Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Wajib Curiga!


__ADS_3

Cukup lama Celvin terdiam, bahkan hampir satu hari. Tidak! Aku hanya bercanda. Namun memang benar-benar lama. Tampaknya bukan sesuatu yang sepele, entah mengenai apa, aku masih menunggu. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku sembari menunggu Celvin memulai ucapannya.


Satu persatu berkas aku buka, lalu kububuhkan tinta hitam membentuk tanda tanganku. Begini ternyata pekerjaan suamiku. Memang tidak asing bagiku, namun ini pertama kalinya aku duduk sebagai seorang pimpinan. Ada manis dan pahitnya. Sibuk, banyak pekerjaan, keluar masuk untuk mencari investor dan melakukan penawaran. Yah, namanya perusahaan kecil, tentu saja masih harus mencoba merambah lebih naik dan itu tidak mudah. Mas Arlan hebat karena bisa meningkatkan kinerja perusahaan ini, meski belum maksimal.


Tiba-tiba Celvin berdeham. "Apa aku salah kalau meminta Riska pulang ke rumah?" tanyanya.


Mendengar pertanyaan itu, aku segera menghentikan gerak tanganku yang sibuk. Pertanyaan mengenai saran yang sebelumnya juga pernah aku katakan kepada Riska. Lalu, sembari menatap Celvin, aku menjawabnya, "enggak, Vin. Itu adalah hal yang bagus dan aku juga sempet nyaranin itu sama Riska."


"Bener, kan? Tapi dia nolak terus, Fanni." Celvin mengecap bibirnya. Wajahnya beraut kecut dan sebal.


Aku menghela napas dalam lalu mengembuskannya kembali. Kedua telapak tanganku mengepal di atas meja. Lalu kembali menatap Celvin. "Riska belum bisa lupain semua yang terjadi didua tahun yang lalu, Celvin."


"Aku tahu, Fann." Celvin menyamakan posisi duduknya denganku dari seberang sana. "Tapi aku hanya khawatir. Apa itu salah?"


Aku menggeleng. "Enggak! Kamu ada benernya, tapi setiap orang punya respon hati yang berbeda, Celvin. Ada yang perasa ada yang cepet tenang."


"Terus? Aku harus gimana, Fann?"


"Sabar. Kamu bujuk dia pelan-pelan."


Celvin mengusap wajahnya, setelah itu ia mengembuskan napasnya secara kasar. Tampak raut frustasi di wajahnya. Aku tidak tahu, mengapa ia membujuk Riska untuk pulang. Saran yang sama dengan ucapanku kepada Riska beberapa hari yang lalu. Namun jika Celvin yang berbicara, sepertinya ada alasan tersendiri. Entahlah, aku tidak tahu dan tidak ingin menduga-duga terlebih dahulu.


Dua kali, ya, terhitung dua kali Celvin mengusap wajahnya. Sesuatu serius pasti sedang berada didalam benaknya. Kali ini aku tidak berani mengacuhkannya, sehingga mengurungkan niatku untuk kembali melanjutkan pekerjaannku. Beberapa kali Celvin menggigit bibirnya. Sebab kerisauan apa yang melanda hatinya, aku masih belum tahu.


Masalah sebelum hari H pernikahan bukanlah hal yang tabu. Bahkan aku dan Mas Arlan mendapatkannya, ketika itu Nia datang dan meminta agar bisa kembali dengan Mas Arlan. Sesuatu yang bisa dijadikan sebagai ujian kelolosan bagi kedua calon mempelai sebelum menjalani biduk rumah tangga. Aku tidak tahu, hal itu fakta atau mitos. Namun percaya kepada Tuhan adalah pilihan yang paling tepat. Tentunya diiringi dengan usaha untuk menghalau pergi setiap masalah yang datang menerpa.


Semakin lama Celvin membungkam, membuatku semakin kesal. Sampai akhirnya aku mengajukan pertanyaan kepadanya yang berbunyi demikian, "apa yang membuat kamu sangat ingin Riska pulang, Celvin? Aku pikir, kamu lebih suka kalau Riska jauh dari keluarganya."


Celvin terkejut seketika. Urat di wajahnya sempat menegang, namun melemah lagi. "Aku bukan orang kayak gitu, Nona Fanni. Aku hanya ingin Riska berbaikan dengan orang tuanya. Kamu tahu kan, hubunganku dan papa-ku pernah enggak baik. Itu beban banget," jawabnya.


