Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Celvin???


__ADS_3

Tanpa kusadari, bibirku bersenandung gembira disaat sedang bekerja. Aku tidak mempedulikan Celvin yang tengah sibuk di meja kerja pribadinya. Sejujurnya aku masih hanyut dalam perasaan legaku kemarin. Apalagi mas Arlan kembali konyol dengan gombalan khasnya, seperti waktu jadian pertama.


Hatiku berbunga-bunga mulai hari ini. Aku sempat menyesal, mengapa harus terlambat untuk menyadari semuanya. Jika saja menyadari semuanya dari awal, pasti mas Arlan tidak merasa dipermainkan olehku. Namun disisi lain, jika diingat lagi tak ada salahnya juga. Toh, aku menjadi tau besarnya cinta mas Arlan pada orang sepertiku.


Tetap saja, aku masih mengagumi sosok Celvin. Akan tetapi, tidak seperti sebelumnya. Setelah aku mendapatkan jawaban yang pasti, aku tidak lagi terobsesi dengannya. Bagiku sekarang, Celvin hanyalah salah satu sosok pangeran yang sempurna. Seseorang yang baik hati dan ramah, dan tentu saja sulit untuk kutemui. Biasanya orang seperti dirinya terkenal sombong dan selalu melihat orang lain dari segi fisik dan penampilan.


Lagipula, jika aku terus memelihara rasa sukaku pada Celvin pasti hanya akan menjadi kehaluan semata, yang tidak ada ujungnya. Rasa terima kasihku padanya tiada terkira. Dari Celvin, aku bisa meningkatkan karirku sebagai seorang kantoran yang mapan dan


berbakat. Bagiku, ia adalah malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan padaku. Tanpa Celvin, aku pasti masih bekerja dibawah. Dan tanpanya juga, aku tidak akan menyadari perasaanku pada mas Arlan.


“Hei,” seru Celvin padaku.


Aku diam, namun menengok kearahnya. Kulihat wajahnya yang tampan dari sela dinding kaca sebagai pembatas ruang kerja kami. Ia menatapku dengan wajah terheran-heran.


“Lagi bahagia ya Fanni?” tanyanya kembali.


“Bisa dibilang begitu Pak hehe,” jawabku.


“Baru dapet voucher belanja kayaknya ya?”


“Hehe... apapun itu Pak.”


“Soal kerjaan gimana?”


“Beres Pak, nanti jam sepuluh ada jadwal ketemu sama Nona Riska.”


“Oh ya?”


“Iya, seneng ya?”


“Biasa aja sih.”


“Jangan berkilah terus Pak, nanti diambil orang.”


“Emangnya siapa yang lebih tampan dan berkharisma dari saya di negara ini? Haha.”


“Ada kok.”


“Siapa coba?”


“Seseorang terbaik bagi saya Pak hehe.”


Celvin mengeryitkan dahinya dengan posisi yang masih duduk di tempatnya sembari menatapku. Sedangkan aku menutup bibirku yang tidak bisa direm. Rasanya aneh saja, baru kemarin aku menatap Celvin dengan harapan dan rasa cemburuku pada Riska. Kini keadaan seolah berbanding terbalik tiga ratus enam puluh derajat.


Aku mendukung Celvin dan Riska. Aku tak malu lagi mengungkapkan tentang kekasihku, walau masih belum secara gamblang. Mungkin memang benar, selama ini aku hanya mengagumi Celvin seperti wanita kebanyakan.


“Oh... jadi kamu udah punya orang terbaik ya Fann?” tanya Celvin kembali sembari berjalan menghampiriku.


“Hehe... setiap orang pasti punya Pak,” jawabku.


“Hmm... jadinya telat nih saya.”


“Maksud Bapak?”


“Bercanda Fann hehe.”


“Haha iya iya.”


“Siapa orangnya?”


“Ada saja Pak.”


Celvin manggut-manggut. Aku tidak


tau apa yang ada di pikirannya sekarang. Netra cokelatnya yang indah begitu tajam menatapku. Dan kini, ia tengah duduk di kursi yang berseberangan dengan kursiku.


Dia masih terlihat indah seperti biasanya. Aku tidak munafik, jika aku masih berdecak memandangi salah satu ciptaan Tuhan tersebut. Kulitnya yang putih bersih dan halus dihiasi satu jerawat di pipi kanannya. Namun, tetap saja jerawat tak akan mampu mengalahkan indahnya ketampanan Celvin.


