
****
"Ini," ujar Riska. Ia menyodorkan sebuah cek yang nominalnya belum aku ketahui.
Kenapa akhir-akhir ini, ada yang ngasih duit sih?
"Apa ini?" tanyaku kembali. Aku memang tidak mengerti maksud dari Riska ini.
Ia tampak menghela napas, setelah itu menatapku. "Buat semua biaya yang telah dikeluarkan Om Arlan, Kak Fanni. Aku baru bisa ganti sekarang."
Dahiku mengernyit, merasa heran. Soal biaya? Maksudnya untuk ke Canberra? Aku tidak mengerti, mengapa harus ia serahkan kepadaku? Sampai-sampai mengundangku makan siang di restoran. Aku meninggalkan putriku bersama Mbak Leny dan William.
"Aku tahu, ini udah terlambat. Sebenarnya, aku memikirkannya pada saat Om Arlan baru berangkat. Tapi, ... waktu itu aku belum memiliki cukup uang, Kak." Riska menunduk. Aku rasa ia tengah malu karena baru sekarang menyadari kesulitan Mas Arlan.
Aku menghela napas. "Kenapa? Kenapa kamu malah kasih ke aku, Ris? Aku bahkan enggak terlibat soal ke Canberra itu kok."
"Aku udah coba, tapi Om Arlan menolak. Katanya aku enggak perlu dan nggak berkewajiban ganti semua biaya."
"Oh."
Jadi seperti itu, baiklah tidak apa-apa. Namun, mengapa aku merasa sesak? Rasanya sangat sayang sekali. Terlebih, pada saat menilik kertas cek tersebut bertuliskan setengah milyar alias lima ratus juta rupiah. Siapa yang tidak akan menelan ludah ketika melihat nominal itu? Apa aku meterialistis? Mengingat kondisi keuangan yang memang menurun, membuat hatiku sedikit kalap. Apa lagi, uang itu adalah uang hak Mas Arlan, bukan dari Mbak Leny yang masih sangat membutuhkan.
Enggak boleh, Fann!
Aku mencoba mengatur napasku yang sempat memburu. Tidak boleh terburu-buru, apa lagi berkaitan dengan uang. Ya, uang adalah hal yang sangat sensitif. Lagi pula, aku bukan kepala rumah tangga, tidak ada hak untuk memutuskan semuanya.
Aku kembali mendorong kertas tersebut kepada Riska. "Bukan aku sombong atau munafik ya, Riska. Tapi, ... uang ini hak Mas Arlan, dia yang berhak memutuskan terima atau enggak. Lagian, kalau berurusan dengan uang, masalah bisa menjadi runyam. Ini bukan jumlah yang sedikit. Emangnya kamu udah diskusi dengan ayahmu tentang hal ini?" jelasku beserta pertanyaanku untuk Riska.
Ia terdiam. Raut wajahnya berubah menjadi memerah, aku rasa ia telah salah tingkah. Sepertinya jawaban hatinya atas pertanyaanku adalah tidak. Untung saja, aku tidak terburu-buru menerimanya. Meski aku akui, aku merasa sangat sayang jika menolak uang itu. Sebagai manusia biasa, bahkan ibu rumah tangga yang paling tahu tentang keuangan membuatku berpikiran demikian. Namun aku tetap harus menahan egoku dan berpikir secara sehat.
Lalu, sembari menunggu jawaban dari Riska, aku kembali menyantap hidangan yang telah ia pesankan sesuai seleraku. Sesekali aku mengamati penampilan Riska yang kembali rapi dan berkharisma seperti dulu kala. Hal itu membuatku merasa lega, ia bisa berdamai dengan masa lalu bahkan keluarganya. Bisa kembali menjadi CEO dan memiliki calon suami seorang CEO juga. Luar biasa!
"Aku emang belum bilang sama Papa, Kak. Tapi, ... aku yakin Papa setuju kok," ujarnya. Membuatku kembali menjatuhkan sendokku dan menghentikan bersantapku.
Aku menghela napas dalam. "Itu uang sangat banyak, Riska. Setengah milyar, kan? Lima ratus juta. Siapa yang enggak tergiur, aku sangat tergiur. Tapi kalau Mas Arlan aja menolak, pasti ada sesuatu yang dia pikirin dan bisa jadi berkaitan dengan ayah kamu," jelasku.
"Tapi, Kak. Aku juga enggak mau Om Arlan terbebani sendirian. Papa orangnya kurang peka, Kak, kalau enggak diajak diskusi. Tapi bukan berarti Papa enggak setuju."
