Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Sayang


__ADS_3

Menatap wajah ibu ketika rindu, adalah obat terbaik yang bisa menenangkan segala resahku. Mau bagaimanapun beliau, bahkan seringnya kami bertengkar, tidak bisa membuatku lalu membenci. Melihat beliau yang mengomel sendiri, kini justru menjadi suatu kebahagiaan tersendiri didalam hatiku. Karena pada dasarnya ungkapan yang beliau katakan untuk menentangka dikala dulu adalah bentuk kekhawatiran atas diriku yang tidak kunjung dewasa.


Pukul setengah satu siang, ibuku terlelap ditidur siang. Tanpa se-pengetahuan beliau, aku berjalan masuk ke dalam kamar yang pintunya tidak terkunci. Aku tertegun sebentar pada saat melihat beliau tengah terpejam bersama dengkuran pelan. Hatiku bagai terhenyak tatkala mendapati tubuh beliau yang semakin merenta. Sampai-sampai air mataku mengalir membasahi pipiku. Entah mengapa aku bisa melankolis seperti ini. Mungkin hanya rindu akan masa kecilku bersama beliau.


Kemudian, aku memutuskan untuk duduk di tepian ranjang beliau. Kupastikan jika hembusan napas beliau masih ada dari dalam tubuh beliau. Terkadang aku terlalu takut jika sesuatu buruk terjadi. Aku tidak pernah ada disisi beliau secara sempurna selepas masa dewasa. Menghilangkan sifat ceriaku diantara keluargaku, lalu pergi untuk tinggal sendiri. Jika membayangkan masa lalu itu, aku sangat menyesal. Bagaimana bisa aku berlaku seperti itu? Padahal ibu dan ayahku selalu ada untukku.


"Mama, maafin Fanni. Sampai sekarang Fanni nggak pernah membuat Mama dan Papa bahagia. Bahkan udah mau jadi ibu, Fanni masih kayak gini aja." Selepas mengatakan itu, aku berdiri lagi. Perlahan beringsut mundur dan berbalik mengambil langkah keluar dari kamar ini. Tidak lupa kuusap air mataku yang mengalir agar Mas Arlan tidak khawatir.


Sedangkan Kak Pandhu dan anak istrinya belum kunjung pulang. Sepertinya mereka akan menginap di tempat orang tua Kak Febi. Berarti hanya tinggal ayah dan ibuku malam nanti. Kasihan, meski hanya ditinggal sebentar pasti keduanya merasa kesepian. Seandainya masih pasangan muda, pasti sudah bermesraan berdua. Hanya saja, usia mereka rasanya agak aneh jika melakukan hal itu. Terlebih ibuku adalah seseorang yang gengsinya luar biasa besar.


Aku menghela napas dalam, kemudian tersenyum tipis melalui bibirku. Kulanjutkan langkahku yang sempat terhenti. Pada ruang keluarga, kudapati Mas Arlan tengah memangku Selli yang sedang tertidur pulas. Jam-jam sekarang memang teramat menggiurkan untuk tiduran. Namun aku tidak ingin, karena ada suami yang perlu aku temani untuk berbincang. Ibadah dhuhur pun sudah kami laksanakan, makan siang juga sudah, alhasil kini tinggal bersantai di rumah ini sebelum pulang. Maksudku, jika tidak memutuskan untuk menginap malam ini. Yah, sesuai Kak Pandhu nanti.


Aku mengambil posisi duduk lesehan di samping Mas Arlan. Ia pun membantuku untuk memposisikan diriku dengan nyaman. Aku tersenyum sebagai ucapan rasa terima kasihku kepadanya. "Tidurin Selli dulu, Mas. Bekas kamar aku masih bersih kok," ujarku.


Mas Arlan hanya tersenyum tipis. "Disini aja, Dek. Ini kasur lantainya empuk kok. Tapi, Mas boleh ambil bantal, kan?" tanyanya.


"Boleh, ambil aja. Yaelah, kayak dimana aja lho kamu ini."


"Mas itu orangnya pemalu, Dek."


"Hilih, malu-maluin yang ada."


"Hmm ... dasar si istri!" Ia mencubit hidungku yang panjang sampai memerah ujungnya. Membuatku merasa sedikit kesakitan. Dasar Mas Arlan! Selanjutnya, ia berdiri dari duduknya setelah meletakkan tubuh Selli di pangkuanku dan melangkah menuju kamar lamaku untuk mengambil bantal.


