
"Jika kata bibirku menyakiti Ibu, pantas sekali jika aku berdosa akan kedurhakaan itu. Namun, lihatlah dulu. Cinta kami bukan seutas tali yang mudah diputus begitu saja. Cinta kami sepasang hati yang saling memaknai relung jiwa." -Fanni&Arlan.
______________________________________________
Malam gelap yang begitu dingin. Angin sepoi-sepoi masuk melalui jendela kecil yang aku buka. Bola mataku terus melayangkan pandang pada suasana luar. Lalu lalang kendaraan yang terlihat dari lantai atas Apartemenku, masih sangat ramai. Gemerlap lampu-lampu perkotaan terlihat indah bagai kunang-kunang. Beruntungnya tidak turun hujan.
Suasana malam ini, sama sekali tidak menggambarkan suasana hatiku. Aku risau sekali. Masalah restu belum juga mendapat nyala hijaunya. Berbanding terbalik dengan cintaku pada Mas Arlan yang terus tumbuh disetiap detiknya.
Jujur saja hatiku sendu gelisah. Dosa durhaka terus membayangi benakku. Kenangan masa kecil bersama Ibuku membuatku merasa bersalah. Belum lagi beliau selalu setia menemaniku dikala sakit. Sebuah kekhawatiran yang aku artikan sebagai ketakutan akan hinaan yang bisa aku dapatkan lagi.
Apalagi sosok Mas Arlan mulai terlihat tentang siapa dia sebenarnya. Ya! Ia salah satu orang kaya di kota ini, bahkan bisa jadi di penjuru Indonesia. Setelah atau diatas keluarga Sanjaya.
Hal itu membuatku terus berpikir ulang. Apakah aku pantas menjadi istrinya nanti? Darah blasteran tak lantas membuat keluargaku terlihat terpandang. Ekonomi kami masih dalam tingkat sedang bukan elit atas. Lantas, apakah orang tua Mas Arlan bisa menerimaku dengan baik nantinya? Terlebih, aku tidak memiliki keindahan fisik yang sepadan dengan mantan istri Mas Arlan.
Hatiku tak hanya gusar tentang itu saja. Setelah kepulanganku dari rumah Mas Arlan, aku mampir sebentar ke rumah orang tuaku. Menggunakan taksi online, dengan rencana mengambil mobilku. Sebuah tatapan sinis saat itu aku dapatkan dari Ibuku. Hatiku bagai teriris parang bukan lagi belati. Beliau tetap tidak mau bicara, bahkan teleponku tidak diangkat satu kali pun. Sedih sekali, ini lebih sakit daripada kasus pembullyan yang pernah aku alami.
Aku kembali menutup jendela karena udara malam yang semakin menusuk. Apalagi kamarku terpasang AC juga. Kemudian, kulangkahkan kaki menuju ranjangku. Hari ini aku sedang datang bulan, sehingga sedikit nyeri kurasakan dibagian perut dalam.
Kurebahkan tubuhku pada ranjang dengan sedikit aduhan karena nyeri datang bulan. Lalu kuambil ponselku yang tergeletak pada sisi kiri bantal. Kumainkan layarnya, beberapa panggilan suara maupun video tidak terjawab. Semua karena kebiasaanku mematikan nada dering, sehingga tidak membuatku menyadarinya.
Karena merasa bersalah, aku akhirnya memutuskan untuk memanggil video kembali. Pada Mas Arlan tentunya.
"Assalamu'alaikum sayang," ujar Mas Arlan sembari menampakkan paras manisnya pada layar ponselku.
"Wa'alaikussalam Mas," jawabku sembari menutup wajahku dengan selimut dan hanya nampak mata biruku saja. Aku masih malu.
"Buka sih selimutnya."
"Nggak mau Mas."
"Mas kangen Dek."
"Aku nggak kangen tuh."
"Kok video call?"
"Merasa bersalah aja hehe... Selli mana Mas?"
"Jahatnya, Selli udah tidur Dek. Mas pikir kamu juga udah tidur tadi, abisnya nggak diangkat-angkat."
"Belum Mas hehe."
"Udah malem lho sayang."
"Besok libur ini Mas. Kamu lagi ngapain?"
"Mas lagi kangen kamu Dek, emm... maaf ya soal tadi sore."
Blusshh!
Sontak saja wajahku memerah kembali. Padahal aku sudah lupa tentang kejadian romantis tersebut. Sialnya, Mas Arlan mengingatkanku lagi.
Aku tak cukup berani menatap Mas Arlan. Meski hanya lewat layar ponsel. Aku menutup seluruh wajahku, dan membiarkan ponselku tergambar langit-langit kamar. Salah sendiri membuatku menjadi seperti ini.
"Dek??? Halooo?" Panggil Mas Arlan padaku.
