Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Waaahhh!!!


__ADS_3

Dengan mengendarai mobil milik Celvin, kami menuju kesebuah restoran yang telah mereka tentukan. Menembus hiruk pikuk keramaian kendaraan. Menyatukan deru mesin bagaikan sebuah paduan suara yang kompak. Bersama seorang pengendara handal yang masih menjadi kepercayaan bagi Celvin. Yaitu Pak Celvin.


Kami diam. Tak ada satupun kata yang terucap. Entah, apa yang ada dalam pikiran Celvin sekarang. Aku tidak mengetahuinya. Karena, aku sendiri tengah gelisah. Mempertanyakan maksud dan tujuan yang hendak Riska sampaikan padaku. Beberapa kekhawatiran pun masih saja muncul. Menutup sedikit keberanian yang sempat terkumpul. Rasa ragu juga menyeruak mengisi relung hati.


Namun, aku harus tetap gigih. Tidak boleh mundur dan abai lagi. Ini semua demi cinta dan cita-cita. Cita-citaku bersama Mas Arlan, kekasihku. Naik ke pelaminan dan membangun sebuah keluarga kecil. Tentunya, dengan Selli yang akan menjadi putri kami.


Namun, dibalik semua kekhawatiran itu. Aku menyimpan satu kekhawatiran yang sangat sulit dihindari. Sebuah rasa yang tidak bisa ditinggalkan manusia manapun. Aku lapar! Bagaimana kalau aku tidak bisa bersantap dengan tenang, nantinya? Apalagi, kalau menu yang dipesan hanya sebuah cake kecil. Pasti aku akan malu jika memesan makanan yang lain. Harganya cukup mahal pula.


Ohh... harusnya gue udah bareng Nike sama Tomi. Pergi ke warung makan, makan lahap lalu hilang lapar. Tapi, ya sudahlah. Ini demi Mas Arlan dan juga nama perusahaan!


Begitulah batinku. Disertai beberapa kali bunyi keroncongan diperutku. Sembari terpejam menahan malu. Beruntungnya Celvin tidak menyadari tentang ini. Ia hanya sibuk bermain ponselnya sendiri.


Beberapa saat kemudian, kami telah sampai. Pak Sopir mengarahkan mobil tepat didepan pintu restoran. Supaya Celvin dan aku tidak terlalu jauh untuk berjalan. Setelah itu, beliau berlalu. Dari pandanganku, beliau hendak memarkir mobil diarea parkir.


"Mari, Fann," ajak Celvin.


Aku menolehnya. Lalu menjawab, "Iya Vin."


Kami berjalan dengan langkah yang sama. Saling berdampingan untuk menuju tempat yang dipesan. Seperti biasa, Riska dan Ivan telah sampai lebih dulu. Mereka tampak duduk saling berhadapan, dengan menyisakan dua kursi yang mungkin untuk aku dan Celvin.


Jantungku kembali berdebar. Menatap Riska yang cantik jelita, ia anggun berkharisma. Siapa yang tidak ciut jika bertemu wanita secantik itu? Dan itulah, yang selalu aku rasakan setiap kali bertemu dengannya. Apalagi rasa hatiku kini bertambah gundah. Tatkala kuingat sikapku yang meninggalkannya begitu saja, saat pertemuan pribadi kami. Akankah Riska menderaku dengan berbagai pertanyaan? Atau mungkin sebuah hinaan?


Ya Allah, bantu saya.


Celvin mempersilahkan aku untuk duduk lebih dulu. Namun, aku menolak. Lantaran Riska dan Ivan masih berdiri, layaknya menyambut tamu penting. Namun, Celvin tidak menyadari akan penolakanku. Saat kuamati, ia sedang meronakan wajahnya menjadi pink manis. Tanda ada rasa malu karena tersipu. Ia menatap Riska diam-diam.


Dasar bucin!


Sebuah keadaan manis yang berlangsung didepan mataku. Tak kusangka Riska juga bersikap sama. Mereka saling bertatapan dalam kurun waktu selama satu menit-an. Seolah menjadikan ruang sekitar menjadi sebuah taman yang memekarkan bunga-bunga mawar. Membuatku tersenyum tipis, karena menjadi saksi kisah asmara mereka.


Sebenarnya, apa yang telah terjadi saat gue nggak ada?


