
Didalam mobil Hera langsung menelpon Diandra yang saat itu masih berada di rumah Alfian
"Hallo Di, elo dimana?" tanya Hera kepada Diandra dari arah seberang
"Gw masih lagi di rumah Alfian kenapa emangnya?" tanya Diandra
"Lah loe ga kerja?" tanya Hera heran
"Gag, si Alfian minta gw buat absen selama tiga hari" jawab Diandra dengan suara kesal kalau ingat kejadian tadi pagi
"Kenapa lagi itu anak?" tanya Hera penuh dengan rasa ingin tahu
Sebelum Diandra menjawabnya, terdengar suara Alfian yang sedang bicara kepada Diandra, terdapat jeda sebentar
"Hera langsung ke tempat Alfian aja, dia nyuruh elo ke rumahnya dia, elo tau kan tempatnya?" kata Diandra sambil bertanya balik
"Ya sudah kalau begitu, aku ke tempatnya Alfian aja, tapi udah ga ada si Donny kan?" tanya Hera
"Udah berangkat kerja ke kantor dia" jawab Diandra
"Ya sudah gw langsung meluncur kesana" ujar Hera, lalu dia langsung menutup telponnya dan kemudian dia langsung menyalakan mesin mobilnya dan meluncur ke rumah Alfian untuk menemui Diandra
Sementara itu Sandra sedang menunggu Amel, sembari menunggu Amel dia menelpon seseorang yang sudah memberikan ide gila itu yaitu memberikan obat tidur kepada Alfian, namun orang yang ditelpon tidak kunjung juga diangkat
" Brengsek kemana sih itu orang, dari semalam tidak aktif" gerutu Sandra kesal, kembali dia menelpon orang tersebut dan masih tidak ada jawaban bahkan panggilannya sedang berada di luar jangkauan
Ingin rasanya Sandra membanting handphonenya itu namun dia tidak mau menjadi pusat perhatian orang di cafe tersebut
"Buset itu muka manyun banget, kenapa emangnya?" tanya Amel tiba tiba dan langsung duduk di depan Sandra
"Lama amat sih elo" gerutu Sandra manyun dengan wajah yang masih cemberut
"Macet tau, kayak elo ga tau macet aja" ujar Amel memberikan alasan kepada Sandra
"Dimana mana macet itu selalu ada, ga ada tuh jalanan kalo ga macet" sembur Sandra kepada sahabatnya Amel
Sandra yang masih kesal menjadikan Amel menjadi bulan bulanannya dia, Amel hanya menghela nafas panjang namun tangannya tanpa sadar mengepal erat menahan emosi yang ingin dia tumpahkan kepada Sandra, namun dia berusaha untuk tetap menahan diri
"Kenapa elo lihat gw seperti itu?" tanya Sandra masih dengan suara judesnya
"Sebenernya elo kenapa marah marah muluk kayak orang yang lagi kena datang buln?" tanya Amel sedikit kesal, dia tidak menggubris pertanyaan dari Sandra
Sandra langsung terdiam mendengar pertanyaan dari Amel, dia sadar ketika Amel baru datang ke cafe bahkan sebelum duduk, Amel sudah diomel omelin sama dia
" Sorry " katanya pelan menyesali perbuatannya
" Sudah biasa" jawab Amel dengan suara tenang
Entah kenapa tiba tiba dia merasa muak dengan Sandra yang notabenenya benar benar arogan dan mau menang sendiri itu
"Ada apa elo manggil gw?" tanya Amel dengan nada datar
"Gw melakukan sesuatu, yang membuat Alfian curiga sama gw" lirih Sandra dengan rasa khawatir
" Emang elo melakukan apa sampai Alfian curiga sama elo?" tanya Amel penasaran
"Gw taruh obat tidur ke minumannya Alfian semalam" jawab Sandra dengan suara lirih
"Terus ?" tanya Amel lagi masih dengan rasa penasarannya
