Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Entahlah!


__ADS_3

Selepas kepulangan Mas Roni, Nike dan Rafif--sang anak, kami bertiga duduk bersama di ruang tamu yang sama. Aku masih mencoba menenangkan Riska, sedangkan Mas Arlan masih diam sembari menatap Riska dengan gusar. Sedari tadi pun, Riska belum mau bersuara, hanya tetesan air mata yang sesekali mengalir di wajahnya. Aku bingung sekali, aku hanya diam menunggu langkah dari suamiku.


Sedangkan waktu semakin larut malam, kami masih harus bekerja keesokan harinya. Sejujurnya, mataku sudah tidak kuasa menahan kantuk yang luar biasa. Namun apa dayaku? Tidak mungkin aku berlalu begitu saja. Aku hanya bisa menahan mulut agar tidak terbuka lebar ketika sedang menguap. Atau terkadang mencubit kulitku diam-diam. Ini semua karena imbas tadi siang yang memberikan banyak sekali pekerjaan. Sebenarnya tidak ingin diri ini mengeluh, meskipun hanya dalam hati. Namun, aku tetaplah manusia biasa, walaupun badanku besar, tenagaku tetaplah lemah seperti kebanyakan wanita.


"Ehem." Mas Arlan tiba-tiba berdeham. "Tidur aja, Dek," lanjutnya menyarankanku.


"Eh, en-enggak ngantuk kok, Mas," jawabku.


"Ma-maaf, Riska mengganggu ya?" sela Riska.


Mas Arlan mengangguk. "Sedikit. Kamu ada apa? Kenapa? Gimana bisa nyampe sini?"


"Ma-maaf, Om. Aku kabur, aku nggak kuat dikurung."


"Bukankah itu kesalahanmu sendiri? Om hanya bisa membantu sedikit, itupun hari yang lalu. Mau gimanapun, Om nggak mau kamu terlalu. Tapi, untuk masalah hukuman untukmu, Om nggak mau ikut campur," jelas Mas Arlan. "Riska, kamu ini udah dewasa. Udah hampir 30 tahun. Pecahkan masalah kamu sendiri. Selagi hukumanmu tidak membuat terluka fisik, Om nggak bisa bantu apa-apa. Itu resikomu."


Riska terdiam, aku pun terdiam. Semua ucapan Mas Arlan memang benar. Meski aku tahu, itu tidak mudah baginya untuk mengucapkan. Aku rasa, Mas Arlan tidak sampai membiarkan Riska seperti ini. Namun, ia juga harus memikirkan tentang posisinya sekarang.


Semuanya serba rumit dan membuat pusing. Rasanya aku ingin datang ke rumah itu dan merutuk semua orang habis-habisan. Namun, siapa aku? Aku hanya seorang Fanni--sang menantu berbadan besar yang tidak diakui. Aku tidak bisa melakukan apapun, kecuali berdiam seperti ini dan menyaksikan semua yang terjadi. Sejujurnya semakin lama, semakin membuatku muak saja. Jika bukan karena Mas Arlan adalah suamiku, pasti aku bersikap acuh, bahkan kepada Riska sekalipun.


Aku merindukan rumah ayah dan ibuku yang begitu damai, mungkin hanya suara ibuku saja yang terdengar nyaring. Dan suara itu yang semakin menghangatkan suasana, bukan? Rasanya aku ingin pulang, namun bagaimana dengan Mas Arlan dan Selli? Seburuk-buruknya seorang Fanni, Fanni tetaplah manusia biasa yang tidak setega itu. Ah... apa yang aku pikirkan sekarang? Sepertinya ini bukan hal yang pantas, aku harus bersabar lagi untuk terlibat didalam masalah ini.


Kupandangi wajah Riska serta menggenggam tangannya. Kemudian aku mulai bersuara, "ini semua udah diluar kendali kami, Riska."


Riska semakin menunduk. "Aku tahu, nggak seharusnya aku bawa kalian dalam masalahku. Maaf, sepertinya aku nggak harus disini. Aku akan pergi," jawabnya sembari beranjak berdiri.


Mas Arlan langsung menghampiri Riska dan menghadangnya. "Mau kemana kamu? Kabur kemana lagi? Om nggak yakin kamu mau pulang," katanya.


"Kemanapun. Yang pasti bukan disini ataupun di rumah. Emm... maaf, Om. Tapi, sejujurnya Riska udah capek. Mungkin bener kalau ini salah Riska. Tapi, Riska juga manusia."


