Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Tilik Mama


__ADS_3

Suara adzan dhuhur sudah berkumandang, menandakan waktu ibadah bagi umat islam. Sekaligus menjadi bukti bahwa hari sudah beranjak siang. Hari ini tidak turun hujan, malah semakin panas lantaran mentari tepat diatas kepala. Dan disaat sedang mendapat jatah bulanan seperti ini, mood-ku bisa naik turun. Jika tadi pagi bisa lebih semangat, siang ini aku mulai malas karena tulang terasa lemas. Belum lagi aku harus menghadapi keusilan suamiku yang terkadang membuatku sebal.


Kini, aku hanya menggelepar di atas ranjang. Terdiam sembaru terpejam. Aku sendiri tidak tahu Mas Arlan dan Selli kemana, aku rasa sedang ke masjid. Selepas ikut merawat Bi Onah beberapa saat yang lalu, aku sudah merasa kelelahan.


Tak lama kemudian, Mas Arlan datang. Benar seperti dugaanku, ia tadi berangkat ke masjid. Lantaran, baju koko, sarung serta peci membalut di tubuhnya. Demi menyambut kedatangan suamiku yang semakin rajin itu, aku bergerak membangunkan diriku. Aku tersenyum kepadanya yang sedang melepas baju koko dan pecinya. Dan kemudian hanya tertinggal kaos dalam dan juga sarung. Saat seperti ini ia benar-benar terlihat seperti bapak-bapak biasa.


"Masih sakit, Sayang?" tanyanya kepadaku.


Aku menggeleng. "Enggak, Mas. Udah nggak sakit kok, kadang lemes aja rasanya," jawabku.


Mas Arlan datang menghampiriku. Kemudian duduk tepat disampingku. Ia membelau halus rambutku. Tak lama kemudian, ia malah menidurkan kepalanya diatas pangkuanku. "Kalau sakit, nggak jadi pergi deh, Dek," usulnya.


"Nggaklah, Mas. Mumpung libur. Kata kamu kan udah lama nggak ke rumah Mama. Yah, sekalian minta do'a restu buat segala rencana kamu, Mas," jawabku.


"Iya sih, Dek. Tapi istriku kan lagi lemah."


"Kalau kesananya jalan kaki, baru nggak kuat. Kalau masih naik mobil, ya aku masih kuatlah, Mas."


"Tapi, habis dari rumah Mama ngajak si kecil nonton dulu kan?"


"Iya, Mas. Aku masih kuat kok. Lagian bukan sakit parah, cuma males doang kalau lagi kayak gini."


"Hmm... jangan terlalu maksain diri ya, Dek. Kamu udah berusaha bagi waktu buat Mas dan Selli, itu cukup banget. Ada kalanya kamu harus punya waktu sendiri buat istirahat. Kamu kan masih kerja, Sayang."


"Iya, Mas. Tenang aja, lagian itu-itu doang kok. Kalau masalah beberes dan masak kan, masih ada Bi Onah. Jadi, nggak terlalu berat."


Mas Arlan tersenyum. Aku membelai wajahnya perlahan-lahan. Ia keasyikan sampai terpejam seperti kucing kecil yang lucu. Kemesraan ini semoga tidak berlalu, aku terlalu sayang untuk melewatkan setiap momen berharga dengannya. Rasanya tidak ingin, jika berpisah barang sedetik saja. Apa aku berlebihan? Ah... itu hanyalah sebuah kiasan saja. Cara terbaik untuk menjaga dirinya hanyalah berusaha menjadi istri yang baik.


Detik demi detik berlalu, perlahan-lahan sepertinya mulai terlelap. Terbukti saat bibirnya mulai menganga. Aku tidak tega ingin membangunkannya. Namun, rencana hari ini harus segera dijalankan. Karena mulai esok hari, kami sama-sama memiliki kesibukan. Aku tidak bisa membayangkan kemarahan ibuku, jika kami tidak datang berkunjung. Jika itu terjadi, pasti roh harimau didalam diri beliau akan terbangun. Selain itu, api amarah yang membentuk omelan panjang kali lebar kali tinggi akan kami dapatkan, bahkan sehari saja tidak cukup untuk ibuku melampiaskan segala kekecewaan.


Lagipula, saat ini hanya ibu dan ayahku, tempat kami meminta do'a restu disetiap langkah ke depan. Lantaran kontak ibu Darsi sudah diputus oleh keluarga besar Harsono. Apalagi mertuaku tersebut memang sudah sepuh, pastinya bukan wanita sosialita yang kemanapun membawa gaway.