"Entar dulu!" Jawabku tegas.
"Kenapa sih? Kok Mas malah suruh liat lampu?"
"Iya bentar dulu, salah sendiri kayak gitu."
"Kan Mas udah minta maaf, ayolah Dek. Masa' sama calon suami sendiri kayak gini?"
"Issshh... iya iya."
Kuambil kembali ponselku. Lalu menampakkan wajahku yang hanya terlihat mata saja padanya.
"Maaf ya?" Kata Mas Arlan lagi.
"Enggak mau maafin!" Jawabku.
"Kok gitu sih sayang?"
"Lagian sembarangan aja sih tadi."
"Mas lupa diri hehe... Maaf ya?"
"Emm... a-aku kan malu, dosa tauk!"
"Mas juga malu hahaha."
"Apaan? Malu kok bisa ketawa gitu?"
"Ya gimana namanya juga khilaf Dek."
"Kayaknya emang nggak boleh berduaan lagi Mas, takut dihasut setan."
"Tapi Mas pengennya berdua terus sama kamu, Dek."
"Terus Selli gimana?"
"Iya sama Selli juga sayang, tapi kan ada waktunya masing-masing."
"Tapi aku nggak mau, pokoknya harus ada Selli kalau ketemu."
"Diatur aja waktunya Dek, kadang berdua kadang sama Selli ya?"
"Nggak mau, harus ada Selli."
"Hmm... iya deh."
"Maaf."
"Kenapa?"
"Aku amatiran."
"Pfftt... hahaha."
"Kenapa ketawa? Lucu ya? Aku kan baru pertama pacaran Mas, Mas kan udah pernah nikah."
"Kamu polos banget hahaha... jadi mau diajarin lagi?"
"Nggak mau!"
__ADS_1
"Iya iya hahaha... udah ah udah malem kamu tidur sana Dek."
"Iya Mas, yaudah matiin ya?"
"Iya sayang, have a nice dream ya. I love you."
"Sama-sama Mas emmm... love you to."
"Apaan? Ulangin."
"Nggak!"
Langsung saja aku matikan panggilan video kami. Aku terlalu malu dan geli pada diriku sendiri. Untuk menjawab ungkapan cinta Mas Arlan saja, membutuhkan segala macam keberanian. Setidaknya, aku berusaha membalas apa yang Mas Arlan katakan. Agar hubungan kami saling menghargai dan juga tidak monoton.
Jika berbicara dengannya membuatku lupa segalanya. Masalah pun seolah sudah berakhir begitu saja. Namun, apa dayaku. Ketika kami saling jauh dan berpisah via apapun, membuatku takut lagi. Semacam perasaan dosa datang bergelayut pada hati.
Aku bisa tertawa bahagia. Lalu bagaimana dengan hati Ibuku sekarang? Kesannya sangat tidak tau diri, aku bisa bahagia diatas penderitaan hati beliau.
"Maafkan Fanni Mama," gumamku pelan.
Kucoba lagi menelepon beliau. Namun tetap sama. Tidak ada jawaban. Sepertinya perkataanku tadi siang sudah sangat keterlaluan. Sial! Kapan semua akan berakhir? Dan kebahagian datang pada hati siapapun.
Sudahlah! Lebih baik tidur pulas. Dengan harapan hari esok datang dengan sebuah keajaiban. Restu Ibu aku dapat. Meski semua mustahil sekali, jika secepat itu. Tapi sekali lagi, kekuasaan Yang Maha Kuasa tidak ada yang mustahil.
Drrrttt... Drrrtttt.... Drrrttt...
Apa boleh buat. Kutunda tidurku lagi. Ponselku bergetar menandakan seseorang sedang menelepon. Ingin rasanya kuabaikan. Namun hati tetap penasaran.
Aku pikir dari Mas Arlan namun sayangnya bukan. Bukan Ibuku pula melainkan atasan tampanku, Celvin. Ada apa gerangan? Malam-malam begini menghubungiku. Lalu segera kuangkat dengan menekan tombol hijaunya.
"Halo," sapaku padanya.
"Hai Fann, udah tidur ya? Maaf ganggu malam gini," jawab Celvin.
"Belum kok, kenapa Pak emm... Vin? Ada kabar kerjaan?"
"Nggak ada sih, lagi bosen hehe."
"Oh..."
"Ganggu ya?"
"Nggak sih, belum tidur juga kok hehe."
"Fann? Riska marah sama aku."
"Oh ya? Kok bisa? Bukannya kalian sebatas kerja aja sekarang?"
"Aku kelepasan tadi."
"Kelepasan gimana?"
"Ya kami ketemu disuatu perjamuan. Terus aku cemburu buta liat dia sama laki-laki lain."
"Ivan?"
