
Nur Imran duduk terdiam pada kursi kerjanya di kantor. Ingatan tentang perbincangannya bersama Arlan benar benar menganggu konsenterasi kerjanya. Bagaimana tidak, selama hidup bersama Riris dalam kurun waktu belasan tahun, ia tidak pernah mendapati sikap aneh dari sang istri. Apa karena ia tidak terlalu memperhatikan keluarganya? Karena hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk bekerja.
Riris, wanita yang mendampinginya setelah kepergian istri pertamanya. Wanita itu pula yang dengan ikhlas mengurus Jelita. Ia juga cukup pintar dalam mengolah bisnis online dalam bidang kosmetik. Wanita yang membuat hatinya tergerak untuk mencintai lagi. Itulah sosok Riris di matanya selama ini. Rasanya masih sangat sukar untuk dipercaya jika benar semua ucapan Arlan, juga pengakuan Jelita adalah benar.
“Sayang, aku masih berharap kamu enggak pernah melakukan hal buruk itu,” gumamnya. Rasa cintanya kepada wanita itu menempatnya pada posisi yang serba salah. Ia pun masih takut jika harus menghadapi sebuah kenyataan yang menyakitkan. Namun di sisi hati yang lain, ia sedikit mempercayai ucapan Arlan.
“Aku harus tetap memastikannya. Ini demi putri-putriku.” Ia merogoh kantong blazer yang sedang ia kenakan. Mencari nomor orang kepercayaan. Lalu, melakukan panggilan keluar terhadap nomor itu, meski sebenarnya jarak mereka lumayan dekat.
“Tolong segera masuk ke ruanganku, Anhar,” ujarnya kepada sang sekretaris pribadi.
“Baik, Tuan,” jawab pria yang bernama Anhar dari ruang kerjanya yag hanya berada di samping sang tuan.
Nur Imran kembali menopang dagunya menggunakan kedua tangan yang saling mengepal. Rasa cinta dan curiga berkecamuk saling berperang di dasar hatinya. Ia menyesali sikapnya selama ini, terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai mengabaikan keluarganya. Terutama untuk Jelita yang selalu dianggapnya sebagai anak yang gagal. Berbeda dengan ibu kandungnya, Jelita tidak sepintar juga secantik sang ibu, meski paras mereka memiliki kemiripan satu sama lain.
Lebih mengesalkan lagi ketika justru orang lain yang mengetahui segalanya. Memangnya Arlan itu siapa? Kenapa pria itu bisa lebih tahu daripada Nur Imran yang sejatinya adalah kepala keluarga di kediamannya? Namun, ia tidak bisa menyalahkan Arlan, jika Jelita justru nyaman menceritakan semuanya kepada orang itu. Semua terjadi karena selama ini sang ayah tidak pernah sekali pun menggubris gadis itu lagi.
Tak lama kemudian, pintu ruangan milik pengusaha kaya raya itu diketuk oleh seseorang dari luar. Siapa lagi kalau bukan Anhar.
“Masuk!” ujar Nur Imran dari dalam.
Setelah mendapatkan izin dari sang tuan, Anhar membuka knop pintu dan masuk ke dalam ruangan. Ia bersikap dengan sopan layaknya ajudan. Tidak lupa, ia bungkukkan sedikit badan sebagai suatu cara untuk menghormati.
Cara Nur Imran memang sangat berbeda dengan Ruddy—pemilik Sanjaya sebelum Celvin, juga Gunawan—pemilik Harsun sebelum Riska, mereka berdua masih memimpin dengan tata cara di Indonesia. Bahkan para pegawai rumahnya tidak diharuskan memakai seragam. Berbeda dengan rumah Nur Imran yang sudah diatur oleh Riris, wanita itu membuat segalanya lebih berbeda. Bahkan, tata caranya hampir sama dengan kehidupan para tuan di Korea. Membuat seragam pelayan, juga mengatur rumah itu bagaikan istana megah yang luar biasa. Hampir satu komplek perumahan besarnya.
