
Entah mimpi apa aku semalam. Malam ini, tepatnya setelah maghrib, Pak Ruddy datang berkunjung bersama Celvin. Tepatnya dua hari setelah permintaan khusus yang dilontarkan oleh Mas Arlan kepadaku. Sepertinya ia telah mengajukan permintaan perihal posisi sementara yang akan aku gantikan. Disini aku benar-benar merasa tidak menyangka sekaligus takut luar biasa. Bagaimana jika Pak Ruddy menolak dan terkesan tidak suka?
Duduk terdiam sembari mendampingi Mas Arlan untuk menghadapi Pak Ruddy dan Celvin, begitulah yang aku lakukan. Tubuhku bergetar, lidahku kelu, aku bak patung yang tidak bergerak sama sekali. Aku terlalu takut jika sampai dianggap niat kami tidak sopan sama sekali, atau bahkan aku yang terlalu berambisi pada posisi. Astaga! Bukan seperti itu, aku tidak boleh berburuk sangka dulu!
Pak Ruddy terdengar sedang berdeham, memperbaiki pita suara. Mendengar beliau melakukan itu saja, jantungku sudah dibuat bagaikan ditusuk jarum jahit, kecil namun menggigit sakit. Sampai tidak lama kemudian, beliau bersuara tanpa memperdulikan ketegangan yang aku rasakan. "Apa kabar, Nona Fanni. Wah, tampaknya sedang berbahagia menantikan sang buah hati ya?" tanya beliau kepadaku.
Aduh, kenapa harus gue dulu nanyanya?
Meski merasa getir, aku mencoba lebih tenang. Perlahan, aku mengangkat kepalaku untuk memberikan tatapan ramah kepada beliau. Namun leherku bak kayu yang terasa kaku. Beruntung, Mas Arlan sadar akan sikapku. Ia yang memberikan jawaban berbunyi demikian, "iya, Pak. Istri saya sedang berjuang hehe."
"Oh, pasti sulit. Ya nggak apa-apa. Toh, laki-laki dan perempuan memiliki porsi masing-masing dalam perjuangan."
"Emm ... iya, Pak. Oh, silahkan diminum air murahnya."
"Ya, ya, terima kasih, Arlan."
Pak Ruddy sekaligus Celvin, meraih cangkir kopi susu yang telah Bi Onah sajikan. Keduanya tidak merasa aneh ataupun enggan dalam menyesap hidangan murah tersebut. Namanya juga orang kaya, pengusaha terkenal pastinya memiliki selera yang tinggi meski hanya sebatas kopi. Aku kagum lantaran tidak ada kesombongan yang nampak dari keduanya. Hal itu, berhasil membuatku berangsur tenang.
Selepas itu, Pak Ruddy kembali memfokuskan tatapan kepada kami. Beliau tersenyum, aku dan Mas Arlan membalas. Celvin hanya diam. Paras tampannya masih sama, sangat menawan. Namun bukan bagi diriku, bagi orang lain yang masih lajang.
"Emm, ... perihal permohonan kamu. Jadi?" tanya Pak Ruddy kepada Mas Arlan.
Mas Arlan menegakkan tubuhnya seketika. "Kalau kakak ipar saya belum ketemu, maka hal itu harus jadi, Pak," jawabnya.
"Hmm ...." Pak Ruddy tampak menimang-nimang. "Bisa sih, toh saya juga sudah mengenal siapa Nona Fanni. Prestasi dan kinerjanya memang bagus. Bahkan bisa jadi lebih bagus dari kamu."
"Y-ya, itulah istri saya, Pak. Dia terlalu pintar dan jenius, bahkan dalam segala hal." Mas Arlan memujiku dengan rautnya yang malu-malu. Bukan dirinya saja, wajahku pun bersemu merah jambu.
"Haha ... manisnya kalian berdua. Tak apa, saya bisa setujui asal dalam konteks yang baik. Lagipula perusahaan itu sudah ada di tanganmu, Arlan. Kamu pun memiliki saham disana dan tidak berlaku sebagai boneka kami saja. Jangan terlalu kaku dalam membuat keputusan."
"Ya, mau bagaimanapun perusahaan itu milik Sanjaya, Pak."
"Saya mengerti. Padahal seharusnya kamu sudah menaungi Harsun Group. Namun siapa yang mengira, kamu malah ada disana bahkan bersama Riska."