"Sayang, bangun yuk. Kita berangkat," ujaru sembari memainkan hidung Mas Arlan.


"Emm...," jawab Mas Arlan secara sekenanya.


"Mas, ayok ih."


"Iya bentar."


"Maaaaaaas! Jangan mancing kekesalan deh, aku lagi sensitif lho."


"Hehe... iya iya, pangkuan kamu empuk, Dek. Kayak bantal jadi Mas nyaman aja."


"Menghina ya?"


"Mencintai, Dek. Bukan menghina, kamu mah su'udzon aja."


"Halaaaaah."


Aku memanyunkan bibirku karena malas mendengar ujaran suamiku itu. Sedangkan ia sudah membangunkan dirinya dari pangkuanku. Sebenarnya, bola matanya terlihat memerah. Aku rasa, Mas Arlan benar-benar mengantuk. Namun sekali lagi, kami harus menjalankan rencana ke rumah ibu dan ayahku hari ini. Belum lagi membayar janji untuk Selli.


Kemudian, Mas Arlan turun dari ranjang. Ia mengambil langkah keluar, mungkin hendak membasuh wajah di kamar mandi. Mengikuti dirinya, aku membangunkan diriku. Lalu keluar juga demi menilik putriku. Aku masih memiliki kewajiban untuk merias si kecil dulu. Supaya ia bisa tampil cantik dihadapan kakek dan neneknya.


"Selli? Sayang?" panggilku tepat didepan pintu kamarnya.


"Iya, Mama," jawabnya dari dalam.


"Boleh Mama masuk, Nak?"


"Bental, Ma. Selli bukain dulu."


"Oke, Cantik."


Derap kaki kecilnya terdengar berlarian kecil menuju keberadaan pintu. Sedangkan aku masih terdiam berdiri dibaliknya. Bisa saja aku menyelonong masuk, namun aku selalu memberikan satu pelajaran untuknya. Tentang sesuatu yang pernah aku katakan, yaitu salam dan permisi. Agar nantinya, ia selalu ingat akan norma kesopanan dimanapun berada. Yah, kecuali jika ia dipanggil tidak menyahut, baru aku berani masuk demi mengecek apa yang sedang ia lakukan.


Tak lama kemudian, pintu itu terbuka perlahan. Senyuman si kecil terlukis begitu cantik di wajahnya yang imut. Bahkan ia mempersilahkan aku masuk bak seorang tuan rumah dengan menggerakkan tangannya. "Silahkan masuk, Mama," ujarnya yang semakin hari semakin pintar bahkan dewasa.


"Terima kasih, Nona Kecil," jawabku.

__ADS_1


Aku masuk ke dalam diiringi langkah kecil Selli selepas menutup pintu kembali. Kemudian kamk duduk di tepian ranjang dan saling berhadapan. Pertama, kuberikan satu kecupan manis di keningnya. Lalu diiringi belaian lembut di pipinya yang membulat imut.


"Mau belangkat ke bioskop ya, Ma?" tanyanya kemudian.


Aku menggeleng pelan. Setelahnya, ia menampilkan raut begitu kecewa. Kasihan sekali, makanya aku tidak ingin membuatnya kecewa untuk kedua kalinya. "Kita ke rumah Nenek dan Kakek dulu, Sayang," ujarku.


Selli kembali berbinar sembari mengangkat wajahnya dan menatapku. "Neneknya Mama ya?"


"Neneknya Sellu dong, tapi ibunya Mama."


"Oh iya. Telus ke tempat nenek Dalsi nggak, Ma?"


"Hmm... kamu kangen sama Nenek Dalsi ya?"


Selli mengangguk sembari tersenyum berharap. Disini, aku merasa tidak enak hati, lantaran akan sulit membuat keduanya bertemu. Terlebih dulu, keduanya saling menghabiskan waktu bersama disaat Mas Arlan tengah sibuk. Lantas, apa yang harus aku katakan kepada putri kecilku ini? Aku tidak mau ia terlibat, atau bahkan dibenci oleh keluarga Harsono. Selli terlalu kecil untuk menjadi sasaran kebencian dan dendam dari keluarga itu.


Pada akhirnya, ia bisa mendapatkan diriku yang bisa disebut sebagai ibu, namun kehilangan neneknya. Maksudku kehilangan komunikasi bukan hubungan darah. Mungkin jika ibu mertuaku tersebut masih memiliki banyak tenaga, pasti bisa datang kemari sendiri. Namun, sepertinya beliau terlalu sepuh untuk berjalan kemana-mana.


