
Keesokan paginya tampak Diandra sudah bersiap siap untuk mulai kembali bekerja, setelah Alfian mengijinkan Diandra untuk bekerja kembali, Diandra mendesah kesal begitu mengingat berapa keras kepalanya Alfian menyuruhnya untuk cuti, padahal dia tidak ingin menjadikan Alfian sebagai sebuah kesempatan besar untuk dipergunakan hanya karena dia adalah tunangan dari pemilik perusahaan tempat dimana Diandra bekerja
"Kenapa wajah elo cemberut begitu?" tanya Hera menatap wajah Diandra yang tiba tiba berubah menjadi muram yang tadinya sempat sumringah
"Ga tau tiba tiba gw merasa kesal sama Alfian" jawab Diandra duduk di atas kursi meja rias
Hera menatap Diandra dengan pandangan heran, karena tidak biasanya Diandra kesal secara tiba tiba apalagi selama ini hubungan dengan Alfian baik baik saja, Hera mengernyitkan keningnya masih menatap Diandra dengan penuh tanda tanya
"Memangnya ada apa dengan Alfian, sampai tiba tiba elo merasa kesal sama dia?" tanya Hera menatap sahabatnya itu yang masih berwajah agak kesal
"Elo tau kan kalau gw ini kerja di tempatnya dia?" tanya Diandra sambil menatap wajah cantiknya di cermin, pandangannya masih agak kesal dan rasa rasanya dia sangat ingin memarahi orangnya saat ini juga, namun sayangnya orangnya tidak ada di hadapan matanya
"Iya terus, masalahnya dimana?" tanya Hera masih heran dengan kalimatnya Diandra yang tidak jelas
" Gw dipaksa cuti selama tiga hari, belum lagi kalau gw lagi kerja selalu diganggu sama dia, gw ga mau dipandang buruk sama orang kantor Hera, apalagi kalau mereka tahu gw ini adalah tunangan dari atasan tempat dimana mereka bekerja" jawab Diandra dengan wajah muram
"Kadang gw takut sama gosip gosip, cuman elo kan tahu ga ada yang bisa menghentikan mulut orang kecuali orang itu sendiri yang mau menghentikannya" keluh Diandra lagi sambil menghela nafas panjang
Hera diam mendengar kegalauan hatinya Diandra, dia sangat mengerti benar apa yang dirasakan oleh Diandra, dan jika dia menjadi Diandra pasti akan muncul rasa tidak enak hati terhadap teman teman sekantornya
"Sudahlah elo yang sabar saja, elo tau kan Alfian itu ga mau kehilangan elo sedetik saja, lagipula gw yakin kok ga ada yang berani sama kalian, mau mereka dipecat" ujar Hera sambil menghibur Diandra
Diandra menggeleng gelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan perkataan dari Hera yang seakan akan mudah sekali memecat orang jika ada yang tidak suka dengan kita
"Itu juga bukan mau gw Hera, gw hanya mau biarkan gw bekerja secara profesional sebagai seorang karyawan, gw hanya mau memisahkan antara mana yang pribadi mana yang profesional hanya itu saja, gag lebih, gw ga mau karena orang ga suka sama kita terus kita dengan seenaknya main pecat orang secara sembarangan, gag itu juga gw ga mau" jawab Diandra pelan sambil menatap Hera
"Kalau begitu kenapa gag loe coba aja bicarakan itu sama Alfian, jangan elo pendam masalah elo sendiri dia juga harus tahu apa yang elo suka dan apa yang tidak elo suka" kata Hera memberikan nasihat kepada Diandra
"Gw akan mencoba melakukannya, dan gw berharap itu berhasil karena gw pernah mencoba membahas ini berkali kali tapi sama dia ga digubris" ucap Diandra menghela nafas panjang
"Ya sudah semoga kali ini elo berhasil, dan mendapatkan apa yang menjadi keinginan elo, sudah sekarang sarapan sana nanti terlambat" ucap Hera dengan tulus dan kemudian menyuruh Diandra untuk segera sarapan, bersiap untuk ke kantor
Diandra tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, namun kembali lagi menatap Hera
"Ada apa lagi?" tanya Hera kepada Diandra
"Elo jadi kan terapi hari ini?" tanya Diandra menatap Hera dengan pandangan ingin tahu
"Iya jadi, habis pulang terapi gw mau ketemu sama Alex" jawab Hera sambil mendorong Diandra keluar kamar
