
****
“Mas, kamu tahu enggak?” tanya Fanni kepada Arlan perihal sesuatu yang bahkan belum ia ucapkan.
Secara otomatis, tentu saja suaminya menggelengkan kepala. “Enggak, Dek. Ada masalah?” tanyanya kembali kepada Fanni. Ia merasa khawatir lantaran sejak tadi sang istri tampak tengah memkirkan sesuatu, bahkan mengabaikannya sebelum kebersamaan mereka malam ini.
“Aku ikut sedih dan juga prihatin, Mas.”
“Sama siapa? Ada yang kena kecelakaan emangnya?”
Fanni menggelengkan kepala tanpa menatap wajah suaminya. “Ini jauh lebih memprihatinkan daripada kecelakaan, Mas.”
Dahi Arlan mendadak mengernyit, ia merasa heran. Masalah apa yang lebih jauh mengkhawatirkan daripada kecelakaan? Bahkan sampai membuat sang istri kepikiran. “Apa, Dek?!”
“I love you …,” bisik Fanni tepat di telinga suaminya.
“Hmm … kamu mau Mas kerjain lagi, ya?”
“J-jangan!”
“Makanya apaan?”
“Kepo banget sih?”
“Ya udah.” Setelah mengatakan kata pasrah itu, Arlan membalikkan badannya menjadi membelakangi sang istri. Ia merasa sebal terhadap Fanni saat ini, sudah membuat sangat penasaran bahkan membuatnya merasa khawatir, kini justru mempermainkan perasaannya. Entah apa yang Fanni sembunyikan darinya.
Diam-diam, Fanni tersenyum-senyum di belakang Arlan. Ingin merayu suaminya lagi, tetapi ia masih enggan. Sepertinya akan asyik jika dibiarkan dalam waktu yang sedikit lama. Ia tidak menyangka jika Arlan akan merasa kesal seperti itu, tetapi paras imut justru hadir dari wajah Arlan ketika mengerucutkan bibir tipis yang sering mengecup pipi Fanni.
Setelah dirasa cukup, akhirnya Fanni mulai memberanikan diri untuk membelai lengan sang suami. Ia bahkan membisikkan kata cinta tepat di telinga Arlan. Siapa yang tidak akan merasa geli dengan perlakuan demikian? Tentu saja, Arlan langsung menghadap Fanni lagi, ia menangkap wajah sang istri dan ia balas semua rasa kesalnya dengan tindakan romantis, tetapi dalam gerakan yang asal.
“Lepas, Mas!” pekik Fanni karena sudah hampir kehabisan napas. “Jangan gitu juga kali, Mas! Engap tahu, udah tahu badan istrinya gede, masih aja!”
“Itu pembalasan dari Mamas, Dek.”
“Aku enggak suka.”
“Habisnya kamu ngeselin kok.”
“Emang aku bikin kesel kamu di bagian mana sih, Mas?”
“Udah ditanya serius jawabnya malah gitu.”
“Kan aku cinta sama kamu, emang nggak boleh ngomong i love you sama kamu?”
“Ya, boleh aja. Tapi, kan, jawab dulu pertanyaan dari Mas. Kamu tuh habis pulang kerja kayak kepikiran sesuatu dan bikin Mas khawatir sama kamu. Ada apaan?”
Fanni terdiam lagi, ia tidak menyangka bahwa suaminya begitu mengkhawatirkan dirinya, bahkan untuk suatu masalah yang berkenaan dengan dirinya. Lantas, apa akan menjadi hal bagus jika ia menceritakan perihal kehidupan Jelita kepada Arlan? Bisa jadi Arlan menerima dan justru tidak, bahkan bisa jadi ia mendapatkan ceramah panjang kali lebar dari sang suami. Terlebih gadis SMA itu sempat membuat Arlan merasa kesal, lantaran tidak menyeberang jalan dengan benar.
Dalam beberapa saat, Fanni masih terdiam. Hatinya penuh segala macam kebimbangan. Sebenarnya, ia pun sangat ingin mengetahui pendapat Arlan mengenai kasus pembullyan yang dialami Jelita. Siapa tahu dari pengetahuan sang suami, ia mendapatkan cara untuk turut membantu kasus Jelita. Hanya saja, kembali pada pendapat Arlan, ia bersedia menerima atau tidak.
“Dek?”
“Hmm ….”
“Kenapa tadi? Kok malah diem lagi?”
”Kamu janji jangan marah ya, Mas?”
“Apaan dulu? Baru Mas putusin.”
“Emm … ini soal Jelita, Mas.”
