
Sungguh usia tiga puluh tahun yang cukup mengesankan bagiku. Walaupun memang sudah terlambat untuk mengalami masa-masa indah layaknya anak berusia remaja. Tidak mengapa, itu semua bukti bahwa Tuhan masih menyayangiku.
Ibarat keajaiban yang diturunkan Tuhan pada seseorang yang awalnya mustahil untuk bahagia. Aku menyadari satu hal, bahwa selagi masih ada iman pasti ada jalan terang. Tidak hanya untuk masalah hidup tapi juga rezeki tentunya.
Senantiasa berdo'a dan juga berusaha. Jangan hanya mengikuti arus air. Air hanya mengalir kebawah dan terkesan berpasrah pada takdir, sedangkan setiap manusia memiliki impian yang tentu saja tinggi dan menjulang keatas bukan? Tentunya penuh usaha keras untuk mencapainya.
Sudah satu minggu berlalu semenjak pernikahan Kak Pandhu. Aku dan Mas Arlan pun tidak ada hentinya berusaha meluluhkan hati ibuku. Cincin yang melingkar dijariku telah menjadi semangat tersendiri untuk tidak mudah menyerah.
Kadang kala aku mendapat kabar dari istri Kak Pandhu yaitu Kak Febi. Kabar tersebut adalah kedatangan Mas Arlan selama seminggu berturut-turut. Demi memperjuangkan cinta kami.
Katanya pula, Mas Arlan selalu membawa buah tangan seperti makanan atau barang. Sebagai seorang wanita, tentunya Kak Febi cukup mengerti merk. Ia menyadari apa yang selalu Mas Arlan bawa bukanlah barang murah. Wow bukan?
Aku sendiri belum tau pekerjaan apa dan keluarga dari mana kekasihku tersebut. Jika orang kaya dan pengusaha sukses, mengapa tidak ada satu pun berita tentang dirinya di media. Seperti Celvin misal. Aku masih bingung jika memikirkan soal itu.
Yang kutau hanya usaha Mas Arlan yang begitu besar. Meski beberapa kali terkena maki oleh Ibuku, ia tidak menyerah sekalipun. Kata Kak Febi juga Ibuku sering mengacuhkannya dan memilih pergi dari rumah saat Mas Arlan datang. Beruntung Ayahku masih menerima kedatangannya.
Oh ya, Ayahku saat ini telah pensiun dari pekerjaannya. Aku tidak tau apa alasannya kecuali usia. Bisa jadi desakan dari Kak Pandhu. Lagipula uang pensiun sudah bisa didapatkan oleh beliau. Jadi menurutku memang sudah seharusnya menikmati masa tua dengan tenang. Tanpa bekerja terlalu keras lagi.
"Fann?" ujar Celvin memanggilku.
"Ehh... iya," jawabku terkejut karena masih asyik melamunkan hal itu. Padahal aku masih dalam aktivitas bekerja.
"Melamun aja Fann, ada masalah?"
"Enggak kok Vin hehe."
"Kita kan udah jadi teman, bisa kali cerita balik ke aku Fann."
"Hmm... iya ada dikit."
"Soal apa?"
"Soal cinta."
"Astaga!"
"Kenapa? Kamu juga gitu kan? Gagal move on dari Riska."
"Iya sih hehe... emang kenapa kamu sama pacar kamu?"
"Ada deh."
"Nggak mau bocorin dikit?"
"Nggak."
"Hmm... berarti kita emang masih sekedar atasan bawahan aja ya?"
"Ya bukan gitu, tapi kan setiap orang punya privasi Vin, lagian nggak penting juga buat kamu kok hehe."
"Fann... kamu teman pertamaku setelah aku menarik diri dari orang lain. Jadi, buat aku, kamu itu penting."
"Iya aku paham kok Vin, cuman emang aku masih malu mau cerita. Apalagi soal cinta, jujur aja ini pertama kalinya aku pacaran. So, aku nggak percaya diri mau cerita sama kamu yang udah jadi pujangga cinta gitu."
