Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Cerita


__ADS_3

****


"Dek? Bangun sayang?"


"Iya Mas. Jam berapa sih?"


"Udah jam enem."


"Haaaah? Bolos lagi dong subuhnya?"


"Haha... enggak sayang. Mas bohong kok, masih jam lima."


Kubangunkan diriku. Rasanya masih benar-benar mengantuk. Yah, mungkin ini akibat dari begadang semalam. Mataku sulit sekali untuk terbuka, sampai terantuk-antuk dalam keadaan duduk, meskipun sudah sadar. Hawa dingin pun menyeruak masuk, entah dari AC atau angin sepoi. Yang pasti menambah rasa malas pagi ini.


Namun apa dayaku, aku harus mandi wajib. Bila saja bisa ditunda, pasti aku akan menundanya. Namun, aku memiliki kewajiban untuk beribadah. Seperti kata beberapa orang, tetap dirikanlah ibadah meski dalam keadaan terpaksa sekalipun. Karena jika menunggu kesiapan, manusia tidak akan tahu bentuk kesiapan itu dimana.


"Hei?" ujar Mas Arlan. "Melek sayangku."


Kubuka mataku perlahan-lahan. "Uhh! Ngantuk banget, ini gimana Mas?" tanyaku kemudian.


"Makanya jangan begadang, Dek."


"Kamu yang ngajak begadang kok."


"Kok Mas lho? Yaudah melek dulu matanya. Udah makin siang lho, Dek."


"Iya Mas. Ini juga lagi usaha kok."


"Dasar. Mas mandi duluan kalau gitu."


Sebuah kecupan manis didaratkan olehnya pada keningku. Lantas, ia beranjak turun dari ranjang kami dan meninggalkan aku. Aku rasa, ia akan mandi lebih dulu. Tidak biasanya, Mas Arlan bangun lebih awal. Yah, mungkin karena waktu dan alarm yang mengganggu.


Mau tidak mau, aku sendiri menurunkan tubuhku dari ranjang ini. Kupakai baju tidur yang semalam terhempas jauh. Lantas, aku mengambil langkah menuju salah satu kamar mandi di rumah ini. Karena memang memiliki dua kamar mandi. Sesampainya disana, aku mulai melakukan ritual membasuh diri. Guyuran air shower yang sangat dingin mampu membekukan uratku seketika. Namun, tidak pada mataku. Kini aku bisa melihat lebih jelas, karena kesegarannya.


****


Selang waktu berjalan, semua rutunitas pagi telah selesai. Kini kami bertiga bersiap untuk berangkat ke masing-masing tujuan. Seperti biasa, kami mengantarkan si kecil terlebih dahulu. Dilanjutkan aku, kemudian si aki-aki ganteng yang seperti vampir, lantaran masih awet muda. Ah... sepertinya sebutan yang lumayan bagus untuknya.


"Mama Fanni, besok Selli mau lomba menyanyi," ujar anak gadisku.


"Oh ya? Selli udah latihan emangnya?" tanyaku.


"Udah dong. Kan dikelas ada itu, ada pelajalan mucik."


Aku menatap kepada Mas Arlan. Merasa heran karena ucapan Selli. Yah, bagaimana tidak? Selli masih duduk di bangku yang setara dengan taman kanak-kanak. Aku rasa sekolah tempat ia mengeyam pendidikan bukanlah sekolah biasa pada umumnya. Memang wajar, lagipula dulu kantong Mas Arlan belum sekering sekarang.


"Iya Dek. Ada kok. Cuma kayak lomba anak-anak aja," ujar Mas Arlan.


"Hmm... iya Mas. Aku tau kok," jawabku.


"Kita bisa dateng nggak ya?"


"Kapan sih?"


"Dua hari lagi, Dek. Tepatnya di hari Jum'at."


Aku manggut-manggut. Merasa gelisah setelahnya, bagaimana jika kami berdua sedang sibuk-sibuknya? Apa yang nanti akan dirasakan oleh Selli? Begitulah sekiranya kebimbangan yang muncul didalam benakku. Sedangkan aku masih belum tahu akan hal itu. Inilah salah satu resiko menjadi karyawan dibawah naungan bos besar. Kami harus mengorbankan segala waktu dan juga anak tentunya. Makanya, banyak sekali anak-anak yang merasa kesepian hidupnya. Menjadi nakal ketika dewasa. Seperti Celvin misalnya.


