Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Kabar dari Canberra


__ADS_3

Pada akhirnya, Riska memutuskan untuk pulang ke rumah keluarga besarnya. Bantuan yang aku berikan hanya sebatas ini saja. Bodyguard juga sudah aku dapatkan untuk menemaninya kemana pun. Aku tahu, keluarganya yang sekaligus adalah kakak iparku, bisa mencarikan pengawap untuknya. Namun sepertinya, Riska tidak ingin mengatakan masalah pribadinya itu kepada sang ayah maupun ibu. Sehingga, aku memutuskan untuk mengupayakan hal itu.


Sementara itu, hari sudah berselang kembali. Puasa hari ke lima. Alhamdulillah, aku bisa melaluinya, meski ada dua hari yang bolong karena kelelahan dan lemas badan. Dengan segenap niat dan juga tekad. Meski masih harus memberikan--ASI, namun aku bisa kuat.


Aku termangu diam di ruang keluarga sehabis salat tarawih di rumah. Aku memiliki Sella yang masih kecil, sehingga tidak bisa berbaur dengan ibu-ibu lain di masjid besar komplek elit ini. Sementara Sella tengah tertidur di kasur yang ada disini, aku menyesap segelas teh hangat untuk menemaniku melihat acara televisi. Sedangkan waktu belum terlalu larut, melainkan masih menunjukkan pukul delapan malam. Anak pertamaku masih belajar didalam kamarnya sana. Mungkin.


"Mbak Fanni?" Bi Onah datang dari arah pintu dengan tubuh yang sedikit dibungkukkan.


"Ada apa, Bi?" tanyaku kembali kepada beliau sembari mempersilahkan duduk di tempat ini.


Lantas, Bi Onah mengambil posisi untuk duduk bersila. Beliau membelai halus kepala Sella bak seorang nenek terhadap sang cucu yang masih kecil. "Mbak, tadi ada tamu datang."


Dahiku mengernyit heran. "Siapa yang datang, Bi? Kan aku masih kerja, kenapa dia datang pas aku masih kerja?"


"Emm ... itu, Tuan Gun."


"Mas Gun?" Mataku terbelalak. Aku mengubah posisi tubuhku menjadi lebih tegak. "Ngapain dia, Bi? Terus mama aku gimana?"


"Agak cuek-cuek gitu, Mbak. Kayaknya Ibuk Sarita enggak terlalu suka. Bibi juga enggak tahu mereka ngobrolin apa aja, Mbak."


"Astaga!" Aku menepuk jidatku.


Mas Gunawan datang secara tiba-tiba, bahkan tanpa janji pertemuan denganku. Untuk apa beliau datang pun aku masih belum tahu. Pada saat ibuku bergegas pulang, beliau tidak mengatakan apapun. Memang sedikit cuek, namun aku berpikir biasanya beliau sudah seperti itu. Entahlah, ada apa lagi.


Aku mencoba menenangkan diriku terlebih dahulu. Mencoba membuang pemikiran negatif yang sempat datang. Setelah dirasa cukup tenang, aku mengambil ponsel di sebelah kiri tubuhku. Kutekan tombol-tombolnya dan mencari kontak nomor milik ibuku. Setelah menemukannya, aku melakukan panggilan kepada nomor ponsel tersebut.


"Iya, halo. Assalamu'alaikum," sapa ibuku dari kejauhan sana sembari memberikan salam islam. "Kenapa, Fanni?"


"Wa'alaikumssalam, Ma. Enggak ada apa-apa kok. Pengen telepon aja, Mama udah tidur?"


"Belum, ini habis pulang dari masjid. Kenapa? Nggak biasanya. Sella nggak kenapa-napa, kan?"


"Enggak, Ma. Fanni cuma mau tanya tentang sesuatu."


"Masalah apa? Kakak ipar kamu? Iya, dia tadi dateng, mau nengok keponakannya doang kok."


Aku menelan saliva. "Mama yakin? Mama enggak bilang sesuatu yang aneh, kan?"


"Kamu nggak percaya sama Mama? Enggak bilang apa-apa, Fanni. Yah, cuma bilang kalau jangan ngerepotin kamu dan Arlan aja sih."


"Mama! Kok gitu sih? Nanti jadi masalah lho."


"Halah! Biar dia juga buka mata, buka hati, orang kaya kok ngerepotin orang miskin. Aneh! Intel dia itu banyak Fanni, ngapain sih kalian harus mau dimanfaatin. Biarin, pokoknya kamu tenang aja. Nggak nyampe satu bulan, Arlan bisa pulang."