"Suatu saat kita ketemu Nenek Darsi lagi ya, Sayang," ujarku.


"Kenapa nggak hali ini, Ma? Kan bisa gantian?" tanya Selli lagi.


"Hehe... putri Mama semakin hari semakin pinter ya? Kan harus gantian, Sayang. Nanti ada jadwalnya sendiri."


"Oh gitu ya, Ma?"


"Iya dong. Yuk, ganti baju dulu. Terus kita berangkat."


"Aku mau pake baju gambar Elsa dan Anna ya, Ma."


"Oke, Sayang."


Selanjutnya, aku menemani Selli untuk mencari keberadaan pakaian yang ia inginkan. Setelah didapatkan aku membantunya untuk memakai pakaian tersebut. Diiringi riasan rambut, dan juga bedak bayi yang tipis di wajahnya. Setelah selesai, aku mengintruksikan agar ia menunggu disini. Setelah itu, aku keluar dan menghampiri kamarku lagi.


Aku melihat Mas Arlan yang berdiri didepan almari terbuka. Ia tampak memilah-milah pakaian yang tergantung didalamnya. Lantas, aku berjalan menghampiri dirinya. "Cari apa, Mas?" tanyaku.


"Mas pake baju apa, Dek?" tanyanya.


"Masa' kaos?"


"Kemeja juga boleh."


"Kayak mau lamar kerja dong?"


"Yaudah kaos panjang."


"Nggak nyaman panas."


"Yaudah baju koko!"


"Emangnya di rumah Mama ada pengajian?"


"Maaaaas?!"


"Iya iya, Sayang. Becanda, yaudah pake kaos biasa aja ya?"


"Terserah."


"Duh... istrinya Mas ngambek lagi."


Lebih tepatnya kesal. Mas Arlan terlalu banyak bicara. Padahal aku sudah mengingatkannya bahwa hari ini perasaanku sangat sensitif. Meski hanya bertanya mengenai baju sekalipun. Lagipula ia sudah dewasa dan pria, bukan wanita yang selalu bingung mencari busana meski memiliki banyak di almarinya.


Tanpa mau memperdulikan celotehan Mas Arlan lagi, aku bersiap diri sendiri. Lagipula pakaian yang tergantung milik Mas Arlan sudah aku setrika semua, jadi tidak terlalu repot dalam mengurusnya. Kemudian, aku mengambil helai pakaianki yaitu blouse berwarna putih yang ukurannya jangan ditanya lagi dengan bawahan jeans berwarna hitam. Lantas, aku memakainya didalam kamar mandi, lantaran tidak nyaman dihadapan suamiku dengan keadaan seperti ini.


Setelah selesai, aku kembali ke kamar. Kusisir rambutku perlahan-lahan dan menyimpan rontokannta ke dalam sebuah toples kecil. Karena yang pernah aku dengar, wanita yang sedang mengalami datang bulan tidak diperkenankan menyisir rambut atau keramas karena takut rontok. Tidak mungkin kubiarkan rambutku berantakan, jadi memilih menyimpan beberapa helai rontokannya. Tak lupa juga kupoles wajahku dengan make up tipis.


"Udah selesai, Dek? Berangkat yuk? Keburu sore, nanti malam Mas juga harus nyusun beberapa data," ujar Mas Arlan.


"Udah, Mas. Kamu panggil Selli ya? Aku nyari tasku dulu," jawabku.

__ADS_1


"Iya, Dek."


Mas Arlan berlalu, sedangkan aku mengambil tas selempang kecilku. Kemudian kami bertemu diluar kamar yang telah aku kunci pintunya. Kami bertiga menuruni tangga. Tak lupa pamit kepada Bi Onah. Kami bertiga masuk ke dalam mobil sesampainya ditempatnya dan dilajulah mobil tersebut oleh Mas Arlan untuk ke rumah orangtuaku. Sedangkan Pak Edi kembali menutup gerbang rumah kami.


****


Selang waktu berjalan, beberapa saat kemudian, arah mobil dibelokkan ke suau pekarangan rumah. Rumah orangtuaku tentunya. Mas Arlan memarkir mobilnya tepat disisi kiri. Setelah itu, kami keluar. Mas Arlan membuka pintu belakang demi meraih tubuh mungil milik Selli.


