
Mas Dian sudah diam, benar-benar diam. Entahlah jika beliau kembali marah. Semua bukti telah terpampang dengan nyata, bahkan sang anak dari istri simpanan. Mas Arlan dan Riska sungguh luar biasa. Mungkin kepergian Riska ke Australia memang sengaja dirahasiakan, bahkan dari diriku. Salah satu alasan, mengapa Mas Arlan tidak mengizinkanku berkunjung ke apartemenku.
Ya, karena kondisi apartemen itu ternyata kosong. Selama ini aku pun tidak berani melanggar ucapan suamiku karena takut menyeretnya ke dalam masalah lagi. Beberapa kali Mas Arlan datang berarti untuk membicarakan hal yang terjadi sekarang. Aku tidak kecewa karena berkenaan dengan masalah yang besar. Dan aku malah teramat bangga. Akhirnya suamiku bisa mengangkat namanya kembali.
Namun disatu sisi, pertentangan masih saja terjadi. Mas Gunawan belum sepenuhnya percaya akan pernyataan dari Riska--sang anak. Aku mengerti, mungkin bukti soal William benar-benar anak dari Mas Dian belum sepenuhnya terlihat. Harus ada bukti DNA terlebih dahulu, bukan? Entahlah peranku hanyalah menyaksikan. Bahkan Celvin--atasanku saja tidak berani ikut campur dalam masalah ini.
"Mohon maaf, jika kedatangan saya kemari sangat mengganggu." Akhirnya William mulai berbicara. Tentu saja ia tampak ragu dan tidak berani. Namun wajahnya melukiskan sesuatu yang memang harus diungkapkan.
"Jadi, kamu siapa? Apa kamu memiliki bukti bahwa kamu adalah anak dari adik saya?!" tanya Mas Gunawan dengan tegas.
William terdiam, ia tampak menelan saliva, tertunduk muram penuh keraguan. Namun Riska segera menghampirinya. Riska berbicara kepadanya tanpa aku ketahui isinya.
"Ka-kamu bukan anakku! Ka-kamu siapa? Siapa kamu?! Ja-jangan mengakui hal yang mustahil! Kamu hanya orang asing disini!" tegas Mas Dian sembari bangkit dari duduknya sejak tadi. Aku terkesiap dan memandang beliau. Ya, Mas Dian masih saja berkilah. Padahal aku pikir, beliau telah menyerah dan pasrah. Ternyata tidak. Meski gugup, beliau masih berusaha menyanggah.
William terperanjat, terbukti saat ia mengangkat kepala dan memandangi tajam ke arah Mas Dian. Ia masih belum bersuara lagi, namun raut kecewa dan marah tersirat di wajahnya. Betapa tidak, seandainya benar William adalah anak dari Mas Dian, pasti ia sangat terluka. Memilih bersembunyi bersama ibunya demi menjaga nama baik Mas Dian. Ini benar-benar gila.
Betapa panasnya atmosfer ruangan ini. Tatapan tajam, kemarahan, semua yang tidak terduga lantas terjadi. Ingin rasanya berlalu pergi, namun kata hati ingin agar aku tetap disini. Untuk apa? Untuk menyaksikan secara langsung semua yang telah terjadi. Lagipula tidak ada yang mengusirku disini. Semua berfokus pada masalah yang mulai terkuak satu persatu.
Dibalik semua ketegangan ini, Mas Arlan terlihat menguatkan hati. Beberapa kali ia mengepalkan jari-jarinya, aku rasa ia tidak ingin menyaksikan kehancuran keluarganya. Oh .... aku sangat ingin menghampirinya, memeluk serta menenangkannya. Namun tidak bisa lantaran aku tidak mau mempersulit dirinya.
"Ayah, selama ini saya dan Ibu sudah banyak mengalah. Tidak bisakah Ayah mengakui kami? Kami keluarga ayah." William berusaha menyuarakan isi hatinya dengan mengepalkan telapak tangannya serupa dengan Mas Arlan. "Kami mencintai Ayah. Kami mengikuti semua perkataan Ayah karena kami memiliki rasa sayang yang begitu besar untuk Ayah."
"Tidak! Ja-jangan panggil aku seperti ayahmu! Da-dasar orang asing. Riska, Arlan?! Ka-kalian sengaja berbuat seperti ini? Untuk menjebakku, kan?! Kalian tidak terima dengan pencapaianku sebagai atasan, kan?! Ba-bawa pergi a-anak ini. Ini fitnah, Mas Gunawan. Fitnaah!" Begitulah jawaban Mas Dian yang terus berusaha mempertahankan nama baiknya. Aku sampai menepuk dahi dibuatnya. Jantungku berdegup kencang, ubun-ubunku seolah ingin meledak. Bahkan aku ingin sekali berlari dan menghantam wajah Mas Dian dengan bahuku yang besar.
