
Kegusaran tentang momongan kini berganti tentang status pekerjaan. Mungkin, jika diriku, ibuku bisa mengerti. Namun, bagaimana dengan Mas Arlan? Pasti ibuku akan menerka-nerka karena merasa sangat khawatir terhadapku. Terlebih, beliau termasuk orang yang cerdas. Kalau tahu akan pekerjaan baru dari suamiku, pasti beliau akan langsung ngeh pada suatu permasalahan.
Pertanyaan pertama yang akan dilontarkan ibuku pasti mengenai alasan Mas Arlan keluar dari perusahaan keluarganya. Dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan lainnya. Aku tidak bisa membayangkan jika beliau tahu akan masalah yang terjadi beberapa saat lalu. Pasti, beliau akan ceramah panjang kali lebar, bahkan menyuruh kami tinggal disini. Oh... jangan sampai, riwayat tentang kebencian beliau kepada Mas Arlan pasti membuat hubungan keduanya tidak baik jika disatukan.
"Aku nanti bakal keluar kok, Ma. Mas Arlan juga masih bekerja seperti biasanya," jawabku pada pertanyaan ibuku.
"Hmm... yaudah, kalau bisa cepetan keluarnya. Kasian anak kamu nih si Selli, biar nggak kecapekan juga. Biar cepet jadi, lagian tanggung jawab cari nafkah kan suami," ujar ibuku.
Mas Arlan salah tingkah. Sepertinya ia merasa tersindir, lantaran belakangan ini menggunakan uangku. Belum lagi, ia sempat menganggur dan membiarkan aku bekerja. Untung saja, tentang masalah itu tidak ada orang yang tahu selain kami berdua. Dan sekarang Mas Arlan sudah mendapatkan pekerjaan baru.
Dan aku juga tidak ingin, masalah rumah tanggaku dicampuri oleh orang lain, meskipun itu orangtuaku sendiri. Mau bagaimanapun, aku harus tetap menjaga privasi dan kehormatan suamiku. Jadi, aku bersikap sebaik mungkin dalam menghadapi ayah dan ibuku. Disisi lain, aku tidak ingin ayah ataupun ibuku merasa terlalu khawatir kepadaku.
"Kalian udah makan belum?" tanya ayahku.
"Sudah, Pa. Tadi sebelum dhuhur hehe," jawab Mas Arlan.
"Lho, kok sebelum dhuhur? Ini aja udah jam satu. Udah lama dong?"
"Iya, Pa. Biar nggak bentrok sama jadwal ibadahnya."
"Kami aja belum makan lho Kalian udah rajin, itu badannya malah sama-sama subur hehe."
"Alhamdulillah, Pa. Berarti emang cocok, Pa."
"Sama itunya ya? Haha."
Aku menatap kedua pria tersayangku itu. "Papa, Mas Arlan!" seruku.
"Nih pada aki-aki, ngomongin nggak jelas, awas aja!" tegas ibuku.
Kak Febi pun hanya tertawa dibuatnya. Mungkin seperti itulah obrolan para pria, bahkan mereka tetap melanjutkan selepas ibuku bersama Selli dan Kak Febi berlalu ke dapur. Meski dengan bahasa yang ambigu dan halus, tetap saja terdengar menggelikan di telingaku. Sesekali aku mencubit lengan Mas Arlan agar ia berhenti. Ayahku pun malah tertawa tiada henti.
Sampai akhirnya, aku mengikuti langkah para wanita ke belakang. Biarlah, kedua pria tersayangku itu saling berkelakar. Dengan begitu, keduanya bisa saling akrab satu sama lain dan aku tenang. Sedangkan aku akan membantu para wanita dalam menyiapkan makan siang.
"Ma, hari ini masak apa?" tanyaku kepada ibuku sesampainya di tempat yang dituju.
"Alhamdulillah ya? Kamu pulang pas banget, Mama masak yang enak-enak," jawab ibuku. "Jadi, Mama nggak malu sama menantu dan cucu."
"Berarti hidungku hidung kucing, Ma."
Kak Febi terkekeh. "Sekalipun hidung kucing, emang bisa aromanya nyampe sana, Fann?" tanyanya.
"Bisa aja, Kak. Kan dengusnya pake feeling hehe."
"Haha... ada-ada aja kamu, Fann. Bantuin gih, taruh diatas meja makan."
"Oke."