"Hmm... iya deh, aku nggak maksa Fann. Tapi kalau udah percaya diri, bilang ya? Nanti aku bantu saran kalau bisa, ya mungkin tindakan juga."
"Makasih ya Vin. Ngomong-ngomong hari ini ada lembur nggak?"
"Untuk hari Sabtu nggak ada Fann, jadwal meeting juga lagi kosong kan? Biasa kalau weekend mah, pada nggak mau kerja lama."
"Hehe... iya lah Vin. Emang kamu jomblo!"
"Duhh... ngeledek belum tau aja kamu Fann."
"Hehe... becanda Vin."
"Ya sudah, lanjut kerja lagi ya? Biar cepet kelar tanpa nambah lembur, hemat biaya gaji "
"Dasar bos pelit!"
"Hahaha."
Yah, hubunganku dengan Celvin pun semakin dekat pula. Sifat yang tidak diketahui banyak orang kini diperlihatkan padaku. Kadangkala Celvin bisa sangat kekanakan tidak seperti imagenya selama ini. Sedangkan diluar ia masih tetap dingin terhadap wanita lain.
Ia pun tidak sungkan menceritakan segala hal padaku. Termasuk pertengkarannya dengan Pak Ruddy yang kukenal baik. Aksi keponya pada sosial media milik Riska. Intinya ia masih bisa bersikap konyol dihadapanku. Namun, tetap saja. Penyesalan Celvin sesekali juga masih muncul.
Ia merenung, melamun pada beberapa kesempatan. Jika tidak ada aku yang menyadarkannya, bisa jadi ia kerasukan setan dari gadis, korban bullynya. Dibalik kedekatan kami yang semakin erat bagai sahabat lama ini, tidak membuatku lupa diri. Aku masih bisa menempatkan diriku sesuai jabatanku dan aku juga tidak mau terlalu banyak bicara mengenai diriku sendiri yang sama sekali tidak penting untuk Celvin.
Beruntung hari ini mendapat jam kerja setengah hari. Aku ingin cepat pulang, bukan karena lelah. Hanya saja aku khawatir Mas Arlan datang ke rumah orang tuaku lagi. Kasian dirinya, jika aku tidak membantunya dengan apapun sama sekali.
"Fann buat hari senin atur jadwal meeting ya?" ujar Celvin padaku.
"Siap Pak Bos," jawabku.
"Jangan lupa, yang pertemuan klien juga. Kayaknya minggu depan bakalan padet banget jadwalnya."
"Iya Vin, mau tahun baru juga. Pasti harus ngadain event khusus juga kan nantinya."
"Nah itu betul, terutama buat Mall dan Hotel."
"Hotel mau naikin harga khusus?"
"Ya sebagai surcharge, kita juga perlu lihat kenaikan pengunjung yang datang."
"Nanti saya sampaikan pada divisi khusus Vin."
"Oke, sesuai intruksi ya. Kisaran dua puluh persen."
"Baik."
"Oh iya, khusus event di mall, aku mau semenarik mungkin."
__ADS_1
"Nanti disampein pada divisinya juga Vin."
"Kalau bisa hari ini ya Fann, masih ada waktu satu jam sebelum pulang. Biar hari Senin bisa langsung membahasnya."
"Siap Pak Bos."
"Thanks ya Fann."
Aku tersenyum. Kemudian kususun perencanaan tersebut. Tidak butuh waktu lama bagiku. Apalagi nilai positif pada diriku adalah kecerdasan dan kecekatan.
Setelah semua disusun, aku cetak. Lalu membawanya untuk disampaikan pada divisi yang bersangkutan sesuai bidangnya masing-masing. Malasnya, mau tidak mau aku harus bertemu Mita lagi.
TOK... TOK... TOK...
Kuketuk pintu ruangan milik Mita sebanyak tiga kali. Sebenarnya aku tidak mau bertemu iblis betina tersebut. Namun apa dayaku, ini sudah menjadi tugasku.
"Masuk!" serunya.
Kubuka perlahan pintunya lalu menutupnya kembali. Mita masih sibuk dengan komputer miliknya. Aku sedikit heran, tidak biasanya ia serajin ini. Ahh... biarkan saja. Toh, bisa menguntungkan bagi perusahaan.