Aku melepas ponsel dari telingaku. Kutatap segala penjuru ruangan ini. Bingung! Entah bagaimana ibuku berbicara dengan Mas Gunawan. Jika mengingat bagaimana seorang Ibu Sarita, tampaknya bukan sesuatu yang bisa dikatakan baik-baik saja. Lantas, respon bagaimana yang muncul dari hati Mas Gunawan. Aku rasa, beliau datang hanya untuk berterima kasih kepadaku karena berhasil membujuk Riska pulang.


Aku akan merasa senang jika Mas Arlan akan cepat pulang. Namun tetap saja, aku merasa sungkan dan tidak enak hati kepada keluarga besar almarhumah ibu mertuaku. Ini sebab, mengapa aku sempat merasa ragu untuk melibatkan ibuku ke dalam masalah keluarga ini. Mungkin beliau melakukan semuanya demi diriku, namun yang namanya emak-emak itu tidak ada tandingannya. Kali ini aku hanya bisa menghela napas dalam agar lebih tenang. Mungkin esok hari, aku bisa meminta maaf kepada Mas Gunawan dengan benar.


"Ibuk ngomel ya, Mbak?" tanya Bi Onah tiba-tiba. Pertanyaam beliau mampu membuyarkan lamunanku seketika.


"Ah, iya, Bi. Itu udah pasti," jawabku sembari bergerak mengangkat tubuh Sella karena mulai terbangun dari tidurnya.


"Nggak apa-apa, Mbak. Ibuk pasti juga khawatir. Bibi aja yang bukan siapa-siapa, merasa kasihan sama Mbak Fanni. Harus ke sana kemari. Capek ya, Mbak?"

__ADS_1


Aku tersenyum. "Manusia itu tempatnya capek, Bi. Rebahan aja capek kok. Aku sih santai aja, Bi. Toh juga pernah kerja di kantor. Mungkin aku enggak enaknya sama mama-ku, Bi. Beliau yang mesti ngurus bayi."


"Justru, seorang nenek itu malah seneng kalau bisa ikut ngurus cucu, Mbak. Ibuk cuma kasihan sama Mbak Fanni. Ibuk sering curhat gitu sama Bibi, hehe."


"Karna masa lalu aku kurang baik, Bi. Jadi, mama-ku kayak gitu."


Bi Onah hanya tersenyum. Kemudian beliau bangkit dari duduk dan berlalu dari tempat ini. Sedangkan aku masih duduk manis sembari memberikan--ASI--kepada Sella. Aku merasa bahwa aku harus berterima kasih kepada ibuku. Terlepas dari sikap beliau terhadap keluarga suamiku, beliau rela membantuku dalam mengurus Sella, bahkan tanpa pamrih sekalipun. Lalu, beliau juga mengupayakan agar aku dan Mas Arlan tidak kewalahan dalam mengurus masalah dari keluarga besar Harsono.


Ada sisi yang harus aku perbaiki, namun tanpa harus menyalahkan. Setiap orang tua pasti akan melakukan hal yang sama. Siapapun itu, perselisihan yang terjadi diantara besan pasti kerap terjadi didalam kehidupan. Tidak menutup kemungkinan, kedua belah pihak saling membicarakan satu sama lain, bahkan terkesan menjelekkan. Disini, peranku dan Mas Arlan sebagai pelerai diantara keduanya tanpa menyudutkan atau membela salah satu pihak. Yah, semoga saja ibuku ataupun Mas Gunawan tidak menyimpan perasaan semacam dendam.


Malam yang kian larut, memaksaku untuk bangkit. Sebelum berlalu pergi, aku mematikan lampu ruang keluarga ini dengan membawa Sella yang terus ada di gendonganku. Setelah itu, aku keluar. Tampak Bi Onah yang hendak keluar, sepertinya untuk memastikan kunci pintu gerbang. Sedangkan aku, aku kembali melanjutkan langkahku menuju lantai dua dimana kamarku berada.


Setelah selesai menapaki anak tangga, aku ingin memastikan keadaan Selli terlebih dahulu. Aku mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam secara pelan-pelan.


