
Mobil yang ditumpangi oleh kami sekeluarga melaju pelan di tengah jalan aspal yang sangat panjang. Ditemani lagu-lagu populer yang bermelodi halus serta rintik hujan yang turun. Deru mobil pun mengalun berkolaborasi dengan kendaraan milik orang lain. Sedangkan putriku tersayang duduk dibelakang sembari bermain ponsel milik Mas Arlan. Nah, sang ayah pun sedang menyetir dengan penuh rasa santai.
Melihat suasana ini membuatku tersenyum-senyum sendiri. Tidak ada ketakutan lagi atas ancaman dari Nia. Meski terbilang cepat dan tidak terduga, nyatanya kebaikan itu benar-benar terjadi. Kadangkala, seseorang bisa berubah bukan karena musibah. Namun juga perilaku baik dari seseorang yang berada disekitarnya. Aku tidak menyesal atas kesepakatan itu dan juga kelemahanku yang tidak bisa membalas perbuatannya. Api yang bisa disiram dengan air segar dari kebaikan, akhirnya bisa menyelesaikan semuanya.
Alhamdulillah.
Mas Arlan menggenggam tanganku ketika mobil kami terhenti karena lampu merah yang menyala. Saat aku menatapnya, semburat senyuman terlukis di wajahnya. Bibirnya bersenandung kecil mengikuti irama musik yang sedang diputar. Tampaknya mood-nya sangat baik pagi ini. Rintik hujan pun seolah memberika kesegaran diantara kami. Aku menghela napasku dengan lega sekali.
"Mas," panggilku kepadanya.
Mas Arlan menatapku sekilas. Lalu, dilepaskannya tanganku karena harus melaju mobilnya kembali. "Iya, Sayang. Ada apa?" tanyanya kembali.
"Enggak, pengen manggil aja hehe."
"Kenapa? Ngomong aja, Dek. Ada yang sakit perutnya? Nggak mual, kan?"
"Enggak, Sayang. Serius pengen manggil aja kok."
"Hmm ... aneh deh. Kangen sama Mas ya? Sabar ya, Sayang. Nanti di rumah deh, sekarang ke rumah Mama dulu."
"Apaan sih? GR banget."
Mas Arlan hanya terkekeh. "Kalau disini kan di tengah jalan, Dek. Ada Selli juga."
"Emang mau ngapain?"
"Emang apaan?"
"Ngawur ih."
Ia terkekeh lagi untuk sesuatu yang ambigu maksud dari perkataannya. Ada-ada saja. Namanya juga Mas Arlan, mungkin jika bukan maka tidak akan berlaku seperti itu. Namun apapun yang ia katakan memang selalu berhasil membuatku tersenyum, nyaris mabuk kepayang. Agak berlebihan ya? Ah, biarlah. Toh untuk suamiku sendiri.
Untuk tujuan kami, benar kata Mas Arlan, kami akan ke rumah orang tuaku. Dihari libur seperti ini, ayahku masih bekerja di toko roti beliau. Bukan hal yang aneh, justru dihari libur adalah hari ramainya pelanggan berdatangan. Aku ingin sekali melihat usaha ayahku tersebut. Pasti beliau akan tersenyum bungah ketika aku datang. Secara, aku adalah sang putri tersayang.
Deru mobil masih terdengar bising, menyeruak masuk ke dalam gendang telingaku. Mungkin terhitung lima belas mneit lagi untuk sampai di rumah orang tuaku. Aku sangat tidak sabar karena rinduku sudah menggebu untuk mereka semua. Terlebih kepada keponakan laki-lakiku yang imut, lucu sekaligus tampan. Aku berharap mereka ada di rumah sekarang.
****
Lima belas menit berlalu, akhirnya sampai di rumah orang tuaku. Namun sepertinya sangat sepi bak tidak ada orang sama sekali. Dengan perasaan penuh praduga, aku turun dari mobil ini bersama Mas Arlan dan Selli. Selepas menutup pintu mobil kembali, aku menatap kondisi rumah orang tuaku yang tertutup rapat ini. Ah, sepertinya ibuku ikut ayahku berdagang. Mobil milik Kak Pandhu juga tidak ada. Mereka kemana?
"Kok sepi ya, Mas?" tanyaku kepada Mas Arlan untuk sekedar basa-basi semata.
