Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Memastikan


__ADS_3

Pukul 09.00 WIB, dan hari ini adalah hari Senin. Semua aktivitas kembali normal seperti biasanya. Mas Arlan ke kantor, sedangkan putriku bersekolah. Aku sendiri sedang bersantai ria sembari menyesap susu hangat khusus ibu hamil. Hidupku bahagia, bukan? Ya, saat ini memang bahagia dan terlihat begitu bahagia. Perlahan, Mas Arlan dan diriku sudah mengikhlaskan kepergian ibu kami.


Namun pada kenyataannya, masih ada masalah yang mengganjal di hatiku. Tentang Nia, bahkan sampai sekarang aku belum memberitahukan pada Mas Arlan. Entahlah, aku merasa belum tepat saja. Apalagi aku belum memastikan semuanya. Terlebih Mas Arlan sangat benci jika sudah membahas nama mantan istrinya itu. Seolah sudah menjadi nama terkutuk jika didengarkan. Yah, aku sangat memahami perasaan suamiku.


Untuk Nyonya Dahlia, imbas dari beliau menurutku tidak akan banyak berpengaruhi. Beliau hanya sekedar menggertak saja. Lagipula, kami disini dan bukan di rumah istana itu. Namun, Nia? Ia masih memiliki koneksi untuk merusak rumah tanggaku yaitu Selli. Bukannya diri ini cemburu atau takut Mas Arlan kembali tergoda padanya, dan aku sangat yakin itu tidak akan pernah terjadi. Namun hancurnya hati suamiku jika Selli benar-benar diambil oleh Nia.


Kupandangi pekarangan yang terpampang diluar sana melalui jendela yang kuhampiri di kamarku dan suamiku ini. Otakku berputar untuk mencari cara agar aku mengetahui semuanya tentang hubungan Selli dan Nia. Sembari berpikir, aku menyesap perlahan susu hamil yang ada didalam gelas panjang.


"Gue harus kemana? Nia kemana aja ya? Gimana hubungan mereka sekarang?" gumamku bertanya-tanya. Sekali lagi aku akui, bahwa diriku bukanlah ibu kandung dari Selli. Namun aku benar-benar tidak ingin putri sambungku tersebut jatuh ke dalam pelukan Nia. Apalagi sifat Nia sangatlah buruk.


"Ah! Sekolah!" Ya, aku harus ke sekolah. Sepertinya disana akan aku dapatkan beberapa info dari guru pembimbing.


Aku menghela napasku dalam-dalam. Berharap semoga hari ini kondisiku cukup stabil. Jangan sampai aku mual atau lemah didalam perjalanan. Aku perlu memastikan semuanya. Demi keluargaku, namun tanpa membebani keluargaku. Segera kuambil tas selempang, jaket beserta ponsel dan kunci mobil. Setelah itu aku berjalan keluar dari kamar ini.


Aku menuruni tangga rumah perlahan-lahan sembari menopang perutku yang memang sudah buncit dari sananya. Dengan harapan, semoga anakku akan baik-baik saja. Dan yeah! Akhirnya sampai di lantai bawah. Setelah itu, aku menuju pintu utama. Namun dihentikan oleh Bi Onah tiba-tiba. "Mbak Fanni mau kemana?" tanya beliau kemudian.


"Emm ... nyari cemilan, Bi," jawabku berbohong. Karena Bi Onah sudah seperti orang tuaku sendiri, bahkan sudah diberikan untuk menjaga diriku oleh Mas Arlan. Aku sangat yakin beliau akan melarang jika aku berkata jujur.


"Udah, Mbak. Biar Bibi aja yang beliin."


Nah, kan!


Aku menggeleng seketika. "Aku mau sekalian jalan-jalan, Bi. Emm ... sama temen kok."


"Tapi kondisi Mbak Fanni? Nanti malah kena omel Den Arlan, Mbak Fanni-nya."


