Dia Musuhku

Dia Musuhku
Bab 164


__ADS_3

Meja makan itu lumayan cukup panjang untuk bisa menampung keluarganya Diandra, keluarganya dari Alfian berikut juga dengan para sahabat sahabatnya, di meja makan itu sendiri sudah ada beberapa minuman yang sudah terhidang, Nyonya Francie mengandeng tangan Diandra untuk duduk disampingnya bersebelahan dengan Alfian, Diandra duduk diapit oleh Alfian dan Nyonya Francie, sementara keluarga Diandra duduk berhadapan dengan Diandra, Hera duduk berdampingan dengan Donny, begitu Hera sudah duduk berdampingan dengannya Donny baru mau melepaskan tangannya, itupun ketika Donny mendapatkan tatapan tajam dari Hera agar dia mau melepaskan tangannya dari dirinya, namun reaksi Donny malah biasa saja bahkan Donny juga berbisik


"Jangan seperti itu sama calon suami kamu"


Setelah berbisik seperti itu, Donny langsung tersenyum miring ke arah Hera, membuat Hera langsung mengalihkan pandangannya dan mengutuki dirinya yang jantungnya langsung berdesir mendengar bisikan Donny tadi


"Dalam mimpimu saja" gumam Hera pelan, Donny yang mendengar itu dia langsung tersenyum miring


"Dan mimpi itu akan segera menjadi kenyataan" bisik Donny di telinganya Hera


"Jadi jangan pernah mencoba coba lari dari aku, karena aku akan menemukan kamu, meski kamu bersembunyi di lubang semut sekalipun, dan setelah itu jangan pernah berharap kamu akan lepas dari aku" bisik Donny lagi dengan nada sedikit mengancam, Hera langsung bergidik mendengar ancaman dari Donny


"Coba saja kalau berani" jawab Hera dengan nada ketus


"Jangan coba coba dengan aku Hera" balas Donny sambil menatap tajam ke arah Hera, Hera harus dibuat sedikit keras, karena Donny tahu bagaimana sikap dan tabiat dari Hera sendiri sekecil apapun itu


Sementara yang paling ujung adalah Tonny dan Andrew yang saling berhadapan satu dengan yang lain


"Sepertinya cuman kita berdua yang jomblo disini, pulang dari sini gw mau cari pasangan hidup ajalah" kata Tonny dengan suara yang sengaja agak sedikit dikeraskan, hingga Andrew yng dihadapannya langsung kaget mendengar Tonny berkata seperti itu, sementara yang ditatap langsung nyengir ke arah Andrew dan yang lainnya


"Memalukan" bisik Andrew pelan, sementara yang lain langsung menatap ke arah Tonny sambil tertawa hingga Alfuian sendiri langsung menceletuk ke arah Tonny


"Dari dulu mau mencari pasangan hidup pasangan hidup sampai sekarang masih kagak nemu aja, kenapa gw semakin kesini gw semakin percaya kalau kalian berdua itu gay"


Diandra yang mendengar itu langsung mencubit pinggang Afian dari samping


"Aduh sakit yang !" seru Alfian tiba tiba sambil menggosok pinggangnya yang sakit, menatap Diandra yang duduk dengan tenang


"Makanya jangan bicara yang aneh aneh" jawab Diandra dengan wajah datarnya dan berkata tanpa suara bedosa sama sekali


"Kok kamu jadi belain mereka sih?" tanya Alfian sedikit cemburu dan tidak terima Diandra membela mereka

__ADS_1


"Karena mereka berdua sahabat kamu, yang selalu menolong kamu kalau kamu susah, harusnya didoakan biar cepat menemukan jodohnya bukannya malah diledek" balas Diandra dengan tenang


"Dengerin tuh apa kata calon isteri kamu itu" kata Andrew dengan kesal


"Heh, lagian nih yah, kalau gw suka sama sesama jenis, selera gw juga bukan dia" celetuk Tonny kepada Andrew dan Alfian


Namun sebelum perdebatan itu akan mulai terjadi, buru buruTuan Wijaya langsung menengahinya dengan nada tenang dan auranya terasa tegas dan berwibawa


"Apa kita sudah bisa memulai sarapannya?" tanya Tuan Wijaya memandang ke arah yang lainnya


