
Kata orang kerja itu melelahkan, padahal pada kenyataannya tidak memiliki pekerjaan jauh lebih mengesalkan. Dalam waktu satu minggu ini, saya benar-benar memiliki perasaan semacam gelisah. Melihat Fanni--istri saya, selalu berangkat setiap pagi, mengurus putri kami--Selli, belum lagi merapikan pakaian dan macam hal. Ia terlihat sangat letih, namun tidak bersedia dibantu karena alasan ini tugas seorang istri.
Setiap waktu, saya selalu mengangumi istri saya itu. Ia seperti seorang malaikat yang diturunkan untuk menyelamatkan saya dan putri saya. Awal kali menikah, kami masih saja diberikan banyak cobaan. Niat hati ingin memanjakan keluarga, saya malah terlibat kasus penggelapan dana yang sama sekali bukan saya pelakunya. Semua seolah sudah diatur untuk menjatuhkan saya, namun sebagai manusia tidak boleh asal fitnah, bukan?
Sebagai seorang manager saya mengemban banyak tugas. Jikalau ada permasalahan pada divisi yang atur, berarti disitu saya harus bertanggung jawab. Proyek baru, masalah baru, pemasaran baru, membuat perusahaan memberikan banyak dana untuk melaksanakan suatu event dan rencana proyek baru. Dan itu melibatkan saya sebagai manager. Namun, apa mau dikata? Seseorang melakukan penggelapan dana. Dari divisi yang menanganinya, entah mengapa saya ikut disertakan didalam sangkaan itu. Karena, saya adalah salah satu anggota keluarga, Mas Dian ingin saya membayar kerugian tanpa harus masuk penjara.
Padahal, saya selalu berkata kepada Fanni bahwa ini saya yang ingin, bukan dari perusahaan. Semua karena saya terlalu malu kepada istri saya tersebut. Saya membawa Fanni ke dalam keluarga buruk yang jauh jika dibandingkan dengan keluarganya sendiri. Namun, mau bagaimanapun itu, saya tidak ingin jika istri saya mengecap keluarga saya dengan banyak kebencian. Saya tahu, ia tidak ingin saya terlibat banyak.
"Arlan, kamu ini bagaimana? Sekalinya diberi proyek besar malah terlibat penggelapan dana? Apa kamu mau mempermalukan keluarga lagi?" tanya Mas Dian pada saat itu.
"Saya tidak terlibat, Mas," jawab saya kepada beliau.
"Bisa saja berkilah. Tapi bukti sudah ada, ada catatan dana yang masuk ke rekeningmu."
"Tapi, saya tidak meminta atau melakukannya. Bagaimana bisa saya korupsi uang perusahaan sendiri? Tidak bisakah berpikiran sehat tentang saya, sedikit saja?"
"Kamu tahu, Arlan? Rasa sakit dikhianati oleh dirimu dan istrimu waktu itu masih sangat membekas di hati kami. Masih ada kemungkinan kamu melakukan hal seburuk ini untuk kedua kalinya. Terlebih jabatanmu sudah turun seperti ini."
Saya hanya bisa menghela napas yang sangat sesak. Ya, sebanyak apapun saya menjelaskan, respin Mas Dian tetaplah sama. Hanya karena kasus Nia, beliau bahkan tidak percaya kepada saya lagi. Semua kesalahan saya mempertahankan rumah tangga saat itu selalu menjadi hal yang dijadikan alasan sebagai kambing hitam. Harga diri saya telah hancur didalam keluarga sendiri. Meski begitu, saya tidak ingin istri dan keluarga mertua mengetahui akan ini semua, lantaran mau bagaimanapun nama baik keluarga besar harus tetap saya jaga.