Dengan wajah wibawa, perkataan yang bijak sana, beliau memberikan wejangan kepada Mas Arlan. Sesuatu yang mengenai sikap Mas Arlan sebagai seorang direktur utama meski perusahaan itu tidak terlalu besar. Aku malah merasa bersyukur Mas Arlan berada disana meski memiliki keuntungan yang tidak terlalu banyak daripada didalam perusahaan keluarganya sendiri. Bukan maksud hati masih dendam dengan mereka, aku hanya tidak ingin jika suamiku ditindas lagi.
Tidak sengaja pandangan mataku bertemu dengan pandangan mata Celvin. Meski masih terdiam, ia bersedia menyunggingkan senyuman kepadaku. Hal itu ternyata disadari oleh Mas Arlan. Seketika, ia mencubit tanganku diam-diam. Cemburu yang konyol, bukan? Segera kualihkan pandanganku ke arah perutku yang besar.
Celvin berdeham. Ia mulai membuka suara, "apa Nona Fanni juga siap, untuk menjadi direktur sekaligus ibu dalam waktu sementara itu?"
"Te-tentu," jawabku terbata.
"Saya yakin, Nona Fanni memang siap."
"Itu sudah pasti," sela Mas Arlan seolah tidak mengizinkan ketika aku hendak menjawab pertanyaan dari Celvin.
Entah mau senang atau malah sedih, ketika Mas Arlan cemburu. Sampai sekarang, ia tidak pernah bisa bersikap biasa saja pada saat aku satu ruang dengan Celvin. Apa mungkin ia belum melupakan perihal perasaan semuku kepada Celvin yang hampir dua tahun berlalu? Heran, menjadi rasa hatiku kepada Mas Arlan.
Pak Ruddy kembali menyesap kopi milik beliau. Setelah itu, beliau tersenyum lagi. Ya, beliau memang seperti itu sejak dulu, murah senyum dan sederhana. Aku rasa hubungan beliau dengan Celvin juga terus membaik setiap harinya.
"Iya, saya pasti setuju. Kalian tidak perlu bimbang lagi. Tapi saya juga harus mengetahui kesediaan dari Nona Fanni secara lansung. Sehingga kami datang kemari, mengingat Nona Fanni sedang hamil besar," jelas beliau.
"Tentu, Pak. Jika diizinkan, saya bersedia dan akan bertanggung jawab dengan pekerjaan saya," jawabku.
"Tidak masalah jika harus membagi waktu dengan anak?"
"Selagi semua baik-baik saja. Persalinan berjalan dengan lancar dan cepat pulih, anak lahir sehat, tentu saya tidak keberatan, Pak."
"Kamu memang orang yang menarik, Nona Fanni. Pasti saya akan setuju kalau kamu bersedia. Toh, tidak ada salahnya."
__ADS_1
Meski belum mengetahui hari ke depannya, aku sudah lega ketika Pak Ruddy setuju atas permohonan Mas Arlan. Bahkan beliau mengatakan bahwa aku adalah orang yang menarik, dalam segi apa? Heran saja, orang seperti diriku dianggap menarik oleh seorang konglomerat kaya raya semacam Pak Ruddy. Astaga! Bagaikan mimpi disore hari, sungguh!
Tiba-tiba, Pak Ruddy berdiri bersama Celvin yang mengikuti. Tampaknya mereka hendak undur diri. Haruskah sesingkat ini? Namun malam memang kian meninggikan kegelapannya, sebagai orang penting, pasti mereka memiliki beberapa kesibukan. Aku bisa mengerti. Mereka bersedia mampir di rumah ini saja, aku sudah sangat berterima kasih.
"Lho, Pak?" ujar Mas Arlan. Sudah mau pulang?"
Pak Ruddy tersenyum. "Iya, Arlan. Hari sudah malam, istrimu juga perlu beristirahat, kan?" balas beliau.
"Iya sih. Tapi, bukannya ini terlalu cepat, Pak?"
"Tak apa, saya hanya ingin sekedar memastikan kesediaan dari istri kamu. Sekarang keputusan juga sudah diambil. Ya, semoga niat baik kalian juga diperlancar. Jangan sungkan-sungkan membagi tips keharmonisan untuk Celvin juga ya?"
"Ah, ya, itu bisa diatur, Pak. Ya sudah, Pak Ruddy dan Celvin hati-hati di jalan. Terima kasih dari kami dan selamat malam."