Tampak Selli yang tengah tengkurap. Ia sudah tertidur pulas meski posisinya seperti itu. Aku tersenyum dibuatnya, melihat imutnya gadis cantik satu itu. Kemudian aku meletakkan tubuh Sella dibagian ranjang yang kosong. Aku mengatur posisi tidur Selli dan menutup tubuhnya dengan selimut. Tak lupa, aku kecup pipinya beberapa kali. Setelah selesai, aku menyalakan lampu tidur.


Kugendong Sella kembali dan berjalan untuk keluar dari kamar ini. Tak lupa kumatikan lampu kamar Selli yang masih menyala benderang. Malam semakin gelap, meski masih pukul setengah sembilan. Sepertinya, sebentar lagi akan turun hujan. Seandainya benar, maka rintiknya akan menemaniku yang hanya bersama putri-putriku. Aku terenyak ketika membayangkan Mas Arlan. Biasanya keromantisan akan terjadi jika kami bersama. Hujan adalah suasana yang sangat disenangi oleh Mas Arlan. Katanya, rintiknya mampu memberikan suatu kesegaran, entah bagi alam ataupun jiwa setiap insan.


Setelah sampai di kamar, aku sengaja menidurkan Sella di sampingku, karena Selli ketiduran di kamarnya sendiri. Dengan sangat hati-hati, aku meletakkan tubuh Sella disana, baru kemudian aku ikut membaringkan tubuhku yang besar di sampingnya. Air mataku menetes pada saat menatap bagian kosong yang biasanya ada Mas Arlan di sana. Kubelai halus bagian itu dengan sejumlah kerinduan yang datang menghampiri hatiku. Aku tetap bersyukur atas keadaanku, namun sesekali aku seperti ini, menangis karena rindu kepada suamiku tercinta.


Lalu, tiba-tiba ponselku berdering. Aku menariknya dari dalam kantong daster karena belum sempat aku keluarkan dari sana. Perlahan senyumku merekah pada saat menatap layar benda kotak yang pintar tersebut. Nama 'My Hubby' tercantum disana, tentu saja adalah Mas Arlan yang tengah melakukan panggilan video. Ia seolah tahu dan merasakan apa yang tengah menerpa hatiku perihal kerinduanku kepadanya.


Senyum manis itu kini muncul, meski harus melalui layar ponsel dan ia masih jauh di sana. Aku balas dengan senyuman yang sama, meski tidak semanis milik dirinya. "Assalamu'alaikum, Dekku sayang," sapanya untuk diriku.


"Wa'alaikumssalam, Mas. Kok belum tidur? Disana uda malem banget kan ya?" tanyaku sembari memposisikan diriku agar lebih nyaman dan bisa melihat Mas Arlan lebih leluasa.


"Mas kangen kamu, Dek. Kangen kalian semua." Sepertinya Mas Arlan tengah meringkuk di atas sebuah ranjang milik hotel yang ia sewa. Posisinya seperti tengah tertidur miring.


"Aku juga, anak-anak juga. Kamu kapan pulang, Mas? Aku habis nangis tauk."


"Ih, udah bapak-bapak kok nangis sih?"


"Yee, kamu udah emak-emak juga nangis. Hayo!"


"Aku adalah wanita yang lemah, Mas. Jadi wajar! Meskipun udah kolot, emak-emak, ataupun gendut. Intinya aku tetep wanita, dan wajar dong. Masa' bapak-bapak yang nangis."


"Hmm, ... iya, iya. Tapi Mas kangen banget sama kalian, enggak tahan lagi. Mana tadi kena omel Mama lho."


"Hah? Mama ngomelin kamu?"


Mas Arlan hanya mengangguk dan diiringi suara cengingisan. Setelah itu, ia menceritakan perihal omelan dari ibuku yang ia dapatkan. Kata Mas Arlan, ibuku berharap supaya ia cepat pulang dan abaikan saja soal tugas yang menurut ibuku tidak masuk akal. Bahkan, Mas Arlan mendapat ancaman dari beliau, jila tidak lekas pulang, maka akan membawaku dan orang-orang di rumah ini untuk pulang ke rumah beliau.


Aku tertegun diam. Ada bagian yang membuatku tidak enak hati, namun ada yang membuatku justru tertawa. Sebegitu besarnya, beliau mengkhawatirkan kami meski terkadang malah bersikap dingin dengan Mas Arlan. Terlebih, saat mengingat beliau membicarakan tentang Mas Gunawan. Ibuku tidak ingin kami, bukan hanya diriku saja, melainkan juga Mas Arlan agar tidak dimanfaatkan oleh pihak keluarga Harsono.


