Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Perihal Ibu Leny dan Kondisi Mbak Dahlia


__ADS_3

Segala macam hidangan lezat khas Indonesia, telah tersaji di hadapanku. Sedangkan bedug mahgrib belum kunjung datang. Sesekali aku menelan saliva karena aromanya yang menggiurkan. Namun aku tetap menjaga sikapku sebaik mungkin. Terlebih di hadapan keluarga suamiku. Jangan sampai aku mendapatkan julukan si "Gendut Yang Rakus".


Ya, seperti janji Mas Arlan tadi siang, kami benar-benar datang ke rumah yang besar ini. Beberapa orang telah berkumpul, di antaranya; Mas Gunawan, Nyonya Gunawan, Riska, si kembar, bahkan Roby se-keluarga. Tampaknya momen berbuka bersama ini sudah lama direncanakan. Tidak mungkin tidak, jika Roby dan istrinya pun datang. Namun tidak dengan Mbak Dahlia, beliau tidak ada. Aku belum tahu kondisi beliau lagi. Selepas Mas Arlan pergi ke Canberra, kesibukanku juga begitu banyak. Sehingga melewatkan kondisi beliau, bahkan keadaan rumah besar ini.


"Terima kasih, karena kalian sudah menyempatkan waktu untuk datang ke rumah ini," ujar Mas Gunawan untuk membuka pembicaraan sebelum berbuka puasa. Beliau memakai baju koko dan sarung, jarang sekali aku melihat beliau seperti ini. Di tahun kemarin pun, tidak pernah.


"Terima kasih kembali, Mas," jawab Mas Arlan mewakili kami semua.


"Sekali-kali bolehlah kita berkumpul bersama, supaya bisa dikatakan sebagai keluarga."


Roby berdeham. "Boleh aja, Mas. Kami senggang," timpalnya.


"Yah, meski ada sesuatu yang akan saya bicarakan. Tapi, ... nanti saja setelah bersantap dan ibadah." Selanjutnya Mas Gunawan tersenyum dan kembali diam. Begitu pun kami semua.


Sangat berbeda sekali suasana di sini, mesii berkumpul banyak orang, tidak lantas membuat keadaan menjadi ramai. Berbeda jauh dengan rumah Mas Arlan, terlebih ketika ada ibuku. Bukan ramai lagi, bahkan sangat. Ditambah kedua putriku yang kerap rewel. Ah, akhirnya aku malah membanding-bandingkan. Namun kenyataannya memang demikian, rumah besar tidak lantas membuat suasananya menjadi menyenangkan.


Lalu, yang membuatku terkesima saat ini adalah penampilan mereka yang berbalut pakaian muslim. Mungkin akan sekalian salat berjamaah. Dan aku malah memakai dress berlengan panjang, namun panjang bawahnya hanya sampai di bawah lutut saja dan berwarna cream. Aku malu! Sesekali kau menelan saliva karena itu. Aku pikir keadaannya tidak seperti ini, sungguh! Beruntung penampilan istri dari Roby, tidak jauh berbeda denganku, mungkin bedanya di bentuk badan. Oke! Bentuk badan lagi, jika membicarakan soal itu, rasanya tidak ada habisnya.


Dasar aku gendut!


Tak lama kemudian, azan maghrib telah berkumandang. Mas Gunawan mempersilahkan kami untuk menyantap takjil yang sudah dihidangkan. Beruntung, aku sedang berpuasa, sehingga nikmatnya tiada terkira ketika mendapatkan rezeki seperti ini.


"Mama aku mau itu," ujar Selli. Ia menunjuk makanan berupa sate ayam.


"Sstt ... itu nanti, Sayang. Yang manis dulu ...," bisikku kepadanya.


Ia merengut. "Tapi Selli mau itu, Ma."


"Nggak apa-apa, Fanni. Ambilin aja," titah Nyonya Gunawan yang tidak lain adalah Mbak Kelly. Absurd sekali aku memanggilnya.


"I-iya, Mbak. Mohon maaf," timpalku.


Mbak Kelly tersenyum. "Nggak apa-apa. Namanya anak kecil, jangan terlalu dibatasi."


"Iya, Mbak."


Namu ketika aku akan bergerak mengambilkan makanan permintaan Selli, Mas Arlan lebih dulu mengambilkannya. Lalu ia memberikannya kepada Selli. Tentu si kecil girang sekali. Aku tersenyum, Mas Arlan mencoba menghilangkan perasaan sungkan di hatiku.