Lalu, giliran Riska yang maju. Wanita itu menyeringai sinis kepada pamannya itu. Sembari memegangi bahu William, ia berkata, "ck! Sudah tua masih bersikap seperti bocah, Bapak Dian ini. Heran lho saya, bisa-bisanya anak sendiri tidak diakui. Mau enaknya saja, tidak mau bertanggung jawah. Anda seperti sampah!"
"A-apa kamu bilang?! Lancang sekali kamu, Riska! Siapa yang mengajarimu?! Arlan? Kamu sendiri adalah wanita tidak benar, m*rahan!"
Mas Gunawan bangkit menghampiri Mas Dian. Plak! Beliau mendaratkan telapak tangan di wajah Mas Dian. "Jaga ucapan kamu tentang anakku, Dian!" tegas beliau.
"Itu benar, Pa. Aku adalah wanita murahan. Aku menyerahkan sesuatu yang sangat berharga untuk kekasihku. Aku akui aku adalah pendosa. Tapi, kekasihku adalah orang yang bertanggung jawab. Dia rela dihajar oleh kalian demi mendapatkan diriku secara resmi. Bukan melarikan diri seperti sampah macam Bapak Dian ini!"
Mampus kau, Dian! Dasar tidak tahu diuntung! Ah .... gue aja geram, gimana mereka. Tuhan enggak tidur. Mau apa lagi kau, Dian?!
Batinku tidak berhenti merutuk keberadaan Mas Dian. Betapa tidak, beliau sudah terkurung dalam jeruji masalah yang terkuak ini, namun masih saja menyanggah. Siapa yang tidak gemas atau geram? Kalau para netizen tahu, mereka akan merutuk bersama-sama seperti diriku.
"Fann .... kamu lagi ngapain ...?" tanya Celvin lirih.
"Eh? Hehe .... terbawa suasana ....," jawabku sama lirihnya. Sepertinya wajahku menunjukkan raut tidak menentu karena rasa geram itu.
Kembali pada mereka semua. Aku melewatkan beberapa momen karena Celvin. Sayang sekali, aku tidak menceritakan akan hal itu. Yang pasti, Mas Dian sudah benar-benar tertohok. Beliau memilih diam sekarang, namun bukan berarti sudah menyerah. Sepertinya beliau sedang mencari ide lain. Astaga! Rasa kesalku semakin bertambag saja dibuatnya.
__ADS_1
Tahan, Fanni, tahaaaan!
"Bu-bukti DNA. Ya, ti-tidak ada bukti DNA," ujar beliau lagi.
"Pak Dian! Sudah cukup! Sejak tadi saya memilih diam. Saya menunggu permintaan maaf dari anda. Mungkin akan sulit mengakui tentang penjebakan itu. Tapi .... William anak kandung anda sendiri! Astagaaaa! Manusia macam apa anda ini? Apa ayah kita pernah mengajarkan hal seburuk ini, Mas?!" Mas Arlan tampak tidak kuasa menahan amarah lagi. Ia mendesak Mas Dian agar segera mengaku dan menyerah.
"Permisi." Namun seseorang datang dari luar. Tampilannya seperti seorang bodyguard. Ia menghampiri Pak Ruddy dan mengatakan sesuatu setelahnya. Aku tidak tahu, aku hanya menangkap anggukan kepala beliau saja. Kemudian sanh pria itu berlalu keluar lagi.
Tak lama kemudian, muncul seseorang yang juga masuk ke dalam. Orang tersebut adalah seorang wanita bergaya elegan dengan balutan dress dibawah lutut. Usia beliau setara dengan Nia. Namun bukan Nia, lalu siapa?
"Leny???" Nah, Mas Dian mencetuskan sebuah nama. Aku rasa, pemiliknya adalah wanita tersebut. Sontak saja, Mas Dian langsung membekam mulut beliau. Ya, beliau tengah keceplosan.
"Aku datang, Dian. Aku akan menuntut hakku dan William," jawab wanita tersebut. Dan benar saja, beliau bernama Leny--ibu dari William.
"Si-siapa kamu? A-aku tidak kenal!" Kakak ipar keduaku ini sungguh orang yang sangat bekerja keras. Sudah tersudut, namun masih berkilah. Gemas sekali diriku. Orang macam apa Dian itu? Ya Allah!
"Aku membawa buku nikah dan akte kelahiran William dengan ayah bernama dirimu, Dian. Sudah cukup, akhiri semua sandiwara ini. Aku lelah. Aku tidak butuh uangmu lagi. Aku dan William hanya butuh pengakuan darimu. Bahkan ke istri pertamamu, bahwa dirimu telah menikahiku 17 tahun yang lalu."
"Ti-tidak, Leny!"
