Dia Musuhku

Dia Musuhku
Bab 41


__ADS_3

Begitu mereka sampai di ruang tamu, semuanya langsung pada menatap mereka berdua


"Kalian sudah selesai ngobrolnya?" tanya Bundanya Diandra sambil tersenyum lembut ke arah mereka berdua


"Sudah Tante, kami izin pamit dulu besok pagi saya yang akan menjemput Diandra, bukankah begitu sayang?" tanya Alfian sambil tersenyum ke arah Diandra, Diandra langsung menoleh menatap Alfian dengan pandangan tajam tapi tidak dihiraukan oleh Alfian, malah Alfian langsung mencium kening Diandra "Gw pulang dulu ya..mimpi indah" kata Alfian sambil tersenyum menatap Diandra, sementara Diandra langsung berubah menjadi datar wajahnya begitu dia mendapatkan ciuman dari Alfian


Setelah keluarga Alfian pamit, Donny pun ikut juga menyusul bersama dengan Hera "Hera elo ga nginep aja?" tanya Diandra menatap wajah sahabatnya, Hera langsung menggelengkan kepala "Gw ikut Donny pulang aja, lagian juga besok elo kerja kan" kata Hera, Diandra agak sedikit keberatan jika Hera pulang "Hera pulang sama gw, gw jamin dia akan selamat sampai di rumah" kata Donny tiba tiba, akhirnya Diandra hanya bisa menganggukkan kepalanya "Loe hati hati di jalan, ini sudah malam" kata Diandra


"Beres, tenang aja ada Donny kok" kata Hera tersenyum


"Gw sama Hera balik dulu, elo istirahat aja...oh iya selamat ya, elo udah jadi calon isteri Alfian" kata Donny mengucapkan selamat kepada Diandra " Makasih" jawab Diandra singkat "Ya udah Diandra, malam ini elo istirahat dulu, Nanti kita berkabar lagi" kata Hera sambil memeluk sahabatnya


"Iya Hera, thanks sudah nolongin gw seharian ini" kata Diandra tersenyum sambil membalas pelukan Hera, Diandra menunggu Hera dan Donny hilang dari pandangannya baru dia masuk ke dalam rumah


Melihat di ruang tamu dan ruang keluarga sudah tidak ada lagi ayah bundanya, Diandra memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, dia langsung membersihkan make up yang ada di wajahnya, berganti pakaian dengan daster kesayangannya, lalu dia langsung rebahan, dia sangat lelah untuk hari ini, lelah dengan tubuhnya dan terlebih dengan emosinya sendiri, berkali kali Diandra menghela nafas panjang sambil memandang kosong langit langit, dia memikirkan kemungkinan buruk yang akan mungkin terjadi jika Sandra tahu tentang ini


"Apa yang harus gw lakukan?" desah Diandra sendiri


Matanya terasa semakin berat, hingga akhirnya dia jatuh tertidur dan tidak lagi mendengar deringan handphonenya yang berbunyi berkali kali


Begitu Alfian telah sampai di rumah, dia langsung segera menelepon Diandra, berkali kali dia menelpon tidak ada jawaban dari Diandra


"Kemana dia?" tanya Alfian kesal, kembali dia memencet nomor handphone Diandra dan tetap tidak ada jawaban dari Diandra, akhirnya dengan penuh rasa kesal dia membanting handphonenya di tempat tidur


Tak lama kemudian handphonenya Alfian juga berdering nyaring, buru buru dia ambil handphonenya dari atas tempat tidur, tanpa melihat siapa yang meneleponnya dia langsung mengangkat panggilan itu


"Halo Diandra darimana saja kamu?" tanya Alfian dengan suara kesal


"Diandra?gw bukan Diandra gw Tonny" kata Tonny dari seberang


"CK..elo ngapain seh telpon?" tanya Alfian sedikit kesal


"Elo dimana? dari kemarin malam susah amat dihubungi"


"Gw habis lamaran"


"What.....?? serius Lo? sama siapa??!"


"Diandra barusan, gw barusan pulang ke rumah"


Hening sejenak


"Sandra tahu?"


"Untuk sementara gw minta sama elo tolong disimpan dulu berita ini ke Sandra biar gw yang sampaikan sendiri "


"Terserah elo lah, tapi gimana ceritanya?"