Mas Arlan menghela napas dan membuangnya kemudian. Diusapnya wajahnya dengan kasar oleh tangannya. Aku melihat air yang akan keluar dari bola matanya, namun sepertinya sedang ia tahan. Dalam keadaan sudah lepas tangan pun, ia tetap tidak bisa lari dari masalah sang keponakan. Betapa baiknya hati suamiku, ia bahkan rela terluka demi orang-orang yang ia sayangi. Aku sampai malu pada diriku sendiri yang sempat berpikiran ingin pulang ke rumah ayah dan ibuku.


Sedangkan Riska, ia tampak kacau sekali. Wajahnya pucat lesu, seperti seseorang yang sedang terkena penyakit. Bahkan badannya terlihat semakin kurus. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi kepadanya. Namun, menurutku ia hanya tidak kuat untuk menjadi tahanan rumah dan bukan karena penyiksaan fisik dari keluarganya. Kenapa aku berpikir seperti itu? Karena tidak ada luka apapun di tubuhnya. Aku bersyukur tentang itu, setidaknya keluarganya masih memiliki otak yang waras, walaupun penyiksaan batin masih tetap ia dapatkan.


Lalu, Mas Arlan menyentuh kedua pundak Riska sembari menatapnya. "Om, akan bawa kamu. Tapi, bukan disini tempatnya. Om dan istri nggak mau terlibat banyak. Anggap saja ini adalah bantuan terakhir," katanya.


"Bantuan terakhir?" tanya Riska sembari mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk.


"Ya, Om akan antar kamu ke apartemen istri Om. Tenangkan dirimu disana, tapi maaf disana sudah tidak terlalu banyak fasilitas tambahan kecuali dari pihak pengurus gedung."


"Be-benarkah?"


Mas Arlan mengangguk. "Bener. Tapi, dengan beberapa syarat. Jangan libatkan kami lagi, jangan berbuat bodoh dan jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Tenangkan dirimu, kasihanilah pacarmu itu. Om takut, semakin kamu berontak, diri pacarmu yang menjadi taruhannya."


"I-iya, Om."


"Jangan hanya iya, tapi lakukan."


"Riska akan lakukan. Karena sepertinya emang benar. Selepas mengantar Riska pulang tadi, Celvin ketemu Papa. Dan emosi Papa selalu memuncak saat melihat wajah Celvin. Setelah itu, Riska diserer ke kamar dan dikunci. Riska kabur dengan dibantu Nenek, saat semua orang menghadiri acara perusahaan.


Mas Arlan menepuk keningnya sembari menghela napas. Ia tampak kesal namun tetap ditahan. Berarti Celvin baru saja mendapat pukulan lagi, padahal memar di wajahnya masih belum sembuh. Astaga! Ini lebih gila dari yang kubayangkan. Bahkan ibu mertuaku yang sudah sepuh harus ikut terlibat. Apa ini? Hanya karena sebuah kebencian pada orang yang tidak bersalah? Mengapa aku semakin curiga, sepertinya ada seorang provokator dibalik semua yang terjadi.


Ivankah? Namun, ia telah keluar dari pekerjaannya. Menurutku, Ivan hanya sebagai penyulut api saja, bukan peniup yang semakin memperbesar api masalah itu. Seperti kata Mas Roni beberapa saat yang lalu, apakah benar jika salah satu anggota keluarga ikut terlibat? Ah... otakku pintarku rasanya seperti sedang diuji bak seorang detektif saja.

__ADS_1


"Riska, Riska, ternyata kamu ini udah bisa nakal ya?" keluh Mas Arlan. "Baiklah, Om antar sekarang. Pegang janjimu, dan tolong jangan libatkan nenekmu lagi."


"Iya, Om. Maaf," jawab Riska penuh rasa bersalah.


"Dan satu lagi... jangan berbuat gila karna udah putus asa. Ingat, kalau kamu bunuh diri, masalahmu nggak akan selesai. Jiwa nggak akan tenang dan kamu bisa merepotkan orang lain lagi."


"Emm... kalau itu, Riska juga nggak berani, Om. Riska belum pengen mati."


"Bagus! Seenggaknya masih ada satu akal sehatmu, Nak."