Kubelai halus rambut Selli, wajahnya cantik dan imut sekali. Perlahan aku sadari bahwa putriku satu ini semakin tumbuh besar. Ujung kakinya yang dulu dekat, kini jauh dari pandanganku. Menandakan bahwa ia sudah tumbuh lebih tinggi. Anakku yang pintar, anakku tersayang.


Nia, kamu udah nggak buang anak kamu lagi sekarang. Aku janji akan merawat Selli secara adil bersama anakku nanti. Semoga Nia juga mendapatkan kebahagiaan hidup disana. Dia udah nggak salah untuk sekarang.


Mas Arlan yang datang sontak membuyarkan lamunanku. Ia membawa dua bantal ke tempat ini. Menghampiriku lagi dengan senyuman yang selalu manis nan tampan. Diambillah tubuh Selli secara perlahan, ia menidurkan Selli dengan posisi yang nyaman. Sungguh seorang ayah yang sangat perhatian. Wajar saja, ia sudah cukup tua. Mungkin dimasa muda labil seperti diriku. Kebahagiaan yang ia raih terbilang agak terlambat, namun juga belum terlambat. Entahlah, aku bingung sekali untuk menjelaskan.


"Nih buat kamu, bobo' gih," ujarnya sembari memberikan satu bantalnya untukku.


Aku bergeleng kepala sembari memberikan penolakan, "nggak mau, Mas. Dipake kamu aja."


Dahi Mas Arlan mengernyit seketika. Mungkin heran, pasti sebentar lagi akan memberikan omelannya untukku. Benar saja. "Kamu tuh hamil, perutnya udah besar. Harus istirahat, Dekku Sayang. Nanti pegel-pegel tuh punggungnya. Udah rebahan sini, nurut gih sama suami."


"Nggak mau."


"Dek?"


"Apa?"


"I love you."


"Hilih."


"Apaan sih hilih?"


"Halah!"


"Hmm ...."

__ADS_1


"Gini lho, Mas. Coba gih tiduran, terlentang tapi." Kuhimbau Mas Arlan untuk menuruti perkataanku.


Meski sedikit bingung, ia tetap mengikutiku. Setelah ia merebahkan diri dengan nyaman, aku langsung merebahkan kepalaku di perutnya yang kuat itu. Ia pun tertegun sebentar saat melihatku. Namun kemudian tersenyum sembari memberikan ibu jarinya untukku. Bisa dibayangkan posisi manis kami, bukan? Jika biasanya pangkuanku menjadi bantalan empuk untuknya, maka sekarang perutnya yang menjadi bantalan untuk rebahanku.


Kemudian, aku sedikit memiringkan badan dengan nyaman. Lebih tepatnya menghadap ke arah Mas Arlan. Tanpa membangunkan dirinya, ia melipat bantal tersebut sekali. Aku rasa, supaya lebih tinggi dan tentu saja agar leluasa untuk menatap sang istri yaitu diriku. Senyum, ya selalu senyum itu yang ia berikan kepadaku. Sangat indah, begitu menawan hatiku.


"I love you to, Mas." Kuberikan jawaban cinta untuk perkataannya yang sempat ia katakan tadi.


Mas Arlan mengerucutkan bibirnya. Bukan kesal, namun lebih ke arah menggodaku. Kemudian, tangannya bergerak membelai rambutku. "Kamu cantik, Dek. Kayaknya bener kata Mama, anak kita cewek deh," ujarnya.


"Hmm ... emangnya ngaruh ya, Mas?"


Mas Arlan memberikan anggukan pelan. "Iya, Sayang. Kata para orang tua sih. Mas juga nggak terlalu paham, nggak tahu mitos doang atau emang ada benernya."


"Lah, kamu kan juga udah tua, Mas. Masa' nggak tahu?"


"Yee ... belum ada lima puluh tahun lho, Sayang. Ya Allah, kamu mah ngatain tua mulu, tapi sayang dan cinta terus. Selera kamu tinggi lho, bisa sama om-om tampan begini."


