
Malam harinya, aku akan berkencan dengan Mas Arlan untuk pertama kalinya. Ia mengajakku untuk makan malam dan menonton. Tidak buruk juga, jadi aku tidak perlu bimbang memikirkan perkataan Celvin tadi siang.
Aku menggunakan baju khusus wanita setengah lengan dan tentunya besar. Dipadukan dengan celana jeans model pencil. Tak ketinggalan, polesan make up juga turut andil dalam penampilanku malam ini. Meski aku tau semua itu tidak bisa menyembunyikan timbunan lemak pada badanku, setidaknya aku bisa tampil sebaik mungkin malam ini. Apalagi hanya berdua saja dengan Mas Arlan.
Sebenarnya, aku ingin Mas Arlan tetap membawa Selli. Namun, ia menolak dan beralasan takut kemalaman. Lagipula ini pertama kalinya bagi kami melakukan tradisi layaknya sepasang kekasih. Bagiku tidak terlalu perlu, tapi tidak bisa menolak juga.
Kuambil tas selempang kecil berwarna biru senada dengan bajuku. Aku telah siap. Sembari menunggu Mas Arlan datang, aku duduk bersantai di sofaku.
Aku teringat ibuku yang sempat aku tinggalkan. Sampai saat ini tak ada kontak apapun diantara kami. Tidak nyaman rasanya. Namun, aku belum tau harus bagaimana. Kedua orang yang saling bertentangan, kini telah menjadi bagian penting dari diriku. Ibuku adalah orang tua yang sangat aku sayangi dan berlaku sepanjang masa.
Aku sedikit merasa bersalah karena harus pergi berkencan dalam situasi pertengkaran kami. Untuk beberapa saat aku bimbang. Namun, kemudian aku hilangkan. Aku sudah siap sekarang dan tentu saja tidak mungkin aku batalkan janjiku dengan Mas Arlan. Aku ingin menyegarkan otakku sebentar, melepas semua beban pikiran yang sempat melandaku. Apalagi aku telah membuat masalah baru yang tanpa sadar berkata kasar pada Celvin.
Semua telah terjadi begitu saja. Aku hanya kesal dengan para pembully. Mungkin memang saat tadi aku yang salah. Seharusnya aku mendukung Celvin yang mau berubah. Ah sudahlah! Jika dipikirkan lagi semua semakin rumit. Aku hanya bisa berencana untuk meminta maaf pada Ibuku ataupun Celvin esok hari nanti.
THING... THONG...
Akhirnya bel pintuku berbunyi juga. Dengan penuh semangat, aku menghampiri pintu dan hendak membukanya.
Seperti yang aku duga Mas Arlan tampak disana. Ia terlihat gagah, walau hanya memakai kaos biasa. Bahunya terlihat begitu kokoh, seperti otot popeye setelah memakan bayam. Dia berkharisma begitu hebat. Padahal usia sudah mencapai kepala empat.
“Hai Mas,” sapaku pada kekasihku tersebut.
“Hai Dek, udah siap?” tanya Mas Arlan kembali.
“Emm... udah kok.”
“Yuk.”
Mas Arlan membuka bahunya supaya aku bisa menautkan lenganku dengan lengannya. Namun, tidak aku terima. Aku masih terlalu malu untuk itu. Menurutku bukan hal yang pantas dilakukan untuk orang seusia kami. Lagipula aku minder. Mas Arlan begitu gagah dan berkharisma, wajahnya begitu manis apalagi saat ia tersenyum.
Dan aku? Aku segemuk ini. tidakkah kami terlalu kontras?”
“Kenapa sih nggak mau Dek?” tanya Mas Arlan sembari berjalan turun bersamaku.
“Nggak apa-apa Mas, kita ini udah tua kok,” jawabku.
“Halah...”
“Hehe...”
Mas Arlan memilih diam tanpa bergeming lagi. Tanpa peduli penolakanku, ia menautkan lengan kami. Hal tersebut membuatku terkesiap dan memberikan bola mata melotot padanya.
Usahaku sia-sia. Mas Arlan tetap tidak peduli. Ia malah menggandeng jari jemariku. Mungkin agar lebih nyaman saat berjalan. Kutelan salivaku dengan kelu. Aku menunduk malu, tatkala beberapa orang melihat kearahku.
Aku terlalu takut dicibir. Efek masa lalu Celvin yang diceritakan padaku berhasil membuka luka lama dalam hatiku. Rasa tidak percaya diri perlahan datang kembali.
Apapun itu, aku masih berproses dan berusaha menepis segalanya.
“Hei Dek kenapa?” tanya Mas Arlan tiba-tiba.