"Maaf, Vin." Aku menghela napas. "Aku hanya ingin tahu maksud saran kamu itu."


"Kamu pernah menikah, kata orang ujian sebelum menikah itu ada, kan? Aku sih mikirnya realistis aja, tapi kali ini benar-benar ada. Banyak banget kesalahpahaman diantara kami, Fann. Riska nggak se-dewasa itu dalam menyelesaikan masalah."


"Emm ... ya, aku tahu. Aku udah pernah nilai sifat Riska setelah kalian ada masalah besar dua tahun yang lalu. Aku pun tahu, kecewanya hati Riska terhadap keluarga besarnya karna aku juga pernah merasakannya."


"Hal yang membuat kamu keluar dari rumah dan memutuskan tinggal sendiri?"


Aku mengangguk pelan. "Iya, Vin. Tapi lupain tentang masalahku dimasa lalu. Aku hanya menjelaskan pahamnya aku pada hati dan perasaan Riska. Tapi, ... aku juga nggak bisa salahin kedua orang tuanya, Vin. Kalian yang berbuat salah dan itu sangat jauh. Orang tua mana yang nggak akan kecewa? Tapi, Riska belum se-dewasa itu dalam menilai respon keluarganya."


"Dengan kata lain, Riska egois?"


"Hmm ... aku nggak tahu. Susah dijelasin tahu nggak? Kalian salah, mereka kasar. Tapi, kalian juga salah. Tapi, mereka juga salah. Ah! Gimana ya? Aku juga bingung belain siapa. Tapi itu masa lalu, kan? Harusnya nggak diungkit lagi dan kalian juga udah dapat restu, kan?"


"Iya, aku hanya ingin Riska pulang sebelum kami menikah. Dia harus memperbaiki hubungan dengan keluarga. Aku juga enggak mau dianggap sebagai orang yang bawa lari anak orang."


Aku termangu-mangu. Bagaimana tidak, hal sepenting itu tidak terpikirkan olehku dan menjadi beban pikiran bagi Celvin. Selama dua tahun, Riska telah tinggal sendiri. Selama itukah, Celvin memendam segalanya? Meski restu sudah ia dapatkan, sepertinya tidak lantas menghilangkan rasa sungkan terhadap Mas Gunawan beserta istri beliau selaku orang tua dari Riska.


Riska.

__ADS_1


Sejauh aku mengenal Riska, wanita itu selalu terburu-buru dan panik jika mendapatkan suatu permasalahan. Apa yang aku kenal dari dirinya sangat berbeda pada saat kami pertama kali bertemu. Mungkin Riska lihai dalam menempatkan diri sesuai situasi atau ia memiliki banyak ilmu dalam bersikap baik dihadapan seorang relasi. Tidak dengan kehidupan pribadinya. Riska, maaf, sepertinya ia jauh tidak dewasa daripada diriku. Setiap orang pasti memiliki respon hati masing-masing, sebab sakit hati yang terkadang membuat seseorang tidak bisa melupakan perihal luka.


Namun kembali lagi kepada Tuhan dan suatu masa depan. Tuhan bisa memberikan ampun bagi hamba-Nya. Lalu mengapa tidak dengan manusia? Manusia adalah makhluk yang egois. Riska hanya membutuhkan orang tuanya untuk keperluan pernikahannya? Tidak! Tidak ada seorang anak yang sekejam itu, begitupun sebaliknya pada sang orang tua. Mereka hanya belum menemukan jalan untuk kembali harmonis seperti dahulu kala.


"Celvin, sebanyak apa kamu cinta sama Riska?" tanyaku kepada Celvin. Ia pun membuyarkan lamunannya dalam sekejap waktu.


"Ya, sangat banyak. Aku benar-benar mencintainya, Fann. Dulu dia anak yang mudah ceria dan ramah. Sabar dalam menghadapiku," jawab Celvin. Ia kembali memutar kursinya yang sempat ke arah lain dan kini kembali menghadapku.


"Kapan?"


"Saat kami berada di Amerika. Saat aku masih menjadi seorang penjahat."


"Aku rasa, itu balasan untuk kamu, Vin. Untuk saat ini Riska hanya ingin dimengerti olehmu."


"Balasan?"


Aku mengangguk pelan. "Ya, mungkin dia berpikir kalau dia udah banyak sabar dalam menunggu perubahan sikap kamu pada saat itu. Sekarang, waktunya kamu yang sabar menghadapi sikap Riska."


