Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Kencan Keluarga


__ADS_3

Yang manis-manis dulu ya, kasihan Arlan.-Author.


___________________________________________


Kini, kami berada disalah satu mall yang tidak terlalu elite. Biasa saja dan sering dikunjungi orang-orang biasa. Berjalan bertiga sebagai satu keluarga. Untuk menghibur hati suamiku maupun putriku tercinta. Lagipula, terhitung sudah lama, kami tidak bermain bersama seperti ini. Terlebih untuk Selli yang sudah lama, selalu kami abaikan karena harus bekerja.


Anggap saja, sebagai perayaan atas kebebasan Mas Arlan dari jerat dendam keluarganya. Meski, keesokkan harinya akan kembali pusing dalam mencari penghasilan. Namun, selama aku masih bekerja, sepertinya tidak akan terlalu sulit. Asal jangan sampai terdengar di telinga ibuku, aku pasti akan mendapatkan omelan yang sepanjang jembatan Suramadu yang terkenal di Jawa Timur sana.


"Mama, Papa, aku mau main itu," pinta Selli sembari menunjukka jarinya ke arah sebuah permainan didalam time zone game.


"Emangnya Selli bisa?" tanya Mas Arlan.


"Bisa dong, aku kan udah pelnah diajalin cama Papa. Maca' Papa lupa?"


"Oh... iya ya. Papa lupa, emm... tapi itu udah lama lho, Sayang?"


"Nanti, Selli diajalin cama Mama Fanni."


"Hmm... pinter banget anak Papa. Ada Mama yang pinter juga yah, disini?"


"Boleh ya, Pa?"


Mas Arlan mengangguk. "Boleh dong, tapi inget nggak boleh lama-lama ya?"


"Acyyyyiiik!"


Gadis kecil ini meminta izin untuk turun dari gendongan sang ayah. Kemudian, ia berlarian mendahului kami dengan tawa cerianya. Dengan penuh antusias, Selli menuju salah satu jenis permainan yang berada disini. Kemudian Mas Arlan ke arah kasir.


Sejujurnya, ini masih seperti mimpi bagiku. Bukan hanya sudah menikah, tapi aku sudah memiliki seorang putri. Mungkin memang bukan terlahir dari rahimku. Namun entah mengapa, sejak aku mulai dekat dengannya, aku sudah menganggap Selli seperti anak sendiri. Seolah memberikan hiburan kala aku masih menjadi wanita yang melajang. Namun, kuasa Tuhan memang luar biasa, saat ini ia sudah resmi menjadi anakku.


"Mas, masih ada uang emang...? Aku bawa lho...," tanyaku pelan-pelan kepada Mas Arlan setelah ia menghampiri kami lagi.


Mas Arlan tersenyum. "Masih, Sayang," jawabnya.


"Jangan bohong, entar nggak mau bilang lagi."


"Bener, Dek. Nggak bohong kok, masih ada. Lagian kartu kamu kan masih Mas bawa. Nanti kalau Mas kepepet, baru minjem kamu."


"Pake aja, nggak usah minjem-minjeman."


"Nggaklah, Dek. Suami pake uang istri itungannya ya minjem."


"Yaudah deh, terserah kamu. Lagi banyak orang, nggak pantes mau debat sama kamu."


"Ya udah, nggak usah debat. Kamu kecup Mas aja."


"Ih... tambah nggak mau!"


"Hehehe."


Boleh saja, kamu terlihat bahagia, Mas. Tapi, aku tahu apa yang kamu rasain didalam hatimu."


Entah, mengapa semakin lama, aku semakin merasa sesak pada saat melihat senyuman suamiku. Ia tampak tegar dan kuat. Namun, keletihan dan kebingungan masih tergambar jelas di wajahnya. Bukan itu saja, kadang ia menatap ke suatu tempat dengan pandangan kosong. Ini tidak mudah untuknya, benar-benar tidak mudah. Rasanya seperti kehilangan semua keluarga aslinya.


Dengan segala keberanian, aku merengkuh lengan kirinya dan menggandengnya menghampiri putri kami yang sedang asyik bermain. Mas Arlan yang terkejut langsung tersenyum saat mendapati sifat manjaku. Ia mengerti akan maksudku. Sehingga, tanpa pikir panjang lagi, kami mendekatkan diri kepada Selli dan menjaganya.


