Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Jujur


__ADS_3

"Halo, Celvin?" sapaku kepada sang pemanggil yang tidak lain adalah mantan atasanku.


"Ha-halo, Fanni," jawabnya dari kejauhan yang tidak aku ketahui tempatnya. Ia sepertinya sedang gugup ketika melakukan panggilan ini.


Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. "Ada apa?"


"Aku mau minta maaf, Fann."


"Oh, udah kok. Udah maafin kamu."


"Makasih, ya? Sekaligus soal kerja sama dengan Pak Nur Imran yang bisa kamu capai."


"Enggak masalah. Besok hari Senin, Mas Arlan udah balik kerja. Aku udah enggak di sana lagi."


"Yah, aku tahu dari Riska. Dia juga akan balik ke Harsun lagi. Emm ... kami udah bicarain semuanya. Aku salah paham sama kamu, Fann. Aku minta maaf."


"Iya, Vin. Aku udah maafin kamu."


Celvin terdiam sejenak. Kemudian ia kembali berkata, "aku dan Riska udah buat keputusan. Kami akan kirim Ivan dan keluarganya ke luar negeri. Aku nggak bisa biarin dia di sini terus."


Aku terkesiap. "Terus, keluarganya gimana? Emang setuju?"


"Setuju, aku dan Riska sepakat kasih modal untuk usaha mereka di sana. Ada salah satu temanku yang bakalan bimbing mereka. Aku yakin itu keputusan yang tepat. Aku capek bertengkar terus sama Riska, apalagi karna perbedaan pendapat."


"Hmm ... ada masanya kalian bisa sama-sama dewasa, Celvin. Yang penting, setiap ada masalah kalian bisa selesaiin dengan baik. Dan untuk Ivan, aku harap dia juga berbenah diri di sana."


"Makasih, Fanni."


"Ya, sama-sama. Selamat malam Tuan Celvin."


Panggilan dimatikan. Selanjutnya, aku kembali melanjutkan tidurku. Meski sejak tadi ada sepasang mata yang mengawasi dengan tajam.


****


Aku merasa lebih lega daripada sebelumnya. Bukan hanya Riska yang datang ke rumah ini, untuk meminta maaf kepadaku di beberapa hari yang lalu. Namun juga Celvin yang tadi malam berbicara dalam via suara. Aku mengatakan hal yang sama kepada Celvin. Dan ketika menjadi seorang pemaaf, hati bisa lebih merasa tenang. Tidak ada benci ataupun dendam, meski rasa kapok masih tetap ada.


Terlebih, aku mendapatkan kabar baru. Riska akan kembali masuk ke dalam perusahaan milik Harsono. Ia akan kembali menjadi CEO cantik di sana. Katanya, ia sudah merundingkan hal itu dengan Mas Gunawan. Meski hanya untuk membuat sang ayah memaafkan Celvin kembali.


"Dek?" Mas Arlan memanggilku secara tiba-tiba. Aku yang sejak tadi melamun di sisi kiri balkon dan asyik menatap suasana, kini terpaksa menoleh ke arahnya.


"Apa, Mas?" tanyaku kembali demi memastikan perihal apa yang membuat Mas Arlan memanggilku.


"Kamu yang apa? Dari tadi bersenandung ria."


"Lagi bahagia. Kan suamiku udah ada di sini sekarang sama anak-anak lagi."


Mas Arlan malah mencibirku. "Bohong kamu. Tadi malem habis teleponan sama Celvin, kan? Terus sekarang kelihatan seneng banget."


Dahiku mengernyit seketika, lalu tertawa setelahnya. "Aneh kamu, Mas! Mana ada aku begitu sama Celvin. Ya Allah, ini udah bapak-bapak anak dua, malah cemburu macam anak SMP! Geli aku dengernya lho."


Mas Arlan manyun. "Ya, gimana? Habisnya kamu begitu, tiba-tiba bahagia banget. Malahan pas Mas baru pulang, ngomel-ngomel mulu. Giliran ditelpon si ganteng malah senyum-senyum."


"Ih! Apa sih?! Enggak gitu." Kuhampiri Mas Arlan yang tengah duduk lesehan di sisi kiri balkon. "Gemes!" Kucubit kedua pipinya. "Pengen kecup, tapi masih puasa. Gemes aku sama kamu kalau lagi gini. Marah enggak jelas, cemburu enggak masuk akal. Kayak anak SMP baru pacaran!"