Hingga beberapa menit kemudian, Mas Gunawan memutuskan untuk mengajak kami ibadah maghrib terlebih dahulu. Satu hal lagi yang membuatku terkesima. Bukan hanya perubahan sikap dari beliau, juga beberapa anggota keluarga lainnya, kini juga tentang ibadah. Justru aku merasa malu sendiri, karena belum bisa menyeimbangkan diri di dalam keluarga ini. Aku malah kerap membanding-bandingkannya dengan keluargaku--keluarga Bapak Hendrick Geraldine.


"Kalau Sella rewel, kamu tinggal dulu di sini. Nanti Mas gantiin, Sayang," ujar Mas Arlan di sela langkah kami menuju mushola yang besar.


Aku menggeleng. "Sella lagi tidur nih, Mas. Bisa kayaknya aku gabung. Semoga aja enggak kebangun."


"Mas khawatir kebangun, Sayang."


"Enggak kok, Mas. Percaya aku. Meski kebangun, moga aja enggak nangis."


"Hmm ... ya udah, aku percaya si ibu."

__ADS_1


Aku juga percaya kepada anakku. Menurutku ia bisa mengerti situasi, meski masih bayi. Karena ia tipe bayi yang diam. Ia hanya menangis ketika sedang haus, lapar ataupun buang air. Bahkan ketika sakit, ia tidak terlalu rewel. Sungguh anak ajaib, bukan?


"Kak, aku yang bawa Sella dulu." Riska menawarkan diri untuk menjaga dan mengambil alih tubuh Sella agar aku bisa bersuci.


Aku tersenyum. "Tolong ya, Ris," ujarku sembari memberikan Sella kepadanya.


Selanjutnya aku mengambil air wudu setelah beberapa wanita telah selesai. Sesuai anjuran aku menerapkannya pada setiap jengkal bagian yang diwajibkan. Sampai selesai. Kemudian, aku bergabung dengan mereka semua, khususnya di shaf wanita dan panggil pinggir sekaligus untuk menjaga Sella yang berada di kasur kecil miliknya.


Ibadah maghrib ini dipimpin oleh seorang imam yaitu Mas Arlan--suamiku sendiri. Entah bagaimana ia bisa dipilih oleh para anggota keluarganya, padahal ada Mas Gunawan yang paling tua. Aku merasa bangga karenanya. Lalu, ibadah ini dimulai. Kami mencoba se-khusyuk mungkin.


****


Acara bersantap dimulai. Setiap orang memiliki piring yang diisi dengan nasi dan lauk pauk sesuai selera. Aku masih berusaha bersikap se-elegan mungkin, meski ketika di rumah aku bisa makan dengan kaki disilangkan ke depan sembari memberikan minum kepada Sella. Namun kini Sella diambil alih oleh seorang asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Harsono yang kebetulan sedang tidak berpuasa. Sehingga aku bisa menikmati acara ini.


"Ma, aku minta disuapin," ujar Selli tiba-tiba. Aku sedikit heran kepadanya, akhir-akhir ini ia bersikap lebih manja daripada biasanya. Namun meski begitu, aku tetap mengabulkan permintaannya. Mengingat akhir-akhir ini aku tidak ada di sampingnya karena sibuk.


"Iya, Sayang. Hati-hati makannya, jangan buru-buru," ujarku sembari menyuapkan sendok berisi makanan kepadanya.


Selli begitu senang. Sehingga aku pun senang, meski aku harus menunda santapanku. Tak apa, bila di rumah aku bisa beli sendiri. Karena tidak mungkin, aku membawa sisa dari rumah ini.


Sembari menyuapi Selli, pandanganku tidak sengaja menatap sebuah ruang yang begitu terang. Tampaknya lampu di sana sengaja dinyalakan karena ada tamu. Tidak jauh dari sini, mungkin lima meter ke depan. Ada pigura besar yang berisis foto keluara besar Harsono, tidak terkecuali dengan Mas Arlan. Beberapa kali aku datang ke rumah ini, rasanya tidak pernah aku melihat sebelumnya. Aku hanya mendatangi tempat-tempat sesuai yang dipersilahkan Mas Gunawan atau penghuni lainnya saja. Aku menjadi penasaran, namun sangat enggan ketika ingin bertanya.


"Ma, ini hidung Ma, bukan gigi," celetuk Selli tiba-tiba.


