
Dengan susah payah, aku terus melaju mobilku. Bahkan aku sampai menangis sesenggukan. Rasa mual yang lagi-lagi datang, lemas dan bahkan nyeri dibagian rahim. Namun, aku harus tetap datang menemui Mas Arlan di kantornya. Aku melupakan diriku terlebih dahulu, bayangan wajah ibu mertuaku terus muncul didalam benakku. Aku khawatir, aku takut, bahkan aku terus menerka sesuatu yang menakutkan.
Bagaimana tidak, nada bicara Riska melalui telepon beberapa saat yang lalu, terdengar sangat cemas dan mengkhawatirkan. Aku tidak ingin ibu mertuaku pergi sebelum menemui anak dan cucu-cucunya. Ratapan hati Mas Arlan pasti tidak menentu saat ini. Pasti ada pertanda khusus di hatinya. Aku tidak bisa membayangkan jika dirinya tidak bisa melihat sang ibu, barang sekali saja.
Usia ibu mertuaku yang sudah teramat renta, pasti muncul beberapa kemungkinan yang terjadi kepada diri beliau. Membuatku sangat takut jika memikirkan hal itu. Belum banyak yang aku lakukan sebagai seorang menantu. Bahkan, aku belum berbakti kepada beliau layaknya orang tuaku sendiri. Sakit hati ini tatkala mendengar kabar itu. Terlebih baru saja, aku dan Mas Arlan berencana akan mengunjungi beliau. Serta membawa kabar baik tentang kehamilanku.
Perasaanku tidak menentu, apalagi saat mengingat bayangan masa lalu. Ketika beliau menyerahkan Mas Arlan kepadaku. Saat itu juga, beliau selalu membawa-bawa kata tentang kematian. Aku harus bagaimana? Aku hanya bisa menangis tanpa bisa berkata-kata. Sampai disatu titik, aku memilih menghentikan mobilku untuk sementara waktu, tepatnya di sisi kiri jalan raya.
Aku menjatuhkan kepalaku di atas stir mobil yang bulat. Air mataku berjatuhan, pikiranku kacau. Terlebih kondisiku belum sepenuhnya stabil. Usia kandunganku yang baru memasuki trimester pertama, membuatku seringkali lemas tidak berdaya. Ditambah kabar yang mengejutkan seperti ini.
"Ya Allah, sembuhkan Mama kami. Hindarkan beliau dari sakaratul maut terlebih dahulu. Kami belum sempat berbakti dan memberikan kebahagian untuk beliau. Ya Allah, Ya Tuhan kami." Do'a-do'a terus aku panjatkan sembari berderai air mata. Seolah aku sedang mengalami sesak napas yang tiada terkira. Berharap ibu mertuaku masih baik-baik saja dan diberikan umur yang panjang. Namun entah mengapa, rasa hatiku benar-benar tidak enak.
Aku nggak boleh berdiam diri terlalu lama. Mama membutuhkan kami! Ayo Fanni, kamu kuat!
Batinku terus berucap menguatkan diri ini. Terlebih ponsel Mas Arlan sampai sekarang belum diaktifkan. Sepertinya dugaanku memang benar, ia menghadiri meeting. Waktu pun masih menunjukkan jam kerja, masih cukup dini untuk sekedar bersantai. Aku harus sampai ke kantornya, masih ada sisa jarak sekitar 200 meter lagi. Ya, aku harus sampai dan menemuinya.
Kutopang bagian perutku menggunakan bantal kecil yang ada disini. Aku menegakkan badan, dengan harapan rasa mualku cepat-cepat menghilang. Aku yakin, aku dan anak didalam kandunganku bisa kuat, bahkan baja pun akan kalah kuatnya. Kuusap wajahku yang basah akan air mata sembari menghela napas dalam-dalam. Setelahnya, aku kembali melanjutkan perjalanan.
****
"Maaf, Ibu ini sedang cari siapa? Harus lapor dulu sebelum menyelonong masuk tanpa kartu identitas karyawan." Seorang security pria tengah menghadang diriku pada saat aku memasuki gerbang perusahaan itu.
"Saya cari suami saya, Pak. Bapak nggak tahu saya siapa? Saya mantan sekretarisnya Celvin Sanjaya!" tegasku.
"Iya, terserah. Mau mantan mau apa kek, tapi harus ada kartu identitas sebelum masuk, Bu."
