Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Permintaan Mas Arlan kepadaku


__ADS_3

Selepas ketiga tamu istimewa pulang, kini tinggal aku dan Mas Arlan. Selli sudah aku serahkan kepada Bi Onah, karena Mas Arlan ingin berbicara empat mata saja denganku. Aku tidak tahu perihal apa itu, sepertinya hal yang penting dan tidah jauh dari masalah Nyonya Dahlia.


Di tempat manis milik kami, kini kami berada. Yaitu ranjang tidur yang merupakan saksi bisu dari kemesraan yang berlangsung dibeberapa malam tertentu. Mas Arlan menatapku dengan gusar. Ia masih terdiam, namun tangannya memeluk pinggangku dari belakang. Sesekali ia membelai perutku yang besar. Sebenarnya apa yang hendak ia katakan? Ada rasa ragu dan bimbang dari pancaran matanya.


Aku memutuskan untuk memberikan kecupan manis di pipinya. Setidaknya untuk menghalau pergi perasaan sungkannya. "Kamu kenapa, Mas? Mau ngomong apa? Kok kayak takut-takut gitu? Kamu nggak melakukan kesalahan, kan?" tanyaku.


Mas Arlan mengecup sekilas pada bibirku. Kemudian, ia berfokus pada wajahku. "Enggak. Tapi kayaknya akan, Dek?"


Dahiku mengernyit heran karenanya. Apa yang ia maksud dengan kata akan? Aku belum mengerti sama sekali. Kemudian, aku mengenggam telapak tangannya sembari berkata lagi, "kamu akan melakukan apa emangnya, Mas? Jangan bikin aku takut dong. Bilang aja."


"Mengenai permintaan Mbak Dahlia, Dek. Kayaknya kamu juga bakal terlibat. Mas tahu keputusan ini sangat berat, mencari orang di luar negeri itu nggak mudah."


"Iya sih. Tapi kamu udah tahu kan? Dimana mereka tinggal?"


Mas Arlan menggelengkan kepalanya. "Belum, Dek. Sebenarnya Mas udah tanya sama Riska, dia yang sempet pergi ke sana. Tapi kata dia, Ibu Leny udah pindah."


"Lho? Riska tahu dari mana? Dan dulu juga tahu dari mana?"


"Riska sempet nyimpen nomor HP William. Anak itu bilang terima kasih, dan akan pindah ke tempat lain. Setelah itu, nomornya udah nggak aktif. Riska nggak tahu, apakah masih ada disatu kota atau nggak. Kalau soal dulu kan, Riska bisa melacak melalui alamat rekening yang dikirim uang sama Mas Dian."


Aku hanya mangut-manggu saja ketika mendengarnya. Rumit, apalagi saat ini sudah tidak ada lagi sumber untuk mengetahui keberadaan mereka berdua. Pastinya akan sulit sekali. Sepertinya, Ibu Leny dan William sudah memutuskan pergi dari kehidupan Mas Dian. Jadi aku tidak merasa heran. Namun hal itu, membuat suamiku sangat kesulitan. Mau menampik, sudah terlanjur diputuskan. Terlebih kondisi Mbak Dahlia yang masih sakit keras.


Bahkan demi mendapatkan bantuan dari Mas Arlan, beliau rela datang ke rumah ini dalam keadaan yang masih lemah. Dan aku? Aku hanya bisa memberikan dukungan kepada Mas Arlan dan Mbak Dahlia. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali berdiam diri, karena keadaanku juga tengah hamil besar.


"Jadi, kamu mesti gimana, Mas?" Aku merebahkan kepalaku pada pundak suamiku.


Mas Arlan pun memberikan sentuhan halus pada keningku dan pipiku. "Mas harus usaha dong, Dek. Lagian udah Mas putuskan kok. Tapi, ... kali ini Mas butuh bantuan kamu. Bukan sekarang sih, tapi nanti kalau udah pulih kamunya."


"Iya, Mas. Selagi aku bisa, pasti aku akan bantu."


"Maaf ya, Sayang. Kayaknya Mas ngasih beban lagi buat kamu. Maaf banget, tapi kali ini Mas nggak punya pilihan lain. Sedangkan Mas nggak bisa asal kasih posisi sama orang lain. Mas janji nggak akan lama kok."