"Ya, ya, selamat malam juga. Selamat beristirahat, layani istri kamu dengan baik."
Mas Arlan tersenyum. Lantas, ia menjabat tangan Pak Ruddy dan Celvin. Selanjutnya, ia mengantarkan keduanya sampai depan pintu utama. Karena terlalu begah, aku memilih duduk dan tidak mengikuti. Terdiam disini dengan helaan napas lega yang aku hirup beberapa kali. Pak Ruddy telah setuju untuk tiga bulan setelah aku melahirkan, aku akan menggantikan posisi Mas Arlan dalam sementara waktu. Tugasku, tetap melahirkans dengan lancar, memulihkan diri, siap menjadi ibu sekaligus pekerja dan menghadapi karyawan Mas Arlan yang mungkin enggan menerima diriku.
"Maaf ya, Nak. Selepas kamu lahir, Mama belum bisa jagain kamu secara sempurna. Nggak apa-apa, kan? Kita harus bantu Papa berjuang, nanti pasti bisa sama-sama lagi," gumamku sembari membelai halus perutku. Setidaknya anak ini bisa menjadi anak yang pintar dan kuat, karena sudah dilatih berjuang sedari didalam kandungan. Tak apa, semua pasti akan baik-baik saja. Selagi aku bisa membantu Mas Arlan maka akan aku lakukan.
Tak lama kemudian, Mas Arlan kembali masuk. Karena Pak Edi sudah pulang ke kediaman beliau sendiri, Mas Arlan mengunci pintu utama tanpa pikir panjang. Perlahan namun pasti, ia berjalan menghampiri diriku. Senyuman terlukis indah di wajahnya, tentu saja untuk istrinya tercinta yaitu aku.
"Bobo' yuk, Dek," ajaknya. Meski begitu, ia malah mengambil posisi duduk di sampingku.
"Bobo' mulu sih, Mas? Belum isya'an lho, Sayang," jawabku.
"Iya juga ya. Emang udah adzan?"
"Udah barusan. Emang nggak denger kamu?"
"Denger kali. Tapi lupa."
"Tua?! Iya, iya, tua. Puas kamu?"
"Puas banget hehe."
"Dasar istri sexy."
"Aduh! Sakit!" Aku terpekik kesakitan karena pipinya mencubita pipiku begitu keras. Namun, bukannya minta maaf, ia malah mencuri bibirku. Ah, seperti itu rasanya. Aku enggan menjelaskan, yang pasti ada manis-manisnya.
Namun ketika teringat posisi kami dimana, aku segera mendorong tubuhnya. Aku khawatir jika Bi Onah menyaksikan tingkah nakal dari Mas Arlan. Lalu, karena sudah adzan, aku pun mengajaknya menuju mushola rumah ini guna menjalankan ibadah isya' tanpa ditunda lebih lama lagi. Dengan sigap, Mas Arlan memapah langkahku yang terseok akibat rasa pegal yang mendera sekujur tubuhku.
"Berat ya, Dek?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas. Tapi dari dulu, aku udah berat kok. Nggak masalah."
"Haha ... beban hidup kita juga berat, Dek."
"His! Nggak boleh ngomong gitu, pamali!"
"Iya, iya, maaf. Mas tarik lagi kalimat tadi."
"Harus! Inget ya, Mas. Nggak ada beban berat diluar kesanggupan manusia. Pasti ada jalan kalau kita sungguh-sungguh dalam menyelesaikannya. Makanya jangan ngomong berat gitu, ah."
"Iya, Sayang. Sejak kapan sih si istri jadi sebijak ini?"
"Sejak aku jadi ibu, Mas."
Aku mengabaikan Mas Arlan setelahnya, tidak menggubris lagi perkataannya. Fokusku hanya ke depan, melangkah dengan tepat supaya tidak sampai terjatuh. Lalu, sesampainya di tempat wudhu, aku mengambil air wudhu dengan dijaga Mas Arlan dari tempat yang tidak jauh. Setiap tata cara bersuci itu, aku terapkan secara perlahan dan juga menyeluruh. Berhati-hati itu pasti, apalagi di tempat licin seperti ini.
__ADS_1
Setelah selesai, giliran Mas Arlan yang mengambil air untuk mensucikan diri sebelum ibadah dilaksanakan. Aku meninggalkannya terlebih dahulu dan masuk ke dalam mushola. Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai disana. Lalu aku duduk bersandar dengan dinding sembari menunggu sang imam masuk dan memimpin ibadahku. Aku rasa, Bi Onah dan Selli sudah menunaikan ibadah isya' ini.
