Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Aku Berani, tauk!


__ADS_3

****


"Ya, dia pengkhianat! Saudara macam apa yang tega memasukkan kakaknya sendiri ke dalam penjara?! Bahkan Mama sampai meninggal!" tegas Nyonya Dahlia lagi.


"Heh!" seruku seketika sembari menggebrak meja sama seperti beliau. Aku geram, sangat geram. "Pengkhianat, pengkhianat, pengkhianat teroooos! Inget dong siapa yang korupsi! Mikir! Seenaknya saja anda menghina suami saya!"


"Tahu apa kamu, hah?! Kamu tuh orang baru yang tidak diterima sampai sekarang. Tahu diri dong!"


"Daritadi saya juga sudah tahu diri, Nyonya! Anda sendiri yang tidak tahu diri! Dasar lu! Punya mulut dikondisikan dong!"


Mas Arlan mencengkeram lengan tanganku. "Udah, Dek. Tenang, Mas nggak apa-apa kok. Ada Selli lho," ujarnya


"Diem kamu, Mas!" tegasku. "Nyonya takut kan, kalau kami mengambil jatah warisan? Ya ampun, enggak bakal! Kami bukan manusia yang miskin-miskin banget kok!"


Mas Arlan masih berusaha menahanku. "Dek?"


"Halah, omong kosong! Pasti gara-gara kamu, Arlan jadi seperti itu. Sekarang akal-akalan licikmu sudah berhasil, kan? Kamu senang kan? Suamimu bisa naik tahta lagi, kamu bisa menghabiskan seluruh harta kami."


"Eh?! Jaga ya mulut anda itu! Justru anda yang serakah, ketakutan dah kayak tikus masuk got. Udah kotor. Oh ... jangan-jangan yang membuat Mas Dian gagal menikahi Ibu Leny karna otak licik anda ya? Iya, kan?! Tapi sayang ya, sampai sekarang Mas Dian masih peduli tuh sama Ibu Leny dan anak laki-lakinya. Kasihan banget sih, Nyonya!"


"Kamu!" Nyonya Dahlia semakin geram akan ucapanku. Bahkan beliau berusaha melompati meja sembari berusaha meraih diriku dari seberangan sana. "Dasar si Gendut tidak tahu diri! Sini kamu! Saya hajar mulut kurang ajar kamu itu!"


"Apa? Sini kalau berani, saya nggak takut. Gendut, gendut, saya lebih sexy daripada anda. Dasar jahat, sadis, licik! Seenaknya saja menghina suami saya. Hati-hati lho, kena virus nanti tubuh tua anda itu!"


"Laki bini, sama saja! Hina!"


"Eh, jaga mulut anda lho! Ingat umur, takut jantungan!"


Mas Arlan dan yang lain sangat terkejut. Mas Arlan masih berusaha menenangkan diriku. Sedangkan di seberang sana ada Roby dan Nyonya Kelly. Keduanya berusaha melerai kami. Aku terus mencerocos banyak hal yang sesuai fakta. Hatiku, ubun-ubunku bahkan jantungku hampir meledak lantaran emosi. Aku tidak peduli bahwa Nyonya Dahlia lebih tua dariku. Selama ini aku selalu diam melihat mereka menginjak-injak harga diri suamiku. Sudah cukup!


Brak! Satu gebrakan lagi yang membuat semua orang terkejut. Bibirku terdiam seketika, bahkan Nyonya Dahlia. Kami menatap enggan ke arah Mas Gunawan. Napasku tersenggal karena banyak menghabiskan tenaga untuk berdebat. "Kalian ini! Seperti tidak memiliki attitude saja! Dahlia, masuk!" tegas Mas Gunawan.


"Tapi, Mas?" ujar Nyonya Dahlia dengan wajah memelas.


"Masuk! Kalau tidak mau, saya seret kamu!"


"Cih! Dasar Gendut!"


"Dahlia!"


"Iya! Aku masuk!"