Mereka semua langsung terdiam dan menganggukan kepalanya masing masing, begitu mendengar suara baritonnya Tuan Wijaya, Tuan Wijaya langsung mengangguk puas lalu memberikan kode kepada kepala peayan restorant untuk segera melayani sarapan mereka yang sudah hadir


Kepala pelayan itu langsung memberikan kode kepada para pelayan lainnya untuk segera menghidangkan sarapan pagi mereka, sementara itu di kiri kanan yang tidak jauh dari mereka terdapat gubukan gubukan kecil untuk cemilan cemilan


Selagi para pelayan melayani hidangan mereka semuanya, tampak seorang gadis cantik yang menarik peerhatian Tonny, Tonny masih terus memperhatikan gadis cantik yang berpakaian pelayan tersebut dan kebetulan sedang melayani Tonny juga, Tonny menatap gadis itu dengan pandangan yang tertarik, namun gadis itu tidak menyadari ditatap seperti itu oleh Tonny, ketika gadis itu menaruh piring yang berisi makanan pembuka diatas meja Tonny, Tonny masih fokus menatap gadis yang menggunakan seragam pelayang tersebut, namun gadis itu masih tetap fokus dengan layanannya dan dia masih tidak menyadari jika dirinya masih ditatap oleh Tonny, hingga Tonny menyentuh tangannya, dan gadis itu langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan bertanya sambil mengernyitkan matanya


"Terima kasih cantik" kata Tonny sambil tersenyum ke arahnya


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya lalu dia segera berlalu dari situ, Andrew yang melihat itu langsung tersenyum penuh ledekan


"Kali ini taruhannya apa?" tanya Andrew sambil berbisik ke arah Tonny, yang masih fokus memandang wanita cantik yang berdiri di pojokan kanan dekat dengan gubuk gubuk kecil itu, Tonny sendiri tidak mengindahkan ucapan Andrew kali ini dia masih fokus dengan wanita cantik berambut panjang itu yang sedang berdiri menunggu aba aba selanjutnya dari kepala pelayan tersebut


"Ayok mari kita mulai makan" begitu kata Tuan Wijaya mengajak semuanya sarapan yng dimulai dengan doa bersama, mereka memulai sarapan mereka dalam keadaan hening, menikmati sarapan mereka masing masing dan saat itu para pelayan mulai berkeliling memberikan makanan makanan yang lainny begitu dengan wanita cantik tersebut


Sementara itu di apartemennya Sandra, Sandra masih saja mengamuk sambil menangis, mamanya Sandra Nyonya Hartawan berusaha membujuk Sandra untuk tenang, semalam dia tidak ikut di mobil suaminya, dia ikut di mobilnya Sandra, karena khawatir Sandra anak satu satunya itu melakukan tindakan bodoh diluar akal sehatnya


Nyonya Hartawan tahu bahkan sangat tahu sekali kalau Sandra sangat mencintai Alfian dari semenjak SMA, dan yang Nyonya Hartawan tahu Alfian kalau ke rumahnya saat itu, hanya bersikap tenang dan tidak pernah menanggapi celotehannya Sandra yang selalu tampak riang kalau Alfian mau mampir ke rumahnya, bahkan hampir tidak jarang Alfian selalu berada di depan pintu rumahnya hanya mengantarkan Sandra dan setelah itu lansgung pergi, hanya sekali dua kali saja Alfian masuk ke rumahnya dan itupun juga tidak lama, pernah Nyonya Hartawan menanyakan Alfian mengenai kedekatan hubungan mereka, dan Alfian hanya menjawab dengan lugas yaitu hanya sebagai teman tidak lebih dari sekedar teman


Hingga pada suatu kali, Nyonya Hartawan menguping pembicaraan mereka berdua, Sandra menyatakan perasaannya di ruang tamu saat itu kepada Alfian, namun jawaban Alfian saat itu hanya menganggap Sandra sebagai teman sekaligus sahabat sama seperti yang lainnya dan jangan berharap lebih dari itu, Nyonya Hartawan yang mendengar pembicaraan tesebut langsung menyimpulkan jika Alfian tidak mencintai anaknya sampai pertemuan makan malam terakhir waktu itu, jawabannya juga sama bahkan terkesan tidak memberikan harapan apapun kepada Sandra dan suaminya kala itu, Alfian bahkan sengaja mengulur ngulur waktu di hadapan suaminya hanya sekedar menghargai suaminya itu, namun sayangnya suaminya yang terlalu berambisi ingin menjodohkan anaknya dengan Alfian, dengan segala cara apapun


