Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Mita Dalam Bahaya


__ADS_3

Fanni memberikan kecupan manis di pipi Arlan, ketika mereka telah sampai di depan salon. Seperti biasanya, Arlan mengantarkan Fanni setelah berhasil mengantar Selli ke sekolah. Sella pun tidak ketinggalan, meski belum berhasil membujuk ibunya, Fanni tetap ngeyel karena alasan tidak enak hati kepada Febi.


"Kalau udah repot, Mas sewa suster lagi, Sayang," ujar Arlan kepada Fanni, tetapi tatapan matanya tetap menatap sang buah hati.


Fanni menggeleng. "Enggak, Mas. Biaya mahal," tolaknya.


"Kalau pengasuh biasa gimana?"


"Aku takut, banyak yang enggak tanggung jawab, kan?"


"Ya, enggak semualah, Dek. Nanti Mas tanya Mbok Surti--pengurus dapur rumah Harsono."


"Emang beliau tahu?"


"Siapa tahu ada saudaranya yang bisa, Dek."


"Iya udah, tapi jangan sembarangan ya? Aku agak enggak rela kalau anak aku diurus sama orang lain."


"Sama, Mas pun begitu, tapi tiap Mas jemput kamu, kayaknya salonnya udah makin rame."


"Alhamdulillah, Mas. Berkat Mita juga kok."


"Kalian dulu, kan, dari tim strategi. Ya pasti pinterlah."


"Amin hehe. Ya udah, kamu berangkat sana, katanya mau ada meeting."


"Iya, Dek. Kamu semangat ya kerjanya. Mas love you."


"Love you to, Mas-ku"


Fanni juga Sella keluar dari mobil itu, setelah sebelumnya mengecup tangan suaminya. Ia menunggu sampai laju mobil di mana ada Arlan di dalamnya, tidak terlihat lagi oleh pandangan mata. Ia mengembuskan napas yang sempat ia ambil dalam-dalam. Berbalik badan, lalu berjalan menuju salon yang pintu rukonya masih tertutup.


Kali ini, ia dan sang buah hati yang menang, Mita terlambat. Setiap pagi, mereka saling berlomba untuk datang paling awal. Dan tentu saja, Fanni yang kerap menang.


"Bah! Gue kalah." Tiba-tiba seseorang berceletuk demikian, sembari berdiri di ambang pintu salon itu.


Fanni tertawa lebar. "Loe begadang ya semalem?" tanyanya.


"Tahu aja loe, Fann. Suami gue lagi manja-manjanya, enggak mau berhenti nyampe mau pagi."


"Hus! Jangan diumbar kayak gitu."


"Halah, biarin sih. Kan, loe juga udah tahu kali haha." Mita meletakkan tasnya pada lemari yang ada di ruangan itu. Tak lupa memberikan kecupan manis di pipi Selli yang tengah duduk di dalam strollernya.


"Udah tahu sih udah tahu, tapi geli aja dengernya, Mita."


"Tapi, kalau sama suami mah enggak ya?" Mita memberi cibitan lidah.


Fanni menggeleng-gelengkan kepala. "Ih, makin ngaco loe, nggak jelas!"


"Ngaco itu bagus, Fann."


"Mana ada."


"Ada nih depan loe."


"Ck, jadi gimana? Katanya mau cerita? Jangan menghindar lagi."


Mita yang sudah memegang sapu, kini menghentikan aktivitas bebersihnya itu. Hutang penjelasan kepada Fanni sama sekali belum ia berikan. Selalu menghindar dan menolak. Ia masih merasa khawatir jika Fanni justru ikut melibatkan diri. Lantas, apa lagi yang bisa ia jadikan alasan sebagai wujud penolakan? Sebenarnya dengan sikap kerasnya itu, ia bisa menegaskan agar Fanni tidak ikut campur. Hanya saja, ia tidak mau jika hubungannya dengan ibu dari dua anak itu bertambah runyam.