Sepanjang malam ini, kami menghabiskan waktu bertiga saja. Setiap Mas Arlan mulai mengalihkan fokusnya, aku senantiasa membuatnya kembali fokus kepada kami. Aku tidak ingin malam ini dihancurkan dengan perasaan yang tidak menentu. Sehingga, sebisa mungkin aku menampilkan senyum yang akan memberikan sugesti kepada keluargaku.


Setelah, Selli jengah dengan game yang dimainkannya. Kami bergegas meninggalkan time zone game dan berjalan-jalan mencari cemilan kecil di beberapa stan yang ada di mall ini. Berikutnya berputar lagi dengan rencana hendak menonton film animasi. Tentunya teruntuk putri kesayangan kami.


"Mas, beneran mau nonton? Besok Selli masih sekolah lho," tanyaku.


"Besok bolos nggak apa-apa, Dek," jawab Mas Arlan dengan santai.


"Eh! Sembarangan! Sekolah itu penting dan perlu. Pokoknya harus masuk, enak aja kamu ngajarin anak sama hal buruk."


"Hehehe... iya iya, Sayang. Terus gimana?"


"Nggak usah nonton aja, cari tempat makan terus pulang."

__ADS_1


"Tapi, Selli mau nggak?"


Aku menatap Selli yang sudah menampilkan wajah memelasnya. Memang ada perasaan iba, tapi aku tidak gentar untuk membatalkan. Durasi menonton film akan memakan waktu sekitar dua jam, dan sekarang sudah jam 8. Tidak mungkin, aku membiarkan Selli begadang. Lagipula, ini bukan cara mendidik yang baik. Boleh saja, tapi nanti jika ada waktu luang.


"Kan hari ini Selli udah nggak belajar nih. Jadi, hadiahnya udah cukup ya, Sayang. Tadi juga udah main kok," ujarku merayu.


"Tapi, Ma. Selli pengen nonton, kata temen-temen filmnya bagus banget," tolak Selli.


"No! Kalau udah malem, bukan waktunya nonton lagi. Oke?"


"Mama, Selli mau nonton pokoknyaa!"


Astaga! Ternyata sulit sekali dalam menghadapi sosok anak kecil. Aku curiga kepada Mas Arlan. Aku rasa, selama ini ia selalu memberikan semua keinginan sang putri. Memang wajar, tapi tidak begini. Ada kalanya sikap sedikit tegas harus dilakukan agar nantinya tidak menimbulkan rasa manja terhadap sang anak. Kalau sudah tertanam rasa manja, ia akan tumbuh sebagai pribadi yang sulit untuk mandiri.


Sepertinya aku harus membenahi tatanan pendidikan untuk putri kami ini. Meski, masih dalam tahap belajar, masih ada beberapa ingatan tentang bagaimana ibuku membimbingku selama ini. Ibuku selalu mengarahkan aku dan Kak Pandhu agar hidup dengan baik dan juga pribadi yang sederhana. Sangat berbeda dengan cara didik orang-orang kaya.


"Turutin aja, Dek," usul Mas Arlan.


"No! Kita cari makan terus pulang," jawabku.


"Tapi, Selli nangis, Sayang."


Aku menatap wajah Selli yang sudah berderai air mata. Sebenarnya tidak tega. Namun, aku masih mencari cara lain untuk membujuknya. "Selli sayang sama Mama nggak?" tanyaku kepadanya.


Selli mengangguk pelan.


"Kalau sayang, harusnya Selli turutin perintah Mama dong. Besok kalau libur, pasti Mama ajak kesini lagi ya? Selli masih inget sama pengamen cilik tadi kan?"


"Iya, Ma. Selli masih inget."


"Nah, Selli kasian kan? Anak tadi nyari makan aja susaaaah banget, harus cari uang dulu, sendiri. Ada yang nggak punya Papa, ada yang nggak punya Mama. Ada juga yang nggak punya Papa Mama. Tapi, mereka nggak pernah nangis. Masa' karna Mama ajak pulang, Selli udah nangis sih?"


"...."


"Padahal, Selli masih bisa makan enak, masih punya banyak mainan, masih bisa sekolah. Jadi, Selli harus sabar ya? Mama janji nanti kalau libur Mama ajak nonton. Jadi, hari ini uangnya dikasih ke mereka dulu ya, Sayang?"


"Siap, Tuan Putri. Biar Selli bisa jadi pahlawan penolong buat mereka. Oke?"


"Oke, Ma."


Akhirnya ideku mampu meluluhkan hati anakku. Menurutku tidak buruk juga, lagipula bisa mengenalkan tentang hidup orang lain yang kurang beruntung kepada Selli. Setidaknya, ia bisa selalu merendah dan melihat ke bawah. Syukur-syukur, bisa mengingat ucapanku sampai beranjak dewasa.