Astaga! Jangan sampai, anakku seperti itu.


Sepertinya aku harus mengatur waktu. Setidaknya salah satu dari kami harus menyempatkan waktu untuk tuan putri kami. Yah, aku berharap Bapak Celvin Hariawan Sanjaya bersedia memberikan keleluasaan untuk diriku dan putriku. Meski terkesan tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi? Semua harus kuupayakan. Seperti inikah rasanya menjadi orangtua?

__ADS_1


Deru mobil yang kami tumpangi perlahan menyepi, karena Mas Arlan menghentikannya sejenak. Telah sampai ditujuan pertama yaitu, sekolah Selli. Kini bukan aku yang turun, namun Mas Arlan. Ia melarangku karena ia berpikir aku masih kelelahan. Lantas, ia menurunkan si kecil dan mengantarkannya sampai pintu gerbang. Pemandangan yang indah ketika dilihat oleh mata. Bak keluarga romantis, tanpa adanya seorang Nia yang luar biasa bengis.


"Kita next lagi, Dek," ujar Mas Arlan, sesaat setelah masuk ke dalam mobil kembali.


"Siap sayang," jawabku sembari tersenyum teduh kepadanya.


Mas Arlan melaju kembali mobilnya. Kami meninggalkan gedung sekolah tempat Selli belajar. "Jangan terlalu cantik pagi ini, Dek," ujar suamiku lagi.


"Aku nggak pernah cantik kok, Mas," jawabku.


"Katamu. Kataku kamu cantiknya luar biasa. Kalau udah gitu, Mas nggak bisa bertahan lagi."


"Yaudah sih. Alhamdulillah kalau bagi Mas Arlan, aku ini cantik. Tetep harus bertahan dong, kita kan harus kerja."


"Pengen libur yang lama banget. Biar bisa lebih lama juga sama kamu."


"Amin. Semoga segala masalah cepat selesai dan bisa ambil libur, Mas."


Mas Arlan tersenyum seraya menolehku sekilas. Ia berkata lagi, "Mas sayang padamu, Dek."


"Aku juga Mas."


Namun, waktu harus memaksa kami untuk berpisah sementara waktu. Beberapa saat kemudian, telah sampai ditujuan kedua yaitu kantorku. Seperti biasa, kukecup punggung tangan suamiku lalu segera beranjak keluar dari mobil. Aku memandangi mobilnya lebih dulu. Setelah hilang dari pandangan mataku, aku segera melangkah masuk ke dalam gedung kantor milik Sanjaya ini.


Sama seperti biasanya, aku menyusuri lantai dan arah yang sama. Suasana masih cukup sepi. Mungkin hanya segelintir karyawan yang datang, itupun dibagian office boy atau girl. Sepertinya Bapak Celvin memang masih pantas menyandang manusia terajin di kantor ini. Bahkan, diriku yang sudah berangkat lebih awal pun, masih kalah dengan dirinya. Karena sudah terbiasa, aku tidak merasa malu lagi kepadanya. Toh, jam kerja memang masih lama.


Tak disangka tak dikira. Saat hendak masuk ke dalam lift, aku menemukan sosok wanita cantik yang tidak asing. Ia menundukkan kepalanya. Oh... Riska? Untuk apa ia datang kemari pagi-pagi seperti ini?


"Pagi Nona," sapaku kepadanya.


Riska mengangkat kepalanya dengan raut terperanjat tergambar di wajah ayunya. "Kak Fann emm... maksudku Tante Fanni? U-udah berangkat ya?" tanyanya kepadaku. Gelagapan.


Aku mengangguk, kemudian masuk lift. Hening dan canggung. Yah, hubungan kami memang masih seperti ini. Tidak ada perkembangan dan terkesan tidak dekat satu sama lain. Aku pun masih ragu untuk sekedar menyapanya dengan sebutan nama saja.


Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Kami keluar bersama dari kotak pengantar ini. Aku menunggu Riska untuk berjalan lebih dulu. Namun, ia malah terkesan bimbang dan ragu-ragu. Semakin lama, aku tidak bisa menahan rasa penasaranku. Terlebih Riska benar-benar seperti orang putus asa.


"Mau ketemu Celvin kan?" tanyaku kemudian.


Riska menatapku malu-malu. Lantas menjawabku, "I-iya Tante Fanni."


"Mari Nona, saya antar."


