Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Bincang


__ADS_3

Dengan perasaan semangat yang menggebu, Fanni menutup salon itu. Sedangkan, Mita sudah berlalu lebih cepat darinya. Ada pengasuhnya yang sibuk membawa barang-barang milik Sella, karena si bayi bule kini berada di gendongannya. Semantara itu, Arlan sudah menunggu mereka bertiga di depan salon tanpa beranjak turun sedikit pun.


Ketika salon sudah ditutup dengan rapat, Fanni, anak dan pengasuhnya segera bergegas. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil Arlan. Karena sekarang ada orang lain di mobil ini, Arlan juga Fanni tidak berani saling menyambut kecupan satu sama lain. Ada rasa malu yang menggelitik hati mereka, sehingga bersikap biasa saja.


"Mas!" Mata Fanni berbinar, senyumnya merekah lebar. "Aku ada kabar bagus, Mas!"


Sembari melaju mobilnya, Arlan menanggapi ucapan istrinya dengan senyum manis tiada terkira. "Ada apaan, Dek? Gosip apaan lagi?" tanyanya kemudian.


"Bukan! Bukan gosip, ini kabar bagus. Kamu apaan sih, demen ngegosip sekarang?"


Arlan tergelak. "Enggak kok. Tapi kalau ada yang mau denger."


"Nggak boleh, dosa itu namanya ngomongin orang."


"Halah, kayak kamu enggak aja."


"Yaaa ... dikit doang sih."


"Hmm ... ya udah mana kabarnya?"


"Nanti di rumah aja."


"Ais! Kalau enggak ada Mbak Yuni, aku kremus kamu, Dek! Udah dibikin penasaran, malahan begitu."


Fanni memberikan cibiran, ia sangat senang menggoda suaminya dengan canda seperti itu. Sedangkan Yuni yang merupakan pengasuh anak mereka, kini justru tertawa. Bagaimana tidak, rasanya cukup menggelikan tingkah laku sepasang suami istri tersebut. Berbeda dengan keadaan di kampung halaman, orang-orangnya justru merasa geli jika diberikan semacam gombalan. Ya, memang tidak semuanya, hanya beberapa saja.


Laju mobil terus menderu, membentuk suara bising yang menganggu telinga. Kemacetan pun terjadi seperti sore hari sebelum-sebelumnya. Sella yang tertidur akibat kelelahan begitu imut dan menawan hati bagi siapa yang menatap. Sedangkan sang kakak justru memilih tinggal di rumah, karena kelelahan belajar di sekolah.


Sampai akhirnya, mereka sampai di tempat tujuan, yaitu rumah mereka sendiri. Dengan susah payah, Fanni turun dari mobil dengan balita berparas bule. Dengan sigap sang pengasuh membantu majikannya itu. Namun, Fanni memberikan penolakan, semua karena ia merasa rindu dengan anak keduanya itu.


"Mbak Yuni istirahat dulu aja. Sama mandi, jadi aku yang bawa Sella," ujar Fanni kepada pengasuh barunya.


"Baik, Non Fanni," jawab Yuni penuh rasa hormat.


Sejauh ini, banyak orang yang merasa nyaman bekerja di bawah naungan Fannisa Oktaviani Geraldine, sang wanita campuran Indo-Belanda yang memiliki kebaikan hati bak malaikat. Itu bagi mereka, entah di mata orang lain. Berbeda dengan sang istri yang begitu disegani, Arlan justru sangat dihindari. Sikapnya yang cuek dan dingin membuat para karyawannya merasa enggan, meski hanya menyapa.


Ya, pada akhirnya mereka mengakui perihal kehebatan seorang Arlan, bahkan tunjangan mereka bertambah karena pesatnya kemajuan perusahaan yang Arlan pimpin. Membuat Celvin Hariawan Sanjaya sangat menyanjungnya, juga menambah insentif bagi karyawan Arlan seperti karyawan kantor pusat.