"Panjang ceritanya,ntr aja gw ceritain "

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, elo istirahat aja btw selamat ya semoga dilancarkan sampai nikah nanti"


"Thanks ya sob"


"Siapa aja yang tahu tentang lamaran elo?"


"Baru elo sama Donny, Andre belom tahu tapi gw akan kasih tahu sendiri ke dia"


"Ya sudah kalau begitu, gw tunggu cerita dari elo"


"Iya, gw akan cerita tapi nanti"


"Oke siaplah kalau begitu, gw matiin dulu ya handphonenya "


"Iya Ton, thanks ya Ton"


"Iya sama sama "


Akhirnya Tonny memutuskan panggilannya, sementara itu Alfian masih kesal karena tidak ada tanggapan dari Diandra sama sekali "Awas kamu ya Diandra, besok akan gw hukum loe" kata Alfian begitu dia mendapatkan ide untuk menjahili calon isterinya itu


Alfian langsung berbaring di atas tempat tidurnya yang besar sambil menatap photo Diandra yang dia ambil tadi ketika lamaran


"Kamu cantik" gumam Alfian seorang diri, lalu tiba tiba dia tersenyum lebar sambil memandang Potret Diandra yang sekarang sudah menjadi wallpaper di handphonenya


Keesokan harinya, paginya tanpa sarapan terlebih dahulu, Alfian langsung meluncur ke rumah calon isteri nya Diandra, begitu sampai dia didepan pintu rumah Diandra sudah langsung disambut oleh ayahnya Diandra yang saat itu sedang duduk di teras sambil membaca koran pagi pagi


"Pagi om " sapa Alfian sambil mencium tangan calon ayah mertuanya


"Mau jemput Diandra?" tanya ayahnya


"Iya om..saya mau jemput Diandra"


Ayahnya Diandra mengangguk, tampak dia berpikir sebentar lalu kemudian dia menatap Alfian kembali


"Nak Alfian boleh om bicara sebentar?" tanya ayahnya Diandra


"Oh iya silahkan om mau bicara apa?"


"Berjanjilah kepada om kalau kamu akan menjaga Diandra, karena Diandra pernah terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan dulunya, sehingga dia harus pergi dari Indonesia " kata ayahnya sambil menerawang jauh, mengingat kejadian itu


Ayahnya langsung menghela nafas panjang, mengingat kejadian beberapa tahun yang silam dimana Diandra sempat tidak mau keluar, mengunci didalam kamar selama sebulan, hingga akhirnya Tante Ayumi datang dan membujuk mereka untuk membawa Diandra ke Jepang untuk menyembuhkan luka hatinya dan berobat di psikiater untuk bisa melupakan semuanya


Kembali ayahnya menatap Alfian dengan pandangan tegas "Kali ini saya tidak main main, sekali saja kamu menyakiti dia maka semuanya saya akan batalkan" kata ayahnya dengan suara tegas


"Dan itu tidak akan terjadi om...tidak ada yang harus dibatalkan saya janji itu" kata Alfian dengan suara tegas menatap ayahnya Diandra untuk meyakinkan ayahnya Diandra kalau Diandra berada di tangan yang tepat


"Saya pegang janjimu anak muda" kata ayahnya Diandra berdiri sambil menepuk bahu Alfian, meninggalkan Alfian seorang diri di depan teras, tak lama kemudian bunda dari Diandra ke luar menyuruh Alfian untuk sarapan pagi bersama


"Ayok nak Alfian silahkan duduk, sebentar lagi Diandra keluar dari kamar" kata bundanya Diandra sambil memberikan piring kepada Alfian

__ADS_1


Sarapan pagi itu adalah nasi goreng, telor ceplok dan kerupuk


"Dimakan nak Alfian, sarapan sederhana" kata bunda Diandra sambil mengendikkan nasi untuk suaminya


"Terima kasih Tante" kata Alfian, sambil mengambil nasi goreng ke dalam piringnya, beserta telor ceplok dan kerupuk


"Semoga suka ya" kata bunda Diandra sambil tersenyum


Belum sempat Alfian menjawab, pintu kamar Diandra terbuka, keluarlah seorang gadis cantik dari dalam kamar, jantungnya Alfian langsung berdebar "Cantik" gumamnya berbisik, menatap Diandra tanpa berkedip


