Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Manis


__ADS_3

****


"Jadi?" tanyaku. "Kenapa Kak Febi ngajak aku ke kamar?"


Kak Febi mengusap sisa air mata harunya. Kemudian menoleh padaku. "Nggak tau juga," jawabnya.


"Lho?"


"Katanya kamu malu, Fann?"


"Iya sih hehe... kita jadinya ninggalin mereka dong?"


"Hihi... biarinlah. Biar Mas-mu hadepin Mama sendiri."


"Kasianlah Kak."


"Hmm... calon nganten mah gitu ya? Nggak tegaan."


"Belom calon Kak, ini baru langkah awal."


Begitulah perbincangan kami setelah melarikan diri ke kamar. Kami saling merebahkan diri. Aku tau, sikap kami terlihat kekanak-kanakan. Namun, cukup menggelitik jika diingat. Aku sendiri, tidak menyangka jika iparku tersebut memiliki sifat sedikit konyol.


Beberapa saat yang lalu, Kak Febi banyak menceritakan berbagai hal. Mulai dari kedatangan Mas Arlan, yang tiada henti. Tepatnya setiap jam makan siang. Ia membawa berbagai jenis makanan lezat dan menyantapnya bersama keluargaku.


"Terus respon Mama soal Mas Arlan waktu itu gimana?" tanyaku.


Kak Febi memandang keatas dengan tangan yang menopang dagu dalam posisi badan yang masih sama. Memikirkan memori tentang Mas Arlan dan Ibuku. "Mama kan agak keras Fann," jawabnya. "Tapi yang aku kagum dari Mas-mu itu sifat gigihnya, Fann."


"Sifat gigih gimana?"


"Hihi... kepo banget."


"Ihh... serius."


"Iya iya sabar, Neng. Jadi, Mama kan selalu acuh setelah pertengkaran beliau sama kamu itu. Cueknya malah makin menjadi-jadi, tapi Mas Arlan selalu menganggep kayak nggak ada apa-apa. Dituntunlah Mama menuju ruang makan, dituangin nasinya."


"Terus?"


"Pernah waktu itu, dibuang makanannya sama Mama lho. Tapi Mas Arlan nggak marah, dia malah minta sapu sama pel. Terus dibersihin haha."


Aku begitu fokus mendengar setiap jengkal perkataan yang Kak Febi lontarkan. Banyak juga yang tidak aku ketahui. Sampai membuatku menelan saliva beberapa kali. Selama ini, aku hanya terus fokus bekerja. Tanpa tau apa yang dilakukan oleh kekasihku. Dan malah menekannya dengan saran pisah saat itu.


Penyesalanpun masih ada. Sepertinya, aku harus meminta maaf dengan benar pada Mas Arlan. Aku menjadi paham, kepergian Mas Arlan selama dua minggu ini. Pasti karena kecewa yang sangat berat karena ucapanku. Tapi, itu hanya dugaanku sementara. Ia masih berhutang penjelasan tentang hal itu.


"Terus Mama bisa luluh gimana?" tanyaku.


"Yang namanya manusia, pasti bisa berubah Fanni. Apalagi Mama yang sifatnya tidak tegaan sama orang lain. Kalau nggak karna masa lalu kamu, pasti beliau juga nggak bakalan menentang kalian Fann."


"Aku tau tentang itu, Kak. Emm...apa selama dua minggu kemarin Mas Arlan masih dateng ke rumah?"


"Dua minggu ya?" ujar Kak Febi, sembari mengingat-ingat lagi. "Kalau minggu pertama dari yang kamu tanyain, seingat aku masih Fann. Tapi jarang, nah kalau minggu tepat kemaren. Emm... enggak sama sekali."


"Kemana ya dia?"


"Emang nggak ketemu sama kamu?"


"Kami habis bertengkar, Kak."


"Ohh... tapi lupain deh itu sekarang. Nikmati hari restu dari Mama ini, kalau ada salah. Ya saling memaafkan. Inget waktu kalian, berjuang kayak gini. Jangan sampai sia-sia."


"Thank's Kak."


Kak Febi tersenyum. Sedang aku masih mencerna setiap nasehatnya. Ia cukup dewasa, meski usianya lebih muda dariku. Jujur saja, aku juga malu. Mengingat, waktu dulu. Saat aku bersikap seenaknya padanya, hanya karena cemburu semata.