Bahkan dirinya tahu, suaminya yang menyuruh salah satu orang suruhannya jugalah yang memberikan Sandra obat tidur untuk Alfian, dan Sandra mengambil umpan itu namun Tuan Hartawan tidak menyangka tujuannya kali ini tidak berhasil untuk membuat anaknya bisa tidur bersama dengan Sandra, malah yang lebih sialnya lagi Alfian tahu itu perbuatannya siapa untungnya saja Alfian tidak tahu itu dari mana, jadi dia setidaknya masih aman aman saja

__ADS_1


"Nak sudahlah, kamu belum tidur loh" kata Nyonya Hartawan dengan lembut, menyuruh anaknya Sandra untuk tidur mengistirahatkan badannya


Sandra menatap mamahnya dengan tatapan marah dan tidak terima menyuruh dirinya untuk istirahat


"Apa mama pikir dengan tidur hati Sandra masih tenang, tidak mah tidak !" teriak Sandra dengan menatap mamahnya dengan tajam


"Dan apa dengan cara begini Alfian bisa kembali ke kamu dan memohon mohon pada kamu agar dia bisa balik, itu juga tidak kan" jawab mamanya dengan suara tajam kali ini, sungguh dia sendiri sudah merasa sangat lelah mengahadapi sifat ayah dan anaknya yang sama sama berambisi jika ingin mendapatkan sesuatu, namun sayangnya yang dipakai adalah cara yang salah, bukan cara yng benar


Sandra langsung terdiam mendengar ucapan dari mamahnya itu


"Setidaknya nak, kamu harus tahu cinta itu tidak harus memiliki, jika kamu mencintai Alfian lepaskan dia, biarkan dia bahagia dengan pilihan hatinya, dan begitu juga kamu, kamu juga harus bahagia dengan jalan kamu sendiri nak" ucap Nyonya Hartawan memberikan nasihat kepada Sandra dengan suara yang lembut sambil mengelus elus puncak kepala anaknya, agar anaknya bisa mengeri bahwa cinta itu tidak harus untuk memiliki, dan Sandra juga harus mencari takdir hidupnya sendiri


"Nak, lebih baik dicintai daripada mencintai nak, apalagi jika orang itu tidak mencintai kamu dengan tulus, itu akan terasa sangat sakit, kamu mungkin bisa mendapatkan badannya, raganya tapi tidak dengan hatinya, bahkan justru kamu mungkin yang akan tersakiti nantinya, dia akan meninggalkan kamu dengan caranya sendiri dan mamah tidak mau melihat anak mama yang cantik ini terluka nak" kata mamahnya dengan suara sendu


"Mah, kenapa aku tidak bisa memilikinya, kenapa harus wanita miskin itu yang memiliki dia, aku yang berjuang untuk bisa mendapatkan hatinya malah dia yang mendapatkannya, aku tidak terima mah, tidak lagipula kami ini sama sama sebanding tidak dengan wanita brengsek itu mah, ini tidak adil mah" kata Sandra tidak terima, namun suaranya terasa sangat sedih sekali, wajahnya yang bengkak dan memerah akibat menangi, berteriak dan marah, Sandra saat itu sangat murka sekali, dan papahnya malah ikut memanaskan siuasi di pesta hingga Sandra semakin berontak, dan itu setibanya di apartemen, Sandra langsung melempar lemparkan semua barang kesayangannya, semuanya tidak luput dari lemparannya dia, hingga saat itu membuat Nyonya Hartawan ibunya Sandra langsung berusaha menghentikan Sandra, dia berusaha untuk menenangkan Sandra yang saat itu sudah bersikap tidak wajar, bahkan Sandra sebelum sempat menuju ke dapur, mamahnya langsung segera menuju dapur untuk mengamankan barang barang berbahaya khawtir Sandra akan melakukan hal hal yang tidak dia pikirkan, dan benar saja apa yang mejadi dugaannya