Aku yang sedari tadi hanya diam, kini mulai bergerak menghampiri kakak iparku. Aku menerima dua piring lauk pauk, berisi ikan goreng beserta lalapannya. Aku menatap ibuku yang tengah asyik membuat sambel sembari bercengkerama dengan Selli. Ternyata beliau sudah seingin itu memiliki seorang cucu. Meskipun, hubungan beliau dan Mas Arlan belum bisa dibilang baik, namun beliau tidak sekalipun memasukkan Selli seperti orang asing.
Yah, ibuku memang seperti itu, galak seperti harimau, namun hatinya selembut sutera. Beliau begitu pengasih dan bisa menempatkan sesuatu dengan baik. Tipe orang yang blak-blakan namun tetap ada kepedulian. Mungkin, bisa dibilang terlalu gengsi dalam menyampaikan perhatian, dan malah menyampaikannya dengan sedikit mengesalkan. Aku tetap menyayangi beliau sepenuh hati, bahkan melebihi rasa cintaku terhadap orang lain.
"Selli ini umurnya berapa, Fann?" tanya beliau kepadaku.
"Kayaknya udah mau enam tahun kayaknya sih. Pokoknya setelah ini masuk SD," jawabku.
"Yah, udah lamayan gede buat punya adik lagi."
"Iya, Ma. Semoga aja."
"Tapi kamu sendiri nggak apa-apa kan, Sayang?"
"Aku baik-baik aja kok, Ma. Mas Arlan juga perhatian banget, tapi emang Fanninya yang ndableg."
"Syukur deh. Beberapa hari ini, Mama juga ngerasa kayak nggak enak perasaannya. Mama takut kamu disakitin orang lain lagi. Sejauh apapun perubahan kamu, Mama tetep enggak tenang setelah semua masa lalu kamu yang terjadi, Sayang."
__ADS_1
"En-enggak kok, Ma. Aku nggak apa-apa. Mama nggak perlu khawatir."
Mungkin aku bisa menyembunyikan beberapa hal dari ibuku. Namun, pada kenyataannya seorang ibu selalu peka atas apa yang dialami oleh anaknya. Dan sebenarnya, diriku memang telah disakiti oleh kerabat Mas Arlan, tapi tidak mungkin aku katakan. Selama ini, aku selalu menampakkan wajah baik-baik saja dihadapan Mas Arlan. Jadi, tidak mungkin aku biarkan kalau sampai ibu dan ayahku tahu.
Dibalik itu, sebenarnya tangan yang mendarat keras di pipiku dan juga kalimat manusia besar yang dilontarkan oleh ibu dari Riska masih sesekali terngiang di telingaku. Membuatku semakin tahu, kalau sejak awal kehadiranku tidak diterima oleh mereka. Namun, semua serba terpaksa karena Mas Arlan begitu menginginkanku. Pada akhirnya, dirikulah yang membawa Mas Arlan keluar dari keluarganya sendiri. Apa aku termasuk berbuat kesalahan? Aku hanya ingin Mas Arlan beristirahat saja setelah sekian tahun mengalami penderitaan.
"Fanni. Minta tolong panggilin Papa dan Mas-mu ya? Makanannya udah siap," pinta Kak Febi.
"Iya, Ka," jawabku.
"Makasih."
"Sama-sama."
Aku berjalan ke depan lagi untuk memanggil Mas Arlan dan juga ayahku, lantaran makan siang sudah siap. Ah... sepertinya aku harus makan dua kali dalam rentang waktu tiga jam saja. Bagaimana kalau berat badanku naik lagi? Tapi, aku tidak enak hati kepada ibuku, karena aku jarang pulang. Masa' sekalinya datang tak mau makan. Baiklah, lagipula bukan sesuatu yang merugikan.
"Pa, Mas, udah siap," ujarku.
"Iya, Sayang," jawab Ayahku dan Mas Arlan secara bersamaan. Keduanya pun saling berpandangan lalu tertawa.
"Kompaknya haha," ujarku seolah merasa senang karena memiliki dua pria yang menyayangiku. Tidak! Ada satu lagi yaitu Kak Pandhu.
Kemudian kami melangkah ke belakang lagi, tepatnya ke meja makan. Sesampainya disana, kami duduk bersama untuk bersantap siang. Tentunya dengan Mas Arlan yang ada disampingku.
"Nih, buat yang lagi hamil," ujar ibuku sembari menuangkan nasi ke dalam piring Kak Febi.