Pertanyaan seperti itu terus muncul dalam benakku. Aku juga sangat penasaran tentunya. Karena yang aku ketahui, hubungan mereka tidaklah baik. Dan sekarang? Seperti sebuah keajaiban yang diturunkan Tuhan kedalam hati Riska. Aku rasa aku pernah berada diposisinya. Saat pertama kali, aku menjalin cinta dengan Mas Arlan.


Hal seperti ini, bisa memberikan keuntungan bagiku. Aku bisa melupakan tentang kegelisahanku untuk beberapa saat.


"Cihh..." Umpatan Ivan yang lirih.


Namun terdengar oleh gendang telingaku. Saat aku menoleh padanya, ia tampak menyimpan geram. Aku rasa ia sedang cemburu. Mengingatkanku, pada diriku sendiri saat menahan kesal lantaran cemburu dengan Celvin dan Riska. Saat aku belum menyadari bahwa perasaan itu hanya kekaguman semata.


"Hai Kak Fanni," sapa Riska padaku. "Silahkan duduk.


"Ha-hai juga Nona Riska, te-terimakasih," jawabku gugup.


Sialnya, aku duduk tepat disebelah Riska. Sehingga, aku hanya bisa menelan salivaku beberapa kali. Lalu menatap Celvin, dengan harapan ia mengerti dan bertukar tempat denganku. Namun, nyatanya ia tidak peduli. Padahal ada seorang musuh disampingnya. Yaitu Ivan yang sedang dipenuhi rasa cemburu.


Astaga, situasi macam apa ini???


Seorang pelayan pria mendatangi kami. Namun, bukan membawa buku menu. Melainkan sudah siap menyajikan hidangan yang telah dipesan. Seperti yang aku duga sebelumnya, hanya empat piring cake dan empat gelas minuman yang dipesan oleh Riska. Sungguh hatiku kecewa, aku sangat lapar. Namun, malu ketika ingin memesan menu lain. Orang-orang kaya memang sangat berbeda. Makanannya roti bukan nasi. Sepertinya Mas Arlan-ku adalah manusia yang paling sederhana.


"Ini hanya menu andalan disini, kalau misal kalian mau pesan yang lain. Silahkan," ujar Riska. "Karna saya tidak mengetahui selera Kak Fanni, mohon maklum."


"Tidak apa," jawabku. "Terima kasih Nona, saya gemuk tapi tidak serakus itu."


"Ohh..."


Tentu saja, semua kukatakan dengan maksud berbohong dan juga menjaga harga diri. Aku tidak ingin terlihat seperti monster yang rakus. Apalagi, Riska adalah keponakan dari Mas Arlan. Aku sudah memiliki satu nilai negatif dimatanya. Tentu, aku tidak ingin terlihat memalukan lagi.


Tangan Riska menyentuh tanganku dipangkuanku. Sontak saja, aku terkejut. Aku tidak mengerti, tentang apa yang hendak ia lakukan.


"A-apa? Maksud Nona?" tanyaku.


Riska tersenyum manis. Dan sialnya, kedua pria dihadapan kami malah menampilkan rona merah diwajahnya. Menandakan kekaguman yang ditujukan pada Riska.


Astaga! Celvin, Ivan?


"Panggil saya Riska saja, Kak," ujar Riska lagi.


"Tidak!" Aku menolak. "Saya hanya orang biasa, tidak pantas untuk itu," lanjutku.


"Lalu, bagaimana dengan panggilan Kak Fanni pada Om Arlan yang merupakan anggota keluarga kami?"


"I-itu da-dalam konteks yang berbeda, bukan?"


"Jadi, jika memanggil sayang pada Om Arlan bisa sebebas itu ya? Terus memanggil saya dengan nama saja, tidak bebas?"


Aku malu sekali. Telingaku terasa panas, mungkin wajahku juga memerah. Dan lebih mengesalkan lagi, Celvin dan Ivan tampak tertawa. Keren sekali! Dalam situasi seperti ini, mereka bisa kompak. Tidak bermusuhan demi meledekku.


"Kak Fanni? Sama Celvin saja bisa kan memanggil nama saja?" tanya Riska lagi.


"I-itu juga butuh waktu yang lama untuk beradaptasi," jawabku dengan rasa heran. Sikap Riska sangat membingungkan tanpa aku ketahui maksud dibalik semua itu.


"Sudahlah Riska, jangan memaksa. Kita makan dulu." Celvin menyela.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Riska.