"Dia berhasil pulang dari apartemen gw, dan dia dibantu sama satpam apartemen ke tempat parkiran" jawab Sandra kali ini dengan nada cemas
"Tujuan elo apa kasih dia obat tidur? " tanya Amel masih dengan rasa ingin tahu
"Biar dia dan keluarga Alfian berpikir kalau dia sudah meniduri gw, lalu dia mau bertanggungjawab sama hal yang tidak dia perbuat" jawab Sandra dengan suara pelan
"Elo emang gila Sandra" kata Amel sambil menggelengkan kepalanya
Amel tidak habis pikir kalau Sandra bisa berbuat sejauh itu, namun dia juga tidak heran karena Sandra akan berbuat sesuatu hal di luar dugaannya jika menginginkan apapun itu dan nekat berbuat apapun asal tujuannya dia tercapai
"Gw memang gila, kalau itu sudah menyangkut kepentingan gw" ucap Sandra dengan nada sinis
"Terus sekarang elo mau gimana?" tanya Amel ingin tahu menatap wajah Sandra
"Gw cuman pengen bagaimana caranya agar Alfian bisa jadi milik gw tanpa ada penghalang apapun terutama Diandra gadis kampung itu" ucap Sandra dengan suara tegas
__ADS_1
"Tapi elo sendiri kan tahu Alfian itu sudah cinta mati sama Diandra, dan dia akan terus melindungi Diandra sampai kapan pun" ujar Amel mencoba membuat Sandra untuk berpikir ulang
"Gw ga perduli, kalau perlu gw akan menyingkirkan gadis kampung itu karena dia adalah penghalang terbesar gw buat mendapatkan Alfian" ucap Sandra keras kepala
"Elo gila Sandra, kenapa elo gak coba buat bisa move on aja sih, banyak kok laki laki yang suka sama elo dan gw yakin mereka akan memberikan apa yang elo mau" nasehat Amel kepada Sandra agar Sandra mau berpikir ulang lagi kalau apa yang dilakukannya itu tidaklah benar
"Elo sebenarnya ini ada di pihak siapa sih?" tanya Sandra kesal kepada Amel
"Gw ga ada di pihak siapa siapa, gw cuman pengen elo ngeliat elo bahagia udah itu doang" jawab Amel agak sedikit kesal dengan sikap Sandra yang masih saja keras kepala
"Elo tahu kan bahagianya gw adalah gw bisa bersama dengan Alfian, dan bisa menjadikan Alfian menjadi milik gw" jawab Sandra masih dengan suara kesalnya
"Dan apa elo ga capek Sandra?" tanya Amel serius
"Gw ga akan pernah capek selama itu menyangkut Alfian, karena cinta gw sama Alfian itu sudah dari semenjak SMA, elo paham kan?" jawab Sandra sambil bertanya balik kepada Amel
"Sandra Sandra gw ga habis pikir dengan jalan pikiran elo" ucap Amel sambil menggelengkan kepalanya
Amel merasa sangat kesal dengan sikap dan perbuatannya Sandra, dia tidak habis pikir bisa bisanya dia memaksakan sesuatu yang benar benar bukan jadi miliknya dia
"Tapi Sandra apa elo tahu bagaimana hubungan mereka berdua?" tanya Amel menyelidiki Sandra
"Hubungan siapa?" tanya Sandra kepada Amel ingin tahu
"Hubungan Diandra dan Alfian lah masa hubungan siapa lagi" jawab Amel menatap Sandra dengan penuh rasa ingin tahu
"Elo tahu ga, gw ga perduli mau mereka berdua pacaran kek, mau mereka berdua tunangan kek ataupun sudah menikah gw ga perduli, gw akan tetap merebut paksa Alfian dan gw akan tetap menjadikan Alfian menjadi milik gw dan akan menjadi milik gw bagaimana pun caranya" jawab Sandra dengan suara sinis
Amel menghela nafas panjang, Sandra sudah benar benar sangat terobsesi dengan Alfian hingga akal sehatnya menjadi hilang