"Tapi nanti elo mau ke kantor dulu atau bagaimana?" tanya Diandra lagi dengan tubuh didorong oleh Hera hingga keluar kamar
"Tergantung, liat saja nanti, gw akan kabarin elo kalau gw mau ke kantor elo karena ada banyak urusan yang harus gw selesaikan " ucap Hera kepada Diandra, namun sebelum Diandra bertanya lebih lanjut tiba tiba suara bundanya memanggil mereka berdua untuk sarapan pagi
"Bunda sudah panggil, ayok kita kesana " ajak Diandra yang kali ini menarik tangan Hera menuju ke ruang makan, disana sudah terdapat ayah dan bunda dan juga ada Alfian yang sudah siap duduk di meja makan, memandang Diandra yang menghampiri dirinya lalu duduk di sebelah Alfian, sementara Hera duduk di sebelah bunda
"Jam berapa kamu tadi kesini?" tanya Diandra sambil berbisik kepada Alfian
"Setengah jam yang lalu, kamu lama amat ngapain aja kamu?" tanya Alfian sambil menyendokkan nasi goreng ke atas piringnya
"Dandan" jawab Diandra pendek menunggu giliran mengambil nasi goreng
__ADS_1
Alfian langsung menatap Diandra, memperhatikan dengan seksama wajah dan penampilannya Diandra
"Ada apa sih kamu lihatin aku kaya gitu?" tanya Diandra risih diperhatikan seperti itu oleh Alfian
"Lain kali kalau mau ke kantor dandan jangan terlalu cantik, aku ga suka kamu diperhatikan orang banyak di kantor apalagi kalau sampai ada yang kagum sama kamu" ucap Alfian dengan suara dingin, entah kenapa hatinya sangat kesal sekali melihat Diandra pagi ini terlihat sangat cantik sekali
Diandra langsung menatap Alfian dengan tatapan tajam, namun mengingat disitu sedang banyak orang dia tidak mau membalas ucapan dari Alfian, karena Diandra tidak ingin mereka menjadi pusat perhatian dari Ayah, bunda dan Hera, Diandra tidak ingin merusak suasana pagi itu
Dengan rasa jengkel yang Diandra tahan, Diandra hanya menganggukkan kepala dalam diam namun wajahnya malah semakin suram dan muram, melihat wajah anaknya yang muram ayah Diandra langsung bertanya kepada Diandra
"Kamu kenapa nak, kenapa wajah kamu muram?"
Diandra langsung menoleh ke arah ayahnya dan kemudian sambil tersenyum, Diandra hanya menggelengkan kepalanya, semuanya menatap ke arah Diandra, hingga Diandra menjadi risih diperhatikan seperti itu di meja makan
"Kalian ini kenapa sih?" tanya Diandra yang tidak nyaman diperhatikan seperti itu
"Aku loh ga apa apa" jawab Diandra berusaha meyakinkan semua orang
"Masalahnya elo ga seperti biasanya, pagi ini elo terlihat seperti muram" celetuk Hera
Diandra langsung diam, dia memang tidak seperti biasanya suasana hati yang buruk tiba tiba ditambah dengan ocehan Alfian yang membuat dia semakin buruk, Diandra akhirnya hanya diam saja
"Sudah ayok kita sarapan, sudah kesiangan takutnya" kata bunda mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka dari Diandra, dan mereka semua mengikuti arahan dari bunda, mereka sarapan dalam diam
Setelah selesai sarapan, Diandra dan Alfian langsung pamit, didalam mobil mereka berdua terdiam, suasana hening menyelimuti di dalam mobil
"Kamu kenapa?" tanya Alfian kepada Diandra sambil fokus mengendarai mobil
"Tidak apa apa" jawab Diandra pelan sambil fokus menatap kaca mobil samping
Diandra tidak menjawab pertanyaan Alfian, wajahnya menatap kaca samping mobil memandang ke arah luar
"Di jawab dong, kamu kan udah janji kalau ada masalah kamu mau cerita sama aku, tapi ini kamu malah diam, ada apa sih?" tanya Alfian bingung melihat sikap Diandra yang dingin dan berubah tiba tiba
Diandra pun menghelat nafas panjang, lalu dia mulai bercerita mengenai keluhannya, jika dia tidak ingin diistimewakan di kantor tempat dimana dia bekerja, dia ingin diperlakukan seperti karyawan karyawan lain pada umumnya, karena dia tidak ingin menjadi bahan omongan karyawan karyawan lainnya nanti, apalagi dia masih termasuk baru, semua keluhan di dalam hatinya dia keluarkan termasuk tentang sikap Alfian tadi pagi memarahi dirinya