"Eh?! Posisi?!" Sontak aku menarik kepalaku dari pundaknya.


Aku tertegun sekaligus bingung. Posisi? Maksudnya apa? Sebelum menanyakannya lagi, aku menenangkan hatiku terlebih dahulu. Aku melihat Mas Arlan yang tengah menunduk diam, penuh rasa bersalah. Sepertinya ucapannya memang benar, tidak ada pilihan lain. Apalagi berkenaan dengan nyawa seseorang, jadi aku mengerti.


"Jadi, ... maksud kamu? Aku harus pegang kendali posisi kamu setelah pulih pasca melahirkan dan kamu pergi ke luar negeri. Begitu?" tanyaku sesuai dugaan yang ada didalam benakku.


Mas Arlan menghela napas dan mengembuskannya kembali. Setelah itu, ia menatapku dengan gusar diiringi anggukan ragu-ragu. "Ma-maaf, Dek. Kayaknya Mas rada keterlaluan. Ka-kalau nggak mau nggak apa-apa kok, Sayang. Lupain aja hehe," jawabnya dengan beberapa kata yang diucapkan secara terbata-bata.


"Sebenarnya aku bisa aja sih. Pengalaman jadi sekretaris, aku bisa tahu seluk beluk pekerjaan direktur. Tapi Mas ... perusahaan itu kan bukan milik kamu. Banyak pemegang saham lain, apa mereka nanti bakalan setuju kalau aku yang pegang kendali?"


"Itu mudah, Dek. Pasti mereka juga nggak asing sama kamu dan juga prestasi kamu. Toh, kamu sering wara-wiri sama Celvin. Pak Ruddy juga pasti setuju, Mas nggak mungkin ambil cuti dan ninggalin posisi kosong gitu aja. Tapi, kayaknya ini terlalu berat buat kamu. Apalagi, kalau habis melahirkan anak kita. Kayaknya Mas harus cari cara lain."


Sebenarnya hal itu bisa aku lakukan. Lagipula hanya sementara. Aku memiliki bekal pengetahuan dari pengalamanku ketika menjabat menjadi sekretari dari Celvin. Namun yang memberatkanku adalah tanggung jawab yang besar dan juga respon semua karyawan Mas Arlan. Rasanya tidak etis saja, jika orang baru sepertiku tiba-tiba menjabat menjadi direktur meski aku istri dari Mas Arlan sekalipun.


Aku berpikir dalam beberapa saat. Bimbang adalah perasaan yang datang di hatiku. Melihat suamiku yang kebingungan seperti ini, rasanya tidak tega. Benar seperti yang ia katakan, tidak mungkin ia memberikan jabatannya kepada sembarang orang meski hanya dalam waktu yang sementara. Terlebih perusahaan itu bukan miliknya sendiri melainkan milik Pak Ruddy.


"Mas, kenapa nggak salah satu pemegang saham yang ada di Sanjaya Group aja?" tanyaku memastikan pertanyaan ini kepadanya.


Mas Arlan bergeleng. "Kira nggak pernah tahu niat buruk dari seseorang, Dek. Apalagi perusahaan itu cuma perusahaan kecil dibawah naungan Sanjaya Group. Mas takut kalau orang lain yang memegang kendali, mereka malah acuh dan seenaknya aja, mentang-mentang perusahaan kecil," jelas Mas Arlan.


Aku manggut-manggut sejenak. "Aku ngerti, Mas."


"Kamu ngerti kan, Dek? Kenapa Pak Ruddy menempatkan Mas di perusahaan anakan yang masih kecil? Karna Mas ini orang lain. Terus dari situ Mas tahu kalau orang-orang menganggap perusahaan itu dengan remeh. Tapi alhamdulillah Mas bisa sedikit melakukan peningkatan. Makanya dari situ, Mas nggak bisa ngasih posisi ke sembarang orang meskipun sebentar."