__ADS_1


Fanni yang sudah selesai merapikan peralatan salon, juga membersihkan sampah-sampah yang berserakan, kini menatap Mita yang masih terdiam. Dugaan tentang siapa wanita paruh baya yang sempat datang, sebenarnya sudah ada di dalam benaknya. Mita menyebut nenek yang juga sama dengan sebutan ibu tiri yang disematkan oleh Jelita. Membuat seorang Fanni yang memang pintar, bisa cepat mengerti. Hanya saja, ia belum mengerti bagaimana situasi yang terjadi. Sifat keingintahuannya yang begitu besar, membuatnya tidak pernah bosan terhadap penolakan yang kerap kali partner kerjanya berikan.


Ya, Fanni harus tahu. Dengan begitu ia bisa membantu. Seperti dugaaan Mita terhadap dirinya, ia tidak akan tinggal diam. Entah sejak kapan wanita blasteran Belanda itu menjadi berani, bahkan melebihi ekspetasinya sendiri. Bukan lagi seorang Fanni bekas korban bully yang selalu lemah dan minder. Mungkin juga karena gelar emak-emak sudah ia dapatkan. Dan apa yang terjadi jika emak-emak sudah tidak bisa tinggal diam? Sepertinya akan mampu mengguncang dunia.


"Mit!" tegas Fanni, setelah kesabarannya habis.


Mita menatapnya dengan gerak santai. "Apa sih?" tanyanya kembali.


"Loe ada apa sama orang itu?"


Mita menghela napas dalam, sudah tidak bisa ia hindari lagi pertanyaan dari partner kerjanya itu. Terlalu sulit untuk menyembunyikan sesuatu dalam jangka waktu yang lama, rasanya pun benar-benar tidak nyaman.


Lalu, ia mengambil Sella dari stroller. Memberikan candaan lucu kepada balita itu. Hal itu, membuat Fanni semakin nail pitam. Namun, ia tidak bisa memarahi Mita lantaran sang setan cantik sedang memangku anaknya.


"Gini." Setelah beberapa menit berlalu, Mita baru membuka suara.


Fanni segera mengambil posisi duduk di sampingnya sembari mengambil alih tubuh Sella. "Gue kasih minum dulu. Loe ngomong aja," ujarnya.


"Jadi, dia itu emaknya si Lita."


"Gue udah tahu kalau itu."


"Lah? Kok nanya lagi?"


"History-nya kan belum tahu."


"Sebenernya, selama beberapa waktu terakhir, kayak ada yang ngintai gue."


"Serius?!" Karena merasa terkejut, Fanni mencengkeram tangan Mita secara reflek.


Mita mengangguk. "Mata-matanya nenek lampir itu."


"Kok loe tahu? Loe enggak bilang sama gue? Enggak ada apa-apa, kan?"


"Iya, gue tahu. Jangan sombong, tetep waspada. Terus apa lagi?"


Selanjutnya, Mita menceritakan yang belum sempat ia katakan. Mengenai rencananya dalam penyelidikan kasus bully yang menimpa Jelita, bahkan ia tidak segan-segan memberikan hasil rekamanya ke pihak sekolah. Dan, ulahnya itu membuat para siswa pembully mendapatkan sangsi keras sampai membuat orang tua mereka dipanggil oleh pihak sekolah, tetapi tidak sampai dikeluarkan, sayang sekali memang. Namun, siswa-siswi itu tetap dalam pengawasan, jika sekali lagi berbuat hal itu, maka sekolah tidak akan segan-segan lagi membuat mereka terdepak.


Perbincangan berlanjut, mengenai program diet yang masih dijalani Jelita. Dengan penuh kesabaran wanita bak selebritas itu memberikan bimbingan kepada Jelita. Bahkan, sampai membuatkan jadwal makan dan menu-menu sehat. Ia sangat menekankan agar Jelita tidak melanggar peraturan yang ia buat. Meski, ia sendiri merasa heran, mengapa sampai memperdulikan orang lain sampai seperti itu. Entah, mungkin ada sisi baiknya, tetapi awalnya Mita hanya mencari tantangan saja. Selepas, merubah sedikit karakter buruknya, ia tidak pernah lagi bertengkar dengan seseorang.


"Gue enggak nyangka loe bisa sebaik sekarang, Mit. Ya, walaupun sifat masih terkesan kasar dan kayak preman," ujar Fanni memberikan tanggapan sesuai hati dan pikiran.


Mita tersenyum tipis. "Gue kagak baik, Fann. Gue cuma ambil kesempatan buat seru-seruan aja sih. Gue juga enggak jarang marahin si Lita. Sering malah, anak itu hampir menyerah," jawab Mita sembari melipat kedua tangannya ke depan.