"Walau sebenarnya akulah wanita pertamamu. Hanya karena kamu membuat diriku mengandung diluar pernikahan, kamu ingin aku pergi sejauh mungkin. Jika bukan cinta, aku tidak akan mau. Aku telah mengorbankan segalanya untukmu, Dian. Menikahi diriku diam-diam, lalu menikahi orang lain secara resmi. Aku bertahan demi William dan karna selama ini kamu masih bertanggung jawab materi atas kami."
"Hentikan, Leny!"
Ibu Leny terdiam sejenak. Beliau menangis, mana mungkin seorang ibu bisa membuka aib diri sendiri dan juga sang anak. Bahkan diriku sampai menderaikan air mataku. Seperti yang beliau katakan, bahwa sebenarnya beliau adalah wanita pertama. Beliau hamil diluar pernikahan dengan Mas Dian. Beliau rela pergi demi menjaga nama baik Mas Dian didalam keluarga Harsono. Mungkin jika aku diposisi itu, aku akan memilih bunuh diri dan untungnya memang bukan diriku.
Aku bergerak berdiri. Mas Arlan menatapku dengan isyarat agar aku berhenti. Namun kali ini aku tidak menurutinya. Ya, aku menghampiri Ibu Leny bersama Riska. Kami berdua memegangi pundak beliau dengan upaya menguatkan hati beliau. Melihat beliau yang berderai air mata, aku dan Riska akhirnya tersugesti lebih parah. Kami berdua menangis sesenggukan dibuatnya. Hati ibu Leny benar-benar hancur sepertinya.
"Dian, sebenarnya kami ingin berdiam selamanya. Tapi saat ini adalah puncak dari rasa lelah kami. Terlebih dana yang kami terima adalah hasil dari korupsi. Kamu anggap apa kami, Dian? Bahkan kami rela melihat dirimu menikah kembali!" Suara parau Ibu Leny terus terucap demi mendapatkan penjelasan lebih lanjut.
"Ti-tidak, tidak, tidaaaak! Hentikan, aku mohon hentikan semuanya," ujar Mas Dian. Sedangkan, semua orang hanya terdiam menyaksikan kepiluan ini. Mas Gunawan sudah pasrah dan duduk kembali. Betapa merasa hinanya beliau mendapatkan suatu hal yang tidak terduga didalam keluarga sendiri. Tampaknya, selama ini Mas Gunawan hanya dipengaruhi. Aku tahu, beliau adapah orang yang baik. Kalau bukan orang baik, tidak akan mungkin beliau bersedia menikahkan Mas Arlan dengan diriku.
Mas Dian jatuh bersimpuh. Beliau sudah tidak bisa bergerak lagi sekarang. Ya, beliau menangis. Sudah hancur semua rencana yang sempat tertata rapi itu. Sang tupai sudah terjatuh ke dalam jurang yang dalam. "Aku memang bodoh. Maaf, mereka berdua adalah keluargaku. Satu dosa kulakukan sampai aku terus melakukan dosa lanjutan sampai sekarang. Aku manusia yang gagal, aku selalu kalah dengan Arlan dan Robi," ujar beliau.
"Ayah, pulanglah bersama kami. Kami adalah keluarga pertama Ayah." Sebegitu tegarnya William dalam menerima sang ayah kembali. Aku tahu, untuk anak seusia dirinya pasti sangat menginginkan figur seorang ayah yang komplit. Namun, apa yang akan terjadi didalam keluarga Mas Dian jika beliau bersedia mengikuti anjuran William?
"Sudah cukup, beri saya kesempatan untuk berbicara," pinta Pak Ruddy. Beliau menilik satu persatu semua orang yang ada disini. Setelah memastikan tidak ada yang menolak, beliau mulai bersuara, "kamu anak yang sangat mulia, William. Saya bangga terhadap kamu. Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena ikut campur masalah keluarga kalian."
"Lalu apa yang kamu inginkan, Ruddy? Ingin menertawakan kami?" tanya Mas Gunawan masih saja menaruh curiga. Tidak ada lagi embel-embel kehormatan sebelum nama "Ruddy".
Pak Ruddy tersenyum sembari menghela napas. "Mau saya tetap sama, Gun. Saya ingin menyatukan kembali keluarga kita. Menikahkan salah satu anggota keluarga kita sesuai amanat mendiang orangtua kita."
__ADS_1
"...."
"Ingat, Gun. Bagaimana kita menghabiskan masa kecil bersama-sama. Sudah cukup kamu menaruh semua rasa curiga itu. Hatimu hanya dibakar oleh seseorang. Jika kamu dendam atas pengkhianatan mantan istri Arlan, itu sungguh konyol, Gunawan."
"Apa maksud kamu, Ruddy? Keluargamu yang terlibat didalamnya!"