"Ini perencanaan tahun baru," ujarku sembari meletakkan map yang telah aku bawa.
"Oh loe Ndut! Oke, silahkan pergi. Gue nggak mau sepet liat muka loe," jawabnya sengit.
Aku diam. Berusaha tidak emosi seperti dulu. Ia tidak menghinaku saja sudah beruntung. Memang lebih baik segera pergi daripada kepanasan didalam ruangan si setan cantik.
"Eeee... entar dulu!" seru Mita sebelum aku melangkah keluar.
"Kenapa?" tanyaku.
"Nitip sampah dong, gue sibuk nih. Meja kotor banget."
"Oke."
Mau tidak mau kuambil sampah makanan yang berada diatas meja Mita. Sekali lagi, aku tidak ingin menyebabkan masalah baru. Jika aku menolak pasti Mita tidak akan tinggal diam. Biar saja, agar hatinya senang.
"Cih! Masih cocok lho jadi babu hahaha," katanya lagi.
"Alhamdulillah," jawabku.
Mita tersenyum sinis padaku. Ia berdiri dari tempat duduknya. Mengambil sebuah gelas yang mungkin berisi kopi.
Aku masih membiarkan tingkahnya dan membereskan lagi sampah bekas bungkus makanan di atas mejanya lagi. Meski bukanlah tugasku. Sialnya harus aku, dan bodohnya aku tidak bisa melawan.
Dug!
Mita tersandung kaki meja kerjanya tepat dihadapanku. Dan yang lebih menyebalkan sepertinya ia memang sengaja. Sisa kopi digelasnya tertumpah pada kemeja serta blazerku. Sial! Wanita ini benar-benar ular.
"Ooppsss... sorry ya Ndut nggak sengaja hehehe," ujarnya dengan ekspresi yang bangga tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Kesabaranku seolah terkuras habis. Harga diriku dijatuhkan wanita ular tersebut dengan kejamnya. Lalu bagaimana aku membalasnya? Apa mungkin aku harus berakhir seperti saat aku dibully di masa lalu?
"Udah gih sono bawa sampahnya, kan gue udah ngomong sorry Ndut. Sorry ya... sorry banget hehehe," kata Mita lagi.
"Ihh... serem takut. Kayak gozilla tau nggak? Nggak usah sok berani deh sama tuan putri dasar budak! Udah sono keluar! Kan gue udah ngomong sorry, udah cukup kan? Aaaaaaaaaaa!"
Kubuang sampah makanan tepat pada wajah cantik milik Mita. Ia pun menjerit jijik serta terkejut karena ulahku. Aku tidak terima lagi diperlakukan seperti ini. Memangnya salah apa diriku padanya?
Aku tidak boleh sampai lemah seperti dulu. Lagipula ini bukan pertama kalinya aku melawan Mita. Pernah kudorong tubuhnya dulu kala, karena emosiku yang sudah memuncak. Ya! Aku harus mulai berani, agar tidak diinjak-injak.
"Beraninya loe!!!" bentak Mita sembari menjambak rambut depanku.
"Mita berhenti, sakit! Sebenarnya salah gue sama loe apa???"
"Loe nggak pantes di perusahaan ini, loe jelek loe nggak pantes jadi sekretaris Celvin! Loe pasti pake guna-guna kan? Ngaku loe! Om Ruddy lalu Kak Celvin sampe muji-muji loe terus, padahal loe nggak ada bedanya sama gajah! Gue muak liat muka loe Fanni!"
"STOOOOPPP!!! Asal loe tau ya Mit, Celvin selalu banggain loe didepan gue, loe adik manis buat dia. Tapi watak setan loe, udah ngerusak ekspetasi Celvin yang sayang sama loe. Dia nggak mau loe manja, dia pengen loe usaha dengan tangan sendiri bukan koneksi! Sadar Mita, seperti yang loe bilang, gue jelek. Nggak akan ada gunanya iri sama gue!"
"Cih! Keluar! Keluar sekarang!!!"