Selli berada di gendongan sang ayah. Sedangkan diriku disisi kanan digandeng olehnya. Kami melangkah bersama menuju pintu utama. Sebenarnya diwaktu seperti ini, keluargaku biasanya tengah beristirahat siang. Mas Arlan mengetuk daun pintu beberapa kali setelah sampai disana. Sontak saja, aku ingat akan kegugupan diriku dimasa lalu, dimana kami sedang mencari restu. Dan saat itu benar-benar menegangkan, padahal hanya menghadapi ibuku saja.


Tak lama kemudian, engsel pintu terdengar. Dibuka. "Assalamu'alaikum Ma," sapa Mas Arlan.


"Assalamu'alaikum Nenek," sambung Selli.


Akupun tidak ketinggalan. "Assalamu'alikum, hai, Ma?"


"Wa'alakumssalam. Tumben kesini? Masuk gih," ujar ibuku kembali, namun tangan beliau sedang mengambil alih tubuh Selli.


Kami melangkah masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian muncul ayahku dan Kak Febi. Sedangkan ibuku tampaknya sedang membuatkan minuman untuk kami bersama Selli. Mas Arlan mulai banyak berbincang dengan ayahku. Sedangkan aku asyik bersama Kak Febi yang kandungannya mulai terlihat membesar.


Sejujurnya, ada sedikit rasa hatiku yang kiri. Mungkin karena keinginanku memiliki seorang anak belum terpenuhi. Namun khayalku berfantasi, akan bagaimanakah diriku nanti saat mengandung? Belum saja, perutku sudah terlihat membuncit seperti ini. Apakah aku akan terlihat semakin besar? Tapi, jika demi anakku, aku tidak peduli. Yah, aku berharap semoga cepat memberikan anak kedua bagi Mas Arlan dan juga cucu untuk kedua orangtuaku.


"Bentar lagi, tujuh bulanan dong, Kak?" tanyaku kepada Kak Febi.


"Iya, Fann. Gimana kamu udah isi?" tanya Kak Febi.


Aku menunduk seketika. "Belum, Kak. Malah masih dapet hehe."


"Yang sabar. Tiap wanita prosesnya berbeda. Coba aja berhubungan setelah beberapa hari dari hari dapet. Tepatnya ditanggal kesuburan, biasanya berhasil. Cek ke dokter deh, aku nggak bisa ngitung kayak gitu hehe."


"Iya, Kak. Mungkin setelah beres."


"Semoga aja cepet, Fann."


"Amin. By the way, Kak Pandhu kok nggak kelihatan ya?"


"Oh... Mas Pandhu lembur Minggu, Fann."


"Wah, ngebut ya? Semangat mau punya anak hehe."


"Iya, Alhamdulillah. Rezeki ngalir hehe."


Terbukti jika rezeki anak ada tersendiri. Dibarengi dengan pekerjaan Mas Arlan yang baru, aku berharap supaya dititipkan satu nyawa lagi untuk kami. Amin.


Tak lama kemudian, ibuku datang kembali bersama nampan berisi gelas diiringi lari kecilnya Selli dibelakang beliau. Kemudian, ibuku menaruh gelas minuman itu dihadapan aku dan Mas Arlan. "Gimana? Kesini mau ngasih kabar bagus nggak?" tanya ibuku.


"Ada Ma, kabarnya sehat semua," jawabku.


"Yang lain nggak ada?"


"Apa yah? Nggak ada deh."


"Hmm..."


Ibuku menaruh nampan diatas meja. Kemudian duduk disalah satu kursi. "Jadi, belum isi?"


Aku dan Mas Arlan saling melemparkan pandangan seketika. Kami berdua merasa gusar atas pertanyaan itu. Namun apa boleh buat, hal ini memang harus dihadapi. Lagipula, kalau belum diberi mau bagaimana lagi? Kecuali berdo'a, berusaha serta menunggu.


"Belum, Ma. Fanni masih dapet jatah bulanan, mungkin setelah ini kami baru program," ujar Mas Arlan.


"Yah, namanya belum dikasih. Yang sabar aja, lagian kalian ini masih pengantin baru kok," sela ayahku.


"Iya, Mama tahu, Pa. Mama khawatir aja, kalau kalian masih mau nunda diusia segini gitu," jawab ibuku.


"Enggak, Ma. Arlan dan Fanni nggak menunda kok."


"Ya sudah. Mama cuma bisa do'ain aja yang terbaik. Ngomong-ngomong kerjaan kalian gimana sekarang? Fanni jadi keluar di kontrak kedua?"


"....."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2