Orang yang baik akan dipertemukan dengan yang baik, dan mereka membuktikannya. Meskipun masih ada orang yang baik justru bertemu yang tidak baik. Takdir Tuhan memang tidak bisa diprediksi oleh manusia. Para manusia hanya perlu menjalankannya dengan baik, bukan?


"Sayang?" panggil Arlan kepada Fanni.


"Hmm ... kenapa, Mas?" tanyanya kembali.


Arlan menjatuhkan dirinya pada sofa di ruang keluarga yang mereka datangi, untuk sekedar mengurangi rasa letih dan lesu. "Kamu jadi orang kok baik banget, sih?"


"Enggak, biasa aja tuh. Dari dulu aku juga kayak gini kok."


"Enggak, kamu baik banget. Enggak takut dimanfaatin orang apa? Nggak ada tegas-tegasnya kamu tuh, tegasnya sama suami doang."


"Apaan sih? Orang aku biasa aja kok. Lagian ngapain sih kamu pake do'ain yang aneh-aneh, manfaatin? Siapa yang mau manfaatin orang segendut aku?"


"Siapa tahu lho, Dek. Kan, ketegasan itu juga perlu, Sayang. Biar orang enggak anggap kita ini lemah."


"Ya, aku mah tahu tempatlah, Mas. Kalau orangnya baik, masa' mau aku galakin sih? Aneh kamu."


"Ya, enggak gitu juga. Kan, Mas bilang perlu ada, bukan harus setiap saat. Jangan terlalu lembek juga, kita, kan, wajib waspada, Sayang."


"Iya, iya."


Perdebatan seperti itu yang terkadang muncul di antara keduanya. Ada beberapa hal yang menorehkan sebuah perbedaan pandangan. Namun, ketika salah satu sudah tersudut, maka orang itu yang memilih diam. Hal itu menimbulkan rasa iba bagi salah satunya dan merayu agar tidak lagi merasa sebal.


Sama seperti Arlan saat ini, ia melihat wajah Fanni yang mendadak muram. Ia yang tadinya duduk di sofa, kini berangsur menurunkan tubuhnya dari tempat duduk empuk itu. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Fanni, ia bergerak mendekat.


Cup! Kena sudah pipi chubby Fanni oleh ulah bibirnya itu. Sedangkan, sang istri justru meliriknya secara sinis. Ya, Fanni memang merasa kesal. Bagi Arlan, kebaikannya justru menjadi sebuah kesalahan. Namun, pasti pendapatnya tidak diterima oleh sang suami, sehingga ia memilih diam daripada berdebat dalam waktu yang lama.


"Duh, istri si Arlan ngambek nih," ujar Arlan ketika tidak ada senyuman sama sekali di wajah istrinya. "Maaf, maaf, Sayang."


"Nggak mau! Ngapain juga aku maafin kamu, orang kamu enggal salah kok. Aku yang salah," jawab Fanni.


"Jangan cemberut gitu, dong. Mas, kan, cuma khawatir aja sama kamu."


"Iya, iya, enggak. Mandi sana."


"Mandiin atuh."


"Ih, apaan sih?" Dahi Fanni berkerut kesal.


"Ye, orang suaminya minta mandi, kok apaan."


"Ya, kan, kamu udah dewasa, Mas. Inget umur tuh, masa' kayak Selli main minta mandi aja."


"Beda kali, Dek."

__ADS_1


"Sama aja."


"Beda!"


"Sama!"


"Mau coba? Kaya enggak pernah aja kamu mandiin Mas."


"Apaan sih?! Ih! Malu didenger orang tauk!"


Arlan tergelak. Meski membuat hati sang istri kesal, ia justru merasa senang. Apalagi jika sudah muncul bibir perkutut, ingin rasanya ia ikat dengan karet gelang. Pada kenyataannya, apa pun gaya wajah Fanni, baginya tetap imut dan menggemaskan. Saking gemasnya, ia menghabisi pipi Fanni dengan serbuan kecupan manis dari bibir atau hidungnya.


Sudah sebal, lelah dan juga gerah, tentu saja Fanni merasa sangat kesal. Ia mencubit lengan Arlan dengan amat kencang, sampai menorehkan luka merah di kulit sang suami. "Bisa enggak sih nggak kayak gitu?!" tegasnya kepada sang suami.