"Bukan, orang lain. Aku rasa bukan cowok baik jadi aku kelepasan dengan alasan melindunginya."
"Lho? Nggak bisa gitu dong Pak aduhh... Vin maksudnya maaf. Jangan berprasangka buruk tentang orang lain apalagi kalau nggak deket. Lagian kalian kan udah lama putus, nggak baik kalau ikut campur."
"Jangan terlalu percaya diri Vin, maaf ya Pak Celvin. Bukannya mau membela Nona Riska, tapi kenyataan tetaplah kenyataan."
"Aku tau tapi balik lagi aku begitu karna kelepasan dan cemburu buta."
"Emm... maaf tapi bisa nggak kamu lupain Riska aja?"
"Nggak bisa Fann."
"Dicoba. Toh, banyak orang yang secantik dia kok, kamu harus sadar perasaan itu antara obsesi atau memang masih sayang aja."
"Aku yakin ini karna masih sayang. Maaf Fann, kayaknya aku terlalu berlebihan gini. Udah malam juga, udahan ya?"
"Iya."
"Bya Fann, makasih udah dengerin dan kasih saran ya."
"Sama-sama Pak Celvin."
Pembicaraanku dengan Celvin akhirnya usai. Kasian sekali memang, aku sendiri tak bisa membantu banyak. Kecuali beberapa saran dan aku rasa Celvin memang belum bisa melupakan Riska.
Karma terus berlanjut pada kehidupannya. Aku jadi berpikir, bagaimana nasib orang-orang yang sempat membullyku dulu. Apakah mereka bahagia? Atau tertekan seperti Celvin. Sudah lama aku tidak melihat mereka. Mungkin karena sekarang ini setiap aku berjalan tidak pernah memperhatikan orang sekitar.
Yah, aku terlalu takut dan tentunya minder. Rasa khawatir bertemu orang-orang sadis tersebut masih tetap ada. Kadang kala aku menjadi risau dan tidak nyaman berada disuatu tempat. Maka dari itu, aku selalu menghindari tempat yang elit dan mewah. Tentu saja, untuk menghemat uang juga.
Toh, taman pinggiran lebih sejuk dan menenangkan jiwa.
Malam semakin larut. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Ibuku tak kunjung mengabariku kembali. Membuatku bergidik ngeri dengan diriku sendiri. Lantas apa yang sebaiknya aku lakukan? Jika melepas Mas Arlan tentu saja aku tidak bisa sama sekali.
Akhirnya tanpa kusadari aku mulai terlelap pulas.
****
Keesokan harinya, aku terbangun karena alarm subuh berbunyi. Sontak saja aku segera mematikannya. Toh, aku tidak bisa beribadah hari ini.
Saat ingin lelap kembali, rasa nyeri di perutku semakin menyerang dengan liar. Aku menggeliat diatas ranjangku bagai cacing besar yang kepanasan. Boro-boro ingin bangun, tidur saja tidak bisa.
Susahnya kalau tinggal sendirian. Tidak ada yang membantuku. Aku pun masih enggan karena hubunganku dan Ibuku belum membaik. Jika hubungan kami normal, pasti aku akan segera menghubungi beliau. Mencarikan obat atau memijit pelan.
"Huaaaaaa... sakit bangetttt!!!" Teriakku geram sembari menekan bagian perutku.
Herannya harus sesakit ini di hari pertama dan kedua. Membuatku lemas jika tidak meminum suatu pereda nyerinya. Aku bingung sekali, tampaknya aku juga sudah tidak memiliki persediaan obat.
Lalu aku harus bagaimana sekarang? Mana mungkin aku mati konyol karena datang bulan. Menyebalkan sekali!
Akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan pada Mas Arlan. Tidak ada orang lain selain ia sekarang. Tidak mungkin pada Ayahku, Kak Pandhu atau Kak Febi. Terlalu kurang ajar sepertinya jika meminta bantuan pada Ayahku, sedangkan yang aku tau Kak Febi pun tidak bisa menyetir mobil. Kalau Kak Pandhu di jam seperti ini masih pulas tidur biasanya.
Apa boleh buat Mas Arlan memang yang paling tepat. Segera kuraih ponselku dan menghubunginya. Dengan cengkeraman tangan yang terus menekan perutku karena rasa sakit yang luar biasa. Bisa jadi hampir sama seperti orang melahirkan.
"Halo Dek, Assalamu'alaikum?" Sapa salam Mas Arlan dari kejauhan sana.
"Mas bo-boleh minta tolong nggak?" Tanyaku tanpa menjawab salamnya. Karena sudah terlalu panik.
"Kenapa Dek kamu?"
"A-anu Mas, maaf tapi aku nyeri."
__ADS_1
"Nyeri apa?"
"Sakit."