Celvin menghela napas dalam. "Aku rasa, emang gitu, Fann. Tapi mengenai saran pulang, bukankah itu hal yang bagus? Tapi dia selalu marah, Fann. Bahkan sempat ngajak putus dan bawa-bawa kasusku dimasa lalu."


Aku mengernyitkan dahiku seketika. Heran adalah rasa pertama yang muncul setelah mendengar ucapan Celvin. Bagiku terdengar aneh, bahkan sangat aneh. Riska tidak mungkin berlaku se-demikian rupa, apalagi mengajak Celvin untuk putus. Entahlah, rasanya ada sesuatu yang aneh disini. Jika Riska benar mengatakan hal itu, aku rasa ada sebabnya. Entah dari Celvin atau Riska sendiri. Tidak! Bukan dari Riska, tidak mungkin seorang wanita yang pernah melakukan adegan itu malah minta ditinggalkan begitu saja.


Aku pikir mereka sudah baik-baik saja selama ini. Namun kenyataannya sangat berbeda. Beginilah jadi emak-emak rumahan, kurang update akan suatu hal. Duniaku hanya Mas Arlan, Selli dan juga Sella. Sedangkan ketika berada di kantor, aku memiliki dunia baru dari orang lain. Entah mau senang atau sedih. Namun aku merasa terkesan karena Celvin masih mencari diriku pada saat kesulitan. Sepertinya ia masih menganggapku sebagai seorang teman. Baiklah, aku harus kembali berbicara dengannya.


"Vin? Apa itu wajar? Maaf, tapi kalian kan sempet ...."


"Sempet? Ah! Ya, aku lelaki pertama yang merusak Riska. Aku menyesal, Fann. Ketika dibahas lagi, aku bener-bener malu. Aku lupa diri pada saat itu," jawab Celvin salah tingkah. Wajahnya memerah, namun bukan malu yang manis, melainkan benar-benar malu karena beban dosa.


Celvin tengah berpikir. "Iya, Fann. Bener!"


"Apa kamu nggak curiga kenapa Riska bisa se-berubah itu?"


"Maksud kamu, ada sebab dibalik sikap dia?"


"Ya, kalau itu bukan dari kamu, berarti ada orang lain dibelakang itu semua. Tapi aku nggak mau ikut campur ya? Anakku dua, suamiku kerja jauh, beban pikiranku masih numpuk banyak. Aku cuma bisa dengerin dan kasih saran atas cerita kamu."


"Iya, jangan khawatir, Fann. Aku tahu batasanku. Emm ... aku perlu memastikan semuanya." Celvin menilik waktu pada jam tangan yang ia pakai. "Waktu kunjungku ke perusahaan ini udah habis. Makasih ya atas sarannya. Aku berharap kamu enggak bosan dengan ceritaku."


Aku tersenyum sembari menggelengkan kepalaku. Setelah itu, Celvin berdiri dari duduknya dan berbalik badan lalu melangkah pergi. Disini aku melihat punggungnya yang semakin jauh sampai tidak terlihat karena telah keluar dari ruang kerjaku. Tertegun diam aku masih memikirkan tentang hubungan mereka berdua. Sebenarnya apa yang terjadi kepada Riska, sampai semudah itu mengajak Celvin putus? Bahkan hanya karena disarankan untuk pulang. Lalu, mengapa kepadaku Riska tidak marah? Ia malah menerima dan hendak memikirkan setiap saran dariku.


Ada yang tidak beres, namun aku tidak berhak ikut campur ke dalam urusan mereka. Aku akan dengarkan jika salah satunya datang dan bercerita. Ah, semakin lama, profesiku semakin bertambah. Sudah seperti seorang psikolog saja. Baiklah, lupakan, aku harus kembali bekerja.


Namun niatku kembali digagalkan oleh dering ponsel yang berbunyi. Aku menghela napas sebagai rasa sebal. Ingin aku abaikan namun takut jika suatu hal yang penting. Sehingga, aku memutuskan untuk mencari ponselku. Setelah aku dapatkan, sebuah panggilan video dari whatsApp aku dapatkan. Senyumanku merekah seketika, rasa sebalku pun hilang entah kemana.


Aku mengangkatnya, tampak wajah manis dari pria tersayangku. "Assalamu'alaikum, Bu Direktur," sapanya sembari menyunggingkan senyuman.


"Wa'alaikumssalam, Mas. Aku lagi kerja lho, kok diganggu?" Aku meletakkan ponselku sebaik mungkin agar wajahku tetap terlihat meski harus bekerja.


