Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Gelisah


__ADS_3

Entah berapa panggilan video call itu berlangsung, aku bahkan tak ingat karena ketiduran. Mungkin Mas Arlan telah berbangga hati, karena perkataannya terkabul. Sesuai karakternya yang usil, Mas Arlan berbuat iseng lagi. Ia mengirimkan beberapa foto screenshot yang tergambar wajahku yang sedang terlelap. Beruntungnya selimut tidak terlepas dari separuh wajahku sama sekali.


Dan kini, waktu sudah berselang lagi. Malam berikutnya telah tiba. Aku tidak lagi di rumah orangtuaku, melainkan apartemenku sendiri. Mungkin jam masih menunjukkan setengah tujuh. Lalu aktivitas harian masih saja sama, bekerja dengan atasan tampan yang sangat luar biasa. Sepulangnya, aku telah bebersih diri dan lain sebagainya.


Malam ini, aku menantikan janji yang telah diucapkan oleh Mas Arlan. Katanya, ia akan datang demi melepas rindu yang sudah membelenggu. Aku masih tidak tau, apakah mengajak Selli atau tidak. Tapi aku rasa tidak, karena rintik hujan sedang melanda kota ini.


Demi tampil sebaik mungkin, aku sudah berias serapih mungkin. Bahkan aku sengaja memakai korset perut, supaya lipatan lemak tidak terlihat. Yah, semua kulakukan agar terlihat lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Dan, aku rasa yang berlaku seperti ini bukan aku saja. Mungkin ada beberapa orang yang ingin tampil prima dihadapan calon suami. Yang cantik saja, kadangkala kurang percaya diri. Apalagi, hanya seorang aku.


Sembari menunggu bel pintu berbunyi, aku berbaring diatas ranjangku terlebih dahulu. Kulayangkan pandang keluar, tepatnya dijendela kaca yang tengah terbuka. Hujan semakin lama semakin deras. Ada gelisah hati tersendiri, bagaimana kalau Mas Arlan tidak jadi datang?


Hmm... dia kan pake mobil. Tidak mungkinlah kalau tidak datang.


Batinku menyakini Mas Arlan akan tetap datang. Sebenarnya ada rasa iba dan tidak tega kepadanya. Bahkan aku sudah mengirim pesan singkat untuk menunda kedatangannya malam ini. Namun, ia belum juga membalas sejak tadi. Tentu saja rasa gelisah semakin bergelayut asyik didalam dasar hati. Aku khawatir terjadi sesuatu kepada dirinya. Harapanku, semoga saja tidak. Kalau ia memang datang, semoga saja sampai ditujuan dengan selamat.


Namun, waktu semakin berlalu. Sudah pukul setengah delapan, yang artinya satu jam setengah sudah berlalu. Aku semakin gusar dibuatnya. Mas Arlan tak kunjung sampai, bahkan pesan dariku belum dibalas sama sekali. Beberapa kali kucoba menelepon, namun tidak diangkat. Getir dan gelisah dalam hati semakin menjadi-jadi. Diriku tak lagi nyaman untuk berbaring di ranjang, sampai akhirnya aku beranjak turun dan mondar-mandir bingung.


Mas Arlan, kamu dimana?


Aku mulai menerka-nerka sesuatu yang aneh-aneh. Bagaimana, kalau Mas Arlan kecelakaan? Atau, bagaimana kalau Mas Arlan ada masalah lain? Ia kemana sebenarnya? Begitulah berbagai macam pertanyaan yang terus muncul dan terulang dari dalam benakku.


Tiba-tiba bel pintu yang berbunyi thing-thong, akhirnya terdengar oleh pendengaranku. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berlari menuju daun pintu berada. Setelah sampai, aku buka perlahan benda tersebut. Alangkah terkejutnya diriku, saat mendapati kekasihku sedang basah kuyup. Berbeda denganku, Mas Arlan malah cengar-cengir seperti biasanya. Bahkan ia hendak bergerak memelukku.


"Basah kayak gini! Enak aja mau peluk-peluk!" ujarku sembari memundurkan langkahku darinya.


Mas Arlan hanya tertawa. "Dingin lho, Dek," jawabnya. "Peluk sini."


"Nggak mau, lagian darimana aja sih sampai sebasah ini? Udah, masuk dulu deh."


Mas Arlan mengikuti langkahku untuk masuk kedalam ruangan apartemenku. Dalam kondisi yang seperti itu, aku sendiri merasa iba. Entah, apa saja yang ia lakukan, padahal menggunakan mobil bukan sepeda kotor. Mana mungkin, atap mobilnya bocor.