"Ya sih. Tapi tanpa loe sadari, loe udah berbuat baik kok. Walaupun cara loe agak bar-bar."


"Gue cuma jadi kucing imut pas sama suami doang haha. Selebihnya, jadi garangan."


"Parah loe."


Perbincangan mereka berakhir ketika seseorang datang. Seorang tamu yang hendak meminta pelayanan tentang make up, mungkin untuk wisuda, pesta atau semacamnya. Fanni dan Mita merupakan dua wanita yang cukup pandai di bidang ini, meski hanya belajar secara otodidak saja. Namun, tidak mungkin membuka salon ini, jika mereka tidak memiliki kemampuan di bidang ini.


Kali ini, Mita yang lebih dulu mendapatkan giliran untuk pelayanan. Sedangkan, Fanni masih bisa mengurus anaknya. Jika ada pelanggan lagi, mungkin ia akan menitipkan Sella kepada pegawai ruko samping yang sudah akrab satu sama lain. Ya, sejauh ini memang seperti itu, dengan bonus makan siang sebagai tanda terima kasih untuk orang itu.


****


Hari tetap berjalan sebagaimana mestinya. Membuat sepasang partner kerja itu, segera bergegas menutup salon. Sudah pukul lima sore dan Arlan sudah menjemput Fanni di luar sana. Kadang kala, hal itu membuar Mita merasa iri, selama membuka usaha ini, ia bisa menghitung jari ketika suaminya bisa datang menjemputnya. Namun, apa daya, ia tidak bisa memaksakan kehendak hatinya untuk sama seperti orang lain. Dengan sikapnya yang selalu mandiri, Mita tidak pernah sekali pun mengeluhkan hal itu secara terang-terangan, ia hanya menahan.


"Emm ... anak pertama loe, tumben enggak ke sini, Fann? Seharian ini?" tanya Mita sembari menutup pintu salon setelah keluar dari tempat itu.

__ADS_1


Fanni menoleh ke arahnya. "Kalau capek, dia milih di rumah aja, Mit. Semakin, ada les tambahan juga, bahasa inggris dan ngaji."


"Terus yang jemput dia pas sekolah siapa dong?" Mereka berjalan pelan untuk menghampiri mobil milik masing-masing.


"Biasanya masih Bi Onah, kalau enggak Pak Edi, juga Mas Arlan. Kadang gue juga, kan?"


"Iya sih. Kasihan aja, emak bapaknya pada kerja."


"Ya, gimana lagi, Mit. Kita semua harus sabar dulu, buat merintis sesuatu. Tapi, tiap malem gue usahain buat temenin dia kok."


"Loe enggak capek?"


"Capek sih capek, tapi gue juga seorang ibu. Gue enggak mau fungsi gue sebagai ibu terganggu sama hal lain. Emang sih, udah terganggu, makanya malemnya gue usahain buat enggak."


"Hebat loe, Fann. Gue aja enggak tahu bisa jadi ibu yang baik atau enggak nantinya. Emm ... ya udahlah, gue cabut duluan. Kasihan anak loe, pasti juga capek, suami loe juga." Mita memberikan kecupan manis di pipi Sella. Kemudian, ia menghampiri mobilnya.


Sedangkan Fanni menghampiri sang suami tersayang, yang sejak tadi memilih menunggu tanpa turun sedikit pun. Setelah sampai, ia masuk ke dalam mobil itu. Memberikan kecupan di punggung tangan suaminya, juga pipi dan sekilas di bibir suaminya. Arlan pun berbunga, rasa penat dan letihnya mendadak menghilang. Apalagi ditambah ada anaknya, mungkin kurang Selli saja. Ia menancap gas, karena rindu kepada putri pertamanya dengan Nia.


"Gimana kerjanya, Sayang? Rame?" tanya Arlan sembari masih memegang kendali setir mobilnya.


"Lumayanlah, Mas. Tiga orang yang dateng," jawab Fanni sembari menatap wajah manis sang suami.


"Sella di mana?"


"Sekarang aku bisa nitip sama Mbak Nila, toko baju muslim samping tempatku sih, Mas. Ya, dia yang nawarin diri awalnya, kan aku sempet panik. Terus gimana kata Mbok Surti?"