Celvin adalah atasanku. Ia hanya hidangan cuci mataku sekarang. Dan aku adalah mesin pekerjanya yang berbentuk manusia. Kami adalah partner yang saling menguntungkan satu sama lain. Aku mendapatkan uangnya, ia mendapatkan ide dan tenagaku untuk perusahaan. Jangan sampai aku dibuat bimbang lagi.


“Fann?” ujarnya memanggilku.


“Ya Pak,” jawabku.


“Menurut kamu aku gimana?”


“Aku? Bapak perfect.”


“Aneh ya kalau pake aku bukan saya?”


“Hehe... dikit Pak, kesannya nggak


biasa aja.”


“Perfect ya kata kamu, tapi saya nggak sesempurna itu Fann.”


“Mungkin Pak, karna nggak ada manusia sempurna di dunia ini. Dan itu hanya penilaian secara kasat mata mengenai Bapak.”


“Jujur saya pengen kenal secara akrab sama kamu Fanni, dari awal kita ketemu.”


“Ehh?”


Aku menghentikan jari jemariku untuk mengetik. Aku terkesiap dengan pernyataan yang baru saja Celvin katakan. Apa maksudnya?


Lalu kugelengkan kepalaku sebanyak


empat kali, ke kanan maupun ke kiri. Tidak mungkin ada maksud lain yang mustahil dalam arti kata tersebut. Aku berharap ,tidak ada lagi masalah yang baru.


“Maksud Bapak gimana ya?” tanyaku kemudian dengan maksud mengorek apa yang diucapkan Celvin.


“Ya sahabat gitu, kamu mirip seseorang,” jawab Celvin dengan santai.


“Siapa kalau boleh tau?”


“Temanku.”

__ADS_1


“Oh gitu ya Pak? Kata orang kita punya kembaran Pak di dunia ini.”


“Mungkin emang bener Fann, tapi gara-gara aku dia-“


Aku tertegun. Celvin tak melanjutkan perkataannya lagi. Hal ini membuatku penasaran. Sikapnya yang tadinya santai, kini berubah muram penuh penyesalan.


Ingin rasanya kugali alasannya lebih banyak. Tetapi, aku terlalu takut apabila dianggap lancang. Apalagi aku hanya bawahan baginya, tidak punya hubungan apapun untuk mendukung keberanianku.


Kemudian Celvin menghembuskan napasnya dengan berat. Air matanya mulai berlinang. Aku tau jika seperti itu, ia sedang mengenang suatu kenangan yang pahit. Aku pun menghentikan pekerjaanku untuk sementara, dan terdiam dihadapannya.


Celvin masih menunduk. Dalam waktu kurang lebih lima menit lamanya, ia masih tak bergeming. Ada apa dengannya? Siapa yang mirip denganku? Lalu alasan apa yang membuatnya bersedih?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus bermunculan dalam benakku. Hatiku berharap Celvin mau membagikan kisahnya sedikit padaku. Walau kenyataannya pasti mustahil.


“Pak? Bapak baik-baik ajakah?” tanyaku kemudian.


“Ya.. i’m ok,” jawabnya.


“Bapak perlu sesuatu?”


“No, thanks.”


“Oke.”


“Fann?”


“Ya?”


“Jadilah temanku, panggil aku Celvin tanpa embel-embel Pak. Fann bantu aku.”


“Ma-maksudnya gimana ya?”


“Tolong bantu aku.”


“I-iya saya eh aku... gimana ya?”


“Fann jadilah temanku.”


“I-iya g-gue m-mau jadi... jadi temen loe Celvin, ok.”


Ya Tuhanku, Allah Ta’ala. Aku sampai terbata-bata dalam menjawab permintaan Celvin. Ada apa sebenarnya? Ia begitu lemas. Celvi menjatuhkan kepalanya diatas mejaku dan masih meracau agar aku mau membantunya.


Kharisma gagahnya tidak terlihat sama sekali. Aku pernah seputus asa ini. Sebuah penyesalan dan juga pasrah terlihat dari raut wajah Celvin yang biasanya terlihat tegas dan sumringah. Aku tidak habis pikir, ia bisa bersikap seperti ini dan itu di hadapanku.


“Celvin, tenang dulu,” ujarku sembari mengusap rambutnya yang halus.


Ia tak langsung menjawabku. Ia memejamkan matanya untuk sejenak. Kedua telapak tangannya begitu kuat mencengkeram tepi meja kerjaku. Aku bergidik dibuatnya.


“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku lagi yang sekarang tak menggunakan embel-embel bapak dan juga aksen formal seperti apa yang ia mau.


