Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Kaget


__ADS_3

"Saya tidak ingin gagal untuk kedua kalinya. Perjuangan saya untuk dirinya, akan menjadi alarm hati suatu saat nanti. Menjadikan pondasi cinta yang kokoh dan hanya maut saja yang mampu memisahkan kami." -Arlan.


_____________________________________________


Tersenyum dalam sendu, kisaran jarak antara aku dan Ibuku semakin membentang bermeter-meter. Sudah beberapa hari ini, beliau sama sekali tidak mau berbicara padaku melalui via apapun. Sedangkan hubunganku dengan Mas Arlan masih berjalan lancar.


Mas Arlan pun tak segan lagi datang ke rumah orang tuaku setiap harinya. Namun itu tetap tidak cukup. Sampai akhirnya aku menunda lagi pertemuanku dengan Ibu serta keluarga dari Mas Arlan. Aku belum siap untuk itu.


Masalah ini saja sudah membuatku menjalani hari bagai di neraka. Meski aku tau, aku tidak pernah masuk kedalam api neraka. Hanya saja tumpukan dosa yang terus membayangi diriku, selalu datang tanpa belas kasihan. Bagaimana jadinya jika keluarga Mas Arlan tidak mau menerimaku? Pasti masalah baru akan datang lagi.


Sebenarnya aku juga mulai jengah dalam situasi seperti ini. Memikirkan hati Ibuku yang hancur. Apalagi omongan tetangga pasti sudah menyeruakkan gosip-gosip tidak sedap. Aku selalu lalu lalang dengan pria yang belum menjadi suamiku. Ahh... tidak ada yang beres sama sekali!


"Fanni???" ujar Celvin sehingga membuyarkan lamunan yang disertai gertakan yang aku lakukan.


"Emm... iya," jawabku singkat.


"Kamu ada masalah?"


"Enggak kok hehe."


"Susah ya buat terbuka sama aku?"


"Serius nggak ada hehe... emm by the way, kita serius mau ketemu Nona Riska?"


"Iya, soal kerjaan aja kok."


"Kenapa setiap ketemu dia harus diluar?"


"Riska nggak mau aku ke kantornya."


"Kenapa?"


"Entahlah Fann, aku juga nggak tau. Jadi demi hubungan perusahaan kami, kami harus ketemu diluar terus."


"Oh... oke."


Ya benar, sekarang aku dan Celvin tengah menuju restoran biasanya yang digunakan untuk bertemu. Sebenarnya aku memang penasaran tentang apa yang baru saja aku tanyakan padanya. Namun, sepertinya Celvin pun tidak mengetahui alasan pasti dari Riska.


Mobil yang kami tumpangi melaju cepat ke tempat yang dituju. Bedanya jam pertemuan dilakukan tepat setengah jam setelah jam makan siang. Aku paham tentang itu, kesibukan perusahaan begitu banyak selepas tahun baru.


Oh iya tahun baru! Aku bahkan lupa tentang hari itu. Aku hanya ingat guyuran hujan terus turun tepat di malam tanggal satu. Ledakan kembang api pun tidak terdengar sama sekali. Sampai aku benar-benar lupa. Nilai positifnya, aku tidak perlu iri pada orang lain yang sedang bahagia di hari tersebut.


Kesibukan yang diberikan Celvin pun juga menumpuk. Sehingga saat itu aku sama sekali tidak mendapat libur kecuali hari Minggu. Sudah seperti wanita yang tingkat karirnya tinggi saja.


"Vin?" panggilku pada atasanku tersebut.


"Iya Fann... kenapa?" tanya ia kembali.


"Emm... cerita kamu saat itu gimana? Maksudku udah baikan sama dia?"


"Belum Fann, dia juga udah nggak bahas lagi soal itu sih."


"Terus sekarang?"


Celvin menghembuskan napas panjang sembari memejamkan matanya untuk beberapa saat. "Mungkin Riska ingin aku bersikap profesional saja nanti."


"Yang sabar ya."


"Kadang aku lelah juga, sampai rasanya pengen mati. Semua penyesalan terus menggerus diriku."


Aku menatap Celvin dalam-dalam, ada perasaan iba tersendiri dalam hatiku. Aku tau apa yang ia rasakan, cintanya ditolak mentah-mentah dengan kenangan indah bersama wanita tersebut. "Kalau berjodoh pasti kembali Vin."


"Amin."


"Emm... sebenarnya agama kamu apa sih?"


"Islam Fann, kenapa?"


"Oh ya?"


"Iya, tapi aku nggak punya ilmu agama sedikit pun. Terlebih aku lama hidup di Amerika, nggak ada didikan dari orang tua pula."