“Haah? En-enggak kok Mas,” jawabku tergagap.
“Tangan kamu keringat dingin lho Dek, kamu sakit?”
“Enggak Mas, aku baik-baik aja kok, yakin deh.”
“Hmm... kenapa? Ada apa sebenarnya? Tadi juga pulang kerja sempet nangis juga kan?”
Mas Arlan menyenderkan punggungnya pada mobilnya. Kami tak langsung masuk. Hal ini membuat gelisah, aku takut dicerca banyak pertanyaan olehnya. Tidak mungkin kukatakan rahasia Celvin yang selama ini ia pendam sendiri dan tidak banyak orang tau.
Kudekati tubuh Mas Arlan yang tengah berdiri pada mobilnya. Aku berpura-pura menunjukkan gelayut manja padanya dengan kesan yang kaku. Aku melakukan itu demi menghindari pertanyaan Mas Arlan lebih lanjut.
“Aku lagi kurang kasih sayang aja Mas,” ujarku, meski dalam hati merasa sangat jijik setelah mengatakan itu.
“Hmm... jadi belum mau ngomong nih?” tanya Mas Arlan.
“Itu kan barusan udah ngomong.”
“Kamuflase doang kali.”
“Nggak percaya yaudah, nggak usah ngasih aku kasih sayang kalau gitu.”
“Yeee... ngambek deh, tapi kalau kamu manja gini Mas juga seneng aja, sering-sering ya.”
“Nggak mau!”
“Dek... Dek...”
“Udah yuk masuk keburu malem besok masih kerja.”
“Hmm...”
Kulepas gelayut manjaku daro Mas Arlan sembari tersenyum simpul padanya. Sedangkan Mas Arlan membalasnya dengan senyum kejut. Tampaknya ia ingin aku seperti itu lebih lama. Namun, tidak kukabulkan, selain hari yang semakin malam, aku sendiri juga geli dan tidak percaya diri.
Kami berdua masuk kedalam mobil milik Mas Arlan. Kulihat mobil merah kesayanganku yang terparkir dengan tenang disudut tempat parkir. Kendaraanku tersebut belum aku sentuh sama sekali seharian ini. Mungkin, bisa jadi kedepannya akan sering aku biarkan. Karena Mas Arlan selalu ingin mengantarkanku berangkat bekerja.
Mobil yang kami tumpangi terus berjalan menyusuri jalan aspal dan juga suasana kota yang masih ramai. Tidak buruk juga, pikirku. Aku sangat berterima kasih pada Mas Arlan yang selalu hadir tepat waktu. Seolah ia bisa membaca setiap kegelisahan dan permasalahan yang tengah aku hadapi karena ulahku sendiri.
Wajahnya yang begitu manis terus berfokus menatap jalan didepan. Ia tidak banyak bicara. Kali ini sikapnya sangat tenang. Bola mataku tak bisa lepas dari parasnya yang berhasil mengalahkan hatiku yang kaku.
Walau terkadang, aku masih tidak percaya bisa berhubungan dengan Mas Arlan sampai sedekat ini. Pertemuan pertama kami memang kurang menyenangkan, namun ialah orang pertama yang bisa mendengar keluh kesahku saat itu. Aku tidak pernah menyangka pria dewasa ini sekarang telah menjadi kekasihku.
Dan juga, ia bisa menerima semua kekurangan yang melekat pada diriku. Mulai dari segi fisik maupun sifat kekanak-kanakan yang belum bisa kuhilangkan.
“Kenapa? Mas ganteng ya?” tanya Mas Arlan kemudian, ia berhasil mengejutkanku.
“Dihh... kepe-dean banget deh,” jawabku sembari memalingkan wajahku darinya.
“Dah jujur aja Dek.”
“Mas jelek, terus udaaah...”
“Udah tua gitu ya?”
“Hehe... itu tau.”
“Dasar kamu ya, tua gini juga masih menawan kok.”
“Kata siapa?”
“Kata hati kamu Dek, iya kan?”
“Enggak!”
“Halah sok nggak mau ngakuin deh, padahal daritadi liatin Mas terus kan?”
“Enggak ya enggak Mas, tu ada belek doang di mata kamu.”
“Masa’?”
“Iya!”
__ADS_1
“Hahaha... ada aja alasan kamu Dek.”
“Ngeyel aja.”
“Hehehe... I love you.”
Oh Tuhan! Malunya aku mendengar kata tersebut. Selama tiga puluh tahun, ini pertama kalinya kudengar kalimat berbahasa Inggris tersebut selain dari Ayah ataupun Ibuku. Rona merah menghiasi wajahku lagi, aku terdiam tanpa kata. Tentunya hatiku pun ikut berdebar.