"Ada sih, Dek. Cucunya sendiri, juga pengasuh, bekas TKW. Kalau kamu mau, lusa bakal berangkat, malem nanti Mas kabarin."


"Ya udah, Mas, coba aja. Yang penting menjanjikan dan ada yang bertanggung jawab juga."


"Ya, Dek, nanti Mas bilang ya. Kasihan istri Mas udah jadi wanita karir atas usaha sendiri."


"Amin."


Sentuhan halus diberikan oleh Arlan di rambut Fanni, juga Sella. Ada keinginan untuk memeluk mereka berdua, sayangnya masih berada di tengah-tengah jalan raya. Sehingga, ia memutuskan untuk fokus terhadap jalan agar cepat sampai.


Jalanan cukup sepi, membuat Mita bisa melenggangkan laju mobilnya dengan cepat. Ketika sore hari, ia selalu memilih jalan pintas ini untuk pulang. Malas jika harus menghadapi kemacetan di beberapa titik jalan. Kawasan industri yang karyawannya sudah pulang sejak jam tiga tadi, sehingga kondisi cukup sepi, mungkin hanya beberapa kendaraan yang melintas termasuk miliknya.


Dug! Mita mengerem mobilnya mendadak, tepatnya ketika sebuah sepada motor menghadang dirinya. Tentu saja, ia mengumpat karena rasa kesal yang tidak terkira. Kalau terjadi kecelakaan bagaimana? Namun, ia tidak gegabah untul turun. Sepeda motor yang dikendarai dua orang pria berpenampilan preman itu, membuat kecurigaannya mencuat. Terlebih lagi, dua pria itu turun dari sepeda motor yang dikendari dan berjalan menghampiri mobil Mita.


"Siapa sih? Mau maghrib juga," gumam Mita.


Salah satu pria, mengetuk jendela mobil Mita dan memintanya agar cepat turun. Namun, Mita tidak menurutinya sama sekali. Ia tetap waspada. Segera ia ambil ponsel dari dalam tasnya dan bermaksud menghubungi sang suami. Tidak peduli dengan pria itu yang berteriak meminta agar sang pengemudi cepat turun dari mobilnya. Dan ketika ada orang lain yang melintas, kedua pria itu berpura-pura berbincang. Lagi pula, mana ada orang yang berani berurusan dengan preman.


Richard yang sedang menjaga suatu pos di kepolisian, mendadak terganggu dengan ponsel yang berbunyi nyaring dari dalam kantongnya. Ia menarik ponsel itu dan menatap siapa sang pemanggil. Sayangnya, ia sedang bertugas sehingga mematikan panggilan itu, meminta agar sang istri mengirimkan pesan saja.


Mita : Richard, aku dalam bahaya. Ada dua orang preman menghadangku, mungkin suruhan nenek lampir itu. Di kawasan industri pabrik textile deket kuburan.


Membaca pesan dari sang istri, wajah Richard mendadak pucat. Ia bingung harus bagaimana. Namun, ia tetap mementingkan keamanan Mita. Ia segera mengambil langkah dan meminta izin dengan atasannya.


"Istri saya sedang ada masalah di jalan, Komandan. Bolehkah saya meminta izin sebentar saja?" tanyanya kepada sang atasan.


"Hmm ... baiklah, tapi satu jam saja, ya." Atasannya memberikan keleluasaan itu, karena mendapati wajah Richard yang begitu pucat.


Pria yang berprofesi sebagai seorang polisi ini benar-benar merasa sangat khawatir. Sampai-sampai, melupakan tentang laporan mengenai hadangan preman yang menimpa istrinya. Ia terlalu cemas dan sangat terburu-buru. Yang ada di pikirannya hanya Mita dan Mita, berharap supaya tidak terjadi apa-apa.


Sembari, melaju mobilnya, ia berusaha memanggil Mita. Namun, sama sekali tidak diangkat sejak tadi. Sialnya, kondisi jalan sedang macet. Tubuhnya yang gagah kini bergetar. Bingung, ia harus segara sampai.


"Ayo, Sayang, jawab teleponku. Ya Allah!"

__ADS_1


****


Ayo Vote lagi, OTW up lagiiii


__ADS_2