Dan kini, aku bisa bernapas lega. Rencana menonton dibatalkan. Sehingga putriku tidak harus bolos sekolah seperti ucapan Mas Arlan. Ia juga tidak perlu tidur kemalaman yang nantinya akan mengganggu kesehatan. Di posisi ini, aku bisa berbangga diri kepada suamiku. Ia pun hanya tersenyum-senyum malu. Sekali lagi, memanjakan anak memang perlu, tapi jangan keterlaluan juga. Segala sesuatu yang berlebihan, akan memberikan dampak negatif dibaliknya.


Kami akan menuju salah satu restoran ayam didalam mall ini. Sesampainya disana, kami mencari bangku yang paling nyaman. Sebagai suami siaga, Mas Arlan memesankan makanan untuk kami berdua setelah menanyakannya pada aku dan Selli. Tidak butuh waktu lama, Mas Arlan mendapatkan makanan tersebut dan membawakan dihadapan kami. Tidak butuh waktu lama untuk segera menyantap.


"Kamu hebat banget, Dek. Bisa rayu anakku kayak gitu," ujar Mas Arlan.


"Maaf, Selli anakku," jawabku.


"Hehe... iya iya, Mama Fanni-ku sayang."


"Apaan sih, Mas? Geli ah."


"Biarin. Tapi, bener. Kayaknya Mas terlalu ngasih kebebasan sama anak."


"Ngasih juga nggak apa-apa, Mas. Tapi, ya harus tahu kondisi juga. Kalau udah malem gini, masa' masih mau diturutin. Jangan konyol."


"Anaknya rewelan, Sayang. Makanya Mas ini suka lemah hati, kalau lihat Selli nangis."


"Ya, pelan-pelan. Diajak ngobrol yang positif, pasti akan mau juga kok."


"Heran deh sama kamu, Dek. Padahal baru kali ini kamu jadi seorang ibu. Tapi, udah sedewasa itu."


"Karna ilmu dari Mama membekas di otakku, Mas. Bedanya Mama galak kayak Kak Pandhu, aku agak nggal tegaan kayak Papa hehe."


"Beruntungnya Mas, bisa punya keluarga kayak kalian. Mungkin ini bayaran baik atas semua yang Mas alami, Dek."


Raut wajah Mas Arlan terlihat gusar lagi. Aku rasa, ia sedang iri dengan suasana keluargaku. Yah, kalau dibandingkan dengan keluarganya memang sangat berbeda. Segalak-galaknya ibuku, beliau masih berlaku adil dan juga demi kebaikan kami. Se-emosinya Kak Pandhu, ia melakukan semua demi keluarga kami juga. Kasih sayang ayahku pun tiada berkurang sedikitpun. Aku adalah manusia yang lebih beruntung daripada Mas Arlan. Hanya saja, selama ini aku kurang bersyukur.

__ADS_1


Kugenggam telapak tangan Mas Arlan sebelah kiri. Seketika saja, ia menatapku. Aku tersenyum kepadanya, "inget kata-kataku tadi, Mas. Malam ini kamu nggak boleh sedih, kita harus happy. Karna esok hari, kita akan berjuang lagi."


Cup! Kecupan manis diberikan diatas punggung tanganku. Ah... Mas Arlan tersenyum lagi dan lebih manis, aku sampai ingin meleleh seketika. Jika saja, ini di rumah pasti sudah kuhabisi pipinya. Namun, harus kutahan dulu sampai kepulangan kami setelah ini.


"Mama, Papa makan dulu. Kok malah gandengan tangan ciih? Katanya Selli nggak boleh pulang mayem-mayem. Nanti pengamen kecilnya kebulu pulang lho," celetuk Selli tiba-tiba.


Mas Arlan segera menarik tangannya dariku. "Iya, Sayang. Papa lupa, karna Mama kamu cantil banget hehe," jawab Mas Arlan.


"Dibilangin macih cantikan Selli kok!"


"Iya, iya. Kalian cantik semua. Para bidadarinya Papa, hehe."


"Dasar!" gertakku. Lantas, kami melanjutkan santapan ini. Tentunya dengan diiringi canda tawa yang bahagia. Tak apa, bukan? Karena esok hari akan ada hari yang berat lagi.