Sedangkan Mas Arlan hanya terkekeh girang mendapati diriku yang salah tingkah parah. Sesekali ia menggodaku dengan banyak gombalan khas miliknya. Aku sempat bertanya dalam benakku, apakah Mas Arlan benar-benar berusia empat puluh tahun keatas?
Aku bingung menilainya antara romantis, alay, lebay atau nyeleneh. Sejujurnya hatiku memang berbunga-bunga. Apapun itu, aku harus bersyukur bisa memiliki pria tersebut. Aku terus berharap dan berdo’a agar ibuku dan keluargaku bisa menerima Mas Arlan nantinya.
“Kita mau kemana Mas?” tanyaku padanya.
“Menurut kamu kemana Dek enaknya, mau nonton?” tanya Mas Arlan kembali.
“Emang udah pesen tiket?”
“Belum sih.”
“Males nunggunya Mas kalau sampe Bioskop telat di penayangan jam-jam sekarang, belum lagi kalau dapet bangku depan pegel pasti.”
“Kita cari yang VIP gimana?”
“Nggak ah, mahal.”
“Yeee... nggak apa-apa kali buat kamu mah Dek.”
“Nggak mau nunggunya, kita dinner aja tapi yang tempatnya enak.”
“Emmb... oke deh kalau gitu, Mas tau tempat yang bagus kok.”
“Tapi jangan yang mahal-mahal.”
“Mahal mulu deh yang dipikirin, Mas masih punya duit Dek haha.”
“Bukan gitu, sayang aja mending buat yang lain palingan menunya sama aja kok.”
“Buat ditabung gitu ya?”
“Iya buat nikahin aku.”
“Ehh... hahaha.”
“Udah jangan ketawa mulu deh, cepetan. Aku juga kasian Selli ditinggalin mulu.”
“Iya iya sayang.”
Mas Arlan mempercepat laju mobilnya seperti yang aku mau. Waktu kami sedikit terpotong, karena belum menentukan tempat kencan dari awal. Rencana menonton pun aku gagalkan, lantaran Mas Arlan belum membeli tiket dari awal. Aku tidak kecewa, aku hanya tidak ingin menunggu jam penayangan berikutnya. Apalagi Mas Arlan tidak membawa Selli. Aku khawatir, gadis kecil tersebut sedang menunggu ayahnya ini.
Mas Arlan membelokkan arah perjalanannya ke kiri. Arah dan jalan yang tidak asing bagiku. Aku sering melaluinya bersama Celvin kertika sedang pertemuan bisnis. Salah satunya dengan Riska.
“Mas kita mau kemana ya?” tanyaku untuk memastikan.
“Itu lho restoran ujung deket perempatan,” jawabnya.
“Restoran yang mewah itu?”
“Lumayan sih.”
“Nggak mau, jangan deh.”
“Kenapa Dek?”
“Oh...”
“Balik ya, kita ketempat lain aja. Aku tau, Mas bakalan seneng deh, dijamin.”
“Hmm...”
Mas Arlan memutar kembali mobilnya, mengikuti arahanku. Lebih baik tidak enak hati tentang ini, daripada tidak enak hati karena biaya yang akan dikeluarkan Mas Arlan nantinya. Belum lagi harga makanan di restoran yang juga tempat pertemuan Celvin dan Riska tersebut sungguh fantastis.
Dan hal tersebut membuat rasa penasaranku tentang siapa Mas Arlan kembali muncul. Setelah merk mobil, kalung, kini restoran yang sempat ingin ia datangi bersamaku. Semua semakin membuktikan bahwa Mas Arlan bukanlah orang biasa. Lalu siapa sebenarnya dia? Apa pangkat dan pekerjaannya yang sesungguhnya?
Semua pertanyaan tersebut kembali bermunculan satu-persatu dalam benakku. Sesekali kulihat wajah Mas Arlan lagi. Tubuhnya hanya terbalut pakaian-pakaian yang menurutku biasa. Lengan tangannya pun tak terhiasi accesories apapun. Jika dilihat sekilas, ia seperti pria-pria lain yang ekonominya sama sepertiku.
Untuk sekarang aku tak menanyakan semua itu padanya. Aku takut jika sampai merusak kencan pertama kami. Apalagi kemarin kami sempat terlibat pertengkaran yang membawaku jujur tentang perasaanku.
“Mas itu tempatnya, aku arahin tempat parkirnya,” ujarku sembari menunjuk pada sebuah wisata kuliner yang dominan dengan pedagang kaki lima.