"Pak, saya ini istrinya Arlan Mahendra. Direktur kantor ini, saya butuh ketemu!"
"Tapi peraturan sudah peraturan, Bu. Ibu harus menunggu di pos security terlebih dahulu. Kecuali kalau sudah ada tanda bukti dalam melakukan perjanjian bertemu."
"Pak! Ibu kamu sedang sakit! Tolong dong!"
"Maaf, Bu. Kami juga hanya bawahan yang tidak bisa melanggar aturan. Tolong tenang, dan duduk disana terlebih dahulu. Nanti saya hubungkan dengan pihak dalam."
Ternyata sesampainya di kantor--tempat kerja suamiku, rencanaku tidak berjalan lancar sebagaimana mestinya. Aku telah memarkir mobilku di pinggir jalan yang dekat dengan anak perusahaan dari Sanjaya Group ini. Dan kini aku tengah duduk di pos security sembari diawasi oleh mereka. Memangnya aku ini orang gila? Riska saja bisa masuk ke kantor pusat beberapa kali, mengapa aku tidak? Padahal aku adalah istri dari Bapak Arlan!
Cukup lama salah satu security menghubungkan permintaanku pada resepsionis didalam sana. Aku sampai kesal, ponsel Mas Arlan belum juga diaktifkan. Aku semakin gusar atas kondiai ibu mertuaku. Aku harus bagaimana?
Sial!
Karena teramat bingung, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Riska. Setidaknya aku perlu tahu kondisi ibu mertuaku terlebih dahulu. Bunyi khas masih terdengar sebagai tanda bahwa Riska belum mengangkatnya. Sialnya sampai, durasi berakhir. Aku mengulanginya lagi sembari menggigit jari lantaran gelisah.
"Ayolah, Riska ...," gumamku pelan. Namun masih tidak ada jawaban. Hatiku semakin tidak menentu, jantungku berdebar tidak karuan. Peluh karena kondisiku ini terus mengucur deras. Aku berharap Mas Arlan datang sekarang juga, namun sepertinya itu mustahil.
Satu, dua, ketiga sampai akhirnya ketujuh kalinya aku melakukan panggilan kepada Riska. Ia mengangkatnya, "halo, Kak Fanni. Gimana, Kak? Maaf baru angkat, kami benar-benar cemas."
"Iya halo, Ris. Aku udah di kantor Mas Arlan tapi nggak boleh masuk. Mama Darsi gimana?"
"Parah, Kak. Kondisi Nenek sedang kritis, masuk ICU. Kata Papa daritadi manggil-manggil nama anak-anaknya, termasuk Mas Arlan, eh ... Om Arlan maksudnya. Bahkan Om Dian juga."
"Aku belum dibolehin ketemu. Mas Arlan kayaknya lagi meeting. Kamu pasti tahu, prosedur ketemu atasan itu pasti ribet. Mereka kayak nggak percaya kalau aku istrinya."
"Ya ampun, Kak. Aku juga bingung ini. Semuanya lagi nangis, nungguin Om Arlan dateng. Kak, kalau Nenek pergi, seenggaknya bisa ketemu Om Arlan. Supaya Nenek lebih tenang. Hiks ... kami juga lagi menghubungi pihak kepolisian buat memberi izin pada Om Dian."
__ADS_1
Mendengar semua ucapan Riska yang diiringi senggukan tangis itu, membuatku benar-benar bungkam. Air mataku keluar lagi. Aturan macam apa ini?! Aku adalah istrinya. Tidakkah mereka mempercayaiku demi kepentingan suamiku? Masa bodoh dengan diriku, sialan!
Lantas, aku melarikan diri menuju gedung utama kantor ini. Beberapa security menyerukan namaku, mungkin mereka tengah mengejarku. Sedangkan aku sibuk melaju kedua kakiku secepat mungkin sembari menopang bagian perutku untuk melindunginya.
"Tolong dong, Bu! Jangan membuat masalah!" tegas salah satu security setelah ia berhasil menangkap diriku.
"Masalah katamu?! Aku ini istrinya, Pak! Ibu kami sedang sekarat! Dimana hati nuranimu!" tegasku kembali dengan tatapan begitu nanar kepadanya. "Kamu mau bukti?! Ambil ponselku, sial! Geledah isinya, gue bener-bener istrinya!"