Mas Arlan datang menghampiriku bersama Selli yang ia gandeng. Direngkuhnya pinggangku dari belakang, mungkin ia takut jika aku merasa pegal. "Duduk dulu disana, Dek. Nanti telepon Mama, tadi udah bilang sih mau ke sini," jawabnya.
Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas."
Dengan sangat hati-hati, aku bersama suami dan anakku berjalan menghampiri kursi di teras rumah ini. Rasanya agak sangsi, jika memang benar tidak ada penghuni yang ada di rumah. Rasanya kunjungan kami akan sia-sia. Aku berharap setidaknya ibuku saja ada di rumah.
Sesampainya di teras rumah, Mas Arlan membantuku untuk duduk disalah satu kursi. Setelah itu, mendudukkan Selli pada salah satunya. Karena hanya tersedia dua kursi, maka ia memilih untuk berdiri. Tak lama setelah itu, ia tampak merogoh sebuah ponsel miliknya dari kantong celana bahan yang ia kenakan. Jarinya mulai dimainkan di atas layar ponsel. Aku rasa, ia akan menghubungi ibuku.
"Halo, Ma. Assalamu'alaikum, Arlan dan keluarga udah nyampe di rumah nih. Mama dimana?" tanyanya. Sesuai perkiraanku, Mas Arlan tengah menghubungi ibuku. Jawaban dari beliau, aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Hanya ucapan dari Mas Arlan saja yang berlanjut demikian, "iya, Ma. Ini udah duduk disini kok. Iya, hati-hati di jalan. Jangan buru-buru. Wa'alaikumssalam."
__ADS_1
Panggilan pun usai, setelah Mas Arlan menjawab salam akhir yang sepertinya diucapkan oleh ibuku tercinta. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celana. Sepertinya tadi saat mengambil Selli, ia meminta ponsel tersebut dari sang putri.
"Papa, Selli mau main game lagi dong," celetuk Selli tiba-tiba.
Namun Mas Arlan hanya menggeleng, menandakan bahwa ia sedang menolak permintaan sang putri. "Istirahat dulu ya? Tadi kan udah lama main game-nya. Bentar lagi ada Nenek, nanti kamu diomelin," nasehatnya kepada Selli.
Selli lantas mengerucutkan bibirnya, menandakan ia tengah kesal karena ucapan Mas Arlan. Begitu saja, ia sudah cantik. Apalagi kalau sudah tersenyum, pasti luar biasa. Ia bersedekap dan mengacuhkan sang ayah lantaran tidak dipinjami ponsel tersebut sembari menjawab, "Papa pelit banget. Bentaran doang kok."
"Lho, lho, kok malah ngatain Papa pelit sih? Siapa yang ngajarin kayak gitu? Nggak boleh, tadi kan Papa udah pinjemin. Kalau mainnya menurut Papa udah lama, ya udah di-stop dulu. Nanti dijadwalin sama Papa, kalau berkunjung ke tempat Nenek atau siapapun, dilarang main HP."
Aku ikut menimpali, "iya, Sayang. Dengerin kata Papa. Tadi kan juga udah dikasih main, bagian mana coba yang pelit? Nanti Mama aturin jadwalnya deh. Kalau Papa nggak beres nanti ya?"
Selli turun dari kursi yang ia duduki. Mengambil langkah cepat untuk menghampiriku. Kemudian, ia memeluk pelan perutku yang sudah membesar. "Iya, Mama. Selli nurut sama Mama."
"Lah? Sama Papa enggak?" tanya Mas Arlan merasa tidak terima.
Selli hanya menggeleng. Namun ia menatapku dengan senyum usilnya dalam mengerjai Mas Arlan. Aku pun melakukan hal yang sama untuk menggoda suamiku tercinta. Mas Arlan hanya bergeleng kepala tidak menyangka.
Sedangkan rintik hujan sudah mulai mereda. Namun mendung masih saja menyelimuti, sang mentari masih enggan menampakkan dirinya. Tak mengapa, asal bukan kemendungan hati. Lalu, sekitar tujuh menit kami menunggu, datanglah mobil tak asing yang memasuki gerbang rumah ini. Gerbang yang tadi lupa ditutup kembali oleh Mas Arlan. Tampaknya, ibuku pun sengaja tidak menguncinya agar kami bisa masuk ke dalam.
