Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Nasehat


__ADS_3

Selepas dibuat kesepakatan itu, aku dan Mas Arlan pamit untuk bergegas pulang. Sebenarnya, Pak Ruddy ingin kami bergabung untuk sekedar minum kopi lebih lama. Namun, Mas Arlan belum bisa bersikap dengan nyaman. Terlebih, kami harus memikirkan anak kami yang tengah menunggu diwaktu libur seperti ini. Sehingga aku dan Mas Arlan memutuskan untuk kembali.


Dan langkah kami terhenti di area parkir tempat mobil suamiku terdiam dengan tenang. Dengan manisnya, Mas Arlan membukakan pintu untukku. Tentu saja, aku tersenyum dan mengecup pipinya diam-diam. Sama sepertiku, Mas Arlan pun menyunggingkan senyuman manisnya. Manis seperti madu yang selalu membuatku candu.


"Wuuuuuaaaaah!" pekik Mas Arlan setelah kami sudah berada didalam mobil.


Aku membelai rambutnya dan mengecup pipinya sekilas. "Pasti sulit, Mas. Aku tahu kok. Tapi apapun keputusan kamu, pasti itu yang terbaik," ujarku.


"Hmm... Mas harap gitu, Dek. Mas makasih banget karna kamu selalu ada disamping Mas, apapun keadaannya."


"Aku sedang belajar dan berusaha, Mas. Ada kalanya nanti aku berbuat suatu kesalahan."


"Yah, Mas pasti juga begitu. Semua perjuangan kita untuk menjalin sebuah keluarga, nggak sia-sia, Sayang. Masalah apapun didepan nanti, pasti kita bisa saling mengerti dan menyelesaikan bersama-sama."


"Amin. Udah yuk pulang, kasihan Selli."


"Iya, Sayang. Nanti ke tempat Mama Sarita dulu yuk? Udah lama nggak kesana lho kita."


"Eh, ta-tapi aku udah janji sama Selli, mau ngajak nonton film animasi, Mas."


"Hmm... nanti diatur deh."


Aku hanya mengiyakan serta mengangguk pelan. Semoga saja, Mas Arlan bisa bersikap adil dengan Selli. Ke rumah mama memang penting, tapi keinginan anak juga penting. Jangan mentang-mentang anak kecil, lalu dikecewakan begitu saja. Karena orangtua notabene adalah tempat pembelajaran utama untuk seorang anak. Aku jadi ingat, pernah menyarankan agar Mas Arlan tidak terlalu memanjakan Selli. Jangan sampai ia menangkap maksud dengan berbeda arti. Aku hanya ingin setiap hendak melakukan apapun, kami selalu melihat situasi dan kondisi terlebih dahulu. Itu saja.


Dan kemudian, Mas Arlan segera melaju mobilnya untuk keluar dari tempat ini. Kami meninggalkan restoran bersama deru mobip yang semakin lama terdengar semakin kencang. Sedangkan suamiku kini pulang dengan membawa beban baru untuk dirinya. Aku berharap, tujuan baik Pak Ruddy bersama Mas Arlan bisa membuahkan hasil yang baik. Tentu dengan suamiku selalu baik-baik saja. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang istri, selain mendo'akan setiap langkah baiknya.


"Dek?" panggil Mas Arlan kepadaku.


Aku menoleh ke arahnya. "Kenapa, Mas?" tanyaku.


"I love you."


"Hmm... ya ya ya."


"Jawab dong."


"To."


"Gitu doang?"


"Iya, kan yang penting isi hatinya. Tadi juga udah dikasih di pipinya kok."


"Jangan pipi dong."


"Terus?"


Tepat di lampu merah, mobil kami terhenti. Mas Arlan yang belum menjawab pertanyaanku, kini tiba-tiba saja memonyongkan bibirnya. Sontak saja, aku sedikit menjauh lantaran merasa geli. "Mana?" tanya Mas Arlan.


