Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Kharisma Baru


__ADS_3

"Sejatinya mereka bahagia. Namun terlalu baik dalam menyayangi sesama manusia. Membuang rasa benci, menumbuhkan rasa baik hati. Bahagia tidak perlu dicari, maka akan datang sendiri."


*****


Masih ada beberapa orang yang berbisik didalam kantor ini. Namun bukan berbisik tidak suka, melainkan rasa syukur. Mengapa seperti itu? Entahlah, aku juga belum tahu. Aku pikir, aku tidak akan diterima didalam kantor ini. Namun, penyambutannya malah berbeda. Sebagian besar dari mereka terbilang ramah kepadaku, aku bersyukur saja dibuatnya. Tidak ada yang membebaniku untuk menjalankan tugasku dalam menyelesaikan pekerjaan kantor sekaligus amanat dari suamiku.


Aku sempat berpikir bahwa semua ini adalah bantuan dari Riska ataupun Mas Roni yang sudah direkrut oleh Mas Arlan untuk bekerja disini. Namun sepertinya mereka malah tidak tahu-menahu. Semua orang memang menerima kehadiranku sembari berharap agar diriku saja yang ada disini, bukan Mas Arlan. Seriously! I don't know about this. Yah, mungkin aku memiliki kharisma baru yang membuatku pantas untuk disegani. Meskipun image gendut masih melekat kepada diriku, apalagi aku adalah orang yang belum lama melahirkan.


Disela-sela pekerjaanku, seseorang tengah mengetuk pintu ruanganku yang bergaya pribadi nan tertutup. Tanpa beranjak dari dudukku, aku meminta seseorang itu untuk masuk ke dalam ruangan.


"Selamat pagi, Bu," sapanya yang melainkan keponakan iparku bersama senyuman yang begitu manis. "Boleh masuk kan, Bu?"


"Tentu, kalau enggak, nggak mungkin aku suruh buka pintu. Dan ... jangan panggil aku dengan sebutan itu, Riska. Anggap aku seperti biasa," jawabku sembari menatapnya dari posisi awalku. Sedangkan gerakan tanganku yang tengah bekerja terhenti karenanya.


Riska tampak berjalan lebih masuk ke dalam. Langkahnya begitu halus nan elegan. Namun sayang, ia bukan lagi seorang pimpinan perusahaan melainkan hanya karyawan bawah biasa. Oh, siapa yang akan menyangka bila keadaan kami menjadi terbalik. Dulu, dirinya yang membuatku segan dan sekarang ia malah terlihat segan terhadap diriku. Posisi kami pun seakan tertukar, meski aku tahu aku hanya menempati kursi direktur ini dalam waktu yang sementara.


Tak lama setelah sampai dihadapanku, aku mempersilahkan dirinya untuk duduk. Ia mengambil posisi duduk dengan nyaman tepat di seberang meja kerjaku. Ia sedikit berdeham lalu mengatakan, "Kak Fanni cantik sekali."


Aku mengernyitkan dahiku seketika. Bagaimana tidak, ia tiba-tiba mengatakan hal yang menurutku tidak terduga. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk tersenyum saja. "Kamu bisa aja, kamu jauh lebih cantik dariku," jawabku kepadanya.


"Ah, enggaklah," tolaknya sembari menundukkan kepala. "Kak Fanni bukan hanya cantik, tapi juga hebat."


"Biasa aja, Ris. Nggak ada yang istimewa dariku, aku hanya mendapat banyak keberuntungan."


Riska tersenyum. Kini ia tengah menilik sekilas ke arahku, meskipun tertunduk lagi. "Orang istimewa nggak harus tahu dirinya istimewa, melainkan bagi orang lain. Jujur, aku sampai bosan kalau Om Arlan memuji Kak Fanni pada saat kami makan siang bersama. Maaf ya, Kak. Hehe."


Aku terkesiap mengenai pengakuan Riska yang menyangkut perihal tingkah Mas Arlan. "Justru, aku yang minta maaf karna bapak-bapak itu melakukan hal itu, Riska. Sampai-sampai bikin kamu bosan, aku juga nggak pernah tahu tentang hal itu. Tapi, aku bahagia pada saat kamu mengatakannya."


Riska hanya tertawa kecil dalam menanggapi kata maafku. Sedangkan aku malah tersenyum-senyum ketika membayangkan cerewetnya Mas Arlan dalam membahas diriku dengan keponakannya, bahkan sampai membuat sang keponakan bosan. Pria itu, aku sangat rindu. Ya rindu, akhirnya aku tahu apa itu arti rindu. Rasa yang indah, namun sangat menyiksa. Aku salut kepada semua wanita yang bisa menahan diri ketika mereka ditinggalkan suami mencari nafkah ke tempat lain.