Aku menghela napas dalam. "Ya udah, kalau gitu aku mau. Tapi dengan catatan pasca melahirkan, aku bisa pulih total. Kamu juga harus memberikan pengertian sama karyawan-karyawan kamu, terutama Pak Ruddy. Mau gimanapun hal ini agak nggak masuk akal, secara aku terbilang orang luar. Untungnya perusahaan perorangan bukan pemerintah. Asal ada persetujuan dari pendiri dan pemilik, kayaknya aku bisa masuk."


"Tapi, Dek? Mas ng-nggak serius kok tadi."

__ADS_1


"Udah, nggak apa-apa, Mas. Aku cuma pengen kamu menyelesaikan misimu dengan baik nanti. Yang penting pas aku melahirkan, kamu ada menemaniku. Dan ... kamu jangan lama-lama pulangnya. Aku dan anak-anak kita bakalan kangen berat."


Mas Arlan menggigit bibir bawahnya, aku merasa ia tengah tidak enak hati kepadaku. Bahkan jari-jemarinya tengah menggenggam tanganku dengan kuat. Sampai akhirnya, ia memeluk diriku dengan erat. Aku menjadi terhenyak haru. Rasa terima kasih ia bisikkan di telingaku. Yah, semoga saja aku bisa bekerja dengan baik nantinya. Sebelum itu, kelahiran anakku bisa lancar dan aku cepat pulih.


Sejujurnya, aku memang merasa takut dan ragu-ragu ketika sudah memutuskan demikian. Namun aku lebih tidak tega ketika melihat Mas Arlan yang kebingungan. Apalagi perusahaan yang ia pegang belum lama ini mengalami peningkatan berkat dirinya, sehingga ia begitu tidak rela jika harus dipegang oleh orang lain meskipun hanya sementara. Dan aku sangat yakin dengan kemampuanku. Bahkan saat dulu Celvin tidak hadir dibeberapa kali pertemuan, aku sempat menggantikan posisi dirinya. Baiklah, toh bisa mengobati rasa rinduku perihal suasana kantor.


"Maaf ya, Dek. Maaf, selalu aja kayak gini, nyusahin kamu terus. Maaf ya, Sayang," ujar Mas Arlan setelah melepas pelukannya dari diriku.


Aku mengangguk pelan. "Nggak apa-apa, Mas. Lagian ini kan baru rencana yang belum pasti. Kamu masih bisa cari info dimana mereka berada, siapa yang tahu kalau bisa ketemu sebelum rencana ini dijalankan. Kalaupun belum, juga nggak apa-apa kok. Toh, aku bisa melepas rindu soal kantor."


"Iya, Dek. Tapi kalau seandainya jadi, kamu nggak boleh capek-capek diluar pekerjaan kantor. Nggak usah urus rumah terlalu rajin ada Bi Onah. Nanti Mas cariin baby sitter, pokoknya Mas bener-bener minta maaf sekaligus terima kasih sama kamu, Dek. Mas janji setelah semua selesai, Mas bakalan bawa kalian liburan. Kalau anak kita juga udah boleh diajak jalan-jalan."


"Iya, Sayang. Jangan berlebihan deh. Kita kan juga belum tahu hasilnya lho."


Uh, Mas Arlan meneteskan air mata. Ia mungkin merasa haru sekaligus merasa bersalah kepadaku. Melihatnya yang cengeng seperti itu membuatku malah merasa gemas. Bapak-bapak ini terlihat sangat imut dalam keadaan seperti ini. Bahkan semakin lama, air matanya mengucur semakin deras. Sampai-sampai, suara senggukan tangisan terdengar dari bibirnya.


"Ih! Cowok, udah tua lagi. Masa' nangis? Hei, Mas. Udah dong, jangan nangis lagi. Nanti bengap matanya lho, Sayang. Apaan sih? Orang aku aja biasa aja kok."


Mas Arlan memeluk diriku lagi. Kini suara tangisnya semakin jelas terdengar oleh telingaku lantaran wajahnya yang dekat. "Mas itu lagi sedih, terharu, merasa bersalah sekaligus sayang banget sama kamu. Mas heran, kok bisa orang kayak Mas gini bisa punya istri sebaik kamu. Rasanya sedikit minder juga. Apalagi kata kamu, Mas ini udah tua," ujarnya disela tangisannya.


