
Yakinlah, bahwa tidak ada hasil yang akan mengkhianati suatu usaha. Jalan yang berat dan berduri pun bisa menjadi selembut sutera. Jika kamu bisa merajut kembali asa yang hampir terputus, dengan tali yang bernama perjuangan atau keberanian.
_____________________________________________
Suatu kelegaan tersendiri setelah mendengar Riska mengatakan semua itu. Jalan terang dan lebar mulai terbentang untuk kisah cinta kami. Merajut kembali asa yang sempat terputus dengan harapan baru yang lebih tinggi. Sebuah keberanian yang sukar aku percaya. Karena selama ini, aku tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Sebuah dress span dibawah lutut, berwarna biru dongker, membalut tubuhku. Sedangkan leherku terhias kalung kecil berliontin permata, telingaku terpasang anting-anting permata pula serta tanganku memakai jam yang bergaya perak simpel. Tak lupa kupakai sebuah korset perut yang kumiliki dan make up se-natural mungkin. Meski tidak menutupi tubuh dan bahuku yang besar, setidaknya lipatan lemak bisa disembunyikan. Demi acara kencan malam ini.
Aku menatap cermin besar yang menempel pada almariku. Membolak-balikkan badan beberapa kali. Setelah itu, aku tersenyum. Sepertinya tidak buruk juga. Tampilanku begitu elegan dengan warna yang tidak terlalu mencolok dan accessories perak yang bersinar. Jika dibandingkan dengan Mas Arlan yang berbadan kekar, sepertinya aku masih pantas disisinya.
Ahh... sejak kapan bisa se-percaya diri ini?
Aku rasa Tuhan sudah mempercayakan beberapa energi keberanian untukku. Satu per satu masalahku terselesaikan. Meski ada beberapa yang belum. Namun, aku yakin aku dan Mas Arlan bisa melalui semuanya dan mencapai sebuah bahagia nantinya.
Seperti sebuah pepatah yang mengatakan "Akan ada pelangi setelah badai berlalu". Dan jika menilik lagi pada segala masalahku kemarin, semua terbukti benar. Satu per satu masalahku selesai. Perlu diingat bahwa manusia yang masih hidup tentunya memiliki berbagai masalah yang terkadang muncul. Satu hikmah lagi yang bisa aku ambil dari semua itu, bahwa jangan pernah menyerah untuk sebuah niat yang baik.
Tiba-tiba bel pintu apartemenku terdengar berbunyi. Aku segera mengambil langkah untuk menuju keberadaan pintu tersebut. Jujur saja, aku berdebar tak menentu. Masih belum siap akan respon apa yang Mas Arlan berikan. Melihat diriku yang berpakaian seperti ini.
Bunyi suara kriet terdengar saat aku mulai memberanikan diri. Mas Arlan dibalik pintu ini, ialah yang menjadi tersangka pemencet tombol bel. Kemeja hitam polos disambung dengan celana bahan abu-abu, membalut tubuhnya yang kokoh. Ia begitu menawan sekali, apalagi satu kancing bagian atas terbuka. Aku tidak tau, apakah disengaja atau tidak.
Ya Tuhanku! Hidangan mata semacam apa ini?
Sedangkan aku masih bersembunyi dibalik daun pintu dan hanya terlihat bagian kepala saja. Sehingga membuat Mas Arlan mengerutkan dahinya.
"Hei, kenapa Dek?" tanyanya.
Aku tersenyum kecut lalu kuberikan jawaban untuknya, "Nggak apa-apa, Mas."
"Mas nggak disuruh masuk?"
"Emm... a-anu diluar aja ya. Entar kalau udah beres aku keluar langsung."
"Nggak mau, kamu kenapa sih?"
"Nggak apa-apa, sayang."
"Yaudah, Mas mau masuk."
"Dibilangin tungguin diluar kok!"
"Nggak mau, aneh banget deh."
Mas Arlan tetap tidak mendengar permintaanku. Ia melenggang masuk begitu saja. Akhirnya aku izinkan karena takut merusak suasana hatinya atau kami terancam bertengkar lagi.
Kututup kembali pintu. Saat aku membalikkan badanku, Mas Arlan masih berdiri diam dihadapanku. Ia menatapku dari atas sampai bawah tanpa kedip, hanya gerak bola matanya yang terlihat naik turun. Sehingga membuatku menelan ludah kelu. Jangan-jangan, ia akan menertawakanku?
"A-apa sih?" tanyaku.
Mas Arlan tampak terkejut. Namun, diiringi senyuman yang begitu manis. "Kamu cantik," jawabnya.