****


Selang waktu berlalu, kami telah kembali ke rumah setelah melaju mobil untuk pulang. Tak lupa kubersihkan wajah Selli dan juga kakinya dengan air hangat karena sudah larut malam. Kubimbing untuk menggosok gigi seperti biasanya. Ibadah isya' pun sudah selesai ditunaikan. Kemudian, aku mengantarkan Selli ke dalam kamar kecilnya.


"Mama Selli mau tidul lagi sama Mama dan Papa," pinta putriku tersebut.


"Oh ya? Minta izin sama Papa dulu dong. Papa didalem kamar tuh," jawabku.


"Ayo, Ma. Kita ke kamal Papa, Selli mau minta izin."


"Siap, Tuan Putri Mama tersayang."


Kami beranjak turun dari ranjang kecil Selli. Kemudian mengambil langkah untuk menuju kamar pribadiku bersama Mas Arlan. Langkah kecilnya mendahuluiku dengan gerak gemulai yang menggemaskan. Kuamati lebih teliti, rasanya Selli sudah tumbuh lebih besar daripada awal kali kami bertemu. Namun, suaranya masih belum sempurna apalagi saat mengucap kosakata yang terdapa huruf R. Tidak mengapa, toh setiap anak memiliki tumbuh kembang masing-masing.


Sesampainya didepan pintu kamar yang dituju. Aku menghentikan dorongan tangan Selli sembari menggelengkan kepalaku. "Hayo, kalau mau masuk kamar orang lain harus?" tanyaku.


"Eh iya. Halus salam dan ketuk pintu dulu ya, Ma. Hehe... Selli lupa," jawabnya.


"Nah, lakukan dengan benar ya, Sayang."


Selli mengetuk pintu tersebut, meski dalam kondisi yang sedikit terbuka. "Papa? Ini Selli, Pa? Selli boleh masuk ya, Papa?"


"Masuk aja, Putri Papa yang paling cantik," jawab Mas Arlan dari dalam.


Lantas, kami bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam. Tampak Mas Arlan sedang membaca sebuah buku ilmu sembari bersender pada badan ranjang. Tiba-tiba, Selli berlari sekencang mungkin. Ia menjatuhkan diri diatas tubuh Mas Arlan. Ah... andai aku sekecil Selli pasti bisa berlaku seperti itu. Namun, apa dayaku? Tubuhku besar, aku tidak bisa membayangkan jika menjatuhkan diri diatas tubuh suamiku. Yang ada Mas Arlan akan sesak napas.


Astaga! Apa yang gue pikirin? Emang gue bocah?


Tanpa pikir panjang lagi, aku bergabung bersama mereka. Menyatukan kepalaku dengan bahu Mas Arlan sembari menyaksikan cengkeramanya bersama sang putri yang tengah menduduki dirinya. Aku berharap suasana ini akan berlangsung selama-lamanya, daalam konteks bahagia. Karena Selli akan bertumbuh semakin dewasa.


Lambat laun mata Selli sudah menyipit, menandakan rasa kantuk sudah tidak tertahan lagi. Akhirnya ia tumbang diatas tubuh sang ayah. Setelah itu, kami memposisikan tubuh mungilnya ditengah-tengah dan senyaman mungkin. Aku sendiri merebah dengan nyaman dengan posisi yang menghadap mereka. Begitupun Mas Arlan yang memberikan timbal balik.


"Hari ini Mas merasa sangat amat bahagia. Boleh kan, Dek?" tanya Mas Arlan.


"Boleh dong. Dan itu wajib, Mas. Karna apapun kondisinya kita tetap harus mensyukuri nikmat yang masih ada dan akan selalu ada," jawabku.


"Sejak kapan sih, kamu se-dewasa ini? Padahal dulu malu-malu, gampang ngambek terus minderan."


"Hehe... nggak tau, Mas. Mungkin karna adanya kamu, karna udah menikah dan menjadi ibu. Jadi, banyak faktor yang mempengaruhi psikisku dengan baik. Apalagi baru-baru ini, aku banyak belajar macam-macam hal, Mas."


"Hmm... sebenarnya kamu yang banyak memberikan pengaruh pada kehidupan Mas, Dek. Adanya kamu, Mas tau artinya perjuangan cinta. Hati Mas tumbuh lagi dan membuat Selli merasakan akan figur seorang ibu."


"Yah, semoga saja kita bisa saling melengkapi sampai seterusnya ya, Mas."


"Amin, makasih Sayang. I love you."


"I love you to, Mas."


Bersambung...


Maaf baru up hehehe.


Budayakan tradisi like+komen.


Maaf kalo banyak typo, revisi bertahap yaa.. terima kasih

__ADS_1


__ADS_2