Berbicara tentang penggelapan itu, saya sendiri sangat bingung. Semua serba mendadak, tepatnya saat satu bulan pernikahan saya dengan Fanni. Ada laporan masuk bahwa dana yang dipergunakan sebagai biaya proyek baru menyusut nilainya. Seseorang melakukan hal buruk tersebut. Bahkan ada laporan palsu yang mencantumkan pengiriman uang ke dalam rekening saya. Dan demi apapun, saya tidak menerima uang sepeser pun.
"Kamu itu adik kami, Arlan. Nama kamu memang tidak terlalu diketahui banyak orang. Namun, bukan berarti mereka tidak tahu. Bahkan para karyawan. Bagaimana bisa kamu sekeji itu mengkhianati keluargamu lagi?" tanya Mas Dian pada saat itu pula.
"Sekali lagi, saya tegaskan saya tidak melakukannya dan tidak menerima sepeser pun uang!" Saya menegaskannya kembali kepada Mas Dian. Namun beliau malah tersenyum sinis, seolah tidak percaya.
"Semua data bukti pemasukan uang ke dalam rekening kamu sudah ada. Mau menyanggah bagaimana lagi?"
"Saya bisa buktikan bahwa itu salah. Saya pun bisa menuntut pada siapapun yang membuat data atau berkas yang palsu. Tapi, demi Tuhan, saya tidak menerima uang itu."
"Buktikan saja. Tapi, sebelum itu, ganti rugi atau masuk penjara? Silahkan pilih diantara keduanya."
"A-apa?"
"Ya, semua bukti saat ini mengatakan jika kamu terlibat. Sebagai seorang kakak, saya tidak setega itu memasukkan adik sendiri ke dalam bui. Jadi, saya sarankan kamu pilih poin pertama. Ganti rugi semua dana yang hilang itu."
Pada akhirnya, semua penjelasan saya sia-sia. Dua pilihan mengenai hidup saya kini terpampang jelas didepan mata. Bukti memang sudah ada, meskipun bukti palsu. Namun, berapa lama saya bisa menguak semuanya? Apakah saya harus masuk penjara terlebih dahulu? Apa yang akan dirasakan Fanni dan Selli nanti?
Disudut ruang kerja yang saya tempati, saya meringkuk diam disamping almari berkas. Bola mata saya terus memandang ke atas. Disini salah satu titik jatuh yang saya temui. Bingung, bimbang dan juga khawatir. Terlebih saat saya mengingat akan janji saya kepada Fanni dan Selli, bahwasanya saya akan membahagiakan mereka sebaik mungkin. Saya selalu mengatakan bahwa saya bukan orang yang terlalu miskin untuk memanjakan keluarga. Namun, apa yang terjadi saat sekarang?
__ADS_1
Jika saya memilih poin pertama, uang tabungan saya yang hanya berkisar beberapa ratus juta harus raib demi membayar gantu rugi itu. Sedangkan poin kedua, haruskah saya meringkuk di penjara? Dengan begitu saya akan meninggalkan istri dan anak yang saya cintai. Belum lagi kekecewaan yang akan mereka berikan kepada saya. Akan seperti apa hancurnya hati mereka nanti? Terlebih teruntuk Fanni, perjuangan kami bukan hal yang mudah. Saya tidak ingin membuat semua keluarganya kecewa parah.
"Mas Arlan?" Seseorang menyebut nama saya sembari membuka pintu ruangan saya.
"Ya...." Saya jawab lirih saja.
Yang saya pikir adalah Roni--suami dari Nike. Ia tampak melangkah masuk dan menghampiri diri saya yang tengah meringkuk di sudut ruangan sembari memandang langit-langit ruangan yang kosong.
"Apa yang terjadi?" tanya Roni pada saat itu.
"Nggak terjadi apa-apa," saya menjawabnya.
"Kabar itu?"
"Apa kamu percaya, jika aku melakukannya, Roni?"
Roni menggeleng sembari mendudukkan dirinya disamping saya. "Nggak mungkin Mas Arlan melakukannya."