"Ngeledek ya?"
"Nggak kamu cantik, Dek. Serius!"
"Tapi, tetep aja aku gendut!"
"Gendut itu sexy sayang."
"Mesumm ih!"
Mas Arlan memajukan langkahnya. Ia mendekatiku yang masih menyimpan rasa malu. Setelah cukup dekat, ia menarik wajahku dan dicubitlah kedua pipi gembulku.
"Sakit Mas!" Aku membentaknya karena nyeri akibat dari ulahnya tersebut.
"Gemes tauk!" jawabnya.
"Apa sih kayak ABG aja, kelakuannya. Padahal udah se-tua ini lho."
"Biar awet muda, Dek. Kalau Mas awet muda kan masih cocok kalau jalan bareng kamu."
"Dasar! Ada aja jawabannya. Yaudah tungguin bentar ya?"
"Kamu mau ngapain?"
"Mau ngelarin dandan dulu."
"Centilnya. Jangan sih, gini aja udah cantik kok. Natural."
"Bentar aja, Mas. Aku belum sisiran."
Lagi-lagi, Mas Arlan tidak peduli. Ia malah merengkuh diriku kedalam pelukannya. Sontak saja, aku terkejut. Memangnya aku secantik itukah? Sampai Mas Arlan tidak mau ditinggalkan, barang sedetik saja.
Untuk beberapa saat kubiarkan Mas Arlan memelukku. Aku rasa ada hal yang melelahkan sampai ia berlaku seperti ini. Namun, degupan jantungnya yang terdengar oleh telingaku sangatlah kencang. Seperti sedang dipacu oleh sebuah alat canggih.
__ADS_1
Kuberanikan diri untuk menatapnya. Wajah Mas Arlan merona merah sembari memejamkan mata. Tangannya pun gemetaran, tidak seperti biasanya yang sangat tenang. Hal ini membuatku keheranan.
"Kamu ada masalah, Mas?" tanyaku dalam posisi yang masih dipeluk olehnya.
"Nggak kok, Dek. Paling masalah yang kemarin," jawabnya.
Aku menatapnya lebih tajam diiringi gerakan tanganku untuk menangkup wajahnya. "Serius? Belum selesai ya? Kamu capek? Kalau gitu, kita nggak usah pergi."
Mas Arlan menyentuh kedua telapak tanganku yang masih menangkup diwajahnya. "Nggak apa-apa, sayang. Jadi dong, Mas kan udah janji."
"Tapi, kamu keliatan capek, Mas."
"Butuh asupan gizi sepertinya."
"Oh... mau makan buah, masih ada stok kok dikulkas."
"Duhh... pacarku polos nggak peka lagi."
"Haah? Maksudnya?"
"Gini lho."
Mas Arlan meraih wajahku seketika. Ia mendaratkan sebuah kecupan dibibirku. Dengan mata yang masih terbelalak, aku masih terkejut tanpa bisa menolak. Satu kali, dua kali, tiga kali. Aku terlena sampai memejamkan mata. Jatuh kedalam keromantisan untuk beberapa saat. Balutan lipgloss dibibirku pun hilang.
Dasar usil! Sialan kan? Gue kena lagi!
Hangat cinta dari Mas Arlan memang luar biasa. Sampai kami selalu khilaf. Apalagi jika sedang berdua seperti ini. Aku tidak tau, apakah hal ini masih dianggap wajar bagi beberapa pasangan. Walau hanya sebuah kecupan, tetap saja aku selalu merasa bersalah setelah melakukannya.
Kutepuk pundak Mas Arlan, dan kujauhkan diriku darinya. "Jahat banget sih!" bentakku.
"Ya maaf, Dek. Mas nggak kuat liat kamu cantik kayak gini," jawabnya.
"Kan dandanan aku jadi rusak, Mas."
"Yaudah dandan lagi, Mas tunggu lho hehe."
"Kamu mah aneh, jangan suka gitu ih sebelum nikah."
"Iya iya maaf, Dek. Nggak lagi kok hari ini, tapi nggak tau kalau besok."
"Ihh... nyebelin banget sih."
"Hahaha... lucu banget sih kamu."
Setelah sampai dikamar, kuperbaiki riasan wajahku yang dirusak Mas Arlan. Tak lupa kusisir rambutku dengan lembut. Kubiarkan saja terurai untuk menutupi pipiku yang chubby. Kuambil tas selempang berwarna putih dan memakai sepatu flat shoes berwarna senada. Setelah selesai aku menghampiri Mas Arlan lagi.
"Kita mau kemana, Mas?" tanyaku.