"Apanya, Mas?" tanyaku kembali.


Mas Arlan menunjuk pada bibirnya. "Disini belum."


"Hih! Nggak mau, lagi di jalan juga ih! Nggak sopan."


"Kan kacanya gelap, Sayang. Mana? Sekilas aja."


"Nggak mau! Jangan disini juga kali."


"Berarti di rumah ya?"


"Enggak."


"Durhaka lho, Dek."


"Aku kan lagi dapet, Mas. Nggak boleh deket-deket sama suami."


"Kan nggak yang itu, Sayang."


Mas Arlan menghentikan kelakarnya, karena merasa terkejut dengan bunyi tin dari mobil di belakang kami. Ternyata Mas Arlan tidak menyadaru bahwa lampu sudah berganti warna menjadi hijau. Beruntungnya, tidak didatangi oleh pengemudi tersebut. Kalau itu terjadi, bisa-bisa menjadi keributan di jalan raya. Masa' karena menginginkan kecupan dariku, ia sampai berkelahi dengan orang lain? Ah... betapa malunya diriku, jika itu terjadi.


Lantas, mobil yang kami tumpangi kembali melaju menuju kediaman kami. Tak hanya tadi, sepanjang jalan ini Mas Arlan terus berceloteh menggodaku. Mungkin, jika ia seorang badboy, bisa dibilang sebagai om-om genit penggoda wanita. Aku bersyukur yang menjadi wanita incarannya adalah aku. Dan semoga saja selalu diriku. Karena aku tidak bisa membayangkan jika Mas Arlan sampai mengkhianatiku atau bahkan meninggalkanku. Apalagi ia masih cukup menawan hati setiap wanita. So, jangan sampai itu terjadi.


Sekitar sepuluh menit kemudian, sampailah aku dan suamiku di rumah tercinta milik kami. Aku dan Mas Arlan beranjak turun. Seperti biasa, ia menungguku untuk sekedar menggandeng atau merangkul pundakku. Ah... suamiku memang best. Jangan sampai ada yang iri, aku tidak akan mempublish dirinya di sosial media manapun. Karena kata orang, pelakor jaman sekarang lebih jahat. Apalagi ketika mereka mendapati diriku yang segendut ini, bisa jadi salah satu dari mereka mengambil kesempatan untuk menggoda Mas Arlan.


Oh shiitt... separno itu gue! Inilah sulitnya punya suami semanis dirimu, Mas.


Setelah sampai di depan pintu, Mas Arlan mengetuk pintu itu. Jarang sekali, kondisi pintu dikunci dari dalam. Sepertinya Bi Onah berada di belakang ataupun sedang menidurkan Selli.


"Kemana ya, Dek? Kok nggak dibuka-buka?" tanya Mas Arlan.


"Sabar Mas, rumah kamu luas. Mungkin nggak denger. Coba pencet belnya," usulku.

__ADS_1


"Oh iya, biasanya tinggal nyelonong sampe lupa kalau ada bel. Mungkin fokus Mas, ke kamu terus, Dek. Hehe."


"Halah! Gombal sobek."


"Serius, Sayang."


"Udah gih, cepet pencet."


"Iya iya, sabar."


Mas Arlan kembali memencet bel yang menimbulkan bunyi thing-thong sebanyak tiga kali. Namun tak kunjung dibukakan oleh Bi Onah. Tiba-tiba tukang kebun Mas Arlan datang menghampiri kami.


"Kayaknya lagi tidur deh, Mas. Mohon maaf, coba lihat pintu belakang aja, Mas," usul beliau.


"Oh iya, Pak. Makasih Pak," jawab Mas Arlan.


"Sami-sami, Mas."