Seperti biasa Mas Arlan segera duduk di sofa. Sedangkan aku bergerak menuju dapur guna membuatkan minuman hangat untuknya. Aku rasa kopi susu adalah minuman yang paling tepat, ditambahkan dengan cemilan biskuit yang aku punya.


Setelah selesai membuatkan minuman untuk Mas Arlan, aku menyajikannya dihadapan kekasihku tersebut. Kutatap haru kepada kekasihku itu, ia tengah mengepalkan kedua telapak tangannya dengan gemetar karena dingin. Lalu, aku berencana mengambilkan pakaian ganti untuknya. Lagipula, kaos yang kumiliki lumayan besar dan mungkin saja masih muat untuk dipakai olehnya. Tanpa pikir panjang lagi aku segera mengambil langkah untuk menuju almari pakaianku.


Setelah sampai disana, aku mulai memilih baju yang mungkin pas untuk Mas Arlan. Namun, tiba-tiba saja otak isengku mulai muncul tatkala melihat kaos biasa berwarna pink. Aku langsung menarik pakaian tersebut, gambar yang terpampang di kaos tersebut adalah Hello Kitty. Aku jadi penasaran, bagaimana jika Mas Arlan memakainya?


"Mas ganti ini dulu bajunya, ya?" ujarku kepada Mas Arlan, sesaat setelah sampai dihadapannya kembali.


Mas Arlan mengambil kaos tersebut. Lalu dilihatnya sekilas. "Hahaha... kamu mau ngerjain Mas, Dek? Emang nggak ada kaos lain apa?" tanyanya.


"Nggak ada, udah pake aja daripada masuk angin lho. Aku nggak mau tanggung jawab."


"Yah, Dek. Masa' seimut ini kaosnya?"


"Jangan protes sih, Mas. Pake aja napa? Anggep aja tantangan dari aku gitu."


"Hmm... susah ya punya pacar iseng itu. Sekalinya ditolak nanti malah ngambek. Yaudah, siapa takut."


Aku terkejut bukan kepalang dan sontak membalikkan badan, saat Mas Arlan membuka bajunya tepat dihadapanku. "Gantinya jangan disini!!!"


"Yaelah Dek, Mas kan cowok. Bukan aurat kali," jawabnya tanpa rasa bersalah.


"Tetep aja nggak sopan!"


"Hahaha... biar nanti kalau udah nikah, kamu nggak kaget lho. Coba madep sini."


"Isshh... aneh! Abis ini bajunya taruh di mesin cuci aku aja. Biar sekalian aku cuci."


Aku segera mengambil langkah untuk meninggalkan Mas Arlan. Jantungku belum siap menyaksikan pemandangan itu. Namun, kuakui benakku masih terbesit bentuk badan Mas Arlan yang bidang dan kekar. Seketika saja jantungku berdegup tidak karuan karena malu sendiri. Mungkin, ini salah satu resiko memiliki pacar seorang duda.


Setelah mendengar langkah Mas Arlan yang melewati kamarku. Aku pikir ia sedang menuju dapur. Ia mengikuti intruksiku untuk menaruh bajunya yang basah di mesin cuci. Aku hanya merasa tidak pantas, jika ia membawa kembali pakaiannya yang sudah basah. Beruntungnya, mesin cuciku telah kosong karena pakaian kotor sudah kucuci. Jadi, tidak ada pakaian yang kurang sopan dilihat disana.


"Mas? Udah selesai?" tanyaku sembari melongokkan kepalaku diantara pintu dan tembok.


"Udah, Dek," jawab Mas Arlan.


Setelah mendengar jawabannya, aku mulai memberanikan diri untuk keluar. Aku bertemu dengannya tepat didepan kamar. Kami berjalan beriringan menuju ruang semula. Setelah sampai disana, kami duduk berdampingan. Kemudian, Mas Arlan meneguk kopi hangat tersebut.

__ADS_1


Aku tertawa diam-diam saat menatap penampilan Mas Arlan saat ini. Ia terlihat imut sekali dengan kaos Hello Kitty tersebut. Namun, sisi menggelikan pun tetap ada.


"Apa?" tanyanya.


"Nggak apa-apa kok," jawabku.


"Aneh sih kamu, minjemin baju secentil ini. Heran deh."


"Hehe... ganteng tauk, Mas."


"Mas emang selalu ganteng kok, Dek."


"Hmm... iya iya percaya."


"Hehe... kangen ya?"