"Dah, ikut Mas aja, Dek. Mas mau kenalkan kamu ke seseorang," jawabnya.
"Siapa Mas?"
"Nanti kamu juga tau kok, yuk."
Mas Arlan memberikan tangannya padaku dengan maksud agar aku mau menggandengnya. Meski, sebenarnya enggan. Aku tetap menerima permintaannya. Karena merasa kencan ini adalah kencan pertama setelah mendapat restu dari Ibuku.
Kami berjalan bersama menyusuri lantai gedung apartemenku. Dan menuruni lantai demi lantai menggunakan lift. Tautan tanganku tak pernah terlepas sedikitpun disepanjang langkah. Sampai Mas Arlan beberapa kali tersenyum bangga.
Apakah aku sepenting itu baginya?
Mau tidak mau, kami saling melepaskan tangan. Saat telah sampai ditempat mobil Mas Arlan terparkir. Seperti dalam sebuah drama televisi, ia membukakan pintu mobilnya untuk diriku. Sweet bukan? Aku harap orang lain tidak iri padaku. Karena perjalanan cinta kami tidak selembut sikap Mas Arlan.
Setelah berada didalam dan sudah siap, Mas Arlan memacu mobilnya. Kami perlahan-lahan meninggalkan gedung apartemenku. Tanpa aku ketahui, akan kemana tujuan yang ia rencanakan dan juga siapa orang yang akan ia kenalkan padaku. Ada rasa penasaran tersendiri dalam hati. Namun, masih sukar untuk menerka-nerka.
Mas Arlan memutar sebuah lagu yang sangat aku kenal. Yaitu lagu milik salah satu diva dunia yang menjadi idolaku. Sontak saja aku dibuat terkejut. Mana mungkin kami memiliki selera musik yang sama. Padahal, yang aku ketahui Mas Arlan lebih sering mendengar lagu-lagu yang melankolis.
"Mas, kamu juga suka denger lagunya Avril?" tanyaku.
Mas Arlan tersenyum. Lalu menatapku sekilas. "Nggak Dek," jawabnya.
"Lho?"
"Kan kamu yang suka, sayang."
"A-aku? Darimana kamu tau?"
"Tau dong, apasih yang Mas nggak tau soal kamu."
"Dari Nike ya?"
"Hehe... lebih tepatnya dari suaminya yang menanyakan biodata kamu ke istrinya."
"Dasar! Kenapa nggak langsung tanya aku aja? Malu-maluin tauk."
__ADS_1
"Nggaklah, ntar malah nggak terkejut kamunya sayang."
"Tapi kan aku juga udah tau siapa yang ngasih tau, Mas."
"Nggak apa-apa dong, yang penting kamu sempet terkejut hehe."
"Hmm... iya sih. Makasih ya, Mas. Selalu bikin kejutan buat aku, walaupun sekecil ini. Tetap ada rasa manisnya."
"Sama-sama, sayang. Maniskan? Kayak Mas-mu ini."
"Ha-ha-ha iyain ajalah."
Iya Mas, kayak kamu yang semanis madu. Membuatku bahagia setiap kali bersama.
Berjuta rasa terima kasih, aku ucapkan dalam hati. Untuk Tuhan dan juga Mas Arlan. Perjalanan jombloku selama 30 tahun akhirnya terbalas semanis madu. Aku diberikan seorang kekasih yang tidak hanya baik, tapi sangat menarik dalam segi apapun. Ada seorang manusia pria yang akhirnya memilih diriku yang tidak sempurna. Bukan hanya menerimaku apa adanya, tapi juga memperjuangkan diriku sekuat tenaganya.
Sekali lagi, jangan sampai ada orang yang iri padaku. Karena perjalanan cinta kami tak semanis senyuman dari Mas Arlan. Bahkan ada beberapa langkah lagi yang perlu kami selesaikan. Dan pasti akan ada lagi beberapa pertengkaran kecil yang mungkin akan terjadi. Karena, dalam kenyataan sebuah hubungan tidak selalu mulus. Kadangkala ada beberapa perbedaan pandangan. Aku berharap apapun masalah kecil yang akan datang, kami bisa menyelesaikan dengan baik tanpa harus berpisah lagi.
Aku menyadari sesuatu saat mobil Mas Arlan mengarah pada rute jalan yang pernah aku lalui. "Mas, kita sebenarnya mau kemana?" tanyaku.
"Ikut aja, sayang," jawabnya.
"Kasih tau dong, aku juga berhak tau lho."
"Iya iya, Mas kasih tau. Tapi kamu janji ya jangan menolak dan minta pulang."
