
Biasanya aku tidak akan memikirkan hal yang tidak penting seperti ini. Setelah acara pengenalan beberapa saat yang lalu dan mulai bekerja, fokusku benar-benar kacau. Di dalam benakku masih terbayang sosok Celvin yang tampan. Tentunya mampu membius setiap orang yang bertemu.
Oh Tuhan! Seharusnya aku sadar diri. Aku ini siapa, aku hanya pegawai bawahan. Rasa penasaranku seharusnya hilang. Namun, bukannya menghilang malah semakin bertambah. Bagaimana tidak! Aku baru saja bertemu seorang pangeran yang menawan.
Rasanya aku terbius oleh kharisma Celvin. Aku tidak munafik, siapapun pasti menyukainya maksudku tertarik padanya. Hanya saja, yang membuatku bingung sekarang adalah sikapnya. Padahal jika diingat lagi ia terlihat dingin dan tidak banyak bicara terbukti penyampaian pidatonya yang sangat singkat dan terkesan acuh tanpa persiapan.
Apa maksud Celvin melirik kearahku? Lalu memanggilku dengan kata manis. Bisa saja ia ramah kepada siapapun. Lagi pula aku belum mengenalnya. Dan mana mungkin pangeran sepertinya bisa tertarik dengan buntalan sepertiku. Ada-ada saja khayalanku.
Beruntungnya aku masih bisa melanjutkan pekerjaanku. Yah, meski terkadang aku harus menghela nafas panjang agar lebih tenang atau malah mendengus kesal. Terlebih suasana ruang kerja sangat tidak kondusif. Beberapa rekan kerjaku bekerja sembari bergosip. Tentunya menggosipkan Celvin.
Aku berharap tidak ada seorang pun yang mengetahui kegelisahnku apalagi mengenai Celvin. Bisa-bisa aku ditertawai dan di permalukan. Memang sudah nasibku seperti ini jadi aku harus lebih tau diri.
"Fann kenapa sih?" Tanya Nike yang sudah berdiri di belakang tanpa sepengetahuanku.
"Eh gak kok, kenapa emang?" Jawabku dan bertanya balik.
"Daritadi kayaknya lagi kesel deh aku denger loh nafas kamu gak beraturan."
"Hehe gak kok lagi ngantuk aja kali."
"Hmmm yaudah ayo."
"Ayo kemana?"
"Kok kemana sih Fanni ini udah jam makan siang lho."
"Haaaah! Serius?"
"Hmmm."
Sebegitu seriuskah aku memikirkan hal yang tidak jelas. Sampai-sampai aku lupa waktu. Tapi untuk apa aku jadi kepikiran? Aku tidak boleh seperti ini. Ini sudah tidak benar, tidak mungkin aku menyukai Celvin yang baru aku temui. Apalagi kasta kami, fisik kami benar-benar berbeda jauh. Semoga Tuhan tidak menurunkan perasaan tertarikku padanya.
Aku beranjak dari kursi kerjaku. Aku menengok di bilik kerja Tomi yang tampak kosong. Sepertinya ia sudah keluar. Lalu aku melangkah kearah kantin perusahaan bersama Nike.
Aku seperti mendengar teriakan cacing-cacing dalam perutku yang meminta makan.
Aku berjalan agak cepat agar cepat sampai di tempat makanan. Entahlah, tapi aku merasa sangat lapar. Energiku rasanya hampir terkuras habis hari ini. Padahal aku tidak terlalu bekerja keras.
"Aduhh Fanni cepet banget jalannya." Celetuk Nike dari arah belakang, ia berusaha menyamakan langkah kakinya denganku.
Ya Tuhan! aku bahkan melupakan keberadaan Nike untuk sesaat. Astaga, aku kenapa?
__ADS_1
"Hehe maaf Ke." Jawabku sembari memperlambat langkahku. Jujur saja aku malu jika dinilai rakus dan tidak sabaran.
"Hmmm kamu kenapa sih?"
"Gak papa lagi banyak pikiran kali ya makanya cepet laper."
"Pikiran apaan?"
"Gak, yuk ah keburu antri lho."
Tanpa mau menjawab pertanyaan Nike, aku melesat dan menarik tangan Nike supaya lebih cepat.
Sampailah di tempat yang dituju. Sialnya, antrian cukup banyak di tempat penukaran kupon. Benar-benar tidak mengerti dengan cacing kesayanganku di perut yang sedang meronta-ronta. Dengan kata lain aku sangat lapar.
"Nyebelin." Ujarku mendengus kesal.
"Kenapa sih Fanni." Tanya Nike.