"Makanya Bibi jangan bilang ke Mas Arlan ya?"


"Tapi, Mbak?"


"Please ... Fanni beneran sama temen kok. Lagian deket juga."


"Duh, Mbak. Lagi musim virus lho. Sekolah aja udah mau diliburin kok."


"Iya, Bi. Aku tahu, aku pake masker kok. Udah bawa. Bentar aja ya? Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam, Mbak. Hati-hati."


Aku melanjutkan langkah, lalu membuka pintu setelah sampai dihadapannya. Kuucap basmalah dan do'a, supaya diriku dihindarkan dari sesuatu yang buruk dalam menjalankan tujuanku. Jika bukan diriku yang bergegas, lalu siapa? Mas Arlan? Ia selalu sibuk. Terlebih setelah seminggu cutinya untuk mendiang sang ibu, pasti menyisakan berbagai macam pekerjaan. Sebagai seorang istri aku wajib membantunya, namun dalam batas yang masih aku sanggupi. Lagipula kondisi diriku hari ini cukup mendukung. Bismillah saja.


Kemudian aku masuk ke dalam mobil merahku yang tidak pernah tergantikan. Perlahan namun pasti, aku melajunya untuk meninggalkan rumah ini sementara waktu. Di ekor mataku, aku bisa melihat bahwa Bi Onah berada di teras sembari menatap laju mobilku. Sungguh seorang pembantu yang sudah seperti orang tuaku sendiri. Kami pun sangat menghormati beliau.


Deru mobil terdengar bising di telingaku, apalagi dalam kondisi hamil, pastinya sangat sensitif. Oh iya, aku juga sudah memakai masker sebagai alat pelindung pernapasanku. Memang sudah marak pemberitaan tentang suatu virus. Aku berharap cepat berakhir supaya tidak meresahkan manusia di muka bumi ini. Amin.


Kondisi jalan raya cukup sepi. Aku bisa saja melaju lebih cepat mobilku, namun aku harus bersabar dan berkecepatan sedang saja. Karena sekarang aku tidak sendiri melainkan bersama si calon buah hati. Sedangkan udara, lumayan segar juga. Mungkin karena mendung tanpa hujan, seolah mentari sedang menyembunyikan dirinya. Hari ini serba mendukung intinya. Semoga usahaku juga diperlancar.


****


Beberapa saat kemudian, sampailah diriku di sekolah--tempat putriku belajar. Aku memarkir mobil merahku di pinggir jalan yang paling dekat dengan gerbang sekolah. Aku memastikan diriku masih baik-baik saja dan aman. Kemudian aku berjalan menuji gerbang, lebih tepatnya ke pos security sekolah.


Berbeda dengan security perusahaan, di sekolah ini mereka cukup ramah. Bahkan tersenyum saat menyambut diriku, walau wajah mereka ditutup oleh masker juga.


"Cari siapa, Mbak?" tanya salah satunya.


"Boleh saya bertemu seorang guru yang mengajar anak kelas satu? Maksud saya, wali kelasnya," jawabku.


"Oh ... boleh, Mbak. Tapi sebelumnya telapak tangannya disemprot dulu ya, Mbak? Hehe. Demi keamanan bersama."

__ADS_1


"Iya, Pak. Tentu, menjaga kebersihan juga perlu."


Sang security tersenyum. Kemudian aku menyerahkan kedua telapak tanganku dengan tenang. Beliau menyemprotnya dengan sebuah cairan untuk keamanan. Setelah itu aku diantarkan masuk dan menuju ruang guru.


Tampaknya aku harus menunggu beberapa saat lagi, sampai wali kelas Selli bisa keluar dari pengajarannya hari ini. Yah, semoga tidak lama. Aku takut Mas Arlan meneleponku dan menerka sesuatu padaku. Bisa mati aku, jika tidak bisa menjelaskan. Aku pasti akan dimarahi habis-habisan oleh suamiku itu. Terlebih dalam kondisi hamil muda seperti ini. Yah, mau bagaimana lagi. Kalau bukan karena Nia, aku pasti sudah tiduran sejak tadi.