Kami tersenyum kepada beliau. Lantas, mengambil langkah untuk menuju pintu belakang. Rasa-rasanya, tidak seperti biasanya Bi Onah sampai ketiduran. Terlebih dihari libur seperti ini. Untuk sifat beliau yang tidak enak hati, pasti tidak meninggalkan kami untuk tidur. Namun, kembali lagi kepada manusia yang memang memiliki rasa lelah. Tidak boleh su'udzon, itulah yang paling utama.


Sesampainya di belakang, Mas Arlan mencoba membuka pintu tersebut. Alhasil, memang tidak terkunci. Sepertinya Bi Onah sengaja mengunci pintu depan dari dalam demi keamanan. Meskipun, ada Pak Edi, tetap saja beliau sering disibukkan dengan kegiatan lain. Yah, siapa yang tahu kalau ada orang yang jahat melompati gerbang depan dan masuk ke dalam.


"Bi? Bi Onah," panggilku kepada beliau.


Hening. Sontak saja, aku menatap Mas Arlan. Sekali lagi, ini tidak biasanya terjadi.


"Coba cek ke kamar Selli, Sayang," usul Mas Arlan.


Aku mengangguk. "Iya, Mas."


Lantas, aku mendahului langkah Mas Arlan dan bergegas cepat ke lantai atas, tepatnya ke kamar putri kami. Satu demi satu anak tangga kupijaki, sampai akhirnya tiba di tempat yang dituju. Kemudian, aku membuka perlahan pintu kamar anakku. Aku masuk ke dalamnya, hanya ada Selli yang masih tertidur.


Deg! Jantung berdebar. Kemanakah Bi Onah? Seluruh badanku panas dingin, lantaran sedang panik. Tanpa pikir panjang lagi, aku keluar dari kamar ini. Aku berjalan tergopoh-gopoh mencari Mas Arlan. Mau bagaimanapun, aku sangat mengenal Bi Onah. Tidak biasanya beliau menghilang seperti ini.


"Maaaas?!" Seruku kepada Mas Arlan sembari mendorong pintu kamar kami.


Mas Arlan berbalik badan sembari mengernyitkan dahinya. Ia tengah melangkah menghampiriku. "Ada apa, Sayang?" tanyanya.


"Bi Onah nggak ada!"


"Kemana emang?"


"Ya, kalau aku tahu, aku nggak nanya, Mas."


"Enggak mungkin. Biasanya Bi Onah nggak kayak gini kok. Kalau diculik orang gimana coba?"


"Heh??? Pft... hahaha. Siapa yang mau nyulik sesepuh, Dek? Aneh kamu."


"Ya, siapa tahu. Tapi, aku nggak becanda, Mas. Iiiiih kamu mah!"


"Udah cek kamar beliau belum?"


Aku terdiam. Kemudian menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku menunduk sembari tersenyum-senyum malu. Tak lama kemudian, Mas Arlan mendekatiku. Ia merengkuh diriku dan dipeluknya. Sebuah kecupan manis diberikan di bibirku sekilas. "Dasar, panikan deh," katanya.


"Aku kaget doang, Mas," jawabku.


"Hmm... jadi istri Mas ini kalau sayang sama orang nggak mandang siapa orangnya ya? Walaupun seorang pembantu."


"Pembantu juga manusia, Mas. Lagian aku kalau lihat Bibi, kayak lihat Mama. Aku mikirnya kalau kita berbuat baik sama siapa aja, masa tua kita juga bakal dibaikin sama orang lain. Dalam konteks menghargai."


Mas Arlan menarik tubuhku ke dalam kamar. Aku yang terkejut hanya bisa mengikutinya. Kemudian, ia menelungkupkan kedua tangannya di wajahku. Aku terpejam seketika. Dan benar saja, tak lama kemudian hembusan napasnya mulai terasa dekat. Ia mengecupku lagi dengan penuh keromantisan. Ia begitu rakus, seolah sudah lama tidak mendapatkannya.