"Ya, itu benar. Aku mengakui, tapi bukan kami yang terlibat. Kami sudah mengusir orang itu. Membantu perusahaan kamu lagi bersama Riska--anakmu, tapi ternyata gagal. Dan .... kamu bilang tadi, keluargaku yang terlibat, kan? Tapi kenapa kamu tidak menyukai Arlan yang juga korban?"
Mas Gunawan tampak salah tingkah dan langsung diam. Pak Ruddy tersenyum dan biasa saja. Semua yang Pak Ruddy katakan sangat masuk akal dan sudah sejak lama ingin aku ucapkan didepan keluarga Harsono. Dan kini, sudah diwakilkan oleh beliau. Sumpah! Aku sangat lega.
Dan lagi-lagi, seseorang masuk ke dalam ruangan ini. Maksudku dua orang, dua orang dari kepolisian. Wah! Rencana hari ini benar-benar luar biasa. Banyak hal yang tidak terduga. Dua orang polisi tersebut bertanya tentang nama Mas Dian. Sontak semua orang terkejut, kecuali tiga orang yang ada didalam misi ini.
"Apa maksudnya?" tanya Mas Dian.
"Kami mendapatkan laporan tentang kasus korupsi dan pasal pencemaran nama baik atas nama Bapak Dian dari keluarga Harsono," jawab salah satu polisi tersebut.
"Tidak, saya tidak bersedia ikut. Mas Gunawan maafkan aku. Jangan begini, bantu aku. Ini bisa mencemarkan nama baik keluarga kita. Arlan, Arlan, Riska, semua???" Rontaan Mas Dian terdengar memohon untuk dilepaskan, namun tidak ada yang membantu.
"Ayah, jangan bawa Ayah saya. Saya mohon. Beri kesempatan saya untuk merasakan kasih sayang seorang ayah. Saya mohon. Bapak semua yang ada disini. Huaaaa! Saya mohon, ibu bantu ayah." William bergerak maju sembari mencengkeram lengan Mas Dian. Ia menangis tersedu-sedu. Membuat hati ini ikut hancur. Ibu Leny langsung menghampiri William dan berupaya melepaskan cengkeraman tangan sang anak pada Mas Dian. "Ibu, tolong bantu Ayah. Maafkan Ayah, Ibu. Aku ingin Ayah bersama kita. Aku sudah memaafkan Ayah, huaaaaaa .... ibu, jangan sampai Ayah huaaaaa .... Ayaaaaah!"
"Sudah William. Udah, Sayang. Ini hukuman seimbang untuk perbuatan ayahmu yang kejam. Agar semua adil, termasuk untuk saudara tirimu."
"Tidak, enggak! Ayaaaah!"
Betapa memilukan kejadian kali ini. Semua orang sudah pasrah. Tidak ada pembelaan dari Mas Gunawan lagi. Mas Arlan turut menitikkan air mata. Apalagi aku dan Riska sebagai seorang wanita. Betapa menderitanya William selama ini, satu hari saja untuk berkumpul dengan sang ayah bahkan tidak ada. Ia terus memohon atas kebebasan ayahnya. Tangisannya meraung memecah kesunyian didalam ruangan ini.
Untuk terakhir kalinya, Mas Dian tampak meminta izin kepada para polisi. Beliau berjalan mendekati Ibu Leny dan William. Sesampainya dihadapan mereka, Mas Dian bersujud. "Maafkan aku, Leny. Maafkan aku, putraku. Hiduplah dengan bahagia, lupakan diriku yang penuh dosa ini," ujar beliau.
"Ayaaaaah!" William menarik tangan Mas Dian. Namun kedua polisi lebih sigap, pada akhirnya mereka terpisah. Setelah ini mungkin kepiluan akan dirasakan keluarga Mas Dian yang resmi.
Semua kedok Mas Dian sudah terkuak. Nama Mas Arlan--suamiku sudah membaik. Mungkin tinggal kesepakatan kedua belah pihak keluarga dan juga hubungan Celvin dan Riska.
Hikmah yang aku ambil adalah bahwasanya sekali manusia berbuat dosa atau kebohongan pasti akan menumbuhkan dosa atau kebohongan-kebohongan berikutnya. Jadi, marilah berbenah jika kita sempat berlaku buruk sebelum dosa berikutnya datang menghampiri. Manusia memang tidak ada yang sempurna, namun aku yakin manusia memiliki banyak kesempatan untuk berbenah diri. Jangan lupakan hal buruk dimasa lalu untuk alarm dalam perubahan hidupmu, agar kita selalu ingat bahwasanya setiap perbuatan buruk ada karma yang selalu menyertai.
Itu hanya pendapatku. Karena dengan mengingat, kita akan bersikap lebih waspada lagi.
Bersambung ....
Huaaaaa... hehe
Yuk, mari dukung salah satu teman author aku guys.
__ADS_1
Kakak Erggina Putri
Judul novel : My Heart Is Only For You