"Selamat siang, Bu?" sapa seseorang padaku. Lantas, aku menoleh ke arahnya. Seorang guru muda kini berada disini. Beruntung ia tidak terlalu lama dalam menyanggupi permintaanku untuk bertemu dengannya.


"Siang, Bu Guru," jawabku diiringi senyuman seramah mungkin. Tentunya maskerku sudah aku buka.


"Mari ke ruangan saya."


"Baik, Bu."


Lalu aku mengikuti langkah wali kelas Selli tersebut. Sembari berjalan, aku mengamati lingkungan sekolah ini yang cukup asri. Bahkan ada taman obat-obatan hidup yang di sekolah ini. Aku bersyukur Selli bisa belajar di tempat yang tepat. Selama ini pun, si gadis kecil itu tidak memberikan keluhan apapun. Tampaknya ia senang dan menikmati proses belajarnya. Anak yang mandiri sejak usia dini. Semoga kami bisa mempertahankan Selli sampai kapanpun.


Hingga akhirnya langkah kami terhenti. Tepat di depan pintu suatu ruang kecil. Sepertinya masing-masing wali kelas memiliki ruang sendiri-sendiri. Wah! Cukup elite juga sekolah ini. Padahal kantor guru zaman aku SD, berbaur menjadi satu kecuali kepala sekolah dan ruang bimbingan khusus. Inilah yang dinamakan perkembangan zaman.


"Mari, silahkan masuk." Wali kelas Selli tersebut mempersilahkan diriku untuk masuk. Tentu saja, tanpa pikir panjang lagi aku memasukinya. Kemudian duduk di kursi, tepatnya yang berhadapan dengan sang guru. "Ada masalah apa ya, Ibu--?"


"Saya Fanni, Bu Guru," jawabku.


"Oh ... wali muridnya Selli ya? Perkenalkan saya Dwi."


"Iya, Ibu Dwi."


Ibu Dwi menghela napas dengan berat, menatap diriku penuh keraguan. Ada apa? Sampai aku diperlakukan se-demikian rupa.


"Maaf sebelumnya. Saya mau memastikan, apa benar Ibu Fanni adalah ibu sambung dari Selli?"


Lagi-lagi Ibu Dwi menghela napas. Menatapku penuh ragu lalu menunduk tidak enak. Aku sampai gusar dibuatnya. Apa yang sebenarnya membuatnya merasa ragu akan diriku?


"Maaf, sebenarnya ada apa ya, Bu Guru? Ada masalah dengan anak saya?"


Ibu Dwi menggeleng. Sedangkan aku mengernyitkan dahi lantaran heran beserta bingung.


"Justru saya ingin menanyakan suatu hal kepada Ibu Fanni. Mengenai hubungan Ibu Fanni dengan Selli. Mohon maaf sebelumnya, mungkin terdengar sangat lancang. Namun sebagai wali kelas, saya harus memastikan kondisi psikis murid-murid saya yang masih kecil."


"Hah? Psikis? Memangnya ada apa dengan mental anak saya?"


"Selli adalah anak yang ceria. Tidak pernah sekalipun menorehkan kesedihan. Namun ... apa itu asli? Atau ada gejolak hati didalam jiwa anak itu? Soal perlakuan anda terhadap Selli."


"What?!"


Perlakuan apa maksudnya? Bak disambar petir disiang bolong, aku sangat terkejut dengan pertanyaan yang diberikan oleh Ibu Dwi. Ada kejanggalan disini. Perlakuanku pada Selli, memangnya ada yang salah? Aku menyayanginya seperti anakku sendiri. Namun rasa-rasanya, pertanyaan itu bukan untuk memastikan akan rasa sayangku.