Di sisi lain, meski perusahaannya bergerak di bidang industri pangan, Nur Imran sangat gemar berinvestasi tanah maupun gedung. Kegemarannya itu ditemukan oleh seorang Fanni. Dengan segala kemampuan dari wanita beranak dua itu, Nur Imran menyetujui penawaran bagus dan kerja sama yang cukup menjanjikan. Ibarat kata, ia adalah sosok yang penuh dengan kerja keras. Apa saja diambil jika bisa memberikan keuntungan baginya.
“Saya butuh bantuan kamu, Anhar,” ujar Nur Imran kepada sang sekretaris pribadi.
“Siap, Tuan,” jawab Anhar.
“Duduklah.”
Anhar menuruti intruksi dari sang tuan. Ia menarik kursi yang tepat berada di hadapan Nur Imran beserta meja kerjanya. Ia duduk di sana sembari memasang telinga dengan seksama. “Ada hal apa yang perlu saya lakukan, Tuan?”
Nur Imran menatap mata Anhar dalam-dalam. “Belikan sepuluh unit CCTV yang paling bagus.”
“Siap, Tuan.”
“Tapi, jangan sampai ada yang tahu.”
“Baik.”
“Lalu, kamu bisa ikuti putriku?”
“Nona Jane?”
Nur Imran menggeleng. “Jelita.”
“Oh, baik.” Anhar merasa sedikit aneh dengan permintaan Nur Imran. Tidak biasanya, atasannya itu memperhatikan putri pertamanya. Malahan, ia sempat menyimpan rasa iba ketika mendapati sikap Nur Imran yang cukup berbeda ketika bersama Jane. Namun, sepenasaran apa hatinya, ia tidak akan berani bertanya yang tidak menjadi haknya sama sekali.
Nur Imran tiba-tiba berdeham. “Tidak, batalkan yang kedua.”
“Soal Nona Jelita?”
Nur Imran mengangguk. “Jangan dia. Dia sudah ada di tangan yang aman.”
“Lalu?”
“Ikuti saja istriku.”
“Nyonya?”
“Ya, dan jangan sampai ketahuan olehnya. Laporkan apa yang dia lakukan.”
“Tapi, ….”
__ADS_1
Nur Imran menghela napas dalam. “Apa kamu takut?”
Anhar terdiam. Bukan hanya merasa takut, tetapi juga bingung, cara apa yang bisa ia lakukan untuk melaporkan apa yang nyonyanya lakukan? Sedangkan wanita itu lebih sering berada di dalam rumah. Namun, tidak ada cara lain yang bisa ia lakukan kecuali memberikan anggukan. Tunggu, apa aku sekalian bicara aja, ya? Batinnya.
Melihat wajah cemas yang terlukis di wajah Nur Imran, membuat Anhar mulai mempertimbangkan. Meski ia sudah memberikan tanda setuju dan seharusnya cepat bergerak, kini justru masih diam di tempat dengan menyimpan sejumlah rasa bimbang. Ya, ada sesuatu yang selama ini ia pendam, mengenai sosok Riris. Namun, ia tidak pernah berani mengatakannya kepada sang tuan.
“Lho? Kamu tidak bergegas? Untuk urusan pekerjaan, saya bisa minta bantuan manager Shin,” tanya Nur Imran merasa aneh dengan sikap sang sekretaris yang tidak sigap seperti biasanya.
“Begini, Tuan. Saya ada sesuatu yang ingin disampaikan,” jawab Anhar.
Dahi Nur Imran mendadak mengernyit. Sepertinya sesuatu yang penting. “Apa itu? Bicara saja, lebih cepat lebih baik.”
“Karena Tuan sudah memberikan perintah tentang nyonya, sepertinya Tuan telah menyadari sesuatu yang aneh. Mohon maaf kalau saya sedikit lancang, a-anggap saja ini sebagai laporan pertama.”
Tentang Riris lagi. Semakin tidak menentu hati Nur Imran. Mengapa harus istrinya lagi? Kabar apa yang akan diberikan? Ia berharap itu adalah kabar yang bagus, tetapi kata aneh membuat harapannya seketika pupus. Apa yang terjadi di dalam keluarganya selama ini? Mengapa dirinya begitu bodoh sekali?
“Katakan!” titahnya kepada Anhar yang sebenarnya cukup gemetar.