Security tersebut langsung bungkam. Namun tetap menerima ponselku yang kulemparkan kepadanya. Ia memastikan isinya, kemudian mengusap kepala bagian belakangnya. Bahkan wallpaper ditampilan layar utama ponselku sudah terpampang dengan nyata, ada fotoku dan Mas Arlan bertiga bersama Selli.
Ia masih diam sembari mengisyaratkan agar aku masuk ke kantor tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera mengambil langkah. Sesampainya didalam aku menghampiri resepsionis yang sedang bertugas.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita resepsionis tersebut.
"Saya butuh bertemu suami saya," jawabku.
"Ma-maaf, su-suami? Siapa ya, Bu?"
"Arlan Mahendra."
Wanita itu menelan ludah seketika, bahkan ia meneliti semua yang ada pada diriku. Mungkin ia merasa aneh lantaran Mas Arlan yang gagah itu memiliki istri macam diriku. "Apa?! Suami saya dimana?" tanyaku dengan tegas.
"A-ada meeting, Nyonya."
"Tolong sambungkan."
"Mohon duduk dulu, Nyonya."
"I-iya, tapi kami tidak bisa berlaku sembarangan, Nyonya. Lagipula percuma kalau beliau sedang rapat, pasti tidak akan bisa terhubung. Emm ... be-bentar deh, bukannya anda adalah sekretaris dari Tuan Celvin?"
"Ya! Makanya sambungin, tolong, Mbak. Ini darurat soal nyawa orang tua kami. Sa-saya ini lagi mengandung pula."
"Eh?" Sang resepsionis tampak terkejut, ia langsung bergerak keluar dari meja kerjanya. Ia menghampiriku yang hampir kehabisan tenaga ini. Beruntungnya ia orang yang cukup baik, meskipun tadi cukup terkejur. Dengan sigap, ia memapah diriku untuk duduk di sebuah sofa panjang tanpa badan senderan.
Sedang diriku sudah tidak ada kuasa untuk tetap berkeras hati. Bagian rahimku terasa nyeri. Apa ini efek stress yang berlebihan? Oh ... jangan sampai terjadi apapun kepada diriku dan anakku. Apalagi dalam kondisi ibu mertuaku yang tengah kritis itu.
"To-tolong hubungi suamiku secepatnya."
"I-iya. Ta-tapi Nyonya ambil napas dulu ya? Aduh, saya nggak jago. Aduh, gimana ya? Pokoknya tenang dulu. Sa-saya usahakan. To-tolong dong jaga-jaga Nyonya ini." Nda suara resepsionis benar-benar terdengar panik. Ia memanggil beberapa rekannya untuk menjaga diriku. Sedang dirinya kembali ke mejanya dan tampaknya masih berusaha menghubungi Mas Arlan.
Kamu dimana, Mas? Mama sedang menunggu kamu, Mas.
Hanya sebatas ini yang bisa kulakukan untuk mempertemukan ibu dan anak itu. Dayaku sudah melemah. Mataku mulai meremang. Namun, sebisa mungkin aku tetap menjaga kesadaranku sampai Mas Arlan datang. Dua orang yanh tengah menjagaku hanya berucap agar aku lebih tenang. Ya, aku ini adalah orang yang lemah. Apalagi latar belakangku yang kerap sakit, membuat daya tahan tubuhku semakin melemah.
"Pak, Pak. I-ini istrinya, Pak." Suara resepsionis saat memanggil seseorang membuat mataku terbuka lebar. Aku berusaha bangkit lagi. Aku mencermati beberapa orang yang sedang masuk ke ruangan ini.
"Mas Arlan ....," ujarku pelan.
"Dek?! Kenapa kamu?! Ya Allah!" Mas Arlan terkejut atas kehadiranku.
Aku tersenyum. "Mama, kamu harus cepat pulang. Mama butuh kamu, lupain aku. Kamu harus pulang, cepat."
"Ma-mama? Maksud kamu? Enggak lupain itu dulu, kondisi kamu lagi lemah lho, Sayang."
__ADS_1
"Mas, Mama sedang sekarat sekarang. Mama butuh kamu."
"A-apa?! O-oke, Mas akan pulang, tapi kamu juga penting. Kamu masih kuat jalan ayo, Dek," ajak Mas Arlan kepadaku. "Tolong batalkan pertemuan apapun hari ini, Rose. Saya ada perlu."
Seorang wanita bertanya, "ta-tapi, Pak. Klien sudah menunggu. Harus dibatalkan juga?"