Diandra masih tidak menyadari kalau ada Alfian disitu, dia masih memeriksa isi didalam tas takut kalau ada yang ketinggalan


"Bunda sepertinya aku ga sarapan deh, aku mau langsung berangkat saja takut terlambat" kata Diandra masih memeriksa isi dalam tasnya


"Sarapan dulu Diandra, tidak akan ada yang terlambat" kata Alfian dengan lembut namun sedikit tegas


Diandra langsung terdiam, dia langsung menatap Alfian dengan pandangan terkejut


"Kamu.." kata Diandra


"Morning cantik...kamu harus sarapan aku ga mau nanti calon isteri aku tiba tiba pingsan karena tidak sarapan" kata Alfian sambil berdiri menatap Diandra dalam dalam lalu menuntun Diandra yang masih terkejut ke meja makan dan didudukkan di kursi di sebelahnya Alfian


Alfian langsung mengambil piring dan mengambil nasi goreng di tempat nasi dan menaruhnya di atas piring lalu diberikan kepada Diandra "Makanlah, sarapan dulu baru kita akan berangkat" kata Alfian sambil menaruh sepiring nasi goreng lengkap dengan telor ceplok nya, Diandra langsung makan dalam diam, diikuti oleh yang lainnya dan mereka makan dalam diam


Setelah selesai makan Alfian dan Diandra langsung pamit, dan mereka langsung pergi menuju kantor tempat dimana Diandra bekerja "Nanti turunkan gw di jauh jauh dari kantor, gw ga mau ada gosip macam macam di kantor" kata Diandra dengan suara dingin


Alfian langsung mencekam setir mobilnya "Begitu ya..kalau gw ga mau?" tanya Alfian sambil menatap lurus ke depan "Tolonglah Alfian, gw sudah mengikuti apa yang loe mau sampai lamaran konyol itu, sekarang gw cuman minta elo buat ikut apa yang gw mau" kata Diandra kali ini dengan suara memelas


Tiba tiba Alfian langsung mengerem mendadak, dan tidak menghiraukan Omelan dari pengemudi di belakangnya "Alfian loe apa apaan sih?" tanya Diandra panik, sambil melihat kebelakang, banyak mobil klakson karena mobil Alfian berhenti di tengah jalan


tapi Alfian tidak perduli, dia membiarkan klakson berbunyi nyaring di belakang, dia diam menatap Diandra dengan pandangan intens


"Di..denger gw ini bukan lamaran konyol yang elo sebutin, semalam karena elo udah tidak menjawab telpon dari gw maka loe harus dapat hukuman pagi ini, dan satu lagi Loe tetep akan gw turunkan didepan kantor atau di bassement tempat gw akan turun" kata Alfian yang wajahnya sudah mendekati wajah Diandra, Diandra langsung memundurkan wajahnya


"Hukuman apa?" tanya Diandra dengan wajah bingung


Alfian tersenyum lebar sambil menatap Diandra tanpa menjawab pertanyaan dari Diandra, wajahnya semakin dia majukan dan begitu Diandra lengah, dia mencium bibir Diandra dengan ciuman yang dalam dan lumayan lama, Alfian lupa kalau dia sekarang sedang berada di tengah jalan dan mendapatkan kemarahan dari para pengguna jalan lainnya, Diandra langsung memukul punggung Alfian, dia sudah kehabisan nafas karena sudah terlalu lama mencium bibirnya, sampai akhirnya Diandra terpaksa menggigit bibir Alfian dengan keras, hingga menguarkan darah, dan Alfian langsung menghentikan aksi ciumannya


"Loe gila" desis Diandra marah


"Iya gw gila Diandra, gw emang gila kalau sudah berurusan dengan elo"


"Cepat jalan "


"Di..kita percepat saja yuk nikahnya"


Diandra langsung menoleh dengan pandangan geram


"Loe jangan macam macam, enam bulan atau tidak sama sekali"

__ADS_1


Alfian langsung mendesah kasar, mengusap rambutnya dan kemudian dia menyalakan mobilnya dan mengemudikan menuju ke kantor dalam keadaan diam, tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua selama mereka berdua menuju ke kantor


__ADS_2