
Waktu cepat berlalu, terkadang hujan masih menerpa bumi ini. Merintikkan airnya, sehingga menyegarkan setiap tanaman yang ada. Seperti cintanya yang selalu menyegarkan hatiku. Semburat senyumnya yang manis, begitu teduh dan seindah pelangi. Cerita kami, kisah kami, serta hubungan kami selalu dipenuhi dengan adegan romantis disetiap waktunya. Kadangkala pertengkaran kecil juga ikut serta membubuhinya. Namun, aku selalu bersyukur, sikapnya yang dewasa selalu berhasil meluruskan setiap kesalahpahaman yang sempat melanda.
Satu bulan berlalu, banyak yang terjadi sejak janji yang diucapkan oleh Mas Arlan. Janji tentang lamaran yang akan ia lakukan untuk diriku. Meski ia mengatakan dalam waktu dekat, nyatanya selama ini aku harus menahan sabar. Masalah yang rumit masih menjerat perusahaan keluarganya, bahkan salah satu proyek kerjasama dari kedua belah pihak sekarang harus terhenti begitu saja. Aku tidak tau pasti tentang itu semua. Karena, Mas Arlan tidak ingin aku terlibat. Celvin pun begitu.
Lalu, hari ini adalah hari dimana penantianku akan terbayar sudah. Mas Arlan berencana ingin datang ke rumah orangtuaku bersama beberapa anggota keluarganya. Untuk apa? Yang pasti lamaran akan dilangsungkan. Entah, harus senang atau tegang. Aku tak menampik rasa bahagia memang ada, disisi lain aku masih tidak enak hati. Lamaran ini terjadi pada saat keluarganya didera masalah yang belum tuntas.
"Ma, gimana dong?" tanyaku kepada ibuku saat kami sedang duduk berdua diruang keluarga sembari menunggu kedatangan para tamu.
Beliau mengusap lembut jari jemariku, menatapku dengan pancaran mata yang sejuk. "Jangan khawatir, sayang. Itu bukan urusan kamu, yang perlu kamu pikirin adalah pernikahan kamu," jawab beliau.
"A-aku masih sungkan, Ma. Kami harus bahagia dalam kondisi yang lagi nggak stabil."
"Kamu kan udah cerita ke Mama, kalau nak Arlan udah menarik diri. Jadi, dia punya hak untuk hidupnya sendiri. Kita siap tunggu aja, emang kamu mau acara ini dibatalin gitu aja?"
"Ya... ya jangan dong. Aku cuman bingung aja, Ma. Mungkin tegang juga, karena ini hari baik buat Fanni, Ma."
"Hmm... Mama ngerti kok, sayang. Udah kelarin dandannya terus pake gaun yang kemarin kita beli."
"I-iya, Ma."
"Cukup diam dan terima lamaran, nggak usah mikirin perusahaan. Mama tau kamu memang terlibat, karna kamu bawahannya Celvin. Tapi, tetep kamu bukan anggota penting dari kedua perusahaan itu. Fokus aja sama acara hari ini."
Begitulah beberapa nasehat dari ibuku setelah kuceritakan semua kegelisahanku selama ini. Memang benar apa yang beliau katakan, namun tetap saja, ada rasa getir tersendiri dalam hatiku. Sebisa mungkin, aku tetap berusaha menyingkirkan kekalutan tersebut. Tak apa, bukan? Jika aku harus sedikit egois demi niat baik Mas Arlan?
Mengingat tinggal satu jam lagi, kedatangan Mas Arlan. Aku segera mengambil langkah menuju kamar lamaku. Dengan bantuan ibuku, aku menyanggul rapi rambutku dengan menyisakan beberapa helai kedepan. Lalu, untuk make up, aku dibantu oleh Kak Febi yang memang sangat lihai dalam hal itu. Ia pun tak segan untuk memoleskan beberapa riasan diwajahku dalam kondisi perut membuncit karena hamil. Ada enaknya juga memiliki anggota keluarga yang pintar, jadi bisa sedikit menghemat biaya.
Aku memakai gaun keemasan berlengan pendek dengan panjang dibawah lutut. Terdapat beberapa mutiara yang menghiasi. Tak lupa sebuah korset melingkar di perutku Rambut tersanggul rapi dihiasi accessories disebelah kiri, anting dan kalung. Karena ini baru lamaran, aku tidak ingin tampil terlalu mencolok. Apalagi hanya kedua keluarga saja yang hadir. Bahkan keluarga Mas Arlan tidak semua yang hadir. Aku paham, karena setiap orang memiliki kesibukan masing-masing.