"Tapi semua bukti sudah ada. Meskipun semua palsu semata, tapi aku bingung cara membuktikannya bagaimana."
"Aku akan bantu, Mas. Tapi, memang butuh waktu. Kesibukan perusahaan membuat kami berjibaku didalam kantor saja."
Roni menghela napas, begitupun dengan saya. Seolah semua begitu membuat putus asa. Uang sebanyak itu, ganti rugi menggunakan tabungan pun masih tidak cukup. Yang ada didalam otak saya hanya istri dan anak. Sekali lagi, saya tidak ingin membuat kecewa.
Menjadi seorang Arlan bukanlah hal mudah. Masa muda tidak terlalu indah lantaran tidak memiliki banyak teman karena terlalu sering belajar. Menikah diusia yang cukup matang pun ternyata tidak membuahkan hasil yang manis, saya harus menghadapi perceraian. Mungkin jika hanya perceraian biasa, saya masih sanggup. Namun perceraian tersebut malah menyisakan dampak buruk bagi saya dan juga keluarga besar. Tidak saya sangka, Nia--mantan istri saya melakukan pengkhianatan itu bersama sapah satu anggota keluarga Sanjaya.
Karena terlalu keras kepala untuk mempertahankan rumah tangga, membuat saya tidak berpikir akan resikonya. Semua keluarga saya mencerca saya sebagai penyebab utamanya. Mungkin jika saat itu saya mendengarkan semua ucapan mereka, Nia tidak akan bebas keluar masuk kantor begitu saja. Dengan menyandang status seorang istri dari pimpinan, pastinya ia mengetahui celah untuk masuk dan mengambil data rahasia untuk dijual ataupun ditukar sesuai apa yang ia mau. Dan bodohnya saya pada saat itu, saya tidak mengetahui akal-akalan buruk itu. Saya memberikan talak, dan Nia telah mendapatkan yang ia mau.
"Ganti rugi saja, Mas," usul Roni.
"Uangku nggak banyak, Ron," saya menjawabnya.
"Seadanya saja. Jangan sampai masuk bui. Kasihan istri kamu, Mas. Belum lagi anak kamu dan juga ibu mertuamu."
Saya menghela napas. "Apa harus seperti itu? Lalu caraku memberikan nafkah gimana? Kalau uang tidak ada, sisa gajianpun setengahnya harus dipakai menutupi dana itu sampai lunas lagi."
"Ceritakan pada istrimu, Mas. Semuanya, jangan disembunyikan. Aku yakin Fanni akan mengerti."
Butuh beberapa hari untuk memikirkan usulan dari Roni. Ini tidak mudah. Namun pada akhirnya, saya menyetujuinya. Saya menceritakan segalanya kepada Fanni--istri saya. Tentunya dengan rasa tidak enak hati tersendiri. Sesuai dugaan Roni, Fanni begitu mengerti. Mendengarkan setiap cerita dan keluhan saya dengan baik dan seksama. Saya tidak tahu, apa yang ia pikirkan. Hanya tampilan wajah yang selalu tersenyum teduh. Sesekali membelai wajah saya penuh kasih sayang. Ia adalah istri yang baik, mungkin paling baik dari semua istri di dunia ini.
__ADS_1
Setiap kali bersamanya, saya selalu senang. Ia memang bukan seseorang yang sempurna dalam segi fisik, namun hatinya luar biasa baik. Saya mencintainya lebih dari apapun, sama seperti saya mencintai ibu dan Selli. Menatap matanya yang biru semu abu, seolah memancarkan cahaya yang cerah bagi kehidupan kami. Paras bulenya tidak bisa membuat saya menahan gejolak cinta dalam waktu yang lama. Ia selalu sanggup membuat rasa saya membara, sekaligus hati saya langsung tenang begitu saja. Melupakan semua kejadian buruk yang menimpa.