Mungkin wajar saja, terlebih aku sedang mengalami masa bulanan seperti ini. Otomatis Mas Arlan harus sanggup menahan segala hasratnya yang lain. Masih bolehkah dengan seperti ini? Lalu, kami saling menarik diri. Ia mengakhiri dengan kecupan manis di keningku sembari membisikkan kata cinta untukku. Oh... seandainya aku ice cream, pasti aku langsung meleleh begitu saja.


"Udah cek sana ke kamar Bi Onah. Biar hati kamu tenang, Dek," usul Mas Arlan.


"Iya, Mas. Kamu tengok Selli dulu ya? Siapa tahu udah bangun, kangen kamu nanti," ujarku.


"Siap, Sayang."


Setelah itu, aku keluar kembali. Menuruni setiap anak tangga lagi. Dengan sedikit cemas, aku berjalan menuju kamar Bi Onah yang berada di lantai bawah. Sesampainya disana, aku mengetuk pintu kamar beliau beberapa kali.


"Bi? Bi Onah," panggilku.


"I-iya, Mbak. Sebentar," jawab beliau.


Aku rasa, beliau tengah menurunkan badan dari ranjang. Dan tak lama kemudian, Bi Onah membuka pintu untukku. Aku tertegun sebentar. Kutatap wajah beliau yang memerah dengan bola mata yang berkaca-kaca. Seperti menunjukkan seperti orang sakit. Sehingga tanpa persetujuan beliau, aku menyelinap masuk dan mengajak beliau ke dalam lagi.


Setelah itu, kami duduk berdampingan di tepian ranjang. Bi Onah masih menunduk malu. Lantas, aku mengangkat dagu beliau diiringi di kening. Benar saja, suhunya panas. Sepertinya, Bi Onah tengah demam. Oh... ibanya hatiku.


"Bi Onah sakit?" tanyaku kemudian. "Kenapa nggak bilang?"

__ADS_1


"Maaf, Mbak. Saya malu, dan juga malah enak-enakan tidur kayak gini," jawab Bi Onah.


"Ya nggak enaklah kalau lagi sakit, Bi, Bi. Udah minum obat?"


"Sudah tadi, minum obat warung hehe."


"Fanni bawa ke dokter ya?"


"Wah, nggak perlu, Mbak. Bibi ini nggak bisa kena jarum suntik. Biasanya kalau di kampung dikerikin."


"Yaudah, Fanni kerikin aja."


"Eh, nggak usah, Mbak. Nggak etislah, masa' majikan malah melayani pembantu."


"Halah, mau majikan mau pembantu semuanya sama-sama manusia. Bentar ya, Bi. Fanni ambil minyak angin dulu sama koin."


Tanpa menunggu jawaban Bi Onah, aku segera mengambil langkah untuk keluar. Aku naik kembali ke kamarku, lantaran ingat jika di almari sana ada kota P3K yang kemungkinan ada minyak anginnya. Aku menaiki satu persatu anak tangga lagi. Yah, siapa tahu, lemakku bisa berkurang meskipun itu memang mustahil.


Sesampainya diatas, aku membuka pintu perlahan. Ternyata Mas Arlan tengah merebahkan diri sembari bermain ponsel. Ia menyadari keberadaanku dan langsung menatapku. Sedangkan aku mulai sibuk mencari kotak tersebut.


"Kenapa, Dek?" tanya Mas Arlan.


"Mau nyari minyak angin, Mas," jawabku.


"Buat apa? Perut kamu sakit lagi?"


"Nggak, Mas. Bi Onah masuk angin."


"Eh, kok dikerik. Katanya malah nggak baik lho, bawa ke dokter aja, Dek."


"Bi Onah nggak mau, Mas. Yah, namanya orang kampung, cara tradisional lebih ampuh mungkin."


"Emang kamu bisa ngerik?"


"Bisa dong."


"Hmm..."