Mita melepas jari-jarinya yang telah menjambak rambutku tepat setelah kujelaskan tentang Celvin. Sedangkan aku segera berjalan keluar dan membiarkan sampah bungkus makanannya berserakan dilantai ruangannya.
Wanita itu, di ekspresi terakhir sebelum aku pergi. Aku mendapati raut frustasi pada wajahnya. Mungkin saja ada sesuatu yang membuatnya sampai seperti ini. Namun, tetap saja hal tersebut tidak bisa dibenarkan.
Aku sudah hilang respek padanya. Apalagi diriku lah yang menjadi korban keiriannya. Karena pelampiasannya padaku, aku selalu gemetar setiap kali bertemu dengan Mita. Meski sudah sedikit berani, rasa khawatirku masih ada. Ia selalu mengingatkanku pada kasus bullyku pula.
Selama ini pun, aku selalu menghindari kontak dengan orang-orang yang cantik dan gaul. Semua karna kekhawatiranku lagi, beruntungnya ada Nike yang memiliki prinsip hidup sesuai islami. Nike tidak mau terlibat dalam bergosip saja. Pada Celvin pun awalnya aku tolak, karena masih butuh pekerjaan mau tidak mau aku mengikutinya.
Beruntungnya aku bertemu Celvin dalam keadaan yang sudah menyesal. Ia telah menjadi pria lembut yang asyik juga.
"Fanni?" ujar Celvin saat aku masuk kedalam ruangan dalam keadaan lemas.
"Iya Vin, kenapa?" tanyaku dalam posisi yang masih berdiri. Celvin pun datang menghampiriku.
"Kamu... kamu kenapa? Baju basah kecoklatan gitu, rambut berantakan lagi. Kenapa Fann?"
"Nggak apa-apa Vin."
"Fann jujur soal yang ini aja."
"Aaaaa... aku udah nggak kuat lagi!!!"
"Ke-kenapa?"
Ya! Aku sudah tidak kuat lagi menahan nama baik Mita. Rasanya ingin kucurahkan semuanya pada Celvin. Ingim kuungkap bahwa wanita yang telah ia anggap adik tersebut bukanlah wanita baik-baik.
Namun, nyatanya aku tidak setega itu. Membiarkan hubungan yang telah lama terjalin menjadi rusak gara-gara aku. Apalagi ini atasanku sendiri. Memuakkan sekali!
"Fanni ngomong sama saya!" kata Celvin sembari mencengkeram bahuku.
"Nggak apa-apa kok hehehe," jawabku.
__ADS_1
"Fann? Apa kamu masih takut sama aku?"
"Takut? Ya nggaklah Vin, tenang aja lagi."
"Ya sudah, tapi kamu kenapa Fann?"
"I'm fine, Vin. Don't worry."
"Tapi-"
"Udah ah, balik gih sepuluh menit lagi pulang."
"Ya sudah kamu pulang sekarang nggak apa-apa Fann."
"Absennya gimana?"
"Aku yang urus lagian baju kamu udah kotor gitu."
"Hehe... iya, yaudah aku pulang sekarang nggak apa-apa ya? Tapi jangan potong gaji."
"Iya Fanni, tenang aja."
Lebih baik memang pulang daripada terus ditodong pertanyaan yang tidak bisa aku jabarkan. Sikap Celvin yang khawatir padaku saja, sudah sangat istimewa. Jangan lagi membuat ia menyesal karena tingkah adik angkatnya tersebut.
Mungkin jika Celvin mengetahuinya, ia bisa memberikan respon mengejutkan. Entah akan menenangkan hatiku saja, menegur Mita atau yang paling parah mengadukan Mita pada pihak keluarganya. Dan jika Mita telah murka, ia akan kembali melampiaskan kekesalannya padaku lagi. Jangan sampai! Aku ingin semua ini berakhir.
Kuambil ransel dan ponselku setelah membersihkan meja. Setelah itu kuhampiri Celvin kembali. Ia masih duduk di depan laptop kerjanya. Membuatku sedikit kikuk karena membiarkannya bekerja sendiri.