Arlan menyeringis kesakitan dan memilih menghentikan ulahnya itu. "Sakit lho, Dek. Merah ini lho. Ya Allah, kasar lho jadi cewek," keluhnya.


"Lagian kamu, nggak tahu tempat banget. Tadi, ada Mbak Yuni mau ke sini, jadi pergi dia. Enggak enak kali."


Arlan terkejut. "Hah? Masa', kapan?"


"Barusan, Mas!"


"Hmm ... ya udah deh, biarin. Biar Mbak Yuni jadi saksi cinta kita."


"Hiii ... kok geli sih dengernya."


"Itu hati murni dari hati Mas, Dek."


"Enggak mau, ah. Enggak cocok sama umur."


"Dek, Dek, bawa-bawa umur mulu'."


Arlan mengerucutkan bibirnya. Usia sudah seperti hal terlarang untuk dibahas. Tentu saja, usia mereka terpaut belasan tahun. Hal itu juga yang sering membuatnya minder dengan sang istri. Namun sudah terlanjur cinta, jadi ia mencoba tidak memperdulikan semua itu.


Satu sama menjadi skor di antara rasa kesal dari hati mereka. Fanni bisa membalas dendam atas rasa kesal yang ia terima dari Arlan. Meski sebenarnya ia sama sekali tidak mempermasalahkan tentang usia sang suami, hanya saja menjadi senjata paling handal untuk membalas keusilan Arlan.


Kemudian, Arlan memilih berlalu. Ia hendak mandi, karena hari semakin petang. Sedangkan Fanni bergegas memandikan Sella.


****


Malam ini, Fanni sengaja mengajak keluarganya untuk makan di luar. Penawaran dari Nur Imran tadi siang, membuatnya ingin sedikit mengadakan perayaaan. Restoran cukup fenomenal manjadi pilihan sebagai tempat yang dituju. Tempatnya cukup luas, dan memiliki bilik makan sendiri-sendiri. Meski tidak ada kursi, melainkan permadani untuk alas duduk.


Sementara itu, Arlan masih merasa bingung--mengapa tiba-tiba istrinya yang super hemat itu mengajaknya makan di luar seperti ini. Untuk kabar bagus yang sempat Fanni katakan, belum juga diungkapkan. Namun, ia enggan menanyakan, ia memilih menunggu sang istri menjelaskan.


"Jadi, kamu yang traktir Mas dan si kakak ini, Dek?" tanya Arlan mencoba memastikan. Meski pada akhirnya, dirinyalah yang akan membayar semua pesanan itu.


"Mama, aku mau makan steak ayam boleh, ya?" tanya Sella.


"Enggak ada di sini, Sayang. Ini makanan Indo semua, adanya bebek bakar mau?" tawar Fanni mengabaikan pertanyaan sang suami.


"Mau, Ma, dulu Selli juga pernah tapi lamaaa banget."


"Ya udah, sekarang boleh pesen kok."


Sang pelayan yang datang, membawa catatan pesanan itu, setelah sebelumnya ia meminta agar pelanggannya sabar menanti.


Fanni menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Ia menatap wajah Sella yang sedang bercelotek dengan intonasi kurang jelas. Ada rasa lega, juga bahagia atas pencapaiannya. Terkadang niat membantu tanpa pamrih, justru ada rezeki besar yang mengikuti niat baik itu. Meski begitu, orang yang paling ia segani saat ini adalah sosok Mita.


Mita merupakan pendongkrak bisnis mereka sampai akhirnya akan berpindah ke tempat yang lebih bagus, ada investor yang menanam modal di sana. Pembahasan mengenai pembagian keuntungan pun dibagi rata, karena kios itu milik Nur Imran.


Melihat sang istri yang tersenyum-senyum sendiri, menimbulkan tanda tanya di hati Arlan. Sebenarnya ada apa? Dan kabar baik itu apa? Pertanyaan itu yang mencuat dari dalam hatinya. Ingin bertanya, tetapi malas iika Fanni masih enggan memberikan penjelasan. Jika sudah seperti itu, istrinya cukup menyebalkan juga.


