
Alfian yang mendengar itu menatap Donny
"Lalu elo mau apa? " tanya Alfian masih menatap Donny
"Gw akan cari tahu, apakah dia gadis yang gw maksud" jawab Donny dengan yakin
"Jangan kelamaan aja " jawab Alfian santai
Donny yang mendengar itu langsung menatap Alfian
"Maksud elo? "
"Dengerin sahabat gw yang tiba tiba bodoh, cewek itu ga suka yang namanya ketidak pastian dan ketidak jelasan sebuah hubungan, paham kan sekarang" kata Alfian dengan suara santai
"Sudah ah gw lapar, elo ikut jangan sampai mengecewakan tuan rumah yang sudah capek capek masak" kata Alfian memperingatkan Donny
"Iye bawel, udah kayak nenek nenek elo " kata Donny merasa gemas dengan Alfian yang bawel banget pagi ini
"Ya udah kalau begitu" kata Alfian langsung keluar dari kamar, disusul sama Donny tanpa lupa menutup pintu kamar, menuju ke meja makan
Di meja makan sudah tampak kumpul semua kecuali Alfian dan Donny
"Maaf, kami terlambat " kata Alfian sambil tersenyum
"Enggak kok, ini kami masih baru kumpul, ayok duduk" kata bunda Diandra sambil menyuruh mereka berdua untuk duduk
"Baik tante" kata Alfian langsung menghampiri meja makan, Alfian duduk di samping Diandra, sementara Donny sengaja duduk di sebelah nya Hera, Hera yang biasanya sangat antusias jika Donny memilih untuk duduk di sebelahnya, sekarang tidak lagi, dia mencoba untuk bersikap biasa saja
"Ayo silahkan dimakan, nanti kalau sudah dingin tidak enak loh " kata ayah Diandra menyuruh mereka semua makan, dan mereka mulai menyantap makanannya
dalam diam sambil menikmatinya
"Jadi kita mancing hari ini? " tanya ayah Diandra kepada dua pemuda yang duduk di seberang nya, setelah mereka semua selesai makan, mereka berdua saling melihat satu dengan yang lain karena sejujurnya mereka berdua belum pernah memancing sama sekali
"Bagaimana, kok malah diam" kata ayah Diandra menatap mereka berdua secara bergantian
"Begini om, kami berdua tidak bisa mancing" jawab Donny jujur dengan malu malu
" Kirain kenapa? " kata ayah Diandra sambil terkekeh
"Padahal kan mancing itu bisa melatih kesabaran loh " ujar ayah Diandra
"Aku mau mencoba om " tiba tiba Alfian mengajukan diri, Donny langsung mendelik tajam menatap Alfian
"Cari muka jangan segitunya juga kali" gumam Donny menatap wajah Alfian dengan kesal, tapi Alfian tidak perduli dengan tatapan tajam Donny
"Don, ayo elo ikut gw " kata Alfian sambil tersenyum mengancam Donny, Donny yang mendengar itu hanya bisa tersenyum masam
"Loh katanya ga bisa? " tanya ayah Diandra dengan bingung
"Kita tidak akan pernah tahu kalau kita belum mencobanya om" jawab Alfian sambil tersenyum
"Dasar tikus bunting" gerutu Donny dalam hati
"Ya sudah ayok, mumpung masih pagi, ikan masih pada lapar " ajak ayah Diandra langsung bangkit dari kursinya
"Ayah ingat pulangnya jangan terlalu siang" kata bunda memperingatkan suaminya, karena suaminya terkadang suka lupa akan waktu jika sudah dengan hobinya
__ADS_1
"Iya tenang saja, kali ini cuman sebentar saja kok" jawab suaminya kepada isterinya
"Om, aku permisi dulu mau bersiap siap" ujar Alfian sambil menarik tangan Donny untuk segera berdiri
"Iya tapi jangan lama lama" jawab ayah Diandra kepada mereka berdua
Donny yang ditarik tangannya hanya bisa pasrah, Alfian dan Donny meninggalkan meja makan menuju ke kamar tamu
"Kamu berdua tidak mau ikut ayah memancing? " tanya Ayah Diandra kepada Diandra dan Hera
"Tidak ayah, kami tidak ikut, ayah kan tahu kalau kami tidak suka memancing " jawab Diandra kepada sang ayah
Ya itu karena kamu tidak pernah mau mencobanya, tapi tidak apa apa, ayah tidak akan memaksanya " jawab ayahnya lagi
"Ya sudah kalau begitu, ayah akan ambil alat pancing dulu" kata ayahnya, meninggalkan Diandra dan Hera berdua
Sepeninggal ayah Diandra masuk ke dalam, Diandra menoleh kepada Hera
"Ada apa lihatin gw kayak gitu? " tanya Hera
"Kamu tidak mau ikut? " tanya Diandra balik tidak menjawab pertanyaan Hera
"Tidak, aku malas " jawab Hera
"Kan ayang Donny ikut, elo juga bisa curi pandang sama dia" goda Diandra
"Ga lah, sekarang gw mencoba untuk menjaga jarak, apa yang elo bilang itu ada benarnya " kata Diandra tersenyum sedih
"Gw cuma mendukung apa yang terbaik buat elo sudah itu saja" Jawa Diandra sembari menepuk bahu Hera
Tidak lama kemudian ayah Diandra sudah bersiap membawa alat pancing
"Masih di dalam kamar kali, tadi sih barang hidung mereka berdua belum terlihat" jawab Diandra menatap ke arah kamar tamu
"Ya sudah ayah panggil mereka dulu kalau begitu" ayah Diandra langsung menuju ke kamar tamu yang tertutup rapat, namun sebelum ayah Diandra mengetuk pintu mereka berdua sudah keluar
"Maafkan kami yang lama" kata Alfian merasa bersalah
"Tidak, kebetulan om baru siap juga dan baru mau memanggil kalian " jawab ayah Diandra
