Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Mood


__ADS_3

Mengapa manusia gemar menyimpan semacam kebencian? Tidakkah mereka melihat sisi kesalahan masing-masing? Termasuk diriku yang terkadang masih dihantui wajah-wajah mahasiswi yang membully diriku. Nyatanya kehidupan memang seperti ini. Kadang diatas, terkadang pula berada dibawah. Kadang disukai, bahkan terkadang pula dibenci. Katanya manusia adalah makhluk paling sempurna, namun ternyata manusia tidak bisa dianggap sempurna di mata sesamanya.


Satu buah kesalahan bisa menjadi bumerang dikemudian hari. Bukan hanya pada diri sendiri, melainkan orang lain juga yang bahkan tidak memiliki keterlibatan itu. Mas Arlan, Riska dan juga Celvin, apa salah mereka? Padahal yang aku dengar adalah berawal dari kesalahan Nia dan juga kerabat Sanjaya. Bukankah mereka harus menghukum kedua orang itu saja? Ah... jika dipikirkan memang semakin memusingkan. Sepertinya daya pikirku tidak sampai dalam menganalisis masalah ini.


Usai waktu maghrib, aku terdiam sembari meringkuk diatas kasurku. Tidak ada yang kulakukan, banyak sekali pertanyaan yang muncul didalam benakku. Terlebih mood-ku sedang tidak menentu, ditambah rasa lelah yang luar biasa lantaran aku yang memegang semua pekerjaan Celvin hari ini. Bahkan Selli kuberikan kepada Bi Onah, semenjak pulang kerja tadi. Sedangkan suamiku, sepertinya ia sedang keluar.


Terkadang aku berpikir, apa aku bisa membantu Mas Arlan untuk kembali pada keluarganya? Apa aku bisa membantu misinya bersama Pak Ruddy? Fanni tetaplah Fanni yang tidak memiliki banyak keberanian. Percaya diri yang meningkat saja, aku sudah sangat bersyukur. Menjadi seorang istri, pada kenyataannya susah-susah gampang. Memiliki Mas Arlan sebagai suamiku, memiliki Selli sebagai putriku adalah sesuatu yang membahagiakan. Namun, sampai saat ini aku tidak bisa berlaku selayaknya menantu.


Disisi lain, terkadang aku merasa sangat lelah. Namun, sebisa mungkin aku sembunyikan. Aku melakukan segalanya dengan ikhlas. Hanya saja, sebagai seorang istri yang sekaligus seorang karyawan petinggi perusahaan membuatku sedikit kewalahan. Bahkan merasa lelah. Aku akui untuk urusan dapur Bi Onah yang membantu. Tapi, keperluanku, anak dan suami adalah urusanku termasuk mencuci dan lain sebagainya. Pagi hari aku harus mengurus mereka, dilanjutkan dengan diriku sendiri. Berangkat bekerja dan mendampingi Celvin keluar masuk kantor demi menghadiri berbagai pertemuan. Belum lagi pekerjaan didalam kantor yang selalu menumpuk. Mungkin saat ini adalah saat dimana aku baru merasakan kelelahan.


"Sayang?" Suara itu memanggilku yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mas Arlan.


Lantas, aku menolah malas ke arahnya yang tengah menyusulku diatas ranjang ini. "Ya, Mas. Kenapa?" tanyaku kemudian.


"Mas kangen kamu, Dek. Hehe."


"Oh... emm... ya, aku juga."


Kemudian aku terdiam lagi sembari menunduk. Mungkin saat ini Mas Arlan tengah merasa heran. Ya, tidak biasanya aku seperti ini. Rasanya begitu melelahkan, bahkan semburat senyum saja sangat berat untuk dilakukan. Aku tidak bisa berpura-pura untuk baik-baik saja dihadapan Mas Arlan. Aku rasa, esok nanti, aku baru bisa kembali seperti biasanya. Setelah istirahat malam tentunya.


Terdengar helaan napas yang dilakukan oleh Mas Arlan. Ia tidak berani bertanya lagi. Setelahnya ia tampak berjalan ke sudut ruang kamar, dimana meja kerjanya berada disana. Aku memilih untuk merebahkan diri terlebih dahulu. Siapa tahu, aku bisa segera mengembalikan rasa senangku. Entahlah, aku tidak ingin menyalahkan siapapun. Namun sepertinya, semua masalah yang terjadi sangat memberikan pengaruh terhadap diriku. Yah, semoga esok hari aku bisa seperti biasa lagi.


