Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Balik Ancam


__ADS_3

Aku bersikap lebih tenang lagi pada saat Ivan menggebrak meja serta menggertak diriku. Kuabaikan dirinya yang tengah panik dan memperhatikan keadaan sekitar, justru aku sangat santai dalam bermain ponsel. Ada sesuatu yang tengah aku rencanakan. Aku tidak sebodoh itu dalam bertindak. Perhatian para pelayan membuat Ivan bergetar. Ia menghela napas sangat dalam dan kembali duduk di kursinya. Setelah ia mulai tenang, para pelayan pun kembali mengabaikan kami.


Ketika Ivan telah duduk, ia menatapku dan aku beri balasan mata yang tajam. Namun kemudian aku tersenyum, kuletakkan ponselku di atas meja bagian kiri. Aku berfokus kepadanya. "Apa gue bener? Loe pelaku penguntit dan teror itu?" tanyaku dengan nada yang santai.


Ivan menekan rahangnya seolah sedang menahan amarah atau memang benar sedang menahannya. "Jangan ikut campur, Nona Fanni," ujarnya dengan nada yang lebih lembut, meski tatapannya mengancam.


Aku menghela napas sangat dalam. "Kenapa loe lakuin hal bodoh itu? Gue cuma mau mastiin aja kok."


"Gue nggak pernah ganggu hidup loe, Fanni. Kenapa loe harus tanya-tanya sesuatu yang bukan urusan loe? Kayaknya loe ini tipikal orang yang gemar ikut campur ke dalam masalah orang ya?"


"Lebih tepatnya dilibatin, males banget gue nyusahin diri ikut campur masalah orang."


"Terus ini apa maksudnya?"


"Dua tahun lalu, loe yang ikut campur dalam masalah Riska dan Celvin. Bahkan begitu teganya loe laporin masalah mereka ke Pak Gunawan. Suami gue otomatis terlibat, Riska dateng ke rumah gue dan minta bantuan. Semua masalah itu berawal dari mulut ember loe, Ivan! Dan sekarang loe dateng lagi sama masalah baru? Loe tahu maksud gue, kan?"


Ivan menghela napas dalam. "Riska dateng lagi ke tempat loe?"


Aku mengangguk mantap. Meski ia adalah pelaku dibalik semuanya, ada rasa tidak enak hati yang terlukis pada wajahnya. Sepertinya targetnya hanya Riska dan Celvin saja, namun ia tidak menyadari bahwa ulahnya menyebabkan orang lain kena imbasnya. Bukan tanpa sebab aku berkata demikian. Kembali lagi pada permasalahan mereka bertiga yang selalu melibatkan keluargaku, terutama Mas Arlan. Aku hanya tidak mau hal itu terulang lagi.


Ivan masih terlalu muda untuk menjadi seorang penjahat. Aku tidak tahu ucapanku bisa mempengaruhinya atau tidak. Yang pasti aku ingin berbuat sesuatu, untuk keluargaku. Mungkin kedengarannya sangat egois, namun aku sudah lelah terlibat dengan mereka. Apalagi jika Mas Arlan sampai tahu, ia pasti tidak akan tinggal diam. Riska bukan hanya seorang keponakan baginya, melainkan sudah seperti anak kandungnya.


"Bisakah loe berhenti, Ivan? Jangan berbuat sesuatu yang enggak berguna sama sekali," ujarku lagi. Setelah itu, aku menyesap air mineral dari gelas yang sama.


Ivan menatapku. "Gue nggak akan berhenti, Fanni," jawabnya memberikan penolakan terhadap saranku. Ia pun menyesap kopi hitamnya yang masih tersisa.


"Kenapa? Apa gunanya buat loe? Loe lihat diri loe sendiri, Ivan. Apa-apaan ini? Loe udah kayak preman."


"Terus kenapa kalau gue preman? Kenapa? Loe mau ketawain gue? Silahkan! Gue nggak akan berhenti sampai mereka berdua hancur kayak gue, Fanni!"


Aku terkesiap. "Loe udah dibisikin setan, Ivan."


"Gue udah nggak peduli. Nyimpen semua perasaan selama bertahun-tahun itu nggak mudah, Fanni. Bahkan gue bersedia kalau Riska bisa sama gue, meskipun udah rusak sekalipun."


