
Fanni membuka mata perlahan. Masih sangat buram, ia mengerjibkannya lagi. Kini bola mata berwarna biru keabu-abuan sudah benar-benar melihat dengan jelas. Terpampang nyata manisnya paras Arlan yang sudah menjadi miliknya selama tiga tahun dan ia selalu berharap selamanya. Ia membelai wajah suaminya itu dengan lembut.
Pria berbadan tegap serta tinggi ini selalu berhasil membuat hati Fanni berdesir. Terlebih, setelah melewati malam yang begitu manis dan hangat. Paginya, hanya ada selimut tebal yang membungkus tubuh keduanya. Fanni menilik waktu pada jam dinding, masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Masih banyak waktu untuknya memuaskan pandangannya kepada wajah Arlan.
"Emm." Tiba-tiba, Arlan menggeliat. Tentu saja, membuat selimut berangsur turun. Namun dengan sigap Fanni menariknya kembali. "Kok udah bangun, Dek? Emangnya jam berapa?" tanya Arlan setelah matanya terbuka. Ia menyadari bahwa Fanni sedang berusaha menarik selimut yang sedang mereka pakai.
Fanni menatap Arlan. Lalu ia tersenyum dan berkata, "kebangun, Mas."
"Mandi? Masih jam tiga lho. Dingin banget pasti." Arlan mengeratkan selimut pada tubuhnya. Setelah itu, ia mendekati sang istri dan saling memandang satu sama lain.
"Nanti kalau udah jam empat aja, Mas."
"Tidur dulu yuk."
"Enggak ah. Nanti malah labas."
"Bikin alarm dong."
"Takut enggak denger, Mas."
"Hmm ... terus mau ngapain dong?"
"Gini aja, Mas."
Arlan merasa begitu gemas terhadap istrinya. Pipi chubby milik Fanni, benar-benar terlihat kenyal serasa ingin digigit olehnya. Namun, ia tidak setega itu, ia tidak mau menyakiti Fanni, meski segores ujung kuku saja. Mungkin kedengarannya sangat berlebihan, namun memang itu yang dirasakan olehnya kepada sang istri.
Arlan teringat tentang masa lalu, tepatnya di tiga tahun yang lalu. Mereka telah menikah, namun ada sesuatu yang indah belum terjadi sama sekali. Fanni gemetar hebat dan tentu gugup karena memang belum pernah mengalami malam pertama. Hari pertama yang juga sibuk, membuat Arlan memberikan waktu agar Fanni bisa lebih tenang. Dan ternyata hari berikutnya sang istri mengalami datang bulan, dan itu terjadi selama hampir satu minggu. Kesibukannya di kantor membuatnya sering pulang malam dan mendapati Fanni sudah tertidur. Belum lagi harus mendapatkan gangguan dari putrinya--Selli.
Ya, seperti saat sampai di negara ini, Arlan kesulitan mendapatkan hari spesial bersama Fanni. Namun tidak separah pada saat mereka baru menikah, terhitung satu bulan ia baru mendapatkan sesuatu yang berharga dari istrinya.
"Mas kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Fanni keheranan karena mendapati sang suami tengah tersenyum sembari menatapnya sejak tadi.
Arlan tersentak, nostalgia benaknya tentang masa lalu itu segera dialihkannya kepada Fanni. "Enggak apa-apa kok, Sayang," jawabnya.
"Hmm ... merasa puas ya?"
"Hehe ... iya dong. Baru tadi malam, aku bisa mesra sama kamu."
"Maaf ya, Mas. Aku terlalu fokus sama anak-anak."
Arlan mengusap-usap kepala Fanni dengan lembut. Ia tahu dan paham betul dengan perasaan istrinya mengenai anak-anak. Hanya saja, terkadang ia merasa tidak diperdulikan saja. Hal itu yang membuat Arlan terkadang sebal, lalu menyesal. "Mas yang harusnya minta maaf sama kamu, Dek. Rasanya Mas enggak menghargai kamu. Padahal kamu lagi berjuang buat anak-anak kita, biar jadi ibu yang baik."
Fanni menghela napas dalam sekaligus lega. Ia selalu mendengar hal itu dari Arlan. Sesalah apa pun dirinya, Arlan selalu berpikir lain. Ya, justru Arlan yang selalu berbalik meminta maaf. "Aku emang berusaha jadi ibu yang baik, Mas. Tapi, ... kadang aku nyampe lupa kalau aku ini juga seorang istri."
"Mas yang lupa, kalau Mas juga seorang ayah, Sayang."