Beberapa menit berlalu, pelayan kembali datang dengan hidangan yang sudah dipesan. Dengan perasaan gembira, Fanni dan Selli menyambutnya. Sang ibu menaruh Sella diantara dirinya dan sang suami sembari memberikan makanan yang diperbolehkan untuk disantap balita berusia satu tahun.


"Jagain ya, Mas, aku mau makan," ujar Fanni menggoda.


Arlan yang tadinya hendak menyentuh makanannya, kini menjadi berhenti seketika. Ia menatap Fanni dengan ekspresi wajah melongo. "Mas gimana, Dek?" tanyanya.


"Ya, kamu jaga, aku sama Selli makan dulu."


Arlan menelan salivanya. "Kok gitu? Enggak mau jagain bareng? Kan, anteng ini anaknya."


"Ih, enggak boleh jagain sekenanya aja. Harus waspada."


"Apaan sih, orang juga dijaga kok. Masa' Mas doang yang enggak makan?"


"Emang aku tadi ngajak kamu makan? Aku cuma ngajak kamu ke resto kok. Kamu enggak harus makan, kan?"


"Jahat banget sih jadi istri."


Fanni tergelak, ketika melihat suaminya menggerutu dan mendengkus kesal. Namun, ia masih tidak peduli, ia justru asyik makan sendiri bersama Selli. Sedangkan, Arlan masih menyaksikan kejahatan kecil dari istrinya itu sembari memegangi punggung Sella yang tengah terduduk sembari mengacak makanan khusus untuknya.


Itulah seorang ayah, tidak seperti seorang ibu. Tidak semua ayah memiliki trik untuk melakukan suatu aktivitas dibarengi penjagaan kepada anak. Sama seperti Arlan, ia hanya menyantap satu kali satu menit karena takut Sella berdiri dan lari-lari.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Fanni merasa iba juga. Wanita berparas blasteran itu, sedikit menggeser posisi duduk Sella agar lebih bisa menjaganya. Arlan terkesiap ketika dengan santainya sang istri melahap makanan sembari mengawasi sang buah hati. Ini gue yang bodoh, atau bini gue yang terlalu jenius sih? Batinnya.


"Jadi gini, Mas. Tadi tuh, aku ada kabar baik," ujar Fanni.


"Dari tadi kabar baik mulu', Dek. Kabar baiknya itu ya apa?" Arlan sudah merasa sangat geregetan.


"Salon aku, Mas. Kamu percaya enggak?"


Arlan menggeleng. "Enggak."


"Kok gitu sih kamu?"


"Ya, percaya sama apa dulu."


"Makanya jangan asal serobot dong! Bininya masih ngunyah ini belum kelar ngomongnya."


"Iya, iya, maaf, Dek. Mas salah, Mas yang selalu salah."


"Emang iya, baru sadar?"


"Kok gitu sih, kamu?"


"Bodo'!"


Sudah hampir mengetahui kebenarannya, kini justru mengecewakan sang istri. Arlan menyesal, ingin bertanya tetapi enggan. Takut jika Fanni semakin marah.


Namun, Fanni sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi tentang kabar itu. Ia berupaya untuk kembali menorehkan senyuman. Setelah itu, diam-diam membuat lirikan mata untuk Arlan.


"Apa?" tanya Arlan dan tentu saja membuatnya terkejut sampai kedua pundaknya terangkat.


"Enggak apa-apa! Dah makan aja," jawabnya.


"Halah, suka gitu. Apaan dulu, Dek? Jangan setengah-setengahlah, yang tuntas. Kamu kalau udah setengah jalan, terus Mas tinggalin gimana coba rasanya?"


"Hus! Ngomong apaan kamu."


Arlan berbisik, "bahasa elegan, Dek. Enggak ada yang tahu."


"Nggak mungkin enggak ada yang tahu."