"Aku tahu, Mas Arlan juga nggak mungkin mudah melepas uang itu gitu aja. Secara sebanyak itu, bisa buat modal atau penambahan nilai saham dan sebagai investor, kan? Tapi kembali lagi sama keluarga kamu, Ris. Aku tahu Mas Arlan juga keluarga kamu. Tapi uang itu sangat sensitif, Ris. Belum lagi Mbak Dahlia kondisinya makin kritis."
"Untuk biaya perawatan udah pasti diagendakan sendiri, Kak."
"Oke, bicarakan sama papa-mu dulu. Keluarga itu harus bisa saling terbuka. Jangan membuat keputusan sendiri, Ris. Kalau kamu kayak gini, sampai menikah pun kamu selalu begini."
"Tapi, Kak ...?"
"Simpan uang itu dulu. Bicarakan dengan papa kamu selaku kepala dari keluarga besar Harsono. Juga Mas Arlan nanti. Jangan sama aku yang enggak berhak sama sekali."
Riska mengembuskan napasnya dengan pasrah. Ia tidak bisa menolak ucapanku lagi. Sepertinya rezekiku dan Mas Arlan sedang banyak. Namun kami belum berani menerimanya. Lalu, jika kami menerimanya, justru khawatir akan membawa masalah baru bagi Riska. Ia yang seharusnya melangsungkan pernikahan saja, kini kembali tertunda karena pernurunan kondisi Mbak Dahlia.
Rumit!
Setelah beberapa menit berlalu, hidanganku habis. Kini tinggal segelas air putih saja. Lalu, aku menyesapnya sampai tenggorokanku merasa lebih nyaman. Kini, terhitung setengah jam aku makan siang bersama Riska. Aku berharap tidak akan memakan waktu lebih lama lagi, khawatir jika Sella rewel dan Mas Arlan belum pulang.
Untuk Riska, makanan miliknya masih tersisa hampir setengah dari porsi sebelumnya. Ia tampak gelisah, mengenai hal inikah? Entahlah. Untuk memastikannya, aku bertanya, "emm ... pernikahan kamu?"
Riska menatapku. Namun tatapannya itu menjadi lesu seketika. "Lagi-lagi, aku harus menundanya, Kak," jawabnya.
Aku turut prihatin. Jalan kisah cintanya dengan Celvin, ternyata belum menemuia kemulusan. "Kenapa, enggak ijab sah aja?"
"Semua orang sibuk dengan kondisi Tante Dahlia, Kak. Aku enggak enak mau ngajuin permintaan ini."
"Padahal nggak harus memakan waktu dan biaya banyak. Lagian, resepsi bisa diselenggarakan kapan aja, Ris."
__ADS_1
Riska menggeleng pelan. "Waktunya belum tepat, Kak. Aku juga nggak mau egois. Pasti ada waktunya, Kak."
"Hmm ... ya, kalau bersabar pasti ada hasil yang baik, Ris. Oke, untuk masalah uang kamu bicarain sama yang berhak aja ya? Kayak yang aku bilang tadi. Emm ... aku nggak bisa lama-lama nih. Kasihan Sella."
"Oh, i-iya, Kak. Makasih udah mau dateng. Aku anter ya?"
Aku menggeleng. "Aku bawa mobil dan ... kayaknya kantor kamu udah mulai bekerja, kan?"
"Hanya pekerjaan biasa, Kak. Bukan resmi. Oke, kalau gitu, Kak Fanni cepet pulang kasihan sepupu-sepupuku."
Aku tersenyum. "Sampai jumpa lagi. Jangan lupa main, ada sepupumu yang lain."
"Eh?! Siapa?"
"Makanya main aja nanti. Ada kejutan."
"Iya, Kak. Hati-hati."
Aku berjalan meninggalkan Riska. Tampaknya ia masih ingin menghabiskan jus strawberry dan desertnya. Kakiku terayun cepat menuju area parkir mobil demi menghampiri si hitam milik Mas Arlan.
Setelah sampai di hadapan benda beroda empat itu, aku bergegas masuk. Kemudian, aku mulai melajunya untuk menuju rumah istanaku bersama keluarga kecilku. Siang hari ini tidak seperti tadi pagi yang mendung, melainkan terik sekali.
