
Pagi hari kembali datang. Hari ini sudah kembali seperti semula untukku. Namun, tidak suamiku yang belum memiliki pekerjaan lagi. Sepanjang malam Mas Arlan terbilang tidak bisa tidur, ia hanya bermain ponsel mencari lowongan. Itu aku lihat saat tidak sengaja, aku terjaga. Pagi ini pun begitu.
"Pelan-pelan aja, Mas. Kamu semaleman nggak tidur lho," ujarku.
"Nggak, Dek. Rasanya Mas nggak tenang sebelum dapat lowongan kerja," jawabnya.
Kuhela napasku dan menghembuskannya kembali. Aku berjalan menghampiri suamiku yang masih dengan ponsel dan duduk diatas ranjang. "Aku bakalan bantu cari kok, Mas. Tapi, hari ini kamu istirahat dulu. Hari ini aja, buat bayar tidur yang semalem..."
Mas Arlan menatapku, kemudian ia memberikan kecupan manis di pipiku. "Tenang aja, Sayang. Mas nanti istirahat kok. Gimana udah belum? Mas anterin aja ya?"
"Hmm... iya, udah kok. Tinggal berangkat, Selli juga udah siap."
"Oke, Sayang."
Kemudian Mas Arlan berdiri dari duduknya. Ia tidak lagi memakai setelan kemeja dan blazer, namun hanya koas biasa dan jaket berwarna putih serta celana jeans biasa. Mungkin, masih terlihat aneh bagi kami. Tapi, inilah yang harus terjadi. Suamiku sudah mencabut jabatannya sendiri. Kini tidak menuju ke tiga tempat, melainkan dua saja yaitu sekolah Selli dan tempat kerjaku. Aku berharap, hal ini tidak berlangsung lama. Semoga Mas Arlan segera mendapatkan pekerjaan lagi. Setelah kami sudah mengumpulkan tabungan, kami akan merintis usaha dari bawah dan hidup sebagai keluarga kecil yang bahagia.
Tak lama kemudian, aku, Mas Arlan dan Selli sudah berada didalam mobil. Tanpa pikir panjang lagi, Mas Arlan segera memacu mobilnya meninggalkan rumah untuk sementara waktu. Didalam perjalanan, seperti biasa kami saling melempar canda tawa. Terlebih dengan adanya Selli, semua kesedihan bisa hilang yang entah kemana. Putri kami itu memang sangat pintar membawa suasana lebih hangat.
Satu tujuan telah sampai, aku mengantarkan Selli untuk masuk ke dalam gedung sekolah. Sedangkan Mas Arlan menungguku. Tak lupa kuberikan kecup manis didahi Selli dan beberapa pesan baik untuknya. Ia pun hanya mengiyakan dengan senyuman penuh riang gembira. "Semangat ya, Cantik," ujarku untuk yang terakhir sebelum Selli berlalu.
"Ciap Mama," jawabnya, kemudian pergi meninggalkanku untuk menimba ilmu.
Lantas, aku segera berbalik badan dan kembali menghampiri mobil Mas Arlan. Setelah sampai disana, aku segera masuk lagi ke dalam. Mas Arlan kembali memacu mobilnya menuju tempat kerjaku. Deru mobil terus mengalun menyeruakkan suaranya dan berkolaborasi dengan milik orang lain. Pemandangan pagi ini pun cukup cerah dengan pancaran sinar mentari yang perlahan menghangat.
Hingga beberapa saat kemudian, kami telah sampai di kantor tempat kerjaku. Aku menatap wajah suamiku sembari tersenyum. Sedangkan ia mengasap lembut kepalaku dan menariknya. Beberapa kecupan manis diberikan oleh Mas Arlan pada wajahku. "Kerja hati-hati ya, Sayang. Yang semangat. Maaf Mas belum bisa bikin kamu istirahat," ujarnya.
"Iya, Mas. Lagian kerjaku masih enak kok, nggak angkat-angkat barang. Aku semangat selalu dong. Kamu juga istirahat ya nanti. Semalem hampir nggak tidur lho," jawabku.
"Iya, Sayang. Mas nanti istirahat."
"Beneran yaaaa?"
"Iya bener."
"Serius pokoknya."
"He'eh, Sayang."
"Harus lho."
"Iyaaaa... ih bawel deh istriku."
Aku terkekeh saja. Karena sebal akan celotehku, Mas Arlan mencubit pipiku dengan gemas. Kemudian, aku mengecup punggung tangan dan pipinya. Aku turun dari mobil ini, dan menyaksikan mobil Mas Arlan melaju lagi. Setelah, mobil yang membawa Mas Arlan hilang dari pandangan mata, aku segera masuk ke dalam gedung kantor milik Sanjaya.