Alfian yang mendengar itu langsung menghela nafas panjang, dia merasa bersalah telah membuat Diandra merasa tidak nyaman karena perbuatannya
"Di sorry banget, aku minta maaf karena sudah membuat kamu merasa tidak nyaman akibat perbuatan aku, tapi aku cuman pengen tahu kalau aku itu ga bisa kalau ga lihat kamu sehari saja, aku ingin bisa selalu ada di dekat kamu, apa aku salah?" tanya Alfian dengan nada sedih
"Aku ingin menggantikan waktu yang hilang dulu, saat aku kehilangan kamu kalau kamu tahu aku seperti kaya kehilangan arah, terserah kalau kamu ingin bilang aku ini berlebihan tapi ini adalah kenyataan yang sebenarnya" ucap Alfian lagi dengan jujur
Alfian jujur mengutarakan perasaannya hingga Diandra sendiri merasa tidak enak hati mendengarnya, Diandra langsung terdiam sambil menundukkan kepalanya
Tiba tiba tangan Alfian menggenggam tangan Diandra
"Kita nikah saja ya?" ajak Alfian kepada Diandra
Diandra langsung menoleh ke arah Alfian, Diandra terkejut mendengar Alfian mengajaknya untuk menikah karena Diandra meminta waktu selama enam bulan buat meyakinkan hubungannya dengan Alfian, Diandra masih terdiam bingung dengan ajakan Alfian untuk menikah segera
"Jujur Di, enam bulan terlalu lama buat aku menunggu kamu apalagi dengan masalah yang semakin ruwet seperti ini" ucap Alfian dengan jujur
__ADS_1
"Please ya Di, kamu mau kan nikah secepatnya lupakan permintaan kamu yang meminta enam bulan itu, aku mohon sama kamu" kata Alfian dengan nada memohon kepada Diandra sambil menggenggam tangan Diandra dengan erat
"Alfian, beri aku waktu untuk berpikir, aku juga ingin cepat nikah dengan kamu tapi kamu tahu kan Sandra itu seperti apa, jika dia mendengar kita menikah maka dia akan semakin menjadi jadi perbuatannya" ucap Diandra dengan suara pelan sambil memandang wajah Alfian yang serius
"Masalah Sandra biar aku yang atasi kamu jangan pikirkan itu, aku yakin dia tidak berani berbuat terlalu jauh apalagi sampai mau mencelakai kamu" ucap Alfian dengan nada tegas dan yakin
"Alfian, kamu tidak tahu jika wanita sudah terobsesi itu seperti apa, apalagi wanita yang seperti Sandra" jawab Diandra sambil menghela nafas panjang
"Kamu sering menggunakan Sandra sebagai alasan, apa kamu sendiri yang tidak mau menikah dengan aku Diandra?" tanya Alfian dengan nada meragu
Diandra yang mendengar itu langsung menoleh, menatap Alfian dengan pandangan marah dan juga sekaligus sedih
"Kamu tega banget berkata seperti itu Alfian, sampai kamu meragukan aku, kalau aku meragukan kamu sudah dari dulu aku meminta kamu untuk memutuskan tunangan kita, aku hanya minta tunggu waktu enam bulan atau minimal sampai masalah Sandra itu selesai, tapi justru kamu meragukan aku seperti itu kamu jahat Alfian" ucap Diandra dengan suara sedih dan wajahnya yang muram semakin tambah muram
"Di, sorry bukannya maksud aku menyakiti kamu tapi kadang aku bingung apakah kamu benar benar-benar mencintai aku apa tidak" ucap Alfian meragu
"Jangan pernah meragukan aku Alfian" ucap Diandra dengan suara dingin sedingin es
Diandra paling tidak suka jika dirinya diragukan ketika hatinya sudah benar benar tulus mencintai seseorang, dan kini Alfian meragukannya dan dia benar benar marah kepada Alfian
Alfian langsung terdiam ketika mendengar suara Diandra yang dingin, dia tidak ingin lagi berdebat karena dia tahu Diandra sedang benar benar marah kepadanya
Sesampainya di kantor, tanpa banyak bicara lagi Diandra langsung turun dari mobil Alfian tidak perduli Diandra menjadi pusat perhatian banyak karyawan disana karena turun dari mobilnya Alfian dan Diandra langsung masuk ke dalam gedung kantor