“Ini tentang hubungan Nyonya besar dengan asisten pribadi beliau.”
Sesak sudah rasanya. Asisten pribadi katanya dan asisten istri dari Nur Imran merupakan seorang laki-laki. Jika ada kata hubungan di kalimat hasil ucapan Anhar, sepertinya bukan sesuatu yang bagus. Beruntungnya, Nur Imran tidak memiliki riwayat penyakit asma maupun sakit jantung, sehingga ia bisa bertahan dari setiap kejutan yang tiba tiba datang.
Melihat raut muka sang tuan yang semakin pucat, sebenarnya Anhar tidak tega untuk melanjutkan ucapannya lagi. Namun, apa yang sudah dimulai harus dituntaskan, bukan? Ia menghela napas dalam, berusaha mengatur napas dan juga degup jantung yang tidak beraturan. Menghadapi tuan besar bagaikan menghadapi dakwa hidup dan mati, kalau salah sedikit, sudah pasti ia kehilangan pekerjaan dalam sekejap waktu. Di sisi lain, ia merasa tidak nyaman untuk terus menyimpan keanehan itu.
“Setiap saya menemani Tuan dan bekerja di rumah Tuan, saya selalu merasa aneh dengan orang itu.” Dengan sisa keberanian, Anhar melanjutkannya lagi.
“Sebut saja dia dengan nama Dery,” timpal Nur Imran.
“B-baik.”
“Jadi, apa yang membuat kamu merasa curiga?"
“Pertama tatapannya kepada nyonya, kedua gerak tangannya yang terbilang berani. Ketiga, saya sempat mendapati Dery merangkul pinggang nyonya.”
“Dimana?” Nur Imran menekan jari telunjuknya dengan ibu jarinya. Hatinya bagai dicabik-cabik oleh sesuatu yang bahkan melebihi ketajaman pedang. Ia berusaha untuk tetap menahan emosi, juga air mata. Di bagian hati yang lain, ia berharap bahwa itu hanya kebohongan semata. “Apakah Riris tidak terlihat menolak atau marah? M-mungkin kamu salah lihat atau m-mungkin laki-lakinya yang kurang ajar.”
“Jika sudah satu bulan yang lalu, kenapa kamu tidak bicara pada saya?”
Anhar menunduk. “Saya hanya orang luar, Tuan. Apakah ketika saya memberitahu kepada Tuan pada detik itu juga, Tuan akan percaya? Dan bisa jadi, Tuan akan memecat saya karna melakukan fitnah, paling parahnya lagi jika Tuan dan nyonya menuntut saya atas pencemaran nama baik. Mungkin, jika tidak ada perintah ini, saya akan tetap bungkam, sampai Tuhan memberitahu Tuan dengan berjalannya waktu.”
Nur Imran menekan keningnya karena kepalanya mendadak berputar-putar. “Baiklah. Laksanakan tugasmu sekarang, dan biarkan saya sendiri. Segerakan juga dalam membeli CCTV.”
“Baik, Tuan. Saya mohon diri dan minta maaf atas kalimat saya.”
“Ya, ya.”
Anhar berdiri dari duduknya. Sesuai perintah dari Nur Imran, ia bergegas keluar untuk melaksanakan tugasnya. Sedangkan, pengusaha kaya itu kini sudah pucat pasi. Tatapannya berputar ke mana-mana. Hatinya hancur, jiwanya terguncang hebat. Itu baru kabar tanpa bukti, lantas apa yang akan terjadi kepada dirinya jika bukti sudah terpampang nyata?
****
“Loe mau ke mana, Mit?” tanya Fanni kepada Mita yang tiba-tiba mengambil tas ranselnya dan hendak keluar dari salon itu.
Mita berhenti sejenak, ia memutar badan dan menatap sang partner kerja. “Ada urusan, Fann. Gue cabut dulu, ya?” jawabnya sembari berpamitan.
“Tunggu dulu!” Fanni berdiri dari duduknya dan meraih lengan MIta. “Urusan mulu’ sih? Ada masalah apa, Mit? Bisa duduk sebentar dan cerita sama gue?”