Namun, Kak Febi terhitung sebagai orang yang membantuku. Tanpa adanya insiden cemburu dan pertengkaranku dengan Ibuku, aku pasti tidak akan bertemu Mas Arlan. Kalau diingat lagi, begitu menjijikkannya diriku saat itu.


Berbanding terbalik jika disandingkan dengan Kak Febi. Ia indah, cantik, lembut, sabar dan sedikit polos. Namun, bisa bersikap dewasa dibeberapa kesempatan. Tak heran jika Kak Pandhu sangat tertarik padanya. Apalagi sekarang, dirinya tengah hamil. Rasa sayang dari keluarga kami pasti akan bertambah.


Semoga saja, aku tidak cemburu konyol lagi.


"Fanni, Febi!" Ibuku terdengar menyerukan nama kami berdua.


Sontak saja aku terbangun posisi tidurku diatas ranjang. Aku dan Kak Febi bergegas menghampiri beliau.


Setelah sampai ditempat keberadaan mereka. Aku tertegun. Semua orang sudah berdiri. Aku rasa akan pergi dan pulang ke rumah. Mas Arlan dan Selli pun begitu. Padahal, aku ingin mereka tinggal lebih lama. Karena masih banyak pertanyaan yang ingin aku utarakan. Termasuk sisa-sisa rindu yang masih menggebu.


"Lho? Pada mau kemana?" tanyaku.


"Mau anter Kakakmu periksa sayang," jawab Ayahku.


"Semuanya?"


"Iya sayang."


"Harus ya sekeluarga kayak gini?"


Ibuku menghampiriku. Kemudian beliau berkata, "Emangnya kenapa? Toh, calon cucu kami kok. Kamu istirahat yang banyak, makan jangan telat. Minum obat juga."


"Iya Mama, Fanni udah gede kok."


"Halah, cengeng gitu kok udah gede. Arlan juga cepet pulang. Jangan mentang-mentang sudah dikasih restu, terus mau berduaan. Inget kalian belum menikah."


Mas Arlan menatapku sekilas. Lalu tersenyum kecut. "Iya siap Tante," jawabnya.


"Kan ada Selli Ma, nggak berdua kok," sergahku.


Kini giliran Ibuku yang menatapku. Dengan tajam seperti sebuah jarum suntik kala itu. "Selli... Selli... maksud kamu apa? Pake nama anak buat alesan? Awas ya kalian, kalau sampai berbuat macam-macam. Saya cabut restunya," ujar beliau.


"Udah... udah Mama, mereka udah dewasa. Bisa mikir sendiri," sela Kak Pandhu.


Sedangkan Ayahku dan Kak Febi tampak tertawa renyah mendengar semua ini. Sehingga rona merah terhias diwajahku. Betapa malunya diriku, berniat bercanda malah Ibuku terlihat marah. Sialnya, Mas Arlan ikut tersenyum geli.


Ahh... memalukan!


"Yaudah Dek, kami balik ya? Inget pesen Mama ya?" ujar Kak Pandhu.


"Iya Kakak, iya Mama, iya Papa," jawabku.


Semua anggota keluargaku berjalan bersama, keluar dari ruang apartemenku. Termasuk Mas Arlan dan Selli. Meninggalkanku sendiri disini. Karena mereka menolak ketika aku hendak mengantarkan sampai bawah. Dengan alasan, aku belum sehat sepenuhnya.


Ya sudahlah! Sepertinya aku harus sendiri.


Setelah mereka tak terlihat lagi dari pandangan mataku. Aku menutup pintu dengan asal-asalan dan tidak terkunci. Dengan satu harapan, yaitu Mas Arlan akan kembali. Sepertinya aku sudah benar-benar menjadi budak cinta untuknya.


Kududukkan badanku pada salah satu sofa. Menghirup oksigen yang ada. Tentunya, oksigen yang tidak berbaur dengan aroma obat. Dingin AC juga menembus tulang melalui lemakku. Rasanya segar dan nyaman. Tidak seperti saat di rumah sakit.


Akhirnya aku bisa kembali. Rasa syukur kuucapkan dalam hati.


Sakit yang sempat kudera tidak membawa malapetaka. Melainkan beberapa hikmah positif bagi diriku. Meski, begitu aku berharap sakitku tidak terulang lagi untuk kesekian kalinya. Kasihan orang tuaku dan saudaraku. Jika harus mengurus manusia setua aku ini.

__ADS_1


"Dek!" Mas Arlan terdengar menyerukan namaku.