__ADS_1
“Anak SMA yang hampir Mas tabrak itu?”
Fanni menganggukkan kepalanya, tetapi mengandung keraguan di wajahnya. Ia bahkan tidak berani menatap wajah sang suami, karena takut jika dimarahi. Sedangkan Arlan kini menjadi tahu perihal kondisi sang istri baru-baru ini yang nampaknya ada pikiran yang mengganjal. Pasti soal bully lagi, batinnya. Ia pun tidak merasa heran, mantan korban bully justru akan sangat bersimpati dengan korban baru. Ketika mantan korban itu telah sembuh, pasti ada keinginan di dalam hatinya untuk membantu, siapa tahu bisa bangkit seperti dirinya.
Arlan hanya bisa menghela napas sekarang, tetapi bukan sebuah kelegaan. Sejatinya ia tidak akan setuju, jika Fanni ikut campur ke dalam masalah orang lain. Namun, jika istrinya berlaku demikian, rasanya tekad dalam
hati Fanni sudah sangat besar. Untuk membujuk pun pasti tidak akan mudah, terlebih lagi istri bule dari pria bernama Arlan itu, baru saja membuka usaha salon yang memiliki misi khusus di dalamnya.
“Terus kamu gimana, Dek?” tanya Arlan sembari membelai halus kepala sang istri dengan penuh kasih sayang yang hakiki.
Fanni mengernyitkan dahinya seketika. Ada rasa heran di dalam hatinya. Mengapa Arlan tidak memarahinya? Lalu, justru bertanya seperti itu? Tidak, rasanya hal itu akan menjadi hal yang bagus. “Aku belum tahu, Mas,” jawabnya kemudian.
“Kamu juga enggak mungkin, kan, tiba-tiba masuk ke dalam sekolah dia? Dan tiba-tiba nanya siapa yang bully si ini. Enggak akan ada yang ngaku, Dek.”
“Aku tahu, Mas. Tapi aku juga kasihan, apa lagi dia ada masalah juga di dalam keluarganya.”
“Masalah di dalam keluarga? Apa lagi?”
“Dia itu dibikin gendut sama ibu tirinya, Mas. Dia juga tertekan di sana, berasa enggak dihargai.”
Arlan spontan tertawa. “Mana ada ibu begitu, Dek. Dan lagi, kalau bocahnya enggak suka makan ya pasti enggak bakalan makan banyak sekali pun dikasih sama si ibu.”
“Dengerin dulu, Mas!”
“Iya, iya, macam sinetron aja.”
“Kalau iya, enggak usah protes lagi!’
“Iya, Sayaaang.”
Fanni mendengkus kesal, rasa takutnya kini mendadak menjadi sebal lantaran sikap Arlan yang menunjukkan ketidakpercayaan. Pun masalah hidup Jelita memang benar seperti sebuah drama televisi, tetapi itu benar adanya. Namun untuk orang secerdas Arlan, hal itu kedengarannya seperti omong kosong belaka. Jika dalam kasus bully, sepertinya masih bisa dipercaya karena sang istri yang cantik dan bule pun mengalaminya, di sisi lain juga ada bukti luka yang dialami oleh Jelita.
Arlan menatap Fanni yang masih saja menampilkan wajah murung. Jika istrinya sampai seperti itu, rasanya hal itu memang bukan suatu kebohongan, meski hatinya sulit mempercayai. Namun demi menghargai sang istri, ia membuang egonya terlebih dahulu dan siap untuk mendengarkan lagi. Ia merangkul pundak Fanni dari belakang, merayu istrinya itu dengan senyuman. Posisi mereka yang berada di atas ranjang, membuat suasana tegang cepat mencair dalam waktu hanya beberapa menit saja.
Fanni menatap wajah sang suami yang dirasa sangat manis sekali. “Emang kamu bakal percaya, gitu?” tanyanya kembali.
Arlan mengangguk pelan. “Akan diusahakan, Dek. Jadi?”
“Ya gitu, Mas.”
“Gimana, Dek?”
“Entar dulu, jangan asal serobot aja!”
“Iya, iya, maaf, Sayang.”
“Karna kepolosan dari Jelita, dia enggak tahu kalau selama ini pil yang dikasih ke dia itu adalah pil penggemuk badan, kata mamanya hanya semacam vitamin aja.”
“Lho?” Dahi Arlan mendadak mengkerut. “Emangnya pil kayak gitu bisa dikasih sembarangan? Kalau kelebihan dosisnya, kan, berabe.”
