
"Haaaaaah?" Ujarku spontan. Aku merasa kaget luar biasa mendengar penjelasan Celvin mengenai masalah proposal.
"Kenapa Fanni?" Tanyanya kembali.
"Tapi kan Pak, saya nggak pantes buat dapetin itu."
"Kata siapa tidak pantas?"
"Ya maksud saya, banyak orang lain yang bisa dapetin ini Pak."
"Saya cari orang seperti kamu!"
Sial! Aku harus bagaimana. Pantaskah aku menerima ini semua? Lalu bagaimana kata orang lain nanti?
Aku benar-benar tidak bisa merasa percaya diri menerima permintaan ini. Namun, tampaknya Celvin tetap bersikeras. Otakku terus berputar mencari alasan untuk menolaknya. Tentunya alasan yang bagus dan tidak menyinggung perasaannya serta menyebabkan kerugian didalam pekerjaanku.
Aku terus menatap Celvin dengan ekspresi bagaikan seekor kucing yang meminta ikan. Semua usahaku ternyata tidak membuahkan hasil. Yang ada Celvin terus menatapku tajam dan tegas.
"Ayolah Pak," Ujarku masih berusaha meyakinkan kerasnya hati Celvin.
"Nggak Fanni ini sesuatu yang bagus harusnya kamu seneng," Jawabnya.
"Aduh Pak saya kan jelek, gendut, kerja juga nggak bagus-bagus amat."
"Jelek? Kenapa kamu selalu merasa seperti itu Fanni?"
"Karena memang begitu, makanya saya nggak pantes dapetin semua ini."
"Halah ada-ada aja kamu, saya kasih satu nasehat ya buat kamu. Seharusnya kamu nggak melihat seseorang hanya dengan pandangan fisik Fanni, sekalinya kamu seperti itu otomatis kamu selalu menilai kadar kecantikan mereka setiap bertemu seseorang. Kamu bakal bandingin sama diri kamu dan rasa percaya diri bisa menciut seketika."
Deg!
Rasanya malu juga, jika harus diceramahi Celvin. Semua ucapannya memang benar, karena ia hanya bisa berujar. Ibarat kata, apa yang seorang pangeran pahami dari seorang pemulung. Ia tidak berada dalam posisiku, tidak pernah mengalami bagaimana aku melalui segala caci maki hanya karena bentuk fisik. Apalagi aku masih saja melajang di usia tiga puluh tahun.
Memangnya aku mau???
Seandainya diet kerasku selama dua tahun berhasil tanpa merasakan sakit dan gangguan bulimia. Pastinya saat ini aku sudah cantik, menikah, dan juga percaya diri.
"Saya harap, kamu mempersiapkan diri mulai besok," Lanjut Celvin.
"Iya Pak," Jawabku.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, dan aku sudah bernegosiasi dengan Celvin didalam ruangannya selama satu jam. Aku harus mempersiapkan diri mendengar perkataan orang nantinya ketika aku kembali ke dalam ruang kerjaku.
Setelah pamit keluar, aku berjalan kembali ke ruangan kerja. Kepalaku menunduk, jujur saja aku masih merasa bingung dengan permintaan Celvin. Memang benar, hal tersebut adalah idaman banyak wanita dan tentunya jauh lebih pantas dibandingkan aku. Lalu mengapa ia memilihku?
Oh shit! Aku harus bagaimana? Aku ingin sekali menolaknya, meski nyatanya Celvin tetap menginginkan hal tersebut.
__ADS_1
"Duh bikin pusing aja!" Gumamku lirih.
Benar saja, ketika aku melangkah masuk kedalam ruanganku. Semua orang menatapku nanar seolah-olah mereka berkata seharusnya aku yang diminta.
Ya tuhan! Bagaimana jika nantinya mereka akan memperlakukanku ketika aku menerima apa yang Celvin inginkan.
"Duuuuhhhh!!!" Ujarku dengan kencang.
Aku berbalik arah kembali kearah ruangan Celvin. Aku berlarian kecil dengan rasa gelisah melewati setiap koridor kantor. Aku harus menolaknya, aku tidak bisa.
"Heeeehhh mau kemana???" Tanya Mita yang tiba-tiba ada di belakangku. Ia menarik tanganku dengan kuat.
"Emangnya gue harus selalu laporan ya ama loe?" Jawabku.
"Jangan kurang ajar ya. Gue tanya loe ngomongin apa sama Celvin???"