"Ya sudah ayok kita berangkat, jangan lupa pamitan sama tante " kata ayah Diandra menyuruh mereka untuk segera pamitan kepada bunda Diandra, yang kebetulan bunda Diandra sedang berada di dapur dan sedang membereskan dapur
"Diandra aku pergi bareng sama ayahmu dulu ya " pamit Alfian kepada Diandra setelah Alfian berpamitan dengan bundanya Diandra, Diandra mengangguk sambil tersenyum
"Hati hati " kata Diandra kepada Alfian
Namun tidak dengan Donny, Donny hanya diam saja namun matanya malah memperhatikan gerak gerik Hera, dan Hera bersikap pura pura tidak perduli
"Kita jalan dulu ya " pamit Alfian
Sepeninggal mereka, rumah jadi terasa sepi, Diandra melihat Hera sedang menatap hampa, lalu Diandra langsung menepuk bahu Hera lagi
"Kita beres beres meja makan yuk " ajak Diandra, yang disambut anggukan kepala oleh Hera
Mereka membereskan meja makan dan menaruh semua piring piring dan gelas gelas kotor ke wastafel dapur untuk dicuci, setelah mereka selesai mengerjakan pekerjaan dapur, mereka duduk santai di teras depan rumah sambil menikmati desiran angin pada pagi hari
"Kamu beneran ingin move on? " tanya Diandra sewaktu mereka sedang duduk, Hera yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung terdiam
__ADS_1
"Kalau kamu merasa tidak yakin, sebaiknya jangan dulu" kata Diandra lagi
"Gw ga tahu Diandra, gw hanya merasa gw benar benar lelah" jawab Hera
"Hera jangan jangan elo terobsesi? " tanya Diandra sambil menatap serius kepada Hera
"Maksud elo? " tanya Hera memandang serius kepada Diandra
"Jika elo mencintainya, Elo pasti akan ikhlas melihat orang yang elo cintai tapi kalau elo obsesi, elo akan mempertahankan orang itu meski orang itu tidak mencintainya" jawab Diandra mencoba menerangkan kepada Hera
Hera kembali terdiam, lalu Diandra berkata lagi "Yang tahu itu semua adalah hatimu, tanyakan sama hatimu sendiri karena hati tidak pernah berbohong"
Hera yang mendengar itu menghela nafas panjang, didalam hatinya berkecamuk dengan berbagai macam perasaan yang dia tidak mengerti
"Gw ga tau Di.. " jawab Hera dengan rasa sedih
Mereka kembali terdiam menikmati desiran angin pagi, dan burung gereja yang sedang berkicau
Hari telah menjelang siang, tampak mereka bertiga belum muncul juga dari tempat pemancingan
"Ayahmu kebiasaan kalau sudah mancing, sampai lupa waktu" gerutu bunda Diandra kepada anaknya, yang kebetulan mereka sedang menyiapkan makan siang
"Namanya juga ayah, kayak ga tau ayah aja sih bunda" kata Diandra tersenyum mendengar bundanya kesal kepada ayahnya
"Diandra, Hera kemana? " tanya Bunda Diandra menanyakan keberadaan Hera
"Lagi di kamar bunda, dia lagi galau " jawab Diandra
"Galau karena cinta ya? " tebak bunda sambil tertawa
"Bunda sok tau" balas Diandra tertawa
"Anak muda seperti kalian puas puas lah bermain, kelak kalau sudah menikah kalian sebagai wanita harus bisa menjaga perasaan suami dalam kondisi apapun" nasihat bunda kepada Diandra
"Iya bunda " jawab Diandra patuh
"Ya sudah, kita mau masak apa siang ini? " tanya bunda kepada Diandra
"Terserah bunda saja, Diandra mah ikut saja" jawab Diandra
Bunda lalu langsung menuju ke kulkas, mencari bahan yang tersedia di kulkas untuk siap dimasak
"Bunda sebentar, aku panggil Hera dulu ya buat bantuin kita masak " kata Diandra
"Jangan, tidak usah biarkan saja karena sepertinya Hera lagi butuh ketenangan, dan kamu harus menghargai itu" kata bunda menatap Diandra
"Bunda yakin kalau dia sudah tenang, dia pasti akan keluar kok untuk saat ini biarkan dia sendiri dulu" kata bunda lagi
Diandra langsung mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh bundanya
"Kok bunda bisa tahu kalau Hera lagi butuh sendiri sih? " tanya Diandra penasaran
"Gini gini bunda pernah muda ya.. jadi bunda tahu bagaimana kalau tampang anak muda lagi galau" jawab bunda setengah bercanda
"Iya bener juga ya, tapi kan Hera tidak menceritakan apa apa ke bunda? " tanya Diandra lagi dengan penasaran
"Diandra.. bunda mengenal Hera itu tidak satu dua hari, bunda mengenal anak itu sudah lama, bahkan ketika kamu ke Jepang saja, Hera pernah loh menginap disini, hanya untuk sekedar mencari tahun dimana kamu berada lewat mulut kami, tapi sayangnya dia tetap tidak mendapatkan apa apa saat itu, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyerah saja" cerita bunda Diandra, dan dia sebagai orang tua merasa sangat bersalah sekali kepada Hera
__ADS_1
"Kasihan anak itu, dia sebenarnya butuh kasih sayang dari orang tuanya, dia merasa sangat kesepian sebenarnya cuman dia tutupi dengan keceriaan nya, kamu jangan sekalipun meninggalkan dia ya, dia hanya butuh seorang teman" kata bunda Diandra sambil menghela nafas panjang