Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Bertemu Kerabat


__ADS_3

Note : Kalimat miring pada dialog anggap saja bahasa inggris, ya! Agar semua paham.


****


Jordaan adalah salah satu destinasi yang indah di kota ini. Kanal sempit dan jalan Jordaan yang trendi diapit oleh berbagai butik indie, dan juga restoran-restoran yang bagus dan tentu saja keren. Kios di pasar alun-alun Noordermarkt menawarkan berbagai oleh-oleh yang pantas dibawa pulang ke tanah air, misalnya; perhiasan, barang antik ataupun berbagai macam pakaian. Dan tempat inilah yang saat ini dikunjungi oleh keluarga kecil Arlan Mahendra Suharsono.


Bahkan, sang kepala rumah tangga itu justru dibuat terkagum-kagum. Bagaimana tidak, semua yang ia lihat ini adalah pertama kalinya. Pun meski ia pernah tinggal di Amerika. Mungkin, ditambah dengan adanya anak dan istri. Sehingga membuat hari liburan semakin membahagiakan baginya. Berfoto pun dilakukan untuk mengabadikan momen itu. Suatu saat, ia berjanji akan mengajak anak dan istri terbang ke negara lain lagi, syukur-syukur kalau bisa berkeliling dunia.


Arlan merangkul pundak Fanni dari belakang. "Dek, cari makan yuk. Udah beranjak siang," ujarnya kemudian.


Fanni menatap Arlan dengan senyumnya yang terbilang sangat menawan bagi suaminya itu. "Iya, Mas. Kasihan Selli kalau udah laper," jawabnya.


"Belum kok, Ma," celetuk Selli sebelum sang ayah kembali berbicara.


"Masa'? Nanti sakit perut kalau bohong lho." Setelah mengatakan itu, Arlan segera menggendong putri pertamanya dengan Nia itu. Kecupan manis tidak luput ia lakukan di pipi Selli, bahkan dengan gemas sekali.


Selli mengangguk mantap. Perasaan gadis kecil ini sedang takjub-takjubnya dengan suasana kota Amsterdam yang bagaikan kota dongeng baginya. Ia merasa sudah masuk ke dalam cerita dongeng yang selalu ia dengar sebelum tidur dari ayahnya. Pun meski sudah merasa lapar, ia tidak ingin segera beranjak pergi. Ia pikir setelah makan siang, ayahnya akan mengajaknya pulang. Tentu saja dengan pemikiran polos itu, ia tidak mau.


Namun, yang namanya seorang ibu--sepintar apa pun sang anak berbohong, Fanni justru tahu. Baginya keinginan seorang anak adalah sesuatu yang penting, namun isi perut anak juga harus dipentingkan. Fanni mengecup pipi Selli, kemudian berkata, "makan dulu. Jangan khawatir, nanti masih main lagi. Kita lama lho di sini. Nanti juga ketemu nenek lain."


Mata Selli berbinar seketika. Ibunya selalu bisa membuat hatinya berbunga. Kali ini, ia tidak ingin menunda makan siang lagi. "Ya udah. Ayo, Pa. Kita cari makan yang enak."


Satu alis Arlan terangkat, bersama dengan sunggingan senyum manis di bibirnya. "Katanya tadi belum laper, Kak?"


"Emm." Cukup lama Selli berpikir. Ia sudah terlanjur berbohong, gadis kecil ini ternyata bisa merasa malu. Namun ... cacing-cacing di dalam perutnya sudah menggerutu. "Sekarang udah laper, Pa!"


Arlan tertawa. Hal itu membuat putri pertamanya justru merasa kesal. Ya, ia hanya seorang bocah kecil, ketika menyembunyikan rasa malunya hanya dengan rasa kesalnya bahkan bisa saja menangis karena ledekan dari Arlan.


Kemudian, Arlan mengajak Fanni dan Selli, juga Sima yang sejak tadi menjaga stroller berisi Sella untuk mencari restoran berlabel halal di kota itu. Mereka kembali berjalan, melewati pinggiran kanal dan jalan Jordaan yang indah. Terlebih, burung merpati sesekali melintas lalu hinggap di ranting yang kering. Pemandangan itu membuat mereka semakin takjub.


"Hmm ... aku mau foto sama kamu, Dek, nanti," ujar Arlan di sela-sela langkahnya.