Mobil tersebut adalah milik ayahku. Terparkir tenang disamping mobil milik Mas Arlan. Sampai tidak lama kemudian, turunlah sang nyonya rumah yang cantik jelita bersama tuan tampan dari negeri Belanda. Siapakah gerangan? Tentu saja Nyonya Sarita dan Tuan Drick--pasangan paling serasi yang sangat aku cintai. Dengan kata lain mereka adalah ayahku.
"Duh, cucu Nenek. Maaf nunggu lama ya?" tanya ibuku. Pertama yang beliau cari adalah Selli, bahkan sampai lupa memberikan salam kepadaku ataupun Mas Arlan.
"Hai, Nenek. Belum lama kok, Selli kangen sama Nenek sama Kakek," jawab Selli.
"Hmm ...." Ibuku mengecup pipi putriku berkali-kali. Belum ada satu katapun untuk diriku. Sedangkan Mas Arlan sudah berbincang dengan ayahku. Lalu, aku ini dianggap apa woe?!
"Nenek dari mana?"
"Papa mau balik?" tanyaku kepada beliau sesaat setelah menghampiri.
Ayahku mengangguk pelan. "Iya, Sayang. Maaf ya nggak bisa temenin kamu, toko lagi ramai. Ada Asep doang disana, kasihan," jawab beliau.
Aku menghela napas karena alasan itu. Sedikit kecewa, namun apa daya. Ayahku sedang semangata berdagang roti di toko tersebut. Sembari menorehkan senyuman, aku menjawab perkataan beliau, "hati-hati ya, Pa. Jangan lupa makan, inget udah ringkih lho badannya."
"Siap, putri Papa tersayang. Belum sempet sapa cucu tapi udah dibawa masuk mama-mu. Salam aja ya," jawab ayahku sembari mengusap halus kepalaku. Sedangkan aku hanya mengangguk. Berikutnya, beliau berbalik badan dan melangkah untuk menuju mobil lagi.
Melihat punggung ayahku yang sudah agak membungkuk, membuatku terharu. Badan beliau pun terlihat lebih kurus bersamaan dengan usia yang semakin bertambah. Kini pun tidak ada lagi kecupan manis yang diberikan kepadaku. Aku rasa, beliau merasa tidak enak lantaran aku telah bersuami meskipun aku adalah putri kandung. Tidak mengapa, itu tanda bahwa ayahku juga menghargai Mas Arlan sekaligus usiaku sudah bukan usia yang pantas untuk bermanja-manja.
Setelah mobil ayahku keluar dari pekarangan rumah ini, aku beringsut mundur dan berbalik serta menuju ke dalam rumah. Di ruang tamu, Mas Arlan telah duduk bersama sajian cemilan yang berada di atas meja. Aku tertegun sebentar karena teringat akan Kak Pandhu beserta anak dan istrinya. Kemana mereka? Aku tidak tahu.
"Sini, Dek. Duduk dulu, kasihan itu perutnya. Pasti berat, kan?" ujar Mas Arlan.
"Emm," jawabku. Kemudian menghampirinya. Setelah sampai, aku duduk tepat disampingnya sembari menunggu ibuku dan Selli datang ke tempat ini lagi.
Sudah lama aku tidak pulang, terakhir pun aku sampai melupakan. Tidak ada yang berubah, mungkin penambahan tempelan dinding. Foto-foto lucu gambar keponakanku terpampang nyata di dinding sebelah kiri dari ruang tamu ini. Aku rindu, namun mereka sedang pergi.
"Nih, minum kalian berdua. Biar hangat badannya, mendung terus hari ini. Jemuran nggak kering-kering," ujar ibuku sembari meletakkan dua cangkir teh hangat dihadapanku dan Mas Arlan.
"Dikeringin di mesin cuci kan bisa, Ma," jawabku.
__ADS_1
"Rusak, Fann. Belum sempet benerin. Tahu sendiri toko papa-mu lagi banyak pengunjung." Ibuku meletakkan nampan di sebelah kiri meja. Kemudian beliau duduk di kursi tamu seberang bersama Selli disana.
"Arlan beliin nanti, Ma," sela Mas Arlan.