Baiklah, aku tahu maksud dari ucapan ibuku. Hanya saja, cara penyampaian beliau mengarah ke julid bukan bicara baik-baik.


Aku berdeham. "Jadi, Bi Onah sama Pak Edi juga mau dibawa Mama ceritanya?" tanyaku kepada Mas Arlan lagi.


Ia pun terkekeh, bak merasa geli akan pertanyaan yang tulus muncul dari benakku. "Mungkin, Dek. Orang Mama bilang seisi rumah kok. Lagian kalau kalian dibawa pulang, Bi Onah sama siapa? Ya pasti dibawa, Dek," jawab Mas Arlan.


Aku tertawa kecil. "Maaf ya, Mas. Mama-ku emang suka begitu. Kadang terbilang over, tapi beliau punya maksud baik kok."


"Nggak apa-apa, Sayang. Justru Mas seneng karna diperhatiin kayak gitu. Yah, walaupun Mas dikatain liburan bukan kerja haha."

__ADS_1


"Iya, Mas. Mama sempet ngomong kayak gitu tauk. Ya, aku udah ingetin sih. Tapi, ... tahu sendiri beliau kayak gimana. Gengsinya besar."


"Apapun itu, Mama patut kita hormati, Dek. Mas paham kok, Mas nggak akan ambil hati omongan Mama yang agak nyakitin, karna dibalik itu ada maksud baik. Kamu enggak perlu merasa nggak enak sama Mas. Kita berdua sama-sama anak Mama."


"Kamu anaknya Mama yang umurnya nggak selisih jauh ya, Mas."


"Ya ampun, Dek. Jangan bawa-bawa umur dong."


Aku tertawa kecil. Kulihat lebih dalam lagi wajah Mas Arlan. Tenang, rasa rinduku bisa sedikit terobati. Meski kami saling terdiam beberapa saat, aku merasa ada sejumlah cinta yang ia kirimkan kepada kami dari udara Canberra menuju Indonesia.


Dugaanku mengenai hujan pun benar. Kini rintiknya terdengar, meski tidak terlalu deras. Suasana ini menambah suatu kesyahduan yang memupuk rasa rindu lagi. Oh, seandainya Mas Arlan ada di sampingku.


"Dek, kangen ndusel-ndusel kamu."


"Apaan tuh ndusel-ndusel?"


"Hujan, kan? Anget kalau ada di samping kamu sambil ...."


"Sambil apa, Mas?"


"Enggak hehe."


"Dasar! Makanya cepet pulang."


"Siap Mas usahain sebentar lagi kok. Kamu puasanya gimana?"


"Alhamdulillah lancar, Mas. Tapi ada bolongnya sih."


"Nggak apa-apa, kamu kan masih ngasih--ASI, Dek."


"Emm, ... gimana mereka, Mas? Udah ada info?"


"Udah, Mas udah berhasil ketemu, Dek."


Mendengar jawaban yang tidak terduga itu, aku langsung membangunkan diri dari posisi berbaring. Aku menatap Mas Arlan lebih tajam melalui layar ponsel tersebut. Namun berbeda dengan diriku yang serius, ia malah tertawa. Aku rasa, ia merasa lucu atas responku yang berlebihan.


Akhirnya aku memutuskan untuk berbaring lagi. Kukerucutkan bibirku tidak peduli, namun masih berkata meski dengan nada yang jutek sekali, "maksud kamu gimana sih? Kamu ngerjain aku ya?"


Mas Arlan menggelengkan kepala. "Mas serius, Mas udah ketemu sama William dan ibunya, Dek," jawabnya.


"Terus?"


Mas Arlan menghela napas dalam. "Masih ada sedikit kendala, Sayang."


"Apa itu?"


"Membujuk pulang orang yang udah kecewa parah bukan perkara mudah, Sayang. Apalagi mereka udah punya kewarganegaraan di sini."


"Aku nggak tahu gimana cara kamu nemuin mereka kayak gimana, Mas. Tapi, kalau kamu pun bisa melakukannya, aku pikir kamu juga bisa membujuk mereka. Semangat, Mas! Biar cepet pulang. Aku janji bakal penuhin permintaan kamu kalau pulang cepet. Aku udah belajar masak dikit-dikit kalau pas sahur."


"Mas maunya emm, ... special services, Dek! Harus dan wajib!"


"Apaan?!"

__ADS_1


Bersambung ....


Budayakan like + komen.


__ADS_2