Fanni tersenyum. Seperti sebelumnya, Arlan memberikan jawaban yang dibalikkan. Hal itu membuat Fanni semakin kagum dengan sang suami. Baginya, Arlan adalah sosok yang sempurna. Tidak mulu' mencari kesalahannya, namun juga mengorek kesalahan diri sendiri. Meski terkadang Arlan melimpahkan masalah kecil kepadanya dan membuat sebal, tidak berlangsung lama Arlan selalu meminta maaf kepadanya.
Karena perasaan bahagia itu, Fanni bergerak merangkul suaminya. Tentu saja, Arlan membalasnya dengan suka cita. Hawa dingin masih menerpa kulit masing-masing. Membuat mereka masih betah berada di bawah selimut yang tebal milik hotel ini.
"Hari ini, kita mau ke mana, Mas?" tanya Fanni saat ia teringat tentang rencana yang belum ditentukan untuk hari ini.
Arlan mengecup kening Fanni. Kemudian, ia memandang arah lain sembari berpikir. "Emm ... bibi kamu gimana, Sayang? Kalau ada kabar, kita langsung berangkat ke sana," jawab Arlan kemudian.
"Aku tanya sama papa dulu, Mas. Kayaknya di kota ini juga kok."
"Iya, Dek. Kalau masih belum ada kabar, kita jalan-jalan keliling Amsterdam, ya?"
"Jalan-jalan ke mana?"
"Di sini jalan-jalan aja udah bagus, Dek."
"Iya sih, Mas. Apa pun deh. Asal sama kamu dan anak-anak."
"Uh, sweet-nya."
__ADS_1
Arlan mencubit gemas kedua pipi Fanni. Ia begitu gemas, namun hal itu justru membuat Fanni terganggu. Fanni meronta meminta agar Arlan melepaskan ulah jari-jarinya kepada wajahnya. Namun, suaminya malah semakin liar saja, bahkan berpindah pada bagian lain.
"Udah mau subuh, Mas! Jangan begini!" tegas Fanni, raut wajahnya begitu kesal. Terlebih, Arlan masih tidak mau berhenti.
"Masih lama, Dek," jawab Arlan dengan santai.
"Aku mau bangun. Mandi, ibadah terus ngurus anak-anak."
"Kan ada suster, Sayang."
"Anak kita ada dua, Sayang. Kalau aku enggak turun tangan, lama kelarnya. Kasihan juga suster Sima. Belum lagi ngurus bayi besar aku."
Arlan terkekeh. Ia merasa semakin gemas pada saat Fanni tengah mengomel. Bayangan ibu mertuanya justru terlintas di benaknya. Ia merasa Fanni tidak jauh beda dengan ibunya. Ya, namanya ibu dan anak kandung.
Setelah itu, Arlan benar-benar melepaskan Fanni. Sehingga, membuat Fanni bisa bernapas lega. Kemudian, Fanni memungut pakaiannya yang berserakan. Ia mengenakannya sebelum bergerak mengurus sesuatu yang diperlukan untuk berjalan-jalan. Sama seperti sang istri, Arlan melakukan hal yang sama. Ia tidak mau membuat Fanni kelelahan setelah ia mendapatkan sesuatu yang indah tadi malam.
****
Mentari di langit Belanda mulai beranjak naik, tepatnya di ibukotanya sendiri--Amsterdam. Indah sekali, bahkan banyak burung merpati yang terbang di luar sana. Membuat suasana semakin nyaman melihatnya. Arlan sendiri masih tidak menyangka bisa membawa istri dan anak-anak ke negara ini. Negara asal dari ayah mertuanya. Ternyata, tidak kalah bagus dari Amerika tempatnya belajar ketika masih muda.
Butuh waktu tiga tahun, sampai Arlan benar-benar bisa mengumpulkan uang sebagai hadian liburan kepada anggota keluarganya. Kali ini, asli dari hasil jerih payahnya sendiri. Ia tidak meminta lagi kepada keluarga besarnya yang terbilang kaya. Dan hal itu membuat Arlan sangat bangga, meski terbilang terlambat.
"Mas, aku ada kiriman sarapan nih dari pihak hotel," ujar Fanni.
Arlan berbalik badan dan mendapati sang istri yang berjalan ke arahnya. Fanni membawa hidangan untuk sarapan, yang mungkin telah Fanni pesan kepada pihak hotel. "Anak-anak, Dek?" tanya Arlan.
"Ada, Mas. Nanti suster antar ke sini kok. Aku juga habis balik dari sana. Tadi malem kan, si kecil susah tidur. Jadi pagi ini masih tidur."