Mita bingung, tidak mungkin ia katakan yang sebenarnya kepada Fanni. Ya, lagi-lagi mengenai Jelita. Ia tetap tidak ingin ada campur tangan dari sahabatnya. “Sorry, Fann, gue buru-buru.”
Mita langsung mengambil langkah cepat untuk menuju sekolah Jelita. Sedangkan Fanni masih termangu sendiri, bertanya-tanya perihal sikap Mita. Namun, ia memang tidak memiliki hak apa pun untuk memaksakan kehendak penasarannya. Mita juga manusia yang pasti memiliki kehidupan sendiri.
Sebenarnya, Mita merasa tidak enak hati ketika bersikap kurang sopan kepada Fanni, bahkan ia meninggalkan ibu dari dua anak itu begitu saja. Namun, jika ia memberitahukan perihal Jelita, sudah pasti Fanni tidak akan tinggal diam. Paling parahnya, jika Fanni sampai kecewa karena tidak ikut dilibatkan.
“Sorry, Fann. Loe itu seorang ibu, gue enggak bisa ngelibatin loe. Apalagi, akhir-akhir ini gue ngerasa ada yang ngawasin gue,” gumamnya. Dan memang benar, beberapa hari terakhir, ketika ia pulang dari kerja, ada saja sosok pria aneh yang mengemudi di belakang mobilnya. Namun itu tidak setiap hari, seperti sudah dijadwalkan dengan baik oleh orang itu. Hari senin bukan hari di mana pengintaian itu dilakukan. Hal itu pula yang membuatnya menghindari Fanni, juga alasan menutup salon di hari sabtu.
“Gue rasa, emak tirinya Lita udah mulai beraksi deh.” Mita sudah merasakan kecurigaannya, tepatnya setelah menyadari adanya pengintaian itu. “Awas aja, berani main-main sama gue! Dia pikir gue takut? Bah! Nenek-nenek mau coba main-main.”
__ADS_1
Untuk dirinya sendiri, Mita sama sekali tidak merasa cemas. Mungkin karena sifatnya yang selalu tangguh. Wanita cantik ini, sifatnya memang bak laki-laki, meski penampilannya mirip barbie. Namun, ketika sudah berkaitan dengan Fanni, ia tidak bisa tenang. Apalagi, ia selalu menganggap Fanni adalah orang yang lemah.
Mobilnya berbelok ke kanan. Mungkin lima ratus meter lagi, ia akan sampai di sekolah Jelita.
“Hei, Gendut! Beliin gue jajan dong!” titah salah satu remaja putri kepada Jelita yang kebetulan melewatinya.
Jelita terdiam, ia menatap siswa yang berjumlah lima orang itu, dua di antaranya merupakan remaja putra. “Enggak mau!”
“Apa?! Mulai berani loe, ya?” timpal salah seorang siswi lagi yang name tagnya bertulis Lesy.
“Emang loe siapa, pake nyuruh-nyuruh gue?” Jelita berupaya untuk lebih berani lagi, ia sudah cukup lelah untuk ditindas. Meski rasa takut masih sangat besar sekali pun.
Semua remaja itu kompak terkejut. Sejak kapan Jelita yang mereka anggap sebagai pesuruh itu menjadi berani? Tidak terima dengan itu, Lesy maju dan menghadang Jelita. Ditariknya rambut Jelita dengan gemas sekali. Sayangnya, Jelita kurang bisa melawan dan hal itu menjadi bahan tertawaan.
Tak hanya itu saja, kantong baju bahkan tas Jelita direbut oleh mereka dengan seenak jidat. Jelita meraung meminta barang-barang miliknya yang dibuat mainan. Ia belum bisa menghadapi mereka, terlebih hanya sendirian seperti ini.
“Kalian ini orang-orang miskin, ya?!” Sudah tidak bisa membendung amarah dan rasa sakit hati lagi, kalimat itu tiba-tiba muncul dari bibir pink milik Jelita.
Semua remaja itu kembali terkejut. Miskin katanya? Kata yang jatuhnya seperti penghinaan besar. Lesy—sang ketua geng maju mendekati Jelita. Ia menatap tajam kepada gadis bertubuh besar itu. “Coba loe bilang sekali lagi!” titahnya kasar.