Aku mengangguk saja. Yah, aku memang sangat rindu dengannya. Ingin sekali memeluk erat dirinya, namun aku belum cukup nyali. Berada disampingnya saja, saat ini sudah sangat cukup.


Berbeda denganku yang masih malu, Mas Arlan tidak begitu. Ia semakin mendekatiku, meski kami sudah terbilang dekat. Sontak saja kudorong lagi dirinya, supaya menjauh. Aku tau jika berlaku seperti ini, ia akan berbuat apa.


"Jangan macem-macem! Inget kata mama!" seruku kepadanya.


"Katanya kangen?" tanyanya.


"Yaudah, kan udah ketemu. Jadi udah terobati hehe."


"Hmm..."


"Jadi, Mas Arlan darimana? Jam segini baru sampe?"


"Macet Dek, kalau hujan gini tuh."


"Terus kok bisa basah?"


"Iya, tadi kebetulan ada kecelakaan tepat didepan mobil Mas."


"Bukan Dek. Orang itu kepeleset sendiri, naik motor. Jadi, Mas ya turun terus bantu. Bawa ke rumah sakit. Beruntungnya nggak parah, terus melaju kesini deh."


"Baik banget sih sayangku."


"Kalau baik ada imbalannya ya?"


"Ehh???"


Mas Arlan kembali mendekatkan dirinya kepadaku. Menarik wajahku dengan kedua tangannya. Aku tau ini, pasti sebuah kecupan akan ia lakukan. Dan benar saja, kami jatuh kedalam sebuah keromantisan lagi dan lagi.


Bahkan lebih lama dari sebelum-sebelumnya. Mas Arlan hanya menarik kepalanya guna memberi ruang untukku. Setelah itu, ia mengulanginya lagi. Sialnya, aku tidak bisa menolak. Beruntungnya, ia tidak pernah melebihi garis batas.


"U-udah dong...," ujarku lirih.


Sontak saja, Mas Arlan membuka mata. Ia sedikit menjauh dariku. "Maaf Dek, kelepasan hehe," jawabnya.


"Kan nggak inget kata mama."


"Yah, gimana lagi? Susah kalau udah sama kamu gini."


"Hmm... ma-maluuuuu tauuuukk!!!"


Mas Arlan malah tertawa kencang setelah mendengar ucapanku. Ia tidak peduli dengan diriku yang merasakan degupan jantung semakin tidak menentu. Rona merah mungkin sudah menjalar keseluruh wajahku. Seolah akan meledak begitu saja.


Mas Arlan merengkuh diriku kedalam pelukannya. "Maaf, maaf," katanya.


"Kita kapan nikah, Mas? Aku jadi takut kalau kamu lepas terus," tanyaku.


"Nggaklah, Dek. Mas juga masih punya batasan. Hmm... ngomongin soal nikah, sebenarnya Mas juga udah membahas itu sama mama."


Aku menarik kepalaku darinya. Lalu bertanya, "Jadi?"

__ADS_1


Mas Arlan mengambil posisi tidur diatas pangkuanku. Ia menatapku tajam. "Secepatnya, Dek," jawabnya.


Jika ia hanya mengatakan secepatnya, aku malah merasa ragu. Aku mengartikan kalau itu masih lama dan menunggu masalah perusahaan selesai. Dan tentunya respon kurang baik akan ibuku tunjukkan dengan rasa kecewa. Lalu kapan masalah itu selesai?


Jujur saja, aku sudah mulai jengah. Mas Arlan pasti juga tidak mau mendengarkan usulanku, agar mereka semua bisa berdamai. Aku tahu ini sulit untuknya. Namun jika ia terus memikirkan tentang itu, kapan kami akan menikah? Seharusnya ia tidak perlu terlibat banyak, karena sudah menarik diri dari perusahaan dan menjadi manager biasa.


"Yaudah Mas, terserah kamu," ujarku getir.


"Kamu kecewa, Dek?" tanyanya. Tampaknya ia menangkap raut kecewa dari wajahku.


"Hmm... kalau dibilang kecewa, mungkin ada Mas. Tapi, itu udah hak kamu. Lagian, aku nggak mau mendesak dan menyulitkan kamu, Mas. Tapi mamaku juga udah menunggu lamaran kamu, maaf ya Mas sebelumnya."


Mas Arlan diam seketika. Ia memandang ke langit-langit ruangan ini, dalam posisi yang masih merebah diatas pangkuanku. Tampaknya ia sedang berpikir keras. Sedang, rintikan hujan sepertinya masih saja turun. Hal yang hangat berubah menjadi sunyi seketika.