"Oh. Banyak istigfar Vin. Setiap agama pasti punya cara masing-masing untuk berdo'a. Seperti kita, aku juga masih banyak dosa kok. Tapi jangan sampai iman kamu hilang Vin, yakin Tuhan bisa bantu semua kesulitan kamu."


"Kamu bisa ajarin tentang agama padaku, Fann?"


"Ehh...?"


Mana mungkin bisa, aku sebagai umat islam masih banyak sekali dosa. Kekhilafan pun masih sering terjadi, terlebih saat bersama Mas Arlan. Berduaan saja sudah memupuk sebuah dosa.


"Nggak bisalah Vin, jangan ngawur. Belajar mah sama yang ahli," tolakku pada permintaan Celvin.


"Tapi kan kamu lebih mending daripada aku Fann," ujar Celvin.


Kuhela napasku dalam-dalam. Mencari jawaban yang tepat untuk membuat Celvin mengerti. Herannya, mengapa harus aku? Banyak sekali pemuka agama di negara tercinta ini. Seharusnya Celvin sudah tau soal itu.


Jika berbicara tentang agama, sedikit riskan. Salah sedikit bisa fatal. Tidak mungkin berguru pada orang yang sama-sama masih awam.


"Papaku nggak pernah sekali pun ngajarin aku soal ilmu religi, Fann. Beliau hanya datang bertanya soal pendidikan, nilai terus sekarang ini soal pekerjaan saja," lanjut Celvin.


Aku menatap Celvin lagi, ia menunjukkan sebuah harapan dari wajahnya. Aku rasa ia telah benar-benar berubah. "Kamu cari orang yang tepat ya, Vin. Emm... banyak ustadz atau kyai kok."


"Tapi aku terlalu malu, kamu orang pertama yang tau soal ini. Paling Pak Supir doang nih."

__ADS_1


"Jangan malu, buktiin sama Nona Riska kalau kamu udah berubah."


"Masalahnya nggak Riska aja yang nggak bisa maafin aku, melainkan orang tuanya juga."


"Ya nggak masalahlah Vin, buktiin pada semuanya. Jangan konyol, masa' aku suruh ngajarin. Yang bener aja hehe... Emm tunggu, tapi kalian bisa kerja sama?"


"Riska nggak ingin keluarganya tau soal ini, bahkan kerabatnya sekalipun. Kami sebenarnya perusahaan pesaing. Sebelum Riska memegang kendali, perusahaannya hampir bangkrut beberapa tahun yang lalu. Terus Papaku membeli beberapa gedungnya, setelah itu sekarang dibawah kendaliku. Aku membuat proyek baru sama Riska, mungkin proyek kemarin Papa buat juga sama dia."


"Oh ya?"


"Iya Fann."


Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Celvin. Memang pantas, jika Riska tidak ingin keluarganya tau soal ini. Bisa jadi juga menjadi alasan ia melarang kedatangan Celvin ke kantornya. Jika merupakan perusahaan Sanjaya adalah pesaing bagi perusahaan milik keluarga Riska. Kemungkinan besar penurunan yang terjadi juga akibat dari Pak Ruddy.


Masuk akal juga.


Tak terasa, kami telah sampai di Restoran yang dituju. Aku maupun Celvin beranjak turun. Kemudian aku berjalan tepat disamping Celvin. Karena ia tidak mau aku terlihat seperti kacung dibelakang.


Executive room seperti biasa telah dipesannya. Aku tinggal duduk manis, di room biasa. Sembari menunggu perbincangan bisnis diantara mereka.


"Fann, ayo," ajak Celvin kemudian.


"Kemana?" tanyaku.


"Masuk."


"Lah?"


"Aku butuh kamu, nanti Ivan juga ada."


"Oke baik Pak hehe."


"Dasar."


Oh... ternyata situasi sekarang berbeda. Celvin membutuhkanku didalam. Padahal aku malas sekali. Rencanaku dari awal adalah duduk santai sambil melamun di meja biasa. Dan kini gagal. Ya sudahlah, sudah tugasku juga.


Riska sudah duduk manis pada kursinya. Parasnya masih saja cantik menawan, membuat jantungku tiba-tiba melemah. Nyaliku sangat ciut, meski hanya bertatap mata dengannya.


Namun, suasana disini sangatlah tidak nyaman. Bukan udara ruangan namun atmosfer kemarahan dari Ivan terlihat sangat jelas. Rasa kesal diwajah Riska untuk Celvin pun masih tergambar. Membuatku menelan saliva dengan ngilu.


Bisakah kami menyelesaikan pertemuan bisnis ini dengan baik?