Sontak, aku memiringkan bibir pada saat mendengar ucapan dari Mas Arlan. Betapa tidak, ia sangat percaya diri bahkan melebihi para artis yang penuh sensasi di negara ini. Membuatku gemas seakan ingin menghabisi wajahnya dengan kecupan ganas. Ah, bukan seperti itu, karena aku bukan orang yang seliar itu. Tapi, ia memang menggemaskan! Aku harus bagaimana? Aku sangat berharap tidak ada wanita lain yang tertarik kepadanya, agar aku bisa memiliki dirinya dengan penuh ketenangan.


"Tidur, Dek. Kamu harus istirahat lho. Sini tidurnya biar lebih nyaman, apa Mas ambilin bantal lagi?"


Aku menggeleng pelan. "Aku mau sama kamu, nggak mau sama bantal, Mas."


"Hmm ... tumben manja gini? Biasanya paling anti deh kamu. Yang ada geli kalau Mas manja-manja gitu."


"Ada kalanya wanita ingin dimanja, Mas. Emang cowok doang apa?"


"Makasih, Mas. Emm ... nginep sini yuk? Kasihan Mama sama Papa, kayaknya Kak Pandhu nggak pulang deh."


"Boleh sih. Nanti Mas ambilin kalian baju ganti. Tadinya Mas mau bilang gitu sama kamu, eh keduluan."


"Ya udah, coba aku tanya Kak Pandhu dulu. Mereka juga jarang pulang ke rumah besannya Mama, kasihan. Biar kita yang jaga disini dulu."


Aku meminta Mas Arlan untuk mengambilkan ponselku yang ia bawa. Dengan tangan kanannya, ia merogoh kantong bagian kanan celananya. Lalu diberikan kepadaku. Tanpa membangunkan diri, aku mulai memainkan jariku di atas layar ponsel milikku tersebut. Kemudian, aku mengirimkan sejumlah pesan singkat kepada Kak Pandhu.


Cukup lama setelah mengirim pesan, tidak kunjung dibalas oleh kakak lelakiku tersebut. Aku cemas jika ia sudah dalam perjalanan pulang. Aku berharap tidak, karena mau bagaimanapun mereka juga harus menyempatkan waktu di rumah orang tua dari Kak Febi. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan panggilan kepadanya.


Akhirnya, setelah lima kali, panggilanku diangkat oleh Kak Pandhu. "Halo, Dek. Kenapa? Kangen sama Kakak?" tanyanya dari kejauhan sana bersama rasa percaya diri yang sangat tinggi.


"Nggaklah, ngapain kangen Kakak. Orang ada laki-laki lain yang lebih tampan, yaitu Papa dan Mas Arl-- , ah! Udahlah, kemana aja baru diangkat?" tanyaku kembali. Pipiku dicubit oleh suamiku lantaran tidak menyebut namanya sampai tuntas, aku terlalu malu untuk mengatakannya. Sungguh!


"Emm ... benerin barang Mama mertua, Dek. Agak sibuk, kenapa?"


"Apaan? Mesin cuci Mama aja nggak dibenerin kok! Dih, pilih kasih."


"Haduh, iya ya. Lupa lho. Tapi itu mesin udah rusak parah, banyak lubangnya. Entar Kakak ganti yang baru aja."


"Nggak perlu, udah dibeliin suamiku. Ingetin, baru geh inget. Dasar! Jangan pulang deh malem ini."


"Lho, lho, kok kamu yang ngambek? Pake ngelarang pulang lagi."

__ADS_1


"Iya, maksudnya Kakak dan anak istri nginep situ aja. Bawa baju ganti, kan? Jauh kalau mau balik. Satu jam setengah baru nyampe katanya."


"Ada sih baju ganti. Tadi pagi kan mendung, jadi bawa. Tapi kasihan Mama sama Papa lho. Kamu dimana emang? Mau nemenin mereka."


"Oh, aku udah disini kok. Mau nginep kalau Kakak nggak pulang. Tenang aja kami yang jagain, Papa juga masih di toko. Udah ya, pulsaku habis nih."


"Halah! Mana ada whatsApp, pake pulsa. Ada juga kuota unlimited."


"Tahu aja loe, Kak. Udah ah, bye. Assalamu'alaikum."


Kumatikan panggilan tersebut, bahkan sebelum Kak Pandhu menjawan salamku. Kuletakkan kembali ponselku pada samping tubuh Mas Arlan. Kembali kufokuskan pandanganku ke arahnya, meski tidak ada perbincangan yang hadir diantara kami. Namun belaian halus di rambutku, belum juga ia hentikan. Ah, aku menjadi semakin sayang kepadanya.