“Loe miskin! Kalau loe kaya, loe enggak mungkin minta jajan sama gue!” tegas Jelita dengan deraian air mata.
Lesy semakin naik pitam. Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang. Dengan amarah yang sudah level tinggi itu, ia mengayunkan tangannya untuk memukul wajah Jelita. Namun sayang, seseorang menangkap tangannya sebelum berhasil mendarat di wajah sang korban.
“Mau mati ya, loe?!” Mata Mita membelalak tajam ke arah Lesy sembari menahan tangan remaja itu dengan kuat kuat.
“L-lepas!” ronta Lesy kepadanya, karena cengkeraman tangan Mita yang luar biasa kuat, membuat kulitnya merasa sakit.
Lalu, tanpa diduga-duga, justru Mita yang memberikan tamparan keras pada pipi Lesy. “Anak kecil udah berani main tangan, ya? Bapak loe preman ya? Gimana? Enak enggak kalau gue yang pukul?”
“A-akan saya laporkan kamu ke papa, papa saya orang kaya.”
Mita terbahak-bahak, tidak ada takut-takutnya ia dengan ancaman itu. Lima remaja itu bergidik seketika, takut sudah pasti menjadi rasa yang didera. Dua anak laki-laki tadi datang dan mencoba melakukan perlawanan kepada Mita. Sayangnya, sebelum mendekat, Mita justru sudah berhasil menendang kaki mereka.
Lalu, wanita cantik itu menunjukkan sebuah rekaman video dari ponselnya. Video yang berisi tentang pembullyan mereka terhadap Jelita. Ya, beberapa saat yang lalu, Mita membiarkan tontonan itu berlangsung terlebih dahulu dan direkamnya diam-diam. Semua remaja itu terkesiap, merasa takut dan sudah pasti mencoba merebutnya. Namun, Mita tetaplah Mita, sang setan yang tidak akan ada tandingannya, terlebih hanya dengan anak-anak kecil seperti mereka.
“Keluarga kami, keluarga kaya!” seru Lesy.
Mita memberikan cibiran. “Terus gue peduli, gitu?”
“Kakak juga melakukan kekerasan kepada kami!”
“Ada bukti? Bodohnya kalian memakai tempat ini yang bebas dari CCTV hahaha.”
Lesy terdiam, benar-benar terdiam. Sedangkan, di belakang sana ada Jelita yang masih tertegun menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
Mita maju satu langkah. “Loe jangan bangga sama harta orang tua, Nak. Loe nggak tahu gue siapa? Nih.” Ia menunjukkan sebuah foto bergambar dirinya yang begitu dekat dengan sang kakak angkat—Celvin Hariawan Sanjaya. “Gue adiknya …,” bisiknya kepada Lesy.
Siapa yang tidak mengenal seorang pengeran pemilik Sanjaya? Remaja-remaja itu sudah pasti tahu, bahkan Celvin pernah datang ke sekolah itu untuk memberikan sebuah motivasi. Kedatangan Celvin saat itu membuat semua remaja putri terkagum-kagum, bukan hanya pintar dan kaya, tetapi juga tampan rupawan. Posisi Celvin yang menjadi pengusaha terbaik dan nomor satu di Indonesia tentu membuat mereka ketakutan. Keluarga mereka tidak akan mampu melawan.
“Hmm … Kak Celvin ditambah bokapnya Jelita, nomor satu dan dua di Indonesia. Loe tahu apa akibatnya?”
“Enggak! Kamu pasti hanya mengaku-aku aja.”
“Mau gue panggilin sekarang? Gue ada nomor teleponnya Tuan Celvin lho.”
Lesy menelan ludah seketika. Setelah itu, ia sudah menyerah dan memilih mengajak anggota gengnya untuk pergi. Sedangkan istri dari salah satu aparat kepolisian itu, kini bisa tersenyum karena kemenangan yang baru saja ia dapatkan.
“Makasih, Kak Mita,” celetuk Jelita.
“Yuk, ke salon. Kasihan Fanni.”
Mita membantu memunguti barang-barang milik Jelita yang berserakan. Setelah itu, mereka bergegas untuk kembali ke salon.
****
__ADS_1
Vote lagi ya geess.