
Tidak sampai sepuluh menit, sampailah aku di kediaman orang tuaku. Aku turun dari mobilku setelah memarkirnya disudut pekarangan rumah. Kemudian melangkah kearah pintu rumah dan membiarkan gerbang besi rumahku tidak terkunci. Hari juga belum terlalu malam, jadi aku membiarkannya.
Suara jangkrik bersahut-sahutan mengisi setiap sudut alam dan memecah keheningan. Aku menengok sejenak ketempat biasa mobil Kak Pandhu terparkir. Kosong, sepertinya ia tidak ada dirumah. Aku rasa ia sedang mesra bersama Febi malam ini.
TOK... TOK.. TOK
Aku mengetuk pintu rumah ini sebanyak tiga kali. Maklum saja, rumah orang tuaku masih bergaya klasik yang besar dan berlantai satu.
Tidak lama kemudian, gagang pintu terdengar dibuka oleh seseorang. Yeah, ibuku disana. Beliau membukakan pintu untukku dengan raut wajah tampak terhera-heran padaku.
“Fanni?” kata beliau.
“Ya Ma,” jawabku.
“Ada apa? Tumben banget?”
“Tumben kenapa sih Ma?”
“Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba kesini tanpa disuruh.”
“Emang Fanni nggak boleh pulang gitu?”
“Ya nggak gitu, mama heran aja sama kamu.”
“Hmm... terus nggak disuruh masukkah?”
“Ooo... iya ya, mama lupa sayang hehe.”
“Wajar sih, udah umur.”
“Hiisss.”
“Hehe.”
Aku berjalan masuk kedalam rumah bersama ibuku. Sepi sekali, tidak terlihat batang hidung Kak Pandhu maupun ayahku. Sebenarnya aku cukup penasaran, namun aku enggan untuk bertanya ataupun berkeliling rumah mencari keberadaan ayahku.
Aku memilih menuju kamar lamaku. Kamar kesayanganku sebelum pindah ke apartemenku. Ruangannya masih terjaga rapi dan bersih. Itu semua karena hobi ibuku yang sangat gemar berberes-beres. Dan ya, aku tau ibuku masih berharap aku akan kembali tinggal disini lagi bersama mereka. Namun, bagiku itu tidak mungkin.
Kubaringkan tubuh besarku pada ranjang yang besar, mungkin seukuran lebar badanku. Letih rasanya. Banyak hal yang terjadi dan beberapa diantaranya berhasil membuatku tercengang hebat.
“Sayang?” ujar ibuku sembari melangkah masuk kedalam kamar tempatku berada, beliau membawa segelas orange juice dan satu piring kecil cookies coklat.
“Ya Ma,” jawabku.
“Capek ya?”
“Dikit Ma.”
“Yaudah minum ini dulu abis itu mandi.”
“Makasih Ma.”
“Iya, mama tungguin didepan tv ya?”
Aku mengangguk, kemudian ibuku berlalu. Aku meneguk orange juice dari ibuku. Rasanya segar sekali, entah karena aku haus atau memang hasil karya dari tangan ibuku. Sudah lama juga aku tidak dimanjakan seperti ini. Mungkin, itulah yang membuatnya terasa berbeda.
Setelah memakan dua keping cookies, aku beranjak kearah almari plastik berukuran sedang. Benda tersebut berisi sejumlah pakaian luar maupun dalam yang memang sengaja aku tinggalkan.
***
Waktu berjalan sebagaimana mestinya, jarum jam perlahan maju keangka delapan. Sedangkan ayah maupun kakakku belum kunjung terlihat. Hanya aku dan ibuku yang berada dirumah ini. Bercengkerama bersama sambil menyaksikan acara televisi. Disertai aktivitas mengemil cookies yang sudah ditempatkan pada sebuah toples.
Ibuku terlihat sangat menikmati acara tersebut. Tidak mengherankan, jika seorang emak-emak memang sangat
menggemari sinetron. Berbanding terbalik denganku, yang sudah sngat muak dengan acara yang begitu-begitu saja. Menurutku, memang tidak masuk akal jalan ceritanya. Meskipun, aku bukan seorang penulis handal.
“Sayang?” ujar ibuku kemudian.
“Ya Ma,” jawabku.
“Kamu ada masalah?”
“Enggak, nggak ada kok Ma.”
“Nggak mungkin.”
“Ihh... dibilangin.”
“Nggak mungkin, Mama nggak percaya! Coba ceritain.”
“Nggak ada Mama, serius deh.”
__ADS_1
“Jangan bohong kamu.”
“Nggak Mama.”
“Bohong.”
Aku mendengus kesal. Kuakui naluri seorang ibu memang sangat kuat terhadap anaknya. Aku juga sudah menduga akan dicerca pertanyaan seperti ini. Namun, herannya aku tetap pulang kerumah ini. Oh, apakah aku salah langkah?
Menurutku tidak, jika aku sendiri didalam apartemenku pasti aku sangat kalut dan pusing sendiri. Akan lebih baik jika aku memiliki teman untuk berbicara. Setidaknya, sejenak aku melupakan beberapa peristiwa mencengangkan.