Tentu saja, aku sontak terkekeh. Ternyata ia memikirkan sebutan tua dariku. Astaga! Tanpa aku sadari, aku telah melakukan bentuk bullying kecil. "Maaf, maaf, Mas. Aku nggak ada maksud nyinggung kamu dengan sebutan tua itu kok. Aku juga sayang banget sama kamu, Mas."


"Tapi, Mas emang tua, kan?"


"Hmm ... i-iya sih."


"Tuh kan!"


"Ya udah sih, kok kayak anak kecil. Cengeng banget."


Mas Arlan melepaskan pelukannya dariku. "Yang mana yang bener? Tua apa anak kecil?"


"Astaghfirllah! Pokoknya, apapun kamu, mau gimanapun kamu, aku sayang kamu. Seperti kamu sayang sama si gendut kayak aku! Titik! Pokoknya aku dan kamu harus terus mencintai juga."


Aku mengusap air mata Mas Arlan yang membasahi pipinya. Matanya memerah, bahkan ujung hidung dan bibirnya pun sama. Sudah lama aku tidak melihatnya menangis sebelum ini, terakhir saat ibu mertuaku meninggal. Sungguh! Jika menangis karena rasa haru, ia benar-benar terlihat imut seperti seekot kucing. Meski begitu, aku tidak ingin ada air mata kesedihan yang keluar dari pelupuk matanya.


Se-begitu besarnya rasa cinta yang diberikan kepadaku. Ia tidak pernah sekalipun merasa malu karena kondisi fisikku, bahkan sebelum kami menikah. Tidak pernah sekalipun ia memintaku untuk menguruskan badan. Bahkan ketika aku berdiet dan sakit, ia malah mengomeliku dan melarangku berdiet, yang penting selalu sehat.


"Dek?"


"Hmm ...."


"Ayo bobo'."


"Nanggung Mas. Bentar lagi dhuhur."


"Masih lama, Sayang."


"Nunggu dhuhur dulu pokoknya, Sayang."


"Oh iya ya."


"Ya udah, kamu cari Selli sana, Mas. Aku mau baca buku."


"Habis dhuhur tidur ya?"


"Iya, Sayang."


Mas Arlan tersenyum. Kemudian, ia beranjak berdiri dari duduknya. Mengambil langkah untuk keluar dari kamar ini dan mencari Selli. Sedangkan diri masih terdiam sembari memandangi punggungnya yang tengah berlalu. Sampai akhirnya, pintu kamar ia tutup setelah sampai di luar kamar.

__ADS_1


Aku tertegun sebentar, kemudian kuhampiri jendela kamar yang terbuka lebar. Angin sepoi yang sejak tadi merasuk ke dalam begitu sejuk menyentuh kulitku. Jika hari terasa sejuk seperti ini, AC-nya memang kami matikan. Lalu dinyalakan lagi ketika udara terasa pengap dan panas. Yah, untuk menghemat energi daya listrik juga.


Aku melayangkan pandanganku keluar sana. Sepi, tidak ada apapun. Sedangkan hatiku kembali ragu, tepatnya pada saat teringat akan keputusanku. Apakah hal itu sudah tepat? Seandainya nanti benar-benar dijalankan, bisakah aku mempertanggungjawabkan pekerjaanku atas nama Mas Arlan? Ah, pasti bisa! Asal kondisiku setelah melahirkan cepat pulih, aku akan bisa menyelesaikannya.


Meski aku tahu, aku akan sering meninggalkan kedua anakku. Namun aku juga harus berani mengambil keputusan yang sedikit pahit itu. Aku harus bersabar dan mendukung serta membantu Mas Arlan. Lalu, setelah semuanya selesai, aku akan kembali menjadi ibu rumah tangga secara sempurna. Karena hidup memang terkadang berada di atas dengan segala kebahagiaan, terkadang pun berada di bawah karena beberapa kesulitan. Tidak mengapa, tujuan Mas Arlan adalah amanat dari orang yang sedang berjuang demi hidup lama. Akan lebih menyakitkan jika kami tidak bersedia membantu.