Sembari terbayang wajah Mas Arlan, tanganku meraih secangkir teh yang telah tersaji di mejaku. Setelah itu, aku menyesapnya bersama hirupan aroma teh yang wangi sehingga menyeruak masuk ke dalam hidung. Aroma khas yang membuat jiwaku tenang. Setelah itu, aku meletakkannya kembali. Posisi dudukku juga lebih tegak penuh kharisma sekarang ini. Menatap Riska yang entah bertujuan apa datang kemari.


"Jadi, kamu mau ngapain, Riska?" tanyaku kemudian.


Riska mengangkat kepalanya perlahan. Ia menyerahkan sebuah kertas yang belum aku ketahui isinya. "Aku butuh tanda tangan Kak Fanni buat izin pernikahan setelah hari raya," jawabnya.


Kuraih kertas izin tersebut dan melihat isinya. Beginilah prosedur yang harus dilakukan bagi semua karyawan ketika akan menikah. Biasanya satu bulan sebelum hari H pernikahan. Aku rasa, Riska tidak ingin menunda lama, jadi melakukannya sekarang. "Bukannya masih lama, Ris?" tanyaku untuk memastikan.


"Iya, aku nggak mau menunda lama. Nanti kalau Kak Fanni sibuk akan susah jadinya. Lagian kurang satu bulan lebih lima hari lagi, nggak apa-apa kan nyelonong duluan?" jawabnya sembari menampilkan wajah berharap. Tampaknya wanita ini lebih disiplin daripada perkiraanku.


"Emm ... sebenarnya aku masih agak heran sama kamu. Kenapa kamu nggak mau pimpin perusahaan lagi? Bukannya kalian udah berdamai? Dan kamu malah kerja di perusahaan kecil yang gajinya tidak seberapa?"

__ADS_1


Sejenak Riska terdiam, aku rasa ia tidak bersedia membahas tentang hal ini. Disinilah, aku merasa tidak enak hati. Seharusnya aku tidak menanyakan sesuatu yang sudah jelas-jelas aku ketahui alasannya. Mungkin karena rasa penasaranku yang tinggi ini, membuatku benar-benar tidak bisa mengendalikan mulutku.


Ah, Fanni! Udah punya anak dua masih aja!


Yah, beginilah diriku tidak bisa membuang apa itu rasa penasaran. Segala sesuatu yang aku ingin tahu maka harus ada jawabannya. Kata orang kalau memiliki rasa ingin tahu yang tinggi itu termasuk pintar, namun kalau ingin mengetahui hati orang, apakah bisa dibilang pintar? Oh, aku rasa hanya kepo yang berujung ikut campur.


"Maaf, Riska. Kayaknya aku bikin kamu nggak nyaman ya? Maaf mulutku emang kayak rel kereta, cepat sekali tanpa dipikirkan terlebih dahulu," ujarku demi membuat Riska lebih nyaman lagi terhadap diriku.


Namun, Riska hanya tersenyum. Aku pikir ia akan marah, ternyata malah lebih ramah. Ia mengangguk kemudian memberikan jawaban, "aku hanya ingin menjadi mandiri, Kak. Aku tahu, aku adalah anak satu-satunya bagi Papa dan Mama. Jujur, aku emang udah memaafkan mereka semua bahkan keluarga besar. Tapi, hati ini masih sangat sakit pada saat ingat perkataan mereka yang menganggapku sebagai wanita nggak bener dan nakal." Riska terdiam sejenak. "Aku sangat kagum sama Om Arlan dan Kak Fanni, sebesar apapun kesalahan mereka pada kalian. Tapi, kalian mau memaafkan, bahkan membantu."


"Ya, karna Tuhan saja memberi maaf. Lalu mengapa enggak kita sebagai manusia? Tapi, Ris, kami pun sama. Kami menarik diri dari keluarga besar dan lebih berusaha sendiri. Meski iming-iming jabatan besar diberikan pada Mas Arlan. Yah, suamiku cuma nggak mau meninggalkan Pak Ruddy yang dulu membantu. Meski gaji dan keuntungan yang dia dapat enggak banyak."


"Mas Arlan dan Kak Fanni adalah orang-orang hebat yang terus bisa membuat aku kagum."


"Ah, terima kasih. Tapi, Ris ... boleh aku kasih saran?"


Riska menatapku dalam. Tak lama setelah itu, ia mengangguk lagi sebagai tanda setuju. Berikut ia memberikan jawaban, "iya, Kak. Riska bakalan dengerin kok."


Aku menghela napas dalam sembari menilik waktu yang ternyata masih jam sembilan pagi. Tidak ada jadwal meeting hari ini. Tampaknya aku bisa mencuri waktu untuk berbincang sedikit dengan Riska. Karena kalau jam istirahat pun aku tidak bisa. Ya, aku mesti pulang memberikan kewajibanku sebagai ibu kepada putri keduaku--Sella.