Aku berusaha menepis rasa curigaku seketika. Kuhela napasku dalam-dalam dan mengembuskannya kemudian. Kutatap lantai putih yang kosong dengan rasa bingung.


"Memangnya anak saya mengatakan soal apa mengenai saya?"


Ibu Dwi menggeleng lagi. "Selli tidak pernah mengatakan apapun, kecuali memuji Bu Fanni. Hanya saja...."


"Kenapa? Ada apa, Bu Guru?"


"Apa itu asli dan tulus atau pemaksaan dari anda? Demi menjaga citra dihadapan suami? Ma-maaf sebelumnya, kalau saya teramat lancang. Tapi saya butuh penjelasan. Saya belum ada waktu untuk bertamu ke rumah Bu Fanni."


"Si-siapa yang mengatakan itu? Siapa, Bu? Baiklah jika semua kebaikan saya tidak diterima orang lain. Namun bukan seperti ini caranya, ini namanya fitnah. Dan kata Ibu Dwi tadi, Selli tidak pernah bersedih atau tidak pernah menghina saya, kan? Apa Ibu tidak berpikir kalau anak kecil tidak akan pandai berbohong?!" tanyaku tegas. "Astagfirllah, apa ini? Siapa yang bisa memfitnah saya sampai sekeji itu."

__ADS_1


Aku terus mengucapkan istighfar. Mencoba menguasai diriku dan tidak emosi. Karena jika aku tumbang di tempat ini, akan repot jadinya. Mana ada yang bisa mengangkat badan besarku kecuali dorongan rumah sakit. Aku benar-benar tidak menyangka atas tuduhan itu. Padahal Ibu Dwi jelas-jelas mengatakan bahwa Selli tidak pernah membicarakan hal buruk tentangku. Sepertinya ia hanya guru baru. Jangan-jangan Nia yang memfitnahku, sialan!


"Apa ada perempuan cantik mendatangi Selli, Bu?"


"Eh?"


"Ya, wanita cantik. Kira-kira umurnya tiga puluh tahunan. Ibu kandung dari Selli."


"Ya, ya a-ada. Setiap hari Senin, Selasa dan Kami, kalau tidak salah. Beliau mampir."


"Dia bilang apa?"


"Semua tuduhan yang saya tanyakan adalah pernyataan dari beliau, Bu. Ibu itu bilang bahwa Ibu Fanni ini sangat keras dalam memperlakukan Selli. Bahkan membatasi lingkup pertemuan keduanya. Sampai beliau harus mencuri waktu untuk mampir ke sekolah."


"Alamaaak! Terserah jika Ibu Dwi akan mempercayai wanita itu. Tapi demi Tuhan, saya tidak pernah memperlakukan anak saya dengan buruk. Atau bahkan untuk pencitraan. Konyol sekali, seharusnya Selli bersedih bukannya ceria kalau sampai saya melakukan hal buruk itu. Lagipula saya tengah hamil dan hanya orang gendut, untuk apa saya sok berkuasa?"


"Ma-maaf, Bu Fanni. Tadinya saya memang kurang percaya. Tapi saya juga perlu memastikannya kepada ibu sendiri."


Sejujurnya aku benar-benar kecewa. Namun hanya bisa tersenyum, karena berpikir bahwa itu sudah menjadi tugas Ibu Dwi dalam menjaga sang murid. Dan benar saja, Nia terlibat. Ia datang diam-diam dan menorehkan macam-macam fitnah atas namaku. Bagaimana bisa aku merelakan Selli untuk wanita itu? Tidak akan bisa, bahkan jika sampai digugat ke persidangan, aku tidak akan menyerahkan Selli pada wanita itu.