Meski begitu, penampilanku masih terlihat simpel nan elegan. Yah, kurasa aku masih terbilang cocok jika disandingkan dengan duda beranak satu yang manis itu. Sepertinya rasa percaya diriku sudah meningkat dengan cepat. Aku bersyukur karena dengan seperti ini, aku tidak ragu lagi untuk melangkahkan kaki lebih jauh kedepan.
"Fanni, kamu cantik banget lho," ujar Kak Febi.
"Iyalah Feb, anak siapa dulu hehe," sela ibuku.
"Makasih Kakak, makasih Mama," jawabku.
Setelah itu, aku beranjak berdiri lalu berjalan menuju almari yang memiliki sebuah cermin besar. Bayangan diriku terpantul penuh disana. Sampai sekarang berat badanku masih sama saja. Bentuk badan pun masih begitu. Namun, karena bantuan sebuah korset, lemak perutku sedikit teratasi. Sehingga tidak terlihat lipatan disana. Penampilanku cukup sempurna untuk bentuk tubuh yang tidak sempurna.
Tak lama kemudian, dua mobil beriringan terlihat memasuki pekarangan rumah orangtuaku. Sontak saja, badanku gemetar dan tegang. Karena, salah satu mobil tersebut adalah milik Mas Arlan dan mungkin yang lain milik anggota keluarganya. Kami sekeluarga pun sudah siap menyambut kedatangan mereka semua. Hidangan sudah tersaji diatas meja ruang tamu. Acara ini akan berlangsung sederhana.
"Assalamu'alaikum," sapa salam salah satu orang.
"Wa'alaikumssalam. Silahkan masuk," jawab ayahku sembari berjalan menuju pintu yang memang sudah terbuka.
Mereka terdiri dari Mas Arlan sendiri, Selli, satu pria paruh baya bersama istrinya, dan sang ibu yaitu ibu Darsi. Sedangkan tiga orang lainnya, aku rasa kerabat dari Mas Arlan yang membawa barang-barang seserahan. Aku tak bisa mengatakan apapun, hanya diam seribu bahasa. Bahkan menunduk. Mereka semua sudah duduk diruang tamu.
Para kerabat sudah menyerahkan barang seserahan kepada Kak Pandhu agar disimpan. Saat kulirik sekilas, pria paruh baya tersebut sudah duduk berhadapan dengan ayahku dengan ibu Darsi tepat disebelah beliau.
"Mohon maaf Pak sebelumnya. Maksud kedatangan kami kesini, semata-mata untuk meminang Nona Fannisa Oktaviani Geraldine. Saya sendiri adalah Gunawan Putra Suharsono sebagai kakak pertama dari Arlan Mahendra Suharsono, mewakili almarhum ayah saya sebagai wali untuk meminang anak dari Bapak...?" ujar pria paruh baya yang ternyata adalah kakak pertama dari Mas Arlan.
__ADS_1
"Saya sendiri Bapak Hendrick, Pak. Dikarenakan anak kami juga sudah menyetujui akan gelaran lamaran ini, jadi kami sekeluarga juga sudah sepakat untuk menyetujui maksud baik dari Bapak Gunawan dan keluarga. Demi terlaksanakannya sebuah pernikahan Nak Arlan dan anak kami," jawab ayahku.
"Alhamdulillah Pak, terima kasih atas sambutan baik ini. Mohon diterima beberapa barang seserahan yang tidak seberapa Pak. Mungkin, setelah ini Bapak bisa panggil saya Dek Gun saja, Pak. Hehe..."
Ayahku tertawa ramah kepada Bapak Gunawan. "Boleh... boleh... silahkan dinikmati hidangannya murahnya terlebih dahulu. Mo-monggo Bu Darsi."
"Terima kasih, besan," jawab Bu Darsi.
Begitulah pembicaraan awal itu berlangsung. Para hadirin mulai menikmati hidangan yang telah tersaji sembari membahas tanggal pernikahan kami. Aku sendiri belum cukup paham tentang masalah itu. Sebagai calon pengantin, aku lebih memasrahkan semuanya kepada para orang tua yang lebih mengerti.