"Jangan panggil Nona. Aku sudah menjadi keponakan Tante."


"Oh... o-oke. Emm... Ri-riska."


Aku mengajak keponakan iparku ini ke arah ruanganku yang menjadi satu dengan atasan tampanku itu. Beruntungnya, memang masih sepi. Jadi, tidak ada orang yang tahu akan kedatangan pemimpin dari perusahaan Harsono. Bisa fatal akibatnya, jika hal itu terjadi dan menjadi gosip.


Helaan napas yang terdengar sesak dilakukan oleh Riska. Saat kutilik kembali kepadanya, wajahnya memerah. Aku rasa kegusaran hatinya bukanlah main-main semata. Ingin sekali, kupeluk tubuhnya yang ramping nan indah. Namun, aku tidak kuasa melakukan semua itu, lantaran tidak cukup nyali.


"Kak... Emm... Tante Fanni, seberapa dekat dengan Celvin?" tanyanya tiba-tiba.


"Tidak terlalu kok. Tapi, lumayan juga," jawabku.


"Apa Celvin mengatakan sesuatu tentangku? Oh... tidak, maksudnya hubungan kami?"


Deg! Jantungku berdegup. Haruskah aku jujur kepada Riska? Bagaimana jika ia bertambah frustasi karena malu? Langkah kami terhenti seketika. Lebih tepatnya, ia mengikuti gerakan kakiku yang berhenti. Aku menatap Riska dalam-dalam. Ia sama sekali tidak mengangkat kepalanya sejak tadi. Aura elegan yang biasa ia tonjolkan, seolah hilang entah kemana. Riska frustasi, ya! Itu benar.


Aku memberanikan diri untuk meraih tangannya yang putih dan lembut. Aku menggenggamnya erat. "Tidak apa-apa. Jangan patah semangat," ujarku.


"Jadi benar? A-aku sangat malu," jawab Riska.

__ADS_1


"Wajar kalau kamu merasa malu. Berarti kamu masih peduli akan dirimu. Tapi setiap kesalahan, pasti ada imbas yang harus kamu terima No... Riska."


"Aku harus bagaimana Kak? Anu... Tante?"


"Panggil aku Kakak saja, jika itu lebih nyaman. Lagipula selisih umur kita tidak jauh."


Aku memapah tubuh Riska untuk berjalan kembali. Kuajak dirinya menenangkan hati lebih dulu. Disebuah kursi sofa dalam satu satu ruang yang hampir mirip seperti ruang tamu, kami duduk bersama. Sebelum itu, aku menutup pintu perlahan, supaya tidak ada yang melihat. Bahkan Celvin sekalipun. Karena sepertinya Riska membutuhkan bahu untuk sekedar bersandar.


Benar saja, Riska memeluk badanku seketika. Aku hanya menelan salivaku. Bukan karena tidak terima, namun lebih ke rasa kikuk, lantaran tubuhku yang besar dipeluk oleh wanita bertubuh kecil. Rasa minder seolah datang kembali, namun tidak bisa menolak gerakan Riska sama sekali. Yah, akhirnya aku menerima dengan baik dan menepuk pundaknya pelan-pelan. Ia menangis sesenggukan.


"Sebenarnya, aku tidak habis pikir mengenai hal ini. Tapi... semua memang harus dipikirkan lagi," ujarku.


"A-aku nggak sadar. Aku... aku terlalu lama menahan kerinduan. Se-selama ini hatiku bagai mati, karena Celvin sudah tidak ada disisiku," keluh Riska.


"Aku paham Riska."


"Aku takut... aku takut mengandung. Gimana ini Kak? Apa kata papa dan mama, nantinya? Aku takut, kalau aku dihajar habis gimana?"


Suara tangisan Riska semakin kencang, seolah mampu menembus dinding ruangan ini dan berkeliaran keluar. Tidak ada yang bisa aku katakan, karena aku pun tidak tahu harus berkata apa. Hanya belaian yang kuberikan kepada Riska dengan beberapa kalimat menenangkan. Ini bukanlah masalah biasa. Kenikmatan itu hanya membuatnya bahagia dalam waktu semalam. Dan kini ia harus menanggung resiko setelahnya. Gilanya, harus bersama Celvin yang notabene adalah musuh bebuyutan keluarga mereka.