"Kasihan anakku."
"Aku ambil dulu, Mas. Kamu sarapan duluan aja. Kangen dia enggak ketemu sama papa-nya."
"Hmm ... iya sih. Kamu yang di sini aja, Mas yang ambil."
Dahi Arlan mengernyit seketika. "Kenapa, Dek?"
"P-pokoknya aku yang ambil mereka!"
Mendengar penegasan dari Fanni, Arlan hanya bisa menelan saliva. Entah apa yang membuat istrinya itu melarangnya mengambil anak-anak. Jika seperti itu kemauan Fanni, maka ia hanya mengangguk pelan. Ia menerima hidangan sarapan yang dibawa oleh Fanni dan membiarkannya terlebih dahulu sembari menunggu sang istri.
Fanni melarang Arlan ke kamar lain bukan karena sebab. Justru karena ia tidak ingin jika Arlan berada di dalam kamar bersama wanita lain. Hal itu membuatnya mendadak cemburu ketika Arlan ingin menjemput putrinya yang ada suster manis di dalamnya. Bukan karena tidak percaya, ia hanya merasa tidak suka saja. Sehingga, ia memilih untuk pergi sendiri menjemput kedua putrinya di sana.
"Sus, anak-anak udah mandi semua?" tanya Fanni setelah ia masuk ke dalam kamar di mana anak-anaknya berada.
Sima yang tengah sibuk memakaikan baju kepada Sella, kini menoleh ke arah Fanni. "Sudah, Mbak. Baru aja kok," jawabnya.
"Selli mana?"
"Masih lihat pemandangan di balkon, Mbak."
"Oke. Kamu sarapan dulu, aku ajak anak-anak dulu."
"Baik, Mbak."
Bersamaan dengan selesainya Sima dalam memakaikan baju ke badan Sella, Fanni sudah berada di hadapan mereka. Setelah itu, Fanni mengambil alih si kecil darinya. Ia yang telah diberikan waktu untuk sarapan, kini bergegas. Ia tidak mau pekerjaannya dianggap jelek oleh Fanni maupun Arlan.
"Mama!" Selli berseru memanggil ibu sambungnya itu. Setelahnya, ia berlari masuk dan menghampiri sang ibu dan adik perempuan tercinta. "Papa di mana, Ma?"
"Di kamar, Sayang. Yuk, ke sana. Biar suster-nya sarapan dulu. Kamu juga harus sarapan," jawab Fanni. Sedangkan tangannya sibuk mengangkat tubuh Sella yang baru selesai ia rias dengan bedak khusus bayi.
"Papapapapa," celetuk Sella, seakan ia menunjukkan rasa rindu kepada sang ayah yang semalaman tidak ia temui.
Hal itu membuat Fanni dan Selli mendadak tertawa. Saking gemasnya, Fanni mengecup habis pipi Sella yang semakin chubby. Mereka bertiga keluar dari kamar itu untuk menghampiri Arlan yang masih setia menunggu anggota keluarganya.
"Papa!" Sesampainya di dalam kamar di mana Arlan berada, Selli segera berlari mencari ayahnya dengan seruan itu.
__ADS_1
"Papa di sini, Kak," jawab Arlan dari arah balkon yang terdapat meja dan kursi.
Tanpa pikir panjang lagi, Selli segera menghampiri sang ayah. Ia melompat ke dalam pelukan Arlan. Tentu hal itu, segera disambut hangat oleh Arlan. "Anak Papa cantik banget. Mau ke mana sih?"
"Mau jalan-jalan, Pa. Kita jadi jalan-jalan, kan?"
"Jadi dong. Tapi harus sarapan dulu, ya? Mama juga sama Dede'."
"Oke, Papa."
Arlan menurunkan tubuh Selli yang semakin berat karena pertumbuhan. Ia mengalihkan pandangan kepada Fanni yang tengah menggendong putri kedua mereka. Ia berjalan menghampirinya.
"Sini, Dek." Arlan meminta Sella dari Fanni karena perasaan rindunya terhadap bule kecilnya itu, sekaligus agar Fanni bisa mengurus hal lain.
"Sarapan dulu, Mas. Sella taruh di stroller aja. Enggak rewel kok."
"Bentar, Mas masih kangen si anak. Hmm ... ini juga udah cantik kayak si kakak. Mama jadi kalah deh." Arlan mengabaikan Fanni, ia berfokus kepada sang putri kedua. Dikecupnya pipi Sella dengan gemas. Sedangkan, Sella hanya berceletuk khas bayinya.