“I-ini Dek?” tanya Mas Arlan padaku, dengan raut wajah yang cukup terkejut.
“Iya Mas, kenapa?”
“Nggak ko hehe.”
“Hmm...”
Sepertinya ini kali pertama bagi Mas Arlan datang ke tempat seperti ini. hal itu menambah satu lagi bukti bahwa dia bukan orang sembarangan. Aku hanya bisa pura-pura tidak peduli dan merencanakan niat sedikit usil padanya. Aku ingin tau apa reaksi Mas Arlan selanjutnya setelah masuk kedalam area tersebut.
Kami keluar dari mobil milik pria yang menjadi kekasihku tersebut. Ia terdiam menatap kerumunan banyak orang. Aku terkekeh kecil dibuatnya. Biar saja, agar ini menjadi kencan menakjubkan bagi kami.
“Ayo Mas, kita jajan hehe,” ajakku.
“Emm... iya Dek,” jawab Mas Arlan.
“Hehehe...”
“Kenapa ketawa?”
“Nggak kok, Mas tau nggak dulu waktu masih sekolah sering main kesini bareng temen-temen aku, dulu sih nggak serame sekarang.”
“Oh ya? Tapi nggak sehat lho Dek, jajanan pinggiran jalan kayak gini.”
“Kata siapa? Buktinya aku sehat tuh, gemuk lagi.”
“Hmm...”
“Kenapa Mas?”
Aku terus memancing Mas Arlan. Siapa tau ia bisa mengungkapkan identitasnya secar tidak sengaja. Kadang aku heran pada diriku sendiri, aku tak pernah peduli tentang latar belakang diri Mas Arlan. Yah, mungkin dulu aku tidak pernah menyangka bisa sedekat ini. dan ketika sudah terjebak dalam asmara ini, aku baru teringat tentang pentingnya sebuah latar belakang seseorang.
Aku ajak Mas Arlan berkeliling memutari jalanan tempat ini yang sisi kanan kirinya penuh dengan pedagang gerobak. Menu makanan yang ditawarkan pun cukup murah. Mulai dari harga lima ribu rupiah satu porsinya. Aku tidak tau disebut apa tempat ini, yang pasti ramai pedagang makanan dengan gerobak atau meja-meja kecil. Tentu saja sudah diberikan izin oleh pemerintah untuk menggunakan tempat tersebut.
“Mas mau jajan apa?” tanyaku.
“Mas nggak tau Dek,” jawabnya.
“Nggak usah takut deh, nggak bakalan sakit kok.”
“Jujur ini pertama kalinya Mas ketempat seperti ini lho, kecuali dulu waktu SD masih jajan beginian.”
__ADS_1
“Wow! Oh ya?”
Mas Arlan menggaruk kepalanya dibagian belakang yang menurutku tidak terasa gatal. Ia tampak kikuk dan malu-malu. Satu pancinganku mulai menunjukkan hasil. Senyum licik aku pasang diam-diam diwajahku, saat mendapati wajah ragu dari Mas Arlan.
Aku berjalan mendahului Mas Arlan. Ku hampiri seorang bapak penjual batagor di kanan jalan. Lalu kupesan dua porsi kecil.
Setelah pesanan aku dapatkan, dilanjutkan membeli dua gelas thai tea tepat disamping penjual somay. Kemudian, aku kembali menghampiri Mas Arlan yang masih mematung ditempatnya.
“Ayo,” ajakku sembari menggandeng tangan Mas Arlan.
Kami berjalan bersama layaknya sepasang kekasih. Jujur saja, jika ditempat seperti ini aku cukup percaya diri. Meski ramai tidak akan ada orang yang peduli dan menilai kami. Semua pendatang hampir sama, mulai dari kalangan anak-anak remaja sampai ibu-ibu sekeluarga. Bisa dipastikan, sebagian besar bukan seseorang kalangan atas yang hidupnya dekat dengan kemewahan. Yah, kecuali orang disampingku yang mungkin masuk dalam jajaran orang elite tersebut.
Kuajak duduk Mas Arlan pada rumput sintetis yang menghampar luas. Tidak hanya kami sendiri melainkan bercampur dengan orang lain.
“Ini Mas,” kataku sembari menyerahkan batagor yang telah terbungkus plastik pada Mas Arlan.
“Apa ini Dek?” tanya Mas Arlan.
“Batagor, tau kan?”
“Oh... iya tau kok.”
“Dimakan ya?”
“Iya.”
Bola matanya menatap ragu pada makanan tersebut. Aku masih mengabaikannya. Biarlah ia yang beradaptasi sendiri dengan keadaan disini. Aku memilih fokus menyantap makananku sendiri sembari menikmati suasana tempat ini.