“Ya, i’am ok,” jawabnya.


“Masih nggak perlu apapun?”


“Aku butuh kopi Fann.”


Aku beranjak dari mejaku untuk memenuhi permintaan Celvin. Ku tarik gagang pintu ruangan kami sampai terbuka. Lalu aku berjalan keluar untuk menuju dapur kantor. Sebenarnya ada seorang office boy, namun aku memilih pergi sendiri.


Ku tepuk jidatku berkali-kali. Apa aku sudah segila ini? Begitu beraninya aku memakai kata “gue” dan “loe” pada bosku sendiri. Saat itu, aku merasa bingung harus berbuat apa dengan permintaan Celvin. Apalagi tingkahnya mulai aneh. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang dialami oleh Celvin dimasa lalu bersama temannya yang mirip denganku. Apalagi ia terlihat sangat menyesal.


“Pak saya butuh kopi susu, ada dimana ya?” tanyaku pada seorang office boy paruh baya yang telah lama bekerja di perusahaan ini.


“Biar saya buatkan Non, nanti saya antar,” jawabnya.


“Nggak usah Pak, biar saya aja. Sekalian bawa.”


“Udah jangan ditolak Non, nanti saya makan gaji buta dong hehe.”


“Hehe... nggaklah Pak.”


“Nggak apa-apa Non, nanti Non yang bawa kalau mau.”


“Yaudah deh kalau Bapaknya maksa, kan sayanya jadi enak nih.”


“Wah si Enon jago lawak juga ya.”


“Enggak kok Pak, sering denger aja sih.”


“Ini Non, kopinya.”


“Makasih Pak.”


“Sama-sama Non Bule yang nggak sombong.”


Sang bapak office boy menyerahkan kopi yang telah beliau buat sejak obrolan kami berlangsung. Ku balas sebutan beliau padaku dengan senyuman setulus mungkin. Entahlah apa yang membuat beliau sampai mengikutsertakan kalimat tidak sombong padaku.


Aku rasa banyak karyawan yang tidak berlaku baik pada beliau. Bisa jadi seperti itu, tidak sedikit orang yang lebih tinggi jabatannya merasa diatas angin dan lupa segalanya. Contohnya, saat aku mendapat jabatan sekretaris dari Celvin. Mereka semua menatap dan menghujatku dengan ucapan jahat yang mengarah pada body shamming. Dan hal itu membuatku minder untuk beberapa waktu. Beruntung sekarang berangsur membaik.


Aku kembali berjalan untuk menuju ruanganku membawa segelas kopi susu untuk Celvin. Aku terus memikirkan tentang panggilanku pada Celvin. Bagaimana baik dan pantasnya, mengingat kami adalah sepasang bos dan sekretaris saja. Agak riskan jika aku gegabah, aku takut ia tersinggung apalagi sampai memecatku. Jangan sampai! Ini kan bukan mauku melainkan dirinya sendiri.


Sesampainya di ruanganku yang juga milik Celvin, aku membuka pintu sedikit. Sialnya ada Mita disana, sehingga membuatku malas untuk masuk. Aku tidak ingin bertengkar dengan si setan cantik tersebut. Hubungan yang buruk biarlah menjadi milik kami, jangan sampai atasan tau. Aku tidak ingin masuk dalam konseling perusahaan tentang hubungan kerja sama yang tidak baik. Pastinya nanti akan semakin rumit, jika aku benar-benar masuk kesana hanya karena Mita.


Kuselinapkan diriku pada lorong kosong disamping ruanganku. Disinilah aku menunggu sampai Mita selesai berbicara pada Celvin. Aku berdiri dengan nampan berisi segelas kopi yang masih aku bawa.


Mita lama sekali sampai membuatku pegal. Belum lagi kopi susunya akan mendingin secara perlahan. Jika aku masuk sekarang, usahaku menghindarinya pasti sia-sia. Tapi, kalau masih bertahan, bagaimana dengan kopinya?


KREEEET!


“Akhirnya,” ujarku pelan saat mendengar pintu terbuka, dan Mita telah berjalan keluar saat aku mengintipnya.


Aku buru-buru masuk kembali kedalam ruanganku.


“Ini kopinya,” kataku sembari memberikan kopi susu tersebut pada Celvin yang sudah duduk kembali di kursi kerjanya.


“Makasih ya Fann,” ujarnya.

__ADS_1


“Iya sama-sama.”


“Jadi gimana? Duduk dulu.”


“Apanya?”


“Jadi temen aku ya, sahabat aku.”