"Aku sayang kamu, Dek. Makanya cemburu. Apalagi cowoknya lebih ganteng dari Mas."


"Kamu ganteng kok. Tapi ...,"


"Tapi apa?"


"Enggak hehe."


"Apaan?!" Mas Arlan mencubit lemak di pinggangku sampai aku berteriak kesakitan.


"Aneh ih!"


"Lagian kamu kayak gitu. Ya cubit, kecup enggak boleh, kan?"


"Ya sakit, Mas!"


Rasa kesalnya berangsur menghilang, kini justru tertawa begitu lebar. Sulitnya mengatur napas ketika berpuasa dan dekat dengan suami. Namun kami tetap bertahan, sampai maghrib tiba. Inilah kenikmatan ibadah ini, dan begitu bahagia ketika berbuka.

__ADS_1


Setelah itu, aku duduk di samping Mas Arlan. Masih tanpa alas apapun. Aku menatap atap yang berada di atas kepalaku. Aku masih dengan senyumku yang tidak kunjung mereda, sehingga membuat Mas Arlan sesekali mencubit pipiku. Ia sebal kembali.


"Udah senyum-senyumnya. Kamu boleh senyum sama Mas doang!" titahnya sembari memberikan tatapan mengancam.


Aku masih tersenyum. "Ini untuk kamu, Mas," ujarku.


"Jangan begitu, maghrib masih lama, Dek."


"Emang mau apa? Aku belum laper kok."


"Hmm ... katanya kamu mau bilang soal Riska, Dek? Mana? Mas udah tungguin nyampe hari ini lho."


"Oh!" Betapa aku terkejut ketika Mas Arlan masih mengingat akan janjiku yang sudah berselang beberapa hari. Memang malam itu, ia sempat bertemu Riska. Ia bertanya; perihal apa yang membuat Riska datang. Aku sudah berusaha menjawabnya, namun ia tahu bahwa aku sedang berbohong. Sehingga aku memutuskan untuk memberitahu ketika hatiku sudah siap.


Kini, Mas Arlan benar-benar menagih janjiku. Hati ini masih merasa getir, takut jika ia pun akan ikut campur. Padahal sudah sejauh ini aku merahasiakan, agar Riska sendiri yang mengurus. Namun tetap saja aku terlibat. Belum lagi kedua bodyguard itu sempat mengatakan sesuatu tentang Riska. Sehingga Mas Arlan semakin penasaran dan bertanya-tanya.


Aku berdeham untuk memperbaiki pita suaraku. Setelah itu aku menatap wajah Mas Arlan yang tengah menunggu jawabanku. Aku berkata, "Riska besok, hari Senin udah balik jadi CEO Harsun lagi, Mas."


"Mas udah denger dari Mas Gun, Dek. Bukan itu, tapi yang lain."


Aku terdiam sejenak. Kemudian berkata lagi, "Ivan sempet dateng lagi, Mas."


"Ivan?!" Mendadak Mas Arlan terkejut, ia membangkitkan tubuhnya dari posisi bersandar di tembok balkon. "Kapan? Mau apa dia?"


"Udah lama kok. Aku dengar, dia dikirim ke luar negeri sama Celvin."


"Luar negeri? Kenapa sampai dikirim? Emang dia ngapain aja?"


"Nguntit Riska, Mas. Belum lagi ngasih anceman."


"Apa?! Kapan? Kenapa enggak ada yang ngasih tahu Mas, Dek? Kamu juga enggak ngasih tahu, kan?"


Aku menenangkan rasa cemas yang mendadak muncul di diri Mas Arlan. "Tenang, Mas. Semua udah beres kok. Celvin dan Riska udah buat keputusan. Mereka ngirim Ivan dan keluarganya ke luar negeri."


"Iya, tahu. Tapi ngirim orang ke luar negeri bukan perkara mudah lho. Emang mereka mau makan apa di sana, mana sama keluarganya lagi. Mending dikirim ke penjara, ada jera masih dikasih makanan."


"Hmm ... aku rasa, keduanya ngasih modal usaha. Nggak tahu, itu udah keputusan mereka, Mas. Mereka juga banyak uang dan koneksi. Mudahlah. Lagian Ivan juga sempet berjasa buat Riska, nggak boleh dendam. Kamu juga jangan marah-marah begitu dong."