"Mas kangen, tadi malem kamu udah tidur, kan?"

__ADS_1


"Iya, Mas. Habis kasih minum buat Sella, aku langsung ketiduran."


"Kasihan. Maafin Mas ya, Sayang."


"Ya, Mas. Dimana?"


"Di minimarket, lagi duduk habis nyari alamat."


"Oh."


Karena masih harus bekerja, pada akhirnya fokusku tidak bisa sempurna untuk Mas Arlan. Hal itu membuatku menjawab sekenanya saja. Sedangkan ia hanya terdiam. Entah apa yang tengah ia lakukan. Sepertinya tengah memandangiku dari kejauhan sana. Sesekali hanya aku balas tatapan sekilas. Coba saja Celvin tidak datang, pasti ada kesempatan untuk berbincang dengan Mas Arlan.


"Kamu udah makan belum? Disana udah siang, kan?" tanyaku tanpa menatap layar ponselku yang tergambar wajah suamiku. Gerak tanganku masih berusaha menyelesaikan berkas yang menumpuk banyak. Aku tidak ingin lembur atau membawanya pulang karena urusan di rumah pun sangat banyak.


"Udah, Sayang. Barusan kok," jawab Mas Arlan yang entah menggunakan raut wajah seperti apa.


"Makan apa? Mie instan lagi?"


"En-enggak kok, Dek."


Mataku terarah ke atas, lebih tepatnya aku sedang menyadari suatu kebohongan. Ya, Mas Arlan berbohong. Ia pasti menggunakan mie instan cup sebagai makan siangnya. Aku menghela napas dalam, padahal ATM dan ada dua kartu kredit. Namun ia begitu irit. Ah, aku tidak bisa membayangkan jika ia sakit dan pulang dalam keadaan kurus kering.


Aku menghentikan pekerjaanku lagi. Setelah itu, aku meraih ponselku. Kuletakkan ponselku pas dengan posisi wajahku. Biarlah, jika terlihat lebar dari ponsel Mas Arlan.


"Makan yang bener dong, Sayang. Kemarin udah mie lho!" Kumulai omelan pertama untuk Mas Arlan. Tentunya dengan memasang raut wajah yang sangat kesal.


"Siapa yang makan mie, Dek? Mas makan nasi kok," kilahnya dengan sungguh-sungguh. Namun terlihat tidak alami alias dipaksakan.


"Bohong! Aku hidup sama kamu udah lama lho. Aku tahu kalau kamu lagi bohong!"


Mas Arlan terdiam.


"Makan yang bener dong, Mas. Kamu tuh jauh dari aku, kalau sakit siapa yang ngurus? Kamu mau cari bule Canberra, gitu? Emang bule Belanda nggak cukup?" Saking kesalnya, aku sampai membawa topik pembicaraan yang jelas-jelas melenceng.


Dari sana, Mas Arlan malah tertawa. Bahkan tidak ada rasa bersalah sama sekali. "Apa hubungannya sakit sama bule Canberra sih, Sayang?" tanyanya kemudian.


"Ya, ada! Kalau yang Belanda nggak bisa ngurus kamu disitu, siapa tahu kamu nyari bule dari situ!"


"Apa sih? Istriku mikirnya kejauhan, jauh banget! Tapi gemes. Pengen ketemu, kecup terus diuyel-uyel. Apalagi Sella udah lahir, jadi bebas! Tapi sayang, Mas belum bisa pulang. Maaf ya, Dek. Nanti makan yang lebih sehat kok. Janji deh, kamu jangan khawatir ya."


Aku terdiam. Rasa kesalku menghilang. Justru rasa iba yang kini datang. Bagaimana aku tidak khawatir kepadanya? Tidak ada seorang pun teman di negara itu, sebelum Ibu Leny dan William ditemukan. Bahkan tidak ada bayaran ataupun fasilitas untuk Mas Arlan karena bukan suatu pekerjaan yang formal.


Kamu itu bukan baik doang, Mas. Tapi juga bodoh.


"Cepat pulang, Mas. Jangan bikin aku dan anak-anak menunggu terlalu lama. Aku sayang sama kamu, kangen banget sama kamu."


"Siap, Dek. Mas akan berusaha! Tunggu Mas ya, Sayang. Kamu jangan terlalu khawatir. Mas akan cepat pulang kok."


"Iya, Mas."

__ADS_1


Bersambung ....


Budayakan like+komen.


__ADS_2