“Aku enggak tahu kalau soal itu, Mas. Tapi kayaknya mama tirinya Lita kasih obat kayak gitu juga minta saran dokter dan sesuai umur si Lita. Kalau enggak begitu, mana mungkin Lita enggak kenapa-napa selain gendut.”
“Hmm … bisa jadi sih, masuk akal juga. Tapi niat banget deh tu emak-emak.”
“Ya kalau udah ada rencana dan target, pasti enggak segan lagi dalam berbuat sesuatu, Mas. Aku agak gimana gitu denger cerita dia, selain iba, aku juga merasa khawatir sama diri aku sendiri, Mas.”
“Kenapa emangnya, Dek?”
“Aku juga seorang ibu tiri alias sambung, Mas. Dan itu dari Selli—anak kamu, Mas. Aku minta sama kamu ya, Mas, misal aku ada salah dan tindakan enggak bener, jangan sungkan marahin aku nyampe aku sadar, Mas. Aku takut kalau berbuat sesuatu yang kebablasan.”
Arlan tersenyum mendengar penuturan serta permintaan dari Fanni. Ia memeluk tubuh Fanni dan memberikan kecupan manis di kening istrinya itu. Rasanya tidak akan mungkin jika seorang Fanni yang memiliki kelembutan hati melebihi sutera bisa berbuat demikian, tetapi jika itu terjadi, tentu saja Arlan tidak akan tinggal diam. Ya, semoga saja tidak akan. Fanni dan Selli bahkan tidak terlihat seperti anak dan ibu sambung bukan kandung, hanya saja tipe paras mereka memang berbeda.
__ADS_1
“Mas akan selalu jaga sikap-sikap kamu, Sayang. Juga kamu sama Mas, ya? Tapi , Mas berharap tidak ada yang berubah di antara kita berdua. Entah tentang cinta atau kasih sayang sama Selli dan Sella.”
“Tapi kalau berubah ke lebih baik, juga enggak apa-apa kali, Mas.”
“Iya, itu maksud Mas, Dek. Cintanya makin besar, hidup dan agamanya juga makin bagus, juga rezeki.”
“Amin, Mas.”
“Tapi, … manusia hidup, tentu punya masalah, Dek. Dan hal itu merupakan cara Allah sayang sama kita, menguji kesabaran kita, dalam hal itu semoga kita juga selalu ingat sama yang di atas. Saat kita menghadapi masalah, justru Allah yang harus pertama kali kita cari. Jangan menempatkan Allah di akhir, pas kita udah bener-bener putus asa, Dek.”
Fanni tersenyum ketika mendengar nasehat dari sang suami. Semakin bertambah saja ilmu seorang Arlan, bukan hanya dalam bisnis juga agama, pun meski belum sempurna. Entah berapa kali ia akan mengucapkan syukur ketika disatukan dengan orang seperti Arlan, banyak sekali hal positif yang ia dapatkan, juga kebahagiaan. Entah berapa ribu tulisan, jika ia menuangkan perasaan bangganya terhadap Arlan. Ia hanya bisa mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas semua perasaannya itu.
Perihal cerita Jelita mendadak dilupakan karena semua perbincangan itu. Arlan sendiri, sebenarnya masih memikirkannya. Cara apa yang harus digunakan Fanni untuk membantu kasus pembullyan itu? Tidak mungkin ia
biarkan Fanni dengan Mita turun tangan sendiri. Dalam konteks yang mengarah pada kekerasan, rasanya dapat dimaklumi untuk ikut campur. Jika tidak mereka, lantas siapa? Bahkan jika benar cerita seputar keluaga Jelita yang semena-mena. Sebagai manusia biasa, Arlan juga masih memiliki rasa iba, terlebih mencairkan hati Fani yang dibekukan trauma itu sulit sekali, ia tidak akan tega jika ada lagi orang yang mengalaminya. Mungkin banyak sekali selain Jelita, tetapi sosok Jelita tiba-tiba saja dihadirkan di dalam kehidupan mereka.
****
Sementara itu, meski malam semakin larut dan gelap, Mita masih terdiam di meja kerja suaminya. Beberapa nama tentang pelaku yang melakukan penindasan terhadap Jelita telah ia dapatkan. Sore itu, masih banyak beberapa siswa yang baru menyelesaikan jam tambahan dan juga extrakurikuler. Ia menemukan seorang gadis SMA berkacamata yang menurutnya pas untuk dijadikan sebagai narasumber.
“Jadi, loe anak satu kelas dengan si Jeli?” tanya Mita pada saat itu, ketika ia berhasil membawa anak yang bernama Reisa ke sebuah kafe terdekat.