"Ah, maaf, Sayang." Aku segera memperbaiki tingkahku ini. Tanpa aku sadari, baru saja aku hampir salah menyuapkan makanan ke hidung Selli. Semua karena pandangan mataku yang masih tertuju ke ruangan itu.


"Kak?" Mas Gunawan terkejut. "Sampai sekarang masih manggil kak? Itu tante kamu, Riska."


"Ih, biarin sih, Pa. Orang nggak jauh beda kok umurnya."


"Tapi kan istrinya om kesayangan kamu, Riska."


"Udah, enggak apa-apa, Mas. Si Fanni juga maunya begitu, biar awet muda katanya." Mas Arlan turut membahas itu, bahkan sampai membuatku terpaksa mencubit lengannya karena aku merasa malu.


Mas Arlan hanya mengaduh namun tertawa. Sedangkan Riska dan Mas Gunawan menyudahi perdebatan yang membahas perihal panggilan Riska terhadap diriku. Lalu kami semua melanjutkan acara berbuka ini dengan beberapa perbincangan. Hangat dan ada tawa. Jika di dalam drama, mungkin akan mendekati happy ending-nya.


****


"Dahlia, masih di rawat." Mas Gunawan memulai pembahasan ini. Tepatnya setelah acara buka bersama dan tarawih selesai dilaksanakan. Beliau menghela napas begitu berat beberapa kali. Semua para orang dewasa berada di ruang keluarga ini, bahkan si kembar ada. Kedua putriku telah tertidur di dalam kamar Riska.


"Lalu, kalau Ajeng dan Diandra ada di sini. Mbak Dahlia sama siapa, Mas?" tanya Roby.


"Sama adik kandungnya, Rob. Baru dua hari ini masuk rumah sakit lagi. Saya yang maksa Ajeng dan Diandra pulang, kasihan harus di sana terus," jelas Mas Gunawan sembari memeluk kedua keponakan beliau yang berada di sisi kanan dan kiri.


"Aku turut prihatin, Mas. Aku minta maaf belum sempat datang menjenguk. Mas pasti tahu, aku sedang di Canberra, sedangkan istriku ada di kantor dan mengurus kedua anakku." Mas Arlan mencoba menjelaskan perihal ketidakhadiran kami di rumah ini.


"Lalu, gimana kabar Leny dan anaknya? Sesuai permintaan Dahlia, Arlan?"


Mas Arlan menggeleng. "Nggak ada hasil, Mas. Aku minta maaf, Ibu Leny terlalu berat untuk kembali ke tanah air. Terlepas tentang masalah beliau dengan Mbak Dahlia, tapi juga Mas Dian yang sempat nggak mengakui dan malah menuduh William--putra beliau."

__ADS_1


Semua orang hanya terdiam. Aku pun baru mengetahui hal ini. Ketika di rumah, aku belum sempat menanyakannya. Semua yang diusahakan Mas Arlan ternyata tidak membuahkan hasil. Namun mau bagaimana lagi, kami juga tidak bisa menyalahkan perasaan Ibu Leny yang seperti itu. Jika aku di posisi beliau, pasti akan melakukan hal yang sama yaitu menolak kembali. Entahlah.


Di satu sisi, Mbak Dahlia kembali kritis. Harus ada upaya penangan medis yang lebih baik lagi demi kesembuhan beliau. Mas Dian akan keluar penjara masih beberapa bulan lagi. Semua terasa lebih rumit.


Mas Gunawan menghela napas dalam. Sedangkan Ajeng dan Diandra benar-benar diam, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir keduanya. Sungguh miris, nasib yang menimpa kedua anak itu, semua karena ulah kedua orang tuanya sendiri. Lalu, Mas Gunawan kembali berkata, "saya pun bingung. Harus gimana lagi, kesehatan Dahlia kian memburuk. Dian masih dalam keadaan dihukum. Ditambah Leny enggak mau kembali, meski sekedar menjelaskan."


"Kami prihatin, Mas," jawab Roby.


Sedangkan para wanita benar-benar diam, kami tidak tahu harus berkata apa. Tanpa terkecuali Riska.


"Aku masih berusaha membujuk Ibu Leny, Mas. Meski hanya telepon ataupun pesan. Tapi ... aku enggak tahu bisa mempengaruhi beliau atau enggak," timpal Mas Arlan. Ia terlihat seperti menyesal karena tidak berhasil. Sehingga aku meraih telapak tangannya dan menggenggamnya. Ia menatapku, kali ini dengan getir bukan senyum manis seperti sebelumnya.