Seperti biasa, aku menyusuri lantai dan arah yang sama. Bahkan lift pun masih sama saja. Masih sangat pagi sekali. Aku rasa hanya Celvin yang sudah berangkat. Yah, pria itu memang sangat rajin, bahkan aku tidak bisa mengikuti.
Berbicara tentang Celvin, dua hari ini, aku belum mendengar kabar apapun darinya. Apalagi nasib Riska sekarang, Ivan pun tidak pernah aku temui. Sebenarnya sedikit penasaran dengan nasib Celvin dan Riska. Apakah keduanya sudah menyerah atas cinta itu? Tapi, aku enggan untuk bertanya jika nanti bertemu. Terlebih, aku dan Mas Arlan sudah memutuskan tidak ikut campur lagi. Namun, aku tahu saat inipun hati Mas Arlan masih khawatir mengenai Riska. Setidaknya, aku ingin mengulik kabar untuk membuat suamiku tenang. Itupun kalau aku bisa.
"Fann?" ujar seseorang memanggil namaku. Sontak saja, aku terkejut dan menolehkan kepala ke belakang.
"Oh... selamat pagi, Pak," jawabku tatkala menatap Celvin pelakunya.
"Pagi juga."
"Tumben baru berangkat? Biasanya udah didalem."
"Entahlah, males. Dan lagi, ini hari pertama aku masuk kerja lagi."
"Jadi, kemarin nggak masuk juga? Oh... ma-maaf, aku nggak izin. Tahu kan, kondisi Mas Arlan juga belum stabil."
"Yeah, aku paham kok, Nona Fanni. Mari masuk, kita banyak mendapat PK."
"Apa? PK?"
"Pekerjaan Kantor."
"Hmm... ya sih, akan banyak sekali."
__ADS_1
Kini aku berjalan bersama Celvin menuju ruang kerja kami yang tinggal beberapa langkah lagi. Tidak banyak yang dibicarakan kecuali seputar pekerjaan. Aku pun masih menghargai suasana ini dan tidak gegabah dalam menanyakan masalah hari kemarin. Sampai, akhirnya langkah kami terhenti saat sampai di ruangan yang dituju. Kami masuk.
Sebelum waktu kerja dimulai, aku dan Celvin sudah mulai berdiskusi. Karena banyaknya pekerjaan yang terbengkalai, membuat kami harus benar-benar fokus. Terlebih penyusutan penjualan ataupun penyewaan belum mendapat strategi yang pas untuk mengatasinya. Tanpa pemikiran dari kami, pihak divisi marketing pun masih ragu untuk mengembangkan idenya. Yah, semua perlu intruksi dan juga persetujuan dari atasan sebelum menjalankan.
****
Satu jam, dua jam, tiga jam dan sampai sekarang. Celvin dan aku terus berdiskusi, lalu melakukan rapat dengan para petinggi. Karena banyak macam hal yang perlu ditangani. Tampaknya PT. Star Harsun milik keluarga Harsono memiliki tameng kuat untuk menghadapi persaingan bisnis ini. Tidak bisa dipungkiri, jika perusahaan Sanjaya malah kewalahan dalam menyeimbangkan performa. Dan yang paling membuat kami cemas adalah mall, kami takut jika tidak berbuat sesuatu lebih awal, mall milik perusahaan ini akan perlahan bangkrut dan tutup.
Itu mengapa, Celvin begitu fokus. Aku rasa, ia tengah berjuang melawan persaingan ketat ini. Meski masih didalam suasana hati tidak jelas, ia tidak pernah memperlihatkannya sepanjang diskusi kami ataupun meeting dengan yang lain. Ia tampil begitu profesional. Sampai jelang waktu, kami kembali lagi ke dalam ruangan kerja masing-masing.
Aku pun tidak ingin mengecewakannya. Dengan segala ide dan kemampuanku, aku turut mencari solusi. Karena mau bagaimanapun, aku adalah karyawan di perusahaan ini. Aku masih tidak peduli, jika aku harus menentang keluarga suamiku. Yang namanya bekerja berarti harus tunduk. Mungkin, jika sudah keluar dari pekerjaan, aku bisa bersikap netral.
Tak lama kemudian, jam istirahat telah tiba. Aku menutup berkas-berkasku lebih dulu, dan mengistirahatkan komputerku. Aku meraih ponsel yang berada didalam tasku, lalu memainkan jariku diatas layar. Karena, khawatir akan keadaan Mas Arlan, aku berencana untuk menghubungi dirinya. Untung-untung, kalau ia mengajakku makan siang.
"Assalamu'alaikum, Sayang," sapa salamku kepadanya, sesaat setelah menerima panggilanku.