Suara denting jam bergabung menjadi satu dengan dengkuran dari Selli. Udara sejuk yang menyeruak masuk melalui jendela yang terbuka benar-benar memberikan kesegaran. Meski langit masih saja mendung, hari ini sang mentari sangat malu-malu sekali.


"Emm ... Dek, Mas ke tempat Papa ya? Mau bantu dikit disana," celetuk Mas Arlan soal niatnya.


"Emang kamu bisa bikin roti? Nanti berantakin doang lagi," candaku.


"Ya, belajar atuh, Sayang-ku. Nggak enak sama Papa, masa' Mas malah mesra-mesraan begini sama kamu."


"Ih, tapi aku masih pengen sama kamu."


"Hmm ... ya jangan sekarang dong, Dek. Nanti malem aja, asal Selli nggak lagi sama kita."


"Maksud kamu? Apaan sih? Sama kamu doang, Mas. Bukan hal yang lain, ih. Ngeres aja pikirannya!"


Mas Arlan terkekeh. "Ya, kalau cuma kita berdua pasti terjadi dong, Dek. Mas nggak jamin enggak, pasti begitu. Kamu terlalu sexy buat dianggurin. Apalagi ibu hamil itu tambah menggoda lho."


"Apaan sih, ah?! Udah sana deh, bantuin Papa. Heran aku, kalau lagi sama aku yang dibahas gituan mulu. Gimana kalau Mama denger."


Sekali lagi, ia terkekeh. Sedangkan diriku sudah mengomel dan memanyunkan bibirku. Kembali lagi, aku membangunkan diriku secara perlahan, tentunya dengan bantuan Mas Arlan. Meski agak tidak rela, akhirnya aku memutuskan untuk menyetujui niat baiknya demi membantu pekerjaan Papa. Entahlah, rasanya hari ini aku sangat ingin sekali dimanja. Namun ini di rumah orang tuaku, pasti tidak akan bebas seperti di rumah sendiri.


Kemudian, aku meminta agar Mas Arlan memindahkan tubuh Selli didalam kamar lamaku. Lagipula disana selalu bersih dan masih rajin dirawat oleh Ibuku atau mungkin Kak Febi. Ranjangnya masih empuk untuk direbahi, pastinya akan lebih nyaman daripada disini. Dengan langkah pelan, kami mendatangi kamar tersebut bersama Selli yang tengah digendong oleh Mas Arlan.


Sesampainya disana, Mas Arlan meletakkan tubuh Selli perlahan agar tidak terbangun. Kasihan, biarlah ia tidur dulu dengan nyenyak. Setelah itu, Mas Arlan merapikan pakaiannya. Lalu menghampiriku. Dikecupnya pipi, kening dan bibirku. Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali.


"Hati-hati di jalan. Inget, jangan ngerecokin Papa. Bantuin yang bener ya, Sayang," ujarku sembari merapikan kerah kemeja berlengan pendek yang ia kenakan.


"Iya, Sayang. Siap kok, nanti Mas langsung mampir rumah ambil salin. Kamu nitip apa? Baju yang mana?"


"Yang daster aja, Mas. Lagian buat tidur doang kok. Sama pakaian wajibnya, kalau Selli piyama hangat ya? Meskipun AC-nya dimatiin, disini dingin. Mungkin pekarangan Papa banyak tanemannya."


"Oke, siap, Bu Bos! Oh iya, nanti Mas juga sekalian mampir ke toko elektronik. Jadi habis maghrib baru bisa balik. Ya, seenggaknya bisa bantuin Papa nyampe ashar. Terus sekalian beli mesin cuci, daripada besok-besok, entar malah lupa. Kasihan Mama nyucinya berat."


"Iya, iya, sip. Aku manut. Emm ... love you, hati-hati di jalan."


"Love you to, Dek. Kamu juga ikut tidur ya? Mumpung belum mau ashar. Istirahat, kasihan si Dede'."


Kuanggukkan kepalaku. Sekali lagi, ia memberikan kecupan manis di seluruh wajahku. Setelah puas, Mas Arlan berbalik dan melangkah untuk menuju luar sana. Namun aku mengikutinya dari belakang lantaran teringat akan pintu. Kalau bukan diriku, lalu siapa yang akan menutupnya?


Bersambung ....

__ADS_1


Budayakan lagi like+komen ya.


__ADS_2