Reisa mengangguk ragu, paras Mita yang terlihat sangat judes, sebenarnya membuatnya merasa takut. Namun, ia tidak bisa melarikan diri karena rasa takut itu juga. “I-iya, Kak. S-sebenarnya ada apa, ya?” tanyanya kembali.
“Enggak usah takut, gue istri seorang polisi bukan penculik. Lagi pula, nyulik anak kayak kamu juga buat apa?”
“Emm … m-maaf, saya enggak ada pemikiran seperti itu kok.”
Mita terkekeh. “Lucu ya loe. Gue dateng, cuma mau tanya soal si Jelita dan kayaknya udah rejeki gue bisa ketemu sama loe yang satu kelas.”
“Benar! Terlebih, saya adalah teman dekat dia dan … hanya saya.”
“Bisa ditebak, dia gendut dan loe cupu. Tapi gue dateng bukan mau komen soal penampilan kalian. Tapi, ….” Mita menatap Reisa dalam-dalam. Lalu ia mendekatkan wajah cantiknya di hadapan Reisa. “Gue mau tahu siapa yang bully dia …,” bisiknya.
Reisa menelan salivanya seketika. Tentang hal itu, tentu saja ia merasa takut karena ancaman dari si pelaku, untuk tidak menyebarkan nama mereka. “Tapi, untuk apa? Lalu, Kakak ini sebenarnya siapanya si Lita?”
Hmm … cewek ini, hati-hati juga rupanya, batin Mita.
Setelah itu, ia menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan kedatangan Jelita ke salon miliknya, juga insiden kecelakaan yang hampir dialami oleh gadis bertubuh gemuk itu. Reisa yang notabene-nya seorang gadis lugu dan juga cupu, ia cukup mudah untuk mempercayai ucapan Mita tanpa rasa curiga. Sikapnya memang lebih hati-hati, tetapi setelah itu polosnya kembali.
Kini, Mita terdiam dengan kertas berisi nama itu yang ia pegang sejak tadi. Tiga orang siswa, satu laki-laki dan dua perempuan. Kata Reisa masih ada lagi, tetapi ia tidak dapat memberitahukannya lantaran memang tidak tahu. Lantas, langkah awal apa yang perlu Mita lakukan? Ia tidak bisa asal melaporkan jika tanpa bukti sama sekali.
“Sayang, kok kamu belum tidur? Lagi apa?” tanya suaminya yang baru saja pulang dari kerja dinas malam.
Mita spontan tersentak. Ia langsung berbalik badan, ia menatap Richard—suaminya. Benar juga, suami gue, kan, seorang polisi. Hmm … bisa kali gue minta bantuan dia, batinnya. Setelah itu, ia menghampiri Richard yang sudah merebahkan diri di atas ranjang milik keduanya. Ia membelai halus wajah suaminya, si setan cantik itu selalu luluh dan mendadak menjadi wanita lembut ketika di hadapan seorang perwira yang bernama Richard itu. Namun bukan berarti Richard tidak mengatahui sifat asli dari sang istri, ia tahu, tetapi merasa bersyukur karena ia berhasil meluluhkan kerasnya hati Mita.
“Ayo makan dulu, aku udah masakin nasi goreng buat kamu, Sayang,” ajak Mita.
“Dulu aku enggak pernah makan di rumah setelah pulang malam, mungkin hanya gorengan sama temen-temen. Enggak nyangka istriku jago masak dan agak gemukan aku sekarang,” jawab Richard.
“Aku selalu jaga badan aku, kalau suamiku makan gorengan sembarangan justru enggak bagus buat kesehatan. Kalau aku selalu jaga badan aku, aku juga harus jaga badan kamu, Sayang.”
“Makasih, Mita.”
“Sama-sama, Richard.”
Ketika Richard ingin menarik wajah Mita, istrinya yang sangat cantik itu segera menepis tangannya. “Makan dulu, terus aku siapin air anget dan mandi dulu,” ujar Mita kepadanya.
“Hmm … aku udah keburu kangen sama kamu, Mit.”
Mita hanya tersenyum saja. Kemudian, ia menarik tangan Richard agar terbangun dari rebahannya. Mungkin tidak pantas ia membicarakan maksud hatinya perihal Jelita pada malam ini, karena Richard tampak lelah, juga sangat merindukan dirinya. Sudah tiga hari pulang larus malam karena bagian shift dua dalam tugas, membuat Richard kesulitan menemui sang istri dalam keadaan terjaga. Hal itu juga yang membuat Mita tidak ingin merusak momen indah malam ini.
__ADS_1
****