Namun, masih ada satu yang tidak bisa saya katakan kepadanya. Bahwasanya ganti rugi itu usulan dari Mas Dian bukan saya pribadi. Meski tidak enak hati, saya tetap melakukannya lantaran ingin menjaga nama baik keluarga dihadapan istri. Sampai suatu ketika muncul masalah dari Riska dan Celvin yang bisa membuat orang lain terkejut bukan kepalang. Kedua anak itu melakukan suatu hal yang sangat memalukan. Betapa sakitnya hati saya melihat keponakan tersayang menangis begitu pilu. Sampai rasa marah menjadi rasa iba. Ingin saya memaki Celvin Hariawan Sanjaya pada saat itu juga, namun Fanni menahan dengan alasan tidak ingin saya menambah masalah lagi.
Berlanjut pada kedatangan Mas Gunawan dalam menjemput Riska. Semua usaha saya untuk menutupi keburukan keluarga di mata istri, malah terkuak dengan kemarahan Mas Gunawan saat itu. Saya tahu, seorang ayah pasti akan hancur hatinya melihat kelakuan maksiat dari seorang anak. Saya tidak terima jika Riska diperlakukan sedemikian rupa. Kami bertengkar dan Fanni datang dengan ucapan memberikan Riska begitu saja kepada sang ayah. Saya yang sedang termakan emosi merasa sangat kecewa terhadap keputusan Fanni.
Akhirnya saya meninggalkannya dan mengejar Riska ke kediaman Harsono yang istri saya itu belum ketahui. Sesampainya disana, lagi-lagi Riska dirundung banyak caci maki. Bukan hanya orangtuanya, namun juga kerabat yang lain.
"Hentikan, Mas! Riska masih manusia bukan hewan yang harus diperlakukan seperti ini," ucap saya pada saat itu.
"Tahu apa kamu, Arlan?! Jangan ikut campur! Apa kamu tidak mendengar ucapan istri tersayangmu tadi?!" tegas Mas Gunawan.
"Riska sudah kuanggap seperti anak sendiri. Aku tidak akan membiarkan kalian memperlakukannya seperti ini!"
"Jangan sok jadi pahlawan. Kamu sendiri bukan orang yang pantas menjadi seorang pahlawan, Arlan!"
Tiba-tiba terdengar dobrakan keras dari pintu utama. Spontan kami menatap sang pelaku yang melangkah masuk ke dalam. Celvin dari Sanjaya yang datang. Selepas itu, ia bersujud tepat dihadapan Mas Gunawan. "Ini kesalahan saya, Om. Saya akan bertanggung jawab. Tapi jangan memarahi Riska seperti ini. Om saya akan bertanggung jawab, saya akan menikahi Riska," ujarnya memohon.
"Diam kamu! Kamu pikir setelah merusak anakku seperti ini, kami akan menyetujui hubungan kalian begitu? Kamu dan keluarga kamu itu sama saja! Tidak tahu malu!"
Celvin semakin mendekat dan merundukkan kepalanya lagi. "Saya mohon, Om. Beri restu untuk kami. Saya mohon, saya akan bertanggung jawab."
Bola mata Mas Gunawan semakin memerah. Beliau semakin marah. Didatanginya Celvin dan mengangkat kerahnya sampai anak itu berdiri. Kemudian sebuah hantaman keras diarahkan untuk wajah Celvin. Riska menjerit seketika dan langsung berusaha melepaskan jeratan tangan Mas Gunawan yang dilakukan sembari mengumpat beberapa kalimat tidak baik. Akhirnya saya turun tangan, karena jika tidak dilerai Celvin akan kehilangan nyawanya. Sampai akhirnya, seseorang menarik diri saya supaya tidak ikut campur.
Suasana semakin memanas. Saya terus berusaha melepaskan diri dari adik saya yang ternyata orang yang menarik tubuh saya. Bukan hanya Celvin, Riska pun sampai terpental karena terhempas oleh tangan sang ayah. Meski begitu, Mas Gunawan masih meneteskan air mata mungkin merasa sakit hati atas kelakuan maksiat anaknya. Yah, beliau tetap seorang ayah. Celvin hanya diam tanpa melawan sampai ia terhempas jatuh menabrak daun pintu.