"Ucapan loe terlalu kasar, Ivan."


Ia tersenyum sinis. "Kasar? Jauh lebih kasar dan sakit pada saat Riska nyuekin gue dan pura-pura enggak paham tentang perasaan gue. Why? Karna gue seorang yang miskin? Sedangkan dia CEO kaya? Padahal gue selalu jagain dia, lindungin dia. Tapi kenapa dia malah tidur sama pembunuh satu itu? Karna cowok itu seorang CEO juga dan bukan pembantu kayak gue?"


"Ivan?"


"Apa? Ucapan gue bener, kan? Sekali lagi gue bilang, gue nggak akan berhenti sebelum mereka berdua hancur!"


Tekad jahat itu sudah sangat bulat dan sepertinya telah direncanakan dalam waktu yang lama. Aku baru menemui seseorang yang frustasi atas cinta dan sampai sejauh ini. Lantas, siapa yang patut disalahkan? Ivan, Riska atau Celvin? Aku saja tidak tahu proses perasaan Ivan selama ini. Namun sepertinya makna seorang Riska sangat besar bagi hidupnya, sampai ia tidak bisa berpaling dari si cantik itu. Meski menurutku ia terbilang manis dan bukan perkara yang sulit untuk mencari wanita lain.

__ADS_1


"Udah selesai, kan? Nggak ada gunanya loe bujuk gue, Fanni. Loe cukup diam saja dan acuh terhadap Riska dan Celvin. Setelah itu, loe dan keluarga loe nggak akan terlibat," ujar Ivan diiringi senyum yang terkesan meremehkan. Ia menyesap kopi disisa terakhir pada cangkir itu. Setelah itu, ia mengeluarkan sepuntung r*kok dan menyalakannya dengan sebuah korek api. Padahal jelas-jelas dilarang mer*kok. Namun para pelayan terlihat takut kepadanya, sehingga tidak berani menghentikannya.


"Sejak kapan loe nguntit Riska? Apalagi sampe ngasih anceman itu? Emang loe nggak takut ketahuan? Keluarga mereka kaya raya, bukan hanya Riska, Celvin pun sama. Perkara mudah kalau buat nemuin loe, Ivan. Kenapa loe nggak berhenti? Cukup disini, Ivan. Itu nggak masuk akal, mereka saling mencintai dan enggak akan gampang dipisahin," ujarku masih mencoba membujuknya agar berhenti. Meski pada kenyataannya, aku sedang memancing pengakuannya.


"Mereka nggak akan bisa nemuin gue. Dan gue nggak akan berhenti. Toh, nggak ada bukti, kan? Chat itu nggak akan cukup." Ivan tertawa lebar bak sudah mendapatkan kemenangan. "Gue bakal terus teror Riska sampai dia batalin pernikahan itu. Setahu gue pun, Celvin nggak punya pengawal. Cukup mudah gue libas dia. Dan loe? Gue enggak akan tinggal diem kalau loe ikut campur!" ancamnya.


"Kenapa? Kata Riska loe sempet minta maaf, kan? Tapi kenapa loe begini lagi? Emang kurang cukup loe hancurin hubungan Riska dan keluarganya pada saat itu?"


Ivan tersenyum sinis. "Gue udah mati-matian minta maaf, Fanni. Gue udah lamar dia dan bakal nerima kerusakan dirinya. Tapi, ... hal itu sia-sia. Riska kembali pada Celvin. Mana adil bagi gue? Nggak akan pernah ada orang yang tahu perasaan gue."


"Berhenti! Gue bilang berhenti, Ivan! Loe udah gila, itu bukan cinta tapi obsesi. Seharusnya loe lepas Riska kalau loe benaran sayang sama dia! Loe gila, Ivan! Berhenti sekarang juga, Ivan! Sebelum loe dapet hukum karma, atau bahkan masuk bui!"


Brak! Sekali lagi ia terpancing emosinya. Ia menggebrak meja dan sekali lagi hal itu membuat para pelayan memperhatikan kami. Ia sudah tidak peduli. Meski tubuhku mulai gemetar takut, sekuat mungkin aku tetap tenang. Kuambil ponselku segera dan beranjal berdiri. Lalu, tatapan mata kami saling memberikan tusukan tajam satu sama lain.