Kini aku tidak lagi diam, beberapa kali Kak Febi memberikan candanya kepadaku. Aku juga banyak berbincang dengan keluarga Mas Arlan. Sungguh tidak diduga, ternyata mereka adalah orang-orang yang baik. Berbeda sekali dengan ucapan yang sempat Riska sampaikan kepadaku kala itu. Atau mungkin, hari ini sifat asli mereka belum nampak saja. Tapi, sebisa mungkin aku tetap berpikir yang positif. Lagipula selepas pernikahanku dan Mas Arlan nanti, kami akan tinggal sendiri. Meski aturan keluarga mereka masih berlaku, setidaknya tidak terlibat banyak.
"Jadi, Tante Fanni beneran jatuh cinta sama Om Arlan ya?" tanya salah seorang kerabat pembawa seserahan tadi.
"I-iya," jawabku.
"Hihi... masih malu-malu ya sama kami? Perkenalkan saya Ajeng, yang ini Diandra dan yang satunya lagi Tiara."
"Jadi, kalian?"
"Kalau saya keponakannya Om Arlan dari Kakak kedua beliau. Masih kuliah, kalau Diandra dan Tiara ini masih SMA, adik saya. Mereka kembar lho. Tapi nggak identik, jadi nggak mirip."
"Ohh... hebat ya? Kalian kompak banget."
Diandra maju dari duduknya, "Nanti siap kok, kita mau jadi bridesmaidnya Tante Fanni dan Om Arlan."
"Iya Tan. Tiara juga."
Aku sangat asyik berbincang dengan ketiga keponakannya Mas Arlan sampai tidak mempedulikan calon suamiku sama sekali. Sedangkan para orang tua masih membahas tanggal yang tepat. Sedangkan Kak Pandhu masih mengurus Kak Febi yang kelelahan karena hormon kehamilan. Aku bersyukur acara ini berjalan dengan lancar.
Namun, ada satu hal yang terasa mengganjal. Tatapan dingin diberikan oleh istri Pak Gunawan yang juga ibu dari Riska kepadaku. Beliau memang cantik, aku rasa beliau tidak terlalu menyukai penampilanku. Hanya saja pikiran positif terus kukembangkan dalam benakku, agar tidak timbul fitnah dari sana.
****
Beberapa jam berlalu, perbincangan antar keluarga terus berjalan begitu hangat. Acara lamaran yang berlangsung tanpa susunan ini akan sampai diakhir babak.
"Jadi, sudah diputuskan pernikahan akan dilangsungkan satu bulan lagi, untuk tanggalnya nanti menyusul. Kami akan saling menghubungi. Mengingat kedua calon sudah sama-sama matang. Dan juga demi menghindari fitnah dan hal-hal yang tidak baik. Secepatnya akan lebih baik," ujar ayahku.
Satu bulan? Cepat sekali? Apakah kami bisa mempersiapkan diri dalam waktu sesingkat itu?
Namun, semua orang menyetujui. Tanpa mau menolak lagi, aku pun memberikan anggukan tanda setuju. Begitu juga dengan Mas Arlan. Setelah itu Mas Arlan mendekatiku, ia duduk tepat disampingku. Lalu dikeluarkanlah sebuah cincin dari sakunya.
"Cincin lagi...?" tanyaku lirih.
"Sebagai syarat aja, Dek...," jawabnya.
"Ini kan bukan tunangan Mas, tapi lamaran. Nggak wajib...,"
"Nggak apa-apa, Dek...,"
__ADS_1
Aku pun menurut. Kuberikan jari manisku kepadanya. Cincin yang sempat ia berikan kepadaku, sudah aku lepas terlebih dahulu. Mas Arlan memasangkan cincin baru tersebut ke dalam jariku. Cincin permata yang sangat indah. Lalu, berapa jumlah cincin yang akan ia berikan lagi nantinya? Apakah aku wanita yang sangat beruntung saat ini?
Rasanya sangat bahagia. Bahkan jauh lebih bahagia dari sebelum-sebelumnya. Ingin rasanya kupeluk calon suamiku tersebut. Tapi, aku harus bersabar terlebih dahulu.
Setelah menyaksikan Mas Arlan memasangkan cincin dan mendapat persetujuan dari kedua belah pihak keluarga, ayahku mulai memimpin do'a untuk acara ini. Meski seorang mualaf, ayahku sudah sangat fasih dalam melafalkan do'a agama kami. Didalam do'a yang masih berlangsung, tak sengaja air mata haruku terjatuh diatas telapak tanganku. Semacam perasaan luar biasa yang baru kali ini kualami. Akhirnya Tuhan telah mengirimkan calon suami kepadaku. Rasa syukur tak ada habisnya kuucapkan dalam hati. Aku akan segera menikah.