Mas Arlan menatap diriku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala saja, lantaran tidak habis pikir akan kekhawatirannya tentang bunuh diri. Seorang aku saja tidak berani, apalagi Riska. Tapi, semua tetap terasa wajar karena kondisi Riska memang tidak beraturan. Beruntungnya apartemenku memang belum dijual ataupun disewakan. Setidaknya masih ada tempat untuk Riska menenangkan dirinya dan bukan di rumah ini. Karena jika orangtuanya tahu bahwa Riska berada disini, matilah kami.


Kemudian, Mas Arlan memerintahkan Riska untuk keluar terlebih dahulu dan masuk ke dalam mobil miliknya dengan memberikan kunci mobilnya. Riska pun dengan tenang mengikuti anjuran sang paman. Aku bernapas lega untuk sementara, setidaknya masih ada satu penyelesaian untuk malam ini. Aku merebahkan kepalaku pada badan kursi tamu dan menghela napasku dalam-dalam. Sedangkan Mas Arlan kini sudah duduk disampingku sembari menatapku.


"Apa?" tanyaku.


Mas Arlan menggelang. "Enggak, Sayang," jawabnya.


"Yaudah, anterin dulu, Mas. Keburu tengah malem."


Tiba-tiba ia merengkuh diriku ke dalam pelukannya. Tentunya dengan tenaga yamg besar untuk menarik diriku. "Kenapa, Mas? Pergilah."


"Maaf, Dek. Keluarga Mas hancur semua."


"Jangan ngomong gitu. Aku pun nggak peduli, karena kamu nggak sehancur itu kok. Aku yang minta maaf, Mas. Aku nggak bisa bantu apa-apa, aku cuma bisa menyaksikan aja. Maaf."


"Kamu selalu membantu Mas dalam membuat keputusan, berpikir jernih dan selalu kuat dalam menjalani semuanya. Kamu dan Selli adalah sumber kekuatan Mas, Dek."


"Mas udah merangkai kata, kamu malah senyum-senyum geli kayak gitu? Parah."


"Hehe... lagian udah aki-aki, masih sok puitis. Akunya yang malu tiap kamu ngomong gitu."


"Hmm... itu isi hati Mas, Dek."


Setelahnya, ia mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku tahu maksudnya. Bukannya menerima, aku malah beringsut mundur dan sedikit mendorongnya. Ia merasa sangat kecewa atas sikapku. Lalu, kukecup sekilas bibirnya. "Segini aja, kamu masih harus antar Riska, Sayang. Nanti malah hanyut dan lupa waktu."


"Hmm... iya deh. Yaudah, Mas pergi dulu ya? Tungguin Mas di rumah."


Kuanggukkan kepalaku. "Ya, Mas. Hati-hati di jalan."


Mas Arlan beranjak berdiri. Kuantarkan dirinya sampai diluar. Kami berjalan bersama. Setelah sampai di luar, Mas Arlan menghampiri keberadaan mobilnya. Setelah itu, mulai terdengar deru kendaraan itu. Mas Arlan melajunya dan melewati diriku. Dengan memandangnya keluar dari area rumah ini, aku berharap tidak ada satupun orang yang tahu akan keberadaan Riska sebelum wanita itu siap menghadapi masalahnya.


Aku kembali berbalik badan dan masuk ke dalam, tepatnya setelah pintu gerbang ditutup kembali oleh tukang kebun kami yang masih bergadang bersama salah satu temannya. Disetiap langkahku, aku masih tidak percaya bahwa seorang aku bisa masuk ke dalam masalah keluarga kaya. Disatu titik ini, aku kembali menyadari bahwasanya status tinggi tidak lantas membuat pemiliknya bahagia. Aku ingin hidupku dan keluargaku tetap damai, itu saja.


"Mbak Fanni," panggil Bi Onah kepadaku saat aku hendak menilik keadaan Selli.


"Ya, Bi. Kenapa?" tanyaku sembari menghentikan langkahku.


"Non Selli udah tidur, Mbak."


"Oh... iya, Bi. Fanni cuma mau lihat aja."


"Yaudah, Mbak. Bibi permisi ke bawah dulu."

__ADS_1


Aku mengangguk pelan. "Istirahat aja ya, Bi. Jangan lembur sama sayur hehe."


"Hehe... iya, Mbak."