Ivan sudah tidak bisa berkilah. Ia sudah mengakuinya sejak pertama kali aku menanyakan perihal ancaman dan penguntitan itu. Mungkin ia terlalu terkejut dan panik, sehingga tidak bia menyembunyikan perbuatannya dariku. Dengan kata lain ia sudah keceplosan diawal kali aku bertanya. Sepertinya, Riska juga belum menemuinya sama sekali, atau Ivan yang menolak pertemuan itu. Entahlah.


"Gue tegasin sekali lagi. Loe jangan ikut campur, Nona Fanni!" tegasnya kepadaku.


"Kenapa?" Aku masih menolak. "Hanya gue doang ya yang baru tahu? Kayaknya panik banget. Loe masih takut masuk penjara?"


Ivan tampak menekan rahangnya sekuat mungkin sampai urat di wajahnya terlihat jelas. "Loe juga nggak ada bukti. Gue nggak akan takut. Tapi kalau loe makin ikut campur, justru gue yang nggak akan tinggal diam."


"Gue nggak akan takut. Selama gue berbuat benar, apa salahnya gue sadarin kekonyolan loe ini?"


Orang-orang memperhatikan kami lebih tajam lagi. Beberapa pengunjung pun juga begitu. Mereka dari etnis China yang mungkin non muslim, sehingga tidak sedang berpuasa dan kebetulan mampir ke kafe ini. Ada beberapa bapak-bapak yang tampak mengawasi. Mereka baru datang, namun cukup memahami situasi kami. Meski memiliki jarak posisi yang agak jauh dan mungkin tidak mendengar perbincangan kami.


Seorang security juga telah dipanggil tanpa se-pengetahuan kami. Sehingga Ivan tidak bisa berkutik lagi. Ia menelan salivanya dengan berat. Ia tidak memiliki keberanian untuk macam-macam kepadaku karena pengawasan dari beberapa orang itu.


Lalu, Ivan tiba-tiba berbalik badan, sepertinya ia akan berlalu pergi daripada terus berdebat denganku. Namun segera kutarik tangannya dan ia berhenti. Ia kembali menatapku dengan tajam dan merasa tidak menyangka atas keberanian dari orang gendut yang dulumya sangat pemalu.


"Dengerin baik-baik, Ivan," ujarku. Kemudian aku memutar rekaman di ponselku dengan pelan dan hanya kami yang mendengar. Aku sih berharap seperti itu. Rekaman itu berisi percakapan kami berdua yang tidak luput dari pengakuan atas perbuatan Ivan terhadap Riska. Mungkin butuh lima menit sampai selesai.


"Loe?!" Ivan tampak terkejut. Ia berusaha merebut ponselku namun tidak berhasil.


"Sekarang loe tinggal pilih. Berhenti atau masuk bui? Melihat diri loe sekarang, kayaknya loe udah bangkrut. Nggak ada tempat lagi buat pelarian. Kalau loe berhenti, loe bisa cari kerjaan lagi, bahkan calon istri, Ivan."


"Jangan harap! Serahin HP itu, Fanni."


Aku tersenyum sinis kepadanya. "Jangan harap juga! Berhenti atau masuk bui?! Gue bahkan udah kirim rekaman ini ke orang lain. Sekalinya loe rebut dari gue, ada orang lain yang udah tahu."


"Ck!"


"Semua belum terlambat, Ivan. Ubah prinsip pikiran loe itu. Sekarang loe juga nggak bisa nggertak gue. Kalau loe macem-macem sama gue. Orang lain akan lihat dan loe akan dijerat pasal berlapis. Jadi, gimana? Sekali lagi berhenti atau masuk bui?"

__ADS_1


Ivan panik, ia memandang suasana sekitar. Orang-orang masih tetap mengawasi kami. Namun mereka belum turun tangan untuk memisahkan karena belum ada perbuatan yang mengarah ke penganiayaan. Ivan sudah terpojok. Mengapa aku seberani ini? Karena Ivan tidak membawa mobil yang bisa mengejarku. Setelah ini pun, aku masih memiliki beberapa rencana lain.


Cukup lama, Ivan berpikir. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya secara pasti. Sampai kemudian, ia benar-benar menganggukkan kepala dengan mantap. Ia melemah dan kembali terduduk di kursi semula.