"Dek?" ujar Mas Arlan sepuluh menit kemudian yang membuat jantungku berdegup kencang. Bagaimana tidak? Aku hampir terlelap tidur dan ia datang tiba-tiba.


"Apa sih? Kaget tauuu!" tegasku kepadanya sembari memberikan raut kesalku.


"Iya iya, maaf. Mas pikir belum tidur. Kamu kenapa sih?"


Aku menghela napasku. "Nggak apa-apa, Mas."


"Bener?"


"Iya, bener."


"Mas pijitin ya? Kayaknya kamu capek banget."


"Nggak usah, aku nggak apa-apa kok."


"Jangan gengsi gitulah."


"Siapa yang gengsi sih? Orang nggak apa-apa kok. Malah dikatain gengsi. Diem aja dulu ih."


"Yaudah terserah kamu aja, Dek. Yang penting Mas udah coba peduli. Kalau mau keras kepala ya terserah aja. Harusnya suami istri itu bisa ngomong apa adanya. Nggak perlu ambek-ambekan tanpa tahu penyebab jelasnya gini. Mas bukan cenayang yang bisa terawang."


Deg! Apakah aku menyinggung perasaan Mas Arlan? Selepas mengatakan hal itu, Mas Arlan berlalu meninggalkanku di kamar ini. Hanya menelan saliva yang bisa aku lakukan. Aku berusaha membangunkan diriku sendiri. Jantungku berdebar tidak menentu, aku merasa cemas kalau Mas Arlan sampai marah.


Aku menepuk-nepuk keningku sembari menggigit jari. Astaga! Apa yang baru saja aku katakan, sampai Mas Arlan tersinggung? Seharusnya aku selalu berhati-hati dalam memilih kata. Karena rasa lelahku, aku sampai melampiaskan kesalku kepada Mas Arlan. Padahal ia tidak tahu apa yang aku rasakan. Benar seperti yang ia katakan, ia bukan cenayang yang pintar menerawang. Aku menyesal, namun belum berani meminta maaf kepadanya.


Sampai akhirnya aku kembali merebahkan diriku sembari menahan rasa cemasku. Benakku seolah sedang berputar dipenuhi oleh kekhawatiran mengenai suamiku itu. Bagaimana tidak? Ini kedua kalinya Mas Arlan merasa kecewa terhadapku setelah kasus Riska. Bodohnya diri ini, seharusnya aku bilang saja kalau aku sedang lelah dan juga menerima tawarannya. Padahal Mas Arlan sendiri pasti merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Ternyata diriku adalah makhluk yang egois. Mungkin nanti saat ia kembali dengan hati dingin, aku bisa meminta maaf lagi.

__ADS_1


****


Setengah jam berlalu, aku terus menunggu. Mas Arlan tidak kunjung kembali ke kamar ini. Semakin lama, aku semakin tidak enak hati. Namun masih saja enggan untuk keluar kamar. Padahal jam delapan nanti, Nike dan Mas Roni ada rencana untuk datang kemari. Entah apa yang akan mereka bicarakan.


Kubangunkan diriku kembali dan duduk meringkuk diam diatas ranjang ini. Hatiku kembali gusar, entah apa yang akan Mas Roni sampaikan nanti. Tidak mungkin ia datang kemari tanpa maksud tertentu, bukan? Terlebih ia masih bekerja didalam perusahaan milik Harsono. Aku berharap tidak ada kabar apapun, dan datang kemari hanya untuk bertemu suamiku saja.


"Emm...." Seketika aku menoleh ke sumber suara itu. Mas Arlan tampak datang dari arah pintu dan menghampiriku. Ia membawa nampan dan cangkir bening berisi teh, sepertinya teh hangat untukku.


Aku menurunkan kakiku dan duduk di tepian ranjang. Sembari bersuara, "maaf, Mas. Soal tadi, ak--"


"Mas yang minta maaf, Sayang. Kayaknya kata-kata Mas terlalu kasar," potong Mas Arlan.


"A-aku cuma kecapekan aja, Mas. Tadi ada insiden."


Mas Arlan bergerak mendekatiku. "Minum ini dulu, Dek. Memangnya insiden apa?"