"Saya tahu, Arlan. Saya juga berterima kasih karna kamu sudah berusaha. Kamu rela ninggalin keluarga kamu demi misi itu. Saya malu, sebagai kepala keluarga malah membebani kalian semua."


"Kita upayakan semuanya tentang kesembuhan Mbak Dahlia dulu, Mas. Jangan pikirin yang lain." Akhirnya Wulan--istri Roby menyuarakan pendapatnya.


"Benar, Mas. Enggak ada gunanya kita mikirin yang enggak mau datang, semua udah cukup. Fokus kita hanya pada kesehatan Mbak Dahlia, bukan yang lain. Lagipula, Mas Dian enggak akan lama lagi keluar, semua pasti baik-baik aja." Roby pun tidak ingin ketinggalan.


Namun hal itu, malah membuat Ajeng dan Diandra menangis. Bagaimana tidak, keadaan ibunda mereka sedang di antara hidup dan mati. Mereka bahkan meraung, sampai Mas Gunawan memeluk keduanya dengan erat. Bahkan diriku turut menangis, tidak terkecuali dengan Wulan. Memikirkan tentang nyawa seseorang pasti akan sesakit ini. Sedih dan pilu sekali.


"Aku enggak mau kalau Mama sampai meninggal, Om," ujar Diandra di sela tangisannya. Sedangkan tangannya tengah mencengkeram baju yang dipakai Mas Gunawan.


"Aku juga enggak mau, Om. Kami bakalan jadi anak piatu, belum lagi anaknya seorang napi," lanjut Ajeng.


Semakin keras suara tangis mereka, hatiku semakin perih dibuatnya. Sampai air mataku mengalir sangat deras, sehingga Mas Arlan mencoba mendiamkanku.


"Mama kalian bakalan sembuh. Kalian tenang aja," ujar Mas Gunawan demi ketenangan hati kedua keponakannya itu. Meski beliau pun tidak tahu harus bagaimana.


"Mama udah parah. Mama gimana? Kalau Mama meninggal, gimana?" Meski sudah diberikan kalimat untuk menenangkannya, Diandra tetap takut. Air matanya benar-benar banyak. Belum lagi Ajeng. Aku tidak tahu perasaan mereka yang sesungguhnya. Pasti rasanya sakit sekali.


Akhirnya Riska berdiri, bahkan ibundanya. Mereka mendatangi Ajeng dan Diandra. Kemudian diajaknya mereka dusuk di sofa yang tidak jauh dari sini.


Sedangkan kami semua tidak tahu harus bagaimana lagi. Mas Arlan sudah gagal membawa Ibu Leny dan William, Mas Dian masih membutuhkan waktu beberapa bulan lagi sebelum keluar, lalu keadaan Mbak Dahlia yang katanya kian memburuk. Keluarga itu seperti sedang dihukum atas semua perbuatan di masa lalu. Namun bukan berarti aku membenarkan pernyataan itu. Mereka pasti sudah berubah. Entahlah, aku pun bingung harus mengatakan apa lagi.


"Ini yang membuat saya merasa berat. Ajeng dan diandra, mereka sudah seperti anak saya. Mereka masih terlalu muda untuk menerima kenyataan ini," ujar Mas Gunawan lagi. Beliau menunduk, pasrah namun juga takut.


"Kalian upayakan yang terbaik untuk Mbak Dahlia. Aku akan tetap berusaha membujuk Ibu Leny. Siapa tahu, beliau berubah pikiran atas penjelasan perihal keadaan Mbak Dahlia. Sebenarnya aku sudah kasih alamat sini, namun beliau belum membuat keputusan," jelas Mas Arlan.


"Kami selalu upayakan, Arlan. Tapi ... keadaan Dahlia sudah teramat parah. Semua tergantung takdir Sang Kuasa. Kamu jangan terlalu memaksakan kehendak orang. Leny juga menderita. Saya menyuruh kalian datang bukan semata-mata karna ini saja, tapi juga ingin berkumpul. Namun memberi kabar soal Dahlia, juga enggaka ada salahnya, kan?"


"Iya, Mas," jawab Mas Arlan dan Roby secara bersamaan.


Selanjutnya hening tercipta.


Bersambung ...


Budayakan like+komen


poin ya hehe

__ADS_1


__ADS_2