
Aku tengah memandangi kedua putriku tengah bermain di atas ranjang bersama. Ya, selain Selli saat ini aku memiliki satu orang putri lagi. Putri kedua yang sudah enam minggu aku lahirkan ke dunia ini. Permintaanku dikabulkan oleh Tuhan pencipta alam, bola matanya biru semu abu mirip denganku. Kulitnya putih kemerahan mengikuti kulit milikku juga. Bayi mungil berparas cantik yang kami beri nama Sella Aurelia Nur Mahendra. Nama yang cantik, bukan?
Akhirnya setelah sembilan bulan aku mengandungnya, kini aku berhasil melahirkan Sella secara normal dan lancar. Saat itu, Mas Arlan bersedia mendampingku. Disetiap jerit sakitku, ia menangis lantaran merasa iba. Banyak proses medis yang aku lalui. Pengalaman pertama yang cukup menegangkan sekaligus mengesankan. Tubuhku pun bisa cepat pulih dan bisa berjalan seperti biasa. Perutku kempis, meski bentuk buncitnya tidak menghilang, buncit yang memang aku miliki sejak dulu.
"Mama, Dede' Sellanya kayaknya pipis deh," celetuk Selli memberitahukanku.
Benar saja, tak lama setelah Selli memberitahukanku perihal popok Sella yang basah, si bayi kini menangis dengan cukuo keras. Suara tangisan khas bayi yang belum lama ini meramaikan suara rumah ini. Meski lelah, aku sangat bahagia.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung menghampiri Sella yang tengah menangis kencang. "Cup, cup, cup, Sayang. Sabar ya, Sayang. Mama ganti dulu popoknya. Duh ... aduh anak gadis pinternya Mama," ujarku bersama kedua tangan yang sibuk mengganti popok untuk Sella.
"Iya, Dede' Sella. Enggak boleh cengeng biar jadi anak pintat kayak Kakak Selli," sambung Selli. Tangannya yang kasih mungil tengah membelai halus kepala Sella. Betapa bahagianya dirinya lantaran permintaan untuk memiliki seorang adik perempuan kini terkabul. Senandung kecil yang berupa lagu-lagu anak-anak, begitu asyik ia dendangkan untuk menghibur sang adik. Imutnya melihat kedua anak perempuanku. Nanti setelah Sella agak besar, aku bisa mendandaninya kompak dengan sang kakak.
Setelah selesai mengganti popok si bayi cantik, aku segera menimangnya sembari memberikan minum yang bersumber dari bagian tubuhku. Namun, aku masih pada posisiku yang duduk disini. Jika menjauh sedikit saja, Selli akan mengomel sebal karena tidak rela jika dipisahkan dengan Sella. Lucu, bukan?
Namun sayangnya, aku belum bisa menjalani hal manis ini bersama Mas Arlan. Seminggu yang lalu, ia sudah berangkat keluar negeri demi mencari keberadaan Ibu Leny dan juga William. Pada saat itu, Mas Arlan sampai menitikkan air mata karena harus berpisah dengan kami bertiga selama rentang waktu maksimal tiga bulan sesuai masa berlaku visa liburan. Terlebih aku tidak bisa mengantarkannya sampai dengan bandara lantaran ia melarang dan aku sudah memiliki Sella.
Baru seminggu, Mas Arlan tidak menampakkan batang hidungnya di rumah ini. Tentu saja membuat rinduku semakin besar dan menggelora. Jujur, rasanya seperti tersiksa. Ini pertama kalinya aku berpisah dengannya setelah melalui pernikahan selama hampir dua tahun. Setiap kali aku atau Selli merasa rindu, aku langsung memanggil via suara maupun video. Begitupun Mas Arlan.
Dan aku, aku sudah menggantikan posisinya secara sementara dari tiga hari yang lalu. Lelah menjadi rasa paling besar pada tubuhku. Namun ketika menatap wajah kedua putriku, rasa itu hilang dalam sekejap waktu. Aku tidak memakai jass baby sitter lantaran ibuku menolak mentah-mentah. Tadinya beliau sangat kecewa kepada Mas Arlan yang harus pergi pasca aku melahirkan. Namun kami mampu memberikan pengertian kepada beliau. Lagipula, beliau tidak akan tega jika sudah berkaitan dengan nyawa seseorang.