Seperti yang aku katakan kepada Mas Arlan tadi, sebenarnya aku tidak ingin terlalu mendesaknya. Namun, aku juga harus memikirkan perasaan ibu dan ayahku. Bagaimana kalau kedua orangtuaku kecewa? Sudah ditunggu-tunggu, malah ditunda terlalu lama. Aku sendiri sudah memasrahkan keputusan kepada Mas Arlan, walau kejengahan masih saja mengganggu.


"Mas? Ma-maaf, tapi emang kamu beneran nggak bisa berdamai saja? Ma-maksudku, bukan untuk membela Celvin ya, a-aku cuman nggak mau kamu terlalu lelah karena masalah ini," ujarku lagi.


"Dek, jujur buat Mas itu susah. Walaupun, Mas udah nggak terlalu berpengaruh di perusahaan keluarga. Tapi, mau bagaimanapun namanya darah tidak akan pernah terputus kan? Mas harus bantu perusahaan peninggalan ayah kami," jawab Mas Arlan.


"Oh...,"


"Sekalipun Mas bisa berdamai, tetap tidak akan berpengaruh. Karena semua keputusan ada ditangan ayahnya Riska, sebagai anak pertama."


"Jadi... kita menikahnya juga masih lama ya? Yaudah Mas, aku cuman mau tanya aja kok. Nggak bermaksud maksa kamu."


Kupejamkan mataku untuk beberapa saat. Aku mencoba membuang ego dan rasa kecewaku. Mungkin usia 30 tahun belum menjadi usia bahagia untukku. Aku harus memahami terlebih dahulu dengan masalah keluarga Mas Arlan. Yah, kalau kita saling mencintai pasti bisa saling mengerti bukan?


Aku sendiri tidak tau dengan isi hati Mas Arlan yang sebenarnya. Apakah ia satu pemikiran denganku? Atau masih bersabar untuk menunggu waktu pernikahan yang tepat? Meski, ia sempat mengatakan ingin segera menikah kala itu. Bahkan ia sudah melamarku menggunakan cincin yang tidak pernah terlepas dari jari manisku.


Mas Arlan bergerak membangunkan dirinya. Setelah berada dalam posisi duduk, Mas Arlan meraih telapak tanganku dan diraihnya. Kami saling bertatapan, seolah dipenuhi dengan makna harapan.


"Sayang, kamu jangan khawatir ya?" ujar Mas Arlan.


"Nggak kok, Mas," jawabku.


"Mas juga mikirin usia Mas sendiri, nggak mungkin Mas tunda terlalu lama."


"Iya Mas."


"Senyum dong, biar cantik lagi."


Sunggingan senyum getir aku berikan kepadanya. Kelegaanku akhirnya tercoreng lagi, karena masalah ini. Yah, mungkin kami perlu bersabar lagi.


"Kamu udah makan, Mas?" tanyaku.


"Dek," ujar Mas Arlan tanpa menjawab pertanyaanku. "Mas sayang banget sama kamu, kamu jangan pernah pergi dari sisi Mas ya?"


"Nggaklah Mas, aneh. Kok bisa nanya kayak gitu?"


"Jujur, Mas sedikit trauma dengan masa lalu. Apalagi, calon Mas yang sekarang adalah seorang gadis bule. Jauh lebih muda, Mas takut kamu mengalami puber kedua terus nyangkut sama orang lain."


"Kamu satu-satunya, Mas. Sebelum bertemu kamu, aku selalu takut jatuh cinta. Mas tau kan? Masa lalu aku juga kelam. Mungkin ada orang lain yang bisa nerima aku, tapi aku milihnya kamu. Soalnya kamu adalah orang pertama yang bisa bikin aku berubah menjadi lebih baik."


"Mas janji, Mas akan berusaha buat bahagiain kamu dan Selli. Apapun keadaannya, Mas juga janji dalam waktu dekat akan datang ke rumah orangtua kamu. Mas nggak akan menunda lama lagi pernikahan kita, Mas tidak peduli kalau masalah perusahaan belum juga selesai. Ada saatnya Mas juga harus sedikit egois demi Mas, kamu dan Selli."


"Be-benarkah? Ta-tapi...?"


"Yakin saja ya sayang."


Mas Arlan kembali mencuri kesempatan. Kami jatuh lagi kedalam sebuah keromantisan. Ia mengecup lembut bibirku. Selama mungkin, sampai kami jengah.


Sampai waktu semakin larut. Sehingga kusarankan kekasihku tersebut agar cepat pulang.


Bersambung...


Budayakan tradisi Like+komen...

__ADS_1


__ADS_2