Fanni menatapnya seketika. "Kan tadi udah, Mas," jawabnya.


"Tadi kan sama anak-anak juga. Mas mau khusus berdua. Nanti minta tolong sama suster."


"Enggak mau!"


"Kenapa?"


"Aku kalau difoto gede banget, Mas. Apa lagi kalau dijejerin sama kamu, nanti kayak majikan sama pembantu."


"His! Sembarangan kalau ngomong lho."

__ADS_1


"Aku gendut, Mas. Enggak cocok sama kamera."


"Kamera enggak pilih-pilih mana yang enak difoto, Dek. Udah sejauh ini, masa' masih minder aja sih?"


Fanni merengut. Sedangkan Sima yang berada di belakang mereka justru tertawa. Bukan karena mengejek fisik Fanni, melainkan gemas dengan pasangan itu. Terlebih, ketika Fanni sudah mendengkus kesal. Bagi Sima, Fanni justru terlihat sangat imut. Berparas bule dan bermata biru keabu-abuan, hidung mancung yang sangat berbeda dengan kondisi dirinya.


Sima hanya menyayangkan ketika majikannya itu justru merasa minder sekaligus malu. Kalau seorang wanita bule yang cantik saja merasa begitu, lalu ia akan berekspresi seperti apa? Mengingat dirinya sangat jauh jika dibandingkan dengan Fanni.


Fanni menoleh ke arah sang suster, tepatnya saat ia mendengar suara tawa dari janda kembang berparas manis itu. "K-kamu kenapa, Sus?" tanyanya untuk memastikan perihal tawa yang muncul dari bibir Sima.


Tentu saja, Sima terkejut. Seketika, ia merasa salah tingkah. "I-itu, s-saya gemas sama Mbak Fanni hehe," jawabnya dengan menggaruk kepala yang sebenarnya tidak merasa gatal. Dengan kata yang terbata-bata sekaligus rasa khawatir karena takut jika Fanni marah besar.


"Gemas?" Langkah Fanni berhenti, bahkan Arlan yang tengah menggendong Selli pun turut berhenti. "Gemas gimana maksud Suster?"


"Emm ... h-habisnya Mbak Fanni udah cantik bule begitu, masih merasa minder. Kalau Mbak Fanni begitu, lalu saya harus gimana?"


"Ya, enggak gimana-gimanalah, Sus."


"Saya kan enggak secantik Mbak Fanni. Jadinya, malah merasa dihina secara enggak langsung hehe." Sima semakin merasa ciut. Terlebih, ketika tatapan Fanni menatapnya sangat tajam.


"Kamu manis kok, Sus. Ya, tapi saya jauh lebih cantik. Cuma enggak langsing aja." Fanni tersenyum-senyum. Kini ia sadar, bahwa apa yang ada di dalam dirinya terdapat sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Justru, ketika ia merasa rendah seperti itu, akan ada orang yang merasa direndahkan.


Sima bernapas lega, lalu tersenyum. Baginya, majikannya itu memang sangat unik juga baik. Baru kali ini, ia mendapatkan seseorang sebaik Fanni dari anak yang ia asuh dan jaga. Kalau bisa, ia ingin bekerja dengan Fanni juga Arlan dalam waktu yang lama. Namun, ia hanya disewa untuk pergi liburan selama satu bulan saja. Dan ia tidak bisa memaksakan kehendak dari sang tuan.


"Dek, bentar. Papa WA Mas." Arlan kembali berhenti.


Papa Mertua : Bibimu, nungguin kalian lho.


Kemudian, ia menekan tombol panggil untuk sang ayah mertua.


Tidak butuh waktu lama, panggilan darinya diangkat oleh ayah dari Fanni itu. "Assalamu'alaikum, Nak," sapa Pak Drick dengan logat Belanda yang masih saja kentara.


"Iya, Pa. Emang bibi ada di mana?" tanya Arlan. Ia menengak-nengok, siapa tahu ada seseorang yang melambai karena menunggunya, pikirnya begitu.


"Ada di salah satu restoran di sana. Halal katanya, jangan khawatir."


"Iya, Pa. Tapi di mana? Arlan sama Fanni ada di kanal ini deket sama Noodermarkt."


"Ya, ya, sekitar situ. Kamu hubungin orangnya sendiri aja. Papa bingung juga mau jelasin gimana."