"Kamu ini bodoh atau bagaimana sih, Rose? Kamu tidak lihat kondisi istri saya dan tidak mendengar kondisi ibu saya? Masih pake nanya! Batalkan semua!"
"Ba-baik, Pak."
Satu lagi pria maju sembari mengajukan diri, " biar saya bantu, Pak."
"Enggak! Saya bisa jalan kok," jawabku tegas.
"Ba-baik, Nyonya."
Akhirnya perjuanganku untuk bertemu Mas Arlan sudah tercapai. Mengapa aku menolak tawaran orang itu? Karena aku tahu diri, bahwa diriku sangat berat. Bahkan ketika Mas Arlan memapahku saja, aku berusaha melangkah dengan kuat. Mungkin dibelakang sana, orang-orang sedang bergosip tentang diriku. Namun aku sudah tidak peduli hal-hal seperti itu.
Kami menghampiri mobil Mas Arlan disuatu area parkir. Setelah sampai disana, Mas Arlan membukakan pintu untukku. Lalu ia sendiri masuk ke dalam bagian kemudi. Perlahan namun pasti, Mas Arlan mulai melaju mobilnya untuk keluar dari gedung kantor ini. Tidak lupa ia menitipkan mobil merahku kepada security dengan memberikan kuncinya yang telah ia minta dariku.
"Kamu nggak apa-apa, Sayang?"
"Enggak, Mas. Mama yang kenapa-napa, aku takut."
"Makasih, Dek. Kamu udah luar biasa. Tapi Mas nggak tahu apa jadinya jika terjadi hal buruk sama kamu dan anak kita."
"Tapi, Mama lebih penting."
"Mas tahu, Dek. Umur Mama juga udah renta. Tapi, Mas yakin, beliau pasti akan menunggu Mas sebelum pergi. Mas... Mas udah ikhlas jika beliau pergi. Udah waktunya, beliau beristirahat."
Ucapan Mas Arlan terdengar sangat memilukan. Aku menangkap buliran bening yang jatuh dari bola matanya. Hatinya pasti sedang bersedih. Cuaca yang benderang seolah meredup seketika karenanya. Namun ia berusaha lebih kuat pada saat dihadapanku. Entahlah, ketika nanti ia bertemu dengan sang ibu.
"Ya, Mas yakin Mama pasti nungguin Mas sebelum pergi."
"Mama akan sembuh, Mas."
"Aku berharap begitu, Dek. Tapi usia beliau udah cukup tua, kasian. Sejak tadi sebenarnya ada perasaan mengganjal. Ternyata ini. Mas baca sekilas pesan dari Riska sebelum nyetir tadi. Katanya udah parah."
"Nggak, Mama pasti sembuh. Bahkan sampai aku melahirkan."
"Amin. Tapi, kamu nggak boleh nekat lagi, Dek. Apa jadinya kalau Mas malah kehilangan semuanya, termasuk Mama. Mas pasti akan hancur berkeping-keping. Dek, ini emang terkesan kurang ajar. Tapi untuk situasi sekarang, Mas lebih mengkhawatirkan dirimu."
"Tapi, Mama ingin ketemu kamu."
"Mas tahu, Dek. Mas juga ingin ketemu beliau. Ingin mengucap kata maaf. Tapi dari hati yang paling dalam, Mas udah ikhlas jika beliau akan pergi."
Se-ikhlasnya hati seorang anak, pasti tetap akan ada rasa sakit didalamnya. Mas Arlan yang berusaha kuat, namun tidak kuasa untuk membendung air matanya. Kondisi ibu mertuaku sepertinya sudah benar-benar parah melalui ungkapan yang Riska kirimkan kepadanya. Oleh karena itu, Mas Arlan mengucapkan kata ikhlas itu.
Atau mungkin untuk menenangkan diriku dalam kondisi ini. Mungkin ia tidak punya pilihan lain, daripada membiarkan diriku terluka. Dan memang, aku benar-benar lemah. Ingin kurutuk diriku sendiri, namun itu tidak mungkin. Aku hanya terus berdo'a, bahkan ibu mertuaku, diriku dan anakku dalam keadaan baik-baik saja.
Deru mobil Mas Arlan terus terdengar namun dengan kecepatan sedang. Ditengah kegelisahan hatinya, ia tetap berlaku tenang demi menjaga diriku. Sedangkan aku, mataku merasakan kantuk yang luar biasa.
Bersambung ...
__ADS_1