"Emm... apa nggak masalah nih aku pulang sekarang?" tanyaku untuk memastikan.
"Nggak Fann, sudah kurang lima menit juga waktu pulangnya," jawab Celvin sesaat setelah mengintip jarum pada jam tangan mewah yang menghiasi tangannya.
"Maaf ya Vin, a-aku pulang dulu."
"Iya Fann santai aja, hati-hati ya kamu."
"Makasih Vin."
"Sama-sama hehe."
Kulangkahkan kakiku untuk keluar dari ruangan ini. Tentunya dengan sedikit perasaan tidak enak pada Celvin. Tapi apa boleh buat, aku sudah mengambil keputusan. Akan canggung jika aku masuk kedalam lagi nantinya. Lagipula sisa waktu untuk pulang hanya tinggal lima menit saja.
Aku menyusuri lantai dan lift gedung kantor yang masih sama. Sedikit teringat tentang kejadian pertengkaranku dengan Mita. Membuatku bergidik ngeri dibuatnya. Sungguh miris, jika orang kaya sedang frustasi mengapa harus dilampiaskan pada orang bawah atau orang yang lebih jelek serta lemah dari mereka. Apalah daya uang, jika tidak membahagiakan.
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...
Ponselku terdengar sedang bergetar menandakan seseorang sedang meneleponku. Dengan cepat aku meraihnya dari dalam ransel. Aku pun membatalkan gerakan tanganku untuk masuk kedalam mobil, si merah milikku. Lalu kutekan tombol berwarna hijau diatas layarnya.
Siapa tau Mas Arlanlah pelakunya. Begitulah pikirku sebelumnya. Namun, ternyata bukan.
"Halo Fanni, kamu dimana?" tanya seseorang dari kejauhan sana yang ternyata adalah Kak Febi.
"Assalamu'alaikum Kakak cantik," balasku menyindir padanya.
"Iya iya sorry Wa'alaikumssalam. Dimana kamu?"
"Baru mau balik ini."
"Gawat Fann."
"Ada emang?"
"Itu, pokoknya kamu pulang dulu."
"Iya, tapi ada apa?"
"Itu pacar kamu, siapa sih emmm.... Mas, Mas Arlan itu."
"Kenapa?"
"Pulang dulu pokoknyaaaa."
"Iya iya sabar eh bentar. Aku gas kenceng."
"Jangan ngebut juga, hati-hati."
"Iya ih iya bawel deh."
"Cepet."
"Gimana sih katanya nggak boleh ngebut suruh cepet."
"Iya jangan ngebut tapi yang cepet."
"Ya Allah Kak, yaudah matiin dulu."
"Oh iya ya hehe."
Kak Febi mematikan teleponnya. Sedangkan aku mulai panik sekarang. Ada apa sebenarnya dengan Mas Arlan? Jangan-jangan Ibuku menusuknya? Ah... mana mungkin seekstrim itu. Lalu apa? Ya Tuhanku jangan ada masalah yang bisa membuatku putus asa lagi.
Segera ku keluarkan mobil merah kesayanganku dari area parkir. Aku melajunya dengan cepat meninggalkan gedung kantor tempatku bekerja. Demi apapun, aku panik sekali sekarang. Apalagi suara Kak Febi terdengar sangat mengkhawatirnya.
Harapanku sekarang jangan sampai ada kejadian tidak benar. Jangan sampai Mas Arlan atau Ibuku terluka. Baik batin maupun fisik.
Mengapa ada saja masalah. Padahal aku hanya ingin menikah. Bikin kesel tau nggak!
Bersambung...
BUDAYAKAN LIKE+KOMEN DONG OEYYY...ELAH DAH TUH JEMPOL BERAT AMAT YAK.....
BUTUH SARAN NIH, FANNI ENAKNYA DIKURUSIN APA NGGAK YAA Heheheheee ...
__ADS_1
NEXT EPS Tungguin aja ya, POV Mas Arlan masih tahap penulisan.
Tetep stay.. terima kasih juga yang sudah mengirimkan ucapan HAPPY NEW YEARS. saya ucapkan kembali hehehe..