Aku tahu, mungkin ini akan terdengar seperti sedang ikut campur. Namun, sesuatu yang sejak lama sekali ingin aku sampaikan kepada Riska. Setidaknya memberikan saran yang bisa aku katakan dan sesuai pengalaman. Meski, tidak akan mudah baginya untuk menerima. Namun, alangkah baiknya aku mencoba. Jika bersedia melaksanakan ya syukur, tidak ya itupun tidak masalah. Toh, aku hanya seorang istri dari Mas Arlan yang notabene-nya om kesayangannya.


"Apa?!" Riska tampak terkejut. Sejenak ia tampak tidak menerima, namun kemudian ia melemaskan otot-otot tegang di wajah ayunya. "Kak, soal apartemen. Aku masih rutin bayar kok ke Om Arlan. Aku janji juga sesuai waktunya dan harga yang telah diberikan. Kalau bisa aku bakal tambahin nominal harga sewanya perbulan."


Aku tersenyum, kemudian menggelengkan kepalaku. "Bukan itu yang aku maksud, Ris. Tapi mengenai kamu dan orang tuamu. Sudikah kamu memberikan maaf secara sempurna?"


Riska terdiam. Tidak ada jawaban sama sekali tentang pertanyaanku yang aku ajukan kepadanya. Sampai akhirnya aku kembali berkata, "aku tahu itu sangat sulit. Tapi Ris ... kamu satu-satunya anak yang memiliki usia dewas. Ajeng dan Diandra masih SMA, Selli pun masih anak-anak. Om Roby-mu dan keluarga udah bener-bener nggak mau ambil warisan ataupun saham. Kamu ngerti maksud aku, Ris? Ayah kamu, apa kamu nggak kasihan sama beliau yang seharusnya udah pensiun?"


Riska menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. "Aku tahu dan paham. Tapi ... setiap kali aku ingin melupakan. Menatap rumah itu, hatiku kembali sakit. Satu tahun, Kak. Satu tahun aku merasa tertekan dan kesulitan, aku hampir gila. Aku tahu semua itu adalah kesalahanku. Meski enggak menyiksaku secara fisik, tapi penghinaan mereka masih jelas terngiang di telinga. Apalagi dari Tante Dahlia."


Pelupuk matanya tidak meneteskan air mata lagi. Tampaknya ia sudah muak dengan apa itu air mata. Hanya saja, urat hijau terlihat jelas di wajahnya. Bahkan tangannya yang berada di atas meja kerjaku tengah mengepal menahan rasa geram. Aku yang pernah mengalami sakit hati pun bisa merasakannya. Sakit secara mental itu jauh lebih sulit disembuhkan daripada bekas pukulan di kulit. Itu sebabnya, manusia sangat disarankan untuk berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu. Disisi bisa menyakiti, disisi lain akan menjadi sebuah do'a bagi diri sendiri. Kalau hal baik mungkin akan menguntungkan, namun jika tidak?


Namun aku tidak ingin Riska menyesal, itu saja. Apalagi sebentar lagi ia akan dinikahi oleh Celvin. Tidak akan banyak lagi waktu yang ia miliki dengan orang tuanya. Diriku teringat pada masa lalu, masa dimana aku memutuskan tinggal sendiri karena merasa iri. Lalu sekarang? Aku menyesalkan waktu yang aku buang, waktu yang seharusnya aku pergunakan sebaik mungkin dengan ayah dan ibuku.


Aku menghela napas dalam lagi dan mengembuskannya kembali. Kutatap dengan serius wajah Riska yang masih tertunduk diam. "Riska, kamu tahu kenapa aku bisa punya apartemen?" tanyaku kepadanya.


"Karna Kak Fanni adalah orang mandiri," jawabnya seadanya.


Aku menggeleng. "Bukan itu, Ris. Aku membeli apartemen itupun masih minta uang sama papa-ku. Aku nggak se-mandiri itu, Ris. Asal kamu tahu, aku punya apartemen itu karna ingin tinggal sendiri sama seperti kamu. Tapi, masalahnya berbeda. Kamu tahu kan aku ini kayak apa? Gendut!"


"Jangan gitu, Kak. Banyak orang yang lebih gendut kok."

__ADS_1


"Ya." Aku tersenyum. "Kamu bener, Ris. Banyak yang lebih gendut dan jauh lebih nggak beruntung daripada aku. Tapi, aku bukanlah orang berpikiran dewasa dan luas waktu itu. Pelarianku dan tinggal sendiri karna iri pada kakakku yang tampan itu. Setiap hari harus jadi perbandingan oleh tetangga sekitar. Jadi aku muak dan kabur."