Andai saja Sandra bisa membuka pintu hatinya sedikit saja, banyak sekali pria pria yang siap dengannya apalagi Sandra seorang wanita cantik, kaya dan kadang dia suka ikut menjadi model majalah hanya untuk iseng iseng saja
"Gw mau tanya sama elo? ujar Amel lagi
"Tanya apaan" kata Sandra sambil melambaikan tangannya memanggil pelayan kafe tersebut untuk mendekat ke meja mereka
Amel terdiam sebentar, menunggu Sandra memesankan sesuatu
"Elo ga ada mau pesan?" tanya Sandra kepada Amel
"Gw cappucino sama air mineral aja" jawab Amel
"Gag punya duit" jawab Amel sekenanya
"Gw traktir elo, elo mau makan apa?" tanya Sandra
"Ga usah, gw takut elo tagih gw" jawab Amel setengah bercanda
"Ga lucu" jawab Sandra kesal dengan jawaban Amel
"Lah sejak kapan gw lucu" jawab Amel cuek
"Elo ini...tau gak elo ini sekarang sudah berubah" ucap Sandra kepada Amel setelah pelayan itu pergi
"Perasaan elo aja kali, gw mah ga berubah kata gini gini aja lagian gw juga belom operasi wajah kok" jawab Amel santai
"Maksud gw bukan itu, tapi sikap elo berubah seolah gw asing sama elo" keluh Sandra dengan suara lirih
Amel langsung terdiam mendeySandea berkata seperti itu
"Perasaan elo aja kali ah" jawab Amel pendek
Sandra menggelengkan kepalanya
"Semenjak elo tiba tiba datang tanpa ada kabar sama sekali itu, gw merasa elo sudah berubah bukan lagi Amel yang dulu yang pernah gw kenal" ucap Sandra menatap Amel untuk mencari tahu kebenaran pendapatnya
"Kalaupun gw berubah, mungkin gw berubah dengan cara pandang gw terhadap hidup, karena semakin tambah umur kita maka cara pandang hidup kita juga pasti akan berubah" jawab Amel dengan nada bijak
"Kita bukanlah gadis SMA seperti dulu, yang selalu melakukan apapun tanpa berpikiran panjang dan tidak tahu baik buruknya sama diri kita dan orang lain" ucap Amel lagi kepada Sandra
"Maksud elo, gw seperti itu sekarang yang ga punya pikiran tentang baik dan buruk?" tanya Sandra tidak terima
"Elo tuh Yee, selalu mengartikan sesuatu dengan cara pandang dan pikiran elo sendiri" jawab Amel dengan suara kesal,l karena Sandra menuduh dirinya yang bukan-bukan
Sandra diam saja melihat Amel kesal terhadap dirinya, biasanya setiap kali dia selalu berkata apa meski itu menyakiti Amel
__ADS_1
Amel selalu diam saja dan tidak pernah membantah, dia seperti anak yang patuh yang selalu diam bila ibunya selalu berkata buruk terhadapnya, tapi kali ini Amel dirasakan sangat berbeda, dia tidak lagi seperti dulu, Amel yang sekarang adalah Amel yang selalu membantah apa yang dia ucapkan meski itu dia rasa benar
" Gw mau tanya Sandra sama elo" kata Amel
"Mau tanya apa lagi sih, tanya muluk udah kaya wartawan" jawab Sandra kesal
Karena Sandra merasa tiap kali Sandra memberikan jawaban, Amel pasti akan menentang dia lagi, bahkan dia menyuruh untuk berhenti
"Siapa yang saranin elo untuk menggunakan obat tidur buat si Alfian itu?" tanya Amel menatap Sandra dengan penuh rasa ingin tahu
Sandra langsung terdiam, bingung harus bercerita jujur apa tidak karena kalau dia bercerita jujur Amel pasti akan mentertawakan dirinya, dan berpikir jika dirinya bodoh mau menerima tawaran dari orang yang dia tidak kenal sama sekali