Kini Riska bersedia melepas genggaman tangannya dari tanganku. Sedangkan Ivan lebih memilih diam. Satu kata yang aku dengar hanya umpatan lirih beberapa saat yang lalu. Wajar saja, ia bersikap seperti itu. Perasaan yang tumbuh dalam kurun waktu yang lama, kini tidak akan terbalas selamanya. Karena, yang aku tangkap, Riska tidak tertarik padanya. Melainkan mantan pacarnya sendiri yaitu Celvin.


Kami mengikuti saran dari Celvin. Menyantap cake masing-masing. Dengan ngilu, aku telan makanan itu. Meski rasanya enak, tetap saja aku tidak puas. Karena aku gagal menyantap nasi Padang ataupun sejenisnya. Walau sebenarnya bisa memesan menu lain, tapi aku enggan. Aku malu, tidak ada satupun dari mereka yang hendak memesan makanan lain. Dan juga sayang uang, karena aku pikir harganya akan mahal.


"Riska, jadi gimana soal hubungan kerjasama perusahaan kita?" tanya Celvin.


Riska menghentikan aktivitas menyantapnya. "Aku bingung, Papa terus mendesakku agar membatalkan kerjasama ini. Tapi, jika aku membatalkannya. Sebuah kerugian besar akan terjadi. Lalu, aku harus bayar konpensasi sama perusahaan kamu," jawabnya.


Aku? Kamu?


"Aku bakal usahain ketemu sama Papa kamu ya Ris."


"Makasih Vin, sebenarnya ini memang salah aku kok dari awal. Karna sedang pailit jadi aku menyetujui bantuan yang Papa kamu berikan. Oh iya muka kamu kenapa, Vin?"


"Emm... tidak apa-apa kok Ris."


"Yakin?"


"Yakin sekali."


"Dipukul Papa kamu?"


"Tidak, tidak ada hubungannya dengan masalah ini pokoknya."


"Jangan bohong Celvin."


"Tidak, aku tidak bohong."


Baiklah! Baiklah! Pasangan ini sepertinya sudah berbaikan. Nikmati saja, biarlah seperti itu. Supaya Riska nggak inget tentang gue.


Disaat aku membatin seperti itu, Ivan mendorong kursinya kebelakang. Lalu ia berdiri dari duduknya. Menatap Celvin dan Riska secara bergantian. Ada raut kesal yang sedang diaturnya agar menghilang. "Maaf saya permisi ke toilet sebentar," izinnya.


"Baiklah Ivan, silahkan," jawab Riska.


Dan gue? Ditinggal? Tidak!


Setelah satu menit berlalu, aku mengikuti Ivan untuk pergi ke toilet. Bukan membuntutinya, hanya saja aku terlalu tidak enak hati. Jika masih berada disini, aku akan dianggap sebagai lalat yang hinggap. Belum lagi, orang-orang akan mengatakan apa nantinya? Dua insan sempurna, lalu satu orang diantara mereka adalah ikan buntal yang mengembung besar.


Aku juga mendorong pelan kursiku. Lalu meminta izin, "Maaf."


"Iya Fann, kenapa?" tanya Celvin.


"Tidak apa-apa kok, tapi izin kebelakang sebentar ya?"


"Lho? Kenapa?"


Celvin mengangkat satu alisnya. Ia menatapku penuh harap untuk tidak meninggalkannya. Sepertinya, ia masih merasa canggung saat berdua saja bersama Riska. Namun, aku tetap menolak. Kuabaikan permintaan atasanku tersebut. Lalu melanjutkan rencanaku. Toh, ini merupakan kesempatan bagus untuknya.


Saat aku ingin membelokkan kaki kearah toilet yang masih dekat dengan toilet pria, kulihat Ivan masih berdiri diam ditempat yang akan aku lewati. Membuatku tertegun sebentar. Seperti yang aku duga, ia tampak frustasi atas kecemburuan yang menerpa hatinya.


"Van?" panggilku.


Ia menoleh padaku. "Ya, Fanni," jawabnya.


"Loe ngapain?"


"Santai, loe ngikutin gue?"


"Iya, gue malu. Gue paling jelek diantara mereka."


"Wahh! Emm... gue masih heran, kalau loe ternyata adalah pacarnya Pak Arlan."


"Semua memang sangat sulit dimengerti, sampai se-kebetulan ini. Heran ya?"


"Nggak, Pak Arlan orang yang baik. Gue yakin beliau bisa nerima loe apa adanya, Fann."