****
Beberapa saat berlalu, kembali lagi dengan latar tempat yang sama seperti sebelumnya yaitu kamarku yang penuh dengan cinta. Jujur, lama-lama bosan juga, masuk lalu keluar, kamar, kamar mandi, lantai bawah lalu dapur. Ah, tidak adakah tempat yang indah selain beberapa tempat yang aku sebutkan? Jenuh.
Kini aku tengah bersandar pada badan ranjang yang merupakan sandaran, sembari meluruskan kedua kakiku. Begini saja, rasanya sangat engap. Apalagi ketika tidur, sungguh serba salah, aku bingung mengubah posisi bagaimana nyamannya. Seperti ini rasanya menjadi ibu hamil, memiliki rasa nikmat yang tidak terkira lagi.
"Dek, bobo' yuk," ajak Mas Arlan meski ia baru saja kembali dan menutup pintu kamar yang baru saja ia masuki.
Aku mengerucutkan bibirku. Lama-lama bosan juga mendengar ajakannya yang hampir setiap hari ia katakan. Memangnya perlu berkata demikian agar aku tertidur? Rasanya maksud Mas Arlan bukan seperti itu saja. Bukan ajakan tidur saja, melainkan ada hasrat tertentu yang terkandung didalamnya. Namun ia enggan untuk mengatakannya lantaran kehamilanku yang sudah besar.
Meski kata Dokter Wisnu diperbolehkan asal berhati-hati dan memperhatikan segala kemungkinan, aku tetap enggan dan memilih untuk menahan demi menghindari resiko yang akan terjadi. Secara ini kehamilan pertamaku, sehingga wajar saja jika aku mengkhawatirkan beberapa hal.
"Bobo' ayo, Dek."
"Ih! Kesel deh. Udah sih bobo' aja kalau mau bobo'!"
"Ih, kamu mah."
"Apa sih, Mas?"
"Enggak, Dek."
"Jangan dulu, ini aku hamil tua."
"Ya udah iya, iya."
"Sabar ya."
"Iya!"
"Dih, ngegas."
"Nggak, Sayang. Sini, sini, biar enak ngobrolnya."
Aku memutuskan untuk merebahkan diri sama seperti yang Mas Arlan lakukan. Malam ini, Selli tidur sendiri. Sehingga hanya kami berdua. Tidak perlu aku jelaskan hal romantis apa yang akan terjadi, bukan? Aku menyibak rambut Mas Arlan yang agak gondrong dan menutupi matanya. Ia tersenyum. Sejak tadi tangannya sibuk membelai calon buah hati kami. Pasti ia merasa rindu kepada sosok itu, meskipun belum bisa bertemu.
"Mas, kalau kita pisah selama tiga bulan, bukannya nanti harus bangun nikah ya?"
"Kata siapa, Dek?"
"Denger doang."
"Jangan ditelan mentah-mentah ya, Sayang. Cari sumber yang jelas kalau soal agama. Kalau setahu Mas sih, nggak. Kalau kita masih sering komunikasi dan ada nafkah untuk istri."
"Oh gitu. Tapi kan otomatis kamu nggak kerja disana?"
"Emang, tapi kan Mas ada tabungan dan sisihin uang buat kalian di tiga bulan ke depan. Mas masih terhitung ngasih kamu nafkah, mungkin bukan nafkah secara batin. Tapi Mas usahain secepat mungkin, Sayang. Kalau bisa nggak nyampe tiga bulan. Kita juga perlu menunggu kondisi kamu pasca melahirkan."
"Iya, Mas."
Setelah mendapatkan penjelasan tentang hal itu, hatiku merasa lega. Yah, semoga nanti Mas Arlan bisa menjalankan amanat tersebut dengan baik dan lancar. Akan lebih beruntung, jika tidak sampai tiga bulan sesuai batas maksimal penggunaan visa liburan. Sedangkan diriku, aku tetap berusaha yang terbaik sembari berdo'a agar persalinanku lancar dan cepat pulih nantinya.
Malam kian meninggi. Udara AC yang sudah dingin menjadi semakin dingin. Aku masuk ke dalam pelukan Mas Arlan untuk mencari kehangatan. Pada akhirnya kami terlelap dalam tidur dimalam ini.
Bersambung ....
Budayakan like+komen
__ADS_1