Hingga diakhir acara, Pak Gunawan, Ibu Darsi dan keluarga besar pamit untuk undur diri. Kami saling bersalaman satu per satu. Kelegaan akhirnya kurasakan saat mereka berlalu. Namun, beberapa peralatan makan harus aku bereskan bersama ibuku. Sehingga, waktu istirahatku harus tertunda. Tak mengapa, ini memang sudah menjadi kewajibanku.
"Fanni, kamu bisa kan tinggal sama Mama dan Papa dulu sebelum menikah?" tanya ibuku tiba-tiba.
"Tinggal disini?" tanyaku kembali.
"Iya, sayang. Mama pengen banget satu rumah lagi sebelum melepas kamu."
"Emm... bo-boleh deh, Ma."
"Alhamdulillah."
Beliau memelukku sangat erat. Sampai air mata beliau berjatuhan disertai suara isak tangis. Aku merasakan betapa tidak relanya ibuku untuk menyerahkan diriku kepada Mas Arlan. Sampai akhirnya, aku ikut serta dalam tangisan beliau. Aku memeluk beliau dengan erat pula. Ibuku adalah mama yang luar biasa, rasa sakit baru kurasakan sekarang. Betapa beliau selalu mengharapkan aku kembali pulang, namun egoku pun selalu lebih besar.
"Ma... Fanni sayang banget sama Mama," ujarku.
"Kamu ini, Mama juga pasti sayang sama kamu. Walaupun galak juga, Mama nggak percaya anak kesayangan Mama sudah mau menikah sebulan lagi. Mama bingung, Mama harus gimana?" balas ibuku.
"Aku minta do'anya ya, Ma? Fanni janji, Fanni bakalan bahagia dan selalu ingat Mama. Tapi Mama juga nggak boleh sedih kalau Fanni nikah nanti."
"Mama selalu bahagia saat kamu bahagia, sayang."
Suara tangis ibuku semakin lama semakin menderu kencang. Seolah menyiratkan kepiluan tersendiri dari dalam hati beliau. Suara kami saling bersahut-sahutan satu sama lain. Sampai ayahku datang dan menenangkan kami. Tanpa pikir panjang, kuraih tubuh ayahku yang semakin ringkih karena menua. Akhirnya kami bertiga jatuh dalam keharuan.
Disaat seperti ini, aku merasa tak rela untuk meninggalkan kedua orangtuaku begitu saja. Terlebih, aku adalah anak perempuan mereka yang tidak tahu diri. Sehingga Kak Pandhu dan Kak Febi mengalah dan memilih tinggal di rumah ini. Aku merasa hina kepada diriku sendiri, sampai menemukan jodoh aku belum sempat berbakti dengan baik. Hanya dalam jangka waktu satu bulan ini, aku bisa menghabiskan waktuku dengan tinggal bersama mereka. Mungkin memang bukan waktu yang cukup untuk membayar segala kesalahanku.
Andai saja, waktu bisa diputar kembali. Aku pasti akan menekan rasa egoisku saat itu. Sehingga bisa bersama dengan kedua orangtuaku sampai sekarang. Namun, apa dayaku yang hanya sebagai manusia biasa. Semua telah berlalu dan sudah menjadi bubur. Tidak ada cara lain, kecuali membayarnya dalam waktu satu bulan ini.
"Janji ya, kamu harus bahagia. Kamu putri Papa satu-satunya, anak yang selalu Papa gendong kemana-mana. Perjuangan kamu dengan Nak Arlan akan terbayar lunas, sayang," ujar ayahku.
"Hiks... Fanni janji Papa, Mama. Tapi kalian jangan nangis lagi, nanti Fanni malah nggak jadi nikah," jawabmu sembari sesenggukan tidak menentu.
"Dasar anak bodoh, kami nangis bahagia. Bukan sedih kok," jawab ibuku.
"Mama bohong kan? Mama kan nggak rela kalau Fanni sama duda."
"Iya sih, emang nggak rela. Tapi, mau gimana lagi. Kalian udah mati-matian kayak gitu."
"Makasih ya Mama, Papa. Fanni sayang sama kalian."
Bersambung...
Mohon maaf kalau ada beberapa kalimat ambigu. Karena aku sebagai cewek, nggak terlalu mudeng dengan tatanan lamaran itu seperti apa.. hehehe... intinya semau berlangsung sederhana..
__ADS_1
Untuk masing2 usia mereka akan dijelas oleh Mas Arlan di bab selanjutnya
Budayakan tradisi like+komen.