Meski begitu, aku tidak akan mudah menceritakan masalahku pada ibuku yang sangat galak. Apalagi mengenai Mas Arlan. Aku tidak ingin diceramahi panjang kali lebar yang akan membuat kepalaku semakin pusing. Karena, ibuku juga sudah memperingatkanku namun sama sekali tidak aku turuti.
TOK... TOK... TOK...
Terdengar suara daun pintu yang diketok. Aku rasa itu ayah atau Kak Pandhu. Aku menghiraukannya dan pura-pura tidak dengar. Badanku sudah cukup berat untuk berdiri .
“Bukain Fann,” perintah ibuku.
“Nggak ah, Mama aja deh,” jawabku menolak.
“Yeee... disuruh orang tua kok gitu?”
“Badan Fanni berat Ma.”
“Owalah alesan aja kamu.”
“Hehe.”
Akhirnya, ibuku yang mengalah dan berjalan kearah pintu untuk mengetahui siapa yang datang. Sedangkan aku, begitu kurang ajarnya bersender enak-enakkan diatas sofa sembari asyik mengunyah dan bermain ponsel.
Ya, meski tidak ada satupun orang yang berkirim pesan padaku. Bahkan Mas Arlanpun tidak. Khawatir itu pasti, kecanggungan pasti akan datang didalam pertemananku dengan Mas Arlan. Ketulusan hati Mas Arlan tidak bisa aku balas dengan baik. Padahal seorang aku yang sangat jelek seperti ini. Begitu tidak tau diri bukan?
“Anak gadis Papa tumben pulang?” ujar Ayahku yang sudah berada diambang pintu menuju tempatku berada.
“Tumben Dek?” sambung Kak Pandhu dari arah yang sama dengan Ayahku. Mereka berjalan yang mungkin hendak menghampiriku.
“Tumben, tumben... aneh apa kalau aku pulang?” jawabku cuek.
“Kan apa kata Mama, kamu aneh hehe,” jawab ibuku pula.
“Ada apa anak gadis Papa?”
“Serius Dek?”
“Iya Kak, Pa, Ma... Fanni capek aja, rada kaget ama kerjaan Fanni yang baru.”
Aku tidak tau pasti apa yang ada dipikiran masing-masing anggota keluargaku kini. Entah rasa khawatir atau penasaran alias kepo. Semua orang hanya menatapku penuh curiga, memberikan kesan ancaman supaya aku menceritakan yang sebenarnya.
Namun, hal itu tidak membuatku luluh. Aku tidak sebodoh itu, menceritakan sesuatu yang mungkin tidak mereka sukai. Ya! Mas Arlan. Di mata orang tuaku, Mas Arlan hanya seorang duda yang tidak boleh aku kencani. Apalagi karena broken home yang tidak mereka tau masalah yang sebenar-benarnya. Belum lagi, sudah memiliki anak.
Jika aku menceritakannya, bisa-bisa bom otomatis dari bibir manusia meledak-ledak tidak karuan. Siapa lagi kalau bukan ibuku yang super duper rempong, galak dan tegas.
“Yasudah makan dulu nih,” ujar Ayahku sembari meletakkan sekotak martabak manis jumbo.
“Emang Papa sama Kakak darimana?” tanyaku.
“Biasalah sayang, abis nongkrongnamanya lelaki kok.”
“Udah umur juga ih, nggak mau kalah.”
“Hahaha biar Papamu ini awet muda lho sayang.”
Kami tertawa bersama, sembari menikmati secangkir kopi susu yang baru saja dibuat oleh ibuku. Tentunya dengan martabak manis tersebut. Indah bukan? Selama ini hanyalah aku saja yang merasa terabaikan. Aku egois dan keras kepala, karena merasa paling berbeda. Apa lagi kalau bukan fisikku yang bertubuh besar ini.
Pukul setengah sepuluh akhirnya kami sekeluarga menyudahi kebersamaan singkat tersebut. Ayah dan Ibuku beranjak ke kamar. Begitupun aku ataupun Kak Pandhu.
Aku merebahkan tubuhku pada ranjang lamaku. Benakku menerawang jauh dengan bola mata yang asyik menatap langit-langit kamar. Aku terlena dalam lamunan. Bahkan ponsel yang berbunyi karena ada pesan masukpun aku biarkan.
“Dek?” ujar seseorang memanggilku dari balik pintu kamar. Aku rasa ia adalah Kak Pandhu.
“Iya Kak,” jawabku dan bergegas membukakan pintu untuknya.
Benar saja, Kak Pandhu berada disana. Aku merasa sedikit heran, kupikir Kak Pandhu sedang asyik berada dikamarnya sendiri.
Aku mempersilahkan Kak Pandhu masuk kemudian diiringi aku. Aku membiarkan pintu setengah terbuka. Lalu aku duduk ditepian ranjang dan Kakakku berada di bangku rias yang masih berada ditempatnya seperti sedia kala.