Aku menerima cangkir teh hangat itu. Lantas, menyesap airnya. Ini nikmat sekali, terlebih dari suami. Seolah mampu mengembalikan selera baikku. Aku tersenyum kepada Mas Arlan. "Nggak apa-apa, Mas. Tadi banyak pertemuan jadi kecapekan."


Mas Arlan tampak menghela napas lega. Kemudian dikecupnya pipiku tiba-tiba. Aku tidak bisa langsung beringsut mundur karenanya. Namun, bukan berarti aku tidak senang, aku senang sekali. Kubalas satu kecupan di pipinya. Ia tersenyum lega kembali sembari merangkul pundakku dari belakang.


Kuberikan cangkir tadi supaya Mas Arlan menaruhnya di atas meja kecil. Dibalik semua ini, sebenarnya aku masih menyimpan alasan yang tentang penyebab rasa lelahku. Aku belum ingin mengatakan bahwa Riska telah datang dan meminta Celvin untuk membawanya pergi. Semua kulakukan lantaran khawatir akan respon yang akan Mas Arlan berikan. Ia pasti tidak akan tinggal diam. Terlebih dihari pertama kerjanya ini, aku tidak ingin ia menorehkan masalah lagi hanya karena mengurus sang keponakan.


"Emm... maaf ya, Mas," ujarku dengan maksud karena semua masalah yang masih kusembunyikan itu.


"Iya, Sayang. Mas maafin kok, tapi lain kali kamu bilang aja soal keluh kesah kamu. Sebisa mungkin Mas bantu. Mas ini suami kamu, Dek. Nggak tega rasanya marahin kamu," jawab Mas Arlan.


"Terus, jangan terlalu maksain diri. Jangan pulang kerja langsung nyuci, nyetrika atau ini itu."


"Tapi, cucian banyak, Mas. Kalau ditunda makin numpuk nanti."


"Kan ada Bi Onah. Nggak setiap hari juga nggak apa-apa minta tolong. Dipisahin yang sekiranya nggak pantas dilakukan oleh orang lain. Kalau baju Selli kan masih pantes aja diurus sana orang lain. Mungkin beberapa pakaian khusus kamu dan Mas aja yang diambil."


"Tapi kan, aku istri kamu. Masa' yang nyucii. baju kamu malah Bi Onah?"


"Kan Mas bilang, nggak setiap hari. Kalau lagi capek aja, Sayang."


"Hmm... iya deh iya."


Haruskah? Ide Mas Arlan cukup bagus. Namun, aku pribadi merasa tidak nyaman untuk melakukan itu. Mungkin aku selalu mengurus pakaianku sendiri, sedangkan ia suamiku. Apalagi Bi Emi juga sedang disibukkan demi mengurus Selli juga. Aku rasa, aku tidak bisa menjalankan apa yang disarankan oleh Mas Arlan. Biarlah, yang perlu aku perbaiki lagi adalah mood-ku bukan pekerjaan rumah tanggaku.


Kusenderkan kepalaku di bahu Mas Arlan demi menghabiskan sisa waktu sebelum Nike dan suaminya datang. Sedangkan Mas Arlan sibuk bersenandung dan membelai rambutku dengan lembut. Suaranya cukup bagus dan masih enak didengar juga. Aku pikir, kalau ia menyanyikannya disaat merebah, aku akan terlelap seketika.


"Hmm... denger kamu nyanyi, aku jadi berkhayal, Mas," ujarku kemudian.


"Hayo, khayal apaan? Jorok ya?" tanyanya.


"Enggaklah. Yang ngomong jorok, berarti dia juga yang berpikiran jorok. Kamu mikirin apa?"


"Hehe... kangen, Dek. Kamu nggak sembuh-sembuh."

__ADS_1


"Sabar dong. Emm... aku pengen rekreasi kayak di TV gitu, Mas. Ke taman yang rumputnya hijau, suasana sejuk, bawa gitar sama bekal, sama Selli. Buang stress hehe. Kayak bocah ya aku?"


"Ide bagus kok, Dek. Tapi, Mas nggak tahu dimana tempatnya. Mungkin nanya-nanya dulu, terus nunggu libur."


"Emm... ya. Kamu bisa gitaran emang?"


"Bisa dong. Kalau lagi galau kan, senengnya main gitar dulu. Noh gitar ada di gudang gegara rusak. Udah lama nggak main lagi, tapi masih inget."


"Oh ya? Yaudah kita cari tempat ya, Mas. Terus atur jadwal. Yang deket-deket aja."


