pasan dengan Mas Arlan. Sampai kami saling berdekatan, ia menahan diriku dengan cara mencengkeram lengan tanganku. "Kamu masih marah, Dek?" tanyanya.
"...."
"Jangan begini, Dek."
"Maaf, aku perlu istirahat." Aku mengibaskan tangan Mas Arlan sampai terlepas. Tidak ingin menjadi tontonan tidak bagus dihadapan Selli, lantas aku pergi. Ya, aku keluar dari kamar ini dengan meninggalkan Mas Arlan dan Selli.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, aku sudah merebahkan diriku di atas ranjang. Beberapa bulir air mata kembali membasahi pipiku. Rasa kesal, sebal dan juga haru bercampur menjadi satu. Nia, wanita itu yang terus muncul didalam benakku. Mengapa ia harus datang kembali?! Aku benar-benar kesal!
Bersambung ...