Yah, pada akhirnya ibuku datang ke rumah ini saat aku pergi bekerja. Tidak sekalipun tidak, beliau terlihat ikhlas dalam mengurus Selli dan Sella. Karena Selli sudah cukup besar, ia tidak terlalu membebani ibuku. Terlebih sudah ada Bi Onah yang lebih dekat dengan Selli. Aku teringat akan kata yang pernah aku dengar mengenai dosa karena menitipkan anak kepada orang tua. Kadangkala aku merasa bersalah, namun mau bagaimana lagi, keadaan mengharuskan kami menjalani hal ini. Tidak hanya sekali, aku membujuk ibuku untuk tidak memaksakan diri. Namun bukannya diterima, aku malah kena getah dari omelan yang super panjang. Yah, pada akhirnya setiap kali jam makan siang, aku sempatkan untuk pulang dan memberikan tanggung jawabku sebagai seorang ibu.
Selang beberapa saat kemudian, tidak ada lagi suara si bayi cantik maupun sang kakak. Tentu saja, Sella sudah tertidue pulas di timangan tanganku. Tidak kusangka juga, Selli sudah terlelap di atas ranjangku. Pemandangan ini membuat senyumku merekah secara spontan. Kedua bayi perempuanku sudah mendengkur dan bergabung bersama mimpi indah sebagai bunga tidur.
Kemudian, aku merebahkan tubuh Sella terlebih dahulu didalam keranjang goyang yang berasa di samping ranjang tidurku. Aku mencubit pelan pipinya yang bulat dan imut itu. Beberaoa selimut yang dibutuhkan aku tata rapi untuk Sella. Setelah dirasa selesai, aku berpindah lagi ke atas ranjang dan menata tubuh Selli supaya lebih nyaman.
Cup! Kuberikan kecupan manis di kening Selli yang sudah terlelap. Wajar saja, hari semakin malam, sejak pulang sekolah pun Selli sudah antusias dalam menjaga sang adik. Aku kembali tersenyum. "Tidur yang nyenyak ya, Sayangnya Mama. Besok sekolah yang rajin," ujarku meski aku tahu, Selli tidak akan mendengarku.
Sebelum mengikutinya merebahkan diri, aku bergegas untuk keluar dari kamar ini untuk menuju kamar mandi. Langkahku teramat pelan, dengan badan yang lebih ringan. Namun aku tetap saja gendut, tidak ada yang berubah pasca melahirkan. Aku bersyukur karena berat badanku tidak semakin bertambah, meski tidak kurus juga. Tak apa, yang penting dan ASI-ku lancar.
Lalu, sesampainya di kamar mandi, aku membasuh dan mencuci wajahku. Ada cermin yang terpasang di kamar mandi lantai dua ini. Kulihat gambar wajahku didalamnya benda itu, bawah mataku tampak sedikit menghitam. Sepertinya aku benar-benar kelelahan. Mengurus Sella yang setiap malam membangunkan diriku karena haus, selepas subuh aku sudah sibuk dengan cucian. Beberapa kali aku lari sana sini, ketika terdengar suara tangisan dari Sella. Sebenarnya, Bi Onah hendak membantu, namun tetap saja aku merasa tidak enak. Mungkin hanya baju milik Selli yang beliau atasi. Namun tidak apa, inilah nikmat luar biasa yang diberikan oleh seorang ibu.
Setelah aktivitasku di kamar mandi telah selesai, aku bergegas kembali ke dalam kamar dengan langkah cepat. Yah, aku merasa tidak nyaman ketika meninggalkan Selli dan Sella sendiria saja.
****
__ADS_1
Sudah pukul sepuluh malam dan mataku masih saja segar. Padahal esok hari, aku harus bekerja dan menghadiri beberapa meeting dengan Celvin atau klien. Disisi tidak bisa tidur, disisi lain Sella beberapa kali juga masih terbangun. Sehingga mau tidak mau, aku harus menghampirinya dan memberikan ASI. Mengapa Sella tidak tidur bersamaku saja di atas ranjang? Oh, tidak. Aku takut tubuh Selli yang masih banyak gerak akan menindih tubuh Sella.