Nyonya Dahlia menatapku sangat sinis sebelum berlalu. Sedangkan diriku memilih memutar bola mataku tak kalah sinisnya. Aku lega karena Mas Gunawan memilih untuk mengusir beliau dari tempat ini. Tampaknya Mas Gunawan juga tidak enak hati pada Mas Arlan jika memarahiku. Biarlah, biar semua orang tahu arti Mas Arlan didalam keluarga ini. Setidaknya mereka semua memiliki rasa segan, kecuali wanita ular satu itu. Satu jenis dengan Nia.


"Maaf, semua. Istri saya sedang hamil, jadi emosinya tidak stabil," ujar Mas Arlan atas nama diriku. Yang aku rasa, ia tengah memendam rasa kecewa untuk diriku. Terlebih ada Selli disini dan aku meledak begitu saja. Dasar bumil satu ini!


Mas Gunawan menghela napas. "Saya tahu dan paham. Tapi, jangan ada lagi hal seperti ini didalam pertemuan keluarga. Ingat kita masih didalam suasana berduka."


"Ma-maaf, Mas. Saya spontan melakukan itu semua," jawabku sembari menunduk. Pada akhirnya aku merasa malu. Namun bukan berarti aku menyesal. Aku malah puas, hanya malu saja dihadapan mereka semua.


"Ya. Sekarang kembali lagi pada topik utama. Bagaimana Arlan?"


Mas Arlan menatapku, aku membalas tatapannya. Ada sebuah kegusaran di sorot matanya. Entah apa yang ia pikirkan sekarang. Seolah meminta pendapatku. Namun jika kuberikan, tentu saja aku ingin agar ia menolaknya. Hanya saja aku tidak berani mengatakannya. Pada akhirnya aku hanya mengangguk sembari menggenggam telapak tangannya, memberikan dukungab untuk dirinya.


"Maaf, Mas. Aku menolak," ujar Mas Arlan kemudian. Ia mantap dalam mengucapkannya. Ya, itu bagus. Supaya ia tidak diremehkan lagi. Terlebih oleh Nyonya Dahlia itu. Tanpa harta dari keluarga, kami masih bisa hidup bahagia.


"A-apa? Apa maksud kamu, Arlan? Tidak mungkin saya yang sudah pensiun kembali mengurus perusahaan. Saya juga sudah menyetujui kerja sama dan damai dengan pihak Sanjaya."


"Aku tahu, Mas. Tapi akan tidak pantas jika aku meninggalkan Pak Ruddy setelah banyak beliau bantu. Lagipula kedua perusahaan juga sudah bekerja sama, aku rasa tidak ada persaingan lagi. Bekerja untuk Harsun atau Sanjaya Group jatuhnya sama saja."


"Tetap beda. Kami memiliki kinerja, misi, dan visi tersendiri. Keuntungan yang kami dapat pasti juga berbeda."


"Maaf, Mas. Apapun alasannya, aku tetap yakin atas keputusanku. Bahkan aku tidak akan meminta warisan apapun dari Mama. Mama adalah orang tua yang terbaik setelah Papa. Tidak etis kalau hanya gara-gara harta, ada pihak keluarga yang tidak terima dan mengganggu hidupku dan anak istriku."


Mas Gunawan menghela napas lagi. Sebuah raut kekecewaan tergambar di wajah beliau. Semua orang tertegun atas penuturan suamiku, bahkan diriku sendiri. Apa yang ia pikirkan hampir sama dengan pemikiranku. Tampaknya kami memang sudah sehati. Semua diam dan bungkam dalam beberapa saat.


Sampai akhirnya Mas Gunawan kembali mengangkat wajah. "Apa rencanamu, Arlan? Masih mau lanjut dengan Sanjaya Group?" tanya beliau kemudian.


Mas Arlan tersenyum. "Ya, tapi tidak selamanya. Aku berencana mengikuti jejak Roby dan sang istri untuk membangun usaha sendiri. Mungkin sama-sama dibisnis kuliner"


"Eh? Jangan, Mas. Bisa-bisa Mas Arlan jadi kompetitor kami," sela Roby.