“Ta-tapi kan ambigu liatnya.”


“Panggil aja senyamannya, gue or loe, so enjoy.”


“Ok... oke Celvin haha.”


“Thanks Fanni.”


“Ya ya ya... hahaha.”


Bulu kudukku meremang. Sulit dipercaya aku harus berbaur dengan Celvin yang notabennya adalah atasanku seperti saat aku bersama Nike ataupun Tomi. Yang benar saja! Kejutan apalagi ini untuk hidupku?


Tidak ada yang bisa ku katakan, kecuali menunggunya berbicara. Sampai saat ini aku masih berharap Celvin mau menceritakan sedikit saja apa yang terjadi padanya di masa lalu. Setidaknya aku harus tau apa yang membuat dirinya bersikeras menjadikan aku sebagai seorang teman untuk menolongnya. Penyesalan atas apa yang ia alami, aku perlu tau.


“Emm... Vin?” ujarku dengan hati yang masih tidak nyaman serta kikuk.


“Ya Fann,” jawabnya.


“Emm... maaf, bukannya aneh ya, kan aku biasanya panggil pake sebutan Pak?”


“Nggak kok, ini yang gue pengenin.”


“Gue?”


“Ya, mungkin ini yang lebih nyaman.”


“Oke, emm... bo-boleh tau alasannya?”


“Soal?”


“Ya apa yang pernah terjadi, dikit aja.”


“Nggak!”


“Oh... oke.”


Baiklah! Mungkin untuk sekarang Celvin tidak mau menceritakannya. Aku akan menunggunya, bukankah aku sudah menjadi apa yang ia mau. Jika ia menganggapku seorang teman, pasti ia akan mengatakannya. Aku hanya perlu bersabar lagi untuk menahan rasa penasaranku.


Toh, tidak ada ruginya. Hal ini juga tidak mengganggu pekerjaan dan juga hubunganku dengan mas Arlan. Meski, kuakui dalam hatiku merasa tidak tega dan juga cemas pada Celvin.


“By the way, pacar loe orang mana?” tanyanya padaku.


“Orang sini,” jawabku.


“Kerja dimana?”


“Aku nggak tau.”


“Jadi aku atau gue?”


“Aku aja deh, biar lebih sopan hehe.”


“Oke Fanni, aku pernah liat kamu di jemput sama mobil hitam.”


“Beberapa kali kok.”


“Dan aku ngerasa familiar sama mobilnya.”


“Iyakah?”


“Tapi kalau nggak salah liat.”


“Menurutmu punya siapa?”


“Nggak tau, lupa.”


“Hmm..”


“Maaf.”


“Kamu udah baik-baik aja kan Vin?”


“Lumayan sih, berkat kamu Fann.”


“Oke, kita siap-siap. Bentar lagi ketemu si Nona Cantik, siapa tau makin adem hatinya.”


“Emm... ya, mudah-mudahan.”


Aku kembali ke meja kerjaku guna mempersiapkan berkas yang dibutuhkan nantinya. Tak lupa, kurapikan mejaku agar lebih rapi sebelum ditinggalkan nanti. Karena kadang kala pertemuan dengan klien diluar berlangsung bersambung dari satu ke yang lainnya. Sampai tidak sempat kembali ke kantor.


Mungkin hanya Celvin saja. Jika jam sudah menunjukkan waktu pulang, Celvin selalu melarangku untuk ikut kembali dengan alasan takut kemalaman untuk wanita.


Setelah semua siap, kami berjalan beriringan keluar dari ruangan dan menuju mobil milik Celvin. Kami naik bersama di bagian belakang mobil mewah tersebut yang kini dikemudikan oleh seorang sopir. Kami merundingkan beberapa hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Sesekali aku meledek Celvin yang akan bertemu dengan Riska.


Aku pun tak lagi cemburu walau rasa kagumku masih ada. Aku telah menemukan tambatan hatiku. Lagipula saat ini Celvin merupakan teman baruku. Tingkah kami seolah kembali pada fase remaja yang labil. Namun terasa lebih menyenangkan.


Walau terkadang aku masih kagok dan memanggil Celvin dengan kata “Pak”. Aku merasa akan membutuhkan waktu sangat lama untuk beradaptasi tentang hubungan pertemananku dengan atasanku tersebut.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen ya...


Ada apa dengan si bos ganteng ya?


Tunggu saja kisah ambigu


selanjutnya hehehehehehe

__ADS_1


Jadi pengen jadi Fanni dah...


__ADS_2