Mas Arlan melenguh. Tampaknya ia merasa kecewa karena hanya dirinya yang tidak tahu. Namun bagiku itu justru bagus, setidaknya ia tidak melibatkan diri. Baru mendengar saja sudah emosi, apalagi kala masalah masih terjadi. Aku tidak tahu. Terlebih, Riska amat sangat disayangi olehnya. Meski tidak sebesar dulu, ia tetap mengawasi Riska secara tidak langsung. Kadang aku berpikir, ayah Riska itu Mas Arlan atau Mas Gunawan. Bahkan Riska juga sangat akrab dengan Mas Arlan daripada ayahnya sendiri.


"Ada satu lagi, Mas." Aku berniat untuk jujur perihal kedua bodyguard itu. Jangan sampai aku memberikan nasehat kepada orang lain, malahan aku sendiri tidak menerapkannya.


Mas Arlan menatapku. "Apa lagi, Sayang?"


"Emm ... soal dua orang itu. Sebenernya, buat aku."


Dahinya mengernyit. "Kamu berbuat apa, Dek."


"Kamu jangan marah, ya? Janji!"


"Apa dulu? Masa' kalau salah Mas nggak boleh marah."


"Enggak salah kok. Tapi agak berbahaya."


"Apaan?"


Aku tersenyum kecut. Meski sudah memiliki niat jujur, tetap saja takut. "A-aku yang bi-bicara sama Ivan d-dan cari bukti," ujarku menggeragap.


"Apa?! Jadi, alasan kamu sewa mereka karna itu?" Mas Arlan yang sempat terkesiap, kini menekan kedua pundakku dan menatapku tajam.


Senyumku semakin kecut, belum lagi seluruh wajahku yang terasa panas karena takut. Ia benar-benar terkejut dan sepertinya marah. Kini aku tidak bisa lagi menatapnya. Takut.


Tak lama kemudian, Mas Arlan melepaskan cengkeraman tangannya dari pundakku. Ia menjatuhkan tubuhnya untuk bersandar pada dinding balkon. Ia melenguh dan beberapa kali menatapku sinis.


"Mas katanya enggak marah?" Aku merengek, kuhilangkan semua rasa takutku untuk merayunya.


Sekali lagi, Mas Arlan menatapku sinis, bahkan lebih tajam dan lama sekali. "Kata siapa Mas enggak marah? Mas nggak bilang kalau nggak bakal marah, kan?" ujarnya.


"Y-ya, tapi kan yang aku lakuin bukan hal salah, Mas. A-aku cuma spontan, nggak sengaja ketemu dia. Terus aku ajak minum di kafe, aku tanya. E-emang sih dia sempet marah dan ngancem aku. Tapi kan, banyak orang di sana. Dia nggak bakalan berani. Terus aku tanya terus, dianya udah terlanjur keceplosan jadi nggak bisa berkilah."


"Terus?"

__ADS_1


Aku menelan saliva. "Terus aku rekam semua pengakuannya. Pas aku dapetin, dia marah lagi terus minta rekaman itu. Tapi, ada orang lain yang ngawasin kami, dia takutlah. Namanya juga bukan orang bakat jahat. Ya udah dari situ aku buat kesepakatan. Terus rekaman itu aku kasih ke Riska, selanjutnya mereka yang buat keputusan."


"Terus bangga?"


"Ih! Mas, maafin aku."


Mas Arlan menghela napas dan mengembuskannya lagi. Ia kembali bersandar pada tembok dan melipat kedua tangannya ke depan. Tatapannya mengarah ke bawah, tanpa memperdulikan diriku lagi. Tampaknya ia benar-benar kecewa terhadapku.


Aku akui, aku memang sangat gegabah. Bahkan bukan diriku saja yang bisa terancam bahaya, kedua putriku juga. Namun semua sudah terlanjur, bukan? Dan aku berhasil.


"Dek? Kamu inget kata Mama? Boleh bantu orang, tapi harus mikiran hidup kita sendiri dulu. Mas pengen marah, banget! Tapi Mas pun juga berbuat begitu. Malah nyusahin kamu dan Mama, anak-anak juga."


"Iya, Mas."