__ADS_1


"Ya, karna itu tujuanku. Aku akan mengalahkan adikku sendiri."


"A-apa? Jangan harap kami memberikan kesempatan."


"Haha, lihat saja nanti, Roby. Baiklah, mungkin aku dan anak istri harus pamit, Mas. Keburu hujan."


Mas Gunawan mengernyitkan dahi. "Hujan katamu? Memangnya mobilmu bocor?"


"Haha, hanya kiasan. Ayo, Dek. Selli, Papa gendong ya?"Mas Arlan merengkuh tubuh kecil Selli. "Kami pamit, Mas, Mbak Kelly. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam." Mereka menjawab salam Mas Arlan secara bersamaan. Lalu, aku dan Mas Arlan mengambil langkah untuk keluar menuju keberadaan mobil kami.


Hatiku menjadi tenang setelah menyaksikan kelakar ketiga saudara itu. Setidaknya bara yang sempat membakar hubungan baik mereka, kini sudah mulai meredup. Hanya saja manusia sejenis Nia itu pasti tidak akan tinggal diam. Entah mengapa, aku merasa beliau akan melakukan sesuatu yang mengejutkan. Seperti balas dendam misalnya. Semoga saja hanya perasaanku.


"Mbak Fanni!" Lagi-lagi seseorang memanggilku sebelum aku melangkah masuk ke dalam mobil. Tampaknya satu orang lagi tengah merindukanku.


"Hai," sapaku pada istri Roby yang tengah berjalan menghampiriku. Ah ... aku lupa lagi siapa namanya.


"Wulan, Mbak. Lupa ya?"


"Iya, Lan. Kemarin repot sih hehe. Oh, mau pulang juga ya?"


"Iya, Mbak. Repot juga iya, kita juga jarang ketemu. Karena aku sibuk di resto terus, Mbak. Nggak sempat kemana-mana."


"Iya, aku ngerti kok. Kenapa ya?"


"Enggak, mau minta maaf. Karna jarang muncul sebagai saudara. Saya dan Mas Roby setahun kemarin sibuk mengurus resto yang ada di luar kota. Sampai nggak sempet pulang kesini."


"Waow! Udah nyampe luar kota aja nih. Sukses kalian."


"Alhamdulillah, Mbak. Emm ... selamat ya atas kehamilannya dan lain waktu pasti aku main. Anak aku juga udah akrab sama Selli."


Aku tersenyum pada wanita lembut satu ini. "Ya, aku dan Mas Arlan tunggu. Yaudah, aku masuk ya?"


Wulan mengangguk pelan sembari tersenyum. Kemudian ia berbalik badan dan menuju mobil suaminya. Ternyata selera Roby ajib juga. Sudah cantik, baik, lembut dan pasti juga pintar. Bahkan cabang restorannya sudah sampai di luar kota. Sudah hampir menyaingi KFC saja. Yah, semoga mereka semakin sukses dan kami bisa mengikuti jejak kesuksesan itu dengan kemandirian.


Kini aku sudah didalam mobil bersama suami dan anak putriku. Perlahan namun pasti, Mas Arlan mulai melaju mobilnya untuk meninggalkan rumah istana ini. Akhirnya aku bisa bernapas lega karena tidak bertemu lagi dengan Nyonya Dahlia. Tentunya bersama rasa puas di hatiku karena sudah berani menentang perkataan buruknya itu.


"Apa? Mau ngomelin aku? Maaf aku nggak sengaja kok."


"Justru Mas yang takut diomelin sama kamu. Hmm ... kayaknya Mas perlu hati-hati ke depannya. Istri Mas udah waow banget."


"Kenapa gitu? Bukannya kamu malu gara-gara aku meledak tadi?"


Mas Arlan menggeleng. "Enggak, Mas malah seneng. Istri Mas kan lagi belain Mas hehe. Tapi agak khawatir sih sama Selli dan calon anak kita."