Semua kecurigaanku sudah terbayar. Aku harus lebih waspada lagi, setelah semua ini sepertinya aku perlu membicarakannya dengan Mas Arlan. Karena sudah pasti, meski tidak ada bukti namun ada saksi. Pikiran Selli perlahan-lahan sedang dipengaruhi oleh ibunya sendiri. Kalau pemikiran baik aku akan terima, namun jika buruk? Awas saja!


"Terima kasih atas infonya, Bu Guru. Apa benar sekolah akan diliburkan? Mulai kapan?"


"Belum ada keputusan, Bu. Mungkin tiga hari lagi."


"Oh ... kata Bu Guru tadi, hari Senin si Nia datang, kan?"


"Iya, Bu. Biasanya seperti itu."


"Anda ini guru baru ya?"


"Emm ... benar, baru tiga bulan. Belum PNS juga."


"Ya, saya tidak tanya soal PNS atau belum, Bu. Saya berharap Ibu lebih bisa memilah mana yang benar mana yang tidak. Saya harap Ibu bisa menjaga anak saya dari wanita itu, meskipun dia adalah ibu kandungnya. Saya tidak bisa menceritakan masalah kami. Tapi ucapan wanita itu dan sikap Selli yang sangat berbeda, sangat membuktikan bahwa perkataannya adalah bohong."


"Baik, Bu Fanni. Saya akan lebih teliti lagi."


"Saya tidak bisa menunggu wanita itu hari ini, dikarenakan kondisi saya sedang hamil muda. Dan mendapat larangan dari suami saya. Saya harap Ibu Guru bisa menjaga anak saya. Saya permisi, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam."


Aku keluar dari ruangan ini bersama perasaan yang tidak menentu. Bayangan wajah Nia teramat jelas dan menyeramkan. Aku khawatir dan kesal. Hanya saja aku harus menepati janjiku untuk keluar sebentar saja. Lagipula aku belum mendapat izin dari Mas Arlan untuk melakukan semua ini. Aku berharap semoga Selli tidak terpengaruh dengan ucapan ibunya yang buruk itu.


Lalu, setelah sampai di luar gerbang, aku berjalan menghampiri mobilku berada. Lantas aku masuk setelahnya. Kupacu perlahan untuk pulang ke rumah. Meski hati tidak rela meninggalkan tempat ini lantaran sosok Nia. Namun calon bayiku harus dibawa untuk beristirahat.


Sepanjang jalan ini, nama Nia masih terus muncul didalam benakku. Bukan rindu, melainkan kesal. Aku berusaha membuangnya demi anakku, namun pada kenyataannya sangat sulit sekali. Ada ya? Wanita seperti dirinya. Menyesal diakhir cerita, namun ia malah menumbuhkan sumber penyesalan yang baru. Mengapa aku berkata seperti itu? Karena aku yakin ia akan kembali hancur jika tidak berubah. Boleh saja ia merencanakan sesuatu disaat ini. Aku yakin, semuanya akan gagal dalam waktu yang singkat. Lihat saja, Tuhan tidak akan tidur. Tuhan tidak akan memberikan kemenangan pada orang yang salah.


Aku akan melawannya lagi seperti saat ia berusaha meminta rujuk pada Mas Arlan dua minggu sebelum aku dan Mas Arlan menikah. Bahkan kali ini aku bisa berbuat lebih kejam jika ia tetap bertekad menghancurkan hidupku atau keluargaku. Aku yakin saat ini anak didalam kandunganku sedang mendukungku.


Karena banyaknya pikiran-pikiran itu, membuatku tidak sadar bahwa aku telah sampai dan masuk ke dalam pekarangan rumah bersama mobilku.


Bersambung ...


Stay Safe selalu, Fanni hanya menyampaikan beberapa nasehat soal virus hhe. Tidak akan masuk ke dalam cerita ini.


Semoga si virus juga segera menghilang dari muka bumi ini. Supaya bulan Ramadhan berjalan dengan lancar, dan bisa mengumandangkan takbir disetiap masjid. Amin.

__ADS_1


__ADS_2