Disaat Sella kembali tenang, aku bisa kembali ke atas ranjang lagi. Namun mataku sudah terlanjur segar, sehingga rasa kantuk pun enggan menerpa. Aku celingak-celinguk sendirian. Kupeluk tubuh Selli, namun ia memberontak. Anak gadis pertamaku ini terlalu sering tidur sendiri sehingga sulit untuk sekedar dipeluk ketika tidur.
"Ah, Mas Arlan aku kangen," gumamku mengutarakan perasaan itu kepada angin malam dan dinding yang selalu diam membisu.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Rezeki rindu menghasilkan sesuatu yang sedikit mengejutkan. Ya, ponselku berdering tiba-tiba, karena penasaran maka aku meraih dan memastikan siapa yang tengah memanggilku.
"Mas Arlan?!" Aku terpekik seketika saat mendapati suamiku tengah melakukan panggilan video kepadaku. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera mengangkatnya. Pertama kali respon yang ia berikan adalah senyuman. Membuatku benar-benar tidak bisa menguasai tetes air mata.
"Assalamu'alaikum, Sayang. Belum tidur, Dek?" tanya Mas Arlan dari kejauhan sana. Dari sini, aku melihat ia tengah merebahkan diri dengan bantal bersarung putih. "Mas kangen berat, tadi iseng doang ternyata diangkat. Ganggu tidur kamu ya, Dek?" lanjutnya.
"Enggak kok, Mas. Kebetulan aku belum tidur, Sella barusan rewel," jawabku sembari mengusap tetesan air mataku.
"Jangan nangis dong, Dek. Kalau kamu nangis, Mas juga nangis disini, Sayang. Kangen kalian bertiga. Kamu pasti kecapekan ya, ngurua semua hal sendirian."
"Capek itu pasti, Mas. Tapi langsung sembuh kalau melihat wajah mereka. Kamu sendiri kok belum tidur, Mas? Bukannya waktu disana tiga jam lebih cepat ya?"
"Iya, Mas kepikiran kalian bertiga. Sumpah, nggak bisa tidur sama sekali, Dek."
Sejak tadi, aku masih terdiam tidak menjawabnya. Aku sibuk memandangi wajahnya yang kini berada di jauh sana. Rinduku bukannya terobati, kini malah kian membesar. Tidak bisa lagi aku kecup pipinya dengan gemas, begitupun sebaliknya. Kami adalah sepasang suami istri yang sedang menjalani hubungan jarak jauh.
"Bobo' gih, Sayang. Mas temenin nyampe kamu merem. Tapi dari sini dulu ya?" ujarnya sembari membenarkan posisi rebahannya untuk lebih nyaman.
"Kamu duluan yang tidur, Mas. Aku yang lihatin, lagian disitu udah tengah malem kan? Ngapain gadang. Emangnya pencarian kamu udah berhasil?" Akhirnya, aku mencoba mengorek tentang hasil pekerjaanya selama satu minggu.
"Belum, Dek. Nggak hapal tempat ini, kesana kemari harus pake maps. Tempat tinggal Ibu Leny yang dulu aja Mas belum tahu."
"Susah ya? Aku aja yang didalam negeri, nggak bisa cari temenku itu. Belum ada kabar nyampe sekarang, Mas."
"Mereka sengaja menyembunyikan diri dengan baik, Dek. Tapi kamu jangan terlalu ikut campur juga ya, Dek. Takut kamu dan kalian kenapa-napa. Eh, mana coba anak-anak Mas Arlan?"
Segera aku bangunkan diriku. Kuarahkan layar ponselku kepada Sellu terlebih dahulu. Setidaknya untuk mengobati rasa rindu yang mendera hati Mas Arlan kepada para putrinya.
"Udah, Mas?" tanyaku untuk memastikan puas belumnya dirinya dalam memandang Selli.