"Wa'alaikumssalam istriku, Sayang. Udah istirahat ya? Hmm... Mas jadi kangen tiap siang jemput kamu, Dek," jawabnya.
"Yaudah, jemput aku, Mas. Aku pengen makan siang sama kamu."
"Nggak ah. Kantong Mas kosong hehe."
"Ih! Kan punyaku ada, gengsi banger sih."
"Bukan gitu, Sayang. Mas nggak mau jajan gratis terus, malu sama angin."
"Hmm... gitu mulu. Kan sebentar lagi, kalau kamu udah dapet pekerjaan, bisa traktir aku sepuasnya."
"Berarti, kamu harus sabar sampai saat itu, Dek."
"Ih! Nyebelin, padahal aku pengen makan siang bareng kamu."
"Hehe... kamu bareng temen kamu aja dulu ya?"
"Nggak mau!"
"Maaaaas!"
Tiba-tiba, Celvin datang menghampiriku. Karena tidak enak hati, aku menyudahi teleponku untuk sementara waktu tanpa mematikannya. Dengan harapan bisa melanjutkan perbincanganku dengan Mas Arlan setelah Celvin berlalu. Namun, tampaknya Celvin merencanakan sesuatu. "Boleh aku bicara dengan Om Arlan, Fanni?" tanyanya.
"Eh? Emm... bo-boleh kok. Kebetulan belum dimatiin sih," jawabku sembari menyerahkan ponselku kepada Celvin.
Lantas, Celvin menerimanya dan membawanya ke meja kerjanya lagi. Aku tidak mengerti akan maksud dibaliknya. Bahkan, suaranya cukup pelan untuk bisa didengar. Ingin sekali mencuri dengar, namun aku tidak memiliki nyali untuk berbuat hal tidak sopan itu.
Beberapa menit kemudian, Celvin tampak berjalan lagi menghampiriku. Aku tertegun, namun pura-pura tidak menyadari kedatangannya. Sampai akhirnya, ia menyerahkan ponselku kembali dan mengisyaratkan agar aku berdiri. "Ayo," ajaknya.
Aku bingung. "Kemana?" tanyaku.
"Kita makan siang bareng."
"Haah???"
"Tidak perlu khawatir. Aku juga mengajak suami kamu, Nona Fanni yang cantik dan chubby."
"Ih! Jijik dengernya kalau Bapak Celvin yang berbicara."
"Oh ya? Berarti aku tidak pantas menggoda dong?"
"Enggak! Soalnya wajah kamu masih kental dengan nuansa sangar."
"Oh! Sangat berbeda dengan wajah suami ya?"
"Tentu, dia lebih tampan dari kamu."
"Hahaha... sepertinya benar."
Setelah itu, aku dan Celvin keluar dan menutup pintu ruangan setelahnya. Entah, apa yang direncanakan olehnya. Aku hanya perlu mengikuti saja. Terlebih, Mas Arlan diajak. Tapi, pradugaku mengatakan jika ini berhubungan dengan pekerjaan. Aku rasa, Celvin akan menawarkan beberapa pekerjaan demi membalas kebaikan suamiku tatkala memberikan pembelaan kepadanya.
__ADS_1
Namun, aku tidak yakin Mas Arlan akan menerimanya dengan gembira. Memang benar, saat itu ia mengatakan akan bergabung dengan keluarga Sanjaya. Hanya saja, setelah kejadian itu Mas Arlan tidak membahas atau menanyakan perihal Sanjaya. Aku rasa, ucapan Mas Arlan hanya gertakan semata. Ia tidak akan sanggup mengkhianati keluarganya sejauh ini. Tapi, itu hanya pradugaku. Aku belum tahu akan keputusannya nanti.
Tak lama kemudian, kami telah sampai di parkiran. Celvin memanggil sang sopir pribadi dan kami masuk ke dalam. Perlahan-lahan, mobil mulai dilaju untuk meninggalkan gedung kantor ini untuk sementara waktu. Dengan tujuan yang belum aku ketahui. Aku memang sedikit cemas dan risau. Namun, disatu sisi, aku merasa beruntung atas ajakan ini. Karena aku bisa bertemu dan bersantap siang bersama suamiku. Sejujurnya, aku khawatir jika dibiarkan sendiri di rumah, Mas Arlan tidak mau makan karena terlalu pusing.
Sehingga dengan ajakan dari Celvin, aku bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri, jika suamiku sudah menelan makanan. Meski kesannya terdengar berlebihan, namun itulah yang aku rasakan sebagai seorang istri dari pria yang menyandang status pengangguran baru.