Sandra benar benar menuju dapur, mencari sesuatu disana namun tidak ditemukan disana, semua laci dia bongkar dan dia buang, semuanya menjadi pelampiasan amarah Sandra pada malam itu, Sandra benar benar tidak terima diperlakukan seperti itu dan juga tidak terima dengan apa yang dilakukan ayahnya kepada dirinya, menampar pipinya di depan muka umum, itu membuat harga diri Sandra semakin terluka


"Kamu mencari apa Sandra?" tanya Nyonya Hartawan menatap Sandra dengan tatapan tajam


"Mana barang itu' berikan barang itu kemari!" teriak sandra dengan wajah marah sekaligus sedih, dia merasa sudah tidak ada harganya lagi hidup, apa yang sudah dimiliki menurut dia harus terlepas, sesuatu yang dia perjuangkan selama ini pupus sudah, bahkan Nyonya Francie yang sudah dia sebut sebagai mamah, malah ternyata selama ini menentang hubungan mereka, Alfian yang kini menolak dirinya mungkin terkena pengaruh oleh Diandra begitu juga dengan mamahnya Alfian Nyonya Francie itu sendiri, sudah terkena pengaruh jahat dari diandra, dia merasa Diandra atau dirinya yang tersingkirkan


"Barang yang mana?" tanya mamahnya Sandra Nyonya Hartawan


"Pisau yang aku simpan di laci dapur, dimana barang itu aku harus menyingkirkan wanita jahat itu, dia sudah melakukan tindakan keji kepada Alfian dan mamah Francie mah, jangan sampai wanita keji itu menguasai mereka berdua mah, aku harus menyingkirkan wanita itu mah, agar Alfian dan mamah Francie sadar kalau mereka melakukan hal yang salah yaitu menerima wanita itu sebagai bagian dari keluarga itu mah" jawab Sandra dengan penuh emosi


Nyonya Francie yang mendengar itu hatinya terasa sangat sedih dan perih melihat dan mendengar ucapan anaknya, sampai sebegitunya anaknya Sandra berpikir jauh seprti itu, hingga dia perlahan mendekati Sandra, sambil menatap wajah anaknya dia berjalan mendekati anaknya


"Jangan sembunyikan pisau itu mah, mana barang itu !" teriak Sandra yang sudah mulai tidak terkendali lagi bahkan dia sudah mulai histeris, namun nyonya Hartawan masih terus mendekati anaknya lalu dia langsung memeluk anaknya dengan penuh rasa sayang sebagai seorang ibu, dia terus memeluk anaknya dengan sangat erat, mencoba menenangkan anaknya sementara dia sendiri sudah mengeluarkan air matanya, entah kenapa dia hatinya seperti yang teriris pedih namun dia harus menahannya, dia tidak boleh lemah di depan anaknya saat ini yang sedang histeris di dalam pelukannya


"Lepaskan aku mah, lepaskan aku tidak mau dipeluk, aku ingin menyingkirkan wanita itu, agar keluarga mereka tidak lagi terpengaruh dengan sihir yang wanita itu gunakan, lepaskan aku mah...LEPASKAN !" teriak Sandra yang sudah mulai tidak terkendali di dalam pelukan mamahnya, dan mamahnya sendiri sudah tidak kuat menahan beban tubuh Sandra apalagi Sandra semakin berontak, hingga akhirnya Nyonya Hartawan langsung melepaskan Sandra namun tidak berapa lama kemudian, Nyonya Hartawan langsung menapar Sandra hingga sangat keras, membuat Sandra terhuyung dan langsung tidak sadarkan diri di lantai, akibat dari rasa pusingnya

__ADS_1


Nyonya Hartawan yang melihat anaknya jatuh tersungkur di lantai, dia langsung terdiam sambil menghampiri anaknya lalu membelai wajah anaknya yang pucat pasi dan ada bekas tamparan disana


"Maafkan mama, mama berharap jika kamu terbangun nanti kamu bisa langsung sadar, dan bisa berpikir jernih" ucap Nyonya Hartawan dengan lembut lalu dia kembali membelai wajah anaknya dan berbaring di samping anaknya, karena tubuhnya sendiri sudah sangat berasa lelah hingga dia menguap dan memejamkan matanya hingga tertidur di sebelah anaknya sambil memeluk anaknya sendiri dengan penuh rasa sayang, sambil berharap esok hari anaknya bisa berubah dan bisa kembali tenang, sungguh ini adalah hari yang sangat melelahkan untuknya


__ADS_2