Sontak saja, aku langsung berdiri dari dudukku. Dengan langkah cepat kuhampiri dirinya. Harapanku terkabul. Ia benar-benar kembali datang. Namun, aku mencoba biasa saja. Karena tidak ingin terlihat murahan baginya.


"Kenapa Mas?" tanyaku.


"Kenapa? Apanya? Ini pintu juga nggak dikunci lho," ujar Mas Arlan.


"Pulangkan harusnya? Ngapain balik? Nggak inget kata Mama aku?"


"Nggak boleh? Yaudah kalau gitu, Mas pulang aja. Ayo Nak."


Selli menoleh padaku. Gadis kecil tersebut berkata, "Aku kangen Tante Fanni, Papa."


"Eeeehhh... jangan dong! Tuhkan Selli aja kangen kok"


"Katanya nggak boleh?"


"Emang aku udah jawab nggak boleh?"


"Belum sih hehe... jadi?"


"Masuk dong."


"Dasar."


Mas Arlan menyentil hidungku yang panjang. Ia melangkah masuk bersama Selli yang tengah digendongnya. Seperti biasa ia duduk di sofaku. Aku berjalan kearah yang lain. Menuju dapur guna mengambilkan segelas minum untuknya dan sang putri.


Diam-diam aku tersenyum sendiri. Mas Arlan begitu mengerti. Seolah ia memiliki telepati. Tanpa aku jelaskan, ia datang kembali. Tampaknya rona merah sudah terhias indah diwajahku. Kisah asmara yang begitu sulit namun selalu diikuti akhir yang indah. Itu hanya menurutku sebagai pelaku dari dalang cerita ini.


Masih pantas bukan? Jika aku merasakan debar-debar cinta diusia sekarang ini?


"Dek?" ujar Mas Arlan.


"I-iya Mas, bentar tungguin," jawabku gelagapan karena terkejut.


"Bikin apa?"


"Bikin minum sama sereal buat Selli. Kayaknya Mama yang beliin, soalnya ada."


"Serealnya udah dibikin?"


"Belum, bentar ya?"


"Nggak usah Dek, Selli tidur."


"Tidur?"


"Iya, udah hampir jam satu siang ini. Pantes kalau dia udah ngantuk."


"Waduh, setiap kesini kok tidur?"


"Nyaman kali sama aroma kamu, kayak Mas."


"Dihh... geli!"


"Udah yuk, kesana. Mas pinjem kamar kamu lagi buat Selli."


"Iya Mas, asal bukan buat kamu."


"Haha... enggaklah, Dek."


Ada bagusnya juga saat Selli tidur seperti ini. Sehingga aku bisa bertanya lebih leluasa pada Mas Arlan. Dan seandainya kami bertengkar lagi, gadis kecil itu tidak akan menyaksikan.


"Mas?" ujarku. Kini kami telah duduk berdampingan.


"Iya Dek, kenapa?" tanya Mas Arlan kembali.


"Aku mau nanya sesuatu, boleh?"


Mas Arlan mengangkat kedua tanganku. Sampai membuatku sedikit heran. Ia merebahkan kepala di atas pangkuanku dan tubuhnya diatas sofa.


Arrgg... bikin kaget saja!


Mas Arlan menatapku begitu dalam. Lalu bertanya, "Nanya apa sayang?"


"Bi-bisa bangun nggak?"


"Nggak ah, empuk hehe."


"Tuhkan ngeledek!"


"Iya iya maaf, nggak jadi. Tapi biarin Mas tidur dipangkuanmu, Mas capek."


"Capek?"


"Iya, Dek. Dua minggu ini, Mas ngilang bukan karena ingin jauhin kamu. Mas ada kerjaan."


"Sesibuk itu?"


"Iya Dek, maaf. Tapi jujur aja, sebenarnya Mas awalnya mau kasih kamu waktu buat sendiri. Seenggaknya selama satu minggu, supaya kamu lebih tenang. Tapi Mas nggak pernah berhenti berkunjung ke rumah Mama kamu kok. Ehh... nggak taunya ada masalah di perusahaan."


Aku tertegun mendengar penuturan Mas Arlan. Ternyata ia menuruti keinginanku yang kuucapkan, ketika pertengkaran kami terjadi. Saat aku mengucapkan kalimat ingin sendiri dulu. Sialnya, aku tidak menyadari tentang hal itu karena terlalu rindu. Belum lagi beberapa prasangka negatif sempat tersemat dalam benakku tentang hubungan kami.