"Hmmm..." Celvin berdeham tiba-tiba kemudian menghela dan menghembuskan napasnya.
"Ada apa?" tanyaku memberanikan diri.
"Emm... aku masih khawatir mengenai Riska, Fann."
"Aku paham kok. Tapi, Riska pasti baik-baik aja."
"Entahlah, akses komunikasi kami benar-benar dibatasi. Riska pun sudah dicopot sebagai atasan."
"A-apa?"
Secepat ini, Riska diputuskan untuk mundur? Kejam sekali. Lantas, siapa yang sekarang menempati posisi itu? Bapak Gunawan? Memangnya bisa, kalau sudah pensiun? Betapa hancurnya hati Riska saat ini. Jabatan hilang, cinta hilang, martabat hilang dan ditentang habis-habisan.
Diriku yang hanya sebagai saksi saja, sangat terpukul. Lantas, seperih apa dirinya dan Celvin? Pasti hancur. Apalagi luka memar yang diderita Celvin masih terlihat sangat jelas dan aku rasa bertambah. Mungkin hantaman dari sang ayah. Ah... miris sekali nasib mereka.
"Kamu yang sabar." Hanya kalimat seperti itu yang mampu keluar dari mulutku.
Celvin mengangguk. "Aku sabar, tapi aku khawatir dengan Riska," jawabnya.
"Ingatlah, tidak ada orangtua yang begitu tega menyiksa anaknya, Vin. Riska pasti baik-baik saja."
"Sejujurnya, tadi malam aku masih berusaha datang. Tapi, diusir lagi."
"Jadi, luka itu dari keluarga mereka lagi?"
"Iya. Tapi, dari papa juga."
"Pak Ruddy sudah tahu?"
"Yah, Om Gunawan menghubungi ayahku dan marah-marah. Haha... konyol sekali diriku, menghancurkan semuanya. Menyesal pun tidak ada gunanya. Karena papa hanya punya aku, tidak ada pilihan lain kecuali meneruskan jabatan ini untukku. Dengan syarat aku bisa mengentaskan kondisi pelik perusahaan."
"Yah, itu memang tugasmu. Aku hanya bisa membantu dan mendukung, Vin. Itu tanda ayahmu masih mencintaimu."
"Aku harap begitu."
Hening kembali. Aku memilih diam, daripada terlalu banyak menanyakan sesuatu yang tidak pantas. Memberikan ruang untuk Celvin agar bisa lebih tenang tanpa gangguanku. Sebel bertemu Mas Arlan, aku rasa ia harus stabil dulu. Kalau tidak, pasti akan menimbulkan tanya bagi suamiku. Aku ingin suasana tetap kondusif diwaktu makan siang ini.
Hingga akhirnya, sampailah disebuah restoran. Tidak mewah namun tidak terlalu biasa juga. Jika ditilik pada penampilan Celvin, sepertinya bukan dirinya yang menganjurkan untuk datang ke tempat ini. Terlebih Celvin cukup dikenal masyarakat, pasti ia lebih berhati-hati dalam memilih tempat. Sekarang pun, ia sudah menyediakan masker dan topi. Ini yang aku sesalkan atas sikap Mas Arlan yang sedikit iseng untuk mengerjai atasanku. Sehingga membuat Celvin harus bersusah payah menyembunyikan wajahnya. Yah, biarlah. Toh, Celvin sudah setuju.
Kami turun hanya berdua saja. Celvin terlihat menelan ludahnya lantaran suasana restoran cukup ramai. Kalau sudah mendengar nama Celvin Sanjaya, pengusaha ternama di Indonesia dengan paras yang tampan menggiurkan, tampaknya akan membuat semua orang memberikan pandangan perhatian. Meski bukan jajaran para artis bintang, tapi Celvin lebih dari mereka semua.
"Yakin, mau masuk?" tanyaku.
"Ya-yakin kok," jawabnya.
"Nanti kalau dikerubutun bu-ibu gimana?"
"Nggak mungkinlah, Fann. Aku kan bukan artis, aku cuma takut dipotret aja. Terus jadi gosip hangat kalau ketemu suami kamu."
"Nggak masalah sih kalau itu. Nggak ada yang tahu, soal siapa Mas Arlan kok. Lagian, dia kan nggak pernah bersedia diwawancara waktu itu."
"Iya sih. Ya sudah, mari masuk."
"Siap."
Kami melangkah masuk dengan hati-hati. Mungkin karena penampilan Celvin yang tertutup, malah membuat orang lain merasa aneh. Sejujurnya, aku merasa geli juga. Ingin tertawa namun takut dosa. Apalagi semua karena ulah suamiku.
Dasar, dia!
Bersambung...
__ADS_1
Budayakan like+komen...