"Iya sakit apa? Kamu kenapa sih? Ada apa?"
"Nyeri datang bulan hehe."
"Astaga! Dek... Dek... kirain kenapa."
"Tapi sakit banget Mas, aku nggak bisa bangun."
"Terus Mas harus gimana?"
"Beliin obat."
"Obat yang gimana?"
"Ihhh... nanya mulu, cariin pokoknya!"
"Mas kan cowok Dek, nggak tau."
"Cari tau makanya, cepetan."
"Iya iya... yaudah Mas berangkat. Mandi dulu ya."
"Nggak usah keburu mati aku hu... hu..."
"Heh! Sembarangan! Iya iya bentar, OTW."
Apakah berlebihan? Aku rasa tidak. Toh, memang sakit sekali. Aku juga tidak tau mengapa seperti ini. Memang sih, kadang ada beberapa wanita yang sampai jatuh pingsan karena sakit seperti ini. Bukan aku, tapi rasa sakitku juga luar biasa.
Aku menunggu kedatangan Mas Arlan. Tanganku masih saja menekan bagian perutku. Sesekali meracau tidak jelas. Seolah sedang dihujam pisau yang tajam. Sebenarnya di hari ketiga bisa sembuh tanpa rasa apa-apa. Namun, dihari pertama dan kedua memang luar biasa.
Beberapa saat kemudian, Mas Arlan belum kunjung datang. Membuatku benar-benar gemas. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu aku mencoba beranjak turun dari ranjangku. Aku berjalan pelan sembari membungkuk.
Menuju kamar mandi dan berganti serta membasuh wajah dan gosok gigi pula. Rasanya malu juga jika sampai napasku bau dihadapan Mas Arlan.
THING THONG! THING THONG! THING THONG!
Akhirnya bel pintuku berbunyi berkali-kali. Dengan tergopoh-gopoh membungkuk, aku menghampiri keberadaan pintu.
Benar saja Mas Arlan disana. Kulihat raut wajah panik tergambar diparas manisnya. Setelan piyama pun masih membalut tubuhnya dengan ditutupi sebuah jaket.
"Pfftt... hahahaha," aku tertawa.
"Kenapa Dek?" Tanya Mas Arlan heran.
"Nggak mandi beneran ya?"
"Nggaklah Dek, lagian kamu lebay banget ngomongnya lho. Mas kan takut kamu kenapa-napa."
"Iya iya Mas. Maafin aku ya, yaudah masuk dulu."
"Hmm... tapi sakit banget ya kayaknya? Kok bungkuk gitu?"
"Banget!"
"Yaudah kamu makan dulu ini, Mas tadi mampir ke penjual nasi uduk. Jam segini baru ada yang gerobakan, maaf ya Dek."
"Nggak apa-apa Mas. Uduk juga enak."
"Masalahnya dari gerobak pinggir jalan."
"Justru yang pinggiran itu enak."
"Calon istriku emang sederhana banget ya."
Aku tersenyum simpul pada kekasihku tersebut. Sedangkan Mas Arlan memapah tubuhku untuk duduk. Kemudian ia menuju ke dapur, mungkin hendak menyiapkan sarapan untukku.
Meski tidak enak hati, ada rasa bangga tersendiri. Satu lagi nilai plus dari Mas Arlan. Pagi buta seperti ini mau aku repotkan. Mungkin baru bangun, belum mandi pula. Membuatku tersenyum.
"Makan dulu Dek, baru minum obatnya," kata Mas Arlan padaku.
"Emm... emangnya sepagi ini Mas dapet obat darimana?" Tanyaku.
"Dari Toko dua puluh empat jam buka, makanya Mas agak lama."
"Owalah."
"Jadi bener nggak obatnya?"
"Bukan kayak gini sih biasanya."
"Lah kamu ditanyain malah suruh cepet-cepet. Mas kan panik mana bawa-bawa kata mati lagi."
"Hehe... maaf ya Mas, abis bangun tidur tadi nyeri banget."
"Sekarang gimana?"
"Masih tapi nggak separah tadi."
"Hmm... dasar cewek."
"Makanya kamu jangan nyakitin cewek. Mas Arlan nggak makan?"
"Nggak Dek, belum sikat gigi hehe."
"Jorok banget!"
"Hehe... ada sikat gigi cadangan nggak?"
"Ada sih dikotak samping kulkas."
"Buat Mas ya?"
"Iya Mas."
Aku menyantap sarapanku. Sedangkan Mas Arlan kembali menuju dapurku lalu kamar mandi.
Bersambung...
Budayakan like+komen ya...
Maaf baru up, maklum masih suasana tahun baru...
__ADS_1
Semoga diantara kalian nggak ada yang terjebak banjir ya gaess, kalau ada semoga baik-baik saja dan cepat selesai bencana ini....