Bi Onah meninggalkanku. Aku kembali melanjutkan langkahku menuju kamar putriku. Sesampainya disana, aku membuka pintunya perlahan-lahan. Benar kata Bi Onah, ia sudah tertidur lelap. Aku bergegas masuk. Lalu kupandangi wajahnya yang imut lembut itu. Selli semakin besar semakin cantik. Aku berdo'a, semoga ia selalu bahagia dan tumbuh menjadi gadis manis yang baik hati.


Aku tidak mau nasibnya seperti diriku atau bahkan Riska. Aku tahu, aku bukan orang yang sempurna. Namun, aku ingin mengupayakan yang terbaik untuknya. Bukankah pelajaran norma, agama dan juga tata krama sangat penting? Dan itu harus diajarkan sejak usia dini supaya sang anak bisa tersugesti dengan kebaikan dari usia seperti ini. Tentang siapa diri Selli, aku tidak peduli. Bahwa ia adalah anak dari Nia yang sempat menghinaku, aku tetap tidak peduli. Aku mencintai dan menyayanginya seperti putri kandungku sendiri, bahkan bukan karena ia adalah anak dari pria yang aku cintai. Karena aku menaruh rasa sayang terhadapnya jauh sebelum aku menyadari akan perasaanku terhadap Mas Arlan.


"Mama sayang kamu karena emang sayang, Nak. Mama yang menemukanmu, bahkan Mama mencintai kamu sebelum mencintai ayahmu. Tumbuhlah menjadi putri dan juga gadis yang baik-baik. I love you....," bisikku kepadanya.


Cup! Kukecup keningnya dan kurapikan selimutnya. Sebelum beranjak pergi, aku memandangi wajahnya lagi. Melihat seorang anak yang tertidur dengan nyenyak nyatanya mampu memberikan sebuah ketenangan tersendiri. Banyak orang bilang bahwa wajah dari seorang anak mampu menghilangkan segala kepenatan, dan aku rasa itu memang benar. Kini aku merasakannya.


Setelah itu, aku berdiri dan berbalik badan. Kuambil langkah untuk keluar dari kamar ini. Namun sebelum itu, aku mematikan lampunya terlebih dahulu. Aku menutup pintu perlahan-lahan lagi dan berlalu pergi.


Sesampainya didalam kamarku, aku masih terduduk di tepian ranjang dengan diam. Aku sudah merasa sangat mengantuk dan kelelahan. Namun, rasanya sangat tidak etis jika tidak menunggu kepulangan suamiku terlebih dahulu. Setelah itu, aku meraih ponselku yang berada diatas meja kecil. Aku memainkannya demi membuang rasa kantukku. Betapa terkejutnya diri ini saat mendapati 17 panggilan tidak terjawab, dan itu dari Celvin semua. Ada apa dengannya?


Dengan gerak cepat aku meneleponnya kembali.


"Halo, Vin? Kenapa?" tanyaku sesaat setelah panggilanku diangkat olehnya.


"I-itu, Riska, Fann," jawabnya dengan nada panik.


"Hmm... Riska kenapa?"


"Riska katanya nggak ada di rumah. Tadi papanya datengin rumah papaku dan menuduh kami menyembunyikan Riska."


"A-apa?"


"Aku nggak peduli soal itu. Aku hanya khawatir tentang kondisi Riska sekarang. Apa dia sempat ke rumah kamu, Fann?"


Deg! Jantungku berdegup dan seperti ditusuk sebuah belati. Apa yang harus kukatakan sebagai jawaban? Aku belum memikirkan tentang masalah ini. Bahkan, belum sampai kurundingkan dengan Mas Arlan. Aku tahu, Celvin pasti berasa khawatir. Namun, aku juga tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Aku takut masalah ini semakin runyam dan melibatkan Mas Arlan jauh lebih dalam. Lantas, aku harus bagaimana?


Sial!


"Fann?"


"Fanni?"


"Fann? Halo?"


"Ya, aku disini. Kamu tenang dulu, Vin. Aku yakin Riska nggak kenapa-napa."


"Kamu tahu darimana? Riska di rumah kamu?"


"Riska tidak ada disini. Tapi, aku yakin bahwa dia baik-baik saja. Jangan khawatir Pak Celvin."


"...."


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen.


Hai semua. maaf baru up lagi. Tapi tenang next bab masih dalam penulisan juga hari ini. Yah, semoga aja sistem nggak ada kendala dan bisa lolos hari ini juga

__ADS_1


__ADS_2