"Turunkan aku disini Alfian" kata Diandra dengan nada dingin, dia tidak ingin turun bersama dengan Alfian saat ini, hatinya benar benar kacau saat itu begitu juga dengan Alfian dan akhirnya Alfian menurunkan Diandra telat didepan lobby gedung dan kemudian dia kembali mengendarai mobilnya menuju ke bassement mobil tempat dimana biasa Alfian parkir
Di dalam gedung ketika Diandra sedang menunggu lift, banyak karyawan mulai berbisik bisik dan semua tatapan mata tertuju kepada dirinya, namun Diandra berusaha untuk tidak memperdulikan hal itu, dia tetap terus menunggu lift tiba, hingga Alfian datang lalu menarik tangan Diandra ke lift khusus untuk para petinggi perusahaan, dan Diandra langsung terpekik kaget begitu tangannya ditarik oleh Alfian
Diandra berusaha untuk tidak berontak karena dia tidak ingin menjadi pusat perhatian semua orang, dia mengikuti langkah kaki Alfian, lalu Alfian langsung memencet tombol lift dan tak lama pintu lift terbuka untuk mereka, Alfian langsung masuk sambil membawa Diandra dan didalam lift Alfian tidak berusaha melepaskan Diandra dari pelukannya, Diandra hanya terdiam pasrah begitu dirinya dipeluk oleh Alfian didalam lift, hingga pintu lift terbuka dan Alfian masih menuntun Diandra dalam pelukan Alfian tanpa niat melepaskan Diandra
Sesampainya di ruang kantor Alfian, Diandra baru dilepaskan dan didudukkan diatas sofa
"Kamu.." Diandra mencoba memprotes Alfian, namun Alfian membungkam Diandra dengan ciumannya yang dalam, hingga Diandra tenggelam dalam ciuman Alfian tanpa Alfian melepaskan ciumannya, mereka berciuman cukup lama dan dalam hingga akhirnya Alfian sendiri yang memutuskan melepaskannya sebelum semuanya menjadi di luar kendali mereka
Diandra sepertinya tidak ingin melepaskan ciuman dari Alfian, malah dia ingin menuntut lebih dari ciuman hingga tanpa sadar Diandra menarik kerah Alfian dan mereka kembali berciuman lagi kali ini dengan rasa panas yang membakar tubuh mereka
Hingga pintu dibuka oleh seseorang tampak Donny yang sedang berdiri disana sedang salah tingkah dibuatnya melihat adegan panas yang baru saja dia lihat barusan, dan dengan terpaksa Alfian dan Diandra melepaskan ciuman mereka masing masing, dan mereka berdua langsung memisahkan diri mereka
Dia dra dengan wajah merah ya dan Alfian yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mereka berdua seperti ketahuan melakukan sebuah kesalahan yang fatal oleh guru mereka
"Sorry, sudah menganggu aktivitas kalian" kata Donny serba salah
"Its oke, masuk aja" kata Alfian dengan nada salah tingkah nya dan Diandra dengan wajah memerahnya sambil tertunduk malu, dia tidak menyangka dirinya bisa seliar itu, bahkan tanpa malu malu dia yang meminta lagi untuk dicium, entah apa tanggapan Alfian kepada dirinya, dia tidak tahu
"Gw apa perlu keluar dulu?" tanya Donny dengan ragu ragu
"Gak, gak perlu, elo masuk saja lagian gw juga lagi butuh elo ada yang mau gw bahas" kata Alfian menyuruh Donny untuk masuk ke dalam agar tidak lagi terjadi hal hal di luar dugaan mereka berdua
Donny pun langsung masuk, mengikuti perintah Alfian menatap mereka berdua dengan tatapan tajamnya dan tiba tiba ada keinginan untuk menggoda Alfian dan Diandra
"Gw tadi pengen ngasih tau kalau gw mau minta ijin habis makan siang buat keluar dulu, tapi ternyata gw lagi ngelihat adegan film di pagi hari" goda Donny kepada Alfian yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Alfian, sementara wajah Diandra yang sudah merah seperti tomat kini bertambah merah lagi, entah seperti apa wajah Diandra saat ini
__ADS_1
Donny yang ingin menahan tawanya kini dia tidak bisa lagi menahannya dia langsung tertawa terbahak bahak hingga mendapatkan tatapan tajam dari Alfian
"Donny, bulan ini elo ga dapet gaji selama sebulan" ucap Alfian dengan nada datar dan dingin dan Donny langsung berubah wajahnya menjadi memelas