Beberapa menit kemudian, Arlan menaruh Sella ke dalam stroller yang telah diambil oleh Fanni serta dibuka. Ia mendorong kereta itu ke balkon, di mana sarapan akan dilangsungkan. Balkon lumayan lebar, sehingga cukup untuk menampung mereka. Terlebih, menyajikan pemandangan kota Amsterdam yang sangat berbeda dengan Jakarta.
Setelah semua telah duduk bersama, mereka siap menyantap hidangan yang sudah disajikan. Ya, sembari menikmati pemandangan kota ini.
"Dek, tadi kenapa sih?" tanya Arlan kepada Fanni perihal larangan dari Fanni yang masih menganggu hatinya.
"Kenapa apanya, Mas?" tanya Fanni kembali dengan mulut yang terisi makanan.
"Tadi lho. Kok kamu ngelarang Mas jemput mereka?"
"E-enggak apa-apa kok, Mas!"
"Kenapa, Dek? Kita kan harus jujur satu sama lain. Aneh lho kata Mas. Ada apa sih?"
Fanni terdiam. Memang, rasanya sangat aneh jika ia melarang tanpa alasan yang jelas. Namun ia merasa malu untuk menjelaskan. Ia merutuk dirinya sendiri dari dalam hati, karena muncul perasaan cemburu itu. Ia merasa sangat konyol.
"Dek?" Arlan menatap Fanni penuh harap. Ia tidak mau ada permasalahan lagi di antara keduanya.
Hal itu membuat Fanni semakin tersudut. Ia menghentikan suapan makanan ke dalam mulutnya. "Iya, enggak apa-apa sih. Cuma aku enggak mau kalau kamu di dalem kamar sama cewek lain."
Dahi Arlan mengernyit. Ia berpikir sejenak. Lalu kembali berkata, "sama suster maksud kamu? Ya Allah, Dek. Kan ada anak-anak."
"Ya, tetep aja. Enggak boleh pokoknya kalau aku-nya enggak ada!"
Arlan tertawa lebar, bahkan terbahak-bahak, membuatnya nyaris tersedak makanan yang sudah ia suapkan di dalam mulutnya. Bagaimana tidak, baginya saat ini Fanni justru terlihat lucu. Lagi pula, mana ada Arlan begitu. Ia akan menjemput anak-anak, di luar pintu saja. Namun, sepertinya pemikiran Fanni justru ke arah lain yang lebih ektrim. Bukannya marah, Arlan justru merasa gemas terhadap sang istri. Terlebih, ketika Fanni menampilkan wajah sebal karena cemburu yang tidak jelas itu.
Arlan berdiri dari duduknya. Ia membungkuk agar sampai pada wajah Fanni, kemudian dikecupnya pipi sang istri. "Kamu mah ada-ada aja. Mikir apaan sih? Jangan aneh-aneh deh," ujarnya sembari menarik dirinya.
Fanni yang sibuk mengiriskan daging untuk Selli, kini melirik Arlan dengan sinis. "Aku enggak mikir apa-apa kok. Jangan GR! Kata agama juga enggak boleh kan kalau di dalem ruangan sama cewek yang bukan istrinya," jawabnya berkilah. Meski di dalam hati, ia teramat malu.
"Ya Allah, Dek. Mas jemput mereka juga tetep di balik pintu, enggak bakalan masuk. Bilang aja, kamu-nya yang cemburu kalau Mas sama suster."
"Enggak!" Fanni menatap Arlan yang tengah senyum-senyum. "Ih! Iya, puas kamu, Mas?! Apa lagi, suster-nya lebih cantik dari aku."
Arlan terbahak lagi. "Ada-ada aja kamu, Dek. Cantikan kamu ke mana-mana. Heran ih, kamu juga jauh lebih sexy."
"Tuh kan, malah nyindir gitu."
"Apa sih? Mas serius, Dek. Nggak ada sindiran. Hei, Sayang. Jangan begitu dong. Mas kan cintanya sama kamu doang. Sama anak-anak juga."
Fanni terdiam. Namun, hatinya berdesir-desir. Terlebih, saat mengingat sang suami menjelaskan bahwa dirinya lebih cantik dari Sima.
****
Yuk, bantu jempolnya lagi. Maaf ya kalau jadi sering minta vote. enggak apa-apa, kan? Di extra part ini, sebelum beneran End. hehe.
Jadi bantu vote-nya ya. biar sekali-kali, masuk ranking atas sebelum ada tanda END di covernya.
__ADS_1