Bukan hanya tidak menarik, sekarang aku juga sangat bodoh. Terlalu egois, tanpa mau mengerti dan juga memahami. Aku menyesal. Semua yang dijelaskan Mas Arlan sepertinya benar karena bisa tersambung dengan cerita dari Kak Febi beberapa saat yang lalu. Dan sekarang, saat ia dirundung masalah. Aku tidak sanggup membantunya.


Kebelai rambut Mas Arlan dengan lembut. Ia tampak terpejam. Kuamati wajahnya diam-diam. Hiasan mata panda mewarnai kelopak matanya. Sepertinya ia tidak bisa tidur dengan benar belakangan ini. Selain masalah yang dihadapi, ia juga harus menungguku semalaman.


Kasihan kamu, Mas.


Mungkin, ini yang dinamakan kedewasaan. Apalagi Mas Arlan sudah berpengalaman dalam menjalani biduk rumah tangga. Ada banyak pelajaran yang bisa ia ambil. Sehingga membentuk kepribadian yang sedewasa ini. Sangat pengertian, mengalah dan pantang menyerah. Sisi positif saat menjalin hubungan dengan pria yang sudah matang. Lain halnya jika menjalin dengan orang yang usia setara atau lebih muda.


"Mas kamu tidur?" tanyaku.


"Hmm..." jawabnya singkat.


"Ikut Selli sana. Aku disini."


"Enggaklah, Dek. Kan kamu yang sakit, kenapa Mas yang disuruh tidur disana."


"Kan sama aja sayang, daripada tidur disini. Aku juga tetep melek."


"Mau tidur bareng?"


"Ehhh... sembarangan!"


"Hehe... becanda sayang."


Dasar! Mas Arlan selalu saja memiliki keusilan tersembunyi. Ada kalanya, aku waspada saat menghadapinya.

__ADS_1


Ia masih saja terpejam dipangkuanku. Membuatku semakin leluasa untuk melihat setiap jengkal lukisan wajahnya. Kekasihku begitu manis. Wajahnya masih awet muda meski sudah mencapai usia kepala empat. Aku beruntung bisa bersamanya. Tak kupedulikan embel-embel duda beranak satu yang ia sandang.


Aku mencintainya. Cukup dua minggu kemarin saja, aku kehilangan. Jangan lagi.


Mas Arlan membuka mata. "Kamu pegel, Dek?" tanyanya.


"Belum kok, Mas," jawabku.


"Beneran?"


"Iya sayang!"


"Duhh... sweet banget ya sekarang? Emm... Mas seneng banget akhirnya Mama kamu ngasih restu, Dek. Sampai bingung harus ngungkapin perasaan ini pake cara apa lagi."


Kubelai lagi rambutnya. Sembari tersenyum lega mendengar ucapan dari kekasihku. "Makasih ya Mas," kataku.


"Sama-sama sayang, kamu harus inget ya kata-kata Mas yang kemarin."


"Iya Mas. Emm... Mas Arlan sebenarnya ada masalah apa?"


"Ada yang gelapin dana perusahaan, Dek. Baru diurus kasusnya, walaupun Mas bukan lagi atasan di kantor pusat kami. Tetep aja harus ikut andil karna perusahaan keluarga. Jadi waktu Mas habis buat bolak-balik. Bantuin Riska. Mas nggak ingin perusahaan itu anjlok lagi, Dek. Cukup Mas aja yang gagal."


Masalah yang terdengar rumit bagi telingaku. Kalau ada penggelapan dana seperti itu, sudah pasti masalah keuangan. Kerugian akan dialami perusahaan. Apalagi kalau proyek sampai terhenti. Pihak relasi dan pemegang sahampun akan marah. Meminta kerugian dari semua insiden.


Sangat disesalkan sekali. Pantas saja, Mas Arlan terlihat sangat lelah hari ini. Meski begitu, ia masih menyempatkan waktu untuk mengunjungi. Untungnya, Selli tengah tertidur pulas dan tidak rewel. Setidaknya ia bisa melemaskan otot-ototnya untuk sementara waktu.


Harus bagaimana, aku ikut andil untuk membuat kebahagiaan dihatimu, Mas?


Pertanyaan itu mengalun berkali-kali dibenakku. Karena aku sadar, selama ini aku terlalu mementingkan diriku sendiri. Tak pernah sekalipun kutanyakan kabar dan hidup Mas Arlan. Karena, Mas Arlan tak pernah menampakkan kerisauan hatinya sedikitpun.