"Silahkan duduk," ujar Riska kemudian. Ia sama sekali tidak mau melihat satu pun dari kami.


"Terimakasih," jawab Celvin.


"Terimakasih Nona," jawabku pula.


Kerja sama dimulai. Berbagai perundingan-perundingan tertentu dilaksanakan. Kami saling sibuk membolak-balik berkas laporan dan juga saham-saham di perusahaan.


Keuntungan yang diraih di tahun baru dari kerja sama ini pun tak luput dari pembahasan. Keuntungan yang melibatkan kedua perusahaan mereka tentunya, sisa dari pekerjaan Pak Ruddy dengan Riska. Tidak ada kata yang diluar pekerjaan. Membosankan sekali.


Apalagi Celvin, Riska ataupun Ivan sama-sama bersikap dingin satu sama lain. Walaupun ada komunikasi, namun tak sekalipun menyeruak semburat senyum yang tersirat. Terlebih pandangan mata Ivan yang tak sedikit pun lepas dari Celvin. Seolah ada amarah tersendiri yang ia pendam pada atasanku tersebut.


"Fyuuuh..." hembus napasku.


"Anda kenapa Nona Fanni?" tanya Riska padaku.


Deg!


Jantungku seolah copot dibuatnya, padahal hanya pertanyaan sesingkat itu. "Tidak apa-apa Nona Riska."


"Miris sekali, kalau pertemuan serius seperti ini, sampai ada orang yang mengantuk dan jenuh."


"Maaf saya tidak bermaksud seperti itu."


"Tidak apa, hanya saja saya sedikit heran. Tidak ada profesionalnya sama sekali."


Celvin menatap Riska dalam-dalam. Kemudian ia menjawabnya. " Maaf Riska, tapi sekretaris saya juga manusia."


"Oh... saya maklum kok, anda pun tidak bisa profesional."


"Riska, daritadi saya sudah mencoba untuk itu. Jadi, apakah perlu berbicara sampai seperti itu? Kalau anda masih kesal, tentang masalah kemarin jangan melampiaskan pada sekretaris saya."


"Jangan terlalu percaya diri Pak Celvin. Masalah kemarin? Yang mana ya?"


Oh ! Situasi apa ini? Hanya gara-gara aku menghembuskan napas jenuh saja sampai sepanas ini.


Tatapan mata Celvin dan juga Riska saling menatap tajam satu sama lain. Sedangkan aku menjadi merasa bersalah atas kesalahan yang kubuat. Padahal sesepele itu.


"Pak Celvin, tolong kembali pada pekerjaan!" tegas Ivan.


Akhirnya Celvin melunak, urat hijau diwajahnya sudah tidak terlalu nampak. "Maaf atas ketidaknyamanan ini," katanya.


Sedangkan Riska menyahut berkas disamping Celvin. Sekali lagi ia menatap tajam pada Celvin. Namun diiringi raut sendu yang berhasil tertangkap oleh mataku.


Miris sekali. Dua insan yang mungkin masih saling mencintai. Namun, harus terpisah karena masa lalu yang kelam. Sungguh menjadi sebuah pembelajaran. Jangan sampai berbuat macam-macam sebelum menimbulkan penyeselan. Seperti yang dilakukan Celvin pada saat itu.


"Ivan sepertinya saya harus pulang," ujar Riska tiba-tiba, kemudian berdiri dari kursinya.


"Baik Non-" jawaban Ivan tiba-tiba terpotong.


Sontak saja Celvin berdiri dan menahan tangan Riska. "Nggak bisa!"

__ADS_1


"Apa urusanmu?" tanya Riska kemudian.


"Ini masih dalam situasi meeting!"


Ivan maju menghampiri mereka berdua. Kemudian ia menepis kasar tangan Celvin.


"Mohon, jangan keterlaluan! Atau say-"


"Sudah Van, biarkan saja. Kalau begitu saya bisa kasih waktu dua puluh menit saja. Dan jangan ada lagi kesalahan sedikitpun," ujar Riska sembari menatapku.


Aku menunduk takut. Berurusan dengan orang-orang kaya memang sangat sulit. Wajar bagi mereka, kesalahan sesimple itu sangat diteliti. Sedangkan aku yang orang bawah, sidikit heran. Memangnya tidak boleh sebagai manusia menghela atau menghembuskan napas untuk mengurangi kejenuhan?


Salahku sendiri tidak memahami sifat Riska yang sangat disiplin. Kalau saja aku tau, aku pasti akan lebih berhati-hati. Namun kini sudah terjadi. Aku malah menyulitkan dan membuat Celvin malu.