"Ya, namanya spontan, Mas. Aku aja kaget, tapi udah terlanjur. Makanya lanjut aja. Lagian itu perempuan bener-bener ngeselin. Satu jenis tuh sama mantan istri kamu. Rasanya pengen aku cubit."


"Cubit doang?"


"Cubit ginjalnya!"


"Allahu'akbar! Istigfar, Dek."


"Becanda, Mas."


Mas Arlan menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tertawa kecil dibuatnya. Lalu aku mengintip keadaan putriku di belakang. Ia sedang merebahkan diri di atas jok mobil sembari bersenandung kecil bersama bonekanya. Mungkin sebentar lagi akan terlelap dengan sendirinya. Ya memang sudah ciri khasnya, kalau sudah asyik bersenandung, ia akan tertidur setelahnya.


Anak yang manis.


Deru mobil masih terdengar bising di telingaku. Rasanya belum ada satu hari, badanku sudah dibuat menjadi kelelahan. Belum lagi efek dari morning sickness subuh-subuh tadi memang masih ada. Apalagi kalau berdiam diri seperti ini, efek mual malah semakin terasa. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah lalu tidur beristirahat.


"Dek, kalau lagi hamil jangan benci sama orang lho."


"Kenapa emang, Mas?"


"Takut anak kita malah ketularan orang itu."


"Ih, jangan! Amit-amit. A-aku nggak benci orang kok, kesel doang. Dan membela yang benar."


"Iya, iya, Mas paham. Cuma ngingetin aja."

__ADS_1


"Iya, Mas. Makasih."


Tidak! Jangan sampai anak-anakku memiliki sifat seburuk mereka. Membayangkannya saja membuat bergidik. Berarti, mulai sekarang aku tidak boleh memendam rasa benci terhadap siapapun. Hanya saja, bagaimana aku bisa membuang segala macam rasa kesalku? Ah ... kalau begitu aku berusaha untuk tidak bertemu orang-orang seburuk itu. Ya, aku memang bukan orang baik. Namun aku tidak segila mereka. Dan untuk anak-anakku, semoga tidak mengambil hal buruk pada diriku ataupun Mas Arlan.


****


Beberapa saat kemudian, akhirnya kami sampai di kediaman paling nyaman dan aman. Benar seperti yang sempat aku katakan, Selli tertidur sangat pulas. Sehingga Mas Arlan bergerak membuka pintu belakang. Ia meraih tubuh kecil Selli dan menggendongnya. Lalu kami berjalan bersama untuk masuk ke dalam rumah.


Tiga kali bunyi bel yang kami tekan, membuat Bi Onah tergopoh-gopoh untuk membukakan pintu. Terbukti dari suara langkah yang terdengar buru-buru sembari menjawab berkali-kali dari dalam sana. Pastinya beliau tidak enak jika harus membuka terlalu lama. Apalagi ketika kami tidak ada, pintu dikunci secara manual dari dalam.


"Makasih, Bi," ujarku.


"Sama-sama, Mbak Fanni dan Den Arlan," jawab beliau. Kemudian pergi meninggalkan kami.


Aku bergerak lebih cepat untuk menuju toilet. Sesampainya disana, aku masuk dan melakukan ritual tertentu. Tentu saja dengan gerakan serba hati-hati. Aku juga membuang rasa mualku yang sempat melanda, karena sejak tadi aku menahan rasa ingin hoek. Setelah itu, aku membasuh wajahku dan keluar kembali.


Rasanya lebih lega. Mungkin tinggal menghilangkan kepenatan yang ada dengan beristirahat. Aku mengambil langkah lagi untuk naik ke lantai dua, yaitu kamarku bersama Mas Arlan.


"Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Mas Arlan yang baru saja menuruni tangga.


"Enggak kok, Mas. Mual biasa. Kamu mau kemana?" tanyaku kembali.


"Mau ngecek kondisi kamu. Selama tujuh hari kamu ikut kecapekan. Mas khawatir."