****
Malam harinya, ketika semua orang telah terlelap, aku malah masih terjaga. Tentu saja memikirkan uang itu, aku sangat ingin menerimanya. Rasanya tidak adil jika Mas Arlan saja yang berkorban. Namun kembali lagi pada semua ucapanku kepada Riska. Mas Arlan yang berhak memutuskan bukan diriku. Meski aku tidak bisa memungkiri keinginanku untuk menerima uang itu.
Apa aku sangat keterlaluan? Tidak, aku hanya bersikap realistis saja. Entahlah. Seharusnya aku tidak boleh berpikiran sepicik ini, bukan?
Aku menghela napas dalam, lalu mengembuskannya kembali. Perlahan, aku mengubah posisiku untuk menghadap suamiku yang tengah tertidur. Namun kali ini ia tidak terdengar mendengkur, tumben. Kubelai halus wajahnya, bahkan sembari tersenyum. Aku tidak bisa lagi membebani dirinya dari ambisi hatiku ini. Sepertinya aku harus tenang dan membuang pemikiran itu.
Cup! Kuberikan kecupan manis, namun sekilas saja di bibirnya yang lembut. "Mimpi indah, Sayang," ujarku.
Namun ... tiba-tiba saja tangannya bergerak menarik wajahku yang sudah mundur. Kecupanku dibalas olehnya, lebih sengit, bahkan aku sampai kewalahan. Keromantisan dan kehangatan ini.
Mas Arlan berangsur merenggangkan cengkeraman telapak tangannya di wajahku. Ia membuka mata, lalu menatapku. "Kirain mau, tumben nyosor duluan?"
"Enggaklah, emang enggak boleh aku begitu, Mas?"
Mas Arlan tersenyum. "Boleh dong, lagi sini?"
"Nggak mau."
"Apa mau yang lain?"
Aku menggeleng. "Enggak juga."
"Kenapa, Dek? Anak-anak tidur lho."
"Aku lagi ada jatah bulanan."
"Yah ...." Mas Arlan menepuk keningnya. "Padahal ...."
Aku menyentil hidungnya yang mancung itu. "Sabar ya, Sayang. Ini pertama kalinya aku dapet setelah melahirkan."
"Emm .... iya deh, Sayang. Tapi kalau ini boleh kali." Tangan Mas Arlan menyentil bibirku.
Hingga tidak lama kemudian, ia kembali mengecupku. Sama seperti tadi, hangat dan manis. Keromantisan di antara kami terjadi lagi. Sulit untuk menghindar, asal tidak sampai keluar batasan karena aku sedang memiliki tanggal merah. Sama seperti sebelumnya, bahkan kali ini lebih rakus. Mas Arlan ....
Beberapa menit kemudian, ia melepaskan wajahku. Lama sekali, bukan? Tentu dengan beberapa trik darinya agar aku bisa lebih leluasa dalam menghirup udara. Selanjutnya, aku merebahkan kepalaku di atas lengan atasnya. Ia membelai wajahku, sesekali memberikan kecupan manis di pipiku.
"Kenapa kamu belum tidur, Dek?".
Aku menatapnya kemudian. "Aku belum ngantuk. Aku kayaknya mengidap insomnia deh, Mas."
__ADS_1
"Jangan dong. Besok Mas cariin vitamin ya biar daya tahan tubuh bagus. Kamu kan harus ngurus anak-anak, Dek. Kalau enggak bisa tidur, tubuh kamu bakalan lemes."
"Hmm ... iya, Mas."
"Maaf ya, Sayang. Mas enggak bisa bantuin banyak."
"Nggak apa-apa, Mas. Kamu kan harus ngurus kantor juga."
"Emm ... ngomong-ngomong, tadi siang kamu kemana, Sayang? Mas mau tanya lupa mulu. Malah asyik ngobrol sama William. Maklumin ya, Dek. Nggak biasanya punya temen ngobrol cowok."
"Iya, Mas. Aku paham kok. Tadi, ... aku ketemu Riska."
"Riska?" Mas Arlan sedikit mengubah posisinya. Kini wajahnya berhadapan dengan wajahku. "Buat apa?"
Aku menghela napas dalam, kemudian kembali aku hembuskan. Lidah ini terasa kaku. Justru rasa takut dan ragu yang merasuk ke dalam hatiku. Tentu saja karena khawatir jika Mas Arlan marah. Jika bukan diriku, maka kepada Riska.
Namun, di satu sisi aku harus jujur dan terbuka kepadanya. Tentang uang itu. Sebenarnya tanpa bertanya pun ia bisa tahu. Aku rasa, Mas Arlan hanya ingin mendengar jawabanku yang aku berikan kepada Riska.