"Rumpi amat sih loe jadi orang!"
"Hei **** loe bawahan gue! Dan gue lagi kasih perintah, ngapain loe bangkang???"
"Serah loe setaaann!"
"Sialan loe ****!"
Aku mengumpat pada Mita tanpa berpikir panjang lagi. Ku kibaskan tangan besarku dengan keras sambil menabrak sisi kiri pundak tubuh Mita yang kecil. Dengan mempercepat langkahku, aku pergi meninggalkannya.
"Tok...Tok... Tok..." Suara ketukan dari jariku di daun pintu ruangan Celvin.
"Masuk," Jawabnya dari dalam.
Krrrreeeettt!
Daun pintu aku buka perlahan-lahan dan hati-hati. Tampak pria tampan tersebut masih sibuk dengan beberapa berkas yang mungkin harus ia tanda tangani.
"Fanni?" Ujarnya kemudian.
"Maaf Pak," Kataku.
"Ada apa?"
"Pak saya mohon saya nggak bisa."
"Enggak Fanni kamu harus bisa!"
"Pak, bagaimana orang akan membicarakan saya apabila saya menerima tawaran bapak?"
"Itu tu salahnya kamu, kamu selalu mendengar omongan orang."
__ADS_1
"Maksud saya kan masih banyak yang pantas. Emm... Mita juga lebih pantas kok."
Celvin menghentikan aktivitasnya dan menatapku seketika. Lalu kedua tangannya saling mengepal menopang dagunya di atas meja.
Dalam waktu lima menit Celvin belum berbicara sama sekali sama halnya denganku. Ia hanya menatapku yang masih berdiri dihadapannya dengan tajam dari atas sampai bawah.
"Fanni kamu cantik, kamu juga ada darah campuran kayak bule. Lalu apa yang membuat kamu minder?" Ujar Celvin kemudian.
"Pak?"
"Fanni kamu pikir saya tidak bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk? Kamu rekomendasikan Mita tadi?"
"Ii... iya Pak."
"Saya tau dia, Mita adalah anak dari sahabat ayah saya. Saya juga tau gosip tentang dia."
Pantas saja Mita bisa naik pangkat jika memang ada koneksi dari ayahku. Sekarang aku tidak heran lagi mengapa ia bisa semudah itu menjadi atasanku.
Aku hanya merasa heran mengapa respon Celvin tentang Mita berbeda dengan Pak Ruddy. Padahal selama beberapa hari dari kedatangan Celvin ke perusahaan, Mita terus mengekor padanya.
Lalu mengapa Celvin malah memintaku?
"Ya itu bagus dong Pak," Ujarku lagi.
"Bagus? Nggak ini nggak bagus, kalau bukan karena ayah saya. Kemampuannya masih kurang, dia masih dibawah seharusnya," Jawab Celvin.
"Tapi kenapa saya Pak?"
"Saya selalu mengecek setiap pekerjaan karyawan sebelum pulang atau kalau ada waktu senggang. Dan lagi kamu sering terlibat dalam kesuksesan setiap proyek,"
"Tapi kan saya..."
"Kamu harus terima, kalau besok nggak bisa. Saya kasih waktu dalam seminggu."
"Pak Celvin...?"
"Fanni saya butuh sekretaris yang sekaligus bisa jadi asisten pribadi ketika bertemu klien nanti, dan proposal yang saya berikan ke kamu harus segera dipelajari karena akan ada proyek baru dan bertemu orang kalangan atas nantinya. Jadi, kamu harus terima tanpa penolakan dan alasan apapun! Yasudah balik sana nikmati ruanganmu yang terakhir kalinya."
Aku hanya bisa menghela nafas pasrah. Sebenarnya aku bingung akan bersyukur atau mengeluh. Jika satu minggu lagi aku akan naik pangkat secara drastis menjadi asisten sekaligus sekretaris untuk Celvin.
Belum lagi meja kerjaku berpindah didekatnya hanya dibatasi kaca. Aku juga harus menemaninya bertemu dan presentasi dengan setiap klien atau rekan kerjasamanya.
Ya Tuhan, Aku harus bagaimana? Aku tidak siap dengan kejutan ulang tahun sebesar ini. Bagaimana nantinya aku menjalani hidup dari tatapan dingin para wanita yang merasa iri?
Bersambung....
Waaaadiiidaauuuww... Pye.. pyee???
__ADS_1
πππππ