__ADS_1
"Si kecil, Dek. Berikutnya."
"Iya, Sayang. Tenang aja."
Demi mengobati rasa rindunya lagi, aku turun dari ranjang ini. Aku menghampiri tempat tidur bayi milik Sella. Kuarahkan kembali kamera pada wajah Sella, namun berjarak agak jauh. Untuk ini, aku sengaja memperlama, agar Mas Arlan puas dalam menatap putri keduanya.
Setelah dirasa cukup, aku kembali menampakkan diriku pada layar ponsel untuk bertatap muka dengan Mas Arlan. Sungguh sangat merepotkan. Namun ini adalah komunikasi paling tepat karena jarak kami yang jauh sekali. Aku rindu, astaga! Aku harua bagaimana?
"Mas aku kangen sama kamu. Gimana dong?" keluhku manja.
Mas Arlan tampak tersenyum dari sana. "Sabar ya, Sayang. Do'akan suami kamu ini cepet berhasil menemukan Ibu Leny dan William. Kamu disitu ada Selli dan Sella, Mas disini sendirian. Sedih banget. Mana seminggu lagi bulan puasa lho," jelas Mas Arlan.
"Ya Allah iya. Terus kamu nanti puasa disitu dong? Ya ampun, Mas. Kasihan."
"Iya, Dek. Mau gimana lagi, harus dijalani. Kamu juga baik-baik disitu, yang sabar dan jangan terlalu capek. Kalau belum kuat puasa, nggak usah dulu nggak apa-apa. Setahu Mas, ibu yang masih ngasih--ASI--diberi kelonggaran kok, Sayang."
"Iya, Mas. Tinggal nanti gimana deh. Ya udah, kamu tidur sana. Besok kamu harus cari mereka lagi. Aku juga harus meeting. Semangat ya, Mas. I love you, Assalamu'alaikum."
"Semangat juga kamu, Dek. I love you to, Wa'alaikumssalam."
Setelah itu, panggilan video itu berakhir. Aku merebahkan diriku lagi. Meski mata masih terasa segar dan rindu yang menggebu, aku tetap memutuskan untuk mematikan panggilan itu. Waktu disana lebih cepat tiga jam, pasti sudah melewati tengah malam. Aku tidak ingin Mas Arlan sampai begadang. Masalahnya ia sendirian disana, kalau sampai sakit aku tidak bisa mengurusnya. Kami juga perlu menjada diri satu sama lain demi bisa menjalankan tugas masing-masing.
Detik jam terdengar memecah kesunyian, menemaniku yang masih terjaga penuh rasa rindu. Angin malam menyeruak masuk melalui ventilasi dan bercampur dengan suhu AC. Dingin sudah pasti, sehingga aku bergerak mencari keberadaan remote AC. Setelah didapatkan, lantas aku mematikannya karena hawa malam pun sudah cukup dingin.
Dengan segala usahaku, aku mencoba membuat diriku tertidur. Sayang jika waktu tidak digunakan dengan baik. Apalagi Sella tengah tenang malam ini. Namun mengapa, pada saat ada kesempatan aku malah sulit untuk terlelap? Apa karena rasa rindu itu? Ah, jika benar, rasanya setiap hari aku tidak akan tidur. Esok hari, aku harus bekerja. Pastinya badanku akan lemah lunglai jika tidak beristirahat dengan cukup.
"Ayolah mata, tidur gih!" Aku mendengus kesal karena itu. Segala upaya aku lakukan. Bahkan sampai memutar audio tentang ayat-ayat Al-Qur'an.
Fanni, tidur gih! Besok kerjaan banyak! Kasihan anak juga!
Kuhayati setiap lantunan Al-Qur'an yang terdengar sembari terpejam sembari berharap bisa cepat terlelap. Terus begitu, dan akhirnya rasa kantuk itu datang mendera mataku. Perlahan, aku masuk ke dalam alam bawah sadar. Samar, lantunan indah masih terdengar. Hatiku menjadi lebih tenang dan nyaman. Jiwa yang kalut menjadi lebih tenang pula.
Bersambung ....
Budayakan like+komen lagi ya
__ADS_1