"Semoga saja. Lalu, loe yang sabar ya?"


"Soal Riska?"


Aku mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Ivan. Ia menghela napas begitu berat lalu dihembuskan kembali. Seolah sudah pasrah dengan semua yang terjadi.


"Van, boleh ngasih sedikit saran?" tanyaku.


"Silahkan," jawabnya.


"Cari yang lain Van, mungkin emang berat. Tapi gue juga pernah naksir sama Celvin. Akhirnya, sekarang malah jatuh cinta sama orang yang nggak pernah muncul dipikiran gue sama sekali."


Ivan masih diam. Sepertinya saranku masih terasa berat untuk ia lakukan. Aku cukup mengerti tentang itu. Apalagi Ivan terus memendam perasaannya pada Riska selama bertahun-tahun. Bahkan, ia begitu setia mendampingi Riska kemanapun.


Kasihan.

__ADS_1


"Gue cuman nggak rela, kalau Riska jatuh ditangan Celvin lagi," jawabnya.


Sontak saja aku terkejut. Aku mengartikan bahwa masih ada prasangka buruknya mengenai pribadi Celvin. Entah mengapa, kali ini aku tidak bisa mengerti. Ada sebuah rasa kesal tersendiri karena ia bermaksud mengatakan, kalau Celvin bukan orang yang baik-baik. Meskipun, ada benarnya. Tapi, kini aku lebih mengenal Celvin daripada dirinya.


"Maksud loe?" tanyaku tegas.


Ivan menatapku. "Apa loe masih nggak tau soal kasusnya? Sampai Pak Arlan saja membencinya. Celvin itu pembunuh!" jawabnya.


"Maaf, tapi saya sebagai sekretaris dari Bapak Celvin wajib menjaga nama baik beliau. Setiap orang pasti memiliki kenangan buruk. Tapi, Tuhan tidak pernah menutup pintu ampunan-Nya, sekalipun itu untuk Pak Celvin. Jadi, saya harap jangan berburuk sangka yang tidak-tidak. Karena saya lebih tau, jati diri Pak Celvin saat ini," tegasku. "Dan kamu juga tidak berhak untuk menghinanya. Maaf, prasangkamu membuat saya lebih mendukung hubungan mereka."


"Fa-Fanni?"


Aku meninggalkan Ivan dan menggagalkan rencanaku untuk ke toilet. Rasanya aku paling benci pada orang-orang yang merutuk orang lain. Termasuk Mas Arlan, bahkan kami sempat bertengkar karena pembelaanku pada Celvin. Semua itu aku lakukan, karena Celvin banyak menceritakan perihal hidupnya yang miris padaku.


Dan aku rasa, tidak ada salahnya jika Celvin ingin berubah. Tapi, mengapa masih saja ada orang yang julid seperti itu? Rumit sekali, kalau berbicara tentang manusia.


Aku melirik jam dinding yang dipasang pada dinding restoran ini. Jam makan siang hampir habis. Sepertinya, aku harus mengajak Celvin untuk kembali.


"Maaf, tapi waktu makan siang hampir habis," ujarku sesaat setelah aku sampai di meja semula.


Celvin menengok jam tangan yang menghiasi lengannya. "Oh iya, kalau begitu kita kembali. Riska, kamu baik-baik ya. Dan jangan khawatir, aku akan cari jalan keluar," ujarnya.


"Emm... tunggu dulu. Makasih Vin atas perhatiannya. Lalu, bolehkah minta waktu sebentar untuk berbicara empat mata dengan Kak Fanni?" tanya Riska.


What? Gue pikir, gue udah bebas. Apa lagi ini?


Celvin mengangguk, setelah itu ia melangkah pergi meninggalkan kami. Sedangkan aku diam, berdiri tegak dengan ke-ngiluan yang masih tersisa. Ada apa sebenarnya?


"Silahkan duduk lagi, Kak Fanni. Disini," ujar Riska sembari menunjuk kursi yang berada disampingnya.


Kutelan salivaku dengan ngilu. Ternyata aku belum cukup percaya diri menghadapinya. Apalagi, nanti jika bertemu calon mertua. "Te-terima kasih," jawabku.


Lalu aku berjalan dan duduk dikursi yang Riska maksud. Debaran jantungku muncul kembali. Seolah sedang melewati interview kerja. Menegangkan!


"Kak Fanni, saya dengar Kaka sempat sakit?" tanyanya.