"Udah nggak apa-apa, Mas. Istirahat aja kalau gitu. Jangan lupa cuci tangan dan ganti baju. Lagi booming soal virus lho."


"Ya semoga nggak menimpa keluarga kita, Dek. Makanya lebih menjaga diri dan kebersihan. Jangan panik dan hati-hati."


"Iya, Mas. Biar virusnya nyerang orang-orang jahat."


"Eh! Jangan gitu juga, nggak baik doain sesama manusia. Orang jahat harus dido'ain yang baik-baik. Siapa tahu nggak jadi jahat lagi."


"Iya, Mas. Siap,siap."


Kami berdua naik ke atas. Tampaknya Mas Arlan sudah menempatkan Selli untuk tidur di kamarnya sendiri. Sehingga kami masih memiliki waktu untuk berdua saja. Yah, tidak buruk juga. Aku bisa menghibur hatinya yang mungkin masih merasa sedih atas kepergian sang ibu.


Untuk ibu mertuaku, semoga tenang di surga Tuhan. Beliau orang yang baik. Beliau berhasil membuat keempat anaknya menjadi orang yang hebat. Hanya saja, ada beberapa orang yang merusak hidup sang anak. Sangat miris, apalagi orang kaya rentan diserang orang lain yang iri ataupun tamak. Namun atas kepergian beliau, satu persatu anak-anak beliau sudah saling memaafkan. Mungkin hanya Nyonya Dahlia dan Nyonya Kelly yang belum bisa menerimaku. Sampai akhir tadi, Nyonya Kelly juga belum berucap apapun padaku. Namun tak apa, yang terpenting adalah suamiku di mata mereka.


"Tidur dulu, Dek."


"Iya, Mas. Sama kamu ya? Mumpung kamu juga masih dikasih izin."


"Kangen Mas ya?"


"Enggak juga sih."


"Bohong banget."


Kemudian kami merebahkan diri bersama di atas ranjang kami. Saling menatap langit-langit kamar dan terdiam dalam beberapa saat. Sampai akhirnya Mas Arlan mulai menggerakkan telapak tangannya untuk membelai anak didalam kandunganku. Bahkan ia mengecup pipiku beberapa kali.


"Kamu masih sedih, Mas?"


Mas Arlan tersenyum tipis. "Masih, Dek. Rasanya masih nggak percaya. Dulu Mas sering nitip Selli ke Mama. Selepas Nia pergi, kalau Mas Arlan kerja gitu. Apalagi baru-baru itu, Mas belum pake jasa babysitter. Hebatnya Mama nggak pernah ngeluh, malah seneng," ujar Mas Arlan.


"Pasti, Mas. Namanya seorang Nenek ke cucu."


"Yang menjadi penyesalan Mas adalah ketidakhadiran kita selama satu tahun dihadapan beliau."


Aku memejamkan mata sejenak. "Itu kesalahanku, Mas. Seandainya aku nggak ikut campur masalah kalian, pasti kamu nggak memutuskan hubungan keluarga."


"Enggak, Sayang. Mas juga udah nggak tahan, dan beberapa kali Mas coba hubungi Mama. Tapi koneksinya juga diputus. Mungkin udah takdir kami seperti ini, Dek. Meski begitu, Mas sangat berterima kasih karena Mama pergi setelah semua masalah selesai."


"Iya, Mas. Mama pasti udah tenang di alam sana."


"Amin."


Aku memeluk tubuh Mas Arlan. Berharap dengan pelukanku, beban kesedihan di hatinya bisa berlalu pergi. Sedangkan benakku malah terbayang beberapa hal lagi. Tentang Nyonya Dahlia yang belum menerima kekalahan dan menyimpan dendam terhadap kami. Belum lagi soal Selli yang beberapa kali membahas Nia secara tiba-tiba. Namun, aku belum berani berucap apapun tentang semua itu pada Mas Arlan. Setidaknya aku harus menunggu hatinya berangsur membaik.


Bersambung ....


like+komen ya

__ADS_1


__ADS_2