Akhirnya Riska sudah mencapai batas lelah. Ia menarik dirinya dan melepas pelukannya dari diriku. Ia mengusap kasar air mata yang membasahi pipi. Ia menunduk kembali penuh rasa frustasi. "Maaf Kak. Blazer Kak Fanni jadi basah karena aku," ujarnya.


"Tidak apa. Kamu sendiri sudah tenang?" tanyaku.


"Lumayan. Makasih, Kak."


"Emm... Riska? Apa kamu mulai ada gejala awal di tubuhmu?"


"Aku nggak tau. Aku terlalu pusing, sampai mati rasa."


"Tanggal datang bulannya?"


"Oh???" Riska berpikir sejenak. "Ha-harusnya dua hari yang lalu."


"Kamu harus berani periksa ke dokter kandungan. Jangan sampai terjadi apa-apa pada dirimu."


"Mungkin jika itu terjadi, aku harus menggugurkannya."


"Haah??? Gila kamu!"


Mendengar ucapan dari Riska, aku benar-benar kaget luar biasa. Bahkan berdiri seketika. Bagaimana mungkin, hal semacam itu hadir didalam otaknya? Seharusnya ia bertanggung jawab, jika terjadi kehamilan. Lagipula ini kesalahannya.


Herannya, beberapa orang selalu berpikiran sempit atas masalah seperti ini. Hampir semua pelaku, ingin melakukan hal yang sama. Mereka ingin enaknya saja dengan alasan khilaf, tanpa mau bertanggung jawab. Bahkan tak jarang, banyak anak baru lahir yang dibuang, lantaran rasa malu yang harus dihadapi. Padahal masih banyak orang lain yang menginginkan seorang anak, namun kesusahan.


"Lantas, aku harus bagaimana Kak?" tanya Riska. "Aku ini pimpinan perusahaan Harsono. Anak dari Bapak Gunawan, jika ada bayi yang aku kandung. Nasibku akan bagaimana? Aku bisa mati!!!"


Plaakkk! Tanpa sengaja aku menampar wajah ayu Riska, karena geram. Ucapannya terdengar sangat egois. Ia hanya mementingkan dirinya sendiri. Sedangkan aku masih tidak habis pikir. Napasku memburu penuh amarah. Sampai air mataku keluar. Bukan sedih, melainkan miris. "Jangan jadi orang bodoh dong! Anda ini orang berpendidikan! Dosa berbuat sudah ada, masih mau menambah dengan dosa membunuh???" tanyaku tegas.


Riska menangis sejadi-jadinya. Hal itu membuatku melemah, amarahku mencari dengan rasa bersalah. Aku menyesal karena telah memarahinya. Seharusnya aku menasehatinya perlahan-lahan. Namun, emosiku memuncak tatkala ia hanya mengatakan mengenai dirinya.


Tiba-tiba terdengar bunyi brak dari arah pintu, beberapa kali. Karena aku telah menguncinya tadi. Sampai akhirnya pintu terbuka dan kunci rusak seketika. Celvinlah pelakunya, aku terbelalak lebar. Wajah tampannya memerah dipenuhi urat hijau yang bermunculan. Ia menatap Riska penuh amarah.


Astaga! Situasi apa ini? Haruskah aku pergi? Namun, jika Celvin berbuat kekerasan bagaimana? Aku rasa ia telah mendengar perbincangan kami.


"Apa maksud kamu, Riska?" tanyanya kemudian. "Riska?! Jawab!"


Riska tidak menjawab. Ia masih menangis. Aku tidak kuasa meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Lantas, aku bergerak memeluknya lagi. Kutenangkan dirinya untuk kedua kalinya. "Tenang dulu, Vin," ujarku.


Mendengar ucapanku, Celvin segera menarik napas dalam-dalam. Sepertinya ia merasa malu kepadaku. Ia tampak mengusap wajahnya dengan kasar. Menenangkan dirinya sebentar. Lalu, ia duduk disamping Riska yang sedang aku peluk. Telapak tanganku ingin mencoba membelai rambut Riska, namun masih ragu. "Emm... maaf aku terlalu kaget dengan semua niat kamu, Riska. Tidak sengaja aku mendengarnya. Aku... aku akan bertanggung jawab Riska. Bahkan jika kehamilan itu tidak terjadi. Akulah yang merusak dirimu. Aku akan berjuang keras untukmu."


"...."

__ADS_1


Bersambung...


Budayakan like+komen.


__ADS_2