Sebelum dimulai kembali, aku merogoh ponselku. Dengan rencana untuk mematikannya terlebih dahulu. Namun sebuah pesan singkat dari orang tersayang, membuatku mencuri sedikit waktu untuk membalasnya.


Tentu saja dengan sangat hati-hati dan bersembunyi.


"Maaf saya mau matikan ponsel terlebih dahulu agar tidak mengganggu sewaktu-waktu," izinku pada mereka.


"Silahkan," jawab Riska dengan raut muka yang datar tanpa melihatku.


Beruntung ia mengizinkan. Sebelum kumatikan kubalas pesan dari Mas Arlan dengan cepat. Yang berisi tentang keberadaanku, agar nantinya ia bisa datang menjemputku.


Setelah selesai, aku kembali fokus. Kubantu Celvin mencari beberapa berkas seperti biasa. Ada kalanya aku dibutuhkan untuk menjelaskan beberapa hal. Karena Celvin telah mempercayaiku.


Suasana disini tetap sama. Masih kaku, tak ada pandangan mata lagi diantara mereka berdua. Kecuali Ivan yang masih sering mengawasi Celvin diam-diam.


Andai aku seorang cupid, pasti akan kutembak kedua insan sempurna itu. Agar saling memaafkan dan menjalin kasih kembali. Serta menemukan tambatan hati untuk Ivan, agar tidak menjadi budak cinta bagi Riska.


****


Waktu terus berjalan, dua jam sudah kami melakukan meeting ini. Persyaratan dua puluh menit dari Riska pun, tampaknya sudah terlupakan. Karena, semua telah larut dan fokus pada pembahasan.


Celvin pun tidak ada lelahnya untuk menjelaskan. Meski Riska hanya menjawab singkat saja tanpa memperhatikannya. Beberapa kali kulihat pula wajah Celvin yang memelas penuh harapan.


Ternyata selain Mas Arlan, ada satu pria malang lagi. Apakah sebagai wanita, kami sama-sama egois?


"Oke, cukup sampai disini saja," ujar Riska kemudian.


"Tapi ini belum sepenuhnya lho," sergah Celvin.


"Tenggat waktu yang saya berikan sudah bertambah Pak Celvin, kurang cukup bagaimana lagi?"


"Tolong Riska kamu jangan egois, mencampur-adukkan pekerjaan dengan masalah lain."


"Maksud Bapak apa ya? Saya sangat tidak mengerti."


"Riska! Apakah tidak ada secercah harapan agar kamu maafin aku?"


"Haha... Bapak sendiri yang ternyata mencampur-adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan."


"Maaf."


Ivan membelalakkan bola matanya kearah Celvin. Sedang atasanku tersebut, langsung menunduk lemah. Aku sendiri sangat gemas sekali, mengapa Celvin tidak bisa tegas dihadapan Riska.


Sedangkan aku tidak bisa membantunya dengan apapun. Karena takut dan tidak punya hak untuk ikut campur.


"Sudahlah kita pulang saja Pak Celvin," ujarku kemudian sesaat setelah menengok jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga lebih.


"Iya Fann," jawab Celvin dengan lunglai.


Ia masih terdiam duduk di kursinya. Sedangkan aku, Riska ataupun Ivan sama-sama merapikan beberapa berkas yang tadi kami bawa.


Melihat Riska yang keras hatinya, membuatku teringat tentang Ibuku. Namun, dalam kasus yang berbeda. Keras hatiku saja tidak separah itu. Setidaknya aku masih memiliki rasa iba.


Aku berjalan dengan Celvin tepat dibelakang Riska dan Ivan. Keluar dari ruangan VIP ini. Demi mencapai tempat parkir dimana mobil yang akan kami tumpangi terparkir.


Namun, ada hal yang membuatku terkejut hebat.


"O-om Arlan?" ujar Riska saat mendapati kekasihku tangah duduk disalah satu meja dekat dengan pintu keluar.


"Riska? Apa-apaan ini?" respon Mas Arlan tak kalah kagetnya.


Sontak saja aku terkejut bukan kepalang. Mengapa mereka saling kenal?


"Om Arlan?" lanjut Celvin.


"Haaaaah?" ujarku sembari membelalakkan mata lebar-lebar.


Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka semua mengenal Mas Arlan.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen..


INGAT INI HANYA NOVEL PEMIKIRAN PRIBADI, TIDAK ADA MAKSUD MENYINGGUNG SIAPAPUN, DAN SATU LAGI TIDAK SEMUA NOVEL SAMA SEPERTI REAL LIFE.


Sambil menunggu Up silahkan mampir di novel aku yang lain


Who is My Love


Jika berkenan saja...

__ADS_1


__ADS_2