"Aku nggak tahu, Kak. Maaf."


"Yah, itu hanya masa lalu, Riska. Aku sekarang udah jauh lebih baik, semua juga berkat dari Mas Arlan. Tapi, ... ada satu yang jadi penyesalan. Riska, aku menyesal karna nggak bisa bersama kedua orang tuaku lebih lama. Malahan kakakku yang bersedia merawat mereka daripada aku."


Tampaknya ucapanku bisa mempengaruhi Riska. Terlihar dari gerak-gerik yang menunjukkan rasa ragu pada dirinya. Terhitung tinggal satu bulan lebih satu minggu ia akan menikah, tepatnya setelah hari raya bagi umat Islam. Masih jauh, puasa pun belum sampai. Namun tidak ada salahnya untuk dirinya mempertimbangkan saran dariku.


Sekali lagi, aku tahu bibir ini tidak pantas mengatakan sebuah nasehat atau saran. Kuakui diriku belum layak lantaran masih banyak kekurangan. Bahkan akulah yang menyebabkan Mita menghilang sampai sekarang. Aku tidak tahu, ia kemana dan sebab apa dari kalimatku. Dan aku juga tidak mau jika Riska merasa menyesal ketika sudah menikah nanti.


"Riska?" Aku memanggilnya dengan tujuan agar ia tersadar dari lamunannya.


"Ya, Kak. Emm ... aku masih belum tahu, Kak," jawabnya.


"Nggak apa-apa, pelan-pelan aja. Aku cuma ngomong sesuai pengalaman aja, Ris. Sekarang pun, aku masih merasa malu sama diri sendiri karna nggak bisa bantu atau sama-sama kedua orang tuaku. Aku nggak mau kalau kamu sampai ngerasain hal yang sama. Dan ... satu hal lagi, Ris. Ingat gimana susahnya kakek kamu mendirikan perusahaan itu."


"Dan hanya aku yang bisa menanganinya selain Papa?"


"Ya, aku udah kasih penjelasan soal posisi Mas Arlan, kan? Bisa dibilang kamu penerus yang paling tepat. Mungkin setelah menikah nanti, kamu bisa rundingin sama Celvin. Maaf, aku bukannya ikut campur, Ris."


"Aku tahu, Kak. Makasih atas saran-sarannya, aku pasti bakal pikirin satu persatu."


Aku tersenyum, ia pun sama. Bersyukur karena ia tidak menganggapku lancang. Selanjutnya aku menandatangani surat izin yang belum tersentuh bolpoin milikku. Kertas yang sudah tertera tanda tangan dari manager dan ketua tim. Tinggal diriku, maka ia bisa mendapatkan hari libur pernikahan itu. Kalau dipikir-pikir Riska ini cerdas, mengambil hari pernikahan disaat-saat setelah lebaran. Tentu saja, penambahan hari liburnya akan panjang.


Yah, aku berharap ia bisa kembali mengurus perusahaan milik Harsono. Jadi, ia tidak perlu kesusahan seperti ini. Untuk seseorang seperti dirinya yang sudah hidup kaya sejak kecil, tentu saja akan terasa sulit. Namun aku salut, ia bisa hidup diluar keluarganya sampai sejauh ini. Setidaknya ada pelajaran berharga sebelum ia kembali menjadi pemimpin perusahaan.


"Oke, ini udah aku tanda tangani. Balik gih, kerjaanku masih numpuk," ujarku kepadanya sembari menyerahkan surat permintaan izin itu.


Riska tersenyum. "Makasih, Kak. Emm ... ngomong-ngomong Kak Fanni makin cantik kalau dikuncir kuda. Terlihat lebih segar. Aku baru lihat pertama kali. Aku balik kerja ya, Kak. Salam buat dua sepupu aku, nanti pulangnya aku mampir."


"Ah, ya. Thanks."


Riska beranjak berdiri, berbalik badan lalu melangkah untuk keluar dari ruanganku. Sedangkan diriku masih tertegun diam. Hari ini, aku sengaja mengikat rambutku dibelakang. Tidak aku sangka aku mendapatkan sebuah pujian dari seseorang yang lebih cantik. Diam-diam, aku mengambil cermin kecil dari dalam tasku. Pada bendaku itu aku bercermin dan nampak pantulan wajahku. Cantik! Ibu anak dua ini?


Astaga! Aku sampai tersenyum-senyum sendiri dengan wajah yang bersemu merah jambu. Pujian kecil yang bisa menambah semangat kerjaku.


Ingin cepat-cepat aku selesaikan dan pulang menemui dua gadisku tersayang.


Bersambung ....


Budayakan like dan komen ya.

__ADS_1


__ADS_2