Dan disitulah kami mengetahui kedatangan Fanni. Ia terperanjat. Semua pertentangan masih berlanjut. Sampai disatu keadaan, dimana istri saya mendapatkan perlakuan tidak adil dari kakak ipar saya. Pipinya memerah karena tangan beliau. Saya tidak terima. Saya ingat semua akan masalah saya seketika. Bagaimana semua memperlakukan saya selama ini, mungkin saya bisa terima. Namun, jika istri saya yang notabenenya anggota keluarga baru, yang tidak tahu akan apapun malah terkena imbasnya. Akhirnya saya memutuskan hubungan keluarga demi melindungi keluarga saya sendiri.
Hancur berkeping-keping hati saya. Apalagi saat mengingat wajah ibu saya yang saat itu beliau diamankan didalam kamar lantai tiga. Betapa bersedihnya saya saat mengingat akan pesan dari mendiang ayah kami untuk selalu menjaga hubungan baik sesama keluarga ataupun relasi. Semua hancur karena diri saya sendiri. Pekerjaanpun sudah tidak saya memiliki. Menganggur selama seminggu membuat hati saya malu, menghubungi beberapa pimpinan perusahaan yang sempat bekerja sama dengan saya sewaktu masih menjadi pimpinan, tidak ada hasilnya.
Dalam keadaan seperti ini, semua yang saya kenal seolah enggan menerima diri saya. Mungkin kabar buruk yang membuat saya turun jabatan menjadi pertimbangan tersendiri untuk mereka. Tidak mungkin mereka bersedia memperkerjakan saya yang bahkan tidak bisa menjaga kepercayaan dari keluarga sendiri. Lalu, saya memutuskan untuk berkeliling mencari pekerjaan. Hasilnya masih nihil lantaran umur saya yang tidak muda lagi, meskipun latar pendidikannya bagus.
Menjadi seorang suami sekaligus ayah yang pengangguran ternyata bukan sesuatu yang mudah. Disisi tidak bisa memberikan nafkah secara baik, saya juga tidak bisa membahagiakan istri dan anak. Dan yang lebih memalukan lagi, saya harus menggunakan uang dari istri. Membuat perasaan sesak ketika menatap kartu uang milik istri tersebut. Tidak cukup dari itu, lantaran terlalu malu bahkan saya melamar sebagai seorang pelayan restoran sampai empat kali. Namun, semua menolak lantaran umur saya terlalu tua.
Hingga akhirnya datanglah tawaran dari keluarga Sanjaya. Awalnya saya ragu dan gusar. Saya tidak ingin mengkhianati keluarga lebih dalam lagi. Namun, tawaran itu sangatlah menggiurkan. Jabatan sebagai direktur utama. Awalnya saya menerka-nerka, untuk apa? Ini bukan jabatan sembarangan. Memangnya pihak mereka tidak curiga kalau saya menghancurkan perusahaannya dari dalam? Pertemuan terjadi, Pak Ruddy bukanlah orang asing bagi saya. Kami sempat mengenal. Usia beliau sama seperti Mas Gunawan yang terpaut empat belas tahun lebih tua dari saya. Beliau memberikan alasan dibalik semua tawaran itu.
Lagi-lagi dengan dukungan dari Fanni, saya bisa membuat keputusan. Dalam waktu singkat saya mendapatkan jabatan sebagus ini didalam perusahaan musuh. Ironis sekali. Namun, sekarang niat hati saya hanya membahagiakan anak dan istri. Kemudian mewujudkan amanat dari mendiang orangtua saya dan juga Pak Ruddy yang sudah bersahabat sejak lama.
Arlan POV 2 Selesai...
__ADS_1