"Iya, hanya sakit biasa kok," jawabku.


"Maaf Kak, pasti semua karena saya."


"Ehh... bukan kok, Nona bukan penyebabnya."


"Tidak apa-apa, jujur saja. Saya minta maaf karena telah mendesak Kak Fanni, tapi maksud sebenarnya bukan karena ingin mengejek. Melainkan ingin membantu."


"Saya mengerti."


"Kak Fanni, Om Arlan sempat datang dan memarahi saya. Beliau mengutarakan kekecewaannya karena saja berbicara seperti itu pada Kakak. Hmm... sudah lama sekali Om Arlan tidak berbuat demikian, saya rasa perasaan Om Arlan pada Kakak tidaklah main-main."


Mas Arlan lagi? Demi aku? Ya Tuhan! Pria itu. Aku sampai terkesiap ketika mendengar penuturan dari Riska. Betapa beruntungnya diriku. Padahal, aku sempat down. Aku pikir tidak akan ada orang yang bisa menerima kondisiku yang seperti ini.


Nyatanya, Tuhan masih berbaik hati padaku. Dengan mengirimkan sosok Mas Arlan yang begitu baik. Meski, ia duda yang telah memiliki anak. Meski, ia adalah pria yang usianya terpaut sangat jauh denganku. Tapi, ia adalah pria manis yang sangat sempurna hatinya.


"Sa-saya tidak pernah mendengar tentang itu," jawabku.


"Karena Om Arlan selalu menyembunyikan hal-hal baik yang beliau lakukan. Kak Fanni, masuk kedalam keluarga kami bukanlah hal yang mudah. Om Arlan yang asli bagian dari kami saja, sudah menyerah, beliau memilih hidup sendiri dan mundur dari jabatan. Beliau juga tidak ingin jabatan tinggi di kantor pusat kami dan menjadi manager biasa dianak perusahaan kami."


"Iyakah?"


"Iya, beliau sangat merasa bersalah karena ulah mantan istrinya. Makanya berbuat demikian dan beliau sempat mengurus saya diwaktu kecil. Usia kami terpaut lima belas tahun. Bahkan beliau selalu menyempatkan diri mengunjungi saya saat sekolah diluar negeri. Waktu itu, saya adalah juniornya Celvin, beliau tau tentang hubungan kami dan kasus Celvin ditambah lagi perselingkuhan Tante Nia dengan kerabat Celvin."


"Lalu?"


"Makanya Om Arlan sangat membenci keluarga itu termasuk Celvin. Itulah yang bisa saya ceritakan. Jadi-"


Riska meraih telapak tanganku lalu menggenggamnya. Sosok Riska yang elegan seolah hilang. Kini ia terlihat seperti orang-orang biasa. Namun, kecantikannya masih tetap ada.


"Jadi?" tanyaku.


"Tolong jaga dan cintai Om Arlan dengan sebaik mungkin. Saya tidak akan tega jika sampai melihat beliau terpuruk lagi," jawabnya.


"Itu sudah pasti akan saya lakukan, Nona. Karna saya menjalin hubungan ini tanpa tau siapa Mas Arlan sebenarnya. Banyak yang terjadi sampai restu Ibu saya, baru saya dapat beberapa hari yang lalu. Saya berjanji apapun keadaan Mas Arlan, saya siap menemani."


"Hmm... saya jadi lega. Karna sepupu kecil saya, sebentar lagi akan memiliki seorang ibu. Nenek saya adalah orang yang baik, tapi tetap akan ada beberapa orang dikeluarga kami yang memiliki sifat tidak baik. Tante-tante saya dan juga beberapa kerabat yang lain, ada yang baik ada yang tidak. Jadi, jika ada pembicaraan buruk tentang Kak Fanni suatu saat nanti. Saya harap Kak Fanni tidak ambil hati."


"Semoga saja."


"Mari kita kembali ke kantor masing-masing."


Setelah itu, aku berjalan keluar bersama Riska, setelah ia memanggil Ivan. Tentunya membawa sejumlah kelegaan pada hatiku. Satu masalah sudah terselesaikan lagi. Kegelisahanku terbayar dengan baik. Aku hanya bisa meminta maaf dalam hati saja pada Riska. Karena sempat berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen ya..

__ADS_1


poin juga boleh.


Woeeey pada kemana nih ya? hmmm. hmm. hhmm... hehehe


__ADS_2