Untuk Riska, sepertinya ia tidak mau. Mengingat rasa kesal yang masih ada didalam hatinya teruntuk Mbak Dahlia dan juga Mas Dian. Mungkin jika tidak karena Ajeng dan Diandra, Riska tidak akan mau sekedar menyapa atau mengunjungi Mbak Dahlia.


"Mama!" Suara Selli terdengar sedang memanggilku.


Lantas, aku berbalik badan dan menatapnya. Ia tengah berlarian kecil guna menghampiriku. "Selli udah belajar, Ma," lanjutnya.


"Wow! Anak Mama emang pinter dan rajin."


"Jelas dong. Kan anaknya Papa Arlan," sela Mas Arlan tiba-tiba. Ia juga sedang melangkah untuk menghampiriku.


Aku tersenyum. "Papa yang cengeng."


"Ih, udah deh, Dek. Jangan dibahas lagi."


"Biarin!"


Dengan gerak lebih cepat, Mas Arlan mendatangi diriku dan Selli. Sesampainya disini, ia berlaku usil dengan gerak tangannya yang asyik menggelitik tubuh Selli. Beruntung aku sedang hamil, sehingga aku lolos dari ulah usilnya tersebut. Keduanya larut dalam tawa dan canda, bahkan diriku. Namun kemudian, aku terdiam dalam sejenak waktu. Haru, itulah yang aku rasakan, meski hal itu sudah sering aku saksikan.


Bagaimana nanti jika Mas Arlan pergi? Entah ia akan menggunakan visa apa, aku rasa visa liburan dengan tenggat waktu maksimal selama tiga bulan untuk tinggal di Australia. Lantas, apa aku bisa menahan rinduku? Mencari orang di negeri orang bukanlah perkara yang mudah. Jika harus sampai tiga bulan, kami pun harus bangun nikah.


Belum dijalankan saja, aku merasa gelisah. Apalagi jika nanti memang harus terjadi. Sebenarnya dimana Ibu Leny dan William berada? Meski aku sudah mengatakan hendak ikhlas, namun yang memberatkan diriku kini perihal rasa rindu. Selama ini aku tidak pernah terpisah jauh dari Mas Arlan.


"Dek? Ngapain ngalamun?" Pertanyaan dari Mas Arlan sungguh membuatku terkejut. Karenanya, lamunanku terbuyar seketika.


Aku menggelengkan kepala. "Enggak kok, Mas," jawabku.


"Maaf, kayaknya kamu kepikiran ya? Maaf, Dek. Seharusnya Mas bilang waktu kamu udah melahirkan dan sekarang malah bikin beban baru buat kamu."


"Halah! Apaan sih! Orang aku nggak apa-apa kok."


"Beneran?"


"Iya, Sayang."


"Ya udah sini. Gabung sama kita. Foto selfie yuk. Nanti Mas upload di story."


"Nggak mau kalau di-upload. Jangan pamer!"


"Yee ... seru-seruan doang lho, Dek."


"Tetep nggak boleh."


Aku ikut duduk lesehan di lantai bersama Mas Arlan dan Selli. Setelah kami saling berdekatan, Mas Arlan merogoh ponsel yang sejak tadi kantongi. Lalu, ia benar-benar menyalakan kamera guna memotrek kami bertiga. Sontak aku menutup wajahku karena terlihat paling besar diantara mereka. Namun Mas Arlan mencoba membuka telapak tanganku yang menutupi wajahku. Mau tidak mau aku mengikuti permintaannya untuk berfoto selfie, tentu dengan gaya wajah yang terlihat dari samping agar tidak terlalu besar di kamera ponselnya.


"Buh! Hidung kamu panjang banget, Dek. Kalau begini mata kamu nyala birunya jelas banget," ujar Mas Arlan setelah kami terpotret dan ia menatap hasilnya.


"Iya dong. Aku kan anak londo," jawabku bangga sendiri.


Selli menyela, "londo itu apa, Ma?"


"Ya Mama ini, Sayang."


"Oh ...."

__ADS_1


Bersambung ....


Budayakan lagi like dan komennya ya


__ADS_2