“Kenapa Kak?” tanyaku menyelidik.
“Kamu yang kenapa?” tanya Kak Pandhu kembali.
“Nggak apa-apa kok.”
__ADS_1
“Bohong!”
“Nggak percayaan sih.”
“Ngomong aja sama Kakak, kasih kesempatan gue biar jadi kakak yang baik, dek.”
Mengejutkan sekali. Meski sedikit terdengar menggelikan, tampaknya Kak Pandhu memang serius dengan ucapannya. Aku masih terdiam menatapnya. Masih ragu-ragu ingin mencurahkan padanya atau tidak.Jujur saja aku masih merasa malu.
Tanpa bergeming sedikitpun, KakPandhu masih saja menatapku. Tampaknya ia masih berharap aku mau untuk menceritakan masalahku padanya. Canggung sekali. Ya! Bagiku masih ada rasa canggung diantara kami. Sudah lama kami saling menjauh.
Tidak! Akulah yang menjauh dari Kak Pandhu dengan egoisnya. Aku sangat kekanak-kanakan.
“Ayolah Fann,” bujuknya lagi.
“Bukan masalah besar kok Kak,” jawabku.
“Fann? Kamu masih nggak bisa percaya sama Kakak?”
Aku terdiam. Haruskah aku mengutarakannya? Mengingat orang tuaku yang engga jika aku masih berhubungan
dengan Mas Arlan. Aku takut Kak Pandhu akan seperti itu. Rasanya tidak rela saja, jika Mas Arlan dibenci oleh keluargaku. Entahlah apa alasannya.
Akhirnya aku memutuskan untuk sedikit mencurahkan isi hatiku. Aku juga tidak mungkin menyembunyikannya terus menerus. Apalagi kemauan keras Mas Arlan yang ingin menungguku. Dan yeah, aku takut Mas Arlan memulai langkahnya dengan mendekati keluargaku.
“Tapi Kakak janji ya jangan bilang Papa, Mama,” kataku meminta persetujuan pada Kak Pandhu.
“Ya, Kakak janji. Ada apa?” jawabnya disertai pertanyaan menyelidik.
“Mas Arlan Kak.”
“Kenapa dia?”
“Aku abis di-ditembak sama dia.”
“Ditembak? Kok nggak mati?”
“Kakaaaak!”
“Hahaha iya iya becanda Dek, Kakak pikir dia temen kamu doang. Pas ulang tahun kamu, dia cuman ngomong pengen bales kebaikan kamu udah mau jaga anaknya gitu.”
“Aku juga kaget.”
“Kamu suka dia?”
Aku menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan Kak Pandhu. Tengkukku terasa kak kala mengingat bagaimana Mas Arlan mengutarakan perasaannya dengan sangat hati-hati. Aku masih merasa
bersalah.
Mas Arlan sangat baik padaku. Sekarang ini aku terlihat seperti seorang buruk rupa yang tidak tau diri. Sejujurnya, aku merasa sayang jika hubunganku dengan Mas Arlan akan hancur. Aku pasti akan sangat merasa kehilangan.
“Serius kamu nggak suka dia?” tanya Kak Pandhu lagi.
“Mungkin nggak,” jawabku.
“Jangan plin-plan Fanni, pikirin lagi. Mustahil kalau kamu ikut mengurus anaknya dengan suka rela.”
“Aku cuman kasian kok.”
“Nggak, Kakak rasa kamu punya hati lain. Tapi harus kamu ingat ya Dek, kalau kamu jadi sama Arlan, banyak beban yang harus kamu tanggung.”
“Maksud Kakak?”
“Dia seorang duda Dek, Papa dan Mama pasti nggak akan setuju... belum lagi akibat dari broken home bukan cerai mati dan Arlan punya anak satu. Pikirin lagi, Kakak sih nggak mau ikut campur, namanya hati pasti susah.”
Suka ya? Mungkinkah aku memiliki perasaan itu untuk Mas Arlan. Memang tidak wajar, jika seorang wanita bisa sebegitu suka relanya mengurus anak pria tersebut. Apakah mungkin ada perasaan tersendiri untuk Mas Arlan yang tidak aku sadari?
Tidak! Itu tidak mungkin. Aku hanya kagum padanya. Sosok pria kuat yang bisa melakukan pekerjaan sekaligus menjadi single parent untuk anaknya. Itu tidak mudah dan aku hanya kagum tentang itu.
“Yaudah tidur gih udah malem,” ujar Kak Pandhu.
“Iya Kak, janji ya jangan bilang Papa, Mama,” jawabku.
“Iya, kamu juga harus mikirin mateng-mateng.”
“Iya Kak.
Kak Pandhu beranjak pergi dari kamarku. Setelah menutup pintu, aku kembali berbaring diatas ranjang. Lagi-lagi benakku melayang terbang pada ingatan yang sudah berlalu. Bola mataku masih menyusuri setiap sudut langit-langit kamar.
Sampai akhirnya, aku tertidur dengan sendirinya.
Bersambung....
__ADS_1