"Ya udah, cepet dilanjut penjelasannya."


"Iya, salon aku mau pindah tempat."


Dahi Arlan mendadak mengernyit. Bagaimana bisa salon itu hendak berpindah tempat? Uang sewa pun sudah dibayar secara lunas. Mana ada pengusiran sebelum tenggat waktu sewa habis. Dan Fanni justru riang gembira, malahan merayakannya di tempat ini.


Dalam beberapa saat, Arlan masih harus menunggi penjelasan lebih lanjut. Semua terjadi karena Selli meminta agar Fanni mengiriskan daging yang belum habis ia santap, juga Sella yang mendadak rewel. Dengan sigap, Arlan membantu sang istri, tetapi untuk Selli karena ia kesulitan dalam menangani Sella yang masih balita.


Dulu, ketika Nia meninggalkannya, ia masih menggunakan jasa baby sitter, sehingga tidak berpengaruh banyak. Ketika Selli sudah memasuki jenjang sekolah, semacam TK, ia baru mengurus sang putri sendiri. Mendiang ibundanya masih ada, hubungannya dengan keluarga besar masih baik-baik saja, meski ia sudah dianggap gagal dan disepelekan sekali pun. Ia hanya berusaha menghiraukan semua itu. Sampai ulah Dian membuatnya benar-benar naik pitam. Akhirnya, ia melepaskan diri dari keluarganya.


Sembari memberikan susu pendamping untuk Sella yang ada di pangkuannya, Fanni mencoba untuk berbincang kembali. "Jadi, tadi tuh ada investor besar yang dateng," ujarnya untuk memulainya.


"Investor?" Arlan justru tertawa. "Mana ada orang inves di salon, Dek?"


"Nur Imran, Mas."


"Eh?! Iyakah?"


"Aku, kan, udah bilang kalau ada orang belum kelar ngomong jangan diserobot."


"Habisnya kamu diem, ya, kirain udahan. Jadi, gimana? Kok bisa Pak Nur?"


"Sebagai tanda terima kasih katanya, jadi beliau nanam modal di salon aku. Dan kasih kios yang ada di mal milik Sanjaya group, tepatnya kamu yang menangani. Terus nanti keuntungannya dibagi rata. Tapi, nunggu nyampe pemasarannya bagus dulu. Fasilitas sama pelayanannya ditambah."


Arlan manggut-manggut, sembari menyelesaikan santapan terakhirnya. Ia bersyukur, setidaknya salon istrinya dan teman istrinya bisa meningkat, bahkan menarik minat Nur Imran. Perasaan lega setelah mengetahui segalanya, kini dapatkan. Semoga saja, bisnis Fanni dan Mita juga berkembang pesat, syukur-syukur bisa terkenal seperti salon-salon ternama.


"Selamat ya, Sayang."


"Sama Mita dong, Mas. Dia yang punya andil besar. Mita yang mengakhiri kasus pembullyan itu, terus mengatur program diet Jelita."


"Kalian sama hebatnya kok. Mungkin nanti kalau ada waktu, kita bisa main ke rumah dia. Kamu juga udah jarang ketemu Nike, ya? Kemarin Roni nanyain kamu, katanya istrinya kangen sama kamu."


"Iya, Mas. Gimana lagi, aku udah agak repot. Main HP aja jarang banget, nyampe chat masuk enggak aku bales."


"Jangan terlalu capek, Sayang. Kamu, kan, punya Mas yang biayain kamu."


"Iya, Mas. Makasih ya."


Akhirnya setelah menghabiskan hidangan yang telah dipesan, mereka segera berdiri dan bergegas pergi. Khusus malam ini, Fanni yang bayar, meski sumberi keuangan paling banyak dari sang suami. Namun demi menghargai usaha sang istri, Arlan tidak banyak protes lagi.


Lalu, setelah melakukan pembayaran itu, mereka keluar dari restoran itu. Masuk ke dalam mobil yang sudah dihampiri. Sang sopir manis pun, segera melaju cepat kendaraan itu untuk pulang.


*****

__ADS_1


__ADS_2