"Mungkin flashback jadi remaja kali ya jadi galau."
"Isshh inget umur Fann kalo gak inget bapaknya Selli hihi."
"Maksudnya?"
Apa ini? Sepertinya Nike menilai hubunganku dengan Mas Arlan mengarah ke sepasang sejoli yang sedang kasmaran. Seperti ibuku saja. Padahal aku tidak pernah membayangkan sejauh itu. Aku juga membantu mereka dengan tulus. Aku hanya geleng-geleng kepala untuk menandakan tidak seperti yang Nike pikirkan. Yah, meski dibalas cekikikan.
Beberapa menit kemudian akhirnya tiba giliran kami. Kami menukar kupon yang telah didapat dengan sepaket makan siang. Setelah itu menghampiri meja makan dimana Tomi berada. Ia melambai-lambaikan tangannya. Memberikan isyarat agar kami bergabung.
"Sorry ya cynn gue duluan." Ujar Tomi.
"Gak masalah gak ngaruh juga." Jawabku cuek disertai tawa dari bibir Nike
"Ihh si endut jahat banget."
"Udahh ah makan."
Lahap sekali aku menyantap hidangan tersebut. Mungkin saat ini aku terlihat sangat rakus. Bahkan jika ada satu kupon yang ngangur aku pasti akan menukarnya lagi. Tentu saja kalau aku tidak malu.
Tiba-tiba suasana kantin yang memang gaduh menjadi lebih gaduh. Penyebabnya adalah Celvin. Ia tampak melenggang masuk diiringi dua orang petinggi. Dan lebih mengejutkan lagi si setan cantik maksudku Mita ada disana.
Ada angin apa sampai seorang CEO mau makan siang dan berkumpul bersama karyawan lain. Riuh dan ramai mengisin seluruh ruangan. Ada beberapa orang yang menawari tempat kosong. Tentu saja Mita menolaknya. Ia mencari tempat yang cukup bagus untuk Celvin. Lalu petugas kantin mengantarkan makanan tanpa diperintah.
__ADS_1
"Beda ya kalo dari kasta atas mah." Ujarku.
"Iya lah kita mah ibarat semut yang gak keliatan ama jerapah." Sambung Nike.
"Yaiyalah cyynnn ganteng gitu kaya pula siapa yang gak kesemsem belum lagi dia CEO muda. Ya ampun kalo eke cewek, langsung embat deh." Celetuk Tomi.
"Ihh Tomi jangan gitu inget kamu cowok lho."
"Iyaa cess masak jeruk makan jeruk."
Kami terkekeh bertiga. Namun bola mataku terus menatap keberadaan Celvin. Jangan salah paham, aku tidak memikirkan apapun. Aku hanya penasaran dengan apa yang ia lakukan.
Sialnya, Celvin seperti sadar akan pandanganku padanya. Ia menyunggingkan senyuman manisnya. Aku terkesiap seletika. Wajahki memerah dan mendadak salah tingkah. Apakah aku salah? Mungkinkah ia memberi senyumannya pada orang lain? Tidak! Tidak ada yang menghalangi pandangan kami. Meski semua orang heboh sendiri, tatapan mata Celvin memang ditujukan kearahku.
"Heyyy kenapa Fann?" Tanya Nike.
"Oh gak kok gak papa." Jawabku tergagap.
"Kok merah gitu mukanya?"
"Santai gue gak papa Ke, ehm gue ke toilet dulu ya."
"Terus aku sama Tomi?"
"Yaudah ikut aja."
Aku dan Nike meninggalkan Tomi sendirian di meja makan. Dan ia tampak kesal lalu beranjak bergabung dengan lainnya.
Langkahku tergesa-gesa sampai membuat Nike kewalahan mengikutiku. Aku panik, baru kali ini aku mendapat perlakuan ramah dari seorang pria. Apalagi Celvin, sudah tampan dan kaya terlebih ia adalah pembisnis muda.
Oh shit! Jangan sampai aku mengharapkan sesuatu yang mustahil. Aku tidak boleh jatuh cinta dengan. Jangan sampai membuat luka pada diri sendiri.
Aku menatap cermin di toilet lalu membasuh wajahku. Semoga perasaan yang aku takutkan tidak benar. Hanya itu harapanku sekarang.
Bersambung...
Like+komen yaaaaa biar tambah semangat upnya..
☺️☺️😊
Pernah gak sih diantara kalian yang merasa Ge-eR diperlakukan seorang cowok seperti Celvin?
__ADS_1
Tulis di bawah bagi pengalaman siapa tau menjadi sumber inspirasi 😊😊