Aku menatap suamiku lagi. Lalu menghampirinya sejenak dan mengecup pipinya sekilas. Setelah itu, aku mengambil langkah kembali untuk turun menuju kamar Bi Onah lagi. Nah kan! Sudah empat kali, aku naik dan menuruni tangga. Semoga lemakku berkurang, amin.


Ngayal kan, gue.


****


"Bibi, kalau ada apa-apa bilang aja sama Fanni. Jangan sungkan, Bibi kan lebih lama di rumah ini. Meskipun Fanni istrinya Mas Arlan, tetep aja Fanni orang baru," ujarku kepada Bi Onah sembari mengerik bagian punggung beliau.


"Hehe... Bibi ini, nggak enakan orangnya, Mbak. Apalagi, Mbak Fanni orangnya sibuk," jawab Bi Onah.


"Iya sih. Tapi kan nggak terus-terusan aku sibuk, Bi."


"Iya, Mbak. Yah semoga aja, Bibi nggak sakit lagi deh. Bibi ini ikut seneng Den Arlan bisa mendapat istri jauh lebih baik dari Nyonya Nia."


"Aku masih banyak kekurangan, Bi. Aku yang bersyukur mendapatkan Mas Arlan."


"Hmm..."


Selanjutnya Bi Onah menceritakan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan masa lalu Mas Arlan. Mulai dari sewenang-wenangnya Nia terhadap Mas Arlan dan Selli. Hampir setiap hari mengadakan pertemuan dengan teman-teman sosialitanya tanpa


se-pengetahuan Mas Arlan. Bahkan, seringkali Nia ingin menggugurkan kandungannya.


Tentu saja, ini membuatku kaget sekaget-kagetnya. Apalagi Mas Arlan pun belum mengetahui tentang niatan Nia dimasa lalu. Karena Bi Onah tetap menjaga rahasia itu karena takut dengan Nia. Dan melihat Mas Arlan yang kini sudah bahagia, Bi Onah tidak ingin merusak ketenangan Mas Arlan. Beliau juga tidak mau, jika Mas Arlan menyimpan banyak dendam terhadap mantan istrinya itu.


"Makanya, Mbak. Semenjak perceraian itu, Bibi dan Pak Edi selalu mewanti-wanti Den Arlan biar mencari istri yang lebih baik lagi. Den Arlan itu setelah cerai baru menekuni agama Mbak. Untung aja jatuhnya ke hal yang bagus, bukan sesuatu yang buruk, " ujar Bi Onah.


"Oh... Mas Arlan, jadi gitu ya? Tapi, Fanni bukan orang baik, Bi," jawabku.


"Orang baik nggak harus mengakui kebaikannya, Mbak. Biar orang lain yang menilai, yanh penting kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk tidak merugikan ataupun menyakiti orang lain."


"Iya sih, Bi. Tapi, sebenarnya Fanni ini agak minder, Bi. Fanni kan tergolong gendut, sedangkan Mas Arlan lumayanlah."


"Minder itu pasti ada, Mbak. Bibi pun sering minder gini, kalau dibantu majikan hehe. Tapi kan kembali lagi sama orang itu, yah kalau bisa menerima atau membantu dengan baik. Makan kita juga perlu menerima dengan baik pula. Dijaga baik-baik juga. Lagian Mbak Fanni ini bule cakep lho, kalau masih ngomong jelek cuma karna gendut. Terus Bibi yang penuh koreng ini disebut apa, Mbak, Mbak."


"Hehehe... iya juga ya? Hihi."


Begitulah beberapa percakapanku dengan Bi Onah. Ternyata beliau adalah orang yang bijaksana. Yah, tidak aneh juga, usia beliau hampir seperti mama. Aku rasa, beliau lebih banyak memiliki pengalaman hidup daripada aku dan Mas Arlan.


Bersambung...


Sorry lagi baru up heheheheeee...


Budayakan tradisi like+komen ya

__ADS_1


poin juga boleh deh hehe.


__ADS_2