"Oke, Pa."


"Ya udah, sana. Enggak enak kalau ditungguin lama-lama. Sama hati-hati ya. Jaga anak dan istri kamu. Assalamu'alaikum. Eh, iya. Jangan lupa, Papa pesen cucu satu lagi, dua juga boleh deh."

__ADS_1


"Halah, Papa. Enggak disuruh pun, Arlan usahain. Tenang, Pa. Do'ain aja anak laki-laki ya. Wa'alaikumssalam."


Fanni mengernyitkan dahi, tepatnya ketika mendengar tentang usaha dan anak laki-laki. Ia merasa curiga, pasti suami dan ayahnya sempat membicarakan hal yang ambigu. Meski begitu, ia tidak berani untuk bertanya lantaran ada Sima di belakangnya. Pun meski, harus mengemban perasaan penasaran sampai dibawa hilang oleh angin yang datang.


Tanpa memperdulikan raut wajah sang istri yang penuh tanda tanya, Arlan segera mengajak mereka melanjutkan perjalanan. Ia menurunkan tubuh Selli karena sudah terlalu pegal, terlebih pertumbuhan Selli kian meningkat. Ia mengirim pesan kepada bibi dari Fanni sembari terus berjalan sekitar restoran yang dekat dengan perbelanjaan souvenir di Noodermarkt.


****


"Fannisa!" Seseorang menyerukan nama Fanni ketika mereka baru memasuki salah satu restorant halal di sana. Seorang wanita berumur lumayan tua bersama wanita muda duduk di pojok sembari menatapnya.


Dahi Arlan mengernyit. Kemudian, ia melakukan panggilan kepada nomor kontak milik anak dari bibi Fanni. Dan ponsel milik wanita muda berambut blonde itu seketika berbunyi. Hal itu yang membuat Arlan dan Fanni yakin bahwa mereka adalah orang yang dicari sekaligus menunggu keluarga kecil nan harmonis itu.


"Fannisa! Kamu sudah dewasa ya." Wanita berusia tua yang sepertinya adalah bibi Fanni, segera menghampiri Fanni. Ia berucap menggunakan bahasa inggris dengan aksen Belanda yang tidak hilang.


"Bibi Henzie? Apa kabar, Bibi?" Fanni memeluk tubuh Bibi Henzie penuh rasa rindu.


"Kamu dan orang tua kamu itu sombong sekali. Tidak pernah datang mengunjungi kami."


"Maaf, Bibi." Fanni menyeringis. Ia merasa malu dan tidak enak hati. Namun kehidupan di Indonesia yang cukup sibuk membuatnya belum bisa datang ke negara ini. "Perkenalkan, ini suami saya, Bi."


Bibi Henzie mendekati Arlan. Ia memeluk Arlan pula. "Kamu sama dewasanya."


Arlan tersenyum. "Saya jauh dewasa dari pada Fanni. Saya Arlan, Bibi."


"Tapi kamu tampan sekali. Hmm ... panggil saya Bibi Henzie dan ini anak saya, Emily."


"Halo, aku Emily."


Bibi Henzie menatap Selli. "Ini anak kalian? Nama kamu siapa, Cantik?"


Selli mencengkeram baju Arlan. "Nama aku, Selli," jawabnya. Jika hanya pertanyaan umum dan simpel, ia masih bisa menjawabnya.


Bibi Henzie tersenyum. Ia paham dengan bahasa yang belum terlalu dimengerti oleh anak kecil. Bahkan, ia sendiri pun belum fasih menggunakan bahasa Indonesia, hanya paham saja.


Kemudian, diambilnya Sella dari tangan Fanni juga Selli oleh Bibi Henzie. Selli yang belum terlalu lancar dalam berbahasa inggris hanya terdiam sejak tadi. Mungkin sesekali, diberikan terjemahan oleh sang ayah atau ibunya.


Kemudian, hidangan halal yang sudah dipesan sesuai rekomendasi dari Bibi Henzie sudah datang. Tanpa pikir panjang lagi, mereka segera melibas makanan itu atau sesekali bertanya tentang menu yang tidak dikenal.


****


Oke, segini dulu ya. Jangan lupa like, komen, vote-nya.


Ayolah, demi kata end. Jangan pelit2 .hehe

__ADS_1


__ADS_2