"Eh, jangan. Bentar lagi istri-mu lahiran. Uangnya yang setiti, setelah punya anak kedua pasti kebutuhan bertambah."
Mas Arlan tersenyum sekilas. Bibirnya masih saja asyik menyantap kue kering salah satu cemilan yang disajikan. "Ada tabungan sendiri, Ma. Arlan juga nggak jago benerin barang sih."
"Hmm ... itu mesin juga kayaknya nggak bisa dibenerin lagi. Udah dari tahun kapan deh, lupa. Bunyinya sama geternya kenceng banget. Kadang seret buat nyuci."
"Iya, nanti Arlan beliin aja. Lagian Arlan nggak pernah kasih hadiah apa-apa ke Mama."
"Mama-mu ini masih kuat nyuci manual." Meski terbilang menolak, namun aku tahu bahwa ibuku sedikit berharap. Beliau memang seperti ini, memiliki daya gengsi yang besar sekali. Membuatku kadang kala ingin meringis menertawai. Namun rasanya amat kurang ajar, jika hal itu aku lakukan. Sehingga aku hanya bisa tersenyum diam-diam.
Disisi lain, aku sangat bersyukur karena Mas Arlan juga memperdulikan hidup orang tuaku. Fokusnya bukan hanya pada diriku, melainkan orang-orang sekitarku. Aku sangat berterima kasih untuk itu. Kini pun, tidak ada pertentangan antara dirinya dan ibuku. Perlahan namun kesampaian, hubungan menjado lebih erat dan akrab bak anak dan ibu kandung sendiri. Bahkan, Mas Arlan sudah berani mengangkat kedua kakinya membuat duduk santai di kursi tamu ini. Tidak ada rasa benci yang tersirat dari wajah ibuku.
Semua telah indah pada waktunya. Segala sabarku, sabar kami berdua telah menghasilkan sesuatu yang baik. Perjuangan dimasa lalu tidak ada yang sia-sia. Aku bisa kembali bernapas lega.
Aku berdeham seketika. "Emm ... Kak Pandhu sama istri kemana, Ma?" tanyaku kepada ibuku.
"Ke tempat mertua, Sayang. Mumpung Pandhu ada libur, jadi ke sana," jawab ibuku sembari menyuapi cemilan untuk Selli.
"Kirain ada tadi."
"Kamu sendiri gimana? Ada keluhan hamil nggak?"
Aku menggelengkan kepala. "Nggak ada, Ma. Alhamdulillah."
"Udah tahu cewek apa cowok."
Mas Arlan ikut menimpali, "belum, Ma. Arlan lupa mau cek sama dokternya."
"Udah enam bulan, kan? Udah bisa dilihat katanya lho. Mama nggak tahu juga sih, jaman hamil Fanni sama Pandhu kan belum ngerti gituan." Ibuku menatapku sejenak, namun teliti sekali. "Kayaknya anak kalian cewek lagi deh."
Aku dan Mas Arlan sontak mengernyitkan dahi karena heran. Hanya melihatku saja beliau sudah bisa memberikan perkiraan. Entah benar atau salah. Namun perkataan orang tua, biasanya sembilan puluh persen ada benarnya. Aku tidak tahu.
"Kok Mama bisa nebak gitu? Arlan maunya cowok lho," tanya Mas Arlan.
Ibuku sedikit berdeham. "Istrimu cantik bening. Biasanya sih cewek," jawab ibuku.
"Aku emang cantik kali, Ma. Cocokologi itu namanya," candaku.
"Dibilangin. Mama berani bertaruh, pasti cewek deh. Yakin."
Aku mendengus kesal. "Masa' anakku jadi barang taruhan sih, Ma."
"Ya, bukan gitu, Fann. Kan tebakan doang, pasti cewek. Udah deh percaya sama Mama."
Mas Arlan pun masih menyangkal, "cowok, Ma."
"Cewek aja, biar Selli ada temen mainnya!" tegas Selli tiba-tiba. Seolah ia mengerti akan pembicaraan kami. Ah, atau jangan-jangan memang sudah mengerti? Anakku satu itu memang sangat pintar.
__ADS_1
Ya, apapun hasil pemeriksaannya nanti, aku akan menerima dengan baik dan bahagia tentunya.
Bersambung ....