"Baiklah, gue akan berhenti sesuai kemauan loe," ujarnya dengan nada bicara yang sudah pasrah. "Gue masih punya orang tua. Jangan mempersulit hidup gue. Gue cuma mau ngasih pelajaran ke mereka."


Dengan posisi yang masih berdiri, aku berkata, "tepati janji loe, Ivan. Bukan gue atau Riska yang mempersulit loe. Justru loe yang mempersulit hidup loe sendiri, Ivan. Gue udah pernah bilang, kan? Lupain Riska dan cari yang baru dari dua tahun yang lalu. Sadar Ivan, itu bukan cinta tapi obsesi. Gue dan orang yang bawa rekaman ini, bisa jaga rahasia asal loe bisa tepati janji."


"Gue nggak butuh nasehat loe, Fanni. Gue bakal tepati janji buat berhenti. Dan loe? Tepati janji loe."


Aku tersenyum. "Oke, deal ya? Inget baik-baik nasehat gue yang nggak guna itu. Kalau nggak butuh sekarang, mungkin suatu saat."


Ivan menelan salivanya. Ia tidak lagi memberikan tatapan mengerikan kepadaku. Lalu, aku mengambil tasku. Kuambil langkah keluar dan meninggalkan dirinya di tempat ini. Tentunya setelah melakukan pembayaran di kasir dan meminta maaf kepada mereka dan sang security.


Sampai keluar pun, aku masih didampingi oleh security itu. Mungkin beliau masih merasa khawatir. Kembali kuucapkan terima kasih dengan setulus hati dan beliau hanya tersenyum. Selanjutnya, aku masuk ke dalam mobilku kembali. Kulaju mobil ini untuk melanjutkan perjalananku sampai ke rumah. Aku cemas karena telah meninggalkan kedua putriku dalam waktu yang lama. Bahkan, sepertinya ice cream yang aku beli sudah mencair. Baiklah, aku akan mencarikan lagi di minimarket paling dekat.


Disela laju mobilku, aku meraih ponselku sembari menyetir. Kucari nomor milik Riska dan melakukan panggilan kepadanya.


"Iya, Kak Fanni. Kenapa?" tanya Riska dari kejauhan sana.


"Assalamu'alaikum, Ris," sapaku.


"Ah iya. Wa'alaikumssalam, Kak. Kenapa?"


"Kirim pengawalmu ke rumahku, sekarang!"


"A-apa? Maksudnya?"


"Panjang ceritanya. Sekalian kamu ke rumahku bareng mereka. Harus sekarang, jangan tunda."


"O-oke, Kak."


Mendengar kesediaan dari Riska, aku segera mematikan panggilanku. Laju mobil ini semakin aku percepat, karena ada rasa khawatir. Meski baru saja menyelesaikan semuanya dengan Ivan, tetap ada rasa was-was. Setidaknya harus ada pria tangguh yang menjagaku dan keluargaku, mengingat Riska sudah aman di kediaman Harsono sana. Apalah perjanjian itu, sebelum semuanya berakhir sampai ada hasilnya, aku wajib waspada. Terlebih, Mas Arlan sedang tidak ada.


Ivan? Aku berharap ia benar-benar menepati janjinya. Meski sebenarnya hanya diriku yang memegang rekaman itu, belum ada orang lain yang aku kirimkan. Ivan sejatinya bukan orang jahat. Ia masih terlihat cemas dan panik ketika aku mengetahuinya. Ia seorang kriminal amatir yang tidak pandai menyembunyikan kebohongan. Namun poin itu justru membuatku mendapatkan celah untuk melemahkan niat buruknya.


Namun bukan berarti aku sudah berbangga. Kembali pada keinginanku agar Riska mengirim dua pengawalnya, karena aku masih memikirkan beberapa kemungkinan. Tidak! Ivan akan berubah, aku yakin. Ia bukan seorang penjahat.


"Aish! Nggak tahu deh gue," gumamku.


Mobilku terus melaju. Sampai beberapa menit kemudian sampailah di kediamanku. Kuparkir dengan tenang mobil itu. Setelahnya aku turun dan masuk ke dalam. Sebelum menemui kedua putriku, aku mencuci tangan dan beberapa bagian tubuh yang diharuskan.


Bersambung ....

__ADS_1


Budayakan like+komen


__ADS_2