"Mas minta maaf karna pernah ninggalin kalian, buat kamu kewalahan dan harus bolak-balik urus kantor dan anak-anak. Tapi, Sayang ... kalau berurusan sama orang kayak gitu itu bahaya banget. Coba kalau Ivan enggak penakut, meski di kafe sebanyak apa pun orangnya, dia bisa nekat nyakitin kamu."


"Tapi kan semua enggak terjadi."


"Ye, dengerin dulu. Emang semua nggak terjadi, tapi bukan berarti nggak hati-hati, kan?"


Aku mengangguk pelan. "Iya sih, Mas."


"Kamu jangan begitu lagi ya, Dek. Mas nggak tahu jadinya kalau kamu kenapa-napa. Mas dan anak-anak nggak bisa tanpa kamu, Sayang."


"Iya, Mas. Maafin aku ya?"


"Mas berterima kasih atas kejujuran kamu. Tapi, ... kamu enggak boleh begitu lagi. Apa pun itu harus minta izin sama suami. Mas maafin kamu, dan akan terus maafin kamu. Mas juga minta maaf pernah ninggalin kalian ke luar negeri ya?"


Aku mengangguk lagi. "Iya, Mas."


Tangan kami saling mengenggam. Meski sempat merasa takut dan diberikan wejangan panjang oleh Mas Arlan, kini aku merasa lega. Setelah mengatakan semuanya, seperti tidak ada lagi hal yang membebani hati. Bersyukur karena suamiku bisa bijak dalam menghadapiku, tanpa merasa kecewa dalam waktu yang panjang.


Kemudian, karena rengekan dari si kecil yang terdengar, aku segera bangkit. Aku berlari, meski tidak cepat untuk menemui Sella. Di belakangku ada Mas Arlan yang mengikutiku.


Di dalam kamar, aku segera mengambil Sella dari ranjang goyangnya dan menggendongkan serta memberikan minum untuknya. Sedangkan, Mas Arlan menghampiri Selli yang baru saja terbangun karena tangisan Sella. Waktu memang masih pagi, namun Selli selalu ketiduran karena ikut sahur.


"Tadi aku kaget, Pa. Kirain si Dede' kenapa-napa. Aku deg-degan," ujar putri pertamaku itu.


"Kakak Selli khawatir sama Dede' ya?" tanya Mas Arlan kepadanya.


Selli mengangguk. "Iya, Pa. Selli kan sayang banget sama Dede' Sella."


"Oh ya? Kalau sama Papa, gimana?"


"Selli lebih sayang sama Mama Fanni, Pa."


"Ih, kok gitu sih? Kok enggak sama?"


"Soalnya Papa nyebelin. Tapi, ... Selli juga sayang sama Papa."


"Makasih, Sayang. Papa juga sayang sama Selli, banget."


"Tapi, pa. Selli juga sayang sama Mama Nia, kok Mama Nia enggak pernah ke sini lagi ya? Udah lamaaa banget. Kan Selli mau ngasih tahu kalau Selli udah punya adek, matanya bagus banget."


Seketika aku dan Mas Arlan terdiam. Bingung harus memberikan jawaban apa untuk Selli. Mau bagaimanapun, ia tetap memiliki ibu kandung. Diriku tidak bisa menggantikan Nia secara sempurna. Begitu pun dengan Mas Arlan, ia tidak bisa terus menerus membatasi akses Selli dengan Nia. Selli dan Nia berhak untuk berkomunikasi.


"Nanti Mama teleponin Mama Nia ya, Sayang," ujarku menyela.


"Dek?!" Mas Arlan masih saja menolak.


Aku menggeleng. "Lupain masa lalu kamu, Mas. Nia udah mengalah, kamu juga harua ikhlas. Selli juga punya hak atas ibunya."


"Horeee! Video call ya, Ma?" tanya Selli.


Aku mengangguk pelan. "Iya, Sayang."


Kali ini, Mas Arlan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Terlebih melihat Selli yang begitu antusias ketika aku berniat menghubungkannya dengan Nia. Semoga nomor ponsel Nia yang sempat digunakan untuk menghubungiku masih aktif.


"Ya udah ...." Mas Arlan menyerah. "Emm ... nanti malem kita ke rumah Mas Gun ya, Dek. Tarawih bareng di sana aja. Mas harus bicara soal Ibu Lenny."


Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas."

__ADS_1


Bersambung ...


Budayakan like+komen ya


__ADS_2