Detik berikutnya, hatiku mantap membuat keputusan untuk mengatakannya. Akan menjadi lebih baik jika ia tidak marah dan malah mengajak berdiskusi. Aku berdeham, kemudian berkata, "soal cek itu, Mas. Riska kasih ke aku. Tap--"
"Cek? Terus kamu bawa?" Mas Arlan segera memotong ucapanku. Ia menatapku lebih tajam lagi.
Demi membuang perasaan terkejutnya, aku kembali memberikan kecupan di bibirnya, hanya sekilas. "Iya, Mas. Kamu jangan marah dulu, dengerin aku dulu."
"O-oke, D-dek."
Aku menghela napas. "Kenapa, kenapa kamu enggak terima uang itu, Mas? Itu banyak dan bisa mengganti kerugian kamu lho."
Mas Arlan membangunkan dirinya. Aku malas untuk mengikuti gerakannya itu, sehingga aku memilih merebahkan kepala di atas pangkuannya. Ia membelai halus wajahku, namun tatapannya lurus ke depan. "Mas masih bingung, Dek. Tapi, ... Mas udah mutusin enggak ambil uang itu."
"Kenapa? Terus uang dari Mbak Leny?"
Mas Arlan menunduk dan menatapku. "Jujur, Mas masih anti sama uang dan harta milik keluarga besar kita. Mas enggak mau ambil sepeser pun dari mereka. Apa lagi uang, Mas takut malah jadi masalah lagi."
Uh!
Aku bergegas membangunkan diriku. Kemudian, aku duduk di samping Mas Arlan. Sedangkan tatapanku lurus ke depan. Benar dugaanku, ia menolah karena hal itu. Memang, urusan uang itu sangat sensitif. Namun ia juga sudah membuang banyak biaya, bahkan tenaga untuk misi yang seharusnya bukan kewajibannya.
"Tapi, ... kita juga butuh uang lho, Mas. Kita punya dua anak, dua orang pekerja. Aku dan kamu, keperluan sehari-hari yang jumlahnya enggak sedikit."
Mas Arlan menggenggam tanganku. "Mas janji, Mas bisa atasi semuanya, Dek. Kita enggak bakalan kekurangan. Dan lagi, Mas kan punya penghasilan dan beberapa keuntungan. Kamu nggak perlu khawatir."
Aku menghela napas. "Oke, aku enggak khawatir. Tapi, ... kalau boleh jujur, aku ingin menerima uang itu. Secara, itu hak kamu, kamu kehilangan banyak biaya bahkan tenaga, Mas."
"Dek, jangan kayak gitu. Mas ikhlas bantu kok, enggak minta balasan apa pun. Ikhlas banget. Mbak Leny dan William juga udah dateng, kan?"
"Oooh! Tapi enggak kayak gitu, Mas. Keluarga kamu aja jarang mikirin kita. Kenapa pas ada ganti rugi kamu masih mikir begitu? Aku tahu kamu ikhlas, tapi nggak begini juga. Tekorlah kita."
Mas Arlan tampak terkesiap atas ucapanku. "Kok kamu bisa ngomong gitu sih, Dek? Heh?" Mas Arlan melenguh, ia menghela napas dalam. "Mari tidur. Udah malem, Mas nggak mau bertengkar hanya karna masalah ini."
"Apa? Hanya karna? Sepele banget kamu nganggepnya?"
"Dek? Tidur yuk."
"Ck!"
Aku mendengkus kesal. Ia tidak memperdulikan lagi atas ucapanku. Mas Arlan sudah bertekad untuk menolak uang itu. Kini ia sudah kembali menidurkan dirinya sendiri di ranjang bagiannya, bahkan membelakangiku.
Jadi, ini siapa yang salah? Aku atau Mas Arlan? Aku merasa sangat kesal atas pemikirannya itu. Ikhlas, baiklah boleh saja. Namun manusia hidup juga perlu bersikap realistis, bukan? Uang penting, maksudku untuk mengganti kerugian kami. Jikalau tidak ada kerugian apa pun, maka sah saja jika menolak.
"Oh!" Aku berharap rasa kesalku ini hanya karena efek datangg bulan.
Beberapa saat kemudian, meski masih teramat kesal, aku kembali merebahkan tubuhku. Mataku sangat segar, atau otakku yang penuh rasa sebal. Ingin terlelap saja, sulit sekali.
__ADS_1
Bersambung ...