"Makasih, Ma," jawab Kak Febi.
"Ini buat yang baru, biar tambah subur terus bisa isi." Ibuku berganti menuangkan nasi ke dalam piringku. Dan tak kusangka ke dalam piring Mas Arlan juga.
Wow! Satu level baru untuk Mas Arlan.
"Nenek, Selli juga mau. Tapi dicuapin sama Mama Fanni ya?" celetuk anak gadisku.
"Biar Fanni aja, Ma." Aku meminta kepada ibuku.
"Udah kalian makan aja. Jarang-jarang cucu Mama ada disini."
"Tapi Ma-"
Ayahku meletakkan jari telunjuk diatas hidung beliau. "Sssstttt... turutin aja apa kata Mama kamu."
"Iya, Pa. Yaudah kalau gitu."
Akhirnya aku yang mengalah, meski tidak enak hati lantaran ibuku harus bersantap sendiri sembari menyuapi Selli. Namun, sepertinya beliau terlihat begitu bahagia. Lantas, aku tersenyum lalu menatap suamiku. Mas Arlan pun begitu terharu, seolah ingin menitikkan air mata bahagia. Aku rasa, ia sedang tidak menyangka bahwa kebahagiaan keluarga didapatkan disini. Atau ia sedang merindukan sang ibu yang notabene adalah mertuaku juga. Aku hanya bisa mengusap pundaknya dengan lembut, sampai ia tersadar kembali dan memulai bersantap.
Celoteh hangat saling dilemparkan meskipun setiap lidah masih sibuk menelan makanan. Bahkan beberapa nasehat untuk kami, selalu ibuku berikan. Semua terasa mengasyikkan, sampai mampu menghilangkan segala risau hatiku maupun Mas Arlan, mungkin. Walaupun hanya sementara waktu karena esok hari sudah berjibaku.
****
Sampai selang beberapa waktu kemudian, sekitar satu setengah jam kami di rumah ini. Sudah mau ashar saja. Dan kini kami sedang berada di ruang keluarga, kecuali Kak Febi yang sudah cukup kelelahan karena perutnya yang sudah membesar. Namun, sepertinya aku dan keluarga kecilku harus segera pamit pulang demi membayar hutang kepada si kecil Selli. Aku pun memberikan isyarat mata kepada Mas Arlan. Beruntungnya ia tahu akan maksudku.
"Ma, Pa, udah sore. Tadi Selli ngajak main, jarang diajak main soalnya hehe. Jadi, Arlan harus pamit," ujar Mas Arlan begitu hati-hati.
"Hmm... padahal baru dua jam disini, belum nyampe malah. Masa' udah buru-buru, emang nggak salat dulu sekalian?" tanya ibuku.
"Masih lama, Ma. Ini juga mau hemat waktu, besok Selli sekolah. Nanti salatnya mampir masjid aja."
"Yaudah kalau gitu, yang penting kalian hati-hati di jalan. Jangan sampai anak kekurangan kasih sayang, walaupun masih sama-sama kerja."
"Iya, Ma. Arlan juga minta do'a buat ke depannya. Terutama soal momongan lagi."
"Iya, itu pasti Mama dan Papa berikan. Yang penting kamu bisa jaga Fanni dan Selli dengan baik. Tapi, kalau salah ya jangan sungkan buat ngingetin."
"Iya, Ma."
__ADS_1
Mas Arlan menghampiri ibuku kemudian mengecup punggung tangan beliau menggunakan dahi, kemudian disusul ayahku. Aku dan Selli pun melakukan hal yang serupa secara bergantian. Setelah itu, ayah dan ibuku mengantarkan kami sampai ke depan rumah.
"Hati-hati kalian. Sering-sering pulang kesini, biar Mama nggak manyun lagi," ujar ayahku.
"Iya, Pa. Fanni pulang dulu ya? Salam buat Kak Febi dan Kak Pandhu," pamitku.
"Iya, nanti Papa sampaikan."
Setelah itu, kami bertiga masuk ke dalam mobil. Mas Arlan melaju mobilnya perlahan dan kemudian semakin cepat meninggalkan kediaman orangtuaku. Dengan membawa sejumlah do'a yang selalu dipanjatkan oleh keluargaku. Kata orang do'a orangtua itu memang sangatlah mujarab, mungkin ini salah satu alasan Mas Arlan ingin berkunjung ke rumah mertua. Karena, Ibu Darsi sangat sulit dihubungi.