"Mas, kita kan udah menjalin hubungan ini dengan serius. Aku juga sudah siap jika harus bertemu keluargamu," ujarku.


"Kamu mau, Dek?" tanyanya.


"Maulah, tapi jangan sekarang-sekarang ya? Bukannya aku belum mempersiapkan diri, tapi kondisi perusahaan kalian sedang bermasalah."


"Iya, Dek. Tapi Mas harap secepatnya."


"Aku usahain Mas. Dan satu lagi, kalau ada apa-apa. Mas bisakan ceritain ke aku? Yah, meskipun aku tidak bisa membantu. Setidaknya aku merasakan segala kesusahanmu, Mas. Aku ingin jadi orang yang siap siaga, apapun kondisi kamu nantinya Mas. Untuk masalah ini semoga cepat selesai dengan baik, Mas."


"Makasih ya sayang."


Mas Arlan membangunkan dirinya. Ia duduk kembali tepat disampingku. Menatapku dengan dalam seolah terpancar sinar kasih sayang dari matanya. Aku tertegun dibuatnya. Kelegaan hati sudah kami terima. Namun, babak baru akan dimulai. Aku siap, apapun yang terjadi. Aku harus bertemu dengan keluarganya. Demi pernikahan yang kami rencanakan.


Tak lama kemudian, Mas Arlan kembali usil. Ia menggodaku beberapa kali. Sampai akhirnya mendekatkan wajahnya padaku.


"No! Nggak boleh! Inget kata Mama!" Aku menolak sembari mendorong pundaknya agar lebih jauh.


"Dek, Dek," jawab Mas Arlan.


"Awas ya kamu!"


"Sekali aja dong, ya Dek. Please..."


"Nggak Mas! Inget kata Mama!"


"Dikit doang lho."


"Nggak!"


"Pelit banget!"


"Biarin."


"Hmm."


Mas Arlan tampak kecewa dengan penolakanku. Sedangkan aku tertawa saja. Tidak memperdulikan dengan respon Mas Arlan yang seperti itu. Harus ingat apa kata Ibuku!


"Papa, Tante." Suara gadis kecil terdengar ditelinga kami.


Sontak saja, kami menoleh padanya. Selli tampak berjalan menghampiri kami. Matanya masih diusap-usap menggunakan jari-jari kecilnya. Tanda bahwa si kecil tersebut belum sadar sepenuhnya.


Saat ia sampai disini. Kurengkuh tubuh mungilnya dipangkuanku. "Gimana tidurnya nyenyak sayang?" tanyaku.


"Masih ngantuk, Tante," jawabnya.


"Merem lagi kalau begitu."


"Tapi Selli, lapel Tante."


"Laper?"


Selli mengangguk.


"Makan diluar yuk, Mas?" ajakku pada Mas Arlan.


"Enggak! Jangan," jawabnya.


"Kenapa?"


"Kamu masih sakit, Dek. Mas aja yang beliin, kamu bawa Selli ke kamar tidur lagi. Entar kalau Mas balik, Mas panggil."


"Tapikan?"


"Inget kata Mama!"


"Ihh... nyindir ya?"


Mas Arlan tersenyum sampai gigi-gigi putihnya yang rapi terlihat. Kemudian ia berdiri dan menunduk dihadapanku. Ia mengecup pipi anak kesayangannya. Dan mencuri pipiku juga.


"Dasar! Nanti aku bilangin Mama!" ujarku mengancam.


"Pipi doang, Dek... Dek... hmm..." jawabnya.


"Yaudah sana kalau mau beli makan, aku tunggu. Jangan lama, yang enak ya hehe."


"Siap sayang."


Mas Arlan berlalu. Sesuai perintahnya aku membawa Selli lagi ke kamarku. Merebahkan diri bersama Selli, sembari menunggu kekasihku datang membawa makan siang.


Bersambung...


Budayakan like+komen+poin ya... hehehehe


Fanni ini, alhamdulillah selalu dikelilingi orang2 kaya ya. Pas kuliah dulu juga gitu, tapi sayangnya mereka orang kaya jahat. Terus melakukan pembullyan terhadap Fanni.


Untuk Arlan, meski anggota keluarga konglomerat. Arlan udah menarik diri dari jabatan. Karena merasa gagal, terus dia jadi orang biasa sebatas maneger saja disalah satu anak kantornya, bersahabat dengan suami Nike. Kantor pusat, Riska yang mimpin.


Dahh,, paham kan??? hehehe

__ADS_1


__ADS_2