Amel masih menunggu jawaban dari Sandra yang sedang terdiam menimbang sesuatu
"Kalau elo ga mau cerita ya sudah tidak apa apa, gw ga maksa kok" ucap Amel dengan suara lirih
"Jadi ceritanya begini, waktu gw sedang duduk di cafe, tiba tiba ada seorang pria dekatin gw gitu, terus ga tau gimana ceritanya tiba tiba dia nawarin ke gw obat tidur gitu" cerita Sandra kepada Amel
"Terus?" tanya Amel penasaran
"Dia bilang kalau awalnya gw banyak pikiran dan seperti kurang tidur, lalu dia memberikan satu botol obat tidur dan dia juga bilang ini bisa untuk dilarutkan atau dicampur ke dalam minuman, kalau kamu ga percaya dicoba aja" cerita Sandra lagi
"Dan elo ambil tuh obat karena elo percaya sama itu orang yang elo ga kenal sama sekali?" tanya Amel kepada Sandra yang tidak menyangka Sandra bisa aja percaya sama orang yang baru dia kenal
Sandra menganggukkan kepalanya
"Dan lalu bagaimana ?" tanya Amel lagi yang masih penasaran dengan cerita Sandra
"Yaa gw terima dan gw juga menceritakan masalah yang gw alami, masalah gw dengan Alfian, lalu dia memberikan saran untuk mencoba obat tidur tersebut untuk masalah gw itu, lalu kami ngobrol bareng dan kalau misalkan ada apa apa gw bisa menghubungi dia, dia juga memberikan nomor handphonenya ke gw" cerita Sandra sambil menerawang
"Dan pada akhirnya elo taruh obat tidur itu ke minumannya Alfian, namun sayangnya usahanya itu tidak berhasil benar begitu?" tebak Amel kepada Sandra
Lagi lagi Sandra menganggukkan kepalanya
"Elo benar benar dah Sandra, gw pikir otak elo encer ternyata tidak ya, cuman menang cakep doang elonya " cibir Amel kesal mendengar cerita Sandra
"Maksud elo apa bicara kayak gitu ke gw?" tanya Sandra marah ke Amel
"Iya gw pikir elo pinter ternyata elo bodoh, sekarang gini elo baru kenal sama itu orang terus elo pake percaya pulak, menerima itu obat dari orang itu gimana kalau misalkan dia berikan itu obat narkotik, apa elo ga dipenjara" kata Amel dengan suara kesalnya
"Sandra elo boleh cinta sama Alfian, tapi otak itu juga perlu dipake jangan asal maen tabrak aja, mikir ga kalau itu orang ternyata orang yang berusaha berbuat jahat sama elo" ucap Amel menatap Sandra dengan pandangan emosi mendengar cerita Sandra yang barusan
"Habis mau gimana lagi nasi sudah menjadi bubur, ya sudah toh lagian Alfian juga tidak apa apa, cuman ya itu gw telpon telpon dia ga diangkat angkat dan ga nyambung pulak" jawab Sandra tanpa ada rasa penyesalan disana
"Ya iyalah mana ada maling mau ketangkap, yang bener aja lagian nih ya kalau dia orang Baek pasti itu nomor yang dikasih itu bener lah orang jahat nomor yang dikasih juga kaga benar lah, namanya juga orang jahat Sandra" ucap Amel dengan suara agak tinggi karena gemas dengan tingkahnya Sandra
"Pertanyaan gw adalah, elo itu sebenarnya cinta ga sih sama Alfian atau itu hanya sekedar obsesi elo buat dapetin die?" tanya Amel ingin tahu
"Maksud elo apa Amel?" tanya Sandra tidak terima