Berisik, itulah yang terjadi. Anak-anak kecil berlarian. Sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran. Bahkan keluarga yang membentuk lingkaran berada disamping tempatku dan Mas Arlan duduk. Badut-badut hantu, disney, dan kawan-kawannya pun turut menghibur suasana.
“Hihi... yang lahap dong,” ujarku ketika mendapati Mas Arlan yang tengah menggigit batagor dengan cara sedikit demi sedikit.
“Kamu ngerjain Mas ya Dek?” tanyanya padaku.
“Maksudnya?”
“Daritadi ketawa mulu kayak ada maksud tersembunyi gitu.”
“Oh ya? Jangan su’udzon jadi orang deh, emangnya aku tau kalau Mas Arlan nggak pernah ke tempat ini.”
“Iya ya.”
“Dah nikmatin aja, biar sekali-kali ngerasain wisatanya orang bawah.”
“Iya deh, iya.”
“Kan beda jauh kan sama orang kaya, kalau Mas tadi jadi ngajak aku ke restoran itu mubadzir duitnya mending buat aku aja deh daripada buat seporsi makanan.”
“Emang siapa yang orang kaya?”
“Mas Arlan.”
“Sok tau banget.”
“Iya kan?”
“Tau deh, Mas itu kan orang yang kaya cinta buat kamu Dek.”
“Dihh apaan sih, banyak orang didengarnya malu-maluin deh.”
“Hahaha.”
Begitulah kencan kami terjadi. Setelah duduk santai di karpet rumput sintetis, kami kembali berkeliling. Berfoto dengan badut-badut hantu bersama Mas Arlan. Mengabadikan momen indah ini dalam ponsel masing-masing. Ia telah berhasil beradaptasi dengan tempat dan suasana disini.
Aku bahagia, masalah yang sempat kupikirkan pun terabaikan untuk sementara. Kalian tau, berbaur dengan kalangan atas itu lebih sulit dari yang dibayangkan. Penampilan, uang dan otak menjadi tolok ukur yang pertama. Aku lebih menikmati dan percaya diri dengan orang-orang biasa. Ya, aku tau meski semua orang kaya tidak seperti itu, hanya saja aku terlalu takut kenangan kelam dimasa laluku terjadi lagi.
Walau kemungkinan besar Mas Arlan bukan orang biasa, entah mengapa aku merasa aman dan nyaman disampingnya.
****
Hingga waktu semakin malam. Aku dan Mas Arlan memutuskan untuk pulang. Kembali lagi pada mobil milik kekasihku tersebut. Melaju bersama didalamnya.
“Makasih ya Dek,” ujar Mas Arlan padaku ketika ia hendak menurunkan diriku di halaman gedung apartemenku.
“Buat apa?” tanyaku.
“Buat semuanya.”
“Perasaan aku cuman jajanin goceng doang deh.”
“Maknanya, kamu hari ini lebih terbuka sama Mas.”
“Aku cuman pengen deket sama Mas aja kok, emm... aku juga pengen tau siapa Mas, latar belakangnya.”
“Oh... Mas pasti bilang tapi bukan sekarang ya, impasin aja sama alasan kamu nangis tadi sore.”
“Hmm... iya iya.”
Cup!
Aku terperanjat hebat tatkala Mas Arlan mencuri keningku untuk dikecupnya. Lagi-lagi rona merah menghiasi wajahku. Aku berdebar-debar lagi.
“Hahaha... selalu kayak gitu deh mukanya yang embem tuh,” ujarnya.
“La-lagian sembarangan aja sih!”
“Wajar kan? Emang nggak boleh?’
“Enggak!”
“Masa’ nggak boleh sih, sini sekali lagi sini coba.”
“Nggak mauuuuuu.”
Dengan cepat kubuka pintu mobil Mas Arlan dan bergerak keluar untuk menghindarinya. Sedangkan ia masih terkekeh dengan girang.
“Udah pulang sana! Kasian Selli lho,” kataku.
“Iya iya, kamu tidur yang nyenyak ya,”
“Iya, hati-hati dijalan. Jangan ngebut-ngebut.”
“Siap sayang, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumssalam.”
Sungguh tidak tau diri, setelah mengecup keningku yang belum jadi istrinya, Mas Arlan mengucap salam Islam. Ibarat sehabis maksiat langsung bertobat.
Setelah mobilnya menghilang dari pandanganku, aku berjalan menuju istana kecilku.
Bersambung...
__ADS_1
Budayakan tradisi like+komen, wajib!!!
Maaf ya ada penulisan yang salah atau ambigu... aku pake mode ngebut soalnya....