Aku mengerutkan dahiku. Menandakan penuh heran dan tanda tanya besar. "Memangnya kamu mau bawa aku kemana?"
"Janji dulu."
"Iya janji, sayangku."
"Nah gitu dong, kecup dulu juga."
"Nggak mau! Cepet bilang!"
"Hmm... Mas mau aja kamu ke rumah Mas. Ketemu Ibu."
"I-ibu???"
Sontak saja, aku terperanjat kaget. Aku hanya bisa menelan saliva dengan kelu. Semua serba mendadak. Aku memang sudah merencanakan akan bersiap diri untuk hal ini. Tapi, bukankah ini benar-benar mengejutkan?
Lantas, aku harus bagaimana nantinya? Aku tidak bisa membatalkan rencana ini dan meminta pulang. Pasti Mas Arlan tidak akan mengizinkan. Lebih parahnya lagi, kami akan bertengkar. Tidak ada cara lain lagi kecuali menghadapi. Toh, lambat laun aku memang harus bertemu beliau.
Disaat mobil Mas Arlan semakin mendekati rumahnya, jantungku kembali berdebar. Kugosok-gosokkan telapak tanganku yang basah karena keringat. Padahal mobil ini begitu dingin, tapi karena gugup, aku tidak bisa merasakannya. Bagaimana ini? Apakah seperti ini rasanya, ketika akan bertemu calon mertua?
Tiba-tiba, Mas Arlan menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Sebelum kami masuk kedalam area rumahnya. "Dek, kamu nggak apa-apa?" tanyanya.
"En-enggak kok, Mas," jawabku.
Mas Arlan meraih tanganku. Kemudian menatapku begitu dalam. "Jangan takut sayang, malam ini kita akan mendapat restu. Jadi berpikir yang positif saja ya," katanya.
"Tapi, aku takut Mas. Aku takut Ibu kamu nggak bisa nerima aku yang kayak gini. Aku ciut nyali Mas, padahal kemarin sempat percaya diri. Gimana dong?"
"Sayang, kita ini punya niat baik lho. Bukan mau mencuri atau merampok. Lagian Ibunya Mas orang yang baik, Mas bisa jamin itu. Jadi, tenang ya? Kita masuk, kamu tarik napas dulu. Ini demi cinta kita, demi Mas dan Selli juga."
Aku mengikuti arahan dari Mas Arlan. Kuhela napas yang panjang dan dalam. Lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Sedangkan, Mas Arlan kembali memacu mobilnya. Kami akan masuk kedalam area rumahnya.
Astaga! Ini lebih menyiksa daripada bertemu Mama.
Pak Edi yang merupakan penjaga rumah Mas Arlan, datang. Beliau membukakan gerbang rumah. Lalu, kami masuk kedalam. Setelah itu mobil diparkir tenang disudut kanan.
Mas Arlan menatapku lagi. "Tenang saja ya," katanya.
Aku hanya bisa mengangguk. Kami beranjak turun dari mobil. Kuraih tangan Mas Arlan yang disodorkan padaku. Kami bergendengan sembari berjalan menuju pintu utama rumah ini. Sesampainya disana, Mas Arlan membuka pintu tersebut. Kami masuk kedalam. Mas Arlan membawaku lebih dalam, aku rasa akan menuju ruang tengah ataupun ruang keluarga.
Benar saja. Pada sebuah kursi santai, duduklah seorang wanita yang sudah renta. Rambut beliau telah memutih, beliau juga memakai kacamata dan tongkat yang mungkin dipakai untuk berjalan. Aku sendiri tidak bisa memperkirakan usia beliau, apalagi anak ketiganya sudah mencapai kepala empat. Kutelan saliva dengan kelu lagi. Pradugaku mengatakan bahwa beliau adalah Ibu dari Mas Arlan.
"Assalamu'alaikum Ma." Salam terucap dari bibir Mas Arlan.
"Wa'alaikumssalam," jawab sang Ibu.
Mas Arlan melanjutkan langkahnya untuk membawaku semakin dekat dengan beliau. Aku gugup sekali!
"Ma, ini Fanni. Gadis yang sering Arlan ceritakan," ujar Mas Arlan.
Sang Ibu hanya diam. Beliau beranjak berdiri dengan bantuan tongkat. Beliau menatapku tajam. Dan aku hanya memberikan senyuman semanis mungkin lalu menunduk karena gugup yang semakin merajalela.
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen...
jangan jadi pembaca hantu hehehhe
__ADS_1
Next bab, menyusulll yaaa...