"Iya jika elo cinta apa yang Alfian lakukan, hati Alfian untuk siapa elo bisa ikhlas merelakannya, bahkan elo mau berkorban buat dia asal yang penting dia bahagia, tapi kalo elo obsesi sama dia, elo akan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan dia dengan cara apapun, da ln elo bahagia tapi dia tidak" ucap Amel menjelaskan kepada Sandra antara cinta dan obsesi
"Jangan ajarkan gw tentang cinta Amel" kata Sandra dengan suara dingin kali ini dengan pandangan tajam menusuk
"Apapun itu namanya gw yakin kok yang gw lakuin hanya untuk Alfian, dan kebahagiaan gw dan dia" ucap Sandra kali ini dengan nada serius
"Terserah sama elo, gw ga mau ikut campur cuman saran gw berpikirlah terlebih dahulu sebelum bertindak, hanya karena nafsu dan keinginan elo yang membabi buta dan yang ga jelas itu semuanya menjadi korban karena keegoisan elo" kata Amel dengan suara yang lebih serius juga
Begitu Sandra ingin membantah ucapan Amel, pelayan datang dengan membawa pesanan mereka, sehingga mereka terdiam sebentar hingga pelayan itu pergi dari hadapan mereka berdua
"Gw ga terima dengan elo berkata seperti itu ya Amel, gw benar benar marah" ucap Sandra dengan suara dinginnya
Namun Amel sepertinya tidak takut lagi dengan Sandra, dia menatap Sandra dengan wajah datarnya
"Elo marah sama gw tidak apa apa silahkan saja, elo benci gw juga tidak apa apa, tapi gw ini adalah temen elo sahabat elo dan gw juga akan mengatakan atau mengingatkan elo mana yang benar dan salah, kita bukan anak kecil lagi atau anak SMA lagi yang tidak tidak perduli dengan baik buruk yang kita lakukan" jawab Amel kali ini dengan suara serius
"Bukan berarti gw membenci elo, gw hanya tidak ingin elo sama kaya gw, ingat setiap perbuatan pasti ada balasannya, dan kalau elo berbuat tidak baik maka balasannya juga akan tidak bai nantinya, elo mau kata gitu" kata Amel berusaha mengingatkan Sandra Agara Sandra tidak berlaku terlalu jauh
"Gw tidak perduli, selama itu mengenai Alfian gw akan melakukan segala cara buat mendapatkan dia" jawab Sandra dengan nada ketus dan kesal
Amel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap keras kepalanya Sandra, dia tidak habis pikir, sahabatnya ini hatinya terbuat dari apa dan jalan pikirannya Sandra dia benar benar tidak mengerti
"Elo suda lah berubah Amel" ucap Sandra kepada Amel dengan suara lirih
Amel yang mendengar itu hanya menarik nafas panjang
__ADS_1
"Mungkin iya kalau itu menurut elo karena gw pengen bisa berubah ke arah yang lebih baik lagi Sandra" jawab Amel dengan suara lirih, yang entah itu didengar Sandra atau tidak dan mereka pun sama sama terdiam dengan pikiran mereka masing masing
Sandra merasa apa yang dikatakan olehnya Amel selalu menentangnya padahal saat mereka waktu SMA apa yang dilakukan Sandra pasti akan diikuti oleh Amel seakan akan mereka sangat senang dan menikmati hal seperti itu bahkan termasuk membully seorang guru yang berakhir guru itu dipecat dari sekolah itu, hanya karena mereka tidak suka ditegur oleh guru tersebut karena ulah kenakalan mereka, bahkan guru tersebut tidak hanya dipecat dari pekerjaannya saja ,dia juga sampai tidak bisa mendapatkan pekerjaannya karena guru itu mendapatkan rekomendasi jelek dari sekolah tempat dia mengajar, entah bagaimana nasib guru itu tidak ada yang tahu