Mas Arlan mengangguk pada saat aku menoleh ke arahnya. Aku kecup pipinya sebagai tanda terima kasihku lantaran ia menyetujui ideku tersebut. Aku menjadi tidak sabar menantikan kencan keluarga kecil kami. Yah, semoga saja tempatnya memang ada lalu waktunya pun juga ada.


Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar kami. Yang ternyata adalah Bi Onah. Mas Arlan datang menghampiri beliau. Aku mendengar apa yang disampaikan oleh beliau. Sepertinya Nike dan Mas Roni sudah tiba di rumah ini. Setelah mengatakan itu, Bi Onah tampak pergi. Sedangkan Mas Arlan menoleh kepadaku.


"Temen kamu dateng, Dek. Mau ikut turun nggak?" tanyanya.


"Iya, Mas. Aku ikut, aku sisir rambut dulu. Berantakan," jawabku.


"Nggak usah cantik-cantik ya. Ada cowok lain dibawah, Dek."


"Yaelah. Suami Nike yang luar biasa manis. Cemburunya keterlaluan."


"Hehehe... yang penting cowok. Nanti kalau naksir istri dari Mas Arlan, bisa berape."


"Hmm... iya terserah kamu aja, Mas. Dek Fanni manut."


Mas Arlan tersenyum. Karena merasa tidak enak hati jika mereka menunggu terlalu lama, akhirnya Mas Arlan turun lebih dulu dariku. Aku menyisir rambutku yang berantakan. Sebenarnya sedikit malu kepada Nike, karena wajahku tampak pucat. Namun, suamiku melarangku terlalu cantik katanya. Baiklah, aku hanya bisa menuruti dari rasa Mas Arlan yang tidak wajar itu. Entah, serius atau bercanda, yang penting aku manut saja.


Setelah selesai, aku beranjak berdiri. Aku berjalan keluar, menutup pintu kamar lalu bergegas turun. Aku rasa, Selli sudah berada dibawah sana bermain dengan Rafif--anak dari Nike dan Mas Roni. Disetiap langkah turun seolah memberikan satu kegusaran yang akhirnya terjumlah menjadi banyak. Entahlah, rasanya tidak tenang saja. Aku berharap ini hanya silahturahmi biasa bukan pemberitahuan akan kabar buruk yang datang.


Lalu, sesampainya dibawah, aku memberikan sebuah senyum hangat demi menyapa sepasang suami-istri tersebut. Nike membalas senyumanku seperti biasanya, begitupun dengan Mas Roni. Namun, situasi cukup menegangkan. Mereka bertiga saling diam. Ada apa lagi ini? Atau ini hanya karena sedang menungguku? Baiklah, mari berprasangka baik saja. Aku duduk tepat di sebelah Mas Arlan yang notabene-nya kami berada didalam ruang tamu.


"Emm... gimana kabarnya, Mas Roni?" tanyaku.


"Oh... baik, Fann. Sehat selalu, kamu sendiri gimana? Udah ada hasil belum? Hehe," tanyanya kembali.


"Masih gagal, Ron. Kayaknya terlalu lama jadi bujang, jadi belum subur lagi," sela Mas Arlan. Seketika itu aku mencubit lengannya karena merasa itu tidak pantas dilakukan. Terlebih dihadapan keluarga yang taat agama seperti mereka.


Namun ternyata Mas Roni sangat pandai menyesuaikan diri dan keadaan. Ia malah tertawa bersama Mas Arlan dan melanjutkan kelakar seputar itu. Hal ini membuat para istri sangat sebal. Dan suasana yang sempat menegang tadi perlahan menghilang. Namun bukan berarti membuat rasa curigaku juga hilang begitu saja. Aku tahu ada sesuatu yang Mas Roni bawa kemari.


Yah, apapun itu, aku berharap adalah hal yang baik bukan hal buruk. Aku tidak ingin Mas Arlan atau bahkan diriku merasa kelelahan. Masalah Riska dan Celvin juga belum kunjung selesai, langkah untuk menjalankan misi dari Pak Ruddy juga belum dijalankan.


Amit-amit, jangan sampai ada masalah lagi. Keluarga kami bukan keluarga jahat, kan?


Bersambung...


Budayakan tradisi like dan komen ya.


Maaf kalau banyak typo yang bertebaran. aku belum sempet revisi ulang karena repot hehe

__ADS_1


__ADS_2