Helaan napas terdengar dilakukan Mas Arlan. Didalam tangannya yang tengah mengemudi, ia terdiam seribu bahasa. Aku tidak tahu pasti apa yang ia pikirkan. "Mas, kenapa? Tumben diem? Biasanya usil?" tanyaku kemudian.
Mas Arlan menoleh ke arahku secara sekilas. "Nggak, Dek. Hehe," jawabnya.
"Kenapa???"
"Emm... Mas sedikit merasa bersalah sama orangtua kamu, Dek."
"Kenapa emang?"
"Mas belum bisa bahagiain kamu. Dan malah bikin repot kamu."
"Ya Allah, Sayang. Repot apa sih? Ya ampun, aku kan istri kamu. Pasti kamu agak kesindir soal ucapan Mama yang suami harus cari nafkah ya?"
Mas Arlan mengangguk. Sedangkan aku tertawa. Dan pada akhirnya dugaanku memang benar. Apakah seorang suami memang merasa risau tatkala mendapatkan ucapan seperti itu dari seorang mertua? Apapun itu, aku merasa senang karena Mas Arlan bukan hanya memikirkan diriku saja. Melainkan juga kebahagiaan kedua orangtuaku yang memang bertumpu pada hidup anak-anak beliau.
"Nggak apa-apa dipikirin, Mas. Tapi jangan jadi beban ya? Kamu harus berusaha untuk menyatukan dua keluarga juga, dan pasti itu sangat berat. Selama kamu dan Selli ada disisiku, aku selalu bahagia. Iya kan, Selli?" ujarku.
"Iya, Mama. Papa nggak boleh sedih-sedih," jawab gadis kecil itu.
Lantas, Mas Arlan kembali menyunggingkan senyuman manisnya. "Kalian memang bidadarinya Papa. Setelah ini kita buat sang pangeran ya, Dek?"
"Pa-pangeran?"
"Anak laki-laki hehe."
"Ya belum bisalah."
"Seperti kata Kak Febi tadi, Dek."
"Oh... emang kamu denger?"
"Denger dong hehe. Itu kan sesuatu yang penting."
"Hmmm... terus kalau dapet anak cewek lagi, gimana?"
"Berusaha dulu, Dek. Biar komplit, kalau anak cewek juga nggak apa-apalah. Tapi, abis itu kita coba lagi sampai jadi, meskipun harus melewati tujuh anak. Ya?"
"What?! Tujuh anak? Tambah Selli? Delapan dong? Gila!"
"Banyak anak banyak rezeki, Dek. Hahaha."
Aku menggelengkan kepalaku sembari menatap Mas Arlan dengan nanar. Berharap Selli tidak mengerti tentang maksud kami. Tujuh anak lagi? Itu doyan apa bagaimana? Meskipun, dijaman dulu merupakan hal biasa, namun untuk diriku sepertinya tidak akan sanggup. Yah, maksimal dua anak lagi, itu sudah cukup.
Sepanjang perjalanan aku terus terbayang akan angka tujuh. Bahkan saat kami mampir disalah satu masjid untuk Mas Arlan dan Selli mampir beribadah. Diriku terdiam didalam mobil sembari berfantasi akan bayangan angka tujuh. Jika itu terjadi, otomatis kami memiliki anak delapan orang dan pastinya akan ramai sekali. Entah bercanda atau serius, intinya aku terus terbayang-bayang tidak menentu. Belum lagi aku harus melahirkan sebanyak itu. Ibuku saja hanya memiliki dua anak.
Oh.... kayaknya gue nggak sanggup deh. Dua lagi aja, titik! Lagian Mas Arlan udah tua, ya kan? Gue juga udah makin tua. Yang ngurus mereka entar siapa coba? Suami gue, kenapa seliar itu rencananya?
Lamunanku terhenti tatkala Mas Arlan dan Selli kembali. Kemudian kami, melanjutkan perjalanan ke suatu mall demi menonton film animasi disalah satu bioskop didalamnya. Demi membayar hutang janji kepada anak kami juga. Tentunya ia begitu riang gembira. Ia bahkan tidak merasa mengantuk sedikitpun karena menunggu janji dari orangtuanya. Anak yang lucu.
Semoga Mama cepat memberikan kamu adik ya, Sayang. Tapi jangan tujuh juga, Mama tidak sanggup.
...Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen..
__ADS_1